لات
B. Penyajian Dan Analisis Data
2. Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Jember Tahun Akademik
2. Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program
Pada point materi yang sudah disajikan didalam perencanaan pembelajaran tersebut disajikan dalam bentuk diskusi, presentasi disetiap pertemuan. Pada proses presentasi selain ada penyajian materi oleh peserta didik juga ada ulasan dari pendidik (dosen). Selanjutnya peserta didik bisa langsung menanyakan hal- hal apa saja yang belum dipahami ketika proses pembelajaran berlangsung. Jadi penggunaan metode tanya jawab juga digunakan dalam setiap pertemuan. Tujuannya agar mahasiswa paham betul bukan hanya diranah materi saja namun di dalam prakteknya juga.
Materi pembelajaran tilawatil Qur’an juga memberikan banyak manfaat kepada mahasiswa. Sebagaimana hasil wawancara dengan Eko :
Pembelajaran tilawatil Qur’an merupakan pembelajaran membaca Al- Qur’an diberikan kepada mahasiswa FTIK Prodi PAI IAIN Jember. Pembelajaran ini tentu bermanfaat bagi kita khususnya saya. Karena menjadi mahasiswa yang kuliah dengan berlabel IAIN belum tentu mahasiswanya bisa dan paham baca tulis Qur’annya. Jadi ini merupakan momentum bagi para mahasiswa khususnya mahasiswa FTIK prodi PAI yang nantinya akan dilahirkan sebagai dosen agama. Pemberian materi yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini sangat bermanfaat. Disamping sebagai pengetahuan baru bagi mahasiswa yang belum pernah mendapat materi juga sebagai tambahan pengetahuan atau memperluas wawasan tentan tilawatil Qur’an.97 Penjelasan di atas berkaitan tentang manfaat yang mana sudah dirasakan oleh mahasiswa Prodi PAI ketika terjun kemasyarakat.
Dikuatkan lagi oleh pendapat Alifan yaitu :
Mata kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an merupakan mata kuliah yang pada dasarnya mampu menjawab kebutuhan mahasiwa pada saat ini. Kita sebagai calon dosen yang nantinya akan mengajar dan mengabdi sebagai dosen agama di lembaga sekolah sudah menjadi keharusan, paling tidak kita harus bisa mengajarkan Al- Qur’an
97 Eko, Wawancara, Jember 16 Mei 2017
baik dari cara membaca dan menulis Al- Qur’an dengan baik dan benar. Dan mengajarkan Al- Qur’an juga harus menggunakan metode. Metode ini kita dapatkan dari perkuliahan pembelajaran tilawatil Qur’an ini.98
Kemudian dengan beberapa penjelasan di atas terkait pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an ini maka peneliti melakukan observasi dengan mengikuti proses pembelajaran tilawatil Qur’an di kelas. Dari sana peneliti bisa mengetahui secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan penerapan perencanaan yang dosen telah buat sebelumnya. Dan tidak menutup kemungkinan pada tahap pelaksanaan ada beberapa kendala yang memang perlu secepatnya diatasi. Salah satunya adalah kompetensi dosen. Dimana pada pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan strategi mengajar masih ada yang belum efektif sehingga peserta didik belum maksimal dalam menyerap materi yang diberikan.99
Pada tahap pelaksanaan merupakan hal yang penting bagi seorang dosen dalam menyampaikan materi. Dimana sesuai dengan tujuan besar dari pendidikan sendiri yaitu transfer knowledge dan transfer value. Jadi tidak bisa hanya berhenti pada ranah kognisi saja namun juga ranah prakteknya. Seperti yang diutarakan oleh Ibu Fathiya:
Ketika pembelajaran di kelas saya membentuk kelompok kecil sesuai dengan jumlah metode yang ada. Dan setiap kelompok itu mempunyai tanggung jawab mempresentasikan satu metode dan juga mempraktekkannya. Setiap kelompok tersebut harus mencari tempat atau lembaga yang mengajarkan metode yang sama dengan tugas kelompoknya. Misalkan tugasnya metode Ummi, maka kelompok tersebut mencari lembaga yang mengajarkan metode
98 Alifan, Wawancara, Jember 18 Mei 2017
99 Observasi, Kegiatan Belajar Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 16 November 2016
tersebut. Dari sanalah mereka akan mengetahui seperti apa metode Ummi itu.100
Kemudian pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an ini merupakan matakuliah baru bagi mahasiswa IAIN Jember khususnya Prodi PAI. Dimana sesuatu yang baru masih ada beberapa hal yang memang perlu disempurnakan yakni salah satunya adalah kompetensi dosen yang memang sangat berpengaruh besar bagi kemaksimalan pembelajaran di kelas. Dan seperti seorang tenaga pendidik pada umumnya yaitu seorang tenaga pendidik harus mampu mentransfer pengetahuan dalam berbagai aspek yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Jadi dalam pembelajaran tilawatil Qur’an ini dosen tidak hanya bisa transfer ilmu pengetahuan pada ranah kognisi saja namun dalam prakteknya juga penting. Seperti yang disampaikan oleh salah satu mahasiswa Prodi PAI yaitu Nila:
Pembelajaran tilawatil Qur’an saya rasa masih belum memberikan pemahaman secara penuh hanya sampai pada ranah kognisi saja.
Dan meteri yang disampaikan oleh dosen masih kurang maksimal diserap oleh mahasiswa. Bagi mereka yang sudah paham itu karena mereka kebanyakan mendapatkan pembelajaran tentang metode- metode tersebut pada jenjang pendidikan sebelumnya, seperti TPA atau TPQ. Jadi bagi mahasiswa yang belum mendapatkan pengetahuan tentang metode tersebut saya yakin tidak akan bisa mengajarkannya secara mendalam dalam prakteknya.101
100 Fathiya (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an Kelas A2, A3, A4, A6), Wawancara, Jember 26 Mei 2017
101 Nila, Wawancara, Jember 22 Mei 2017
Strategi dalam mengajar merupakan faktor yang penting selain pemilihan materi yang tepat bagi peserta didik. Hal ini juga dijelaskan oleh mahasiswa Prodi PAI yaitu Robiatul:
Matakuliah sangat bermanfaat sekali terutama untuk mahasiswa Prodi PAI yang mana nantinya kita akan menjadi dosen PAI maka harus bisa BTQ. Dalam perkuliahan tersebut tidak hanya mengaji saja yang diajari namun juga menulis pun juga kita diajari.
Kemudian ketika dalam pembelajaran di kelas dosen menggunakan strategi seperti materi dan langsung praktek. Misalkan materi tentang metode Dirosati maka hari itu juga mahasiswa dituntut untuk menguasai metode tersebut. Dan hal itu sangat efektif memberikan pemahaman tentang metode secara mendalam.
Namun juga ada beberapa poin penting yaitu berkaitan dengan dosen seperti halnya kemampuan dosen pengampuh. Jadi dosen yang mengajar juga wajib memahami secara mendalam tentang metode- metode tersebut. Apalagi memiliki sertifikat tentang kemampuan dalam metode itu misalnya.102
Selain materi dan strategi yang digunakan dalam mewujudkan pembelajaran yang maksimal maka ada juga waktu atau jam matakuliah yang sesuai dengan jenis matakuliah itu sendiri. Seperti yang disampaikan oleh mahasiswa berikut ini yaitu Muh. Andi:
Matakuliah ini sangat penting bagi mahasiswa Prodi PAI yang mana nantinya akan menjadi dosen matapelajaran PAI. Harus bisa mengaji dan menulis Al- Quran. Sebenarnya matakuliah ini tidak tepat diberikan pada mahasiswa yang sudah semester tujuh dan seharusnya diberikan lebih awal lagi misalnya pada semester lima atau semester enam atau juga bisa diadakan dalam dua semester.
Karena mempelajari semua metode memerlukan waktu yang cukup lama mungkin dua atau tiga kali pertemuan setiap satu metode.
Dan untuk yang kemarin waktunya itu kurang sekali sehingga kebanyakan mahasiswa belum memahami secara mendalam. Akan tetapi ketika dikelas dosen menggunakan strategi yang cukup menarik yaitu dengan observasi langsung ke tempat yang mengajarkan metode tersebut. Namun mungkin waktu yang sempit menjadi kendalanya.103
102 Robiatul, Wawancara, Jember 22 Mei 2017
103 Muh. Andi, Wawancara, Jember 1 Juni 2017
Pemaparan di atas menjelaskan bahwa kemaksimalan pembelajaran ditentukan oleh beberapa hal yaitu strategi yang efektif, kompetensi dosen sesuai dengan matakuliah yang diajarkan, dan waktu yang sesuai dengan beban matakuliah tersebut. Oleh karena itu peneliti melakukan observasi tentang pelaksanaan pembelajaran tersebut. Yang mana hasilnya ialah memang keadaan dilapangan matakuliah pembelajaran tilawatil Quran ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa dan juga disposisi matakuliah pada tingkatan semester yang kurang tepat hal itu yang juga banyak dikeluhkan oleh mahasiswa.104
Pengetahuan tentang ilmu agama sangat penting bagi seorang dosen atau dosen. Karena mengingat bahwa seorang dosen merupakan contoh atau tauladan bagi peserta didiknya terlebih lagi seorang dosen agama atau dosen yang mengisi matakuliah keagamaan misalnya matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an ini. Sosok dosen harus bisa menginspirasi bagi peserta didiknya. Karena dalam pelaksanan pembelajaran akan muncul kondisi peserta didik dimana menyukai matakuliahnya atau tidak. Dari sanalah peran seorang dosen sangat diperlukan untuk mengubah mindset atau pola pikir peserta didiknya terlebih lagi bagi mahasiswa yang latarbelakang pendidikannya berasal dari sekolah umum. Dan mereka itu akan mempunyai kesulitan tersendiri ketika menerima matakuliah keagamaan seperti pembelajaran tilawatil
104 Observasi, Kegiatan Belajar Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 17 November 2016
Qur’an ini. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Laela kepada peneliti sebagai berikut:
Ketika di kelas seperti biasa pertemuan pertama terlebih dahulu menjelaskan outline pembelajaran kepada mahasiswa. Kemudian menyampaikan materi awal yaitu seperti hukum membaca Al- Qur’an yaitu makharijul huruf dan tajwidnya. Kemudian baru memberikan materi metode- metode tersebut. Dan strategi mengajar yaitu dengan membentuk kelompok untuk melakukan observasi ke lembaga- lembaga yang mengajarkan metode tersebut.
Setelah itu mereka akan mepresentasikan hasil observasinya kemudian mempraktekkan metode yang mereka teliti. Namun ada beberapa kendala ketika di kelas, saya mengerti psikologi mahasiswa ada yang suka dan tidak suka terhadap matakuliah ini.
Namun saya jelaskan bahwa membaca satu huruf saja dalam Al- Qur’an itu sudah mengandung sepuluh kebaikan. Apalagi sampai satu ayat sudah berapa kebaikan yang kita dapatkan. Dengan cara seperti itulah saya bisa mengajak mahasiswa menyukai matakuliah ini. Kemudian saya jelaskan metode ini dengan cara mengajarkan lagu marsnya karena itu adalah rumusnya.105
Pembelajaran tilawatil Qur’an ini memang terasa sekali manfaatnya karena memang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ketertartarikan mahasiswa terhadap matakuliah yang tergolong baru ini cukup tinggi dan begitupun bagi mahasiswa yang dari Thailand. Meskipun mengalami kendala yakni dalam bahasa sehari- hari yang digunakan mereka adalah bahasa melayu namun tidak megurangi minat mereka untuk mengikuti matakuliah ini. Kemudian di sini kita bisa melihat peran besar seorang dosen yang mana dengan berbagai latar belakang berbeda mengajarkan matakuliah tersebut agar tetap maksimal. Berikut pemaparan hasil wawancara peneliti dengan salah satu mahasiswa yang berasal dari Thailand, Maria:
105 Laelatul Usriyah (Dosen Metode Tilawatil Qur’an pada Prodi PGMI), Wawancara, Jember 26 Mei 2017
Saya sangat menyukai matakuliah yang berhubungan dengan Al- Qur’an. Apalagi cara mengajar seperti Ibu Fatiyah, saya lebih cepat memahami daripada mengajar biasa. Dan saya mengalami kesulitan yaitu ketika mengaji dengan menggunakan metode Iqra’.
Karena di sana (di Thailand) tidak semua menggunakan cara seperti itu ketika mengaji. Kalau di Thailand cara mengajinya yaitu seperti mengaji biasa dan tidak memakai cara- cara seperti itu.
Matakuliah ini sangat banyak sekali manfaatnya karena sebelumnya saya tidak tahu cara membaca Al- Qur’an. Dan setelah mengikuti matakuliah ini saya mengetahui tentang cara membaca seperti apa, kemudian di dalam cara membaca Al- Qur’an itu ada metode contohnya seperti Iqra’, Dirosati, dan Tajdied itu.106
Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an sebagai solusi terhadap permasalahan dari mahsasiswa yang mana masih banyak dari mahasiswa belum bisa BTQ. Hal tersebut diketahui setelah mahasiswa mengikuti ujian komprehensif. Yang mana dalam ujian tersebut seluruh matakuliah dari semester satu sampai terakhir diujikan semua. Kemudian BTQ juga menjadi syarat kelulusannya sehingga untuk mengatasi problem tersebut dengan matakuliah ini diharapkan teratasi semua. Bagaimanapun juga sebagai calon dosen PAI akan sangat membutuhkan matakuliah ini.
3. Evaluasi pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program