perempuan dan laki-laki menikmati status dan kondisi yang sama
untuk merealisasikanhak
azasinyasecara penuh dan
sama-sama berpotensi untuk berperan dalam pembangunan.pada hakekatnya Agama lslam selalu mengajarkan manusia
untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, serta keutuhan baikkepada sesama manusia mau pun kepada lingkungannya. lslam
telahmemperkenalkan konsep relasi gender dengan mengacu pada berbagai ayat-ayat substantif, sekaligus mengarah
kepada satu tujuan syariat antara lain
adalahterwujudnya kesetaraan
dan
keadilan, sebagaimana tersebutdi
dalam surat An- Nahl/16 : g0, mengajak kepada kebaikan dan mencegah untuk berbuat kejahatan atau kekerasan terhadap siapa pun (Ali lmran113
104).Bila disigi lebih lanjut dari segi kualitas dan kejadian manusia, Al Qur'an tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al lsra'/1 7
:70
bahwa Allah memuliakan anak Adam baik laki-laki mau pun perempuan dan sebahagian mereka menjadi bahagian dari yang lain. Demikian juga dalam suratAli
lmran/3: 195
dijelaskan bahwa manusia laki-lakidan
perempuantidak
ada kelebihan yang satu dari yang lain. Adapun pembedanya adalah dari segi kualitas taqwanya masing-masing. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al HujuraU49 : 13.Selain sebagai agama tauhid, lslam juga sebagai agama
kemanusiaan sebagaimana disebutdi
dalam suratAli
lmran/3: 12.
Dalam pandangan lslam,manusia mempunyai dua kapasitas yaitu sebagai 'abid (hamba) dan sebagai khalifah (representatif Tuhan) tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit, atau pun etnik (Al
HujuraU4g:13). la
mengajarkan kepada siapa pun laki-laki atau perempuan agarselalu peduli terhadap penderitaan orang lain
(Al
Ma'un/107:
1-7\, bahkan melaluijaran
lslam telah berulangkali disampaikan RasulullahSAW.
Demikian pula lslammenegaskan larangan
agar tidak
melakukan pelanggaranterhadap hak
asasimanusia.
Kitab suci Al Qur'an tidak mengakui adanya pembedaan (discimination) yang menguntungkan
satu pihak dan
merugikanpihak yang lain,
namunAI
Qur'anmengakui adanya perbedaan peran (distincion). Perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan diungkapkan Umar (1999) bahwa terdapat sejumlah ayat-ayat dalam
Al
Qur'an yang mengungkapkan kekhususan- kekhususan perempuan yang tidak dialami laki-laki, seperti perempuan mengalami siklus menstruasi (Albaqarahl2:223)
dan An-Nisa/4: 23). Namun
kekhususanini
sering disalahpahami dan dijadikanalasan untuk
memojokkan perempuandi sektor
domestik. Ayat-ayat tersebut diasosiasikan dengan surat Albaqarah 12.
228 yang menyatakan kaum laki-laki itupemimpin bagi kaum perempuan. Padahal tidak pernah
ditemukan
satu ayat punyang
menyatakan bahwafungsi
reproduksisebagai sebab atau alasan
('illah) mengapa perempuan harus menjadi subordinasi laki-laki. Jadi pengungkapan fungsi reproduksi tersebut hanya dimaksudkan untuk menyampaikan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan.Lebih jauh
diungkapkanUmar (1999),
walaupundalam Al
Qur'an tidak ditemukan kata yang persis sepadan dengan istilah gender, namun jika dimaksud menyangkut perbedaan laki-lakidan
perempuansecara non
biologis, meliputi perbedaan fungsi, peran dan relasi keduanya maka dapat ditemukan sejumlah istilah untuk itu. lstilah yang sering muncul untuk membedakan laki-laki dan perempuan darisegi biologis antara lain yaitu al-dzakar/male untuk laki-laki dan a/unfsa'lfemale untuk perempuan. Sementara perbedaan penyebutan untuk laki-laki dan perempuan dari segi pengungkapan non biologis (gender) dikenal dengan istilah al raiul/alnJa'l untuk laki-laki dan al-mafah/al-nisa' untuk perempuan.
Berhubungan
dengan persoalan kesetaraan gender, Umar lebih
lanjutmengungkapkan prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Al Qur'an :
a.
Laki-taki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah.Dalam kapasitas sebagai hamba Allah tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi
dan
peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalamAt
Qudan biasa diistilahkan dengan orang-orangyang
bertaqwa (muttaqun),dan
untuk mencapai derajatini tidak
dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu.b.
Laki-taki dan perempuan sebagai khalifah di bumi-Maksud dan tujuan penciptaan manusia
di
muka bumi ini adalah di samping untuk menjadi hamba ('abid) yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah SWT,juga
untuk menjadi khalifahdi bumi
(khalifafi
al-ardl). Kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi ditegaskan dalam Al Qur'an surat Al-An'am/6 : 165.Kata khalifah tidak menunjuka pada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah
yang akan
mempertanggungjawabkantugas-tugas
kekhalifahannyadi
bumi,sebagaimana halnya mereka harus bertanggungjawab sebagai hamba Tuhan.
c.
Laki_takidan perempuan meneima perianiian pimordial.Laki-lakidanperempuansama-Samamengembanamanahdanmenerima
perlanjian primordial dengan Tuhan.sejak
awal seiarah manusia dalam lslam tidak dikenal adanya diskriminasijenis
kelamin. Laki-lakidan
perempuan sama-samamenyatakan ikrar ketuhanan yang sama
d.AdamdanHawa,terlibatsecaraaktifdalamdramakosmis.
1)
Keduanya diciptakandi
surgadan
memanfaatkan fasilitas surga disebutkan dalam Al Qur'an surat Albaqarah 12"
35'
2)
Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari syaitan disebutkan dalam Al Qur'an surat Al-A'raft7:20'3)
Sama-sama memakan buah kuldidan
keduanya menerima akibat jatuh ke bumi,disebutkandalamAlQur'ansuratAl-A,raf17..22.4)
Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan' disebutkan dalam Al Qur'an surat Al-A'rall7 ' 23'5)
Setelah di bumi, keduanya mengembangkan keturunan dan slaing melengkapi dan saling membutuhkan, disebutkan dalamAl
Qur'an surat Al-Baqarah/2 :187
e.
Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi'peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, ditegaskan secara khusus dalam
:
(1) suratAli
lmran/3:
195;
(2) surat Al-Nisa,/4: 124;
dan (3) surat Ga'fir/4o:
40. Ketiga surat ini mengisyaratkankonsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual mau pun urusan karier profesional, tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan
yang Sama meraih prestasi optimal. Namun, dalam
kenyataanmasyarakat, konsep ideal
ini
membutuhkan tahapan dan sosialisasi, karena masih terdapat sejumlah kendala, terutama kendala budaya yang sulit diselesaikan.Sementara itu Zidni, dkk. (2001) mengelompokkan ayat-ayat
Al
Qur'an yang mencerminkan kesetaraan gender dan ayat-ayat Al Qur'an yang terkesan bias gender.Ayat-ayat
Al Qur'an yang
mencerminkan kesetaraangender
berkaitan dengan masalah berikut : (1) asal-usul penciptaan ; (2) kewajiban untuk mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya ; (3) melaksanakan kewajiban-kewajiban agama ; (4) larangan berbuatdosa ; (5)
balasandan
sanksi terhadapamal
perbuatan; (6)
perkawinan dan kehidupan rumah tangga ; (7) kewajiban mendidik anak ; (8) menghormati orang tuadan
menerima penghormatan darianak;(9)
pembagian hartapusaka;dan
(10)kepemimpinan.
2. Ayat-ayat
Al
Qur'an yang Terkesan Bias GenderWalau
pun
pada hakekatnya agama bertujuan membawa umatnyake
arah kesejahteraan lahir dan bathin, namun akibat kesalahpahaman terhadap metode tafsir atau pun karena mempertahankan staus quo dan mensahkan pola patriarkhi maka agama bisa memberikan inspirasi dan dorongan munculnya ketidakadilan gender.Di sisi lain kebudayaan mengajarkan kepada masyarakat untuk menempatkan perempuan sebagai manusia sekunder, seperti yang terjadi pada masyarakat Arab pra
lslam. Hal ini sebagaimana dinukil dalam
Al
Qur'an surat Al-Nahl/16:
58-59. Padaperkembangan selanjutnya, kebudayaan
tetap
mengajarkanuntuk
menempatkan perempuan pada posisi sekunder. Pemahaman ayat-ayatAl
Qur'an mentolerir pola ketidaksetaraan gender seperti pemahaman surat Al-Sajadahl32 : 9, surat Al-Hijr/15 : 2g, surat Shaad/38 '.72,
bahwa laki-laki dikesankan sebagai makhluk yang agung.Selain dari itu pandangan androsentris itu muncul dari persepsi teologis yang bermula dari anggapan bahwa perempuan diciptakan
dai
tulang rusuk Nabi Adam (Lembaga Alkitab lndonesia, 1 989).Dalam berbagai literatur terungkap bagaimana buruknya kedudukan hak-hak kaum perempuan sepanjang peradaban yang ada. Menurut Shihab (1996) bahwa
sejak
berabad-abadyang silam, bahkan hingga sekarang
perempuan sering menerima perlakuan kasar. Dari generasi ke generasi, perempuan sering dijadikan sebagai sasaran eksploitasi seksual, sering diperjualbelikan atau menjual diri sebagaigundik. Padahal ajaran lslam tidak pernah
membedakanantara
laki-laki dan perempuan.Ayat-ayat
Al
Qur'an yang terkesan bias gender dikemukakan oleh Zidni, dkk.(2001) adalah sebagai berikut :
a.
Dalam masalah perkawinan dan kehidupan suami istri dapat dilihat dalam surat An-nisaa'/4: 3, 15, 16,25,34, 35, dan
129. Selanjutnya dalam surat Al- baqaraht2 .. 223,228, dan 233. Disamping itu juga dapat ditemukan dalam surat Al-ahzab ayal28-
33.b.
Dalam masalahtalak dan
rujukserta
iddahdapat dilihat dalam
surat Al- baqarahl? : 228-237, serta 240-241 .c.
Dalam masalah hukum ila', dapat dilihat dalam Al-baqarahl? 226-227 -d.
Dalam masalah hukum li'an, dapat dilihat dalam surat An-nurl24 : 6-10.e.
Dalam masalah hukum dlihar, dapat dilihat dalam surat Al-Mujadalah/S8 : 1-3.serta surat Al-Azhab/33 : 3.
f.
Dalam masalah pembagian waris/harta pusaka dapat dilihat dalam surat An- nisaa'/4 : 11-12 dan 176.g.
Dalam masalah pakaian, dapat dilihat dalam surat Al-Ahzab/33 : 59.h.
Dalam masalah persaksian dapat dilihat dalam surat Al-Baqarahl2:282.i.
Dalam kehidupan sosial (bermasyarakat) dapat dilihat dalam surat Al-Ahzab/33 : 33, An-nurl24: 30-31, Ali lmran ayal14.D. Evaluasi/Tugas dan Latihan
1.
Jelaskanlah perspektif Agama lslam tentang konsep gender I2.
Analisalah apakah pemicu terjadinya bias gender dari ayat-ayat Al Qur'an !3.
ldentifikasilah ayat-ayat At Qur'an yang disinyalir mengandung bias gender !E. Sumber/referensi
1 . Lembaga Alkitab lndonesia. (1998). Atkitab. Jakarta : Lembaga Alkitab lndonesia.
Z.
Shihab, Quraish. (1996). WawasanAl Qulan :
Tafsir Maudh:
Atas'Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Mizan-3. Subhan, Zaitunah. (2005). Kesetaraan Gender dalam lslam. Makalah disampaikan dalam acara Sosialisasi Program Pemberdayaan Perempuan dan Anak oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan FKK-P3A Padang.
4.
Umar, Nasaruddin. (1999). Argumen KesetaraanJender:
PerspektifAl
Qufan.Jakarta : Paramadina.
5. Zidni, lrfan dkk. (2001).
lnventarisasi Ayat-ayatAl Qufan tentang
Gender.Kerjasama Kantor Mentri Pemberdayaan Perempuan dengan MUI DKI Jakarta.