• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Coba Kelompok Kecil

Dalam dokumen pengembangan bahan ajar berbasis contextual (Halaman 63-104)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

B. Pengembangan Produk Awal

6. Uji Coba Kelompok Kecil

7) Revisi/Perbaikan produk operasional

8) Uji coba lapangan skala besar

(9) Revisi/Perbaikan produk akhir

berhasil disederhanakan menjadi model penelitian pengembangan oleh Tim Puslitjaknov (Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan).

Tahapan yang disempurnakan menjadi 5 tahap yang disebut dengan 5 langkah utama, berukut 5 langkah utama yang dibuat Tim Puslitjaknov (1) Mengembangkan analisis produk;

(2) Membuat produk awal;

(3) Validasi dan revisi ahli;

(4) Melakukan uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk;

(5) Melakukan uji coba lapangan skala besar dan revisi produk akhir.61 1. Studi Pendahuluan (Penelitian dan Pengumpul Data Awal)

Studi pendahuluan dilakukan dengan teknik wawancara, angket, observasi dan dokumentasi. Teknik wawancara kepada waka kurikulum untuk mencari informasi awal tentang keadaan dan kebutuhan bahan ajar. Sedangkan teknik angket terbuka untuk memperoleh data tentang kebutuhan guru SMKS YP 17 01 Lumajang dalam hubungannya dengan bahan ajar Pendidikan Agama Islam.

Teknik observasi untuk memperoleh data kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh guru SMKS YP 17 01 Lumajang selama ini. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada dan data awal peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan.

61 Tim Puslitjaknov, Metode Penelitian Pengembangan (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2008), 11.

51

Semua data yang terkumpul melalui studi pendahuluan akan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan produk.

2. Perencanaan

Pada tahap ini peneliti membuat rancangan produk yang akan di hasilkan dengan membuat model/draf bahan ajar yang akan dikembangkan, tentunya dengan mengacu pada hasil yang diperoleh dari studi pendahuluan tersebut. Draf bahan ajar disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku (K-13) dan bertolak dari KI, KD dan SKL.

3. Pengembangan Produk Awal

Peneliti memanfaatkan model proses pengembangan bahan ajar saat membuat bahan ajar untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Isla berbasis Contekstual Teaching and Learning.

a. Identifikasi kebutuhan

Peneliti menentukan sarana dan prasarana apa saja yang diperlukan untuk kegiatan penelitian pada tahap pertama, yaitu identifikasi kebutuhan. Pada tahap ini selain menentukan peralatan, perlu dibuat perencanaan untuk menganalisis pembelajaran yang meliputi keterampilan, proses prosedur, dan tugas pembelajaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Tahap identifikasi kebutuhan termasuk tahapan perseiapan yang penting dalam proses penelitian. Karena tahap ini,

memnentukan kesiapan dari sarana dan parasana yang digunakan dalam penelitian. Jika tahab ini disiapkan dengan baik penelitian akan berjalan lancar dan jika tidak maka penelitian berjalan sebaliknya.

b. Perumusan tujuan

Merumuskan tujuan sama halnya dengan merumuskan hasil akhir dari sebuah kegiatan. Kegiatan penelitian tentunya tujuanya adalah menghasilkan, mengembangkan teori. Dalam penelitian yang dilakukan ini bertujuan mengemangkan buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contekstual Teaching and Learning untuk peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang, Tujuan khusus dari produk yang sedang dikembangkan tercermin dalam deskripsi perumusan tujuan operasional ini. Tujuan ini secara khusus menawarkan data untuk pembuatan item tes.

c. Pengembangan materi

Tahapan ini, merupakan tahapan yang krusial, karena pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pendekantersebut. Pengembangan materi merupakan proses penyusuna materi-materi mata pelajaran dengan cara menambah, mengurangi, bahakan penggabungan atau merubah dengan mengganti materi materi yang lama yang dianggap tidak layak

53

diganti diganti dengan materi yang baru, dan dianggab lebih penting dan sesuai dengan kondisi situasi yang bersangkutan.

Mata pelajaran yang dijadikan objek pengembangan dalam penelitian ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan Sekolah Menengah Kejuruan semester ganjil. Proses pengembangan berpedoman pada agar tidak keluar dari tujuan pendidikan secara nasional:

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1 Tahun 2014 Republik Indonesia yang menitikberatkan pada internalisasi nilai-nilai karakter bangsa dan Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Materi yang dikembangkan dalam buku yang diujicobakan dalam penelitian ini, fokus pada pelajaran PAI yang dikorelasikan dengan teknik pembelajaran kontekstual. Maka dasar pengambilan data untuk menuyun materi-materi baru adalah ajaran Islam, Pancasila dan Perundang-Undangan RI dan informasi yang kontekstual.

d. Penulisan alat ukur keberhasilan

Setelah merumuskankan materi-materi yang dikembangkan, langkah atau tahap selanjutnya adalam menusun alat ukur keberhasilan. Alat ukur keberhasilan berupa instrumen assessment, yang berkaitan dengan tujuan khusus/tujuan operasional mata pelajaran. Aspek yang diukur atau dievaluasi ialah kompetensi

sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang dinyatakan dalam kompetensi dasar. Indikator keberhasilan belajar adalah siswa mengalami perubahan sikap yang telah dirumuskan dalam tujuan mata pelajaran.

e. Penulisan naskah bahan ajar

Setelah melakukan perencanaan penulisan buku selanjutnya menulis semua rencana tersebut dalam lembaran kertas dan menjadi buku. Data-data yang ditulis merupakan data yang berhasil dikumpulkan, baik KI dan KD, materi-materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis nilai-nilai karakter kebangsaan, butir-butir tes. Hasil dari tahap ini adalah terbentuknya prototipe bahan ajar berupa buku ajar yang siap untuk diuji cobakan pada siswa sebagai media eksperiman dan diuji keberhasilanya oleh tim ahli.

f. Konsultasi prototipe bahan ajar

Pembimbing dikonsultasikan mengenai naskah dalam bentuk prototipe sebelum diuji oleh tim ahli. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan naskah dan kesesuaiannya untuk uji lapangan.

g. Revisi Prototipe bahan ajar

Setelah melakukan konsolidasi dengan pembimbing dan jika dinyatakan masih ada pembenahan, maka peneliti harus melakukan pembenahan sesuai dengan arahan pembimbing. Jika

55

dinyatakan sempurna dan layak untuk diujikan maka peneliti melanjukan proses uji coba pada media eksperiman (siswa). Jika sudah benar dan layak maka naskah prototipe siap untuk ditelaah dan dievaluasi oleh tim ahli.

4. Uji Ahli

Sebelum bahan ajar diujicobakan pada siswa kelas XI SMKS YP 17 01 Lumajang dilakukan uji ahli. Ahli materi/isi, ahli desain dan media pembelajaran, dan ahli bahasa membentuk tim ahli yang akan mengevaluasi bahan ajar. dilakukan agar tim ahli dapat memberikan saran dan mengevaluasi produk baru untuk perbaikan. Karena merupakan tahap krusial dalam penelitian pengembangan bahan ajar, tahap ini sangat penting. produk harus dikembangkan. Peneliti menggunakan kuesioner dan konsultasi untuk mengumpulkan data dari para ahli.

5. Revisi atau Perbaikan Produk Awal

Berdasarkan hasil evaluasi dan masukan dari tim ahli, peneliti melakukan perbaikan-perbaikan yang untuk selanjutnya dikonsultasikan kembali kepada tim ahli untuk mendapatkan penilaian kelayakan

6. Uji Coba Kelompok Kecil

Tujuan uji coba kelompok kecil adalah untuk menentukan apakah bahan ajar tertulis dapat digunakan dalam uji coba yang lebih besar dan efektif tidaknya. Enam siswa menjadi responden acak dalam

uji coba kelompok kecil ini. Sistem pelaksanaannya adalah siswa diberikan bahan ajar yang dibuat untuk diperhatikan.Siswa diberikan angket untuk diisi setelah mempelajari bahan ajar.Analisis hasil yang terkumpul merupakan langkah selanjutnya.Tingkat daya tarik produk bahan ajar akan ditentukan oleh hasil uji coba.

7. Revisi atau Perbaikan Produk Operasional

Jika ada kekurangan, produk bahan ajar akan diperbaiki atau direvisi berdasarkan temuan analisis data pada uji coba lapangan skala kecil.

8. Uji Coba Lapangan/Skala Besar

Apabila hasil validasi dari tim ahli dan uji coba kelompok kecil sudah sesuai dengan tingkat kelayakan atau sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan dengan sasaran peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang. Dalam tahap ini, guru bidang studi Pendidikan Agama Islam mengajar dengan menggunakan buku ajar yang telah dikembangkan. Jika dalam tahap ini peserta didik sudah mampu meinahami dan menguasai materi pada bahan ajar yang dikembangkan dan nilai evaluasinya di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM-70), maka peserta didik dikatakan berhasil. Dengan demikian, bahan ajar yang dikembangkan terbukti efektif dan menarik jika diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik kelas 2 Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang. Hasil dari uji coba ini dianalisis dan digunakan untuk

57

menyempurnakan pengembangan bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Gambar 3.3 Desain Uji Coba Produk

Draf Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning Bagi Peserta Didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan

SMKS YP 17 01 Lumajang

Tahap I Uji coba ahli materi, ahli desain & media,

dan ahli bahasa

Analisis data Revisi I

Tahap II Uji coba kelompok

kecil Analisis data

Revisi II

Revisi I Revisi III Analisis data

Tahap II Uji coba lapangan/skala besar

Produk Bahan Ajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning Bagi Peserta Didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang

59

2. Subyek Uji Coba

Subyek uji coba dalam penelitian pengembangan bahan ajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning bagi peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang Jember terdiri dari 5 subyek, yaitu:

a. Ahli materi/isi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam b. Ahli desain dan media pembelajaran

c. Ahli bahasa

d. Guru bidang studi Pendidikan Agama Islam

e. Peserta didik kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang

3. Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan untuk studi pengembangan ini dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan sifatnya: data kuantitatif dan data kualitatif. Melalui kuesioner terbuka, wawancara, dokumentasi, dan observasi, data kualitatif dikumpulkan dari penilaian, masukan, tanggapan, kritik, dan saran perbaikan. Sedangkan angket tertutup digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif untuk penilaian produk umum dan tes prestasi belajar berdasarkan produk bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tujuan data kuantitatif yang diperoleh dari tes prestasi belajar dan angket tertutup adalah untuk memastikan:

a. Ketepatan isi buku ajar yang diperoleh dari ahli materi.

Dalam penelitian pengembangan bahan ajar ini, ada beberapa instrumen yang digunakan. Instrumen tersebut antara lain angket, tes, wawancara dan dokumentasi. Namun, instrumen yang lebih dominan digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah angket dan tes.

a. Angket

Teknik mengumpulkan data dalam penelitian kuntitatif salah satunya adalah angket atau disebut juga kuisioner. Dalam angkat terdapat pertanyaan-pertanyaan dan jawaban, jawaban berbentuk pilihan sesuai dengan keinginan peneliti, seperti yang disampaikan Nana Syaudih: Angket atau kuesioner merupakan

61

suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung tanya-jawab dengan responden). 62 Nana menekankan pada teknik pengmumpulan data yang tidak langsung atau langsung.

Lebih jauh Arikunto menambahkan, penggunaan angket bisa mendapatkan informasi lebih mendalam dari pribadi responden, sesuai keinginan peneliti yang dituangkan dalam angket, arikunto mengatakan angket adalah sejumlah kuis atau pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden yang berupa infoermasi laporan pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.63

Angket digunakan dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantuitatif. Yang termasuk penelitian pengembangan, angket digunakan untuk mengumpulkan data. Data yang dikumpulkan, dengan menyebarkan angket yang berisi pertanyaan pada responden, dianalisis untuk menentukan menghasilkan kesimpulan. Penelitian pengemangan yang dilakukan ini adalah untuk mengembangkan buku dengan menghasilkan buku baru yang merupakan rekontruksi buku yang ajar yang sudah ada.

Dalam penelitian ini menggunakan beberapa jenis angket seperti berikut ini:

1) Angket penilaian dan tanggapan dari ahli materi/isi.

62 Nana Syaodih Sukmadinata, 219

63 Saharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Satu Tindakan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 124

2) Angket penilaian dan tanggapan dari ahli desain dan media pembelajaran.

3) Angket penilaian dan tanggapan dari ahli bahasa.

4) Angket penilaian dan tanggapan dari guru bidang studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang.

5) Angket penilaian dari peserta didik pada uji coba lapangan skala kecil.

Penelitian ini dalam mencari data menggunakan angket kombinasi, yaitu kombinasi anatara angket terbuka dan angket tertutup. Angket ternuka maksudnya, angket berisi pertanyaan- pertanyaan atau pernyataan pokok yang bisa dijawab atau direspon oleh responden secara bebas. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabanatau respon sesuai dengan persepsinnya.

Angket jenis ini akanmenghasilkan data kualitatif yang berupa masukan, saran dan komentar dari responden berkaitan dengan produk yang dikembangkan.

Kedua adalah angket tertutup. Angket tertutup merupakan angket yang berisi pertanyaan atau pernyataan-pernyataan telah memiliki alternatif jawaban (option) yang tinggal dipilih oleh responden yang dianggap sesuai dan responden boleh memberikan jawaban diluar jawaban yang sudah ditentukan oleh peneliti.

63

Dalam penelitian pengembanagan ini, angket yang disebar berisi pertanyaan-pertanyaan atau pertanyaan yang berhubungan dengan kondisi atau keadaan bahan ajar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan angket: Pertama, pertanyaan atau pernyataan hanya berisi satu pesan. Kedua, pertanyaan disusun dengan kalimat kalimat yang pendek dan jelas. Ketiga, dihindari penulisan kalimat yang sulit difahami, atau kalimat yang menjebak.64

Dalam penelitian menggunakan angkat tertutup dan format skala interval atau skala bertingkat (rating scale). Angket dengan format scala bertingkat menghasilkan data kasar, tetapi bisa memberikan informasi tentang hasil pengembangan bahan ajar yang berupa buku ajar PAI.

Rumusan skala interval, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3.1. Skala Interval Penelitian Pengembangan Bahan Ajar

Skala Keterangan

1 Sangat kurang baik/sangat kurang layak/sangat kurang menarik/sangat kurang sesuai/sangat kurang tepat/sangat kurang jelas.

2 Kurang baik/kurang layak/kurang menarik/kurang sesuai/kurang tepat/kurang jelas.

3 Cukup baik/cukup layak/cukup menarik/cukup sesuai/cukup tepat/cukup jelas.

4 Baik/layak/menarik/sesuai/tepat/jelas.

5 Sangat baik/sangat layak/sangat menarik/sangat sesuai/sangat tepat/sangat jelas.

64 Nana Syaodih Sukmadinata, 219

Peneliti memilih menggunakan intrumen tertutup harena jenis instrument ini memiliki keuntungan bagi kedua belah pihak, baik bagi peneliti maupun responden.

Peneliti akan mendapatkan keuntungan jika menggunakan intrumen tertutup karena intrumen tertututp ini akan memudahkan peneliti dalam menganalisis dan menginterpretasikan data yang berhasil dikumpulkan. Untuk responden intrumen tertutup memberikan kemudahan dalam mengisi karena mudah dan praktis, tinggal pilih jawaban yang ada.

Tabel 3.2. Pedoman dan Kriteria Skoring

Skor Interpretasi

<60 Sangat kurang

60-69 Kurang

70-79 Cukup

80-89 Baik

90-100 Sangat baik

Tabel di atas merupakan pedoman dan kriteria skoring yang di kutip dari bukunya Nana Sudjana.65

65 Nana Sudjana, Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,2005), 118

65

b. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.66 Ada beberapa test yang bisa digunakan:

“Tes kepribadian (personality test), tes bakat (aptitude test), tes intelegensi (intelegence test), tes sikap (attitude test), teknik proyeksi (projective technique), tes ninat (measures test) dan tes prestasi (achievement test).”67

Penelitian ini menggunakan alat tes: tes prestasi (achievement test). Tes pretasi ini digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari buku mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning hasil dari pengembangan buku bahan ajar.

Fungsi tes dalam penelitian pengembangan yaitu untuk melihat keefektifan dan kemampuan peserta didik setelah menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.

alat mentuk menganalisa data kuantitatif. Analisa data yang digunakan sebagai berikut:

a. Analisis isi pembelajaran

Analisis isi pembelajaran dilakukan dengan cara menganalisis isi pelajaran dengan mengelompokan isi pelajaran untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Analisis isi pembelajaran bertujuan untuk menganalisis, apakah masih ada yang kurang atau tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Juka terdapat kekurang secepatnya diperbaiki dan dilengkapi sehingga jadi lengkap dan siap untuk dilakukan proses selanjutnya.

Hasil dari analisis ini kemudian dipakai sebagai dasar untuk mengembangkan bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning.

b. Analisis deskriptif

Analisis deskriptif adalah sejenis penelitian data yang membantu dalam menggambarkan, mendemonstrasikan, atau membantu meringkas poin-poin data sehingga pola-pola itu dapat berkembang yang memenuhi semua kondisi data.

Dalam menganalisa data peneliti harus cukup data, sehingga jika ada data yang tidak sesuai dengan harapan bisa di buah dan masih ada data lain. Hasil analisis deskriptif ini digunakan untuk menentukan tingkat ketepatan, keefektifan dan kemenarikan produk

67

atau hasil pengembangan yang berupa buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning.

Data dalam peneklitian ini dijadikan dua, pertama data kualitatif, data yang berbentuk kata-kata atau simbol-simbol, kedua data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka-angka. Data kualitatif dianalisis dengan cara analisis logis dan makna, dan data kuantitatif dianalisis dengan deskriptif prosentase (P), dengan menggunakan rumus dengan sebagai berikut:

Persentase = x100%

Langkah selanjutnya menginterpretasikan data yang diperoleh, dari kauntitatif menjadi kaulitatif, dengan menggunakan pedoman kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.3 Konversi Tingkat Pencapaian68 Tingkat

Pencapaian

Kualifikasi Keterangan

1-20% Sangat

kurang

Produk gagal serta merevisi secara besar- besaran isi produk.

21-40% Kurang Merevisi dengan meneliti kembali secara seksama dan mencari kelemahan-kelemahan produk untuk di sempurnakan.

41-60% Cukup Produk dapat dilanjutkan dengan menambahkan sesuatu yang kurang, pertimbangan-pertimbangan tertentu serta penambahan yang dilakukan tidak terlalu besar dan tidak mendasar.

68 Sugiono,201i. Metode penelitian kuantitatif R n D, Bandung: Al fabeta 298

Jumlah skor jawaban responden Jumlah skor maksimal

61-80% Baik Produk baru siap dimanfaatkan di lapangan untuk kegiatan pembelajaran dan tidak mengalami revisi.

81-100% sangat baik Produk baru siap dimanfaatkan di lapangan untuk kegiatan pembelajaran dan tidak mengalami revisi.

Apabila hasil yang diperoleh sudah mencapai kriteria minimal 70%, maka bahan ajar dinyatakan sudah layak untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Sedangkan data hasil belajar yang diperoleh dari pre-test dan post-test dianalisis dengan membandingkan rerata hasil belajar dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), jika rerata hasil belajar di atas KKM (70) maka disimpulkan bahwa bahan ajar efektif untuk digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

c. Analisis uji t

Test t pertama kali dikembangkan oleh William Seely Gasset tahun 1915. Pada waktu itu dia me makai nama samaran Student dengan. huruf Satu (1) yang terdapat pada istilah t ini diambil dari huruf terakhir namanya. Oleh karena itu, test t sering disebut dengan Student Test69

Test t dipergunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua buah mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama.70

69 Zen Amiruddin, Statistik Pendidikan (Yogyakarta: Teras, 2010), 236

70 Zen Amiruddin, Statistik Pendidikan... 237

69

Uji t adalah suatu tes statistik yang memungkinkan kita membandingkan dua skor rata-rata, untuk menentukan probabilitas (peluang) bahwa perbedaan antara dua skor rata-rata merupakan perbedaan yang nyata bukanya perbedaan yang terjadi secara kebetulan.71

Untuk menghitung test t, maka dibedakan menjadi:

1) Test t untuk sampel kecil

a) Menghitung test t dua sampel kecil yang satu sama lain saling berhubungan.

b) Menghitung test t dua sampel kecil yang satu sama lain tidak saling berhubungan.

2) Test t untuk dua sampel besar

a) Menghitung test t dua sampel besar yang satu sama lain saling berhubungan.

b) Menghitung test t dua sampel besar yang satu sama lain tidak saling berhubungan.72

Uji t yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan bahan ajar ini adalah “menggunakan dua sampel kecil yang satu sama lain saling berhubungan, karena penelitian ini hanya menggunakan subyek uji coba dalam skala kecil.” Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya mengambil responden kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS YP 17 01 Lumajang dan tidak menggunakan kelas lain sebagai sampel pembanding.

Penggunakan analis ini bertujuan untuk mengukur tingkat keefektifan produk, terhadap hasil belajar kelompok uji coba lapangan, yaitu siswa kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Motor Ringan SMKS

71 Punaji Setyosari, 218

72 Zen Amiruddin, 240.

YP 17 01 Lumajang. Waktu pengukuran tingkat keefektifan dilakukan dua kali selama penelitian, yaitu sebelum dilksanakan pembelajaran menggunakan buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning dan sesudah menggunakan produk pengembangan buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning.

Nilai sebagai data uji coba yang didapat darai kelompok sasaran atau informan dikumpulkan dengan menggunakan teknik pre- test dan post-test, nilai dianggab baik dan tidak baiak dilihat dari kemampuan informan dalam menjawab pertanyaan dari materi yang diuji cobakan. Teknik yang digunakan untuk mengukur hasil uji coba lapangan menggunakan Uji t sampel berpasangan, dan teknik untuk menganalisa data menggunakan progran analisi statistik SPSS versi 17.

Nilai yang didapat dari uji coba dibandingkan menggunakan tabel dengan taraf signifikan 0,05 (5%). Langkah selanjutnya mencari tahu melalui perbandingan hasil nilai, apakah ada selisih nilai dari sebelum dan sesudah penggunaan buku ajar Pendidikan Agama Islam Berbasis Contextual Teaching and Learning, perbedaan nilai tersebut merupakan perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar, yang menggambarkan efektif dan tidaknya penggunaan penggunaan buku tersebut.

Buku yang diuji cobakan dikatakan efektif cika mendapatkan data nilai akhir berupa:

Dalam dokumen pengembangan bahan ajar berbasis contextual (Halaman 63-104)

Dokumen terkait