• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENDER DAN HUKUM

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 111-119)

Selanjutnya

dapat

dikatakan

bahwa

hukum merupakan konstruksi sosial dimana seksualitas perempuan didefinisikan. Sebagai sebuah konstruksi sosial jelas b=h:^ra hukum tid=k

d:pat

nnernenuhi tuntutan akan keadilan, karena sejak semula ia dirumuskan berdasarkan suatu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dimana laki- laki dan perempuan didefinisikan secara berbeda tidak saja menurut jenis kelaminnya tapi juga menurut definisi sosialnya. Dalam kondisi seperti ini, hukum yang dilahirkan

tidak lebih

hanya sebagai suatu strategi untuk mempertahankan kekuasaan dari sebagian kecil orang yang menguasai berbagai sumber daya ekonomi, poiitik dan sosial budaya. Akibatnya, dalam pelaksanaannya hukum bermuka ganda dalam arti berdampak

berbeda pada laki-laki dan

perempuan

yang akhirnya

melahirkan

kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi tei'hadap kaum pci'Cfipua;':.

Temuan LBH APIK (1998) terhadap beberapa produk hukum yang diskriminatif dan tidak memperhatikan prinsip kesetaraan serta keadilan gender yaitu

:

Pertama,

GBHN mulai dari tahun 1978 sampai

1999. Kedua, pei'ailgkat

UU sepcrti

UU No.1/1g74

tentang

Perkawinan,

UU

No.2511998

tentang

Ketenagakerjaan, UU No.64/1958 tentang Kewarga-negraan dan KUHP bagian penganiayaan terhadap istri, bagian perkosaan dan perdagai'igai'i

pci'c;ipua;.

Kctiga, Pcratura;: Pcmcrii:tah ;-e:tu PP No.45/1990 tentang Perubahan atas PP No.10/1983 tentang lzin Perkawinan dan Perceraian. Keempaf, beberapa surat keputusan mentri

di

bidang ketenagakerjaan dan beberapa peraturan daerah. Dari kebijakan-keblial<a;i tei'sebut dapat dikatal<a:';

bahwa

Negara

se€ra khusus

menciptakan perangkat kebijakan

dan

organisasi dengan tujuan mendepolitisasi perempuan (Hadiz, 1998).

Terdapatnya produk hukum yang bias gender disebabkan karena perumus kebijakan

yang merancang produk hukum dan para penegak hukum

belum :rennahanni

penn:salahan gender, sehingga masih banyak

perempuan yang mengalami ketidakadilan perlakuan hukum. Dalam Deklarasi

PBB

tentang HAM ditegaskan bahwa manusia, perempuan dan laki-laki sejak dilahirkan membavra hak dan kebebasan dan martabat yang sama. Namun, persamaan hak, kebebasan dan martabat perempuan dan laki-laki belum sepenuhnya terujud.

Contoh lain terdapatnya produk hukum yang bias gender dikemukakan oleh Katjasungkana

(dalam

lhromi, 2000) bahwa pasal-pasal

yang ada

dalam hukum perdata

yang

berkaitan dengan perempuan didasarkan

pada

pandangan bahwa perempuan adalah lemah dan harus dilindung; oleh suanni;iy"a schi;':gEa ia pun ha;'us

selalu patuh pada kehendak suaminya. Pasal 105 KUH Perdata menyebutkan bahwa suami adalah kepala keluarga dan seorang istri tidak dapat tampil

di

muka hakim, tidak dapat membuat kontrak tanpa ba;ltua;r suami;ly'a. Pasal 1C9;ugc mc:rg;tc!:a;:

perempuan tidak dapat bertindak atas dirinya sendiri, tidak berhak atas pengurusan harta bersama dan wajib ikut suami.

Sementara itu dalam KUH Pidana khususn';a dclam kctcr:tuc;

!<ctc;tu:r.';c:g

berkaitan dengan perempuan tidak punya kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Pasal

285 KUH Pidana mengatur tentang perkosaan dengan asumsi yang dipakai adalah bahwa dalam hubungan seksual seorang istri harus selalu tunduk kcpada suami;':ya.

Karena

itu

seorang

istri tidak

dapat mengadukan suaminya

jika

terjadi hubungan seksual tanpa persetujuan. Contoh lain dalam pasal 297 KUH Pidana menganggap perempuan sama dengan anak laki-laki y"a;ig bclum dc',r'a:a ;"ang kura;lE atau bclun

bisa melindungi dirinya sendiri. Berbagai contoh di atas menjelaskan bahwa hukum

adalah konstruksi sosial dimana dalam

pengimplementa-sian

banyak

terjadi

dicl<i'iminasi dan eksploitasi terhadap perempuan.

2.

Langkah-langkah Pemberdayaan Perempuan di Bidang Hukum

persoalan berikutnya dalam mengkaji hubungan perempuan dan hukum adalah

*a^alalrnrra alzaaa alan lzaatral ^^r^--"^n -' -"'r ali hir{aaa h'j]'.U1n. S:tU COntOh adalah bahWa

hakim-hakim

yang

berjenis kelamin perempuan sangat sedikit.

Dari

data statistic gender diketahui bahwa jumlah hakim agung hanya 17o/o bila dibandingka dengan laki- laki (BpS, 2O0O). Menurut Moore (1996) sungguhpun perempuan yang dididik dalam profesi peradilan

pidana dan

profesi hukum meningkat, namun mereka tidaklah dengan mudah diserap ke dalam pasar tenaga kerja. Banyak perempuan ,-ang dididik dalam pelaksanaan UU, mendapatkan diri mereka sendiri tidak mampu memperoleh kedudukan dalam departemen kepolisian dan akhirnya bekerja sebagai pengatur lalu

lintas, keamanan, dan

pekerjaan-pekerjaa:i pengi;'iman

bcrita. Kodisi ini

juga

diperparah

oleh

budaya kerja dan diskriminasi structural

di

dalam bekerja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa polisi dan hakim dicap sebagai pekerja-pekerja yang keras dengan sifat maskulin. Hal ini tentu bcilc;ita:'lga;:

dai

pa:lCangat': masil:tc:'.at

atas sikap lemah

lembutnya perempuan. Diskriminasi struHural biasanya berupa penyingkiran atau menciptakan lingkungan kerja yang memusuhi perempuan- Belum lagi ditambah dengan upah (bayaran) yang bebeda antai'a perempuan dcngan !ak!

laki

Dengan demikian institusi hukum

memperkuat norma-norma kekuasaan patriarkhis,

karena melindungi

kapitalisme

serta

memperkuat

kelas, ras,

dan pr::a::gl,.a p:'esangka cultural. Diba',vah patriarkhi perempuan

tidak

punya otoritas dalam sistem hukum baik

itu

menentukan ukuran-ukuran sanksi bagi terdakwa dan

juga korban, memberikan

perlindungan

dan

memulihkan

kesehatan

mental.

S

:=': ::y:

t::'g

::t':

ng !'.:p:d

= s i:te:.n !=ki-!eki tidak ada pembed a.

Untuk mengatasi hal itu diperlukan langkah-langkah pemberdayaan perempuan di bidang hukum adalah :

a.

lr.4elakukan pen=taan sistem hukum nasional yang berperspektif perempuan.

Pendekatan hukum berperspektif perempuan muncul sekitar akhir tahun 1970- an dan merupakan salah satu aliran terpenting dalam pemikiran ilmu hukum.

Gagasan

dari

pendekatan hukum berperspektif perempuan

ini

bermula dari

suatu

asumsi

dasar

mengenai hubungan antara perempuan

dan

hukum.

Kenyataan menunjukkan

bahwa

hukum diinformasikaii

oleh

laki-lakt dan

bertujuan memperkokoh

hubungan-hubungan

sosial yang

patriarkhis.

Hubungan yang dimaksud adalah yang didasarkan pada norma, pengalaman dan kekuasaan laki-laki serta mengabarl<an pci:galama;': pc;'cmpuan. Dengan demikian, hukum dipandang telah menyumbang kepada penindasan terhadap

perempuan. Dengan kata lain

pendekatan

hukum yang

berperspektif perempuan mengacu kepada

suatu

bidang

teori,

pengajaran

dan

praktek

mengenai bagaimana hukum berdampak kepada perempuan. Adapun inti

gagasan hukum berperspektif perempuan meliputi beberapa

hal.

Pertama, mempersoalkan perempuan dalam hukum adalah mciigu;; apakah hul<um tclah

gagal memperhitungkan pengalaman perempuan, atau betapa standar ganda

dan konsep hukum telah

merugikan perempuan.

Kedua,

mempersoalkan pc;'cmpuan

dalam

hukum adalah dalam rangka menerapkan metode kritis

terhadap penerapan hukum.

Pendekatan

ini

selanjutnya mempersoaikan tentang implikasi gender dari hukum yang mengabaikan perempuan. Doing law

b:gi ::::::3 f:r::i: :d:!:h n:!ih:t:d::p:

di b:!!k pe:'umusan hukum-hukum tersebut, apa implikasi gender dari peraturan-peraturan hukum serta juga harus

mengamati asumsi-asumsi dalam memecahkan persoalan.

Ketiga, konseloarensi metodologis,

yaitu

digunakannya kasus-kasus pengalaman perempuan sebagai unit analisis untuk melihat hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Ciri ketiga ini yang menjadi ciri khas dari pendekatan hukum berperspektif perempuan. Sedangkan yang membedakannya dari aliran mainstream pada umumnya yaitu tidak berasal dari teori yang muluk-muluk, tetapi berdasarkan pengelaman-pengalaman pei'eiripua;i, melihat -haga;mana

perempuan dapat menikmati hak-hak dasarnya dan memperoleh perlindungan hukum. Berdasarkan pada pengalaman individual perempuan sehari-hari yang biasa dan kongkrit, kemudian dimuncull<a;'i bci'baga: pc;lgalamai': ,"ans Cianut bersama.

Weisberg (1997) mengatakan bahwa pendekatan hukum berperspektif perempuan mempunyai dua komponen utama yaitu : Peftama, eksploitasi dan kritik pada tataran teoritik terhadap interaksi antara hukum dan gender. Kedua,

adalah

penerapan analisis

dan

perspektif perempuan terhadap lapangan hukum

yang

kongkrit seperti keluarga, tempat

keila,

hal-hal yang bcrka:ta;;

dengan pidana, pornografi, kesehatan reproduksi,

dan

pelecehan seksual

dengan tujuan mengupayakan terjadinya reformasi dalam bidang hukum'

b.

Pc;:tngl'.atan l<ua;:t:tas pci'cmpuan scbagai aparat penegak hukum' Rendahnya kuantitas perempuan yang berkiprah

di

bidang hukum seharusnya menjaeii agenda penting bagi pemerintah untuk memberdayakan perempuan di biciang

ini

Ltanr_r3 ..-.,t-

Aanrra6 ..a!-3 Iamikia6 --lzq

j:::U:tl ''j:a --""'r'sir "'-'rg pC-':'::Selahan-pefmasalahanI perempuan

di

bidang hukum akan menjadi lebih baik dalam penerapan dan penafsirannya.

,:

paninnkar"n tenn?hsnnan sennua pihak dan penerapan UU No.7 tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan.

d.

penyusunan program

aksi

nasional penghapusan segala

tindak

kekerasan terhadap PeremPUan.

e. Peningkatan

perlindungan, penghormatan,

dan penegakan HAM

bagi

perempuan dalam seluruh aspek kehidupan-

f.

pembentukan

Pusat

Rehabilitasi Keluarga

bagi

perempuan korban tindak kekerasan.

g.

Peningkatan kesadaran masyarakat.

t^lel

gendei'

bag;

h.

perlindungan anak perempuan dari eksplotasi seksual komersial dan tindak kekerasan.

D. Evaluasiffugas dan Latihan

Setelah mempela.iari

materi ini

mahasiswa

diberi tugas untuk

mendalami berbagai persoalan gender

dan

hukum dengan menganalisis kasus-kasus relevan

hukum,

kesetaraan

dan

kead

yang terjadi

di

lndonesia. Hasil analisis dituangkan dalam bentuk laporan berupa paper

E. Sumber

1.

Murniati, Nunuk. (2004). Perempuan lndonesia

dalam

Perspektif

Sostal

Politik, Ekanani, llukum, dan HAM. Magelang : lndonesiatera'

2. Ollenburger, Jane C. & Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta : Rineka Cipta.

3.

Soewondo,

Nani. (1984).

Kedudukan

Wanita

lndonesia

dalam Hukum

dan Masyarakaf. Jakarta : Ghalia lndonesia.

4. --.

(2002). Bagaimana Mengatasi Keseniangan Gender. Jakarta

:

Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik lndonesia.

S.

--.

(2001). Fakta, Data dan lnformasi Keseniangan Gender

di

lndonesra. Jakarta

: United Nation

Population

Fund,

Kementrian Pemberdayaan Perempuan R.epublik lnclonesia, dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.

Dalam dokumen perspekttf gender - Repository UNP (Halaman 111-119)