BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pendidkan adalah salah satu hal yang bisa meminimaliris terjadinya pembegalan di Kota Makassar karena dengan pendidikan, mampu memperbaiki pola pikir masyarakat sehingga tidak mudah melakukan pembegalan tersebut.
resmop juga di bentuk untuk meminimalisir terjadinya kasus begal, sehingga anggota satuan unit resmob aktif melakikan patroli malam di daerah yang sering terjadi adanya pembegalan.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tindak pidana Begal termasuk kepada tindak pidana pencurian bab XXII diatur pada pasal 362, 363 dan 365. Artinya dalam menghukum pelaku Begal, penegak hukum harus merujuk pada pasal-pasal tersebut. Bunyi pasal 362 KUHP “Barang siapa mengambil suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah” Artinya pelaku Begal dihukum penjara selama 5 tahun. Dan bunyi pasal 363 KUHP “(1) Diancam dengan pidana penjpara paling lama tujuh tahun, seperti pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, (2) Jika pencurian yang diterangkan dalanm butir 3 disertai dengan salah satu hal dalam butir 4 dan 5, maka diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, setelah melihat pasal 363 KUHP maka dapat dikatakan pelaku begal itu masuk pada ayat (1) angka 4 dimana pelakunya bersekutu maka dapat dihukum selama 7 tahun, lebih berat dari pasal 362 KUHP. Pasal 365 KUHP (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang, dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lain, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri. (2) diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun. (3) jika perbuatan mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. (4) diancam dengan pidana mati atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no.1 dan 3.
Penanganan untuk pelaku begal tersebut melalui proses hukum sampai kepada tingkat pengadilan. Kasus pembegalan ini memang sangat menjadi perhatian di kalangan masyarakat.Tindak kejahatan khususnya perampasan dengan kekerasan atau denganistilah kata jaman sekarang yaitu Begal sudah menjadi salah satu tindak kriminal yang cukup menonjol di Kota Makassar, hal tersebut dikarenakan semakin beraninyapelaku pencurian dengan kekerasan dalam melakukan aksinya tidak peduli korbannya laki-laki atau perempuan.
Berdasarkan tabel 4.1 kekerasan tindak pidana begal mengalami penurunan. Diamana pada tahun 2015 kasus begal sebnyak 15, tahun 2016 sebanayak 13, tahun 2017 sebanyak 12, tahun 2018 sebanyak 10, dan tahun 2019 sebanyak 7 kasus. Data ini juga sesuai dengan hasil wawancara antara peneliti dan pihak polsek Rappocini.
Begal merupakan sebuah tindakan kejahatan yang dalam pandangan sosiologis begal sangat meresahkan masyarakat. Perilaku kejahatan begal sangat beragam antara satu dengan yang lain. Edwin H. Sutherland menyebutkan sebuah tindakan kejahatan merupakan perilaku yang dipelajari melalui asosiasi yang dilakukan dengan mereka yang melanggar norma-norma masyarakat termasuk
norma hukum. Proses seseorang berbuat jahat karena adanya asosiasinya atau komunitasnya sehingga orang melakukan pembegalan. jadi proses terjadinya pembegalan bukan karena teknik kejahatannya tapi karena adanya motif, dorongan, sikap dan rasionalisasi dibalik kejadian tersebut.
Sebuah ungkapan juga di berikan oleh Robert K. Meton tentang pelaku kejahatan (begal) berada dalam sebuah tekanan yang mengharuskan untuk melakukan kejahatan tersebut, misalnya tekanan sosial dan ekonomi.Travis Hirschi juga mengungkapkan bahwa orang melakukan kejahatan tidak melihat orang secara interistik dan patuh kepada hukum, namun mengandung segi pandangan antitesis dimana orang harus belajar untuk tidak melakukan tindak pidana. Orang bisa tidak berbuat jahat dengan cara kita mengontrol dan mencegah secara sosial. Menurut Travis ada empat cara yang harus dilaksanakan agar kenakalan remaja tidak berubah menjadi kejahatan yaitu: (1) seseorang yang nakal diberikan kasih sayang yang lebih dapat mencegahnya melakukan kejahatan, (2) komitmen, (3) melibatkan seseorang dalam kegiatan- kegiatan yang positif, (4) diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang positif.
Dalam pandangan lain Edwin Lemert menjelaskan bahwa tindak kejahatan (begal) terjadi akibat adanya pemberian nama atau lebel kepada masyaraka.
Misalnya seseorang yang melakukan kejahatan dan dinilai faktor turunannya melakukan kejahatan yang sama sesuai dengan lebel yang diberikan.
Pandangan Kiriminolog terhadap pembegalan di kota Makassar yang berkaitan dengan teori asosiasi yaitu: (1) Perilaku kriminal seperti halnya perilaku lainnya, dimana seseorang berbuat jahat karena ia mempelajari dari kejahatan
orang lain, (2) Perilaku kriminal dilakukan seseorang melalui proses komunikasi, (3) Perilaku teknik atau cara melakukan pembegalan. misalnya dimana dan kapan, (4) Perilaku sikap seserang melakukan kejahatan karena orang terseut tidak suka dengan peraturan pemerintah.
1. Pandangan Sosiolog Terhadap Pembegalan Di Kota Makassar
Kejahatan begal sering diidentikkan dengan perilaku anak muda yang membentuk kelompok tidak terarah dengan menjadikan kendaraan roda dua sebagai alat transportasinya atau dalam media sering disebut sebagai geng motor.
Perilaku ini kebanyakan didorong oleh kesamaan nasib yang dialami person yang ada didalam kelompok itu, seperti ketidakmampuan secara ekonomi atau ketertinggalan dalam hal pendidikan. Pelaku begal juga di akibatkan karean pergaulan dan keinginan mereka untuk memperoleh uang secasra cepat sehingga terjadilah aksi pembegalan. Dalam sebuah penelitian yang di lakukan oleh Suardi dan Tolla (2016), menyebutkan bahwa ekonomi merupakan faktor utama terjadinya begal di kota makassar, namun adapun penyebab lainnya adalah karena banyaknya budaya konsumerisme dan materialisme (sepeda motor), serta adanya balapan liar yang harussenantiasa diikuti, serta media, khususnya film saat ini baik film, sinetron, ataupun permainan banyak yang menampilkan adegan kekerasan secara vulgar yang seolah mengajari penontonnya untuk bisa melakukan hal tersebut,dan lemahnya pengawasan sosial.
Kasus begal dalam kehidupan sosial memang tidak bisa di hilangkan, namun bisa di minimalisir terjadinya pembegalan di kota Makassar dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan kusus kepada remaja yang rentan terhadap
pergaulan bebas yang akhirnya terjerumus dalam kejahatan begal tersebut, dengan adanya pembinaan terhadap remaja, setidaknya bisa membantu mengurangi kasus begal yang terjadi di kota Makassar.
Dalam mengurangi kasus begal, kepolisian sebagai penegak hukum harus memeberikan sosialisasi serta pembinaan kusus terhadap para pelaku begal, sehingga kejahatan yang sama tidak terulang kembali, tidak hanya kepolisian, untuk meminimalisir kasus begal perlu adanya kerja sama antara masyarakat dan kepolisian sehingga adanya kordinasi dari kepolisian ke masyarakat, begitupun sebaliknya.
2. Faktor Terjadinya Pembegalan Di Kota Makassar a. Faktor Ekonomi
Pada dasarnya pembegalan terjadi karena kondisi ekonomi dalam keluarga. Kondisi seperti inilah yang membuat orang berpikir bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat, sehingga pada saat ada teman sebaya yang mengalami hal yang sama maka niat untuk melakukan tindak pembegalan itu terjadi.
Ekonomi merupakan salah satu hal yang penting di dalam kehidupan manusia, sehingga setiap orang tentu menggunakan berbaagai cara untuk meningkatkan taraf ekonominya. Salah satu faktor yang menngakibatkan terjadinya pembegalan adalah faktor ekonomi, para pelaku begal juga tidak memiliki penghasilan yang tetap bahkan ada yang tidak mempunyai pekerjaan.
Sebuah penelitian yang di lakukan oleh Suardi dan Tolla (2016), menyebutkan bahwa faktor ekonomi merupakan faktor utama terjadinya begal di
kota makassar, senada juga dengan penelitian yang di lakukan oleh Natasya Vurginia Leuwol dan Lulu Jola (2019), yang menyebutkan bahwa faktor yang memengaruhi kenakalan dan kejahatan remaja di kota sorong, adalah faktor sosial ekonomi
Ekonomi memang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena hidup di era modern seperti saat ini sering terjadi persaingan ekonomi yang terkadang hal tersebut bisa memicuh adaanya pembegalan di kalangan remaja, misalnya jika di antara satu keompok ada yang memiliki HP android ada pula beberapa orang yang tidak memilikinya, mereka yang tidak memiliki Hp kemudian menggunakan cara yang instan untuk medapatkan HP sehingga, terjadilah aksi pembegalan tersebut.
b. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan tempat dimana kepribadian dan karekter seseorang di bentuk, jika seseorang berada di lingkungan yang baik, maka perilaku seseorangpun akan mejadi baik begitupun sebaliknya, didalam suatu lingkungan tertentu, pasti adanya sebuah pergaulan. faktor pergaulan dalam suatu lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Pelaku begal juga tidak terlepas dari adanya pergaulan di suatu lungkungan tersebut.
Sejak kecil hingga lanjut usia seseorang selalu mengalami perubahan- perubahan dan perkembangan baik jasmani maupun mental. Apabila keduanya itu seimbang maka tidak akan terjadi sesuatu yang negative, begitu pula sebaliknya jika keseimbangan itu tidak dapat dikendalikan maka pada saat itulah akan terjadi penyimpangan jika keinginan tidak tercapai. Sehubungan dengan hal tersebut
maka usia mempengaruhi cara berfikir untuk melakukan sesuatu, karena usia yang masih muda /belum matang cara berfikirnya sehingga perbuatan-perbuatannya terkadang menyimpang atau melanggar hukum. Edwin Sutherland dalam teorinya menyatakan bahwa penyimpangan terjadi ketika individu mempunyai kontak yang lebih intens ke kelompok bisa menerima penyimpangan ketimbang ke kelompok yang tidak menerimanya. Menurut Edwin, penyimpangan adalah perilaku yang dipelajari, seperangkat perilaku yang menular dari orang-orang melalui interaksi. Adapun sebuah penelitian yang di lakukan oleh Natasya Vurginia Leuwol dan Lulu Jola (2019), dengan judul, “begal perilaku menyimpang masyarakat yang dilakukan oleh remaja” (Studi Kasus Tentang Begal Perilaku Menyimpang Masyarakat, Yang Dilakukan Oleh Remaja, Di Kota Sorong, Papua Barat). Hasil penelitian ini menujukan bahwa, faktor yang memengaruhi kenakalan dan kejahatan remaja di kota sorong, adalah faktor sosial ekonomi serta budaya
Baik buruknya tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana orang tersebut berada, pada pergaulan yang diikuti dengan peniruan suatu lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan tingkah laku seseorang. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat itu sendiri.
Tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pergaulan, apabila bergaul dengan orang baik maka perbuatan mereka pasti baik pula dan apabila bergaul dengan orang yang suka melakukan perbuatan buruk maka besar kemungkinan akan dipengaruhinya
c. Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan sarana yang dapat membebaskan seseorang dari kebodohan dan hal-hal yang di timbulkan dari kebodohan tersebut, seperti kemiskimnan serta pola pikir yang sempit. Bahkan suatu kejahatan yang di lakukan, tidak terlepas dari minimnya pengetahuan serta pendidikan seseorang.
Pendidkan adalah salah satu hal yang bisa meminimaliris terjadinya pembegalan di Kota Makassar karena dengan pendidikan, mampu memperbaiki pola pikir masyarakat sehingga tidak mudah melakukan pembegalan tersebut.
d. Faktor Lemahnya Penegakan Hukum
Pasal 365 KUHP (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun, pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang, dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lain, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri. (2) diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (3) jika perbuatan mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. (4) diancam dengan pidana mati atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no.1 dan 3.
Pihak penegak hukum kadang-kadang menyimpang dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, sehingga ada pelaku kejahatan perampasan dengan
kekerasan yang mendapat hukuman yang terlalu ringan. Dan akibatnya setelah keluar dari lembaga permasyarakatan maka pelaku mengulangi perbuatan jahat tersebut. Sejauh ini penegak hukum yang diberikan pada pelaku begal hanya menggunakan aturan-aturan hukum yang berlaku secara umum (KUHP) pasal 365 yang berbunyi “ Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.
Penanganan untuk pelaku begal tersebut melalui proses hukum sampai kepada tingkat pengadilan. Kasus pembegalan ini memang sangat menjadi perhatian di kalangan masyarakat. Tindak kejahatan khususnya perampasan dengan kekerasan atau dengan istilah kata jaman sekarang yaitu begal sudah menjadi salah satu tindak kriminalyang cukup menonjol di Kota Makassar, hal tersebut dikarenakan semakin beraninya pelaku pencurian dengan kekerasan dalam melakukan aksinya tidak peduli korbannya laki-laki atau perempuan.
82 BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Pandangan Aparat Penegak Hukum (Kepolisian) terkait Tindak pidana begal adalah tindak pidana pencurian dengan kekerasan, Hal ini sangat meresahkan masyarakat di wilayah kota Makassar, khususnya di wilayah polsek Rappocini. Polsek Rappocini dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya tentu sangat memperhatikan kasus begal, olehnya itu berbagi cara di lakukan satuan Polsek Rappocini, tentunya untuk menekan angka kasus begal yang terjadi di kota Makassar khususnya di Kecamatan Rappocini.
Pandangan Sosilog terhadap tindak pidana begal adalah salah satu bentuk penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat, kasus begal dalam kehidupan sosial memang tidak bisa di hilangkan, namun bisa di minimalisir terjadinya pembegalan di kota Makassar dengan cara melakukan pembinaan-pembinaan kusus kepada remaja yang rentan terhadap pergaulan bebas yang akhirnya terjerumus dalam kejahatan begal tersebut
Faktor-faktor terjadinya pembegalan di Kota Makassar khususnya wilayah kecamataan Rappocini yaitu faktor ekonom, faktor pendidikan dan lingkungan. Kebutuhan ekonomi yang serba kecukupan akan memicu terjadinya pembegalan, Minimnya pendidikan seseorang akan berdampak pada perbuatan dan perilaku seseorang, serta lingkungan yang buruk akan membentuk seseorang menjadi buruk.
B. Saran
1. Untuk Tempat Penelitian
Berdasarkan refleksi hasil penelitian ini, bagi Polsek Rappocini diharpkan agar lebih teliti dan sistematis dalam menangani kasus begal di kota Makassar khususnya di wilayah kerja Polsek Rappocini yaitu kecamatan Rappocini.
2. Untuk Masyarakat
Dalam penanganan kasus begal di kota Makassar khususnya di kecamatan Rappocini, masyarakat sangat di butuhkan karena untuk melancarkan kerja-kerja kepolisian maka perlu bantuan masyarakat setempat agar proses penangkapan pelaku begal dapat berjalan sesuai rencana.
3. Untuk Peneliti Selanjutnya
Kajian ini lebih memfokuskn pada pandangan yuridis sosiologis terhadap pelaku begal, sehingga bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan kajian ini agar bisa di jadikan sebagai sebuah diskursus untuk menangani kasus begal yang ada di kota Makassar Khususnya di kecamatan Rappocini.
DAFTAR PUSTAKA
Alam, S. S. (1997). Hukum Lingkungan Konservasi Hutan . Jakarta: Rineka Cipta.
Andina, E. (2015). Kejahatan Sadis Oleh Remaja:. Juvenile’s Violent Crime:, 147.
Dimas, A. (2018). Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Pelaku. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar, 12-40.
Fauziah, A. N. (2018). Tindak Pidana Begal Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam (Studi Kasus Dipolrestabes Makassar). Fakultas Syariah Dan Hukumjurusan Hukum Pidana Dan Ketatanegaraanuniversitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 13-25.
Frederica, R. (2019). Analisis Yuridis Tindakan Tegas Kepolisian Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencurian Dengan Kekerasan (Studi Pada Polda Lampung). Fakultas Hukum Universitas Lampung Bandar Lampung, 12- 13.
Hamzah. (2016). Ancaman Pidana Mati Bagi Pelaku. Fakultas Syariah Dan Hukum Universitas Islam Negeri (Uin) Alauddin Makassar, 84.
Kaharuddin, S. (2017). Sosiologi Hukum. Makassar: 1-8.
Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Erlangga.
Moleong. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Pikiran Rakyat.
Mansyur, F. (2019). Studi Analisis Syariat Islam Mengenai Pengharaman Atas.
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar, 37.
Masdar, U. K. (2016). Tinjauan Hukum Nasional Dan Hukum Islam Terhadap Penerapan Sanksi Pada Kejahatan Begal Yang Dilakukan Anak Di Bawah Umur (Studi Putusan Nomor: 101/Pid.Sus.Anak/2015/Pn.Mks. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Islam Jurusan Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan Pada Fakultas Syariah Dan Hukum Uin Alauddin Makassa , 6-7.
Muhammadiyah, P. P. (2016). Mushaf Al qur'an Al-Karim Dan Terjemahan.
Yogyakarta : Gramasurya.
Muhammad Rais Abidin, 2. S. (2018). The Spatial Distribution Of Robberies In Makassar City. Unm Geographic Journal, 95.
Muslim, A. (2015). Upaya Yang Dilakukan Aparat Kepolisian Polres Kota.
Skripsi Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Menempu Ujian Seranaj Hukum, 10.
Nasiru, S. S. (2016). Tinjauan Viktimologis Terhadap Kejahatan Begal ( Studi Kasus Di Kota Makassar Tahun 3013-2015. Diajukan Sebagai Usulan Penelitian Pada Seminar Usulan Penelitian Untuk Penyusunan Skripsi Pada Bagian Hukum Pidana Program Studi Ilmu Hukum, 28.
Natasya V. L. (2019). Egal-Perilaku Menyimpang Masyarakat Yang Dilakukan oleh remaja. Jurnal Akrab Juara, 66.
Gani, A. Unde (2016). Begal Dan Keresahan Masyarakat (Jaringan Komunikasi.
Jurnal Komunikasi Kareba, 287.
Pratama, D. (2019). Analisis Kriminologis Kejahatan Pembegalan Yang. Fakultas Hukum, 1-76.
Razak, M. (2013). Sosiologi Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Prespektif Islam . Bambu Apus: Isa.
Suardi, F. Tolla. (2016). Begal Motor Sebagai Perilaku Menyimpang. Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi, 1.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta CV.
L A M
P I R A N
PEDOMAN WAWANCARA
Lembaran Wawancara Kanit Reskrim Polsek Rappocini Kota Makasar
Nama : Ikbal Usman Emba
Jabatan : Kanit Reskrim Polsek Rappocini Kota Makassar Waktu : 31 Desember 2020
Tempat : Plsek Rappocini Kota Makassar Pertanyaan
1. Bagaimana pandangan Bapak selaku Kanit Reskrim Polsek Rappocni
terhadap pelaku begal yang ada di Wilayah Polsek Rappocini kota Makassar?
2. Bagaimankah cara Bapak Selaku pihak kepolisian menemukan pelaku begal di wilayah Polsek Rappocini kota Makasar ?
3. Apa saja hambatan yang dialami oleh pihak kepolisian dalam menangani kasus tindak pdana begal?
4. Apa faktor terjadinya pembegalan di wilayah Polsek Rappocini kota Makassar?
Lembaran Wawancara Kanit Reskrim Polsek Rappocini Kota Makasar
Nama : Abdul Kadir
Jabatan : Anggota Reskrim Polsek Rappocini Waktu : 31 Desember 2020
Tempat : Polsek Rappocini Kota Makassar Pertanyaan
1. Bagaiman pandangan Bapak selaku anggota Reskrim Polsek Rappocini Terhadap pelaku Begal yang ada di wilayah Polsek Rappocini kota Makassar?
2. Bagaimankah cara bapak selaku pihak kepolisian menemukan pelaku begal di wilayah Polsek Rappocini kota Makassar?
3. Apa faktor terjadinya pembegalan di Wilayah Polsek Rappocini kota Makassar?
Lembaran Wawancara Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi Unismuh Makassar
Nama : Aulia Andika Rukman, S.H., M.H Jabatan : Dosen
Waktu : 02 feberuari 2021 Tempat : Google meet Pertanyaan
1. Bagaimana pandangan Bapak terhadap pelaku begal di Kota Makassar?
2. Bagaimana pandangan Bapak terhadap penegak hukum tindak pidana begal di kota Makassar?
3. Apakah penegak hukum terhadap tindak pidana begal sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesi?
4. Apa faktor terjadinya pembegalan di kota Makassar?
Lembaran Wawancara Sosiolog Unismuh Makassar
Nama : Dr. Jamaluddin Arifin, S.Pd., M.Pd Jabatan : Dosen
Waktu : 08 Maret 2021
Tempat : Kampus Unismuh Makassar Pertanyaan
1. Bagaimana pandangan Bapak terhadap pelaku begal di Kota Makassar?
2. Siapa sajakah yang menjadi sasasaran pelaku Begal?
3. Apakah pelaku begal meressahakn masyarakat sekitarnya?
4. Apakah kasus begal di kota Makasar bisa di hilangkan?
Lembaran Wawancara Pelaku Begal
Nama : Asrullah Faisal Jabatan : -
Waktu : 25 Februari 2021
Tempat : Polsek Rappocini Kota Makassar Pertanyaan
1. Mengapa saudara nekat melakukan pembegalan?
2. Siapa saja yang sering menjadi sasaran saudara dalam pembegalan?
3. Apakah ada faktor yang menyebabkan saudara nekat melakukan pembegalan?
Lembaran Wawancara Kerabat Dekat Pelaku Begal
Nama : Syamsul Bahri Jabatan : -
Waktu : 25 Februari 2021 Tempat : Minasa Upa Pertanyaan
1. Apakah saudara merupakan kerabat dekat dari pelaku begal (AF) 2. Sudah berapa lamah saudara berteman dengan AF?
3. Bagaimana menurut saudara tentang AF?
4. Apakah saudara mengetahui bahwa AF adalah pelaku begal?
5. Pandangan saudara apa yang menyebabkan AF nekat melakukan pembegalan?
6. Bagaimana kondisi keluarga dan ekonomi AF?
DOKUMENTASI
KANTOR POLSEK RAPPOCINI KOTA MAKASSAR
WAWANCARA DENGAN KANIT RESKRIM POLSEK RAPPOCINI KOTA MAKASSAR
WAWANCARA DENGAN ANGGOTA RESKRIM POLSEK RAPPOCINI KOTA MAKASSAR
WAWANCARA DENGAN SOSIOLOG (DOSEN PENDIDIKAN SOSIOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASAR
WAWANCARA DENGAN DOSEN HUKUM PIDANA DAN KRIMINOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
WAWANCARA DENGAN PEALU BEGAL DI KANTOR POLSEK RAPPOCINI KOTA MAKASSAR
RIWAYAT HIDUP
Jamidin Wotu, Dilahirkan di Tuabang-Alor, 02 Agustus 1997. Anak ke enam dari delapan bersaudara pasangan dari Syamsudin Wotu dan Suriati Laka Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar di SD Inpres Dekopira dan tamat pada tahun 2010. Pada tahun itu juga penulis melanjutkan Pendidikan di SMP Negeri Bakalang dan tamat pada tahun 2013 kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Alor Barat Daya 2013 dan seslesai pada tahun 2016. Pada tahun 2016 juga peneliti melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sosiologi. Penulis menyelesaikan kuliah strata satu (S1) pada tahun 2021. Semasa kuliah penulis sangat aktif dalam dunia akademik dan organisasi. Penulis aktif di Organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi diamanhkan sebagai Bidang kesekretariatan pada tahun 2017-2018. Selain itu penulis juga aktif di oraganisasi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) diamanahkan sebagai Ketua Umum Pikom IMM FKIP Unismuh Makassar di periode 2019-2020. Penulis juga juga aktif di Organisasi Daerah Kab, Alor (PERSMA ALOR-NTT MAKASSAR) diamanahkan sebagai Ketua Umum periode 2020-2021.