HUKUM EKONOMI ISLAM
III. Membedah Genealogi
Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
A. Pendahuluan
Michael Foucault mengatakan bahwa genealogi adalah ilmu tentang asal muasal yang bertujuan untuk menelusuri kebenaran.
Genealogi bukan sekedar penyusunan kerangka perkembangan linier, sebab dan akibat, namun merupakan upaya untuk membongkar cadar pengaruh kekuasaan terhadap kebenaran sejarah.
Menurut Foucault, pendekatan sejarah bukan saja bersifat majemuk tetapi terkadang menafikan kontradiksi yang ada. Oleh karena itu dekonstruksi terhadap sejarah diperlukan agar terbongkar sekat- sekat yang menimbulkan sebuah kebenaran original, minimal sejarah yang tidak memarginalkan peran dan fungsi komunitas sejarah yang turut memberikan kontribusinya bagi perkembangan pemikiran ekonomi Islam yang termasuk di dalamnya.
B. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam Lintas Generasi
1. Abu Yusuf: Aktivitas Ekonomi, Perpajakan dan Mekanisme Harga.
Dalam pandangan Abu Yusuf (W. 182 H)1 tentang aktivitas ekonomi, bahwa tugas utama penguasa adalah mewujudkan serta menjamin kesejahteraan rakyatnya. Ia selalu menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan rakyat dan mengembangkan berbagai proyek yang berorientasi kepada kesejahteraan umum.2 Penguasa dengan segala organ kekuasaannya mempunyai kekuatan penuh dalam membangun peradaban umat yang berkemajuan tanpa harus dibatasi oleh kepentingan pribadi. Berbagai macam kebijakan ditawarkan, eksplorasi kekayaan alam yang melimpah, serta mewujudkan segala macam potensi bangsa yang ada.
Ketika berbicara tentang pengadaan fasilitas infrastruktur, Abu Yusuf (W. 182 H) menyatakan bahwa negara bertanggung jawab untuk memenuhinya agar dapat meningkatkan produktivitas tanah, kemakmuran rakyat serta pertumbuhan ekonomi. Ia berpendapat bahwa semua biaya yang dibutuhkan bagi pengadaan proyek publik, seperti pembangunan tembok dan bendungan harus ditanggung oleh negara.3 Namun demikian jika proyek tersebut hanya menguntungkan kelompok tertentu, biaya proyek akan dibebani kepada mereka sepantasnya. Persepsi seperti ini muncul dalam teori konvensional tentang keuangan publik.
1 Nama lengkapnya Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Khunais bin Sa’ad al-Anshari al-Jalbi al-Kufi al-Baghdadi lahir di Kufah tahun 113 H dan meninggal dunia di Baghdad tahun 182 H.
2 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 236.
3 Abu Yusuf, Kitab al-Khara>z (Beirut: Da>r al-Ma‘a>rif, 1979) hlm. 109.
159 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
Teori konvensional mengilustrasikan bahwa barang-barang sosial yang bersifat umum harus disediakan secara umum oleh negara dan dibiayai oleh kebijakan anggaran. Untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan ekonomi seperti di atas, negara tentu membutuhkan administrasi yang efisien dan jujur serta disiplin moral yang tegas dan rasa tanggung jawab dalam menunjuk para pejabatnya. Berkaitan dengan hal tersebut, Abu Yusuf (W. 182 H) menyarankan agar negara menunjuk pejabat yang jujur dan amanah dalam berbagai tugas.
Negara bertanggung jawab atas tegaknya keadilan, keamanan, hukum, ketentraman dan stabilitas dalam rangka memberikan lingkungan yang kondusif bagi aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umum serta pertumbuhan ekonomi. Negara harus memberikan upah dan jaminan di masa pensiun kepada mereka dan keluarganya yang berjasa dalam menjaga wilayah kedaulatan Islam atau mendatangkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kaum muslimin.4
Dalam perpajakan, Abu Yusuf (W. 182 H) telah meletakkan prinsip-prinsip yang jelas yang berabad-abad dikenal oleh para ahli ekonomi sebagai canons of taxation. Kesanggupan membayar, pemberian waktu yang longgar bagi pembayar pajak dan sentralisasi pembuatan keputusan dalam administrasi pajak adalah beberapa prinsip yang ditekankannya.5 Dalam hal penetapan pajak, Abu Yusuf (W. 182 H) cenderung menyetujui negara mengambil bagian dari hasil pertanian dari para penggarap daripada menarik sewa dari lahan pertanian, menurutnya cara ini lebih adil dan tampaknya akan
4 Ibid, hlm. 27. Lihat juga Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 239.
5 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 241.
memberikan hasil produksi yang lebih besar dengan memberikan kemudahan dalam memperluas tanah garapan. Dengan kata lain, ia lebih merekomendasikan penggunaan sistem muqasamah (Proporsional Tax) dari pada sistem misahah (Fixed Tax) yang berlaku sejak masa pemerintahan khalifah Umar hingga periode awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
Lebih jauh, Abu Yusuf (W. 182 H) menekankan bahwa metode penetapan pajak secara proporsional dapat meningkatkan pendapatan negara dari pajak tanah dan di sisi lain mendorong para petani untuk meningkatkan produksinya. Oleh karena itu, Abu yusuf (W. 182 H) sangat merekomendasikan penyediaan fasilitas infrastruktur bagi para petani. Dalam sistem misahah, peningkatan produktivitas tidak akan menguntungkan negara. Dalam muqasamah, peningkatan dalam produktivitas akan menguntungkan keuangan negara dan pembayar pajak sekaligus.
Terkait mekanisme harga, Abu Yusuf (W. 182 H) tercatat sebagai ulama terawal yang mulai menyinggung mekanisme pasar.
Fenomena yang terjadi pada masa Abu Yusuf (W. 182 H) adalah ketika terjadi kelangkaan barang maka harga cenderung akan tinggi, sedangkan pada saat barang tersebut melimpah maka harga cenderung akan turun. Dengan kata lain pemahaman pada zaman Abu Yusuf (W. 182 H) hanya memerhatikan kurva demand. Abu Yusuf (W. 182 H) membantah pemahaman seperti ini karena pada kenyataannya tidak selalu terjadi bahwa bila persediaan barang sedikit maka harga akan mahal dan bila persediaan barang melimpah, harga akan murah. Menurut Abu Yusuf (W. 182 H) dapat saja harga-harga tetap mahal ketika persediaan barang melimpah, sementara harga akan murah walaupun persediaan barang berkurang.
Karena pada kenyataannya harga tidak bergantung pada permintaan
161 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
saja tetapi juga bergantung pada kekuatan penawaran. Oleh karena itu, peningkatan atau penurunan harga tidak selalu berhubungan dengan peningkatan atau penurunan permintaan dalam produksi.
Poin kontroversial lain dalam analisis ekonomi Abu Yusuf (W.
182 H) ialah pada masalah pengendalian harga (tas’ir). Ia menentang penguasa yang menetapkan harga.6 Penting diketahui, para penguasa pada periode itu umumnya memecahkan masalah kenaikan harga dengan menambah suplai bahan makanan dan mereka menghindari kontrol harga. Kecenderungan yang ada dalam pemikiran ekonomi Islam adalah membersihkan pasar dari praktik penimbunan, monopoli dan praktik korup lainnya dan kemudian membiarkan penentuan harga kepada kekuatan permintaan dan penawaran.7
2. Pemikiran Ekonomi Al-Syaiba>ni>8
Dalam menelusuri pemikiran ekonomi al-Syaiba>ni> (W. 189 H) tidak akan terlepas dari karyanya yang berjudul kitab al-Kasb. Al- Syaiba>ni> (W. 189 H) mendefinisikan al-kasb (kerja) sebagai cara perolehan harta melalui berbagai cara yang halal. Kerja merupakan elemen penting dari rangkaian aktivitas produksi. Aktivitas produksi dalam ekonomi Islam berbeda dengan aktivitas produksi dalam ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam, tidak semua aktivitas yang menghasilkan barang atau jasa disebut sebagai
6 Argumennya adalah berdasarkan Hadits Nabi SAW yang artinya: “Pada masa Rasululah SAW, harga-harga melambung tinggi. Para sahabat mengadu kepada Rasulullah dan memintanya agar melakukan penetapan harga. Rasulullah SAW bersabda, tinggi rendahnya harga barang merupakan bagian dari ketentuan Allah, kita tidak bisa mencampuri urusan dan ketetapannya”.
7 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekomomi Islam, hlm. 253.
8 Nama lengkapnya Abu ‘Abdilla>h Muh}ammad bin al-H{asan bin Farqad al-Syaiba>ni>
lahir tahun 132 H di kota Wasith Irak. Al-Syaiba>ni> meninggal dunia pada tahun 189 H di kota al-Ray Teheran dalam usia 58 tahun.
aktivitas produksi karena aktivitas produksi sangat terkait erat dengan halal haramnya suatu barang atau jasa dan cara memperolehnya. Dengan kata lain, aktivitas menghasilkan barang dan jasa yang halal saja yang dapat disebut sebagai aktivitas produksi.
Produksi suatu barang atau jasa seperti dinyatakan di atas dalam ilmu ekonomi, dilakukan karena barang atau jasa itu mempunyai utilitas (nilai guna). Islam memandang bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai guna jika mengandung kemaslahatan. Dalam pandangan Islam, aktivitas produksi merupakan bagian dari kewajiban ‘imaratul kaun’ yakni menciptakan kemakmuran semesta untuk semua makhluk.
Orientasi bekerja dalam pandangan al-Syaiba>ni> (W. 189 H) adalah hidup untuk meraih keridaan Allah SWT. Di sisi lain kerja merupakan usaha untuk mengaktifkan roda perekonomian mulai dari produksi, konsumsi dan distribusi yang berimplikasi secara makro meningkatkan ekonomi suatu negara. Dengan demikian negara berkewajiban untuk memimpin gerakan produktivitas nasional dengan menggunakan instrumen incentive-reward and punishment untuk memicu dan memacu komponen masyarakat untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan keahliannya.9
Setelah membahas kasb (kerja), perhatian al-Syaiba>ni> (W. 189 H) tertuju kepada permasalahan kaya dan fakir. Menurutnya sekalipun banyak dalil yang menunjukan keutamaan sifat-sifat kaya, sifat-sifat fakir mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. Al- Syaiba>ni> (W. 189 H) menyerukan agar manusia hidup dalam kecukupan, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Di sisi lain, ia berpendapat bahwa sifat-sifat kaya berpotensi membawa
9 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekomomi Islam, hlm. 260.
163 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
pemiliknya hidup dalam kemewahan. Sekalipun begitu, ia tidak menentang gaya hidup yang lebih dari cukup selama kelebihan tersebut hanya dipergunakan untuk kebaikan.
Al-Syaiba>ni> (W. 189 H) menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan yang lain. Seorang yang miskin membutuhkan orang kaya sedangkan yang kaya membutuhkan tenaga orang miskin. Dari hasil tolong menolong tersebut, manusia akan semakin mudah dalam menjalankan aktivitas ibadah kepadanya. Dengan demikian distribusi pekerjaan bagi si kaya dan miskin mempunyai dua aspek secara bersamaan yaitu aspek religius dan aspek ekonomis.10
3. Abu Ubaid11 dan Kitab al-Amwa>l
Seperti tergambarkan dalam karya monumentalnya kitab al- Amwa>l, Abu Ubaid (W. 224 H) tampak jelas berusaha untuk mengartikulasikan ajaran Islam dalam aktivitas kehidupan umat manusia sehari-hari. Inti dari doktrinnya adalah pembelaan terhadap pelaksanaan distribusi kekayaan secara adil dan merata berdasarkan prinsip-prinsip keadilan fiskal dengan sebaik dan sesempurna mungkin. Menurut Abu Ubaid (W. 224 H), pemberian hibah dalam berbagai bentuknya yang dilakukan negara atau penguasa terhadap seseorang atau sekelompok orang harus berdasarkan pada besarnya pengabdian yang diberikan kepada masyarakat. Dengan kata lain, Abu Ubaid (W. 224 H) ingin menyatakan bahwa segala kebijakan yang hanya menguntungkan sekelompok masyarakat dan
10 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekomomi Islam, hlm. 263.
11 Nama lengkapnya al-Qa>sim bin Sallam bin Miskin bin Zaid al-Harawi> al-Azadi>
al-Baghda>di> lahir tahun 150 H di kota Harrah, Khurasan (sebelah barat laut Afghanistan).
Ia meninggal dunia pada tahun 224 H.
membebani sekelompok masyarakat lainnya harus dihindari negara semaksimal mungkin. Pemerintah harus mengatur harta kekayaan negara agar selalu dimanfaatkan demi kepentingan bersama dan mengawasi hak kepemilikan pribadi agar tidak disalahgunakan sehingga mengganggu atau mengurangi manfaat bagi masyarakat umum.12
Pandangan-pandangan Abu Ubaid (W. 224 H) juga merefleksikan perlunya memelihara dan mempertahankan keseimbangan antara hak dan kewajiban masyarakat serta menekankan esprit de corps, rasa persatuan dan tanggung jawab bersama. Di samping itu, Abu Ubaid (W. 224 H) juga secara tegas menyatakan bahwa pemerintah wajib memberikan jaminan standar kehidupan yang layak bagi setiap individu dalam sebuah masyarakat muslim.
4. Wawasan Modern Teori Yahya bin Umar.13
Teori Yahya bin Umar (W. 289 H) terbagi menjadi dua konsep besar yaitu konsep ihtika>r (Monopoly’s Rent-Seeking) dan konsep siya>sah al-ighra>q (Dumping Policy).
Islam secara tegas melarang ihtika>r (penimbunan). Para ulama sepakat bahwa ‘illat (motif) pengharaman ihtika>r adalah karena dapat menimbulkan kemudaratan bagi umat manusia. Ihtika>r tidak hanya merusak mekanisme pasar, tetapi juga akan menghentikan keuntungan yang akan diperoleh orang lain serta menghambat proses distribusi kekayaan di antara manusia. Sebuah aktivitas ekonomi baru dapat dikatakan sebagai ihtikar jika memenuhi
12 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekomomi Islam, hlm. 281.
13 Nama lengkapnya Abu> Bakar Yah}ya> bin ‘Umar bin Yu>suf al-Kanna>ni> al-Andalu>si>
lahir tahun 213 H dan dibesarkan di Kordova Spanyol dan wafat pada tahun 289 H.
165 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
setidaknya dua syarat yaitu pertama, objek penimbunan merupakan barang-barang kebutuhan masyarakat dan kedua, tujuan ihtika>r (penimbunan) adalah untuk meraih keuntungan di atas keuntungan normal.14 Dengan demikian ihtika>r tidak identik dengan monopoli ataupun penimbunan total. Islam tidak melarang seseorang melakukan aktivitas bisnis, baik dalam kondisi dia merupakan satu- satunya penjual (monopoli) ataupun ada penjual lain. Islam juga tidak melarang seseorang menyimpan stock barang untuk keperluan persediaan.
Berbanding terbalik dengan ihtika>r, siya>sah al-ighra>q bertujuan meraih keuntungan dengan cara menjual barang pada tingkat harga yang lebih rendah dari pada harga yang berlaku di pasaran. Perilaku ini secara tegas dilarang dalam Islam karena dapat menimbulkan kemudaratan bagi masyarakat luas. Secara umum, praktik pengenaan harga yang berbeda terhadap pembeli disebut diskriminasi harga (price discrimination). Dalam perdagangan internasional, bentuk diskriminasi harga yang biasa dilakukan adalah dumping yakni suatu praktik pengenaan harga dimana perusahaan mengenakan harga yang lebih rendah terhadap barang- barang yang diekspor dari pada barang-barang yang sama dijual di pasar domestik. Dumping merupakan sebuah kebijakan perdagangan yang kontroversial secara luas dikenal sebagai sebuah praktik yang tidak fair karena menimbulkan persaingan yang tidak sehat dan merusak mekanisme pasar.
Dalam praktiknya, dumping baru dipandang sebagai sebuah kebijakan perdagangan yang lebih menguntungkan oleh sebuah
14 ‘Ali Abdul Rasu>l, Al-Maba>di’ al-Iqtisha>diyyah fi al-Isla>m (Beirut: Da>r al-Fikr al-
‘Arabi, 1980) hlm. 101. Lihat juga Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 291.
perusahaan jika ditemukan dua hal yaitu pertama, industri tersebut bersifat kompetitif tidak sempurna, sehingga perusahaan dapat bertindak sebagai price maker, bukan sebagai price taker. Kedua, pasar harus tersegmentasi, sehingga penduduk di dalam negeri tidak dapat dengan mudah membeli barang-barang yang akan diekspor.
5. Pembelanjaan Publik Corak Al-Mawardi>.15
Al-Mawardi> (W. 450 H) menegaskan bahwa negara wajib mengatur dan membiayai pembelanjaan yang dibutuhkan oleh layanan publik karena setiap individu tidak mungkin membiayai jenis layanan semacam itu. Dengan demikian, layanan publik merupakan kewajiban sosial dan harus bersandar kepada kepentingan umum. Untuk pengadaan proyek dalam kerangka pemenuhan kepentingan umum, negara dapat menggunakan dana Baitul Ma>l (rumah kas negara) atau membebankan kepada individu- individu yang memiliki sumber keuangan yang memadai. Lebih jauh, ia menyebutkan tugas-tugas negara dalam kerangka pemenuhan kebutuhan dasar setiap warga negara sebagai berikut:
melindungi agama, menegakkan hukum dan stabilitas, memelihara batas negara Islam, menyediakan iklim ekonomi yang kondusif, menyediakan administrasi publik, peradilan dan pelaksanaan hukum Islam, mengumpulkan pendapatan dari berbagai sumber yang tersedia serta menaikkannya dengan menerapkan pajak baru jika situasi menuntutnya dan membelanjakan dana-dana Baitul Ma>l untuk berbagai tujuan yang telah menjadi kewajibannya.
15 Abu> al-H{asan ‘Ali bin Muh}ammad bin Habi>b al-Mawardi> al-Basri> al-Sya>fi’i> lahir di kota Basrah tahun 364 H dan meninggal dunia pada tahun 450 H di kota Bagdad Irak dalam usia 86 tahun.
167 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
Tentang metode penetapan kharaz (pajak tanah), al-Mawardi>
(W. 450 H) menyarankan untuk menggunakan salah satu dari tiga metode yang pernah diterapkan dalam sejarah Islam yaitu:
1. Metode misa>hah yaitu metode penetapan kharaz (pajak tanah) berdasarkan ukuran tanah. Metode ini merupakan fixed tax terlepas dari apakah tanah tersebut ditanami atau tidak, selama tanah tersebut memang bisa ditanam.
2. Metode penetapan kharaz berdasarkan ukuran tanah yang ditanami saja. Dalam metode ini tanah subur yang tidak dikelola tidak masuk dalam penilaian objek kharaz (pajak tanah).
3. Metode musa>qah yaitu metode penetapan kharaz (pajak tanah) berdasarkan presentase dari hasil produksi (proportional tax).
Dalam metode ini pajak dipungut setelah tanaman mengalami masa panen.
Pembelanjaan publik untuk kepentingan umum berasal dari dana-dana yang tersedia di dalam baitul ma>l. Lebih jauh, al-Mawardi>
(W. 450 H) menegaskan adalah tanggung jawab baitul ma>l untuk memenuhi kebutuhan publik. Ia mengklasifikasikan berbagai tanggung jawab baitul mal ke dalam dua hal yaitu:16
1. Tanggung jawab yang timbul dari berbagai harta benda yang disimpan di baitul ma>l sebagai amanah untuk didistribusikan kepada mereka yang berhak.
2. Tanggung jawab yang timbul seiring dengan adanya pendapatan yang menjadi aset kekayaan baitul ma>l itu sendiri.
Untuk menjamin pendistribusian harta baitul ma>l berjalan lancar dan tepat sasaran, negara harus memberdayakan dewan hisbah semaksimal mungkin. Dalam hal ini salah satu fungsi muhtasib adalah memperhatikan kebutuhan publik serta
16 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 310.
merekomendasi pengadaan proyek kesejahteraan bagi masyarakat umum.
Dengan demikian, menurut al-Mawardi> (W. 450 H), pembelanjaan publik, seperti halnya perpajakan merupakan alat yang efektif untuk mengalihkan sumber-sumber ekonomi.
Pernyataan al-Mawardi> (W. 450 H) tersebut juga mengisyaratkan bahwa pembelanjaan publik akan meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.17
6. Pemikiran Sosio-Ekonomi Al-Ghaza>li>.18
Bagi al-Ghaza>li> (W. 505 H), pasar berevolusi sebagai bagian dari hukum alam segala sesuatu yakni sebuah ekspresi berbagai hasrat yang timbul dari diri sendiri untuk saling memuaskan kebutuhan ekonomi. Dengan demikian al-Ghaza>li> (W. 505 H) jelas- jelas menyatakan mutualitas dalam pertukaran ekonomi, yang mengharuskan spesialisasi dan pembagian kerja menurut daerah dan sumber daya. Selanjutnya ia menyadari bahwa kegiatan perdagangan memberikan nilai tambah terhadap barang-barang karena perdagangan membuat barang-barang dapat dijangkau pada waktu dan tempat yang tepat.
Dalam pandangan al-Ghaza>li> (W. 505 H), pasar harus berfungsi berdasarkan etika dan moral para pelakunya. Secara khusus, ia mengingatkan larangan mengambil keutungan dengan cara menimbun makanan dan barang-barang kebutuhan dasar lainnya. Ia menganggap iklan palsu sebagai salah satu kejahatan pasar dan harus
17 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 313.
18 Nama lengkapnya Abu> H{a>mid Muh}ammad bin Muh}ammad al-Tu>si> al-Ghaza>li>
lahir di Tus, sebuah kota kecil di Khurasan, Iran tahun 450 H dan meninggal dunia pada tahun 505 H.
169 Membedah Genealogi Pemikiran Hukum Ekonomi Islam
dilarang. Perilaku para pelaku pasar harus mencerminkan kebajikan dan kejujuran yakni memberikan suatu tambahan di samping keuntungan material bagi orang lain dalam bertransaksi. Tambahan ini bukan merupakan kewajiban, tetapi hanya merupakan kebajikan.
Ketika berbicara aktivitas produksi, al-Ghaza>li> (W. 505 H) membagi kepada tiga kelompok yaitu:19
1. Industri dasar yakni industri-industri yang menjaga kelangsungan hidup manusia. Kelompok ini terdiri dari empat jenis aktivitas yaitu agrikultur untuk makanan, tekstil untuk pakaian, konstruksi untuk perumahan, dan aktivitas negara, termasuk penyediaan infrastruktur.
2. Aktivitas penyokong yakni aktivitas yang bersifat tambahan bagi industri dasar, seperti industri baja, eksplorasi dan pengembangan tambang serta sumber daya hutan.
3. Aktivitas komplementer yang berkaitan dengan industri dasar, seperti penggilingan dan pembakaran produk-produk agrikultur.
Al-Ghaza>li> (W. 505 H) mempunyai wawasan yang luas dan mendalam tentang berbagai kesulitan yang timbul dari pertukaran barter di satu sisi dan di sisi lain signifikansi uang dalam kehidupan umat manusia. Permasalahan barter dalam istilah modern yang disebut sebagai:
1. Kurang memiliki angka penyebut yang sama (lack of common denominator)
2. Barang tidak dapat dibagi-bagi (indivisibility of goods)
3. Keharusan adanya dua keinginan yang sama (double coincidence of wants)
Walaupun dapat dilakukan, pertukaran barter menjadi sangat tidak efisien karena adanya perbedaan karakteristik barang-barang.
19 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, hlm. 329.
Ia menegaskan bahwa evolusi uang terjadi hanya karena kesepakatan dan kebiasaan (konvensi) yakni tidak akan ada masyarakat tanpa pertukaran barang dan tidak ada pertukaran yang efektif tanpa ekuivalensi, dan ekuivalensi demikian hanya dapat ditentukan dengan tepat bila ada ukuran yang sama.
7. Ibnu Khaldun20 dan Teori Siklus.
Bagi Ibnu Khaldun (W. 808 H), produksi bergantung kepada penawaran dan permintaan terhadap produk. Namun penawaran sendiri tergantung kepada jumlah produsen dan hasratnya untuk bekerja, demikian juga permintaan tergantung pada jumlah pembeli dan hasrat mereka untuk membeli. Produser adalah populasi aktif.
Hasrat untuk memproduksi adalah hasil dari motif-motif psikologis dan finansial yang ditentukan oleh permintaan yang tinggi dan distribusi yang menguntungkan produser dan pedagang, dan karenanya pajak yang rendah dan laba serta gaji yang tinggi. Pembeli adalah penduduk dan negara. Daya beli ditentukan oleh pendapatan yang tinggi yang berarti tingkat persediaan yang tinggi dan bagi negara, jumlah pajak yang besar. Ibnu Khaldun (W. 808 H) membagi teori siklus kepada dua bagian yaitu:
a. Siklus populasi.
Produksi ditentukan oleh populasi. Semakin banyak populasi, semakin banyak produksinya. Demikian pula, semakin besar populasi semakin besar permintaannya terhadap pasar dan semakin besar produksinya. Jadi, terdapat siklus populasi di kota-kota.
Populasi mengalami pertumbuhan dan dalam pertumbuhannya,
20 Nama lengkap ‘Abdurrah}ma>n Abu> Zaid Waliuddi>n bin Khaldun lahir di Tunisia tahun 732 H dan wafat tahun 808 H.