Selain meningkatkan kualitas pembangunan manusia secara umum, kesetaraan capaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan juga menjadi fokus pembangunan. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama terhadap berbagai hal seperti kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Pembangunan manusia dan pembangunan gender menjadi target pembangunan baik di tingkat nasional maupun global.
IPM dan IPG menjadi indikator dalam melihat capaian pembangunan manusia dan pembangunan gender. Suatu daerah diharapkan bukan hanya mampu meningkatkan kualitas hidup manusia namun juga mengurangi kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, idealnya daerah dengan IPM yang tinggi akan mendorong pada pembangunan gender yang lebih baik.
Sebaran IPM dan IPG tahun 2018 menurut wilayah di Indonesia ditunjukkan oleh Gambar 5.1 dan Gambar 5.2. Kedua gambar menunjukkan pola yang searah, baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. Wilayah dengan IPM tinggi akan memiliki nilai IPG yang tinggi pula, begitupun sebaliknya. IPM dan IPG berhubungan positif dengan koefisien korelasi Pearson 0,59 pada level provinsi dan 0,57 pada level kabupaten/kota.
Pada level kabupaten/kota, pola yang mencolok terjadi di Provinsi Maluku dan Papua. Pola di provinsi ini terlihat relatif lebih acak dibanding daerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan manusia dan gender di povinsi ini relatif tinggi
KETERKAITAN
KESETARAAN GENDER DAN PEMBANGUNAN MANUSIA
5
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
72
Gambar 5.1 Sebaran IPM dan IPG Menurut Provinsi, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
DKI Jakarta DI Yogyakarta NTT
Kalimantan Timur Sulawesi Barat
Papua Barat Papua
75 80 85 90 95 100
58 63 68 73 78 83
IPG
IPM
Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua
Dengan hubungan yang positif berarti daerah dengan IPM tinggi akan cenderung memiliki IPG yang tinggi juga, begitu pula sebaliknya. Kondisi ini ditunjukkan oleh capaian Provinsi DKI Jakarta, Provinsi DI Yogyakarta dan Kota Yogyakarta yang selain mampu meningkatkan kualitas hidup manusia, juga berhasil mewujudkan kondisi yang seimbang antara pembangunan laki-laki dan perempuan. Kondisi sebaliknya ditunjukkan oleh Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua dan Kabupaten Asmat. Selain memiliki capaian pembangunan manusia yang rendah, daerah-daerah tersebut juga belum berhasil mewujudkan pembangunan gender yang seimbang.
Selain kondisi seperti pada beberapa daerah yang telah dibahas, ada beberapa daerah lain yang juga cukip unik. Sebagai contoh, beberapa wilayah memiliki Gambar 5.2 Sebaran Kabupaten/kota Menurut IPM dan IPG, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
YogyakartaKota Paser
Asmat Nduga
40 50 60 70 80 90 100
20 30 40 50 60 70 80 90
IPG
IPM
Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
73
IPM yang tinggi namun nilai IPG rendah, seperti Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Paser. Di daerah-daerah ini, secara umum pembangunan manusia sudah cukup tinggi, namun pembangunan perempuan masih jauh di bawah capaian pembangunan laki-laki. Hal ini terutama disebabkan oleh kesenjangan yang terjadi pada komponen pengeluaran perkapita. Di Provinsi Kalimantan Timur, pengeluaran laki-laki 2,5 kali lebih banyak dibandingkan pengeluaran perempuan. Bahkan, pengeluaran laki-laki di Kabupaten Paser mencapai 6 kali lipat lebih banyak dibandingkan perempuan.
Untuk melihat lebih dalam dan menghindari potensi salah tafsir terhadap IPG, kita perlu memperhatikan indikator penyusunnya, yaitu IPM. Karena IPG dibentuk dari rasio IPM perempuan terhadap IPM laki-laki, maka IPG yang rendah dapat terjadi karena IPM perempuan jauh di bawah IPM laki-laki, sedangkan IPG yang tinggi dapat terjadi karena IPM laki-laki dan perempuan yang hampir setara, bisa sama-sama tinggi, sama-sama sedang, atau bahkan sama-sama rendah. Kondisi seperti yang tersebut terakhir terjadi di Provinsi NTT, Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Nduga. Capaian IPM di Provinsi NTT dan Provinsi Sulawesi Barat masih berada di level “Rendah” namun IPG di kedua wilayah tersebut mampu melampaui angka 90. Fenomena yang lebih ekstrim terjadi di Kabupaten Nduga. IPM di Kabupaten Nduga berada di level
“Sangat Rendah”, bernilai 28-33 untuk IPM baik total maupun laki-laki dan perempuan. Meski demikian, IPG di Kabupaten Nduga bernilai lebih dari 80.
Dengan capaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan yang sudah hampir setara, walaupun sama-sama bernilai rendah, tantangannya pembangunan di wilayah tersebut adalah bagaimana meningkatkan pembangunan keduanya dengan tetap mempertahankan keadilan dan pemerataan yang telah terwujud.
Kualitas Pembangunan Gender Relatif Rendah di Sebagian Besar Provinsi Capaian pembangunan nasional merupakan agregasi dari capaian seluruh wilayah yang lebih kecil di bawahnya. Percepatan pembangunan yang terjadi pada tingkat nasional juga dipengaruhi pertumbuhan di level provinsi dan kabupaten/kota.
Analisis capaian pembangunan gender dengan perbandingan angka nasional diperlukan untuk mengetahui posisi capaian pembangunan gender suatu wilayah relatif terhadap capaian nasional beserta perkembangannya. Analisis ini dilakukan dengan membuat analisis scater diagram yang mengelompokan IPM dan IPG menjadi empat kuadran:
• Kuadran I : Kelompok pertama merupakan provinsi dengan IPM dan IPG di atas angka nasional
• Kuadran II : Kelompok kedua merupakan provinsi dengan kondisi IPM di atas angka nasional tetapi IPG di bawah angka nasional
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
74
• Kuadran III : Kelompok ketiga adalah provinsi dengan IPM dan IPG di bawah angka nasional
• Kuadran IV : Kelompok keempat adalah provinsi dengan kondisi IPM di bawah angka nasional tetapi IPG di atas angka nasional.
Selain untuk mengetahui posisi capaian pembangunan gender, analisis ini juga dapat menggambarkan ketimpangan capaian pembangunan antarwilayah. Berdasarkan data IPM dan IPG tahun 2014, 2016, dan 2018, posisi masing-masing provinsi dalam scater diagram adalah sebagai berikut:
Berdasarkan diagram tersebut, secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas Gambar 5.3 Hubungan Antara IPM dan IPG, 2014, 2016, dan 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
Sumber: Badan Pusat Statistik
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
75
pembangunan manusia di sebagian besar provinsi relatif masih rendah dan memiliki ketimpangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan yang relatif tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya provinsi dengan capaian IPM dan IPG berada di bawah angka nasional (Kuadran III). Pada tahun 2018, separuh dari total provinsi di Indonesia berada pada kondisi seperti ini dan hanya ada 7 provinsi yang berada pada kondisi sebaliknya (Kuadran I: capaian IPM dan IPG berada di atas angka nasional).
Sementara itu, pada tahun 2018 terdapat 8 provinsi dengan IPG di atas angka nasional tetapi memiliki IPM di bawah angka nasional (Kuadran IV).
Capaian IPG yang tinggi di provinsi-provinsi tersebut tersusun dari capaian pembangunan manusia laki-laki dan perempuan yang sama-sama masih rendah. Selain itu juga terdapat 2 provinsi dengan capaan IPM di atas angka nasional tetapi memiliki IPG di bawah rata-rata nsional (Kuadran II), yakni Riau dan Kalimantan Timur. Di kedua provinsi tersebut, ketimpangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan sangat tinggi. Hal ini salah satunya dapat terkait dengan lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang dominan di wilayah tersebut. Kedua lapangan usaha tersebut lebih banyak menyerap tenaga kerja laki-laki dibandingkan perempuan.
Posisi Pembangunan Gender dan Pembangunan Manusia Relatif Stabil Pergeseran posisi provinsi antarkuadran termasuk hal yang lumrah terjadi.
Perubahan kuadran ini bergantung pada kecepatan masing-masing komponen IPM laki-laki dan perempuan, yang akan berdampak pada pertumbuhan IPG. Selain itu, perubahan kuadran juga dipengaruhi oleh perbedaan kecepatan yang terjadi antarprovinsi.
Kondisi IPM dan IPG provinsi dibandingkan dengan capaian nasional di setiap kuadran cenderung stabil. Selama 5 tahun terakhir, hanya terjadi satu pergeseran posisi kuadran, yaitu seperti dialami oleh Provinsi Sumatera Utara.
Sumatera Utara berpindah dari kuadran III ke kuadran IV dan kembali lagi ke kuadran III selama tahun 2014, 2016, dan 2018.
Tabel 5.1 Pergeseran Kondisi Pembangunan Gender dan Pembangunan Manusia
Provinsi 2014 2016 2018 Keterangan
Sumatera
Utara Kuadran
III Kuadran
IV Kuadran III
Pertumbuhan IPG Sumatera Utara 6 kali lebih lambat dibanding pertumbuhan
IPG nasional sehingga pembangunan gender menjadi
di bawah angka nasional
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
76
Pergeseran antarkuadran yang dialami oleh Provinsi Sumatera Utara disebabkan oleh kecepatan pembangunan laki-laki di Sumatera Utara melebihi kecepatan pembangunan laki-laki secara nasional. Sedangkan kecepatan pembangunan perempuan hampir sama dengan kecepatan pembangunan perempuan secara nasional. Dampaknya, pertumbuhan IPG Sumatera Utara 6,76 kali lebih lambat dibanding pertumbuhan IPG nasional.
Hal inilah yang menyebabkan IPG Sumatera Utara menjadi di bawah angka nasional pada tahun 2018.
Peningkatan Kualitas Perempuan Berdampak pada Pemberdayaan Pemberdayaan gender erat kaitannya dengan pembangunan gender.
Pemberdayaan gender terjadi ketika perbaikan kualitas hidup perempuan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi berhasil mendorong terwujudnya pemberdayaan (Cinar, 2018). Idealnya, peningkatan pembangunan gender akan menciptakan keseimbangan pemberdayaan antara laki-laki dan perempuan. Selama ini, perempuan cenderung tertinggal di berbagai peran seperti ekonomi tenaga kerja dan pengambilan keputusan yang disebabkan oleh mengakarnya budaya patriarki. Seiring dengan meningkatnya kualitas perempuan antarwaktu, yang ditandai dengan peningkatan IPG, pemberdayaan yang adil dan seimbang antara laki-laki dan perempuan diharapkan dapat terwujud.
Keterkaitan antara IPG dan IDG menunjukkan hubungan yang positif, baik di tingkat provinsi (Gambar 5.4) maupun di tingkat kabupaten/kota (Gambar 5.5). Artinya, wilayah dengan tingkat pembangunan gender yang tinggi Gambar 5.4 Sebaran Provinsi Menurut IPG dan IDG, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
Kep. Babel
Sulawesi Utara
Papua Barat Papua
40 50 60 70 80 90
75 80 85 90 95 100
IDG
IPG
Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
77
akan memiliki tingkat pemberdayaan gender yang tinggi pula, begitupun sebaliknya. Hubungan ini diperjelas dengan nilai koefisien korelasi Pearson yang bernilai 0,39 pada tingkat provinsi dan 0,30 pada tingkat kabupaten/
kota.
Gambar 5.5 menunjukkan bahwa sebaran kabupaten/kota di Maluku dan Papua cenderung acak dan tersebar. Hal ini mengindikasikan bahwa masih tingginya disparitas kualitas pembangunan dan pemberdayaan baik antara laki-laki dan perempuan maupun antarwilayah.
Gambaran hubungan antara IPG dan IDG yang unik ditunjukkan oleh Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Papua Barat, dan Kabupaten Asmat. Provinsi Sulawesi Utara telah mampu mencapai kesetaraan dalam hal kualitas pembangunan antara laki-laki dan perempuan, juga pemberdayaan gender. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai IPG dan IDG yang tinggi. Hal sebaliknya terjadi pada Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Asmat yang memiliki tingkat pembangunan dan pemberdayaan gender rendah.
Selain dua kondsi di atas, hubungan IPG dan IDG beberapa daerah juga menunjukkan kondisi yang tidak kalah menarik. Sebagai contoh Provinsi Papua dan Kabupaten Manokwari Selatan. Dua daerah tersebut memiliki IPG rendah tetapi IDG tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh persentase perempuan di parlemen yang cukup tinggi, bahkan Manokwari Selatan menjadi daerah dengan persentase perempuan dalam parlemen tertinggi di Papua Barat. Selain itu, komponen sumbangan pendapatan juga menjadi penyumbang IDG Papua yang mampu melonjak 7 tingkat dari rangking 29 di tahun 2017 menjadi rangking 22 di tahun 2018.
Gambar 5.5 Sebaran Kabupaten/Kota Menurut IPG dan IDG, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
Sumbawa Barat Manokwari
Selatan
Asmat 20
30 40 50 60 70 80 90
40 50 60 70 80 90 100
IDG
IPG
Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
78
Contoh lain terjadi pada Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kabupaten Sumbawa Barat. Kedua daerah ini memiliki IPG yang tinggi tetapi IDG rendah.
Hal ini disebabkan oleh rendahnya persentase perempuan dalam parlemen, bahkan di Kabupaten Sumbawa Barat tidak ada anggota parlemen berjenis kelamin perempuan. Selain itu, rendahnya capaian IDG di daerah tersebut juga disebabkan oleh sumbangan pendapatan perempuan yang relatif rendah (berada pada kisaran 20-25 persen dari total pendapatan laki-laki dan perempuan).
Pemberdayaan Gender Membaik di Beberapa Provinsi
Capaian pembangunan nasional merupakan agregasi dari capaian seluruh wilayah yang lebih kecil di bawahnya. Percepatan pembangunan yang terjadi pada tingkat nasional juga dipengaruhi pertumbuhan di level provinsi dan kabupaten/kota.
Analisis capaian pembangunan gender dengan perbandingan angka nasional diperlukan untuk mengetahui posisi capaian pembangunan gender suatu wilayah relatif terhadap capaian nasional beserta perkembangannya. Analisis ini dilakukan dengan membuat analisis scater diagram yang mengelompokan IPM dan IPG menjadi empat kuadran:
Peningkatan kualitas pembangunan manusia baik pada laki-laki maupun perempuan diharakan dapat diikuti dengan peningkatkan pemberdayaan gender. Untuk mengetahui perbandingan capaian pembangunan dan pemberdayaan gender di tingkat provinsi dengan nasional dan mengelompokkan mengelompokkan provinsi menurut capaiannya dapat dilakukan dengan membuat analisis scater diagram IPG dan IDG. Capaian IPG dan IDG suatu provinsi akan menentukan posisi kuadran, sedangkan perbedaan kecepatan IPG dan IDG suatu provinsi dibanding provinsi lain dan nasional akan menentukan pergeseran kuadran antarwaktu.
Capaian IPG dan IDG setiap provinsi dikelompokkan ke dalam empat kuadran, yaitu:
• Kuadran I : Kelompok pertama, merupakan provinsi dengan IPG dan IDG di atas angka nasional;
• Kuadran II : Kelompok kedua, merupakan provinsi dengan kondisi IPG di atas angka nasional tetapi IDG di bawah angka nasional;
• Kuadran III : Kelompok ketiga, adalah provinsi dengan IPG dan IDG di bawah angka nasional; dan
• Kuadran IV : kelompok keempat, adalah provinsi dengan kondisi IPG di bawah angka nasional tetapi IDG di atas angka nasional.
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
79
Gambar 5.6 Hubungan Antara IPG dan IDG, 2014-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
Sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki nilai IPG dan IDG di bawah angka nasional (kuadran III). Kondisi ini cenderung stangnan selama periode tahun 2014-2018. Hal serupa juga terjadi di kuadran IV, terdapat 3 provinsi yang berada di kuadran ini yakni Riau, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara.
Provinsi-provinsi di kuadran IV memiliki kualitas pembangunan gender di bawah angka nasional, tetapi memiliki capaian pemberdayaan gender di atas angka nasional. Tingginya capaian IDG di ketiga provinsi ini terutama disebabkan oleh indikator persentase perempuan dalam parlemen yang mencapai lebih dari 20 persen.
Kuadran II berisi provinsi-provinsi dengan IPG di atas angka nasional, tetapi capaian IDG di bawah angka nasional. Di kuadran ini terjadi pengurangan jumlah provinsi yang cukup signifikan selama periode tahun 2016-2018. Dari empat provinsi yang berpindah kuadran, 1 provinsi berpindah ke kuadran III dan 3 provinsi berpindah ke kuadran I, sehingga pada tahun 2018 jumlah provinsi yang menempati kuadran I (provinsi-provinsi dengan capaian IPG dan IDG di atas nasional) menjadi berjumlah 7 provinsi, setelah pada tahun 2016 baru berjumlah 4 provinsi.
Perpindahan provinsi antarkuadran merupakan hal yang lumrah terjadi.
Perbedaan kecepatan IPG dan IDG antarprovinsi juga kecepatan secara nasional menentukan perpindahan ini.
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
80
Pergeseran Posisi Pembangunan dan Pemberdayaan Gender Cenderung Dinamis
Pergeseran posisi posisi antarkuadran berdasarkan capaian pembangunan dan pemberdayaan gender tergantung dari banyak hal. Perbedaan kecepatan pembangunan perempuan dan laki-laki, perbedaan perubahan komposisi setiap komponen antarprovinsi, juga perbedaan terhadap capaian nasional berpengaruh terhadap pergeseran ini. Pegeseran yang terjadi cenderung dinamis. Selama periode tahun 2014-2018 terdapat 7 provinsi yang mengalami perubahan posisi kuadran.
Perubahan posisi provinsi antarkuadran yang terjadi pada tahun 2018 menunjukkan arah yang semakin baik. Setidaknya dari 7 provinsi yang bergeser, 3 diantaranya berpindah ke kuadran I yakni kelompok dengan IPG dan IDG di atas nasional. Ketiga provinsi tersebut adalah Sumatera Selatan, Banten, dan Sulawesi Tengah. Selain itu, pada tahun 2018 juga terdapat provinsi yang mampu mencapai IDG di atas nasional (meskipun dengan capaian IPG yang masih berada di bawah nasional), yaitu Maluku Utara.
Perbaikan pemberdayaan gender pada provinsi-provinsi tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan komponen persentase perempuan dalam parlemen.
Selain empat provinsi yang mengalami pergeseran ke posisi yang lebih baik, juga terdapat beberapa provinsi yang berpindah ke posisi yang kurang menguntungkan. Kondisi ini diantranya terjadi pada Sumatera Utara yang berpindah dari kuadran II ke kuadran III karena memiliki kecepatan IPG di bawah kecepatan IPG nasional. Hal ini terjadi karena IPM perempuan di Sumatera Utara tumbuh lebih lambat dibanding IPM laki-laki. Selain Sumatera Utara, Sulawesi Barat juga menjadi provinsi yang berpindah ke kuadran III pada tahun 2018. Berbeda dengan Sumatera Utara, perpindahan Sulawesi Barat dari kuadran IV ke kuadran III disebabkan oleh penurunan persentase perempuan dalam parlemen.
Tabel 5.2 Pergeseran Kondisi Pembangunan Gender dan Pemberdayaan Gender
Provinsi 2014 2016 2018 Keterangan
Sumatera
Utara Kuadran
III Kuadran
II Kuadran III
• Kecepatan pembangunan perempuan melambat hingga IPG di bawah nasional.
• Pembangunan dan pember- dayaan gender lebih rendah dari angka nasional
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
81
Sumatera Selatan,
Bant- en, dan Sulawesi
Tengah
Kuadran
II Kuadran
II Kuadran I
• Pemberdayaan gender meningkat hingga di atas nasional
• Pembangunan dan pember- dayaan gender berada di atas angka nasional
Jawa
Timur Kuadran
II Kuadran
III Kuadran III
• Pembangunan dan pem- berdayaan gender berada di bawah angka nasional
Sulawesi
Barat Kuadran
III Kuadran
IV Kuadran III
• Kecepatan pemberdayaan gender melambat hingga IDG menjadi di bawah nasional
• Pembangunan dan pem- berdayaan gender berada di bawah angka nasional
Maluku
Utara Kuadran
III Kuadran
III Kuadran IV
• Kecepatan pemberdayaan gender meningkat hingga IDG menjadi di atas nasional
• Pemberdayaan gender di atas angka nasional meskipun pembangunan gender masih di bawah angka nasional
Sumber: Badan Pusat Statistik