dibandingkan perempuan
yang
memiliki pendidikanyang sama
dengan laki-laki tersebut.Demikiarr juga teori konflik, berdasarkan teori ini direkomendasikan bahwa isi kurikulum mengandung bias kultural yang kadangkala mendistrosi perempuan dan dimensi-dimensi kehidupen y=ng
pe:t::g b'::t p::3Tp'i::.
Di si:!!:in
d:p:+-di;:l:':k:':
bahwa paling tidak ada tiga macam paradigma yang biasa mewarnai gerak langkah
iernbaga pendidikan. Pertama, paradigma konservatif yang
menyebutkan ketidaksetaraan merupakan hukum alam dan oleh karen".ny" musta,hi! r-lntLtk dihindari.perubahan sociai bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan dengan serius. Menurut pa;.adigma
ini
menjadi miskin, tertindas, terpenjara adalahbuah dari
kesalahan mereka sendiri karena kelalaian mereka untuk belajardan
bekerja keras. Kedua, paradigrna liberal yang menganggap bahwa persoalan ekonomi politik tidak berkaitan la;.:gsung dengan pc;rdidikan. Oleh l<ai'e;'lanya usaha-usaha pemecahan persoalan pendidikanyang
dilakukanpada
umumnya berupa usaha-usaha reformasi yangbersifat
kosmetikseperti
pembangunankelas dan fasilitas baru,
memodernkan^^.a!1lna 6^La!1h -^^^^.r^^.'
!.:bOratO:'iUm ataU l<OmpUterdan
Sebagainya, yang-rC;;;;iU;i UUirvigilr' Yvrryuvqul r!
secara umum terisolasi dari sistem dan struktur ketidakadilan kelas, gender, dominasi budaya, dan represi politik yang ada dalam masyarakat. Pendidikan justru berfungsi
untuk mcnstabilkan no!'rna dan nilai inasyarakat, menjadi media
untukmensosialisasikan, dan memproduksi nilai-nilai tata susilaagar berfungsi dengan baik.
paradigma
ini apada
umumnya membangun kesadaran dimana pendidikan tidak ber.usaha mcmpcrtany-akan s.ystem dan strukrur, bahkan system dan struktur yang ada dianggap sudahbaik
alau given, dan oleh karenanya tidak perlu dipertanyakan(Fakih datam O'Neil,
2001).
Ketiga, paradigma kritis yang memandang pendidikan sebagai arena perjuangan politik. Pendidikan dengan paradigma ini mengagendakan^arrrhahan cfrrrkfirr c6.a2r.-a f'lnd:rnental di C=!am mAsyafakat. Bagi mefeka, kelaS dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. Untuk
itu urusan
pendidikanadalah
melakukan refleksikritis terhadap
ideologi yang dominantkea
rah transformasi sosial. Tugas utama pendidik adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan serta melakukan dekonstruksidan
advokasi menuju sistem socialyang lebih adil.
Paradigma inimengadopsi kesadaran
kritis dengan cara melatih anak didik untuk
mampu mengidentifikasikan segala bentuk ketidakadilan yang mengejewantah dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian melakukan analisis bagaii":iana sis'.c;rii dan struktilr itu bekerja serta bagaimana mentransformasikannya.Selanjutnya permasalahan gender dalam dunia pendidikan ciapat dilihat melalui empat halyaitu akses, partisipasi, penguasaa;'1, dar: ma;':faat. Yang d;;:':aksud a'tccs Ci sini adalah sulitnya anak perempuan untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena sekolah tersebut terletak jauh dari tempat tinggal mereka. Anak perempuan menjadi
"terpaksa" tinggal
di
rumah. Partisrpasi iii'lc;':;*a;':gkut faldor bldc;:g studi ,-ang Cimi::ct:dan statistic pendidikan itu sendiri. Umumnya yang terjadi streotip bahwa perempuan cenderung memilih sekola yang dekat dengan perannya sebagai seorang perempuan seperti menjadi guru,
juru
rawat, bidan, dan sebagain;-a. Tidak heran bila dalamstatistik
pendidikan bidang-bidangtersebut banyak ditempati oleh
perempuan.Sedangkan aspek penguasaan
dan
manfaat dalam proses pembelajaran terlihatmasih juga dipengaruhi oleh streotip gender. Proses pembelajaran yang dimaksud bias melalui pembelajaran, ilustrasi gambar, dan sebagainya.
Denga.n kendlsi tersebut diharapkan perurujudan kesetaraan
dan
keadilan gender dapat segera dilakukan baik melalui pendidikan sekolah maupun luar sekolah.Dengan
meningkatnya pendidikan diharapkankualitas
sumberdaya perempuan sennakin nneningkat pu!a. Dalam hal in! perempuan merupakan aset pembangunan yang potensial dan produktif.2. IJpaya Pemberdayaan Perempuan di Bidang Pendidikan
Sebenarnya perbincangan tentang pendidikan perempuan telah dimulai sejak
tahun
1970-an sejalan dengan lahirnya kritikdi
kalangan feminis terhadap model pembangunanyang
merugikan perempuan. Kritik yang dilancarkan kaum feminis te;'sebut ri:e;i'yatakan bahwa pendidikan perempuan mampu mengeliminir dampak negatif dari pembangunan ekonomi karena pendidikan paling tidak bisa menambah akses perempuan terhadap pasar kerja dan memperbaiki keahlian tertentu. Dengan kata lain pc;:Cidikanm.f,ipu
mc;':lcmbata;li pc;'masalahan yang dihadapi perempuan dalarndunia
pembangunan.Di sisi lain
pendidikanbagi
perempuan mempunyai dampak psikologisdalam hal
kesadaranyang lebih baik
dibandingkan laki-laki.Va^^Aaqan ii aini t,^.L^i+an :'f^llfn r:-alzlt Ll.:Ithl:
,a.-.v!.vs,q,, aJ, err,. yvr.rsiru,r vv,rvqrr r..v,\q!,.---fOfl pgrgmpUan yang lgbih bisa dikontrol atau dikelola dengan baik karena keterlibatannya di dunia pendidikan.
Perluasan
akses
perempuan terhadap pendidikantelah
menjadi kebijakan utamadi
bcbc;'apa i'iegarabe*embang
selama tiga dekade terakhir ini. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa pendidikan akan metransformasikan perempuandari
partisipandan
resipienpasif
menjadi aktor sekaligus konsumenaktif
dalam proses pembangunan. Mengingat pentingnya pemberdayaan perempuandi
bidang p=ndidik:n :3p3:'3ngkat prcgr?nn-p!'eg!'3r'n di bawah ini perlu mendapatkan perhatian.a.
Pengarusutamaan gender dalam pembangunan pendidikan dan peiatihan.b.
Penyiapanligkungan yang lebih kondusif untuk
kesetaraanakses
dan kesempatan mengikr-rti pendidikan bagi anak perempuan dan laki-laki.c.
Pengembangan kebijakan pendidikan yang berperspektif gender.d.
Pengarusutamaangender dalam tingkat partisipasi, kurikulum,
materi pelajaran, proses pembelajaran, dan pelaku pendidikan.e.
Penyediaaansistem
dukungansosial bagi
peningkatan kesempatan anak perempuan untuk mengikuti pendidikan lanjuta;'i, pendidil<an ilmu pctigetahua;:, dan teknologi serta kejuruan.f.
Peningkatan pengetahuan perempuan mengenai penerapan teknologi tepat guna yang berperspektif gendei'.D. Evaluasi/Tugas dan Latihan
Setelah mempelajari