• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENDER DAN PENDIDIKAN

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 119-124)

dibandingkan perempuan

yang

memiliki pendidikan

yang sama

dengan laki-laki tersebut.

Demikiarr juga teori konflik, berdasarkan teori ini direkomendasikan bahwa isi kurikulum mengandung bias kultural yang kadangkala mendistrosi perempuan dan dimensi-dimensi kehidupen y=ng

pe:t::g b'::t p::3Tp'i::.

Di si:!

!:in

d:p:+-

di;:l:':k:':

bahwa paling tidak ada tiga macam paradigma yang biasa mewarnai gerak langkah

iernbaga pendidikan. Pertama, paradigma konservatif yang

menyebutkan ketidaksetaraan merupakan hukum alam dan oleh karen".ny" musta,hi! r-lntLtk dihindari.

perubahan sociai bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan dengan serius. Menurut pa;.adigma

ini

menjadi miskin, tertindas, terpenjara adalah

buah dari

kesalahan mereka sendiri karena kelalaian mereka untuk belajar

dan

bekerja keras. Kedua, paradigrna liberal yang menganggap bahwa persoalan ekonomi politik tidak berkaitan la;.:gsung dengan pc;rdidikan. Oleh l<ai'e;'lanya usaha-usaha pemecahan persoalan pendidikan

yang

dilakukan

pada

umumnya berupa usaha-usaha reformasi yang

bersifat

kosmetik

seperti

pembangunan

kelas dan fasilitas baru,

memodernkan

^^.a!1lna 6^La!1h -^^^^.r^^.'

!.:bOratO:'iUm ataU l<OmpUter

dan

Sebagainya, yang

-rC;;;;iU;i UUirvigilr' Yvrryuvqul r!

secara umum terisolasi dari sistem dan struktur ketidakadilan kelas, gender, dominasi budaya, dan represi politik yang ada dalam masyarakat. Pendidikan justru berfungsi

untuk mcnstabilkan no!'rna dan nilai inasyarakat, menjadi media

untuk

mensosialisasikan, dan memproduksi nilai-nilai tata susilaagar berfungsi dengan baik.

paradigma

ini apada

umumnya membangun kesadaran dimana pendidikan tidak ber.usaha mcmpcrtany-akan s.ystem dan strukrur, bahkan system dan struktur yang ada dianggap sudah

baik

alau given, dan oleh karenanya tidak perlu dipertanyakan

(Fakih datam O'Neil,

2001).

Ketiga, paradigma kritis yang memandang pendidikan sebagai arena perjuangan politik. Pendidikan dengan paradigma ini mengagendakan

^arrrhahan cfrrrkfirr c6.a2r.-a f'lnd:rnental di C=!am mAsyafakat. Bagi mefeka, kelaS dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. Untuk

itu urusan

pendidikan

adalah

melakukan refleksi

kritis terhadap

ideologi yang dominant

kea

rah transformasi sosial. Tugas utama pendidik adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan serta melakukan dekonstruksi

dan

advokasi menuju sistem social

yang lebih adil.

Paradigma ini

mengadopsi kesadaran

kritis dengan cara melatih anak didik untuk

mampu mengidentifikasikan segala bentuk ketidakadilan yang mengejewantah dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian melakukan analisis bagaii":iana sis'.c;rii dan struktilr itu bekerja serta bagaimana mentransformasikannya.

Selanjutnya permasalahan gender dalam dunia pendidikan ciapat dilihat melalui empat halyaitu akses, partisipasi, penguasaa;'1, dar: ma;':faat. Yang d;;:':aksud a'tccs Ci sini adalah sulitnya anak perempuan untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena sekolah tersebut terletak jauh dari tempat tinggal mereka. Anak perempuan menjadi

"terpaksa" tinggal

di

rumah. Partisrpasi iii'lc;':;*a;':gkut faldor bldc;:g studi ,-ang Cimi::ct:

dan statistic pendidikan itu sendiri. Umumnya yang terjadi streotip bahwa perempuan cenderung memilih sekola yang dekat dengan perannya sebagai seorang perempuan seperti menjadi guru,

juru

rawat, bidan, dan sebagain;-a. Tidak heran bila dalam

statistik

pendidikan bidang-bidang

tersebut banyak ditempati oleh

perempuan.

Sedangkan aspek penguasaan

dan

manfaat dalam proses pembelajaran terlihat

masih juga dipengaruhi oleh streotip gender. Proses pembelajaran yang dimaksud bias melalui pembelajaran, ilustrasi gambar, dan sebagainya.

Denga.n kendlsi tersebut diharapkan perurujudan kesetaraan

dan

keadilan gender dapat segera dilakukan baik melalui pendidikan sekolah maupun luar sekolah.

Dengan

meningkatnya pendidikan diharapkan

kualitas

sumberdaya perempuan sennakin nneningkat pu!a. Dalam hal in! perempuan merupakan aset pembangunan yang potensial dan produktif.

2. IJpaya Pemberdayaan Perempuan di Bidang Pendidikan

Sebenarnya perbincangan tentang pendidikan perempuan telah dimulai sejak

tahun

1970-an sejalan dengan lahirnya kritik

di

kalangan feminis terhadap model pembangunan

yang

merugikan perempuan. Kritik yang dilancarkan kaum feminis te;'sebut ri:e;i'yatakan bahwa pendidikan perempuan mampu mengeliminir dampak negatif dari pembangunan ekonomi karena pendidikan paling tidak bisa menambah akses perempuan terhadap pasar kerja dan memperbaiki keahlian tertentu. Dengan kata lain pc;:Cidikan

m.f,ipu

mc;':lcmbata;li pc;'masalahan yang dihadapi perempuan dalarn

dunia

pembangunan.

Di sisi lain

pendidikan

bagi

perempuan mempunyai dampak psikologis

dalam hal

kesadaran

yang lebih baik

dibandingkan laki-laki.

Va^^Aaqan ii aini t,^.L^i+an :'f^llfn r:-alzlt Ll.:Ithl:

,a.-.v!.vs,q,, aJ, err,. yvr.rsiru,r vv,rvqrr r..v,\q!,.---fOfl pgrgmpUan yang lgbih bisa dikontrol atau dikelola dengan baik karena keterlibatannya di dunia pendidikan.

Perluasan

akses

perempuan terhadap pendidikan

telah

menjadi kebijakan utama

di

bcbc;'apa i'iegara

be*embang

selama tiga dekade terakhir ini. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa pendidikan akan metransformasikan perempuan

dari

partisipan

dan

resipien

pasif

menjadi aktor sekaligus konsumen

aktif

dalam proses pembangunan. Mengingat pentingnya pemberdayaan perempuan

di

bidang p=ndidik:n :3p3:'3ngkat prcgr?nn-p!'eg!'3r'n di bawah ini perlu mendapatkan perhatian.

a.

Pengarusutamaan gender dalam pembangunan pendidikan dan peiatihan.

b.

Penyiapan

ligkungan yang lebih kondusif untuk

kesetaraan

akses

dan kesempatan mengikr-rti pendidikan bagi anak perempuan dan laki-laki.

c.

Pengembangan kebijakan pendidikan yang berperspektif gender.

d.

Pengarusutamaan

gender dalam tingkat partisipasi, kurikulum,

materi pelajaran, proses pembelajaran, dan pelaku pendidikan.

e.

Penyediaaan

sistem

dukungan

sosial bagi

peningkatan kesempatan anak perempuan untuk mengikuti pendidikan lanjuta;'i, pendidil<an ilmu pctigetahua;:, dan teknologi serta kejuruan.

f.

Peningkatan pengetahuan perempuan mengenai penerapan teknologi tepat guna yang berperspektif gendei'.

D. Evaluasi/Tugas dan Latihan

Setelah mempelajari

materi ini

mahasiswa

diberi tugas untuk

mendalami berbagai persoalan gender dan pendidikan dengan menganalisis kasus-kasus relevan yang terjadi

di

lndonesia. Hasil analisis dituangkan dalam bentuk laporan berupa paper.

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 119-124)