• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENDER DAN AGAMA

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 61-70)

perempuan dan laki-laki menikmati status dan kondisi yang sama

untuk merealisasikan

hak

azasinya

secara penuh dan

sama-sama berpotensi untuk berperan dalam pembangunan.

pada hakekatnya Agama lslam selalu mengajarkan manusia

untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, serta keutuhan baik

kepada sesama manusia mau pun kepada lingkungannya. lslam

telah

memperkenalkan konsep relasi gender dengan mengacu pada berbagai ayat-ayat substantif, sekaligus mengarah

kepada satu tujuan syariat antara lain

adalah

terwujudnya kesetaraan

dan

keadilan, sebagaimana tersebut

di

dalam surat An- Nahl/16 : g0, mengajak kepada kebaikan dan mencegah untuk berbuat kejahatan atau kekerasan terhadap siapa pun (Ali lmran

113

104).

Bila disigi lebih lanjut dari segi kualitas dan kejadian manusia, Al Qur'an tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al lsra'/1 7

:70

bahwa Allah memuliakan anak Adam baik laki-laki mau pun perempuan dan sebahagian mereka menjadi bahagian dari yang lain. Demikian juga dalam surat

Ali

lmran/3

: 195

dijelaskan bahwa manusia laki-laki

dan

perempuan

tidak

ada kelebihan yang satu dari yang lain. Adapun pembedanya adalah dari segi kualitas taqwanya masing-masing. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al HujuraU49 : 13.

Selain sebagai agama tauhid, lslam juga sebagai agama

kemanusiaan sebagaimana disebut

di

dalam surat

Ali

lmran/3

: 12.

Dalam pandangan lslam,

manusia mempunyai dua kapasitas yaitu sebagai 'abid (hamba) dan sebagai khalifah (representatif Tuhan) tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit, atau pun etnik (Al

HujuraU4g:13). la

mengajarkan kepada siapa pun laki-laki atau perempuan agar

selalu peduli terhadap penderitaan orang lain

(Al

Ma'un/107

:

1-7\, bahkan melalui

jaran

lslam telah berulangkali disampaikan Rasulullah

SAW.

Demikian pula lslam

menegaskan larangan

agar tidak

melakukan pelanggaran

terhadap hak

asasi

manusia.

Kitab suci Al Qur'an tidak mengakui adanya pembedaan (discimination) yang menguntungkan

satu pihak dan

merugikan

pihak yang lain,

namun

AI

Qur'an

mengakui adanya perbedaan peran (distincion). Perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan diungkapkan Umar (1999) bahwa terdapat sejumlah ayat-ayat dalam

Al

Qur'an yang mengungkapkan kekhususan- kekhususan perempuan yang tidak dialami laki-laki, seperti perempuan mengalami siklus menstruasi (Albaqarahl2

:223)

dan An-Nisa/4

: 23). Namun

kekhususan

ini

sering disalahpahami dan dijadikan

alasan untuk

memojokkan perempuan

di sektor

domestik. Ayat-ayat tersebut diasosiasikan dengan surat Albaqarah 12

.

228 yang menyatakan kaum laki-laki itu

pemimpin bagi kaum perempuan. Padahal tidak pernah

ditemukan

satu ayat pun

yang

menyatakan bahwa

fungsi

reproduksi

sebagai sebab atau alasan

('illah) mengapa perempuan harus menjadi subordinasi laki-laki. Jadi pengungkapan fungsi reproduksi tersebut hanya dimaksudkan untuk menyampaikan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Lebih jauh

diungkapkan

Umar (1999),

walaupun

dalam Al

Qur'an tidak ditemukan kata yang persis sepadan dengan istilah gender, namun jika dimaksud menyangkut perbedaan laki-laki

dan

perempuan

secara non

biologis, meliputi perbedaan fungsi, peran dan relasi keduanya maka dapat ditemukan sejumlah istilah untuk itu. lstilah yang sering muncul untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari

segi biologis antara lain yaitu al-dzakar/male untuk laki-laki dan a/unfsa'lfemale untuk perempuan. Sementara perbedaan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan dari segi pengungkapan non biologis (gender) dikenal dengan istilah al raiul/alnJa'l untuk laki-laki dan al-mafah/al-nisa' untuk perempuan.

Berhubungan

dengan persoalan kesetaraan gender, Umar lebih

lanjut

mengungkapkan prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Al Qur'an :

a.

Laki-taki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah.

Dalam kapasitas sebagai hamba Allah tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi

dan

peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam

At

Qudan biasa diistilahkan dengan orang-orang

yang

bertaqwa (muttaqun),

dan

untuk mencapai derajat

ini tidak

dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu.

b.

Laki-taki dan perempuan sebagai khalifah di bumi-

Maksud dan tujuan penciptaan manusia

di

muka bumi ini adalah di samping untuk menjadi hamba ('abid) yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah SWT,

juga

untuk menjadi khalifah

di bumi

(khalifa

fi

al-ardl). Kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi ditegaskan dalam Al Qur'an surat Al-An'am/6 : 165.

Kata khalifah tidak menunjuka pada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah

yang akan

mempertanggungjawabkan

tugas-tugas

kekhalifahannya

di

bumi,

sebagaimana halnya mereka harus bertanggungjawab sebagai hamba Tuhan.

c.

Laki_takidan perempuan meneima perianiian pimordial.

Laki-lakidanperempuansama-Samamengembanamanahdanmenerima

perlanjian primordial dengan Tuhan.

sejak

awal seiarah manusia dalam lslam tidak dikenal adanya diskriminasi

jenis

kelamin. Laki-laki

dan

perempuan sama-sama

menyatakan ikrar ketuhanan yang sama

d.AdamdanHawa,terlibatsecaraaktifdalamdramakosmis.

1)

Keduanya diciptakan

di

surga

dan

memanfaatkan fasilitas surga disebutkan dalam Al Qur'an surat Albaqarah 12

"

35'

2)

Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari syaitan disebutkan dalam Al Qur'an surat Al-A'raft7:20'

3)

Sama-sama memakan buah kuldi

dan

keduanya menerima akibat jatuh ke bumi,disebutkandalamAlQur'ansuratAl-A,raf17..22.

4)

Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan' disebutkan dalam Al Qur'an surat Al-A'rall7 ' 23'

5)

Setelah di bumi, keduanya mengembangkan keturunan dan slaing melengkapi dan saling membutuhkan, disebutkan dalam

Al

Qur'an surat Al-Baqarah/2 :

187

e.

Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi'

peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, ditegaskan secara khusus dalam

:

(1) surat

Ali

lmran/3

:

195

;

(2) surat Al-Nisa,/4

: 124;

dan (3) surat Ga'fir/4o

:

40. Ketiga surat ini mengisyaratkan

konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual mau pun urusan karier profesional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan

yang Sama meraih prestasi optimal. Namun, dalam

kenyataan

masyarakat, konsep ideal

ini

membutuhkan tahapan dan sosialisasi, karena masih terdapat sejumlah kendala, terutama kendala budaya yang sulit diselesaikan.

Sementara itu Zidni, dkk. (2001) mengelompokkan ayat-ayat

Al

Qur'an yang mencerminkan kesetaraan gender dan ayat-ayat Al Qur'an yang terkesan bias gender.

Ayat-ayat

Al Qur'an yang

mencerminkan kesetaraan

gender

berkaitan dengan masalah berikut : (1) asal-usul penciptaan ; (2) kewajiban untuk mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya ; (3) melaksanakan kewajiban-kewajiban agama ; (4) larangan berbuat

dosa ; (5)

balasan

dan

sanksi terhadap

amal

perbuatan

; (6)

perkawinan dan kehidupan rumah tangga ; (7) kewajiban mendidik anak ; (8) menghormati orang tua

dan

menerima penghormatan dari

anak;(9)

pembagian harta

pusaka;dan

(10)

kepemimpinan.

2. Ayat-ayat

Al

Qur'an yang Terkesan Bias Gender

Walau

pun

pada hakekatnya agama bertujuan membawa umatnya

ke

arah kesejahteraan lahir dan bathin, namun akibat kesalahpahaman terhadap metode tafsir atau pun karena mempertahankan staus quo dan mensahkan pola patriarkhi maka agama bisa memberikan inspirasi dan dorongan munculnya ketidakadilan gender.

Di sisi lain kebudayaan mengajarkan kepada masyarakat untuk menempatkan perempuan sebagai manusia sekunder, seperti yang terjadi pada masyarakat Arab pra

lslam. Hal ini sebagaimana dinukil dalam

Al

Qur'an surat Al-Nahl/16

:

58-59. Pada

perkembangan selanjutnya, kebudayaan

tetap

mengajarkan

untuk

menempatkan perempuan pada posisi sekunder. Pemahaman ayat-ayat

Al

Qur'an mentolerir pola ketidaksetaraan gender seperti pemahaman surat Al-Sajadahl32 : 9, surat Al-Hijr/15 : 2g, surat Shaad/38 '.

72,

bahwa laki-laki dikesankan sebagai makhluk yang agung.

Selain dari itu pandangan androsentris itu muncul dari persepsi teologis yang bermula dari anggapan bahwa perempuan diciptakan

dai

tulang rusuk Nabi Adam (Lembaga Alkitab lndonesia, 1 989).

Dalam berbagai literatur terungkap bagaimana buruknya kedudukan hak-hak kaum perempuan sepanjang peradaban yang ada. Menurut Shihab (1996) bahwa

sejak

berabad-abad

yang silam, bahkan hingga sekarang

perempuan sering menerima perlakuan kasar. Dari generasi ke generasi, perempuan sering dijadikan sebagai sasaran eksploitasi seksual, sering diperjualbelikan atau menjual diri sebagai

gundik. Padahal ajaran lslam tidak pernah

membedakan

antara

laki-laki dan perempuan.

Ayat-ayat

Al

Qur'an yang terkesan bias gender dikemukakan oleh Zidni, dkk.

(2001) adalah sebagai berikut :

a.

Dalam masalah perkawinan dan kehidupan suami istri dapat dilihat dalam surat An-nisaa'/4

: 3, 15, 16,25,34, 35, dan

129. Selanjutnya dalam surat Al- baqaraht2 .. 223,228, dan 233. Disamping itu juga dapat ditemukan dalam surat Al-ahzab ayal28

-

33.

b.

Dalam masalah

talak dan

rujuk

serta

iddah

dapat dilihat dalam

surat Al- baqarahl? : 228-237, serta 240-241 .

c.

Dalam masalah hukum ila', dapat dilihat dalam Al-baqarahl? 226-227 -

d.

Dalam masalah hukum li'an, dapat dilihat dalam surat An-nurl24 : 6-10.

e.

Dalam masalah hukum dlihar, dapat dilihat dalam surat Al-Mujadalah/S8 : 1-3.

serta surat Al-Azhab/33 : 3.

f.

Dalam masalah pembagian waris/harta pusaka dapat dilihat dalam surat An- nisaa'/4 : 11-12 dan 176.

g.

Dalam masalah pakaian, dapat dilihat dalam surat Al-Ahzab/33 : 59.

h.

Dalam masalah persaksian dapat dilihat dalam surat Al-Baqarahl2:282.

i.

Dalam kehidupan sosial (bermasyarakat) dapat dilihat dalam surat Al-Ahzab/33 : 33, An-nurl24: 30-31, Ali lmran ayal14.

D. Evaluasi/Tugas dan Latihan

1.

Jelaskanlah perspektif Agama lslam tentang konsep gender I

2.

Analisalah apakah pemicu terjadinya bias gender dari ayat-ayat Al Qur'an !

3.

ldentifikasilah ayat-ayat At Qur'an yang disinyalir mengandung bias gender !

E. Sumber/referensi

1 . Lembaga Alkitab lndonesia. (1998). Atkitab. Jakarta : Lembaga Alkitab lndonesia.

Z.

Shihab, Quraish. (1996). Wawasan

Al Qulan :

Tafsir Maudh

:

Atas'Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Mizan-

3. Subhan, Zaitunah. (2005). Kesetaraan Gender dalam lslam. Makalah disampaikan dalam acara Sosialisasi Program Pemberdayaan Perempuan dan Anak oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan FKK-P3A Padang.

4.

Umar, Nasaruddin. (1999). Argumen Kesetaraan

Jender:

Perspektif

Al

Qufan.

Jakarta : Paramadina.

5. Zidni, lrfan dkk. (2001).

lnventarisasi Ayat-ayat

Al Qufan tentang

Gender.

Kerjasama Kantor Mentri Pemberdayaan Perempuan dengan MUI DKI Jakarta.

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 61-70)