FILSAFAT HUKUM ISLAM
II. Fiqih al-D{arar
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dasar dari maqa>shid al- syari>‘ah adalah untuk menggapai satu tujuan yang agung yaitu agar para mukallaf mendapatkan kemudahan dan keringanan ketika beribadah kepada Allah SWT dan terhindar dari segala macam bentuk kemudaratan.4 Terkait dengan maqa>shid al-syari>‘ah dalam mencegah terjadinya kondisi d}arar (kerusakan), maka ajaran agama Islam berupaya untuk menolak terjadinya d}arar (kerusakan) terhadap umatnya.5 Upaya menolak terjadinya d}arar (kerusakan) berdasarkan Hadits Rasulullah SAW.6 Adapun makna la> d}arara di dalam Hadits tersebut adalah tidak membahayakan terhadap diri sendiri. Sedangkan makna la> d}ira>ra adalah tidak berbuat bahaya terhadap orang lain.7 Dalam konteks sosial, relevansi Hadits ini
bahwa pendekatan berbasis maqashid al-syari’ah juga harus menjamin kelestarian moral kebaikan sebagai tujuan utamanya.
4 Muh}ammad Sa‘i>d Ramad}a>n al-Bu>ti>, D{awa>bit al-Mashlahah (Damshiq:
Mu’assasah al-Risa>lah, t.t.h), hlm. 121.
5 Prinsip menolak terjadinya kerusakan (daf‘u al-d}arar) merupakan salah satu prinsip di dalam hukum Islam. Selain itu masih terdapat prinsip-prinsip hukum Islam yang lain seperti mashlahah (menggapai kebahagiaan), istih}sa>n (kesukaan), ‘urf (kebiasaan) dan takhayyur (pilihan hukum). Lihat di dalam karya Mashood Baderin, “Understanding Islamic Law in Theory and Practice,” the British and Irish Association of Law Librarians (2009): 189. Prinsip-prinsip hukum Islam tersebut saling terkait dalam melakukan proses penemuan hukum. Keterkaitan prinsip tersebut semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan.
6 Bunyi Hadits tersebut adalah ََرا َر ِضَ ََل َوَ ََر َرَضَ ََل sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Muwatta nya dari ‘Umar bin yah}ya> al-Maza>ni dari Bapaknya.
Telah berkata al-‘Alla>’i bahwa Hadits tersebut telah mencapai derajat Hadits sahih dan berkata pula Abu ‘Umar bin S}alah bahwa Hadits tersebut telah disanadkan kepada Imam al-Da>r Qutni> yang telah diterima oleh para ahli ilmu dan dijadikannya Hadits tersebut sebagai dalil. Lihat di dalam karya ‘Abd al-Waha>b Ibrahi>m, Fiqh al-D{aru>rah wa Tatbi>qa>tuhu al-Mu‘a>sirah Afaq wa Ab‘ad (al-Bank al-Islami lil-Tanmiyyah,1423 H), hlm.
35. Hadits tersebut digunakan oleh para ahli hukum IslammazhabMaliki untuk melakukan penalaran dalam ijtiha>d tentang hal-hal yang tidak disebutkan secara eksplisit di dalam nash Al-Qur’an dan sunnah.
7 Ya>sin al-Fada>ni>, Al-Fawa>’id al-Janiyyah: Ha>shiyah al-Mawa>hib al-Sunniyyah Syarh} al-Fawa>’id al-Bahiyyah fi Nazm al-Qawa>‘id al-Fiqhiyyah (Beirut: Da>r al-Basha>’ir al-Islamiyyah, 1996), Jilid 1, hlm. 267. Lihat juga di dalam karya Khaleel Mohammed, ”The
Fiqih al-D{arar 31
digunakan untuk mengembangkan berbagai macam penafsiran dalam memberikan fatwa hukum terhadap penyelesaian konflik kepentingan sosial di dunia.8
Adapun fiqih al-d}arar yang bertujuan untuk menolak kerusakan (daf‘u al-darar) merupakan bagian dari teori maqa>shid al- syari>‘ah yaitu untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan untuk menggapai nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan hukum.
Penulis memilih topik ini dengan beberapa alasan yaitu pertama, alasan civil society (masyarakat sipil). Masyarakat sipil Indonesia termasuk masyarakat yang kosmopolitan dari sisi budaya dan sosial sehingga permasalahan konflik sosial yang kerap terjadi sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena adanya konflik antar nilai budaya dan nilai sosial yang berdampak terhadap perkara- perkara yang masuk ke Pengadilan Agama sangat bervariasi baik dari sisi jenis perkara maupun dari sisi substansi permasalahan.
Kedua, alasan pemahaman masyarakat terhadap hukum. Masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat madani memiliki tingkat pengetahuan dan pendidikan yang baik terhadap hukum. Hal ini menyebabkan timbulnya sikap kritis masyarakat dalam memperoleh hak asasi manusia dan keadilan hukum. Ketiga, alasan kuantitas
Islamic Law Maxims,” Islamic Studies 44, no. 2 (2005): 204. Lihat juga di dalam karya Mohammad Hashim Kamali, “Legal Maxims and Other Genres of Literature in Islamic Jurisprudence,” Arab Law Quarterly 20, no. 1 (2006): 85. Larangan berbuat darar kepada orang lain telah sesuai dengan ajaran Islam yang sangat memperhatikan akan nilai-nilai moral kebaikan. Lihat di dalam karya Bernard G. Weiss, The Search For God’s Law:
Islamic Jurisprudence in the Writings of Sayf al-Din al-Amidi (Virginia: University of Utah Press, 2010), hlm. 3.
8 Akel I. Kahera and Omar Benmira, “Damages in Islamic Law: Maghribi Muftis and the Built Environment 9TH-15TH Centuries,” Islamic Law and Society 5, no. 2 (1998):
131.
perkara. Perkara-perkara yang masuk ke Pengadilan Agama sangat banyak dan setiap tahunnya mengalami kenaikkan jumlah perkara yang cukup signifikan. Keempat, di dalam beberapa putusan dan penetapan Hakim, terdapat kekeliruan dalam memahami dan menerapkan konsep menolak kerusakan (daf‘u d}arar). Hal ini dapat menurunkan wibawa Hakim tersebut di mata ahli dan pengamat hukum.
B. Makna al-D{arar Dalam Hukum Islam 1. Hakikat al-D{arar
Adapun d}arar secara etimologi berasal dari kata َ رَضلا yang artinya sesuatu yang dibenci atau sesuatu yang menyakiti. ‘Izz al- Di>n bin ‘Abd al-Salam (W. 660 H) mengatakan bahwa kata d}arar merupakan sinonim dari kata mafsadah yang berarti penyakit atau sebabnya. Sedangkan menurut Zakariya al-Ansa>ri> (W. 925 H) di dalam bukunya yang berjudul Al-H{udu>d al-Ani>qah wa al-Ta‘ri>fa>t al- Daqi>qah mengatakan bahwa kata d}arar dalam bentuk َُةَر ْوُرَضلا artinya sesuatu kondisi yang harus terjadi yang sifatnya mendesak pada seseorang tanpa ada alternatif yang lain.9
2. Batasan kerusakan (al-D{arar)
Ukuran dasar dari kerusakan (d}arar) adalah beraneka ragam.
Mahmud Mustaqil mengatakan bahwa d}arar (kerusakan) adalah sampainya suatu batasan, jika tidak melaksanakan sesuatu yang dilarang oleh agama maka akan menjadi binasa atau menderita, baik terhadap tubuh maupun jiwa. Sedangkan Imam Syafi‘i (W. 204 H) mengatakan sesungguhnya sesuatu yang bermanfaat itu terletak
9 Zakariya> al-Ansa>ri, Al-H{udu>d al-Ani>qah wa al-Ta‘ri>fa>t al-Daqi>qah (Beirut: Da>r al-Fikri, 1991), hlm. 70.
Fiqih al-D{arar 33
pada harganya. Artinya Imam Syafi‘i (W. 204 H) menjadikan harga sebagai patokan dalam menilai sesuatu itu manfaat atau sia-sia.10 3. Al-D{arar dan Hak Asasi Manusia (ICCPR)
Upaya menolak kerusakan (d}arar) bisa mencakup upaya pencegahan sebelum maupun sesudah terjadinya kerusakan (darar).
Dalam arti, segala upaya harus kita lakukan agar kerusakan (darar) tidak terjadi. Jika kerusakan (darar) sudah terjadi, maka penolakan yang dapat dilakukan adalah dengan pengaturan dan pengelolaan secara baik, serta menghilangkan dan berupaya mencegah agar d}arar (kerusakan) semacam itu tidak terulang kembali. Kerusakan (darar) menyebabkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang apabila didiamkan akan menimbulkan kerugian dan kejahatan yang lebih besar (violation of human rights).11 Prinsip menolak kerusakan (darar) dan hak asasi manusia berorientasi terhadap perlindungan hak sipil seseorang terutama kaum marjinal seperti perempuan dan anak-anak.
4. Kaidah Al-D{araru Yuza>lu.
Di dalam kaidah al-khamsah terdapat suatu kaidah َُلا َزُيََُر َرَضلا. Konsep d}arar (kerusakan) yang tertera di dalam kaidah َُلا َزُيََُر َرَضلا dan kaidah cabangnya merupakan suatu kezaliman yang wajib dihilangkan atau pun dicegah. Kaidah ini merupakan salah satu dasar fondasi di dalam prinsip ajaran Islam, yang dapat diterapkan ke dalam seluruh permasalahan fiqih. Kaidah ini memberikan pengertian bahwa sesuatu yang bersifat d}arar (kerusakan) maka harus dihilangkan tanpa mendatangkan d}arar (kerusakan) yang baru.
Akibat kondisi d}arar (kerusakan) tersebut melahirkan sebuah
10 Al-Dabbu>si>, Kitab Ta’si>s al-Nazar (Kairo: Maktabah al-Khanaji, 1994), hlm. 62.
11 Lihat penjelasan ICCPR (International Covenan of Civil and Political Rights)
keringanan hukum. Keringanan hukum terjadi karena kondisi darurat atau kondisi normal yang ada sebab kesulitan hukum.12
Kaidah fiqih tentang d}arar (kerusakan) ini memiliki beberapa cabang yaitu :
Pertama, َُتا َر ْوُظ ْحَملاََُحْيِبُتََُتا َر ْوُرَضلا Artinya “Kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang”.13 Seperti diperbolehkan memakan bangkai dalam keadaan lapar, meminum khamar dalam keadaan sangat haus, mengucapkan kata kufur ketika dipaksa. Dan menambahkan para ulama Syafi‘iyyah di dalam kaidah ini dengan beberapa pengecualian, seperti memakan mayat Nabi dilarang karena sesungguhnya menghormati kepada Nabi tersebut lebih tinggi ketimbang kondisi d}arar (kerusakan) tersebut. Pengecualian lainnya seperti ulama mengatakan bahwa sekalipun disuruh untuk membunuh orang lain namun tidak ada keringanan hukum di dalamnya karena pembunuhan itu adalah dosa besar. Membunuh diri sendiri memiliki mafsadah lebih ringan dari pada mafsadah membunuh orang lain.
Kedua, ََراَر ِضَََل َوَََرَرَضَََل Artinya “Tidak memudaratkan diri sendiri dan tidak memudaratkan orang lain”.14 Para ulama menjadikan Hadits ini sebagai kaidah tersendiri. Tidak ada sebuah darar akan tetapi kondisi d}arar (kerusakan) ada setiap waktu dan manusia tidak boleh menghilangkannya dengan cara mengerjakannya. Maksudnya tidak boleh seseorang untuk memulai perbuatan yang bersifat d}arar (merusak) dalam kehidupan sehari- hari. Seperti seseorang yang merokok di dapur kemudian asap
12 Ibnu al-Laha>m, Al-Qawa>‘id wa al-Fawa>’id al-Usu>liyyah (Kairo: Matba‘ah al- Sunnah al-Muhammadiyyah, 1956), hlm. 120.
13 Ibnu Nujaim, Al-Asyba>h wa al-Naza>’ir (Kairo: Da>r al-Fikri, 1983), hlm. 95.
14 ‘Ali Haydar, Durar al-H{uka>m Syarh} Majallah al-Ah}ka>m, Jilid 1, hlm. 36.
Fiqih al-D{arar 35
rokoknya menyebar sampai ke rumah tetangga sehingga menimbulkan d}arar (kerusakan) bagi tetangga tersebut berupa sesaknya pernapasan. Di dalam kaidah ini terdapat dua hukum yaitu pertama, tidak boleh memulai sesuatu yang bersifat d}arar (kerusakan) yaitu tidak boleh seseorang memberikan mudarat sesama saudara muslim terhadap jiwanya maupun hartanya karena perbuatan d}arar (kerusakan) termasuk kezaliman dan kezaliman dilarang oleh setiap agama. Kedua, tidak boleh saling melakukan perbuatan d}arar (kerusakan) yang setimpal seperti seseorang yang telah melakukan perbuatan d}arar (kerusakan) terhadap jiwa dan harta orang lain, maka orang yang dimudaratkan tidak boleh membalasnya tetapi melaporkan kepada aparat penegak hukum untuk dihilangkan.
Ketiga, اَه ِرَدَقِبََُرَّدَقُيََِة َر ْوُرَضلِلَََحْيِبُاَاَم Artinya “Segala sesuatu yang diperbolehkan karena kondisi darurat hanya sebatas kadar kemampuan atau kadar kebutuhannya dan tidak boleh melebihi batas kadarnya”. 15Adapun darurat itu adalah kondisi yang sangat sempit dan sulit sehingga melakukan hal-hal yang diharamkan.
Sedangkan َُة َجا َحَلا atau kebutuhan adalah kondisi sempit yang tidak sampai tingkatan darurat dan tidak mendatangkan kerusakan (darar) oleh karena itu tidak diperbolehkan untuk melakukan yang dilarang.
Seperti seseorang yang berpuasa dalam perjalanan kemudian menemukan suatu kondisi yang sulit maka ada keringanan hukum untuk berbuka puasa demi mencapai tujuan perjalanan. Pengecualian dari kaidah ini adalah pertama, bai al-ara>ya> karena sudah menjadi tradisi masyarakat Arab pada waktu itu yang diperbolehkan bagi kalangan miskin dan kaya. Kedua, al-khulu yaitu talak tebus yang diberikan kepada pihak wanita sebagai keringanan hukum dalam
15 ‘Ali Haydar, Durar al-H{uka>m Syarh} Majallah al-Ah}ka>m, Jilid 1, hlm. 38.
menggugat cerai suami. Ketiga, sumpah li‘a>n yaitu saling sumpah antara suami isteri dimana suami menuduh istrinya melakukan zina atau pengingkaran terhadap anak kandung.16
Keempat, َِهِلا َو َزِبَََلَطَبََ رْذُعِلَََزا َجَاَم Artinya “Sesuatu yang terjadi atas dasar uzur dan darurat, jika sudah hilang uzur dan darurat tersebut maka hilang pula kebolehan atasnya”.17 Seperti menggantikan seorang saksi pertama dengan saksi yang lain.
Sesungguhnya hal itu diperbolehkan karena tidak adanya saksi pertama yang hadir dihadapan majelis Hakim karena sakit atau keberadaan yang sangat jauh.
Kelima, َُع ْوُنْممَلاَ ََداَعَ َُعِناَملاَ ََلاَزَ اَذِا Artinya “Jika sesuatu itu hukumnya boleh dan disyariatkan di dalam ajaran Islam kemudian dilarang karena adanya suatu halangan yang sah secara hukum, apabila larangan itu telah hilang maka hukum kembali ke asalnya”.18 Seperti seseorang yang membeli suatu barang kemudian terdapat cacat baru setelah ia beli, sekalipun ketika beli sudah ada cacat, maka orang tersebut tidak boleh mengembalikan kepada penjual namun dengan cara pengurangan harga saja.
Keenam, َِهِلْثِمِبََُلا َزُيَََلََُرَرَضلا atau َِرَرَضلاِبََُلا َزُيَََلََُرَرَضلا Artinya
“Kemudaratan tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu mudarat yang sejenis”.19 Tidak boleh seseorang menghilangkan mudarat dengan mendatangkan mudarat pada orang lain karena sesungguhnya makhluk Allah SWT sama derajat dan martabatnya dihadapan Allah. Seperti seseorang yang dalam keadaan sangat lapar dan ada makanan milik tetangganya yang juga dalam keadaan sangat
16 Jala>l al-Di>n al-Suyu>ti>, Al-Asyba>h wa al-Naza>’ir, hlm. 85.
17 ‘Ali Haydar, Durar al-H{uka>m Syarh} Majallah al-Ah}ka>m, Jilid 1, hlm. 39.
18 Ali Haydar, Durar al-Hukam Sharh Majallah al-Ahkam, Jilid 1, hlm. 39.
19 Abdulla>h al-Laji, Id}a>h Qawa>‘id al-Fiqhiyyah (Mekah: al-Madani, 1388 H), hlm.
37.
Fiqih al-D{arar 37
lapar maka orang tersebut tidak boleh mengambilnya dengan alasan darurat karena tetangganya tersebut dalam kondisi darurat yang sama.20
Ketujuh, َِماَعلاَ َِرَرَضلاَ َِعْفَدِلَ َُصا َخلاَ َُرَرَضلاَ َُلَّم َحَتَي Artinya
“Mengerjakan kerusakan (darar) yang bersifat khusus untuk menghilangkan kerusakan (darar) yang bersifat umum”.21 Sesungguhnya d}arar (kerusakan) yang bersifat khusus tidak boleh sama dengan d}arar (kerusakan) yang bersifat umum. Seperti seorang dokter dan seorang mufti yang tidak profesional di bidangnya maka harus di non-aktifkan dari profesinya karena khawatir akan timbul mudarat yang lebih luas yaitu banyaknya pasien yang menderita sakit serta tersesatnya umat karena fatwa tersebut.
Kedelapan, َ فَخََلاَ َِرَرَضلاِبَ َُلا َزُيَ َ دَشَلاَ َُرَرَضلا Artinya “D{arar (kerusakan) yang implikasi negatifnya lebih besar harus dihilangkan dengan d}arar (kerusakan) yang implikasi negatifnya lebih kecil”.22 Jika memang harus menghilangkan d}arar (kerusakan) maka menghilangkan d}arar (kerusakan) yang besar dengan d}arar (kerusakan) yang kecil, jika menghilangkan d}arar (kerusakan) dengan kadar d}arar (kerusakan) yang sama maka pilih di antara d}arar (kerusakan) tersebut. Sesungguhnya d}arar (kerusakan) yang lebih berat efeknya harus dihilangkan dengan d}arar (kerusakan) yang lebih ringan efeknya dan tidak boleh menghilangkan darar yang sama efeknya.23 Seperti Masjid yang sempit maka harus diperluas dan para penimbun harus dipaksa untuk menjual barang timbunannya,24
20 Ali Haydar, Durar al-H{uka>m Syarh} Majallah al-Ah}ka>m, Jilid 1, hlm. 40.
21 Ali Haydar, Durar al-Hukam Sharh Majallah al-Ahkam, Jilid 1, hlm. 40..
22 Muh}ammad Bakar Isma>‘i>l, Al-Qawa>‘id al-Fiqhiyyah Baina al-Isha>lah wa al- Tauji>h (Da>r al-Mana>r, 1997), hlm. 102.
23 Ali Haydar, Durar al-Hukam Sharh Majallah al-Ahkam, Jilid 1, hlm. 40.
24 ‘Ali Manzu>r, Syarh} al-Minha>j al-Muntakhab ila Qawa>‘id al-Madhhab (Da>r
‘Abdulla>h al-Shinqi>ti>), hlm. 502.
berbohong demi kemaslahatan dan larangan keluar bagi Hakim yang suka berbuat dosa.25
Kesembilan, اَمِه فَخَاََِباَكِتراِبَا ًرا َر ِضَاَمُهُمَظ ْعَاَََيِع ْوُرََِناَتَدَسفَمَََض َراَعَتَاَذِا. Adapun redaksi dari al-Winsharishi (W. 914 H)26 adalah َََض َراَعَتاَذِا
َِناَرَر ِض مَل َوَ
َِنِكْمُيَ
َ
َُج ْوُرُخلا اَمُهْنَعَ
ََب َج َوَ
َِباَكِت ْراَ
اَمِه فَخَاَ . Artinya “Jika saling
bertentangan antara dua mafsadah (kerusakan) maka dipilih yang paling ringan tingkatannya.” Seperti seseorang yang sedang naik perahu kemudian perahunya tidak seimbang karena muatan barang yang banyak maka untuk mencegah terjadinya d}arar (kerusakan) berupa tenggelam maka dipilihlah d}arar (kerusakan) yang paling ringan yaitu melempar ke lautan sebagian isi muatan barang perahu tersebut.27 Jika sama tingkatannya maka pilih di antara keduanya.
Seperti seseorang yang sedang naik perahu kemudian perahunya rusak, ada dua kemungkinan yaitu loncat kelautan dan akan meninggal atau tetap di atas perahu akan meninggal dikarenakan akan tenggelam, dalam kasus ini boleh memilih di antara dua bahaya (darar) tersebut.28
Kesepuluh, َِنْيَّرَشلاََُن َوْهَاََُراَتخَي Artinya “Memilih di antara kedua mudarat yang paling ringan efek negatifnya”.29 Kaidah ini mempunyai contoh seperti membedah perut mayit untuk mengeluarkan janin yang diperkirakan masih hidup dan diperbolehkan diam untuk mengingkari keingkaran jika akan menghasilkan d}arar (kerusakan) yang lebih besar.
25 ‘Abd al-Rah}man al-Sanu>si>, I‘tiba>r al-Ma>la>t (Damam: Da>r Ibnu al-Ju>zi>, 1424 H), hlm. 138-140.
26 Al-Winsha>ri>shi>, Idha>h al-Masa>lik ila Qawa>‘id al-Ima>m Abi ‘Abdilla>h Ma>lik (Beirut: Da>r Ibnu Hazm, 2006), hlm. 95.
27 Abu ‘Imran al-Sanha>ji, Al-Naza>’ir fi al-Fiqh al-Ma>liki (Beirut: Da>r al-Basha>’ir al-Isla>miyyah), hlm. 88.
28 Ali Haydar, Durar al-H{uka>m Syarh} Majallah al-Ah}ka>m, Jilid 1, hlm. 41.
29 Abid al-Da‘as, Al-Qawa>‘id al-Fiqhiyyah ma‘a al-Syarh} al-Muja>z (Damshi>q: Da>r al-Tirmiji, 1989), hlm. 32.
Fiqih al-D{arar 39
Kesebelas, َِعِفاَنمَلاَ َِبْل َجََْنِمَىَل ْوَاَ َِد ِساَفمَلاََُء ْرَد Artinya “Menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kemanfaatan”.30 Sesungguhnya perhatian syara begitu besar kepada hal-hal yang dilarang dari pada hal-hal yang diperintahkan. Meninggalkan sekecil debu yang dilarang oleh syara itu lebih utama ketimbang mengerjakan perbuatan yang diperintahkan oleh syara sehingga diperbolehkan meninggalkan wajib untuk menolak kesulitan.31 Di dalam masalah ibadah seperti makruh membasuh tiga kali jika dalam keadaan ragu, puasa Arafah jika ragu apakah hari raya atau bukan.
Kemudian dijelaskan hukum makruh dengan sunah seperti memberikan kepada orang miskin dari pihak kerabat, tidak mesti nafkahnya dan tidak juga menyerahkan zakatnya.32
Kedua belas, َِناَكْمِلاَ َِرْدَقِبََُعَف ْدُيََُر َرَضلا Artinya “Sesuatu yang mudarat harus dicegah sedapat mungkin”.33 Bahwasanya ajaran syariat menghendaki untuk menggapai mashlahah yang dimaksud adalah untuk mencapai kebahagiaan dan menolak d}arar (kerusakan).
Barangsiapa yang membaca buku-buku fiqih maka mendapatkan istilah hukum-hukum yang pro terhadap mashlahah dan kontra terhadap d}arar (kerusakan). Para sahabat yang ahli hukum Islam banyak menggunakan prinsip di atas dan menyandarkannya dalam hal sanksi, hukum-hukum dan sebagainya.
Ketiga belas, ًَةَّصاَخََْوَاًََةَّماَعََِة َر ْوُرَضلاَََةَل ِزْنَمََُل ِزْنَتََُة َجا َحلا Artinya
“Sesuatu kebutuhan itu menempati kedudukan darurat baik secara
30 Ali Haydar, Durar al-Hukam Sharh Majallah al-Ahkam, Jilid 1, hlm. 41.
31 Al-Hamawi>, Ghamz ‘Uyu>n al-Basha>’ir Sharh Kita>b al-Asyba>h wa al-Naza>’ir (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1985), Juz 1, hlm. 290.
32 Al-Sijilmasi>, Sharh} al-Yawa>qit al-Thami>nah fi Man Tama li-‘A<lim al-Madi>nah (Riya>d: Maktabah al-Rushd, 2004), hlm. 196.
33 Salih} al-Sadlan, Al-Qawa>‘id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa ma Tafara‘a ‘Anha (Riya>d: Da>r Balansiyah, 1417 H), hlm. 508-509.
umum maupun secara khusus”.34 Berkata Imam al-Haramain (W.
478 H) di dalam al-Burhan dan al-Nihayah sesungguhnya akad kitabah, sewa menyewa dan akad sayembara termasuk jenis-jenis kebutuhan yang bersifat khusus yang kemudian menjadi umum bagi masyarakat dan kebutuhan yang bersifat umum seperti dalam kondisi darurat sebagaimana darurat yang sebenarnya. Selain contoh di atas diperbolehkan pula akad salam (inden) dalam sistem muamalah.35 Adapun kondisi kebutuhan yang diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang dilarang ada beberapa syarat yaitu: pertama, kondisi kebutuhan tersebut sangat mendesak dan sampai pada batas kesulitan. Kedua, kebutuhan tersebut harus bersifat umum. Ketiga, kebutuhan tersebut merupakan jalan terakhir yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dan tidak ada lagi selain bertentangan dengan hukum yang umum. Keempat, batas kadar kebutuhan tersebut sampai menyamai tingkat darurat.36
Keempat belas, َِرْيََغلاَََّق َحََُل ِطْبَيَََلََُرا َر ِط ْضِلإا Artinya “Sesuatu yang mudarat itu tidak membatalkan hak orang lain”.37 Sebagai contoh orang yang sedang dalam keadaan darurat boleh mengambil makanan milik pedagang karena tersedak namun orang tersebut harus tetap membayar.
34 Al-Zarkashi>, Al-Manshu>r fi al-Qawa>‘id (Beirut: Wuza>rah al-Auqa>f wa al-Shu’u>n al-Isla>miyyah, 1986), hlm. 24.
35 Al-Wala’ili>, Al-Qawa>‘id al-Fiqhiyyah: Tari>khuha> wa Atharuha> fi al-Fiqh (1987), hlm. 44.
36 ‘Abd al-Latif S{alih, Al-Qawa>‘id wa al-D{awa>bit al-Fiqhiyyah: al-Mutadamminah lil-Taysi>r (Madinah: Maktabah al-Malk Fahd al-Watniyyah, 1423 H), hlm. 247.
37 Ali Haydar, Durar al-Hukam Sharh Majallah al-Ahkam, Jilid 1, hlm. 42.