Selanjutnya
dapat
dikatakanbahwa
hukum merupakan konstruksi sosial dimana seksualitas perempuan didefinisikan. Sebagai sebuah konstruksi sosial jelas b=h:^ra hukum tid=kd:pat
nnernenuhi tuntutan akan keadilan, karena sejak semula ia dirumuskan berdasarkan suatu ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dimana laki- laki dan perempuan didefinisikan secara berbeda tidak saja menurut jenis kelaminnya tapi juga menurut definisi sosialnya. Dalam kondisi seperti ini, hukum yang dilahirkantidak lebih
hanya sebagai suatu strategi untuk mempertahankan kekuasaan dari sebagian kecil orang yang menguasai berbagai sumber daya ekonomi, poiitik dan sosial budaya. Akibatnya, dalam pelaksanaannya hukum bermuka ganda dalam arti berdampakberbeda pada laki-laki dan
perempuanyang akhirnya
melahirkankekerasan, eksploitasi dan diskriminasi tei'hadap kaum pci'Cfipua;':.
Temuan LBH APIK (1998) terhadap beberapa produk hukum yang diskriminatif dan tidak memperhatikan prinsip kesetaraan serta keadilan gender yaitu
:
Pertama,GBHN mulai dari tahun 1978 sampai
1999. Kedua, pei'ailgkatUU sepcrti
UU No.1/1g74tentang
Perkawinan,UU
No.2511998tentang
Ketenagakerjaan, UU No.64/1958 tentang Kewarga-negraan dan KUHP bagian penganiayaan terhadap istri, bagian perkosaan dan perdagai'igai'ipci'c;ipua;.
Kctiga, Pcratura;: Pcmcrii:tah ;-e:tu PP No.45/1990 tentang Perubahan atas PP No.10/1983 tentang lzin Perkawinan dan Perceraian. Keempaf, beberapa surat keputusan mentridi
bidang ketenagakerjaan dan beberapa peraturan daerah. Dari kebijakan-keblial<a;i tei'sebut dapat dikatal<a:';bahwa
Negarase€ra khusus
menciptakan perangkat kebijakandan
organisasi dengan tujuan mendepolitisasi perempuan (Hadiz, 1998).Terdapatnya produk hukum yang bias gender disebabkan karena perumus kebijakan
yang merancang produk hukum dan para penegak hukum
belum :rennahannipenn:salahan gender, sehingga masih banyak
perempuan yang mengalami ketidakadilan perlakuan hukum. Dalam DeklarasiPBB
tentang HAM ditegaskan bahwa manusia, perempuan dan laki-laki sejak dilahirkan membavra hak dan kebebasan dan martabat yang sama. Namun, persamaan hak, kebebasan dan martabat perempuan dan laki-laki belum sepenuhnya terujud.Contoh lain terdapatnya produk hukum yang bias gender dikemukakan oleh Katjasungkana
(dalam
lhromi, 2000) bahwa pasal-pasalyang ada
dalam hukum perdatayang
berkaitan dengan perempuan didasarkanpada
pandangan bahwa perempuan adalah lemah dan harus dilindung; oleh suanni;iy"a schi;':gEa ia pun ha;'usselalu patuh pada kehendak suaminya. Pasal 105 KUH Perdata menyebutkan bahwa suami adalah kepala keluarga dan seorang istri tidak dapat tampil
di
muka hakim, tidak dapat membuat kontrak tanpa ba;ltua;r suami;ly'a. Pasal 1C9;ugc mc:rg;tc!:a;:perempuan tidak dapat bertindak atas dirinya sendiri, tidak berhak atas pengurusan harta bersama dan wajib ikut suami.
Sementara itu dalam KUH Pidana khususn';a dclam kctcr:tuc;
!<ctc;tu:r.';c:g
berkaitan dengan perempuan tidak punya kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Pasal285 KUH Pidana mengatur tentang perkosaan dengan asumsi yang dipakai adalah bahwa dalam hubungan seksual seorang istri harus selalu tunduk kcpada suami;':ya.
Karena
itu
seorangistri tidak
dapat mengadukan suaminyajika
terjadi hubungan seksual tanpa persetujuan. Contoh lain dalam pasal 297 KUH Pidana menganggap perempuan sama dengan anak laki-laki y"a;ig bclum dc',r'a:a ;"ang kura;lE atau bclunbisa melindungi dirinya sendiri. Berbagai contoh di atas menjelaskan bahwa hukum
adalah konstruksi sosial dimana dalam
pengimplementa-sianbanyak
terjadidicl<i'iminasi dan eksploitasi terhadap perempuan.
2.
Langkah-langkah Pemberdayaan Perempuan di Bidang Hukumpersoalan berikutnya dalam mengkaji hubungan perempuan dan hukum adalah
*a^alalrnrra alzaaa alan lzaatral ^^r^--"^n -' -"'r ali hir{aaa h'j]'.U1n. S:tU COntOh adalah bahWa
hakim-hakim
yang
berjenis kelamin perempuan sangat sedikit.Dari
data statistic gender diketahui bahwa jumlah hakim agung hanya 17o/o bila dibandingka dengan laki- laki (BpS, 2O0O). Menurut Moore (1996) sungguhpun perempuan yang dididik dalam profesi peradilanpidana dan
profesi hukum meningkat, namun mereka tidaklah dengan mudah diserap ke dalam pasar tenaga kerja. Banyak perempuan ,-ang dididik dalam pelaksanaan UU, mendapatkan diri mereka sendiri tidak mampu memperoleh kedudukan dalam departemen kepolisian dan akhirnya bekerja sebagai pengatur lalulintas, keamanan, dan
pekerjaan-pekerjaa:i pengi;'imanbcrita. Kodisi ini
jugadiperparah
oleh
budaya kerja dan diskriminasi structuraldi
dalam bekerja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa polisi dan hakim dicap sebagai pekerja-pekerja yang keras dengan sifat maskulin. Hal ini tentu bcilc;ita:'lga;:dai
pa:lCangat': masil:tc:'.atatas sikap lemah
lembutnya perempuan. Diskriminasi struHural biasanya berupa penyingkiran atau menciptakan lingkungan kerja yang memusuhi perempuan- Belum lagi ditambah dengan upah (bayaran) yang bebeda antai'a perempuan dcngan !ak!laki
Dengan demikian institusi hukum
memperkuat norma-norma kekuasaan patriarkhis,karena melindungi
kapitalismeserta
memperkuatkelas, ras,
dan pr::a::gl,.a p:'esangka cultural. Diba',vah patriarkhi perempuantidak
punya otoritas dalam sistem hukum baikitu
menentukan ukuran-ukuran sanksi bagi terdakwa danjuga korban, memberikan
perlindungandan
memulihkankesehatan
mental.S
:=': ::y:
t::'g::t':
ng !'.:p:d= s i:te:.n !=ki-!eki tidak ada pembed a.
Untuk mengatasi hal itu diperlukan langkah-langkah pemberdayaan perempuan di bidang hukum adalah :
a.
lr.4elakukan pen=taan sistem hukum nasional yang berperspektif perempuan.Pendekatan hukum berperspektif perempuan muncul sekitar akhir tahun 1970- an dan merupakan salah satu aliran terpenting dalam pemikiran ilmu hukum.
Gagasan
dari
pendekatan hukum berperspektif perempuanini
bermula darisuatu
asumsidasar
mengenai hubungan antara perempuandan
hukum.Kenyataan menunjukkan
bahwa
hukum diinformasikaiioleh
laki-lakt danbertujuan memperkokoh
hubungan-hubungansosial yang
patriarkhis.Hubungan yang dimaksud adalah yang didasarkan pada norma, pengalaman dan kekuasaan laki-laki serta mengabarl<an pci:galama;': pc;'cmpuan. Dengan demikian, hukum dipandang telah menyumbang kepada penindasan terhadap
perempuan. Dengan kata lain
pendekatanhukum yang
berperspektif perempuan mengacu kepadasuatu
bidangteori,
pengajarandan
praktekmengenai bagaimana hukum berdampak kepada perempuan. Adapun inti
gagasan hukum berperspektif perempuan meliputi beberapa
hal.
Pertama, mempersoalkan perempuan dalam hukum adalah mciigu;; apakah hul<um tclahgagal memperhitungkan pengalaman perempuan, atau betapa standar ganda
dan konsep hukum telah
merugikan perempuan.Kedua,
mempersoalkan pc;'cmpuandalam
hukum adalah dalam rangka menerapkan metode kritisterhadap penerapan hukum.
Pendekatanini
selanjutnya mempersoaikan tentang implikasi gender dari hukum yang mengabaikan perempuan. Doing lawb:gi ::::::3 f:r::i: :d:!:h n:!ih:t:d::p:
di b:!!k pe:'umusan hukum-hukum tersebut, apa implikasi gender dari peraturan-peraturan hukum serta juga harusmengamati asumsi-asumsi dalam memecahkan persoalan.
Ketiga, konseloarensi metodologis,yaitu
digunakannya kasus-kasus pengalaman perempuan sebagai unit analisis untuk melihat hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Ciri ketiga ini yang menjadi ciri khas dari pendekatan hukum berperspektif perempuan. Sedangkan yang membedakannya dari aliran mainstream pada umumnya yaitu tidak berasal dari teori yang muluk-muluk, tetapi berdasarkan pengelaman-pengalaman pei'eiripua;i, melihat -haga;manaperempuan dapat menikmati hak-hak dasarnya dan memperoleh perlindungan hukum. Berdasarkan pada pengalaman individual perempuan sehari-hari yang biasa dan kongkrit, kemudian dimuncull<a;'i bci'baga: pc;lgalamai': ,"ans Cianut bersama.
Weisberg (1997) mengatakan bahwa pendekatan hukum berperspektif perempuan mempunyai dua komponen utama yaitu : Peftama, eksploitasi dan kritik pada tataran teoritik terhadap interaksi antara hukum dan gender. Kedua,
adalah
penerapan analisisdan
perspektif perempuan terhadap lapangan hukumyang
kongkrit seperti keluarga, tempatkeila,
hal-hal yang bcrka:ta;;dengan pidana, pornografi, kesehatan reproduksi,
dan
pelecehan seksualdengan tujuan mengupayakan terjadinya reformasi dalam bidang hukum'
b.
Pc;:tngl'.atan l<ua;:t:tas pci'cmpuan scbagai aparat penegak hukum' Rendahnya kuantitas perempuan yang berkiprahdi
bidang hukum seharusnya menjaeii agenda penting bagi pemerintah untuk memberdayakan perempuan di biciangini
Ltanr_r3 ..-.,t-Aanrra6 ..a!-3 Iamikia6 --lzq
j:::U:tl ''j:a --""'r'sir "'-'rg pC-':'::Selahan-pefmasalahanI perempuandi
bidang hukum akan menjadi lebih baik dalam penerapan dan penafsirannya.,:
paninnkar"n tenn?hsnnan sennua pihak dan penerapan UU No.7 tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan.d.
penyusunan programaksi
nasional penghapusan segalatindak
kekerasan terhadap PeremPUan.e. Peningkatan
perlindungan, penghormatan,dan penegakan HAM
bagiperempuan dalam seluruh aspek kehidupan-
f.
pembentukanPusat
Rehabilitasi Keluargabagi
perempuan korban tindak kekerasan.g.
Peningkatan kesadaran masyarakat.t^lel
gendei'
bag;h.
perlindungan anak perempuan dari eksplotasi seksual komersial dan tindak kekerasan.D. Evaluasiffugas dan Latihan
Setelah mempela.iari
materi ini
mahasiswadiberi tugas untuk
mendalami berbagai persoalan genderdan
hukum dengan menganalisis kasus-kasus relevanhukum,
kesetaraandan
keadyang terjadi
di
lndonesia. Hasil analisis dituangkan dalam bentuk laporan berupa paperE. Sumber
1.
Murniati, Nunuk. (2004). Perempuan lndonesiadalam
PerspektifSostal
Politik, Ekanani, llukum, dan HAM. Magelang : lndonesiatera'2. Ollenburger, Jane C. & Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta : Rineka Cipta.
3.
Soewondo,Nani. (1984).
KedudukanWanita
lndonesiadalam Hukum
dan Masyarakaf. Jakarta : Ghalia lndonesia.4. --.
(2002). Bagaimana Mengatasi Keseniangan Gender. Jakarta:
Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik lndonesia.S.