• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Penelitian Dan Pengembangan

Dalam dokumen pengembangan bahan ajar berbasis contextual (Halaman 62-71)

BAB III METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

B. Prosedur Penelitian Dan Pengembangan

mengembangkan pengalaman pendidikan menjadi lebih baik dari yang diharapkan siapa pun.59

49

Gambar 3.2

Tahapan Penelitian dan Pengembangan Bahan Ajar Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contekstual Teaching and Learning Tahapan penelitian pengembangan yang ditawarkan oleh Borg &

Gall yang memiliki 9 tahapan, seperti yang terdapat dalam diagram di atas,

1) Studi pendahuluan

2) Perencanaan

(1) Studi pendahuluan 3) Pengembangan produk

Identifikasi kebutuhan Perumusan tujuan Pengembangan materi

Penulisan alat ukur keberhasilan Penulisan naskah bahan ajar Konsultasi prototype bahan ajar Revisi prototype bahan ajar

4) Uji coba tim ahli

Uji coba ahli materi/isi

Uji coba ahli media pembelajaran Uji coba ahli bahasa

5) Revisi/Perbaikan produk awal

6) Uji coba kelompok kecil

7) Revisi/Perbaikan produk operasional

8) Uji coba lapangan skala besar

(9) Revisi/Perbaikan produk akhir

berhasil disederhanakan menjadi model penelitian pengembangan oleh Tim Puslitjaknov (Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan).

Tahapan yang disempurnakan menjadi 5 tahap yang disebut dengan 5 langkah utama, berukut 5 langkah utama yang dibuat Tim Puslitjaknov (1) Mengembangkan analisis produk;

(2) Membuat produk awal;

(3) Validasi dan revisi ahli;

(4) Melakukan uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk;

(5) Melakukan uji coba lapangan skala besar dan revisi produk akhir.61 1. Studi Pendahuluan (Penelitian dan Pengumpul Data Awal)

Studi pendahuluan dilakukan dengan teknik wawancara, angket, observasi dan dokumentasi. Teknik wawancara kepada waka kurikulum untuk mencari informasi awal tentang keadaan dan kebutuhan bahan ajar. Sedangkan teknik angket terbuka untuk memperoleh data tentang kebutuhan guru SMKS YP 17 01 Lumajang dalam hubungannya dengan bahan ajar Pendidikan Agama Islam.

Teknik observasi untuk memperoleh data kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh guru SMKS YP 17 01 Lumajang selama ini. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada dan data awal peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan.

61 Tim Puslitjaknov, Metode Penelitian Pengembangan (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2008), 11.

51

Semua data yang terkumpul melalui studi pendahuluan akan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan produk.

2. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti membuat rancangan produk yang akan di hasilkan dengan membuat model/draf bahan ajar yang akan dikembangkan, tentunya dengan mengacu pada hasil yang diperoleh dari studi pendahuluan tersebut. Draf bahan ajar disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku (K-13) dan bertolak dari KI, KD dan SKL.

3. Pengembangan Produk Awal

Peneliti memanfaatkan model proses pengembangan bahan ajar saat membuat bahan ajar untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Isla berbasis Contekstual Teaching and Learning.

a. Identifikasi kebutuhan

Peneliti menentukan sarana dan prasarana apa saja yang diperlukan untuk kegiatan penelitian pada tahap pertama, yaitu identifikasi kebutuhan. Pada tahap ini selain menentukan peralatan, perlu dibuat perencanaan untuk menganalisis pembelajaran yang meliputi keterampilan, proses prosedur, dan tugas pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Tahap identifikasi kebutuhan termasuk tahapan perseiapan yang penting dalam proses penelitian. Karena tahap ini,

memnentukan kesiapan dari sarana dan parasana yang digunakan dalam penelitian. Jika tahab ini disiapkan dengan baik penelitian akan berjalan lancar dan jika tidak maka penelitian berjalan sebaliknya.

b. Perumusan tujuan

Merumuskan tujuan sama halnya dengan merumuskan hasil akhir dari sebuah kegiatan. Kegiatan penelitian tentunya tujuanya adalah menghasilkan, mengembangkan teori. Dalam penelitian yang dilakukan ini bertujuan mengemangkan buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contekstual Teaching and Learning untuk peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang, Tujuan khusus dari produk yang sedang dikembangkan tercermin dalam deskripsi perumusan tujuan operasional ini. Tujuan ini secara khusus menawarkan data untuk pembuatan item tes.

c. Pengembangan materi

Tahapan ini, merupakan tahapan yang krusial, karena pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendekantersebut. Pengembangan materi merupakan proses penyusuna materi-materi mata pelajaran dengan cara menambah, mengurangi, bahakan penggabungan atau merubah dengan mengganti materi materi yang lama yang dianggap tidak layak

53

diganti diganti dengan materi yang baru, dan dianggab lebih penting dan sesuai dengan kondisi situasi yang bersangkutan.

Mata pelajaran yang dijadikan objek pengembangan dalam penelitian ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan Sekolah Menengah Kejuruan semester ganjil. Proses pengembangan berpedoman pada agar tidak keluar dari tujuan pendidikan secara nasional:

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1 Tahun 2014 Republik Indonesia yang menitikberatkan pada internalisasi nilai-nilai karakter bangsa dan Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Materi yang dikembangkan dalam buku yang diujicobakan dalam penelitian ini, fokus pada pelajaran PAI yang dikorelasikan dengan teknik pembelajaran kontekstual. Maka dasar pengambilan data untuk menuyun materi-materi baru adalah ajaran Islam, Pancasila dan Perundang-Undangan RI dan informasi yang kontekstual.

d. Penulisan alat ukur keberhasilan

Setelah merumuskankan materi-materi yang dikembangkan, langkah atau tahap selanjutnya adalam menusun alat ukur keberhasilan. Alat ukur keberhasilan berupa instrumen assessment, yang berkaitan dengan tujuan khusus/tujuan operasional mata pelajaran. Aspek yang diukur atau dievaluasi ialah kompetensi

sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang dinyatakan dalam kompetensi dasar. Indikator keberhasilan belajar adalah siswa mengalami perubahan sikap yang telah dirumuskan dalam tujuan mata pelajaran.

e. Penulisan naskah bahan ajar

Setelah melakukan perencanaan penulisan buku selanjutnya menulis semua rencana tersebut dalam lembaran kertas dan menjadi buku. Data-data yang ditulis merupakan data yang berhasil dikumpulkan, baik KI dan KD, materi-materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis nilai-nilai karakter kebangsaan, butir-butir tes. Hasil dari tahap ini adalah terbentuknya prototipe bahan ajar berupa buku ajar yang siap untuk diuji cobakan pada siswa sebagai media eksperiman dan diuji keberhasilanya oleh tim ahli.

f. Konsultasi prototipe bahan ajar

Pembimbing dikonsultasikan mengenai naskah dalam bentuk prototipe sebelum diuji oleh tim ahli. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan naskah dan kesesuaiannya untuk uji lapangan.

g. Revisi Prototipe bahan ajar

Setelah melakukan konsolidasi dengan pembimbing dan jika dinyatakan masih ada pembenahan, maka peneliti harus melakukan pembenahan sesuai dengan arahan pembimbing. Jika

55

dinyatakan sempurna dan layak untuk diujikan maka peneliti melanjukan proses uji coba pada media eksperiman (siswa). Jika sudah benar dan layak maka naskah prototipe siap untuk ditelaah dan dievaluasi oleh tim ahli.

4. Uji Ahli

Sebelum bahan ajar diujicobakan pada siswa kelas XI SMKS YP 17 01 Lumajang dilakukan uji ahli. Ahli materi/isi, ahli desain dan media pembelajaran, dan ahli bahasa membentuk tim ahli yang akan mengevaluasi bahan ajar. dilakukan agar tim ahli dapat memberikan saran dan mengevaluasi produk baru untuk perbaikan. Karena merupakan tahap krusial dalam penelitian pengembangan bahan ajar, tahap ini sangat penting. produk harus dikembangkan. Peneliti menggunakan kuesioner dan konsultasi untuk mengumpulkan data dari para ahli.

5. Revisi atau Perbaikan Produk Awal

Berdasarkan hasil evaluasi dan masukan dari tim ahli, peneliti melakukan perbaikan-perbaikan yang untuk selanjutnya dikonsultasikan kembali kepada tim ahli untuk mendapatkan penilaian kelayakan

6. Uji Coba Kelompok Kecil

Tujuan uji coba kelompok kecil adalah untuk menentukan apakah bahan ajar tertulis dapat digunakan dalam uji coba yang lebih besar dan efektif tidaknya. Enam siswa menjadi responden acak dalam

uji coba kelompok kecil ini. Sistem pelaksanaannya adalah siswa diberikan bahan ajar yang dibuat untuk diperhatikan.Siswa diberikan angket untuk diisi setelah mempelajari bahan ajar.Analisis hasil yang terkumpul merupakan langkah selanjutnya.Tingkat daya tarik produk bahan ajar akan ditentukan oleh hasil uji coba.

7. Revisi atau Perbaikan Produk Operasional

Jika ada kekurangan, produk bahan ajar akan diperbaiki atau direvisi berdasarkan temuan analisis data pada uji coba lapangan skala kecil.

8. Uji Coba Lapangan/Skala Besar

Apabila hasil validasi dari tim ahli dan uji coba kelompok kecil sudah sesuai dengan tingkat kelayakan atau sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan dengan sasaran peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang. Dalam tahap ini, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam mengajar dengan menggunakan buku ajar yang telah dikembangkan. Jika dalam tahap ini peserta didik sudah mampu meinahami dan menguasai materi pada bahan ajar yang dikembangkan dan nilai evaluasinya di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM-70), maka peserta didik dikatakan berhasil. Dengan demikian, bahan ajar yang dikembangkan terbukti efektif dan menarik jika diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik kelas 2 Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang. Hasil dari uji coba ini dianalisis dan digunakan untuk

57

menyempurnakan pengembangan bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Dalam dokumen pengembangan bahan ajar berbasis contextual (Halaman 62-71)

Dokumen terkait