• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Khusus Lokasi Penelitian

BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

B. Gambaran Khusus Lokasi Penelitian

Pada awalnya wilayah hukum yang saat ini diduduki Polsek Rappocini, merupakan wilayah yang bernaung di bawah Polsek Tamalate, namum pada hari Rabu tanggal 07 Januari tahun 1998 kecamatan Tamalate di bagi menjadi dua, yaitu kecamatan Tamalate dan Kecamatan Rappocini, sebagai tindak lanjut dari persetujuan Mendagri nomor 138/1242/PUOD tanggal 03 mei 1996 dan berdasarkan persetujuan Gubernur Sulawesi Selatan nomor 538/VI/1996 tahun 1996.

Sebelum di bagi menjadi dua kecamatan, saat itu Polsek Tamalate masih memegang kendali dan menaungi kedua kecamatan tersebut. akan tetapi adanya desakan dan kebutuhan masyarakat kecamatan Rappocini terhadap eksistensi Penegak hukum maka di bentuklah Polsek Rappocini pada tahun 2006, namun belum tersedianya tempat khusus untuk Polsek Rappocini, maka kedua Polsek tersebut menjalankan kegiatan dan berkantor di tempat yang sama, hanya saja di bagi menjadi dua yaitu Polsek Tamalate menempati lantai satu sebagai kantor dan Polsek Rappocini berkantor di lantai dua.

Setelah itu Polsek Rappocini di pidahkan dan menempati kantor lurah Balang Parang yang terletak di jalan Nikel untuk di gunakan sebagai kantor sementara karena belum adanya bangunan sendiri untuk Polsek Rappocini, kemudian Polsek Rappocini di pindahakan lagi untuk berkantor di jalan A.P Pettarani yang sekarang di jadikan kantor PJR, dalam kurun waktu yang terhitung

singkat setelah Polsek Rappocini pindah ke jalan A.P Pettarani, Polsek Tamalate di pindahkan karena sudah memiliki bangunan sendiri di jalan Metro Tanjung Bunga yang menjadi kantor Polsekta Tamalate hingga saat ini.

Karena kantor sebelumnya yang di tempati oleh Polsek Tamalate sudah di kosongkan, maka dengan pertimbangan bahwa letek kantor tersebut masih berada dalam wilayah kecamatan Rappocini maka, Polsek Rappocini kembali di pindahkan ke kantor pertama yang terletak di jalan Sultan Alauddin Nomor 321, Gunung Sari,Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, yang hingga saat ini menjadi kantor Polsek Rappocini.

2. Visi Dan Misi Polsek Rappocini a. Visi

Memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat wilayah Polsek Rappocini dengan mewejudkan tampilan polisi yang terempil, cepat, profesional serta kuat dan di percaya masyarakat melalui giat pengelolaan permasalahan dan pengelolaan kepolisian yang terprogram dan sistematis sehingga dapat mewujudkan situasi wilayah Polsek Rappocini aman dan dinamis

b. Misi

Memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terbebas dari gangguan fisik maupun psikis.

1) Selalu melaksanakan perubahan-perubahan ke arah perbaikan dalam rangka menjawab tantangan perubahan sosial yang ada serta dalam rangka

mewujudkan tampilan kesatuan yang kuat melayani dan melindungi masyarakat.

2) Menekan gangguan kamtibnas yang terjadi melalui kegiatan preentif, preventif dan penegaka hukun yang terukur, profesional dan proporsional serta menjunjung tinggi HAM dalam rangka mengurangi tingkat keresahan masyarakat.

3) Memelihara kamtibnas dengan tetap memperhatikan norma-norma dan nilai yang berlaku dalam bingkai masyarakat demokratis.

4) Menegakkan hukun secara cepat profesional dan proporsional dengan menjunjung tinggi supermasi hukum dan HAM menuju kepada adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.

5) Mengelola SDM Polri di lingkungan polsek rappocini secara profesional dalam rangka optimalisasi tugas dan tujuan polsek Rappocini.

6) Mengelolsarana dan prasarana serta sumber daya materiil kesatuan dan rangka menunjang kebutuhan operasional pelaksanaan tugas.

7) Melakukan pelaksanaan fungsional kepolisian sehingga dapat mewujudkan polsek yang dapat di percaya masyarakat.

8) Mewujudkan model pengelolaan kepolisian yang sistematis secara utuh, sinergi dan dapat menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas.

9) Melaksanakan upaya mendekatkan polisi dan masyarakat melalui aktifitas nyata mendatangi, berkomunikasi saling berbagi informasi dan berupaya menyelesaikan permasalahan sejak dini dalam rangka pemolisian yang berbasis masyarakat.

3. Struktur Organisasi Polsek Rappocini

Gambar 4.1 Skema Struktur Organisasi Polsek Rappocini

57 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Pandangan Aparat Penegak Hukum (Kepolisian) Terhadap Pembegalan Di Kota Makassar

a. Pandangan Aparat Penegak Hukum (Kepolisian)

Tindak pidana begal merupakan tindak pidana pencurian dengan kekerasan, dengan menggunakan kenderaan roda untuk melakukan aksinya. Begal adalah salah satu bentuk kejahatan yang sangat meresahkan masyarakat, sehingga Aparat penegeak hukum (Kepolisian) mempunyai tugas untuk meminimalisir adanya aksi kejahatan tersebut di masyarakat Kepolisian harus menjaga stabilitas keamanan dalam masyarat sehingga terwujutnya masyarakat yang aman damai dan tentram tanpa ada gangguan dan ancaman apapun.

Berdasarkan wawancara dengan IU (41 Th) Selaku Kanit Reskrim mengenai tindak pidana begal, beliau mengatakan bahwa

“Tindak pidana begal ini merupakan tindak pidana pencurian dengan kekerasan. Hal ini sangat meresahkan di wilayah kota Makassar, khususnya di wilayah Polsek Rappocini.”(Wawancara 31/12/2020)

Dalam penanganan kasus pembegalan kepolisian mempunyai tim khusus yang biasa disebut dengan unit resmob. Unit resmob merupaskan satuan yang di bentuk polsek Rappocini untuk menerima setiap laporan dan pengaduan masyarakat. Unit resmop juga di bentuk untuk meminimalisir terjadinya kasus

begal, sehingga anggota satuan unit resmob aktif melakikan patroli malam di daerah yang sering terjadi adanya pembegalan.

Hasil wawancara dengan IU (41 Th)

”Untuk masalah pembegalan ini, kami mempunyai satuan khusus yaitu resmob, di mana tugas resmop adalah bagaimana menangani setiap pelaporan dan pengaduan serta melakukan patroli di daerah yang terjadi pembegalan”. (Wawancara 31/12/2020)

Setelah dikakukan wawancara dengan bapak AK selaku anggota Reskrim beliaupun membenarkan adanya pembentukan salah satu satuan di polsek Rappocini yaitu satuan unit resmop yang bertugas untuk menerima aduan dan pelaporan dari masyarakat.

Berikut wawancara dengan AK (43 Th)

”Polsek Rappocini memiliki salah satu satuan yaitu satuan unit resmop yang bertugas untuk menerima aduan dan pelaporan dari masyarakat,serta meminimalisir tejadinya kasus begal sehingga sauna unit resmop sering melakuan patroli”. (Wawancara 31/12/2020)

Kepolisian melalui unit remob dalam melakukan penanganan terhadap pelaku begal juga ditemukan hambatan misalnya, pelaku-pelaku ini melakukan pembegalan jenis HP atau tas. Ketika pelaku membegal kemudian mengganti kartunya atau menjual kembali barang curiannya, maka sulit untuk di lacak keberadaan pelaku serta barang pembegalan tersebut.

Hasil wawancara dengan I.U (41 Th)

“Kami sering mendapatkan hambatan, jika pelaku pembegalan tersebut membegal HP, kemudian mereka menjualnya maka kami sangat kesulitsan untuk melacak keberadaan pelaku maupun barang begalannya tersebut”.

(Wawancara 31/12/2020)

Penanganan perkara untuk kasus begal akan di lakukan melalui proses hukum mulai dari timgkat penuntutan, pengadilan sampai pada pengambilan keputusan. Karena kasus begal merupakan salah tindak pidana yang harus di tangani secara serius sampai adanya efek jerah bagi pelaku begaal.

Berdasarkan wawancara dengan AK (43 Th)

„Kasus tindak pidana begal tetap akan dilakukan proses hukum mulai dari tingkat penuntutan, pengadillan sampai pada pengambilan keputusan. Tentu dengan ini harapan kami agar pelaku begal bisa mendapatkan efek jerah‟.

(Wawancara 31/12/2020)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka tindak pidana begal merupakan tindak pidana serius yang di tangani oleh pihak Kepolisian, sehingga Kepolisian melakukan penindakan terhadap pelaku pembegalan akan mengikuti poreses hukum, mulai dari tingat penuntutan, pengadilan sampai pada pengambilan keputusan.

b. Pandangan Hukum Pidana dan Kriminilogi

Kejahatan begal merupakan salah satu permasalahan kompleks yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kriminalitas atau kejahatan itu sendiri bukan merupakan perliku yang terdapat dalam diri manusia sejak lahir, namun di akibatkan ada faktor yang mendorong orang tersebut melakukan kejahatan begal.

Berdasarkan hasil wawancara dengan dengan Bapak AR (42 Th) sebagai Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi Universitas Muhammadiyah Makassar beliau mengatakan bahwa

“Pelaku-pelaku begal ini bisa dikatakan taraf ekonominya memang rendah atau memang karena pergaulan serta minimnya pendidikan sehingga mereka berasumsi dan mengambil tindakan yang mudah atau cepat untuk bisa memperoleh uang atau HP dengan cara pembegalan.”(Wawancara 02/02/2021)

Lanjut wawancara dengan bapak A.R (42 Th) mengatakan bahwa kejahatan begal juga terjadi karena adanya kesempatan. Kesempatan merupakan momen yang pas bagi siapa saja bisa melakukan begal, karena ketika melihat adanya kesempatan, maka dari sinilah muncul niat untuk melakukan pembegalan.

“Peluang atau kesempatan merupakan suatu hal, yang bisa membuat orang melakukan pembegalam. karena pada saat pelaku-pelaku begal ini berada di jalan dan meraka melihat sesuatu yang memungkinkan mereka untuk melakukan hal tersebut disitulah muncul niat untuk melakukan pembegalan yang kemudian didukung oleh kesempatan. Misalnya dari korban itu sendiri yang mungkin lengah dan tidak hati-hati dalam menyimpan atau mebawa barang tersebut .”(Wawancara 02/02/2021) Dalam memberantas atau menghilangkan pembegalan dapat dilihat dari akar masalah yang terjadi. Dikarenakan pelaku tindakan pembegalan ini merupakan remaja atau anak muda dan orang-orang yang ekonominya sangat rendah dan tidak mempunyai penghasilan tetap. Menurut Bapak AR (dalam wawancara pada tanggal 2 februari 2021), bahwa proses seseorang berbuat jahat karena adanya asosiasi. Proses terjadinya kejahatan menurut teori kriminologi dalam pembegalan sebagai berikut:

1) Perilaku kriminal atau perilaku kejahatan dipelajari melalui asosiasi yang dilakukan dengan mereka yang melanggar norma-norma masyarakat termasuk norma hukum. Proses seseorang berbuat jahat karena adanya asosiasinya atau komunitasnya sehingga orang melakukan pembegalan. jadi proses terjadinya pembegalan bukan karena teknik kejahatannya tapi karena adanya motif, dorongan, sikap dan rasionalisasi dibalik kejadian tersebut.

Dalam teori asosiasi terdapat beberapa poin yaitu: (1) Perilaku kriminal seperti halnya perilaku lainnya, dimana seseorang berbuat jahat karena ia mempelajari dari kejahatan orang lain, (2) Perilaku kriminal dilakukan seseorang melalui proses komunikasi, (3) Perilaku teknik atau cara melakukan pembegalan. misalnya dimana dan kapan, (4) Perilaku sikap seserang melakukan kejahatan karena orang terseut tidak suka dengan peraturan pemerintah.

2) Manusia pada dasarnya selalu melanggar hukum. Norma- norma dan cara mencapainnya tujuan tersebut hanya melalui tindakan yang ilegal. Manusia pada dasarnya semuanya baik, hanya saja kondisi sosial atau kondisi ekonomi yang menciptakan orang menjadi stres dan jahat sehingga timbul kejahatan.

3) Orang melakukan kejahatan tidak melihat orang secara interistik dan patuh kepada hukum, namun mengandung segi pandangan antitesis dimana orang harus belajar untuk tidak melakukan tindak pidana. Orang bisa tidak berbuat jahat dengan cara kita mengontrol dan mencegah secara sosial. Menurut Travis ada empat cara yang harus dilaksanakan agar kenakalan remaja tidak berubah menjadi kejahatan yaitu: (a) seseorang yang nakal diberikan kasih sayang yang lebih dapat mencegahnya melakukan kejahatan, (b) komitmen, (c) melibatkan seseorang dalam kegiatan- kegiatan yang positif, (d) diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang positif.

4) Pandangan pemberian norma yang sebab utama kejahatan dapat dijumpai dalam pemberian nama atau lebel kepada masyaraka. Misalnya seseoran yang

melakukan kejahatan dan dinilai faktor turunannya melakukan kejahatan yang sama sesuai dengan lebel yang diberikan.

Dari dari hasil wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa perilaku kejahatan pembegalan yang terjadi di kota Makassar di tinjau dari segi kriminologi, ada beerapa hal yang harus diperhatikan yaitu: (1) untuk menghindari kenakalan remaja dan kejahatan pembegalan di lakukan kegiatan- kegiatan positif, (2) adanya sosialisasi yang diberikan kepada mayarakat ataupun remaja tentang hukum yang berlaku, (3) memberikan pemahaman terhadap masyarakat bahwa tindakan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang belum tentu dilakukan pada keturunan setelahnya.

c. Dasar Hukum Dalam Tindak Pidana Begal

Tindak kejahatan khususnya perampasan dengan kekerasan atau dengan istilah kata jaman sekarang yaitu begal sudah menjadi salah satu tindak kriminal yang cukup menonjol di Kota Makassar, hal tersebut dikarenakan semakin beraninya pelaku pencurian dengan kekerasan dalam melakukan aksinya tidak peduli korbannya laki-laki atau perempuan.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tindak pidana Begal termasuk kepada tindak pidana pencurian bab XXII diatur pada pasal 362, 363 dan 365. Artinya dalam menghukum pelaku Begal, penegak hukum harus merujuk pada pasal-pasal tersebut. Bunyi pasal 362 KUHP “Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan

ratus rupiah” Artinya pelaku Begal dihukum penjara selama 5 tahun. Dan bunyi pasal 363 KUHP “(1) Diancam denganpidana penjpara paling lama tujuh tahun, seperti pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, (2) Jika pencurian yang diterangkan dalam butir 3 disertai dengan salah satu hal dalam butir 4 dan 5, maka diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, setelah melihat pasal 363 KUHP maka dapat dikatakan pelaku Begal itu masuk pada ayat (1) angka 4 dimana pelakunya bersekutu maka dapat dihukum selama 7 tahun, lebih berat dari pasal 362 KUHP. Pasal 365 KUHP (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang, dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lain, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri. (2) diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (3) jika perbuatan mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. (4) diancam dengan pidana mati atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no.1 dan 3.

Berikut penulis akan memaparkan data pembegalan yang terjadi di Kota

Makassar yang terdiri dari data jumlah kasus yang dilaporkan sebagaimana yang penulis dapatkan dari hasil penelitian di Polsek Rappocini yang dapat dilihat pada

tabel berikut ini :

Tabel 4.1. Kasus Tindak Pidana Begal di Polsek Rappocini Kota Makassar No Tahun Kasus (Begal)

2 2015 15

3 2016 13

4 2017 12

5 2018 10

6 2019 7

Jumlah 57

Sumber data: Polsek Rappocini Tahun 2020

Tabel di atas menunjukkan jumlah kasus pembegalan di Polsek Rappocini yang dilaporkan mulai dari tahun 2015 sampai tahun 2019 mengalami penurunan.

Dari data diatas dapat dikatakan bahwa data ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap pihak polsek Rappocini.

2. Pandangan Sosiolog Terhadap Pembegalan Di Kota Makassar

Kejahatan begal sering diidentikkan dengan perilaku anak muda yang membentuk kelompok tidak terarah dengan menjadikan kendaraan roda dua sebagai alat transportasinya atau dalam media sering disebut sebagai geng motor.

Perilaku ini kebanyakan didorong oleh kesamaan nasib yang dialami person yang ada didalam kelompok itu, seperti ketidakmampuan secara ekonomi atau ketertinggalan dalam hal pendidikan. Pelaku begal juga di akibatkan karean pergaulan dan keinginan mereka untuk memperoleh uang secasra cepat sehingga terjadilah aksi pembegalan,

Berdasarkan Hasil wawancara dengan Bapak JA (40 Th) yang merupakan Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar Beliau mengatakan bahwa

“Begal merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, kejahatan begal ini memang sangat meresahkan masyarakat sehingga perlu adanya perhatian kusus untuk kejahatan begal tersebut”.(Wawancara 08/03/2021)

Dalam melakukan aksinya, pelaku begal terkadang melukai korban yang di begalnya. Sasaran dari pelaku belaku begal biasanya kepada orang yang bersepeda motor dan kebanyakan pada perampuan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan JA (40 Th) Beliau mengatakan bahwa

“Sasaran pelaku begal biasanya kebanyakan pada perampuan yang bermotor, pelaku begalpun biasanya melukai korbanya karena para perlaku begal ini memang mempunyai jiwa yang sangat nekat dalam melakukan aksinya”.(Wawancara 08/03/2021)

Begal memang sangat meresahkan masyarakat, karena ulahnya banyak orang yang takut bepergian jika jarak tempuhnya cukup jauh, ini sudah menjadi masalah sosial yang harus segera di selesaikan

Berikut wawancara dengan JA (40 Th) mengatakan bahwa

“Pelaku Begal sangat meresahkan masyarakat kota Makassar, karena ulah pelaku begal masyarakat menjadi sangat khawatir dan takut jika bepergian dengan jarak yang cukup jauh ”.(Wawancara 08/03/2021)

Kasus begal dalam kehidupan sosial memang tidak bisa di hilangkan, namun bisa di mini malisir terjadinya pembegalan di kota Makassar dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan kusus kepada remaja yang rentan terhadap pergaulan bebas yang akhirnya terjerumus dalam kejahatan begal tersebut, dengan

adanya pembinaan terhadap remaja, setidaknya bisa membantu mengurangi kasus begal yang terjadi di kota Makassar. Berdasarkan wawancara dengan JA (40 Th) mengatakan bahwa

Kasus begal memang tidak bisa di hilangkan, namun untuk meminimalisir terjadinya begal dan mengurangi pembegalan di kota Makassar sangat mungkin bisa di lakukan, pembinaan terhadap remaja adalah salah satu cara yang bisa meminimalisir terjadinya begal, karena remaja merupakan usia yang sangat rentan terhadap pergaulan bebas”.(Wawancara 08/03/2021)

Dalam mengurangi kasus begal, kepolisian sebagai penegak hukum harus memeberikan sosialisasi serta pembinaan kusus terhadap para pelaku begal, sehingga kejahatan yang sama tidak terulang kembali, tidak hanya kepolisian, untuk meminimalisir kasus begal perlu adanya kerja sama antara masyarakat dan kepolisian sehingga adanya kordinasi dari kepolisian ke masyarakat, begitupun sebaliknya.

3. Faktor Terjadinya Pembegalan Di Kota Makassar

Suatu kejadiaan yang di lakukan oleh seseorng, tentu adanya penyebab mengapa dilakukanya hal tersebut. Pembegalan merupakan suatu penyimpangan sosial yang di lakukan seseorang dalam lingkungan masyarakat, Robert K. Merton menjelaskan bahwa penyimpangan muncul dari ketidakcocokan antara penekanan suatu masyarakat untuk meraih tujuan tertentu dan ketersediaan legitimasi atau sarana yang terlambangkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Berikut merupakan hasil wawancara dari beberapa sumber/informan mengenai fakor terjadinya pembegalan di Kota Makassar

a. Faktor Ekonomi

Ekonomi merupakan salah satu hal yang penting di dalam kehidupan manusia, sehingga setiap orang tentu menggunakan berbaagai cara untuk meningkatkan taraf ekonominya. Salah satu faktor yang menngakibatkan terjadinya pembegalan adalah faktor ekonomi, para pelaku begal juga tidak memiliki penghasilan yang tetap bahkan ada yang tidak mempunyai pekerjaan

Berdasarkan hasil wawancara dengan IU (41 Th) beliau mengatakan bahwa

“Pelaku-pelaku begal ini adalah orang yang memang ekonominya sangat rendah dan tidak punya penghasilan tetap sehingga mereka mengambil tindakan untuk melakuan pencurian atau melakukan pembegalan”.

(Wawancara 02/02/2021)

Ekonomi memang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena hidup di era modern seperti saat ini sering terjadi persaingan ekonomi yang terkadang hal tersebut bisa memicuh adaanya pembegalan di kalangan remaja, misalnya jika di antara satu keompok ada yang memiliki HP android sedangkan beberapa orang yang lain tidak memilikinya, maka mereka yang tidak memiliki Hp kemudian menggunakan cara yang instan untuk medapatkan HP sehingga, terjadilah aksi pembegalan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan AR (42 Th) beliau mengatakan bahwa

“Pelaku-pelaku begal memang tarif ekonominya sangat rendah sehingga terkadang mereka ingin memiliki sesuatu misalnya HP atau uang maka mereka akan menggunakan cara yang instan yaitu tindakan yangmudah dan cepat bisa memperoleh apa yang mereka inginkan sehingga pembegalan”.

(Wawancara 02/022021)

Setelah di lakukan wawancara dengan AF (23 Th) yang merupakan Pelaku Begal, beliaupun menyampaikan jawaban yang serupa dengan Bapak IU (41 Th),

dimana beliau mengatakan bahwa alasan utama ia melakuakan pembegalan adalah di sebabkan karena faktor ekonomi

“Saya nekat melakukan Pembegalan karena faktor pertama itu adalah ekonomi saya, sehingga kalau saya di ajak teman-teman untuk melakukan pembegalan dari situ kami langsung melakukan pembegalan”.(Wawancara 25/02/2021)

Senada dengan hasil wawancara yang dilakukan peniliti dengan SB (24Th) yang merupakan kerabat dekat AF. Beliau mengatakan bahwa

“Kondisi ekonomi AF memang sangat memprhatinkan karena itu dia sering melakukan pembegalan, di tambah lagi AF juga orang yang memang sangat nekat”. (Wawancara 25/02/2021)

Desakan ekonomi yang menghimpit, sehingga harus memenuhi kebutuhan keluarga, membeli sandang maupun pangan, atau ada sanak keluarganya yang sedang sakit, maka seseorang dapat bebruat nekat dengan melakukan tindak perampasan dengan kekerasan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan AF (23 Th)

“Kami sering begal itu juga karena untuk makan, dan terkadang juga kalau ada keluarga yang sakit tapi bingung mau mencari uang di mana sehingga kalau ada ajakan teman, maka saya temani teman saya ini untuk meakukan pembegalan ”.(Wawancara 25/02/2021)

Rasa cinta seseorang terhadap keluarganya yang menyebabkan ia sering lupa diri dan akan melakukan apa saja demi kebahagiaan keluarganya. Terlebih lagi apabila faktor pendorong tersebut diliputi rasa gelisah, kekhawatiran, dan lain sebagainya, disebabkan kondisi keluarga dalam keadaan sakit keras dan memerlukan obat, sedangkan uang sulit di dapat. Oleh karena itu, maka seorang pelaku dapat termotivasi untuk melakukan perampasan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SB (24Th) mengatakan bahwa

“Pelaku begal (AF) merupakan orang yang sangat peduli terhadap kondisi ekonomi keluarga, sehingga untuk mendapatkan uang AF nekat melakukan pembegalan”. (Wawancara 25/02/2021)

Pada dasarnya pembegalan terjadi karena kondisi ekonomi dalam keluarga. Kondisi seperti inilah yang membuat orang berpikir bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat, sehingga pada saat ada teman sebaya yang mengalami hal yang sama maka niat untuk melakukan tindak pembegalan itu terjadi.

b. Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan tempat dimana kepribadian dan karakter seseorang di bentuk, jika seseorang berada di lingkungan yang baik, maka perilaku seseorangpun akan mejadi baik begitupun sebaliknya. Faktor pergaulan dalam suatu lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Pelaku begal juga tidak terlepas dari adanya pergaulan di suatu lungkungan tersebut.

Berdasarkan hasi wawancara dengan IU (41 Th) beliau mengatakan bahwa

“Lingkungan juga merupakan salah satu faktor orang melakukan pembegalan di mana dalam lingkungan tersebut terjadi pergaulan yang tidak baik, misalnya adanya teman yang sering melakukan pembegalan kemudian mengajak yang belum pernah melakukan senggga mereka kemudian bersama-sama melakukan pembegalan”.(Wawancara 25/02/202

Sejak kecil hingga lanjut usia seseorang selalu mengalami perubahan- perubahan dan perkembangan baik jasmani maupun mental. Apabila keduanya itu seimbang maka tidak akan terjadi sesuatu yang negative, begitu pula sebaliknya jika keseimbangan itu tidak dapat dikendalikan maka pada saat itulah akan terjadi penyimpangan jika keinginan tidak tercapai. Sehubungan dengan hal tersebut

Dokumen terkait