• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Jember Tahun Akademik

لات

B. Penyajian Dan Analisis Data

3. Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Jember Tahun Akademik

Saya sangat menyukai matakuliah yang berhubungan dengan Al- Qur’an. Apalagi cara mengajar seperti Ibu Fatiyah, saya lebih cepat memahami daripada mengajar biasa. Dan saya mengalami kesulitan yaitu ketika mengaji dengan menggunakan metode Iqra’.

Karena di sana (di Thailand) tidak semua menggunakan cara seperti itu ketika mengaji. Kalau di Thailand cara mengajinya yaitu seperti mengaji biasa dan tidak memakai cara- cara seperti itu.

Matakuliah ini sangat banyak sekali manfaatnya karena sebelumnya saya tidak tahu cara membaca Al- Qur’an. Dan setelah mengikuti matakuliah ini saya mengetahui tentang cara membaca seperti apa, kemudian di dalam cara membaca Al- Qur’an itu ada metode contohnya seperti Iqra’, Dirosati, dan Tajdied itu.106

Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an sebagai solusi terhadap permasalahan dari mahsasiswa yang mana masih banyak dari mahasiswa belum bisa BTQ. Hal tersebut diketahui setelah mahasiswa mengikuti ujian komprehensif. Yang mana dalam ujian tersebut seluruh matakuliah dari semester satu sampai terakhir diujikan semua. Kemudian BTQ juga menjadi syarat kelulusannya sehingga untuk mengatasi problem tersebut dengan matakuliah ini diharapkan teratasi semua. Bagaimanapun juga sebagai calon dosen PAI akan sangat membutuhkan matakuliah ini.

3. Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program

Evaluasi proses ketika perkuliahan berlangsung, kesiapan ketika mahasiswa presentasi, juga UTS. Evaluasi hasil yaitu evaluasi pembelajaran dari materi awal hingga materi akhir dalam proses evaluasinya menggunakan tes lisan maupun tes tulis agar pendidik bisa mengukur kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik, bentuk evaluasinya ujian akhir semester (UAS), baik itu lisan maupun tulis.

Seperti evaluasi yang diungkapkan oleh Ibu Fathiyah yaitu :

Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an tidak lain sama dengan mata kuliah lainnya. Sejauh mana mahasiswa memahami materi yang diberikan ketika perkuliahan. Evaluasi yang saya berikan dilihat dari tugas- tugas, keaktifan didalam kelas, UTS dan juga UAS. Pada mata perkuliahan saya, saya membentuk beberapa kelompok metode pembelajaran tilawatil Qur’an. Jadi nantinya mahasiswa akan melakukan observasi sesuai dengan metode yang didapat, lalu dibuat makalah dan dipresentasikan pada saat perkuliahan. Untuk tugas akhir saya mewajibkan untuk setiap individu mempresentasikan 3 metode pembelajaran tilawatil Qur’an. Saya memberikan evaluasi tersebut bukan lain agar nantinya mahasiswa PAI bisa dan menguasai 3 metode tersebut dan akan banyak manfaat yang didapat. Bukan hanya manfaat duniawi tapi juga ukhrawi.107

Tujuan lain diadakannya evaluasi dalam setiap pembelajaran tidak lain juga ingin mengetahui keberhasilan diranah kognitif, afektif dan juga psikomotorik. Tetapi juga bisa mengaplikasikannya dimasyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Laila yaitu:

Dalam mengevaluasi saya juga menginginkan mahasiswa bukan hanya paham pada materi pembelajaran tilawatil Qur’an saja, namun juga mampu untuk mengaplikasikannya ketika sudah terjun dimasyarakat. Contohnya mahasiswa mendapat metode Yanbu’a.

Jadi nanti mahasiswa diperbolehkan untuk melakukan observasi.

Dan dipresentasikan kepada mahasiswa lainnya. Selain itu evaluasi UTS yang biasanya tulis, namun saya memberikan sedikit berbeda

107 Fathiyatur Rahmah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an Kelas A2, A3, A4, A6), Wawancara, Jember 26 Mei 2017

yakni saya melakukan UTS diganti dengan observasi. Jadi saya melihat dari hasil wawancara dengan tingkat lembaga juga sebagai pendukung ada video yang disajikan ketika melakukan observasi dan juga disertai foto- foto pendukung. Selain itu evaluasi yang saya berikan ialah praktek dalam pembelajaran yakni mengusai atau tidaknya dari cara mengajar, media yang digunakan serta pembacaan kitab dari setiap metode jadi dari awal pembuka hingga penutupnya.108

Penguasaan materi yang dipahami merupakan tujuan akhir dari setiap pembelajaran. Setiap pendidik memiliki panduan yang sama terkait sistem evaluasi. Tidak lain yang dikatakan oleh Ibu Mukni’ah yaitu :

Evaluasi dalam setiap pembelajaran itu penting. Karena dengan adanya evaluasi sebagai dosen bisa tahu sejauh mana peserta didik paham dengan materi. Untuk evaluasi yang saya berikan ialah, pada evaluasi proses biasanya awal masuk perkuliahan ialah presentasi sekaligus mempraktekkan apa yang dipresentasikan.

Selain itu saya juga menilai dari simulasi praktek ketika awal pembelajaran. Simulasi ini dilakukan ketika pembelajaran sudah mulai masuk metode pembelajaran tilawatil Qur’an. Selain itu, saya selalu membawa catatan khusus harian untuk menuliskan nama- nama mahasiswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Evaluasi hasil juga sama dengan evaluasi lainnya yaitu UAS tulis.109

Hasil dari evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an diambil dari beberapa kriteria yaitu: kehadiran dalam tatap muka di kelas dan partisipasi aktif kegiatan dalam kelas 20%, pembuatan tugas mandiri dan kelompok 20%, ujian Mid Semester 20% dan, ujian Semester 40%.110

Berdasarkan dokumentasi evaluasi hasil pada pembelajaran tilawatil Qur’an yaitu praktek mengajar. Jadi pada evaluasi ini mahasiswa

108 Laelatul Usriyah (Dosen Metode Tilawatil Qur’an pada Prodi PGMI) , Wawancara, Jember 26 Mei 2017

109 Mukni’ah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an A5, A7, A8), Wawancara, Jember 30 Mei 2017

110 Dokumentasi, RPS Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 30 Mei 2017

mengajarkan beberapa metode yang telah dikuasainya dan diajarkan kepada mahasiswa lain. 111

Tabel 4.2 Temuan Penelitian

No. Fokus Penelitian Uraian temuan

1. Perencanaan pembelajaran tilawatil Qur’an

1. Dosen pengampu matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an sebelum melaksanakan pembelajaran dikelas membuat Rencana Pembelajara Semester (RPS) dan selain itu juga membuat outline pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilaksanakan terarah

2. Dosen juga membuat Satuan Acuan Pembelajaran (SAP yang menjadi acuan dalam perencanaan pembelajaran dalam konteks ini ialah pemebelajaran tilawatil Qur’an.

3. Dalam pembelajaran tilawatil Qur’an setiap dosen diberi kebebasan untuk menggunakan SAP, RPS, Outline dan Silabus. Karena mata kuliah ini

111 Dokumentasi, Evaluasi Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 23 November 2016

merupakan mata kuliah baru jadi belum ada panduan pokok dari FTIK.

4. Penempatan mata kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an yang dilaksanakan pada semester tujuh masih belum maksimal dipahami oleh mahasiswa Prodi PAI ketika bebicara tahapan praktek tentunya memerlukan alokasi waktu yang lebih memadai sesuai dengan beban matakuliah tersebut.

2. Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an

1. Materi pokok yang disampaikan oleh setiap dosen pengampu adalah sama sesuai dengan SAP, RPS, atau Outline.

2. Media yang digunakan oleh setiap dosen memiliki perbedaan yaitu diantaranya ialah: a) menggunakan media alat bantu berupa video tentang materi metode tilawatil Qur’an yang dipresentasikan oleh peserta didik atau mahasiswa, b) menggunakan digital proyektor

untuk menampilkan materi yang dibahas.

3. Metode pembelajaran yang digunakan juga mempunyai kesamaan di antara semua dosen pengampu yaitu metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab.

4. Strategi pembelajaran yang

digunakan setiap dosen bermacam- macam yatiu seperti observasi ke berbagai lembaga yang mengajarkan metode tilawati yang sesuai dengan tugas kelompoknya. Kemudian juga ada yang menampilkan video tentang penggunaan dari setiap metode tilawati dan juga melakukan praktek langsung di dalam kelas sesuai dengan materi yang dibahas.

3. Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an

1. Evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh setiap dosen

mempunyai kesamaan yaitu dengan cara mahasiswa mempraktekkan langsung dari metode-metode

Tilawatil Qur’an.

2. Selanjutnya yaitu mampu

mengajarkan metode-metode tilawati kepada mahasiswa lain, baik secara teori dan praktek.

3. Melalui pengamatan secara langsung dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan ketika di kelas.

4. Penilaian pada ranah praktek belum maksimal dilaksanakan karena alokasi pembelajaran tilawatil Qur’an yang kurang maksimal.