3
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
36
peningkatan dan pada tahun 2018 nilainya mencapai 90,99, meningkat sebesar 0,03 poin dibanding tahun 2017. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi peningkatan ini terjadi secara terus-menerus sejak tahun 2010.
Perempuan Lebih Berumur Panjang
Pada aspek kesehatan, nilai umur harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal sangat terkait dengan female advantages (FA), terutama faktor biologis dan tingkah laku atau kebiasaan dari setiap gender.
Berdasarkan pada Lemaire (2002), secara biologis perempuan memiliki gen dan hormon yang menguntungkan untuk hidup lebih lama. Sedangkan dari segi gaya hidup, laki-laki lebih memiliki risiko kematian yang lebih tinggi karena stres, kebiasaan merokok, dan pekerjaan berat. Namun demikian, secara praktik di beberapa wilayah, female advantages lebih kecil sebagai akibat tindakan diskriminasi, kekerasan, dan budaya yang menyebabkan rendahnya peluang akses perempuan dalam bidang kesehatan.
Dalam pengukuran IPM, indeks kesehatan dipengaruhi oleh nilai minimum dan maksimum yang bisa dicapai. Nilai maksimum umur harapan hidup (UHH) laki-laki adalah 82,5 tahun sedangkan bagi perempuan 87,5 tahun.
Sedangkan untuk nilai minimum UHH laki-laki dan perempuan masing- masing adalah 17,5 dan 22,5 tahun. Angka tersebut mengikuti standar yang ditetapkan UNDP.
Berdasarkan pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) oleh Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 UHH laki-laki adalah 69,30 dan nilai untuk perempuan adalah sebesar 73,19. Sejak tahun 2010 nilai UHH perempuan dan laki-laki setiap tahunnya mengalami peningkatan yang berarti bahwa tingkat kesejahteraan dan pembangunan perempuan dan laki-laki mengalami Gambar 3.1 Perkembangan IPM Perempuan, IPM Laki-laki, IPM, dan
IPG, 2010-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik
63,43 63,96 64,83 65,56 66,27 66,98 67,44 68,08 68,63 70,94 71,45 71,98 72,69 73,36 73,58 74,26 74,85 75,43 66,53 67,09 67,70 68,31 68,90 69,55 70,18 70,81 71,39 89,42 89,52 90,07 90,19 90,34 91,03 90,82 90,96 90,99
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
IPM Perempuan IPM Laki-laki IPM IPG
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
37
perbaikan. Di sisi yang lain, selisih UHH antara perempuan dan laki-laki di Indonesia setiap tahunnya mengalami penurunan, yang mengidikasikan hahwa suatu saat nanti fenomena female advantages bias jadi tidak lagi muncul di Indonesia.
Gambar 3.2 Perkembangan Umur Harapan Hidup (UHH) Menurut Jenis Kelamin, 2010-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik
67,89 68,09 68,29 68,49 68,87 68,93 69,09 69,16 69,3 71,83 72,02 72,22 72,41 72,60 72,78 72,80 73,06 73,19
69,81 70,01 70,20 70,40 70,59 70,78 70,90 71,06 71,20
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
UHH Laki-laki UHH Perempuan UHH Total
Meskipun UHH perempuan lebih besar dari laki-laki, namun dari aspek kesehatan yang lain seperti morbiditas dan keluhan kesehatan, perempuan masih di atas laki-laki, sehingga dapat dikatakan bahwa meskipun perempuan memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, tetapi perempuan lebih rentan dalam mengalami sakit. Hal ini terkait dengan karakter fisik perempuan yang secara umum lebih lemah dibandingkan laki-laki.
Gambar 3.3 Perbandingan Indikator Kesehatan Menurut Jenis Kelamin, 2018
Sumber : Badan Pusat Statistik 13,46
29,36
46,78
14,36
32,58
50,37
Angka Kesakitan Persentase penduduk yang
mengalami keluhan kesehatan Persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan
dan berobat jalan Laki-laki Perempuan
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
38
Tiada Lagi Perbedaan Peluang Sekolah Antara Perempuan dan Laki-laki Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu investasi yang dilakukan pemerintah dalam membangun negara. Tingkat pendidikan yang baik akan mengarahkan suatu negara menuju kondisi yang lebih baik. Karena itu, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam pembangunan.
Todaro (2006) mengemukakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. Pendidikan adalah hal pokok untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga, karena pendidikan adalah hal yang fundamental untuk membentuk kapabilitas manusia yang lebih luas dan berada pada inti makna pembangunan. Pendidikan juga memainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan berkelanjutan (Sri Endang, 2010).
Salah satu statistik yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan suatu negara adalah harapan lama sekolah (HLS) penduduk usia 7 tahun keatas. HLS juga menjadi gambaran tentang keberhasilan pembangunan pendidikan. Pada tahun 2018 HLS perempuan adalah 12,99 tahun dan laki- laki sebesar 12,84 persen. Dengan nilai pencapaian yang relatif hampir sama, mengindikasikan bahwa kesetaraan pembangunan dalam aspek pendidikan dapat diwujudkan secara merata dalam waktu yang tidak lama.
Selain menggunakan angka HLS, kualitas pendidikan suatu negara juga dapat diukur dengan angka putus sekolah. Angka ini menggambarkan proporsi anak menurut kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. Adapun kelompok umur yang dimaksud adalah kelompok umur 7-12 tahun, 13-15 Gambar 3.4 Perkembangan Harapan Lama Sekolah (HLS) Menurut
Jenis Kelamin, 2010-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik 11,20 11,41 11,63
12,07
12,37 12,42 12,67 12,78 12,84 11,37 11,56 11,75
12,13 12,40
12,68 12,79 12,93 12,99
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
HLS Laki-laki HLS Perempuan HLS Total
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
39
tahun dan 16-18 tahun. Angka ini bermanfaat untuk mengukur kemajuan pembangunan di bidang pendidikan serta keterjangkauan pendidikan dan pemerataan pendidikan pada masing-masing kelompok umur (7-12, 13-15, dan 16-18 tahun).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018, angka putus sekolah di jenjang SD/sederajat, SMP/sederajat dan SMA/sederajat pada perempuan lebih rendah dari angka laki-laki. Tingginya angka putus sekolah ini bersesuaian dengan angka harapan sekolah, dimana angka harapan lama sekolah yang rendah diikuti dengan angka pputus sekolah yang juga tinggi.
Alasan tingginya angka putus sekolah pada laki-laki terkait dengan kebiasan di masyarakat yang mendorong anak laki-laki untuk bekerja di usia muda demi membantu perekonomian orang tuannya.
Tingginya angka putus sekolah juga tidak terlepas dari banyaknya pekerja anak. Hal ini terkait dengan banyaknya anak yang berperan membantu orang tuanya dalam mendukung ekonomi keluarga. Berdasarkan data SUSENAS oleh BPS tahun 2018, pekerja anak di Indonesia masih didominasi oleh anak Gambar 3.5 Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan, 2018
Sumber : Badan Pusat Statistik 0,59
2,17
3,19
0,44
1,15
2,69
SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat
Laki-laki Perempuan
Gambar 3.6 Persentase Pekerja Anak, 2016-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik
8,21 8,73
5,71 5,63
2016 2017 2018
Laki-laki Perempuan
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
40
laki-laki dan jumlahnya juga meningkat. Pada tahun 2016 persentase pekerja anak laki-laki adalah sebesar 8,21 persen dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 8,73 persen.
Lama Sekolah Perempuan Masih Perlu Ditingkatkan
Salah satu ukuran capaian pada bidang pendidikan adalah rata-rata lama sekolah, berbeda dengan harapan lama sekolah yang memperlihatkan capaian jangka pendek, rata-rata lama sekolah menggambarkan capaian pendidikan jangka panjang. Rata-rata lama sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk laki-laki dan perempuan usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 rata-rata pendidikan laki–laki sekitar 1 tahun lebih lama dibandingkan perempuan. Pada tahun 2018, rata-rata pendidikan yang dijalani oleh laki-laki adalah sekitar 8,62
tahun, sedangkan perempuan 7,72 tahun.
Selain rata-rata lama sekolah, ukuran lain yang dapat mengindikasikan kesetaraan gender dalam aspek pendidikan adalah rasio angka partisipasi sekolah (APS) perempuan terhadap laki-laki. Angka partsipasi sekolah didefinisikan sebagai proporsi dari semua anak yang masih sekolah pada suatu kelompok umur tertentu terhadap penduduk dengan kelompok umur yang sesuai. Rasio APS menunjukkan perbandingan antara partisipasi perempuan dan laki-laki, semakin mendekati nilai 100 maka perbandingannya semakin setara.
Berdasarkan data statistik kesejahteraan rakyat dari BPS, pada tahun 2018 rasio APS kelompok umur 7-12 tahun telah mencapai angka 100 yang Gambar 3.7 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Menurut
Jenis Kelamin, 2010-2018
Sumber : Sakernas, Badan Pusat Statistik
7,91 7,98 8,06 8,14 8,24 8,35 8,41 8,56 8,62
6,89 6,96 7,03 7,09 7,23 7,35 7,50 7,65 7,72
7,46 7,52 7,59 7,61 7,73 7,84 7,95 8,10 8,17
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki Perempuan Total
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
41
menunjukkan bahwa kesetaraan dalam aspek pendidikan antara laki-laki dan perempuan telah tercapai. Sementara pada kelompok umur 13-15 dan 16-18 tahun, rasio APS berada di atas 100 yang menunjukkan bahwa pada kelompok ini rata-rata lama sekolah perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
Perekonomian Masih Didominasi Laki-laki
Kesetaraan gender juga dapat dilihat dari ada tidaknya perbedaan capaian perempuan dan laki-laki dalam perekonomian. Dalam konteks kesetaraan gender, indikator yang dapat menunjukan ada tidaknya perbedaan adalah data upah dan pendapatan perkapita. Namun karena masalah ketersediaan data upah dan pendapatan perkapita, maka indikator ini kemudian digantikan dengan data pengeluaran perkapita yang disesuaikan sebagai proksi.
Selama periode 2010 hingga 2018, nilai pengeluaran perkapita yang disesuaikan perempuan selalu jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki (Gambar 3.9). Pada tahun 2018 pengeluaran perkapita yang disesuaikan perempuan adalah sebesar 9,04 juta rupiah, sedangkan pengeluaran perkapita yang disesuaikan laki-laki adalah sebesar 15,55 juta rupiah.
Rendahnya capian perempuan dalam ekonomi salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan perempuan dalam memasuki pasar tenaga kerja di lapangan usaha tertentu yang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja laki-laki, seperti pada pertambangan dan penggalian, listrik, gas dan air, serta angkutan, pergudangan dan komunikasi. Lapangan usaha yang masih didominasi oleh laki-laki tersebut memiliki tingkat produktivitas yang relatif tinggi dibanding lapangan usaha lainnya.
Gambar 3.8 Rasio Angka Partisipasi Sekolah (APS) Perempuan Terhadap Laki-laki Menurut Kelompok Umur, 2010-2018
Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat 2018, BPS 100,59
100,46
100,41 100,41 100,20 100,13 100,07 100,18 100,10 102,65 102,98 102,56 102,25 101,72
101,32 102,30
101,55 101,85
96,94
99,07
100,46 100,94 101,17
103,67 103,58
101,61
102,90
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
7-12 13-15 16-18
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
42
Kesenjangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki juga dapat dilihat dari rasio pengeluaran perempuan dan laki-laki. Semakin nilainya mendekati satu, dapat diartikan bahwa pengeluaran perkapita perempuan dan laki-laki semakin mendekati kondisi yang seimbang.
Selama kurun waktu tahun 2010 hingga 2018, nilai rasio pengeluaran perkapita perempuan terhadap laki-laki selalu berada di kisaran antara 0,546 hingga 0,58. Rendahnya tingkat pengeluaran perempuan menjadi indikasi rendahnya kesejahteraan perempuan. Rasio ini memiliki kecenderungan untuk meningkat, namun peningkatannya relatif lambat. Meskipun hal ini mengindikasikan bahwa untuk mencapai kondisi yang seimbang masih dibutuhkan waktu yang panjang, tetapi peningkatan ini setidaknya menjadi sinyal positif bahwa perkembangannya sudah berada pada jalur yang benar, tinggal ditambahkan berbagai upaya untuk mempercepat pencapaiannya.
Gambar 3.9 Perkembangan Pengeluaran Perkapita yang Disesuaikan Menurut Jenis Kelamin (Ribuan Rupiah), 2010-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
13.856 13.984 14.113 14.132 14.150 14.163 14.554 14.932 15.546
7.571 7.688 8.063 8.189 8.316 8.464 8.591 8.752 9.042 9.437 9.647 9.815 9.858 9.903 10.150 10.420 10.664 11.059
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki Perempuan Total
Gambar 3.10 Rasio Pengeluaran Perkapita Perempuan Terhadap Laki- laki, 2010-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik 0,546 0,550
0,571 0,580 0,588 0,598 0,590 0,586 0,582
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
43
Selain pengeluaran, salah satu penghitungan yang dapat melihat adanya ketimpangan gender dalam ekonomi adalah upah yang diterima pekerja perempuan dan laki-laki. Secara rata-rata, upah pekerja perempuan selama 5 tahun terakhir masih berada di bawah upah laki-laki. Pada tahun 2018 upah pekerja perempuan adalah sebesar Rp. 2,178 juta, selisih sebesar Rp. 560 ribu lebih rendah dibandingkan upah laki-laki. Jika dibandingkan dengan selisih upah pada lima tahun lalu, selisih nilai ini telah meningkat hampir Rp. 200 ribu (selisih upah pada tahun 2014 adalah sebesar Rp. 378 ribu).
Sementara itu, apabila ditinjau dari rasio upah, perbandingan antara upah pekerja perempuan dan laki-laki pada periode 2014-2018 berada pada kisaran 0,79 hingga 0,86 dan pada tahun 2018 berada pada posisi 0,80. Angka ini relatif tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan sama dengan kondisi tahun 2014. Hal ini menunjukan bahwa perbandingan upah pekerja perempuan dan laki-laki mengalami stagnansi dengan perbedaan yang cukup besar dan relatif masih jauh untuk menuju keseimbangan yang ideal.
Tabel 3.1 Rata-rata Upah Pekerja dalam Sebulan Menurut Jenis Kelamin (dalam ribu rupiah), 2014-2018
Tahun Upah Pekerja
Rasio P/L Laki-laki Perempuan
2014 1868,2 1490,2 0,80
2015 1944,3 1675,3 0,86
2016 2435,6 1977,2 0,81
2017 2624,3 2070,3 0,79
2018 2738,7 2178,1 0,80
Ketimpangan Pembangunan Gender Masih Terjadi Antarwilayah
Pembangunan yang merata antar wilayah merupakan salah satu tujuan dari otonomi daerah. Pembangunan yang terjadi di Indonesia tidak hanya terfokus pada cakupan nasional tapi juga memperhitungkan disparitas yang terjadi antar wilayah. Pada kasus Indonesia, perbandingan pembangunan di wilayah timur (KTI) dan barat (KBI) memiliki perbedaan yang cukup signifikan, baik dari segi potensi wilayah, sumber daya manusia, infrastruktur, budaya, dan berbagai karakteristik lainnya, dimana wilayah barat lebih maju dibandingkan wilayah timur.
Ketimpangan yang terjadi antara dua wilayah ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah akses pembangunan (geografi) di wilayah timur yang relatif lebih sulit untuk dijangkau dan masih terkonsentrasinya sumber
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
44
daya manusia yang berkualitas di daerah barat. Di satu sisi daerah KTI sebenarnya sangat kaya akan sumber daya alam, tetapi kondisi ini belum ditunjan dengan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mecukupi sehingga sumber daya alam yang ada belum dapat termanfaatkan dengan maksimal.
Lebih dari setengah (10 provinsi) di wilayah KTI secara total (laki-laki dan perempuan) memiliki capaian pembangunan masusia pada kategori sedang dan terdapat sebanyak 7 provinsi yang berada di kategori tinggi.
Hal ini berbeda dengan wilayah KBI yang sebagian besar provinsinya (14 provinsi) berada di kategori tinggi, bahkan ada satu provinsi yang berada dikategori sangat tinggi. Secara keseluruhan Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, capaian pembangunan manusia di Indonesia secara keseluruhan telah mengalami peningkatan sehingga pada tahun 2018 tidak ada lagi provinsi yang berada pada kategori rendah.
Apabila ditinjau berdasarkan gender, terlihat bahwa IPM laki-laki di KTI dan KBI pada tahun 2018 banyak yang berada di kategori tinggi dan bahkan di 2 provinsi KBI dan 1 provinsi di KTI capaian IPM sudah barada di kategori sangat tinggi (Tabel 3.2). Hal ini berkebalikan dengan capaian IPM perempuan, dimana capaiannya di banyak provinsi masih berada pada kategori sedang dan bahkan di 2 provinsi di KTI masih berada di kategori rendah.
Tabel 3.2 Jumlah Provinsi di KBI dan KTI Menurut Jenis Kelamin dan Status Pembangunan Manusia, 2017 dan 2018 Jenis Kelamin Kategori IPM 2017 2018
KBI KTI KBI KTI Laki-laki
Rendah 0 0 0 0
Sedang 0 4 0 3
Tinggi 15 12 15 13
Sangat Tinggi 2 1 2 1
Perempuan
Rendah 0 2 0 2
Sedang 12 14 12 14
Tinggi 5 1 5 1
Sangat Tinggi 0 0 0 0
Laki-laki + Perempuan
Rendah 0 1 0 0
Sedang 5 13 2 10
Tinggi 11 3 14 7
Sangat Tinggi 1 0 1 0
Capaian perbandingan antara pembangunan perempuan dan laki-laki tercermin dari indeks pembangunan gender (IPG). Pada tahun 2018, IPG Indonesia berada pada angka 90,99. Pada level provinsi, nilai IPG tertinggi
Sumber: Badan Pusat Statistik
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
45
dicapai oleh Provinsi Sulawesi Utara dengan nilai IPG sebesar 94,79, sedangkan IPG terrendah dicapi oleh Provinsi Papua dengan nilai IPG sebesar 80,11. Secara keseluruhan terdapat 19 provinsi yang masih berada di bawah rata-rata nasional, dimana 5 provinsi yang terendah berada di wilayah KTI (Gambar 3.11)
Perbedaan capaian pembangunan manusia antara KTI dan KBI masih menjadi masalah yang harus diselesaikan agar capaian pembangunan di kedua wilayah ini menjadi lebih berimbang. Hal ini juga sejalan dengan semangat Nawa Cita poin ke tiga yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
Pada tahun 2018, IPG tertinggi dicapai oleh Provinsi Sulawesi Utara, diikuti oleh DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Sumatera Barat, dan Bali pada urutan ke dua hingga ke lima. Sejak tahun 2017 nilai IPG Sulawesi Utara telah menduduki peringkat pertama dan masih bertahan pada tahun 2018. Salah satu faktor yang mendukung IPG Sulawesi Utara berada di posisi pertama adalah komponen harapan lama sekolah perempuan dan rata-rata lama sekolah perempuan yang meningkat lebih cepat dibandingkan laki-laki.
Tabel 3.3 Jumlah Provinsi di KBI dan KTI Menurut Jenis Kelamin dan Status Pembangunan Manusia, 2017 dan 2018
Provinsi IPG IPM
Laki-laki IPM Perem-
puan Rangking IPG 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018
IPG Tertinggi 2018
Sulawesi Utara 94,78 94,79 74,86 75,40 70,95 71,47 1 1 DI Yogyakarta 94,39 94,73 81,77 82,34 77,18 78,00 3 2 Gambar 3.11 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Provinsi
2018
Sumber: Badan Pusat Statistik 94,79
80,11 90,99
Sulawesi Utara DI Yogyakarta DKI Jakarta Sumatera Barat Bali
Sulawesi Selatan Maluku Kep. Riau Sumatera Selatan NTT Sulawesi Tengah Jawa Tengah Aceh Bengkulu Banten Jawa Timur Sumatera Utara Lampung NTB Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Utara Jawa Barat Kep. Bangka Belitung Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Jambi Riau Kalimantan Utara Kalimantan Barat Gorontalo Kalimantan Timur Papua Barat Papua
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
46
Provinsi IPG IPM
Laki-laki IPM Perem-
puan Rangking IPG 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 DKI Jakarta 94,70 94,70 82,87 83,28 78,48 78,87 2 3 Sumatera Barat 94,16 94,17 74,62 75,12 70,26 70,74 4 4 Bali 93,70 93,71 77,50 78,00 72,62 73,09 5 5
IPG Terendah 2018
Kalimantan Barat 86,28 86,74 71,14 71,78 61,38 62,26 30 30 Gorontalo 86,64 86,63 69,71 70,52 60,40 61,09 29 31 Kalimantan Timur 85,62 85,63 80,03 80,82 68,52 69,21 32 32 Papua Barat 82,42 82,47 70,69 71,54 58,26 59,00 33 33 Papua 79,38 80,11 64,55 65,45 51,24 52,43 34 34
Provinsi yang menempati urutak terakhir IPG berada di daerah paling timur Indonesia, yaitu Papua. Besarnya kesenjangan capaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki di Papua terutama disebabkan oleh ketimpangan pendapatan dan rata-rata lama sekolah. Secara umum, provinsi dengan nilai IPG rendah cenderung memiliki perbedaan antara upah yang diterima pekerja perempuan dan laki-laki dalam nilai yang cukup besar.
Pembangunan Perempuan Lebih Cepat di Beberapa Wilayah
IPG merupakan rasio dari IPM perempuan dan laki-laki, sehingga perubahan dari IPM baik perempuan maupun laki-laki, akan mempengaruhi peningkatan ataupun penurunan IPG. Pertumbuhan IPM perempuan yang lebih tinggi dari laki-laki akan meningkatkan IPG, begitu pula sebaliknya.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Gambar 3.12 Rata-rata Upah Pekerja Menurut Jenis Kelamin di Lima Provinsi dengan IPG Terendah, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
2446,1
2004,4
3977,0
3208,1
4421,0
1952,2 1767,1
2887,6 2814,7 3390,4
Kalimantan Barat Gorontalo Kalimantan Timur Papua Barat Papua Laki-laki Perempuan
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
47
Nilai IPG Indonesia tahun 2018 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, dimana nilai IPG Indonesia berada di angka 90,99. Dari 34 provinsi Indonesia, hanya satu provinsi yang mengalami penurunan IPG yaitu Gorontalo (turun sebesar 0,01 poin), 30 provinsi mengalami peningkatan, dan 3 provinsi lainnya tidak mengalami perubahan.
Posisi lima tertinggi pertumbuhan IPG ditempati oleh Provinsi Papua, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah, sedangkan posisi lima terrendah ditempati oleh Provinsi Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bali, dan Gorontalo (Tabel 3.4).
Tingginya pertumbuhan IPG di Provinsi Papua (0,92 persen) disebabkan oleh pertumbuhan IPM perempuan yang meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan IPM laki-laki. Hal yang sama juga terjadi pada pertumbuhan IPG di Kalimantan Utara dan Sulawesi Barat. Fenomena yang menarik pada Papua adalah, meskipun merupakan provinsi dengan nilai IPG terrendah, namun Papua merupakan provinsi dengan pertumbuhan IPG yang tertinggi atau memiliki kemajuan dalam pembangunan perempuan yang lebih besar dibandingkan provinsi lain.
Sementara itu, pertumbuhan IPG terendah dicapai oleh Gorontalo yang turun sebesar 0,01 poin. Selain menjadi satu-satunya provinsi yang mengalami penurunan IPG, provinsi Gorontalo juga menjadi salah satu provinsi dengan nilai IPG terendah. Hal ini berbeda dengan provinsi Bali dan DKI Jakarta, meskipun memiliki pertumbuhan IPG yang rendah, tetapi kedua provinsi tersebut memiliki nilai IPG yang cukup tinggi.
Tabel 3.4 Pertumbuhan IPM Laki-laki dan IPM Perempuan serta Selisih IPG di Lima Provinsi dengan Pertumbuhan IPG Tertinggi dan Terendah, 2017-2018
Provinsi IPG Pertumbuhan Laki-lakiIPM
Pertumbuhan PerempuanIPM
Selisih IPG Pert.
IPG
2017 2018 (%) (%) 2017-2018 (%)
Pertumbuhan IPG Tertinggi
Papua 79,38 80,11 1,39 2,32 0,73 0,92
Kalimantan Utara 85,96 86,74 0,87 1,79 0,79 0,91 Sulawesi Barat 89,44 90,05 0,91 1,59 0,60 0,67 Kalimantan Barat 86,28 86,74 0,90 1,43 0,46 0,53 Sulawesi Tengah 91,66 92,08 1,00 1,46 0,41 0,45
Pertumbuhan IPG Terendah
Kalimantan
Selatan 88,60 88,61 0,74 0,75 0,00 0,00
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
48
Provinsi IPG Pertumbuhan Laki-lakiIPM
Pertumbuhan PerempuanIPM
Selisih IPG Pert.
IPG
2017 2018 (%) (%) 2017-2018 (%)
Jawa Tengah 91,94 91,95 0,87 0,88 0,00 0,00
DKI Jakarta 94,70 94,70 0,49 0,50 0,00 0,00
Bali 93,70 93,71 0,65 0,65 0,00 0,00
Gorontalo 86,64 86,63 1,16 1,14 -0,02 -0,02
Jika ditinjau lebih lanjut tentang penyebab utama turunnya pertumbuhan IPG Provinsi Gorontalo dan tidak tumbuhnya Provinsi Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Bali dapat ditelusuri melalui pertumbuhan dari komponen penyusun IPM perempuan dan laki-laki di provinsi-provinsi tersebut. Sebagai contoh di Kalimantan Selatan, nilai IPG Provinsi Kalimantan Selatan dari tahun 2017 ke 2018 relatif tidak terjadi perubahan, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan yang seimbang antara IPM perempuan dan laki-laki. Jika dilihat lebih lanjut pada komponen penyusun IPM, dapat terlihat bahwa meskipun pertumbuhan indikator HLS dan UHH laki-laki lebih besar dari perempuan, namun dua inikator lainnya yakni RLS dan pengeluaran perempuan mengalami peningkatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sehingga secara total menyebabkan nilai IPG Kalimantan Selatan tidak mengalami perubahan yang signifikan (Tabel 3.5).
Ketimpangan Pembangunan Gender Antarkabupaten/ Kota Lebih Tinggi Dibandingkan Antarprovinsi
Disparitas yang terjadi di antara provinsi di Indonesia juga terjadi di antara kabupaten/kota dalam satu provinsi dan kabupaten/kota di provinsi yang lain. Sebagai negara kepulauan yang besar Indonesia terdiri dari banyak kabupaten/kota yang di masing-masing memiliki potensi dan sumber daya yang berbeda.
Meskipun pada tahun 2018 IPM perempuan tidak ada yang mengalami penurunan, tetapi kesenjangan dengan IPM perempuan dan laki-laki masih terlihat sangat nyata. Jumlah kabupaten/kota dengan capaian IPM laki-laki yang berada di kategori tinggi sudah mencapai 322, sedangkan jumlah kabupaten/kota dengan capaian IPM perempuan pada kategori yang sama baru mencapai 114. Bahkan kabupaten/kota dengan capaian IPM laki-laki pada kategori yang sangat tinggi (lebih dari 80) jumlahnya mencapai hampir 5 kali lipat dari jumlah kabupaten/kota dengan kategori pencapaian IPM perempuan dalam kategori yang sama.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Kondisi Pembangunan Gender Di Indonesial
49
Dengan merujuk pada disparitas pencapaian IPG antarkabupaten/kota dalam satu provinsi, dapat disinyalir bahwa otonomi daerah yang dilaksanakan sampai level kabupaten/kota belum benar-benar membuahkan capaian pembangunan gender seperti yang diharapkan.
Perbandingan capaian pembangunan gender di kabupaten/kota dalam satu provinsi relatif bervariasi (Gambar 3.14). Capaian pembangunan gender di kabupaten/kota yang paling bervariasi terjadi di Papua, sedangkan yang paling seragam terjadi di DKI Jakarta.
Gambar 3.13 Jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia Menurut Status Capaian IPM dan Jenis Kelamin, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik 15
92 118
295 322
114
59
13
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Gambar 3.14 Variasi IPG Kabupaten/kota Menurut Provinsi, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
40 50 60 70 80 90 100
DKI Jakarta Kep. Riau Bali Kalimantan Utara Gorontalo Sumatera Barat DI Yogyakarta Kep. Bangka Belitung Bengkulu NTB Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Lampung Maluku Kalimantan Selatan Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Barat Jambi NTT Banten Kalimantan Barat Sumatera Selatan Jawa Barat Riau Jawa Timur Sulawesi Utara Aceh Sumatera Utara Kalimantan Timur Maluku Utara Sulawesi Tenggara Papua Barat Papua
Maksimum Minimum Provinsi