BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengembangan bahan ajar
4. Fungsi Dan Karakteristik Bahan Ajar
Dalam proses pembelajaran dibutuhkan sarana, seperti media, kurikulum dan bahan ajar. Bahan ajar digunakan sebagai bahan yang disampaikan oleh guru pada murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang tertuang dalam kurikulum. Bahan ajar sangat penting dan harus ada dalam proses pendidikan, dan bahan dalam proses pendidikan berfungsi sebagai berikut:
a. Menjelaskan kepada siswa bagaimana mengelola kegiatan belajar mengajar.
b. Menyediakan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan.
c. Ini berfungsi sebagai koneksi antara pelajar dan instruktur.
d. Siswa sendiri dapat menggunakannya untuk mencapai kemampuan yang telah ditentukan.
e. Dapat digunakan sebagai program untuk memperbaiki.30
Setiap bahan ajar perlu memenuhi komponen-komponen yang relevan dengan kebutuhan peserta didik agar dapat berfungsi dengan baik.Komponen bahan ajar harus mampu memberikan motivasi dan sederhana bagi peserta didik untuk dipelajari dan dipahami.
Yang lebih penting lagi, bahan ajar harus mampu menunjukan karakteristik dari mata pelajaran yang akan disajikan. Karena setiap mata pelajaran memiliki kartakter yang berbeda-beda dan kesulitan dalam mempelajari berbeda-beda pula. Dengan sudah mengetahui karakter mata pelajaran, seorang guru dan siswa akan menyiapkan tenaga dan fikiran sebelum melakukan belajar. Terdapat beberapa karakteristik mata pelajaran yang harus difahami dan disampaikan
30 Annisa Anita Dewi, Buku Sebagai Bahan Ajar (Sukabumi: CV Jejak, 2019), 36.
oelah bahan ajar, untuk menentukan jenis dan tekniknik serta media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu:
a. Ambil pendekatan berbasis sistem.
b. Mendukung pencapaian kompetensi tertentu dengan satu unit pembahasan.
c. Ini adalah satu set lengkap yang mencakup semua yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu alat, bahan, dan metode.
d. Memberikan siswa berbagai pilihan kegiatan belajar yang dapat mereka pilih berdasarkan minat dan kemampuan mereka.
e. Dapat dimanfaatkan oleh siswa sendiri atau dengan bantuan.
f. Memberikan banyak pedoman untuk digunakan bagi siswa dan siswa.
g. Berikan alasan untuk setiap langkah instruksional;
direkomendasikan.31
Setelah mengenali karakteristik mata pelajaran, selanjutnya menentukan karakteristik bahan ajar untuk menentukan strategi dalam mengajar, berikut karakteristik bahan ajar tersebut:
a. Isi pesan harus dianalisis dan dikategorikan dengan cara tertentu.
b. Harus ada beberapa fragmen teks untuk setiap kategori.
c. Persyaratan untuk menyediakan konten yang menarik, dan d. Format judul kategori yang berisi materi yang akan dipilih.32 5. Komponen-Komponen Bahan Ajar
Sebagai bahan yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan serta menyiapkan komponen-komponen apa saja yang dibutuhkan dan harus ada dalam bahan ajar. Komponen-komponen yang disiapkan harus bisa memudahkan proses pembelajaran, memudahkan dalam arti guru
31 Annisa Anita Dewi, Buku Sebagai 37-41.
32 Degeng. Pengaruh Penstrukturan Isi Teks Ajar dan Strategi Belajar Terhadap Perolehan Belajar Mengingat Fakta dan Memahami Konsep. Forum Penelitian Pendidikan, 74-91
23
mudah dalam menyampaikan dan murid mudah dalam memahami matri bahan ajar. Berikut beberapa komponen yang harus ada dalam bahan ajar:
a. Tujuan umum pembelajaran (KI dan KD).
b. Tujuan khusus pembelajaran (IPK).
c. Petunjuk khusus pemakaian buku ajar.
d. Uraian isi pelajaran yang disusun secara sistematis.
e. Gambar/ilustrasi untuk memperjelas isi pelajaran.
f. Rangkuman.
g. Evaluasi formatif dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar berikutnya.
h. Daftar rujukan.
Dari beberapa komponen bahan ajar tersebut harus ada dalam bahan ajar gar memudahkan guru dalam menyampaikan meteri dan muri juga mudah menerima dan memahami meteri yang disampaiakan dalam proses belajar mengajar.
6. Jenis Bahan Ajar
Secara garis besar jenis bahan ajar dibedakan menjadi dua kelompok basar, yaitu “bahan ajar cetak dan noncetak. Bahan ajar cetak dapat berupa, handout, buku, modul, brosur, dan lembar kerja siswa. Sedangkan bahan ajar noncetak meliputi, bahan ajar audio
seperti, kaset, radio, piringan hitam, dan compact disc audio.”33 Dari kedua kelompok besar tersebut dapat di pecah-pecah menjadi empat kelompok katagori bahan ajar seperti kategori berikut ini:
a. Bahan ajar cetak (printed) yang meliputi handout, buku, modul, lembar kerja siswa (LKS), brosur, leaflet (selebaran), wallchart, foto/gambar, model/maket.
b. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam dan compact disk audio.
c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.
d. Bahan ajar interaktif seperti compact disk interaktif.34 7. Strategi Pengembangan Bahan Ajar
Strategi yang dikembangkan dapat dipakai untuk menetapkan apakah bahan yang ada itu sesuai. Jika memungkinkan perlu juga disesuaikan atau dikembangkan sebelum digunakan. Pemilihan terhadap bahan-bahan ajar dilakukan dengan cara menilai beberapa hal berikut:
a. Keadaan bahan cukup menarik.
b. Adanya kesesuaian dengan isi c. Urutan sudah benar
d. Informasi yang diperlukan tersedia.
e. Adanya latihan latihan praktis f. Terdapat umpan balik yang tepat g. Tersedianya tes tes yang sesuai.
h. Terdapat petunjuk lanjutan yang sesuai, guna perbaikan
i. Kesesuaian bimbingan siswa dapat dipakai untuk mengarahkan dari suatu kegiatan ke kegiatan berikutnya.35
33Ina Magdalena dkk, nusantara Analisis Bahan Ajar, Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Volume 2, Nomor 2, Juli 2020
34 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Bandung} PT. Remaja Rosdakarya,2007), 174.
35 Dr.H. Punaji Setyosari, Desain Pembelajaran (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2020), 150-151.
25
8. Tahapan Mengembangkan Bahan Ajar
Ada sepuluh tahapan dalam mengembangkan bahan pembelajaran, yaitu:
a. Identifikasi kebutuhan dan masalah.
b. Analisis masalah: terutama terkait dengan pola resistensi.
c. Analisis masalah: identifikasi faktor kebutuhan dan motivasi, dan taktik persuasi.
d. Merumuskan dan menentukan tujuan.
e. Menyeleksi topik.
f. Menyeleksi bentuk (format).
g. Penyusunan konten: visual script.
h. Editing
i. Testing (pengujian).
j. Revisi.36
B. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning
Pembelajaran kontekstual, juga dikenal sebagai, adalah metode pengajaran di mana seorang guru berfokus pada materi yang diajarkan dalam kaitannya dengan situasi di mana siswa berada saat ini serta hubungan antara situasi siswa saat ini dan situasinya. di mana siswa mungkin menemukan diri mereka di masa depan.37
Muhammad Muchlis Solichin mengatakan hal yang sama:
“Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan
36 Dr. Muhammad Yaumi, Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan Kurikulum 2013 (Jakarta:Kencana, 2013), 282
37 Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual (Jakarta: Bumi Aksara, 2014),41
dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakatnya.38
Pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang membantu siswa melihat makna dalam materi yang dipelajarinya dengan menghubungkan mata pelajaran akademik dengan konteks dalam kehidupan sehari-hari, senada dengan pendapat Elaine B. Johnson yang menekankan keaktifan siswa dalam belajar.39
Dari sejumlah gagasan yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual adalah jenis pembelajaran di mana guru harus mampu menghubungkan materi pembelajaran dengan realitas kehidupan siswa dan memotivasi siswa untuk mandiri mencari jawaban atas pertanyaan.
Ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa lebih bermakna dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari jika mereka mampu memberikan tanggapan mandiri. Siswa harus menemukan hasil belajar yang lebih bermakna dengan ide ini. Proses terjadi secara alami melalui pekerjaan dan pengalaman siswa, bukan melalui transfer pengetahuan dari guru ke siswa..
Peran guru dalam kelas kontekstual adalah untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan mereka. Strategi lebih penting bagi guru daripada informasi. Adalah tanggung jawab guru untuk memimpin kelas sebagai
38 Muhammad Muchlis Solichin, Psikologi Belajar Aplikasi Teori-teori Belajar dalam Proses Pembelajaran (Yogyakarta: SUKA-Press, 2012), 96.
39 Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning, Terj. Ibnu Setiawan (Bandung: Kaifa, 2010), 67
27
upaya kolektif untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa mereka.
Pengetahuan diperoleh secara mandiri , bukan melalui instruksi. Di kelas dengan konteks, itulah tugas guru.40
Ada tiga hal yang harus dipahami dalam kaitannya dengan ide-ide dasar pembelajaran di atas;
a. Konsep pembelajaran kelas kontekstual adalah pembelajaran yang berorientasi pada proses pengalaman siswa secara langsung. Pembelajaran kelas kontekstual menekankan pada keterlibatan langsung siswa dalam rangka memahami materi. Agar proses pembelajaran kontekstual mendorong siswa menemukan dan menemukan sendiri materi pelajaran, siswa tidak hanya diharapkan menerima pelajaran.41
b. Siswa didorong untuk menemukan hubungan antara konten yang mereka pelajari dan situasi dunia nyata melalui pembelajaran di kelas berbasis konteks. Siswa diharapkan dapat menghubungkan apa yang mereka pelajari di sekolah dengan apa yang mereka lakukan dalam kehidupan nyata, baik di sekolah maupun di luar Tujuan pembelajaran kontekstual di kelas adalah agar informasi yang dipelajari tidak hanya berguna dan bermakna, tetapi juga tertanam dalam ingatan siswa sehingga mereka dapat menggunakannya dalam situasi dunia nyata.
40 Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013 (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 41-42
41 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta:
Kencana, 2011), 255
c. Agar seseorang dapat mencapai tujuan mereka selama satu hari, sarana yang nyata harus digunakan. Ini berarti bahan harus digunakan, tetapi juga harus digunakan untuk mencapai tujuan nyata.42
Merupakan sistem holistik. Itu terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait yang, ketika terjalin, menghasilkan efek yang melebihi apa yang dapat dicapai oleh satu bagian saja. Justasthr violio, cello, klarinet, dan instrumen lain dalam orkestra menghasilkan suara khas yang bersama- sama menghasilkan musik, jadi bagian-bagian Contextual Teaching And Learning yang terpisah melibatkan proses berbeda yang, bila digunakan bersama, memungkinkan siswa membuat sambungan yang, bila digunakan bersama, memungkinkan siswa membuat sambungan yang menghasilkan makna. Masing-masing elemen berbeda dari Contextual Teaching And Learning sistem berkontribusi untuk membantu siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk sebuah sistem yang memungkinkan siswa untuk melihat makna dalam, dan mempertahankan materi akademik.43
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah sebuah konsep yang membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata. Contextual Teaching and Learning memotivasi pembelajar untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam berbagai konteks
42 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 171.
43 Elaine B Johnson, Contextual Teaching And Learning: What It Is And Why It’s Here To Stay, (India: Corwin Press,2002), 24
29
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, sebagai warga negara, dan sebagai pekerja. Ini memberikan kerangka kerja konseptual untuk menyatukan konstelasi teori dan praktik pendidikan dan merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan guru. Contextual Teaching and Learning bertumpu pada asumsi berikut:
1. Mengajar dan belajar adalah proses interaksional.
2. Pelajar individu harus memutuskan untuk belajar dan terlibat dalam proses atensi, intelektual, dan emosional yang diperlukan untuk melakukannya.
3. Mengajar tidak terjadi jika belajar tidak terjadi.
4. Belajar adalah proses perkembangan yang terjadi sepanjang hidup. 44 Weimer (2013, Bab 2) mensurvei banyak literatur penelitian tentang berbagai bentuk pengajaran yang berpusat pada peserta didik dan mengamati bahwa Contextual Teaching and Learning yang diimplementasikan dengan benar telah ditemukan lebih unggul daripada instruksi yang berpusat pada guru dalam mencapai hampir setiap hasil pembelajaran yang dapat dibayangkan.45
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Johnson 2002; Sears dan Hersh 2000), seperti pendekatan pengajaran apa pun, ditandai dengan penggunaan beberapa strategi pembelajaran lebih dari yang lain. Dalam program Contextual Teaching and Learning University of Georgia untuk
44 Susan Sears, Contextual Teaching And Learning: A Primer For Effective Instruction, (Indiana USA: Phi Delta Kappa Educational Foundation,2002), 2
45 Richard M. Felder, Rebecca Brent, Teaching and Learning STEM: A Practical Guide, (Jerman:
Wiley, 2016), 6
persiapan guru sains, strategi berbasis penelitian berikut digunakan secara terpadu:
1. Pembelajaran inkuiri. Siswa belajar sains dengan cara yang sama seperti sains itu sendiri dilakukan.
2. Pembelajaran berbasis masalah. Siswa diberikan masalah nyata atau simulasi dan harus menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk menyelesaikannya.
3. Pembelajaran kooperatif. Siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dan fokus pada pencapaian tujuan bersama melalui kolaborasi dan saling menghormati.
4. Pembelajaran berbasis proyek. Siswa bekerja secara mandiri atau kolaboratif pada proyek minat pribadi.
5. Penilaian otentik. Siswa dievaluasi melalui kinerja mereka pada tugas-tugas itu mewakili aktivitas yang benar-benar dilakukan dalam pengaturan kehidupan nyata yang relevan, sering dikaitkan dengan karir masa depan.46
Mungkin definisi pengajaran dan pembelajaran kontekstual yang paling diakui secara luas dikembangkan melalui proyek nasional yang didanai melalui Kantor Pendidikan Kejuruan dan Pendidikan Dewasa Departemen Pendidikan AS dan Kantor Sekolah-ke-Kerja Nasional.
Proyek ini mendefinisikan Contextual Teaching and Learning sebagai:
sebuah konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru
46 Robert Eugene Yager, Exemplary Science: Best Practices in Professional Development, (Amerika Serikat: NSTA Press,2005), 78
31
menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja.47
Keunggulan pendekatan kontekstual atas pengajaran fisika yang berpusat pada buku teks konvensional menjadi jelas bagi saya setelah merancang dan berhasil menggunakan pengaturan kontekstual pertama saya untuk kelas fisika senior di sekolah menengah Kanada (Toronto).
Apa yang kemudian saya sebut sebagai pendekatan "masalah konteks besar" (LCP) pada awalnya dikembangkan sebagai tanggapan terhadap penemuan bahwa pembelajaran dapat dimotivasi dengan baik oleh konteks dengan satu ide sentral pemersatu yang mampu menangkap imajinasi siswa. Tujuan kedua untuk mengembangkan konteks adalah agar topik, konsep, dan isi umum buku teks harus tercakup dalam konteks. Apa yang saya temukan adalah bahwa pertanyaannya adalah bahwa pertanyaan dan masalah yang dihasilkan oleh konteks secara intrinsik lebih menarik dan kurang dibuat-buat daripada yang sesuai yang ditemukan di buku teks.48
Sementara tantangan pengajaran dan pembelajaran yang mendukung REACT sangat besar, demikian pula hasilnya. Dalam bukunya tahun 2001 berjudul Contextual Teaching Works!, Dale Parnell, salah satu tokoh penting dalam Contextual Teaching and Learning, menjelaskan
47 Leigh Chiarelot, Curiculum In Context, (Amerika Serikat: Cengage Learning,2005), 5
48 Heering, Peter, Constructing Scientific Understanding Through Contextual Teaching, (Jerman: Frank & Timme, 2007), 266
beberapa proyek (U.S. Armed Services, Ford Foundation, CORD, U.S.
Department of Education) yang, sebenarnya, menguji validitas REACT- pengajaran gaya. Hasil dari semua penelitian yang dikutip setuju bahwa pengajaran kontekstual memiliki banyak manfaat yang tidak dimiliki oleh pengajaran konvensional. Di antara melambai mus muy pada conreg meg itu manfaatnya adalah sebagai berikut:
1. Siswa berusaha lebih keras dan lebih tertarik pada pelajarannya.
2. Siswa berperilaku lebih baik.
3. Absensi dan keterlambatan berkurang.
4. Siswa lebih menikmati kelas kontekstual daripada kelas tradisional.
5. Dalam kelas kontekstual, siswa lebih bersedia menerima tanggung jawab atas pembelajarannya sendiri.
6. Pengajaran kontekstual memungkinkan "pelajar lambat" untuk mencapai hasil yang lebih tinggi daripada yang mungkin dilakukan.49
2. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning
Strategi adalah kumpulan aktivitas yang dipilih untuk mengajarkan strategi belajar dalam setting tertentu. Materi yang akan diberikan kepada siswa juga diatur sebagai bagian dari strategi pembelajaran..50 Dengan
49 Sharmistha Basu Dutt, Making Chemistry Relevant: Strategies for Including All Students in a Learner-Sensitive Classroom Environment, (Jerman: Wiley, 2010), 63
50 Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 83.
33
menggunakan setrategi yang tepat, pembelajaran akan berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Strategi sebaioknya dipelih terlebih dulu sebelum melakukan pembelajaran kontekstual, karena strategi sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, jika strategi yang digunakan tidak tepat makan pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Karena pentingnya startegi dan banyaknya jenis strategi, maka perlu dipilih strategi apa yang cocok dengan karakteristik mata pelajaran. Jika strategi pembelajaran sudah sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, maka akan udah menjalankan pembelajaran dan menghasilkan output sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirancang dalam kurikulum pembelajaran. Ada lima strategi dalam pembelajaran, yaitu:
a. Relating, belajar dihubungkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Bahan-bahan ajar selalu dikorelasikan dengan kebiasaan dan keperluan hidup para peserta didik sehari-hari.
b. Ekspriencing, Kegiatan belajar diarahkan pada kepentingan penggalian, penemuan, dan penciptaan. Peserta didik yang mengalami keaktifan dalam mempelajari bahan-bahan ajar itu. Adapun peranan guru sebagai fasilitator dan organisator didalam pembelajaran.
c. Applying, belajar dengan menyelaraskan sikap, pengetahuan, dan dengan pemanfaatannya dalam keperluan sehari-hari. Setiap mengawali bahan aja, diharapkan ada kejelasan apa manfaatnya bagi peserta didik
d. Cooperting, belajar dengan bentuk kontek interaksi kelompok.
Asumsinya bahwa dalam konteks kehidupan sehari-hari pu peserta didik akan selalu dihadapkan pada kepentingan bersama dengan masyarakat dan lingkungannya
e. Transfering, belajar dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks baru. Diharapkan bahan ajar selalu dihubungkan dengan bahan bahan lain yang saling berkaitan.51
51 Ekosasih , Pengembangan Bahan Ajar (Bandung:PT Bumi Aksara,2021), 194
3. Karakteristik Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning Seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap mata pelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri, sehingga sebelum melakukan pembelajaran sebaiknya diketahui dulu menggunakan teknik pembelajaran apa yang dianggap sesuai dengan mata pelajaran. Proses pembelajaran kontekstual, menurut Hamruni, memiliki lima ciri penting, yaitu:
a. Belajar adalah cara untuk mengaktifkan pengetahuan yang sudah ada, sehingga apa yang Anda pelajari tidak dapat dipisahkan dari apa yang sudah Anda ketahui. Akibatnya, pengetahuan yang akan diperoleh siswa bersifat komprehensif dan saling terkait.
b. Perolehan pengetahuan yang dapat menambah informasi baru Informasi baru diperoleh melalui metode deduktif, yang menyiratkan bahwa pembelajaran dimulai dengan studi komprehensif diikuti dengan perhatian khusus.
c. Memiliki pemahaman tentang apa yang diketahui Ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang diperoleh tidak boleh dihafal; melainkan harus dipahami, diyakini, dan kemudian dihubungkan dengan realitas kehidupan sehari-hari agar dapat dipraktikkan dan menjadi kebiasaan.
d. Memasukkan informasi dan pengalaman ini (menerapkan informasi).
Artinya, agar perilaku siswa berubah, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat dipraktikkan.
e. Merefleksikan strategi untuk mengembangkan pengetahuan. Ini berfungsi sebagai informasi untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.52
4. Tujuan Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning
Menurut Milan Rianto “tujuan pembelajaran kontekstual adalah untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar, di samping membekali peserta didik dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan atau ditransfer antar permasalahan dan antar konteks.53 Pembelajaran kontekstual dikembangkan sebagai respons terhadap teori behavioristik,
52 Hamruni, Strategi Pembelajaran (Yogyakarta: Insan Madani, 2012), 137-138
53 Milan Rianto, Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran (Malang: Departemen Pendidikan Nasional, 2006), 15
35
yang telah mendominasi pendidikan selama beberapa dekade dan lebih menekankan pada hasil daripada proses. Pendekatan kontekstual membuat asumsi bahwa pembelajaran adalah proses multi-tahap dan kompleks yang tidak mengikuti prinsip stimulus-respon.
Pendekatan kontekstual juga menganggap bahwa manusia belajar secara alamiah dengan berpikir mencari makna dalam suatu konteks yang berkaitan dengan lingkungannya. Jadi, pendekatan kontekstual memfokuskan pada aspek lingkungan belajar, misalnya: lingkungan sekolah, laboratorium, bengkel, masyarakat, dan sebagainya.54
Mengingat definisi dan tujuan ini, dapat dipahami bahwa rencana pembelajaran logis untuk mendorong siswa memiliki pilihan untuk memahami pentingnya topik dan memiliki pilihan untuk menghubungkan materi dengan pengaturan rutinitas reguler mereka. berharap para alumni dapat langsung berintegrasi dengan masyarakat dan memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka menerapkan ilmu yang telah diperoleh di sekolah.
5. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual
Langkah persiapan selanjutnya adalah menentukan langkah- langkah yang perlu dilakukan dalam pembelajaran kontekstual setelah mempelajari tentang ciri-ciri, metode pembelajaran, dan sebagainya.Ada konsep yang diterapkan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu Tanamkan Pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
54 Ridwan Abdullah Sani, Inovasi Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), 92
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.55 Mengacu pada teori tersebut maka ada beberapa bebrapa langkah yang harus disiapkan dalam pembelajaran kontekstual:
a. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik yang diajarkan.
b. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui sebuah pertanyaan- pertanyaan.
c. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok diskusi dan Tanya jawab.
d. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
e. Melakukan refleksi di akhir pertemuan dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
f. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Kelebihan Pembelajaran kontekstual, diantaranya:
a. Pembelajaran kontekstual dapat mendorong siswa menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.
b. Pembelajaran kontekstual mampu mendorong siswa untuk menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pembelajaran kontekstual dapat menjadikan siswa belajar bukan dengan menghafal, melainkan proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
55 Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), 106.
37
d. Kelas dalam kontekstual bukan merupakan tempat untuk memperoleh informasi, melainkan tempat untuk menguji data hasil temuannya di lapangan.56
Kelemahan pembelajaran kontekstual, diantaranya:
1) Pembelajaran kontekstual membutuhkan waktu yang lama bagi peserta didik untuk bisa memahami semua materi.
2) Guru harus lebih intensif dalam membimbing, karena dalam metode pembelajaran kontekstual guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi.
3) Upaya menghubungkan antara materi di kelas dengan realitas kehidupan siswa rentan mengalami kesalahan sehingga sulit menemukan hubungan yang tepat, sering siswa harus mengalami kegagalan berulang kali.57
6. Penerapan Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Agama Islam
Penerapan adalah cara yang paling umum menerapkan setiap spekulasi, prosedur dan metodologi yang telah disusun sebelum menyelesaikan pengalaman pendidikan logis.Guru harus mempersiapkan kebutuhan siswanya sebagai pelaksana proses pembelajaran.Pemahaman guru tentang bagaimana menggunakan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas dikenal sebagai penerapan pendekatan kontekstual.
56 Milan Rianto, Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran (Malang: Departemen Pendidikan Nasional, 2006), 13-14
57 Milan Rianto, Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran (Malang: Departemen Pendidikan Nasional, 2006), 15