• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Jember Tahun

لات

B. Penyajian Dan Analisis Data

1. Perencanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Jember Tahun

Akademik 2016/2017

Perencanaan pembelajaran merupakan proses memilih, menetapkan, mengebangkan pendekatan dan tekhnik pembelajaran, menawarkan bahan ajar, menyediakan pengalaman belajar yang bermakna, serta mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran dalam mencapai hasil pembelajaran.

Dalam perencanaan pembelajaran seorang pendidik diharapkan mampu merencanakan belajar mengajar secara efektif. Untuk itu pendidik harus memilih pengetahuan yang cukup tentang ilmu yang dimiliki sebagai dasar atau tujuan dalam merancang kegiatan belajar mengajar.

Berkaitan dengan perencanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa PAI IAIN Jember ini peneliti melakukan wawancara dengan Ketua Prodi PAI dan hasilnya sebagai berikut:

Perencanaan pembelajaran adalah proses penentuan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dan menentukan jalan dan sumber yang diperlukan untuk menentukan tujuan yang seefisien mungkin dan perencanaan pembelajaran memerlukan berbagai teori untuk merancang agar rencana pembelajaran semester (RPS) benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. RPS ini menjadi acuan apa yang akan dipelajari selama satu semester.81 Dari data diatas rencana pembelajaran semester (RPS) merupakan perencanaan proses pembelajaran yang disajikan yang meliputi dari identitas dosen dan matakuliah, deskripsi matakuliah, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi kuliah, daftar referensi, dan evaluasi. Tujuan dari RPS ini tidak lain adalah untuk merancang pembelajaran selama satu semester.

Dalam perencanaan pembelajaran ini, RPS disusun secara sistematis dan menjadi acuan agar peserta didik mampu menangkap materi yang disampaikan secara maksimal. Materi yang disampaikan bisa efektif diserap oleh mahasiswa seperti yang disampaikan oleh Ketua Prodi PAI sebagai berikut:

81 Mursalim (KaProdi PAI), Wawancara, Jember 29 Mei 2017

Materi dan juga referensi yang akan digunakan berkaitan dengan materi yang akan diajarkan. Merumuskan tujuan merupakan tujuan pendidikan. Perencanaan tujuan ini sangat penting untuk menentukan sasaran dari proses belajar dan mengajar. Menetapkan materi berada didalam ruang lingkup, isi kurikulum dan materi pembelajaran harus sejalan dengan kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum yang bersangkutan dengan pembelajaran.82 Adanya materi kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kedosenan yaitu :

a. Beberapa hal tentang Al- Qur’an (pengertian, kedudukan, kandungan, fungsi, nama- nama Al- qur’an, Sistematika Mushaf Al- Qur’an)

b. Keutamaaan belajar dan mengajar Al- Qur’an (keutamaan belajar Al- Qur’an. Keutamaan mengajar Al- Qur’an, keutamaan membaca Al- Qur’an, adab membaca Al- Qur’an)

c. Ilmu yang harus dikuasai agar dapat membaca Al- Qur’an (makharijul huruf, sifahul huruf, waqaf dan ibtida’, hokum bacaan) d. Menjelasakan lagu- lagu pokok tilawatil Qur’an

e. Menjelasakan lagu cabang( selingan) tilawatil Qur’an f. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Qiro’ati g. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Dirosati h. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Yanbu’a i. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Tilawati j. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode At- Tanzil k. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Tajdied

82 Ibid.,

l. Pembelajaran Al- Qur’an dengan metode Ummi m. Kaidah menulis huruf- huruf hijaiyyah

Materi pembelajaran Tilawatil Qur’an ini akan membekali para mahasiswa dalam kehidupannya sehari-hari seperti yang diutatarakan oleh Ibu Fathiya berikut ini:

Tahun pelajaran kemarin nama materi kuliahnya adalah pembelajaran tilawatil Qur’an, namun saat tahun ajaran saat ini sudah diganti nama dengan pembelajaran metode tilawah namun esensinya sama, karena kata tilawah yang arti katanya adalah membaca. Untuk tahun kemaren itu memang kita melanjutkan kurikulum tahun ajaran yang sebelumnya. Jadi pembelajaran ini ada adalah untuk membekali mahasiswa khusunya mahasiswa prodi PAI agar mempunyai kemampuan untuk mengajarkan metode membaca Al- Qur’an yang benar sesuai dengan Naghom.

Yang mana Naghom adalah lagu ketika membaca al- Qur’an. Ada tujuh metode yang akan di ajarkan kepada mahasiswa. Misalnya salah satunya adalah metode ‘Alimna, Yanbu’a, dan Tajdied.

Dijelaskan di atas bahwa urgensi matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an ini adalah membekali kemampuan para mahasiswa dengan kemampuan membaca Al- Qur’an yang baik dan benar. Karena mengingat mahasiswa Fakultas Tarbiyah ini adalah calon tenaga pendidik terutama pada pelajaran PAI. Selain mengajarkan materi pelajaran menjadi dosen selain harus bisa membaca Al- Qur’an dengan baik. Karena menjadi dosen akan menjadi suritauladan bagi muridnya. Seorang dosen mempunyai tuntutan yang sangat besar selain mengajarkan materi secara teoritis, seorang dosen juga harus bisa mempraktekkan apa yang diajarkan.

Begitupun juga dosen, selain mengajarkannya secara teori tapi juga harus bisa dalam prakteknya. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Ibu Fathiya:

Ketika mahasiswa sudah menguasai lima metode saja sudah menjadi tambahan pengetahuan dan saat mendapatkan gelar sarjana bisa mengajarkannya ketika di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Jadi yang paling mudah adalah yang pertama untuk pengabdian atau Sya’riyah, kemudian bisa juga untuk mencari rezeki juga bisa. Sebuah contoh yaitu dengan membuka kursus membaca Al- Qur’an dengan lima metode untuk semua usia baik kursus privat atau umum. Karena ini sangat penting, setiap bulan atau setiap tahun metode ini banyak perkembangan dan setiap metode tersebut punya karakteristik, kelebihan, dan kelemahan yang berbeda. Jadi dengan menguasai banyak metode mahasiswa nanti akan tahu metode mana yang cocok berdasarkan usianya, misalnya seorang nenek yang belajar, dan metode apa yang cocok untuk diterapkan akan tahu dengan sendirinya.83

Selain mengajarkan metode dalam tilawatil Qur’an yang sudang bisa dirasakan manfaatnya, namun sebelumnya juga harus diajarkan tekhnis dasarnya yaitu makharijul hurufnya, penulisan BTQ. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Muhith:

“Pembelajaran tilawatil Qur’an ini merupakan mata kuliah yang penting bagi mahasiswa calon dosen PAI. Karena yang dipakai adalah landasan Al- Qur’an dan Al- Hadist oleh karena itu mahasiswa harus bisa BTQ. Menulis Al- Qur’an begitu penting dilakukan, seperti dikelas saya sebelum memulai pembelajaran mahasiswa saya suruh menulis ayat Al- Qur’an. Setelah itu saya keliling untuk mengecek dari sisi penulisannya. Ini menjadi sangat penting karena menjadi seorang dosen Agama sudah seyogyanya menguasai dengan hal- hal yang mendasar dalam BTQ”84

Dalam tingkatan Universitas dosen pun juga tidak serta merta melaksanakan pembelajaran. Kalau tingkatan sekolah seorang dosen sebelum melaksanakan proses pembelajaran harus membuat RPP atau rencana proses pembelajaran dan kalau dosen membuat rencana pembelajaran semester (RPS) atau outline. Yang mana fungsinya adalah

83 Siti Fathiyaturrahmah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an Kelas A2, A3, A4, A6), Wawancara, Jember 26 Mei 2017

84 Abd. Muhith (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an kelas A1), Wawancara, Jember 16

November 2016

untuk mengatur atau merencanakan jalannya proses pembelajaran dengan efektif dan efisien. Sebagaimana penjelasan dari Ibu Fathiya:

Dosen membuat outline yang merupakan rencana pembelajaran selama satu semester yang meliputi tentang materi apa yang harus dikuasai. Dan setiap dosen akan mempunyai atau menggunakan metode mengajar sendiri. Jadi disini ada yang namanya Team Teaching yang mana ketika dalam satu matakuliah yang diampuh oleh beberapa dosen dan akan dibentuk team. Didalamnya akan mengkomunikasikan tentang matakuliah yang akan diampuh tersebut meskipun nanti akan menggunakan strategi yang berbeda ketika di kelas. Dan untuk matakuliah Pembelajaran Tilawatil Qur’an yang akan mengampuh adalah saya sendiri, Bapak Muhit, Ibu laila, ibu Mukni’ah dan sudah sharing tentang masalah outline tadi.85

Maksimalnya proses pembelajaran dalam kelas ada beberapa faktor yang akan menetukan yang mana salah satunya adalah pada tahap perencanaan. Yakni pada proses merancang jalannya proses pembelajaran di kelas akan memerlukan strategi mengajar agar materi yang diajarkan sesuai dengan usia peserta didik. Seperti halnya pada pembelajaran tilawatil Qur’an di Prodi PAI, yang mana kalau dilihat dari latar belakang peserta didik tidak semua dari lulusan pesantren. Dengan menerapkan strategi yang tepat maka dosen akan bisa memilih materi yang tepat dengan kondisi peserta didik, berikut penjelasan selanjutnya dari Ibu Fathiya:

Dengan dibentuknya team teaching, para dosen akan mendiskusikan tentang materi yang diajarkan. Meskipun nanti pada proses di kelas menerapkan strategi yang berbeda namun materi dan tujuan pembelajaran tetap sama diantara dosen yang mengajar pada matakuliah yang sama. Mengenai latar belakang mahasiswa yang mempunyai background yang berbeda-beda. Dan yang dari sekolah umum dan sekolah kejuruan dan juga ada yang dari

85 Ibid.

pesantren. Dosen harus memperhatikan hal tersebut karena itu juga akan menjadi bahan untuk menentukan strategi pembelajaran apa yang akan digunakan.86

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dilihat bahwa tahap perencanaan proses pembelajaran membutuhkan perencanaan yang matang. Seperti halnya membuat RPS atau outline yang mana tujuannya adalah untuk mengatur proses pembelajaran agar efektif dan efisien.

Terlebih dalam materi yang akan diberikan kepada peserta didik. Dan ini dibuktikan oleh hasil observasi yang peneliti lakukan berkenaan dengan perencanaan pembelajaran oleh dosen. Dan hal ini dikuatkan oleh dokumentasi yang berupa data outline dari salah satu dosen.87

Kemudian dalam Prodi PAI, pembelajaran tilawatil Qur’an ini memang merupakan langkah antisipatif agar mahasiswa calon dosen PAI harus sudah bisa menguasai apa yang akan diajarkannya yang mana terutama adalah berhubungan dengan Al- Qur’an. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu dosen pengampuh matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an yakni Ibu Mukni’ah:

Pembelajaran tilawatil Qur’an ini memang sangat mendukung terhadap kapasitas mahasiswa khususnya pada Prodi PAI yang mana nantinya akan menjadi seorang dosen PAI. Alasan utamanya adalah memberikan ilmu pengetahuan tentang metode membaca Al- Qur’an yang baik dan benar sesuai dengan Naghom atau lagu.

Tidak mungkin ketika seorang dosen PAI tidak bisa mengaji, maka langkah dari prodi PAI dan sesuai dengan kurikulum yang sudah ada diberikanlah matakuliah pembelajaran tilawatil Qur'an tersebut. Kalau tahun sebelumnya itu dilaksanakan pada semester 7 dan tahun ini diberikan pada semester 4.88

86 Ibid.,

87 Observasi, Outlen Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 15 November 2016.

88 Mukni’ah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an A5, A7, A8), Wawancara, Jember 30 Mei 2017

Mengajar dengan baik merupakan kewajiban dosen atau dosen yang paling utama. Dan tentunya mengajar dengan baik dengan proses prencanaan yang matang. Salah satu indikatornya adalah dengan membuat rencana pembelajaran oleh dosen sebelum mengajr di kelas. Semua proses pembelajaran dikonsep sedemikian rupa agar mahasiswa atau peserta didik menerima materi dengan maksimal. Dari perencanaan tersebut nantinya dosen bisa melihat proses pembelajaran yang dilakukan bisa diterima oleh siswa atau tidak oleh peserta didik secara efektif. Terlebih lagi pada mata kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an dimana kalau melihat background dari mahasiswa tidak semua berasal dari pesantren. Berikut penjelasan lanjutan dari Ibu Mukni’ah:

Dosen atau dosen pada dasarnya mempunyai tugas yang sama yakni membuat perencanaan yang baik seperti contohnya adalah membuat RPS atau rencana pembelajaran semester dan outline.

Dari perencanaan tersebut materi yang akan diberikan kepada mahasiswa bisa maksimal. Keefektifan pembelajaran juga akan terukur dengan baik namun itu akan masuk pada poin evaluasi pembelajarannya. Kemudian dengan perencanaan tersebut dosen akan bisa memilih untuk menggunakan strategi mengajar yang seperti apa agar pembelajaran bisa maksimal diterima oleh peserta didik. Apalagi peserta didiknya adalah tingkatan mahasiswa yang mana metode mengajarnya akan berbeda dengan siswa.89

Kemudian sebuah pembelajaran dilaksanakan mempunyai target yang jelas. Seperti halnya pada matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an ini. Karena dalam proses perencanaan pembelajaran tidak hanya sekedar memilih materi saja namun ada target yang jelas seperti yang sudah

89 Ibid.

ditetapkan dalam kurikulum dan silabus yang ada. Berikut penjelasan dari Ibu Laelatul Usriyah:

Target yang dicapai harus sesuai dengan ketetapan dari kurikulum dan silabus yang mana hal ini ditetapkan oleh bagian kurikulum.

Namun juga karena mata kuliah ini baru diadakan, jadi untuk setiap dosen pengampuh diberikan kebebasan untuk memilih dalam pengajarannya bisa menggunakan SAP, RPS, Outline, dan Silabus. Karena mata kuliah ini tergolong baru jadi belum ada panduan pokok dari FTIK90

Dari data diatas dikatakan bahwa dalam perencanaan pembelajaran tilawatil Qur’an ini masih kurangnya sistem yang diterapkan. Karena pada mata kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an yang tergolong baru, para dosen masih diberi kebebasan untuk memilih menggunakan SAP, RPS, Outline dan juga silabus. Namun itu semua sama karena pada dasarnya tujuannya adalah untuk mengatur dan merencakan kegiatan pembelajaran selama satu semester.

Hal serupa juga dikatakan oleh Ibu Mukni’ah:

Dalam pembelajaran tilawatil Qur’an ini saya menggunakan RPS.

Namun fungsinya sama seperti outline dan lainnya yaitu tetap memiliki target yang sama dan materi yang sama. Dimana matakuliah ini diberikan kepada kelas A1 sampai A11. Namun khusus yang untuk diisi oleh saya materi tentang macam- macam Naghom diberikan pada pertemuan pertengahan semester. Karena dalam RPS materi macam- macam Naghom itu diberikan pada pertemuan akhir semester. Landasan penempatan materi tersebut pada pertengahan semester adalah mejadi seperti yang saya sampaikan diawal menjadi seorang dosen PAI tidak hanya bisa mengajarkan secara teori saja namun juga pada prakteknya.91

90 Siti Fathiyaturrahmah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an Kelas A2, A3, A4, A6),Wawancara, Jember 26 Mei 2017

91 Mukni’ah (Dosen Pembelajaran Tilawatil Qur’an A5, A7, A8), Wawancara, Jember 30 Mei 2017.

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa pentingnya perencanaan yang mana menjadi tugas utama oleh dosen sebelum mengajar di kelas. Dan peneliti juga melakukan observasi terkait dengan bagaimana dosen mempunyai perencanaan yang matang sebelum mereka mengajar di kelas. Dimana observasi tersebut didukung oleh data yang berupa outline perkuliahan selama satu semester.92

Dari beberapa penjelasan di atas diakui juga oleh dosen yang bernama Ibu Laila yakni Ibu Laila juga merupakan salah satu dosen yang mengajarkan mata kuliah pembelajaran tilawatil Qur’an. Berikut penjelasan dari Ibu Laela:

Urgensi dari matakuliah ini dan alasan mengapa diajarkan adalah karena matakuliah mengajarkan bagaimana cara membaca Al- Qur’an. Jadi disitu dibutuhkan sebuah metode- metode atau cara- cara yang praktis dalam membaca Al- Qur’an dan mahasiswa bisa menguasai metode- metode yang sudah ada dan diterapkan oleh pengguna metode. Jadi harapannya adalah ketika mahasiswa sudah lulus dan dimanapun berada seperti halnya di lingkungan yang mempunyai lembaga atau TPQ.93

Pembelajaran tilawatil Qur’an ini tidak hanya sekedar melaksanakan ketetapan yang sudah ada namun lebih dari itu ialah membekali mahasiswa atau peserta didik kemampuan dalam membaca Al- Qur’an yang baik agar ketika mereka kembali ke tengah masyarakat bisa melakukan pengabdian dengan maksimal. Dimana kemampuan ini bisa digunakan untuk beberapa hal yang akan menjadi kemampuan pendukung khusus dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan juga agama dan juga

92 Observasi, RPS Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 31 Mei 2017.

93 Laelatul Usriyah (Dosen Metode Tilawatil Qur’an pada Podi PGMI), Wawancara, Jember 26 Mei 2017.

bisa menjadi sebuah usaha dalam mencari rezeki dari Allah SWT. Dimana hal itu dijelaskan oleh Ibu Laela berikut ini:

Jadi ketika dikelas mahasiswa juga harus menguasai beberapa metode karena metode ini sangat banyak macamnya. Ada Qiro’ati, Yanbu’a, Dirosati dan masih banyak yang lain. kemudian ketika peserta didik sudah lulus, maka outputnya peserta didik bisa mengajarkan salah satu metode tersebut. Namun sebelum memasuki materi inti yang tentang beberapa metode, di dalam outlinenya yaitu pengenalan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan oleh sejarah Al- Qur’an, kemudian ilmu- ilmu tentang Al- Qur’an seperti makharijul huruf dan tajwid setelah itu baru materi tentang metode- metode tersebut.94

Dengan penjelasan yang diberikan oleh narasumber di atas maka peneliti melakukan sebuah observasi tentang proses pembelajaran tilawatil Qur’an. Dimana pada tahap perencanaan pembelajaran dosen pengampuh matakuliah pembelajaran tilawatil Qur’an mempunyai perencanaan yang matang dan tersusun dengan baik sehingga hal itu akan berdampak pada proses pembelajaran yang terarah.95

Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa perencanaan yang tersusun dengan baik yakni dengan outline yang jelas maka proses pembelajaran di kelas akan efektif dan terukur dengan jelas. Karena pada dasarnya perencanaan pembelajaran dilakukan adalah untuk mengkonsep jalannya proses pembelajaran yang akan dilaksanakan meskipun nanti ketika dilapangan akan tetap mengadaptasi kondisi peserta didik.

94 Ibid.

95 Observasi, Kegiatan Pembelajaran Tilawatil Qur’an, Jember 14 November 2016

2. Pelaksanaan pembelajaran tilawatil Qur’an pada mahasiswa Program