BAB II TUJUAN PUSTAKA
D. Instagram
2. Fitur-Fitur Instagram
Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto dan mengambil gambar atau foto yang menerapkan filter digital untuk mengubah tampilan efek foto, dan membagikannya ke berbagai layanan media sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Instagram memiliki lima menu utama yang semuanya terletak dibagian bawah (Atmoko, 2012) yaitu sebagai berikut:
a) Home Page
Home page adalah halaman utama yang menampilkan (timeline) foto-foto terbaru dari sesama pengguna yang telah diikuti. Cara
melihat foto yaitu hanya dengan menggeser layar dari bawah ke atas seperti saat scroll mouse di komputer. Kurang lebih 30 foto terbaru dimuat saat pengguna mengakses aplikasi, Instagram hanya membatasi foto-foto terbaru.
b) Comments
Sebagai layanan jejaring sosial Instagram menyediakan fitur komentar, foto- foto yang ada di Instagram dapat dikomentar di kolom komentar. Caranya tekan ikon bertanda balon komentar di bawah foto, kemudian ditulis kesan-kesan mengenai foto pada kotak yang disediakan setelah itu tekan tombol send.
c) Explore
Explore merupakan tampilan dari foto-foto populer yang paling banyak disukai para pengguna Instagram. Instagram menggunakan algoritma rahasia untuk menentukan foto mana yang dimasukkan ke dalam explore feed.
d) Profil
Profil pengguna dapat mengetahui secara detail mengenai informasi pengguna, baik itu dari pengguna maupun sesama pengguna yang lainnya. Halaman profil bisa diakses melalui ikon kartu nama di menu utama bagian paling kanan. Fitur ini menampilkan jumlah foto yang telah diupload, jumlah follower dan jumlah followi
e) New feed
New feed merupakn Fitur yang menampilkan notifikasi terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan oleh pengguna Instagram. News feed memiliki dua jenis tab yaitu “Following” dan “News”. Tab
“following” menampilkan aktivitas terbaru pada user yang telah
pengguna follow, maka tab “news” menampilkan notifikasi terbaru terhadap aktivitas para pengguna Instagram terhadap foto pengguna, memberikan komentar atau follow maka pemberitahuan tersebut akan muncul di tab ini.
E. Pengaruh Harga Diri terhadap Fear Of Missing Out (FoMO) Pada Remaja Pengguna Media Sosial
Przyblylski,et al (2013) mendefinisikan Fear of Missing Out sebagai sebuah kehawatiran ketika individu lain memiliki aktivitas yang lebih menyenangkan dari pada individu yang ikut serta dan munculnya dorongan agar tetap berhubungan dengan aktivitas oleh orang lain didunia virtual.Sedangkan menurut JWTIntellegence (2012) Fear of Missing Out (FoMO) merupakan perasaan takut yang dialami individu yang merasa jika individu lain sedang melakukan kegiatan atau pengalaman yang menyenangkan, akan tetapiseseorang itu tidak dapat mengalami hal tersebut.
Fear of Missing Out (FoMO) merupakan fenomena saat individu merasakan perasaan takut apa bila orang lain mendapatkan suatu hal yang menyenangkan tetapi seseorang tersebut tidak dapat terlibat sehingga menjadikan seseorang tersebut selalu berusaha agar tetap terkoneksi pada kegiatan orang laindimediasosialdan internet. Singkatnya ialah, Fear of Missing Out (FoMO) diartikan sebagai perasaan takut yang muncul apabila seseorang merasa dirinya tertinggal oleh sesuatu hal menarik di luar sana dan takut dianggap tidak up to date.
Penelitian yang dilakukan oleh Adam (2016) menjelaskan FOMO dapat berpengaruh pada terganggunya waktu tidur. Individu merasa takut apabila mereka segera tidur maka mereka melewatkan waktu yang penting dan
menyenangkan yang terjadi, apalagi jika mengetahui bahwa teman media sosialnya sedang melakukan aktivitas. Dawson (dalam Wire 2014) menjabarkan penyebab individu mengalami FoMO ialah karena manusia adalah makhluk sosial, yang membutuhkan penerimaan dan pengakuan dari lingkungannya. Terlebih individu bukan hanya ingin eksis di dunia non virtual, namun juga di dunia virtual.
Rendahnya harga diri remaja dalam penggunaan media sosial sangat mempengaruhi terjdinya FoMO. Banyaknya stimulus dalam mendapatkan informasi akan membuat individu akan merasa selalu ingin mendapatkan informasi terbaru (up to date), rendahnya harga diri seseorang dapat menimbulkan perilaku adiktif dalam penggunaan media sosial sehingga akan menimbulkan Fear of Missing Out (FoMO), terlebih remaja pada saat ini dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang semakin meningkat, mengharuskannya untuk mengolah informasi melalui media sosial yang semakin lama semakin berkembang.
Harga diri dan Fear of Missing Out pada remaja pengguna media sosial saling berhubungan. Harga diri merupakan suatu keadaan individu dalam menevaluasi dirinya, maka dari remaja yang memiliki harga diri rendah akan terus memantau respon orang lain ataupun menunggu kabar terbaru. Akibat tiap informasi yang masuk akan menyebabkan proses penilaian diri atas orang lain melalui kabar terbaru yang telah didapatkan.
Remaja
F. Kerangka pikir
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
Das sollen Dassoin
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
Keterangan :
: Wilayah Penelitian : Variabel Penelitian : Fenomena Penelitian : Pengaruh
Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak- anak menuju dewasa. Masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, emosi dan psikis.
Masa remaja juga adalah masa untuk mencari jada diri dan memiliki keingin tahuan yang tinggi.dan menggunakan media sosial dan mendapatkan inforamsi dimedia sosial adalah hal yang sudah biasa terjadi dizaman yang modern sekarang ini.
Remaja dengan kaingin tahuan yang tinggi akan mencari apa tahu apa saja. Dengan menggunakan media sosial.
Ketinggalan infomasi/berita trending dimedia sosial membuat remaja tersebut merasa dirinya tidak up date dan akan dianggap oleh remaja lain ketinggalan.
Menggunakan media sosial secara berlebihan bisa membuat remaja memiliki harga diri yang rendah
Remaja trus menggunakan media sosial untuk mencari informasi yang ada, agar tidak ketinggalan infomasi/berita trending di media sosial.
Aspek-apek harga diri
- Kekuasaan - Keberrartian - Kebajikan - kemam - puan
Aspek-apek FoMO (Fear of missing out)
- Kebutuhan psikologis
relatedness yang tidak terpenuhi - kebutuhan
psikologi self (diri sendiri) yang tidak terpenuhi
Harga diri FoMO (Fear of missing out)
Dampak
FoMO (Fear of missing out)
- individu selalu mewajibkan diri untuk mengecek media sosial
- selalu merasa dirinya kekurangan - lupa waktu
- selalu mewajibkan mengecek media sosial
- tidak mengejakan tugas
G. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H0: Harga diri tidak mempengaruhi fear of missing out (FoMO) pada remaja pengguna media sosial Instagram di kota Makassar.
H1: Harga diri mempengaruhi fear of missing out (FoMO) pada remaja pengguna media sosial Instagram di kota Makassar.
40 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pedekatan Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.
Sebagaimana di kemukan oleh (Azwar, 2018) penelitian dengan menggunakan Pendekatan Kuantitatif, ialah sesuatu pendekatan yang menekankan analisis pada data- data numerical (angka) yang diolah dengan metode statistika. (Sugiyono, 2013), menyatankan bahwa metode penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh harga diri terhadap fear of missing out (FoMO) pada pengguna media sosial Instagram di kota Makassar. Penelitian ini mencari pengaruh harga diri dengan fear of missing out (FoMO) pada pengguna media sosial Instagram di kota Makassar.
B. Variabel penelitian
Variabel penelitian pada dasarnya merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. Sedangkan operasionalisasi variabel penelitian berarti menjelaskan secara terperinci mengenai variabel-variabel yang ada di dalamnya menjadi beberapa bagian yaitu dimensi, indikator, ukuran, dan skala. Variabel-variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel X (variabel independen) sebagai variabel bebas dan variabel Y (variabel dependen) sebagai variabel terikat. Berikut ini variabel-variabel yang ada di dalam penelitian ini:
1. Variabel terikat (Dependen variable)
Variabel dependent atau bisa juga disebut denga variable terikat, adalah variabel yang menjadi sebab akibat atau yang dipengaruhi, karena ada variabel bebas (sugiyono, 2017). Jadi variabel terikat yang ada dalam penelitian ini adalah Fear Of Missing Out.
2. Variabel bebas (Independen variabel)
Variabel independen atau bisa juga disebut dengan variabel bebas yang menjadi sebab perubahan atau yang mempengaruhi atau munculnya variabel terikat (sugiyono, 2017). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah harga diri.
C. Definisi Variabel 1) Definisi konseptual
1. Fear of missing out (FoMO)
Pzybylski et al (2013) mendefinisikan fear of missing out (FoMO) sebagai ketakutan seseorang akan kehilangan momen berharga yang dimiliki rekannya atau kelompok teman sebayanya, pada saat individu tersebut tidak hadir didalamnya dengan itu timbul keinginan untuk terus terhubung dengan orang lain melalui media sosial.
2. Harga diri
Menurut Coopersmith (dalam Andarini, Susandari, & Rosiana, 2012) mengatakan bahwa harga diri merupakan hasil evaluasi individu terhadap dirinya sendiri yang diekspresikan dalam sikap terhadap diri sendiri. Evaluasi ini menyatakan suatu sikap penerimaan atau penolakan dan menunjukkan seberapa besar individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, berhasil, berharga menurut standart dan nilai pribadinya.
2) Definisi operasional
1. Fear of missing out (FoMO)
Fear of missing out (FoMO) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketika individu tetap ingin terhubung dengan orang lain dan memantaui kegiatan yang dilakukan oleh orang lain melalui media sosial, sehingga memunculkan perasaan khawatir apabila melewatkan berita tren yang ada dimedia sosial.
2. Harga diri
Harga diri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana indibidu tersebut menggambarkan sejauh mana menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten dalam dirinya.
D. Populasi Dan Sampel 1) Populasi
Popilasi adalah wilayah generalisasi dimana terdapat objek/subjek yang akan diteliti yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian mengambil sebuah kesimpulan, dimana populasi tidak memiliki batasan dalam pengambilan subjek (Azwar, 2018). Populasi dalam penelitian ini yaitu remaja pengguna media sosial Instagram di kota Makassar.
2) Sampel
Sampel adalah komponen dari jumlah dan karakteristik yang terdapat pada populasi tersebut (Azwar, 2018). Sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang menggunakan media sosial Instagram yang berada di kota Makassar. Menurut Abdullah dan Susanto (2015) untuk penentuan jumlah
sampel yang dapat menggunakan persamaan n ≥ , dimana α yang digunakan 0.05 maka dari itu jumlah sampel yang akan diambil datanya pada penelitian ini minimal 400 remaja, sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 400.
3) Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti itu Non- probability sampling. Non probability samping merupakan sebuah teknik pengambilan sampel dimana setiap unsur atau anggota polulasi memiliki peluang besar untuk menjadi sampel tidak diketahui, belum diketahui peluang setiap unsur atau anggota populasi dikarenakan data ditemukan belum akurat Sugiyono (2012). Teknik probability sampling yang digunakan dipenelitian ini yaitu Accidental sampling, accidental sampling adalah teknik penentuan sampel yang ditentukan secara kebetulan, apa bila subjek yang kebetulan ditemui peneliti cocok sebagai data penelitian Sugiyono (2012). Peneliti menggunakan Accidental sampling untuk memudahkan dalam pengumpulan data dan juga informasi. Dimana peneliti mempunyai kebebasan untuk memilih sabjek yang ditemukan.
Kriteria dalam penelitian ini adalah:
1. Remaja yang bersekolah di kota Makassar 2. Laki-laki dan perempuan
3. Rentang usia 12 sampai 17 tahun
4. Menggunakan media sosial Instagram secara aktif
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti itu wawancara dan juga skala. Wawancara di lakukan pada saat pengambilan data awal guna untuk memperoleh dan menenukan informasi terkait dengan masalah- masalah yang ditemukan pada remaja yang mengalami fear of missing out.
Skala digunakan untuk melihat hubungan antara harga diri dengan fear of missing out (FoMO), skala yang peneliti gunakan yaitu skala likert yang dapat digunakan dalam mengukur perilaku, opini dan pandangan satu individua tau lebih terhadap kejadian sekitar (Sugiyono, 2016). Berikut pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala fear of missing out (FoMO) dan skala harga diri (self esteem)
1) Skala Fear of missing out
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala fear of missing out (FoMO) dari Wegmann, Oberst, Stodi, & Brand (2017) kemudian di adaptasi oleh Dian (2019). Berdasarkan aspek-aspek fear of missing out yang terdiri dari 2 aspek yaitu, Trait-FoMO dan State-FoMO. Skala ini memiliki 12 aitem dengan lima pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Pemberian skor pada skala ini yaitu 5 sampai 1. Skala hanya berjenis item favorable. Berikut aitem-aitem dari skala tersebut yang dapat dilihat pada blue print dibawah ini:
Tabel 3.1 Blueprint skala fear of missing out (FoMO)
No Dimensi Indikator Nomor
aitem Jumlah 1
Trait-FoMO
Takut, cemas, khawatir ketika tertinggal pengalaman atau peristiwa yang dialami oleh orang lain lebih menarik dari diri sendiri.
6, 7, 8,
10, 12 5
2
State-FoMO
Berusaha untuk tetap actual/update akan informasi yang dianggap penting.
1, 2, 4, 5,
9 5
Berusaha untuk tetap terhubung dengan membagikan kabar diri atau melihat kabar dari orang lain secara online.
3, 11 2
Jumlah aitem 12
2) Harga diri
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala adaptasi dari Aulia (2019). Berdasarkan aspek-aspek harga diri yang dikemukakan oleh Coopersmith (1981) yang terdiri dari 4 aspek yaitu, kekuatan, keberartian, kebajikan, kemampuan, yang bertujuan untuk mengukur harga diri remaja yang mengalami fear of missing out (FoMO) dimedia sosial.
Skala ini memiliki 25 aitem dengan lima pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala ini terdiri dari 2 jenis item yaitu favorable dan unfaforable. Pada item favorable maka digunakan penilaian yaitu SS = 5, S = 4, N = 3, TS = 2, dan STS = 1, sedangkan pada item unfavorable maka digunakan penilaian yaitu SS = 1, S = 2, N = 3, TS = 4, dan STS = 5. Berikut aitem-aitem dari skala tersebut yang dapat dilihat pada blue print dibawah ini:
Tabel 3.2 Blueprint harga diri
No Aspek Indikator Aitem
Total
F UF
1 Kekuatan
a. Mampu mengatur dan mengontrol tingkah laku b. Dihormati orang lain c. Memiliki pendapat yang
diterima orang lain
1,2,3,4,23 25,24,5,6 9
2 Keberartian
a. Menerima kepedulian dari orang lain
b. Menerima perhatian afeksi dan ekspresi cinta dari orang lain
c. Memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri
d. Mendapatkan
penerimaan dari lingkungan dengan apa adanya
7,8,9,10 17,18,19
21,22
20,13,16 12
3 Kebajikan
a. Taat untuk mengikuti etika norma atau standar moral yang harus di hindari yang harus dilakukan
11,12 2
4 Kompetensi
a. Mampu untuk sukses b. Memiliki tuntutan
prestasi yang ditandai dengan keberhasilan c. Dapat mengerjakan
tugas dengan baik dan benar
14,15 2
Jumlah 18 7 25
F. Uji Instrument 1. Uji Validitas
Validitas digunakan untuk melihat sejauh mana kecepatan dan juga ketepatannya didalam sebuah alat ukur atau instrumen dalam menjalankan fungsinya (Azwar, 2012). Dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS versi 20.00. untuk melihat Uji Prasyarat dan Uji Hipotesis. Alat ukur dapat dikatakan memiliki tingakat validitas yang tinggi jika bisa memberikan hasil
ukur yang tepat dan sesuai dengan tujuan pengukuran. Validitas terdiri dari 2 macam yaitu :
a. Uji validitas isi
Sugiyono (2016) menyakan bahwa validitas isi adalah proses yang dilakukan untuk mengukur sejauh mana kelayakan suatu tes sebagai sampel yang akan diukur, sehingga dapat membandingkan antara isi instrument dengan isi rancangan yang telah ditetapkan. Validitas isi terbagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Validitas Logis
Validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Valid dipandang terpenuhi karena instrument yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Untuk mendapatkan validitas logis yang tinggi dalam suatu tes itu harus dirancang dengan baik baik dan benar-benar hanya berisi aitem yang relevan (Azwar, 2018).
Dalam penelitian ini, validitas logis dilakukan dengan memberikan skala kepada subjek matter experts (SME) kepada 1 orang yang merupakan orang yang expert dalam bidangnya. Subjek Matter Experts (SME) akan merevisi item-item hasil telaah yang telah dilakukan oleh peneliti, sehingga nantinya layak untuk di uji validitas tampang.
Subjek Matter Experts (SME) yang terlibat dalam penelitian ini untuk validitas logis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar yaitu ibu Harniar. Berdasarkan dengan hasil revisi validitas logis yang telah dilakukan pada skala fear of missing out dan juga
skala harga diri dan mendapatkan beberapa masukkan dari SME, setelah itu peneliti memperbaiki item-item sesuai masukkan dari SME, kemudian selanjutnya akan dilakukan uji validitas tampang.
2. Validitas tampang
Validitas tampang merupakan validitas isi yang paling dasar dan sangat minimum. Validitas isi menunjukkan bahwa item-itemyang dimaksudkan untuk mengukur sebuah konsep, memberikan kesan mampu mengungkap konsep yang hendak di ukur (Azwar, 2012).
Pada penelitian ini, untuk melakukan validitas tampang terhadap skala penelitian, peneliti membagikan skala tersebut kepada 5 mahasiswa untuk melakukan penilaian mengenai kelayakan dari segi tampang ataupun tampilan.
Setelah SME memberikan masukkan terkait dengan item-item pada skala, selanjutnya peneliti melakukan uji dari segi tampang, dengan cara peneliti membuat skala siapa sebar melalui bantuan aplikasi Drive yang berbentuk google form, kemudian peneliti membagikan link google form melalui aplikasi whatshapp kepada 5 mahasiswa atau reviewer untuk memberikan penilaian dari tata letak, identitas responden, petunjuk pengerjaan sampai dengan pengecekan typo dalam penulisan yang salah. Apabila sudah mendapatkan hasil penilaian dari reviewer, lalu peneliti memperbaiki masukkan-masukkan yang diberikan. Selanjutnya skala tersebut sudah bisa disebar ke remaja yang ada di kota Makassar dan yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti, dengan persetujuan pembimbing.
b. Validitas konstruk
Validitas konstruk adalah validitas yang mengukur sejauh mana kemampuan dalam mengukur konstrak, dan kesesuaian data hasil tes melalui prosedur pengukuran (Azwar, 2018). Pengujian validitas konstrak adalah proses yang akan terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep tentang trait yang diukur. Konsep validitas konstruk berguna sekali pada tes yang akan mengukur trait yang tidak memilki kriteria ekternal. Item-item yang digunakan akan dikatakan valid ketika memenuhi dua nilai yaitu nila factor loading positif dan nilai t-value > 1.96 (Azwar, 2018).
Setelah itu peneliti melakukan analisis CFA (Confirmatory Factor Analysis) dengan menggunakan bantuan dari aplikasi Lisrel 8.70, didapatkan hasil pada skala harga diri dengan jumlah item 25 ditemukan 1 item yang gugur yaitu pada item dengan nomor 24. Kemudian pada skala fear of missing out dengan jumlah item 12 tidak ditemukan item yang gugur. Selanjutnya semua item layak untuk digunakan karena bisa dari nilai yang didapatkan tidak ditemukan nilai minus pada analisis Lisrel 8.70. Berikut tabel rincian skala harga diri dan juga skala fear of missing out :
Tabel 3.3 Blueprint skala harga diri setelah dilakukan uji coba
Aspek Aitem
Jumlah
F UF
Kekuatan 1,2,3,4,23 25,5,6 8
Keberartian
7,8,9,10 17,18,19
21,22
20,13,16 12
Kebajikan 11,12 2
Kompetensi 14,15 2
Total 24
Tabel 3.4 Blueprint skala fear of missing out (FoMO) setelah dilakukan uji coba
Dimensi Favorable Jumlah
Trait-FoMO 6, 7, 8, 10, 12 5
State-FoMO 1, 2, 4, 5, 9 5
3, 11 2
Total 12
2. Uji Reliabilitas
Realiabilitas yaitu dimana sebuah hasil pengukuran dapat di percaya (Azwar, 2018). Tes dapat dikatakan reliabel atau dipercaya apabila memberikan hasil yang sama dalam atribut ukur yang di dapatkan dari pengukuran subjek dan tes yang sama. Reliabilitas berkaitan erat dengan kesalahan pengukuran. Uji reliabilitas pada skala peneliti menggunakan aplikasi SPSS. Untuk bisa melihat tingkat reliabilitas skala yang digunakan yaitu skala harga diri dan juga skala fear of missing out (FoMO). Kemudian peneliti menggunakan aplikasi SPSS untuk menguji statistic Cronbach Alpha, dimana hasil uji menetukan reliabilitas skala yang digunakan dalam penelitian ini. Reliabilitas dalam skala bisa dilihat dari nilai koefisien dari rentang 0 sampai 1. Jika nilai koefisien semakin mendekati angka 1 maka nilai tersebut semakin tinggi nilai koefisien reliabilitas skala tersebut. Sedangkan jika nilai mendekati angka 0 artinya nilai tersebut menunjukkan reliabilitas suatu skala semakin rendah (Azwar, 2018).
Berdasarkan dari hasil pengolahan data reliabilitas dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS 20.00, diperoleh hasil sebagai berikut:
Reliabilitas skala harga diri:
Tabel 3.5 Reliabilitas skala harga diri
Cronbach's Alpha N of Items
823 33
Tabel 3.6 Rebialitas skala Fear Of Missing Out (FoMO)
Cronbach's Alpha N of Items
848 12
G. Teknik Analisis Data 1. Analisis data deskriptif
Analisis deskriptif adalah suatu penyederhanaan data dalam bentuk yang muda dipahami, dibaca, dan diinterpretasikan. Data yang dianalisis merupakan data telah didapatkan dilapangan. Kemudian untuk menganalisis data menggunakan metode Statistik merupakan statistik yang dapat digunakan dalam menganalisis data dengan cara menggambarkan atau mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Didalam statistik terdapat penyajian data melalui grafik, tabel, diagram, lingkaran, perhitungan modus, mean, median, dan yang lain-lain sebagaiannya Sugiyono (2013).
2. Uji asumsi a. Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji sampel yang digunakan apakah mempunyai distribusi normal atau tidak. Dalam penggunaan model regresi untuk prediksi akan menghasilkan kesalahan, untuk mengukur uji normalitas peneliti menggunakan teknik normalitas kolmogorov smirnov (Sugiyono, 2016). Peneliti menggunakan
Kolmogorov Smirnov dikarenakan subjek dalam penelitian ini melebihi 50 orang. Dibawah ini menunjukkan kriteria uji normalitas:
1) Apabila nilai signifikansi Kolmogorov Smirnov yang didapatkan lebih besar dari taraf siginifikasi 0.05 (sig > 0.05) maka dari itu data yang didapatkan dikatakan terdistribusi secara normal.
2) Apabila nilai signifikansi Kolmogorov Smirnov yang didapatkan lebih kecil dari taraf siginifikasi 0.05 (sig > 0.05), maka dari itu data yang didapatkan dikatakan tidak terdistribusi secara normal.
b. Uji Linearitas
Uji linieritas merupakan langkah-langakah yang akan digunakan untuk mengetahui status linear dalam suatu distribusi data penelitian dengan tujuan untuk menguji apakah keterkaitan antara dua variabel yang bersifat linier (Azwar ,2018). Perhitungan linieritas digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis memlaui program SPSS untuk mengetahui prediktor data peubah bebas berhubungan secara linier atau tidak dengan peubah terikat. Dengan menggunakan program SPSS. Uji linearitas pada penelitian ini dapat dilihat pada aplikasi SPSS berikut kriteria uji linearitas:
1) Apabila nilai signifikansi linearity yang didapatkan lebih besar dari taraf siginifikasi 0.05 (sig > 0.05), maka dari itu data yang didapatkan dikatakan memiliki hubungan linear.
2) Apabila nilai signifikansi linearity yang didapatkan lebih kecil dari taraf siginifikasi 0.05 (sig > 0.05), maka dari itu data yang didapatkan dikatakan tidak memiliki hubungan linear.