GENDER DI INDONESIA
4
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
56
Berdasarkan publikasi Keadaan Angkatan Kerja yang dirilis BPS, indikator partisipasi kerja perempuan tumbuh lebih cepat dibanding laki-laki. Sejalan dengan hal tersebut, pengangguran perempuan juga turun hampir dua kali lebih cepat dari laki-laki. Perubahan yang dibawa oleh modernisasi melalui proses industrialisasi dan kemajuan teknologi informasi berdampak pada perubahan peran perempuan dalam keluarga dan di ruang publik dan diharapkan dapat memberi perbaikan dalam pembangunan ekonomi suatu negara (Lan, 2015). Proses modernisasi telah berhasil mengubah berbagai bidang kehidupan, termasuk ketenagakerjaan. Kini, banyak sekali pekerjaan yang dapat dilakukan dari dan dimana saja. Hal ini menjadi peluang bagi perempuan untuk dapat terjun ke pasar tenaga kerja. Selain itu, upaya pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait dalam penciptaan lapangan pekerjaan bagi perempuan seperti industri rumahan juga memiliki peran positif terhadap perbaikan indikator ketenagakerjaan perempuan ini.
Pemberdayaan Gender Semakin Terlihat
Pembangunan gender, sebagaimana telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, bertujuan untuk mewujudkan persamaan kualitas pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Meski masih belum menyamai laki-laki, kualitas pembangunan perempuan di Indonesia selalu menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini tidak terlepas dari berbagai upaya yang terkait dengan pemberdayaan gender.
Dalam menilai sejauh mana pemberdayaan gender di Indonesia, digunakan sebuah indeks komposit, yaitu Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Berbeda dengan IPG, IDG lebih fokus untuk melihat sejauh mana kesetaraan gender dalam hal peran aktif di dunia politik, pengambilan keputusan, dan ekonomi.
Indikator ini merupakan adopsi dari Gender Empowerment Measure (GEM) yang disusun oleh UNDP.
Gambar 4.1 Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), 2010-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
68,15
69,14
70,07 70,46 70,68 70,83 71,39 71,74
72,10
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
57
Pemberdayaan gender di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2018, IDG Indonesia berada pada level 72,10, meningkat 0,36 poin atau tumbuh 0,50 persen dibanding tahun 2017.
Peningkatan IDG tahun 2018 terutama terjadi karena kenaikan dua komponen yakni persentase perempuan sebagai tenaga profesional dan sumbangan pendapatan perempuan. Persentase perempuan sebagai tenaga professional menigkat dari 46,31 pada tahun 2017, menjadi 47,02 pada tahun 2018, sedangkan sumbangan pendapatan perempuan meningkat dari 36,62 menjadi 36,70 (Gambar 4.2).
Pertumbuhan IDG pada periode tahun 2017-2018 cenderung lambat dibandingkan dengan tren pertumbuhan selama 8 tahun terakhir. Meski demikian, capaian ini tetap menjadi sinyal positif adanya perbaikan keadaan pemberdayaan gender di Indonesia.
Peran Perempuan dalam Dunia Politik Masih Perlu Diperjuangkan
Peran aktif perempuan dalam politik dapat dilihat dari komposisi dan kontribusi dalam lembaga-lembaga strategis, salah satunya parlemen.
Keterwakilan perempuan di parlemen menjadi salah satu indikator SDGs yang tercantum pada Target 5.5 “Menjamin Partisipasi Penuh dan Efektif, dan Kesempatan yang Sama Bagi Perempuan untuk Memimpin di Semua Tingkat Pengambilan Keputusan dalam Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Masyarakat”, indikator 5.5.1* “Proporsi Kursi yang Diduduki Perempuan di Parlemen Tingkat Pusat, Parlemen Daerah dan Pemerintah Daerah”. Selain itu, isu keterwakilan perempuan juga menjadi hal penting yang tercantum dalam Gambar 4.2 Komponen Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), 2017
dan 2018, 2010-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
17,32 17,32
46,31 47,02 36,62 36,70
2017 2018 2017 2018 2017 2018
Keterlibatan perempuan di
Parlemen Perempuan sebagai Tenaga
Profesional Sumbangan Pendapatan Perempuan Laki-laki Perempuan
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
58
agenda kedua sub-agenda ketiga dari 9 sasaran utama di RPJMN 2015-2019 yaitu “Meningkatkan Peranan dan Keterwakilan Perempuan dalam Politik dan Pembangunan”.
Tabel 4.2 Jumlah Anggota DPR RI Menurut Jenis Kelamin, 1955- 2014
Pemilu Laki-laki Perempuan Jumlah Persentase Perempuan
1955 256 16 272 5.88
1971 429 31 460 6.74
1977 423 37 460 8.04
1982 418 42 460 9.13
1987 441 59 500 11.8
1992 438 62 500 12.4
1997 442 58 500 11.6
1999 456 44 500 8.8
2004 485 65 550 11.82
2009 460 100 560 17.86
2014 463 97 560 17.32
2019 455 120 575 20.87
Selama ini, parlemen di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki. Upaya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik dilakukan dengan ditetapkannya Undang-undang No 10 Tahun 2008. Dalam UU tersebut, dijelaskan bahwa sekurang-kurangnya harus ada 30 persen keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat dan bakal calon anggota DPR/DPRD lembaga legislatif. Meski belum mampu memenuhi target yang diharapkan, tapi dengan tren keterwakilan perempuan di parlemen yang cenderung meningkat telah menimbulkan optimisme bahwa peran perempuan di bidang politik semakin nyata terlihat dan berpotensi untuk terus ditingkatkan.
Timpangnya komposisi anggota parlemen antara perempuan dan laki- laki juga terjadi di level provinsi. Sebanyak 22 provinsi memiliki persentase perempuan di parlemen kurang dari 20 persen, bahkan 4 diantaranya kurang dari 10 persen. Meski demikian, sudah terdapat 1 provinsi dengan keterwakilan perempuan dalam parlemen di atas 30 persen, yaitu Sulawesi Utara. Selain Sulawesi Utara, masih ada 3 provinsi dengan keterwakilan perempuan di parlemen lebih dari 25 persen, yaitu Gorontalo, Riau dan Maluku.
Sumber: www.kpu.go.id
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
59
Kesetaraan gender sebagai salah satu tujuan pembangunan global membutuhkan aksi nyata dalam upaya meraihnya. Perempuan selama ini memiliki capaian lebih rendah dibanding laki-laki serta mengalami berbagai diskriminasi sebagai dampak budaya patriarki. Isu kesetaraan dan keadilan gender diharapkan dapat digaungkan lebih tegas ketika perempuan mampu berpartisipasi dan menduduki jabatan yang strategis dalam parlemen.
Keterlibatan perempuan di lembaga eksekutif diharapkan mampu membawa peluang perubahan bagi pemberdayaan perempuan di Indonesia (BPS, 2018).
Hal yang perlu dikaji lebih lanjut adalah apakah keterwakilan perempuan di parlemen yang selalu meningkat ini berpengaruh signifikan terhadap disahkannya peraturan-peraturan yang memperjuangkan kesetaraan gender, baik di level nasional maupun daerah.
Profesionalisme Pekerja Perempuan Semakin Diperhitungkan
Perbaikan berbagai indikator ketenagakerjaan seperti meningkatnya partisipasi kerja perempuan dan penurunan pengangguran selama satu dekade terakhir, juga diikuti dengan peningkatan persentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga profesional. Persentase tenaga profesional perempuan cenderung meningkat dan pada tahun 2018 persentasenya mencapai 47,02 persen, meningkat 0,72 poin dibanding tahun 2017.
Dengan melihat capaian ini, kesetaraan gender dalam pekerjaan profesional diharapkan dapat mencapai kondisi yang diharapkan dalam beberapa waktu mendatang.
Gambar 4.3 Perkembangan Persentase Perempuan Sebagai Tenaga Profesional, 2010-2018
Sumber: Badan Pusat Statistik 44,02
45,75 45,22 44,82 45,61 46,03
47,59
46,31 47,02
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
60
Selain persentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga professional, indikator pemberdyan gender lain yang juga meningkat adalah komposisi pegawai negeri sipil (PNS). Persentase jumlah ASN perempuan cederung meningkat dari waktu ke waktu dan bahkan pada sejak tahun 2017 sudah
melebihi laki-laki (Gambar 4.4). Kondisi ini sangat berbeda dibanding tahun- tahun sebelumnya, terutama bila dibandingkan dengan tahun 2010.
Meski demikian, peran perempuan dalam posisi strategis di pemerintahan relatif masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari persentase pejabat struktural laki-laki dan perempuan yang masih timpang (Gambar 4.5)
Gambar 4.5 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang Menduduki Jabatan Struktural Menurut Jenis Kelamin, 2010-2018
Sumber: Statistik Indonesia Tahun 2011-2018 77,20 76,47
71,61 70,42 69,40 70,50 69,39 68,04 66,83
22,80 23,53 28,39 29,58 30,60 29,50 30,61 31,96 33,17
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki Perempuan
Gambar 4.4 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Menurut Jenis Kelamin, 2010-2018
Sumber: Statistik Indonesia Tahun 2019
53,51 52,58 52,21 51,82 51,37 51,24 50,69 49,95 49,44
46,49 47,42 47,79 48,18 48,63 48,76 49,31 50,05 50,56
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Laki-laki Perempuan
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
61
Upaya pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan gender dalam birokrasi salahsatunya dilakukan dengan menetapkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 mengenai Aparatur Sipil Negara (UU ASN). UU ini mengatur pengembangan karir PNS dilakukan dilakukan berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan instansi serta mempertimbangan integritas dan moralitas. Penerapan aturan ini diharapkan dapat membuka peluang yang sama pagi PNS laki-laki dan perempuan untuk menduduki suatu jabatan tertentu.
Namun demikian kondisi ini belum dapat diwujudkan dengan baik. Pada tahun 2018, jumlah pejabat struktural PNS yang diduduki oleh perempuan baru mencapai sekitar 33 persen. Meski cenderung mengalami peningkatan, tetapi capaiannya relatif lambat, sehingga untuk mencapai kondisi yang diharapkan masih diperlukan upaya yang keras dan dalam waktu yang tidak sebentar. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya jumlah pejabat struktural PNS perempuan di Indonesia adalah budaya patriarki yang masih kuat (Arjani, 2003).
Selain masalah rendahnya jumlah pejabat struktural PNS perempuan, terdapat beberapa tantangan lain yang harus dihadapi dan membutuhkan penanganan dari berbagai pemangku kepentingan terkait, diantaranya adalah keterlibatan perempuan dalam posisi strategis dan ketimpangan upah yang masih saja terjadi. Selanjutnya, masalah yang umum terjadi pada pekerja perempuan yang telah menikah adalah kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan ketika memiliki anak, kemudian masuk kembali ke pekerjaan tersebut ketika sudah siap. Hal ini tentu akan memengaruhi senioritas dan proses promosi untuk perempuan yang bekerja tersebut (AFL-CIO, 2015).
Perempuan Semakin Berkontribusi dalam Penciptaan Pendapatan Kesenjangan capaian antara laki-laki dan perempuan di pasar tenaga kerja merupakan fenomena yang umum terjadi terutama di negara-negara berkembang. Perbedaan upah yang diterima menjadi salah satu hal yang paling sering terjadi. Corley, Perardel, dan Popova (2005) menyebutkan bahwa kesenjangan upah di beberapa sektor di negara-negara Asia bahkan mencapai 40 persen. Kesenjangan dalam upah pada akhirnya berimbas pada meunculnya kesenjangan dalam sumbangan pendapatan.
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
62
Gambar 4.6 Perkembangan Sumbangan Pendapatan Perempuan (persen), 2010-2018
Sumber: Statistik Indonesia Tahun 2011-2018 33,50
34,16
34,70 35,17 35,64 36,03 36,42 36,62 36,70
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Kesenjangan pendapatan yang diterima tidak terlepas dari perbedaan kualitas pendidikan. European Commission (2005) menyebutkan bahwa tingkat pendidikan adalah karakteristik terpenting dalam menjelaskan fenomena ketimpangan upah antara laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut, Mussida dan Picchio (2013) menjelaskan bahwa penurunan kesenjangan upah dalam beberapa dekade terakhir terjadi karena peningkatan tingkat pendidikan dan pengalaman kerja perempuan.
Selama periode tahun 2010-2018, kualitas pendidikan tenaga kerja laki- laki dan perempuan di Indonesia menunjukan perbaikan. Tenaga kerja laki-laki sebagian besar berpendidikan SMA/Sederajat, sedangkan tenaga kerja perempuan mayoritas berpendidikan perguruan tinggi. Meski telah mengalami perbaikan kualitas pendidikan, tenaga kerja perempuan masih Gambar 4.7 Persentase Pekerja Menurut Jenis Kelamin dan
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2010 dan 2018
Sumber: Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2010 dan 2018
9,93 12,14 8,61 10,14
23,35 18,37 21,30 16,22
18,75 14,47 18,29
13,43 34,80
29,80 37,04
30,02 13,17
25,22 14,77
30,19
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
2013 2018
<SD SD SMP SMA Perguruan Tinggi
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
63
menghasilkan pendapatan yang lebih rendah dibanding laki-laki. Hal ini disebabkan karena mayoritas pekerja perempuan berada di sektor yang memang secara budaya dianggap sebagai “pekerjaan perempuan” misalnya pada sektor jasa dengan upah rata-rata yang relatif rendah (Shauman, 2010).
Kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan juga dipengaruhi oleh sektor pekerjaan. Gambar 4.8 menunjukkan bahwa persentase pekerja perempuan di sektor informal lebih banyak dibanding di sektor formal. Di sektor informal sendiri, persentase pekerja perempuan memang lebih kecil dibanding laki-laki dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi secara global. Meski demikan, pekerja informal perempuan lebih banyak ditemukan dalam pekerjaan yang cukup riskan, seperti pekerja domestik serta pekerja rumahan atau pekerja keluarga. Pekerja perempuan di sektor informal juga
berpenghasilan lebih rendah (ILO, 2018). Menurut UN Women (2015), banyak risiko yang terjadi dari kecenderungan perempuan untuk bekerja di sektor informal seperti bekerja tanpa proteksi sosial dan hukum, tidak mendapat dana pensiun, tidak mendapatkan cuti, dan tidak mendapatkan asuransi kesehatan. Perempuan yang bekerja di sektor informal juga mendapatkan upah yang relatif rendah serta rentan terhadap keadaan yang tidak aman seperti pelecehan seksual.
Di dalam sektor informal sendiri juga tak lepas dari masalah ketimpangan gender. Penelitian yang dilakukan oleh Kachere (2017) menemukan bahwa pekerja informal laki-laki mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibanding pekerja informal perempuan. Hal ini terjadi karena pekerja informal Gambar 4.8 Persentase Pekerja Formal dan Informal Menurut Jenis
Kelamin, 2018
Sumber: Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Agustus 2018
65,78 57,96
34,22 42,04
Formal Informal
Laki-laki Perempuan
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
64
perempuan cenderung bekerja di sektor pekerjaan dengan skala yang lebih kecil dibanding laki-laki, seperti menjadi pekerja keluarga. Selain itu, laki-laki memiliki kecenderungan lebih besar untuk membangun dan memiliki bisnis sendiri dibanding perempuan (ILO, 2010).
Terjadi Disparitas Pemberdayaan Gender Antarprovinsi
Kesetaraan gender menjadi salah satu fokus pembangunan pemerintah yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019. Salam satu upaya untuk mencapai kesetaraan gender diwujudkan dengan penetapan program pengarusutamaan gender (PUG). PUG merupakan strategi mengintegrasikan perspektif gender dalam pembangunan. Pengintegrasian perspektif gender tersebut dimulai dari proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi seluruh kebijakan, program dan kegiatan Gambar 4.9 Capaian IDG Menurut Provinsi, 2018
Sumber: Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2010 dan 2018 80,91
51,04 Nasional :72,10
30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00
Sulawesi Utara Maluku Kalimantan Tengah Riau Sumatera Selatan Jawa Tengah Sulawesi Tengah DKI Jakarta Maluku Utara Banten Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Sumatera Utara Gorontalo Jawa Barat Jawa Timur DI Yogyakarta Bengkulu Kalimantan Utara Sulawesi Selatan Papua Jambi Aceh Kep. Riau NTT
Sumatera Barat Kalimantan Barat Bali Lam
pung NTB Kalimantan Timur Kep. Bangka Belitung Papua Barat
Gambar 4.10 Peta IDG Menurut Provinsi, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
65
pembangunan. Pengarusutamaan gender dilaksanakan baik di level pusat maupun daerah. Melalui pelaksanaan PUG, diharapkan dapat meningkatkan capaian kesetaraan gender antarwilayah secara merata.
Secara nasional, IDG Indonesia 2018 berada pada level 72,10. Sebayak 24 (70 persen) provinsi berada di bawah angka nasional dan hanya terdapat 10 provinsi dengan capaian IDG di atas nasional. IDG tertinggi dicapai oleh Provinsi Sulawesi Utara (80,91), sedangkan IDG terendah dicapai oleh Provinsi Papua Barat (51,04).
Capaian IDG provinsi di Indonesia relatif bervariasi. Tidak terlihat perbedaan yang berarti pada capaian IDG antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tiga provinsi dengan IDG tertinggi ditempati oleh provinsi di KTI, yaitu Sulawesi Utara, Maluku dan Kalimantan Tengah.
Sementara itu, 5 dari 10 IDG terendah ditempati oleh provinsi di KBI. Sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki nilai IDG 60-80. Hanya ada satu provinsi dengan IDG di atas 80 yaitu Sulawesi Utara. Sementara itu, masih terdapat 3 provinsi dengan IDG di bawah 60 yaitu Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur dan Papua Barat.
Tinggi rendahnya capaian IDG suatu provinsi dibentuk dari komponen penyusunnya. Provinsi yang memiliki capaian yang baik di setiap komponen akan memiliki IDG yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Sebagai contoh, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mengalami penurunan IDG pada tahun 2018, mengalami penurunan di ketiga komponennya (Tabel 4.3).
Sementara itu, apabila ditinjau dari perubahan peringkat, penurunan peringkat dapat terjadi meski setiap komponen IDG mengalami perbaikan.
Sebagai contoh Provinsi Lampung yang mengalami perbaikan di ketiga komponen IDG, namun mengalami penurunan peringkat dari peringkat 28 di tahun 2017 menjadi peringkat 30 di tahun 2018 . Hal ini dapat terjadi karena ada provinsi lain yang tumbuh lebih cepat sehingga urutannya menjadi lebih tinggi dari posisi Provinsi Lampung.
Tabel 4.3 Capaian IDG Tertinggi dan Terendah beserta Komponen Pembentuknya Menurut Provinsi, 2017-2018
Provinsi IDG Ranking Keterwakilan Perempuan di Parlemen
Perempuan Sebagai Tenaga Profesional
Sumbangan Pendapatan Perempuan
(%) (%) (%)
2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 IDG Tertinggi
Sulawesi Utara 82.37 80.91 1 1 38.64 33.33 52.52 51.34 32.17 32.35 Maluku 78.87 77.77 3 2 28.89 26.67 48.81 50.33 37.13 37.14 Kalimantan
Tengah 79.36 77.03 2 3 28.89 24.44 42.99 44.24 33.39 33.39
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
66
Provinsi IDG Ranking Keterwakilan Perempuan di Parlemen
Perempuan Sebagai Tenaga Profesional
Sumbangan Pendapatan Perempuan
(%) (%) (%)
2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 Riau 75.36 75.73 4 4 28.13 28.13 53.67 51.95 28.13 28.14 Sumatera
Selatan 73.53 74.37 6 5 20.27 21.33 49.25 53.66 34.70 34.71 IDG Terendah
Lampung 63.60 63.82 28 30 14.12 14.12 50.52 50.48 29.23 29.33 Nusa Tenggara
Barat 59.95 60.56 31 31 9.23 9.23 44.10 45.66 32.69 32.81 Kalimantan
Timur 56.64 57.53 32 32 10.91 10.91 39.36 41.68 23.43 23.64 Kep. Bangka
Belitung 54.91 52.57 33 33 6.67 4.44 49.36 48.94 26.17 26.38 Papua Barat 47.88 51.04 34 34 3.57 5.36 37.32 38.62 27.00 27.31
Tingginya Ketimpangan Pemberdayaan Gender Antarkabupaten/kota Kesenjangan capaian pemberdayaan gender juga terjadi antarkabupaten/
kota dalam suatu provinsi. Pada tahun 2018 tingkat kesenjangan IDG antarkabupaten/kota tertinggi terjadi di Provinsi Papua (Gambar 4.11). Selisih IDG kabupaten/kota tertinggi dan terendah di Provinsi Papua mencapai 54,19. Sementara itu, variasi IDG kabupaten/kota terendah ditempati oleh Provinsi Bali. Perbedaan karakteristik penduduk, sosial, ekonomi, budaya, dan geografi serta implementasi kebijakan pada setiap daerah menjadi penyebab perbedaan capaian IDG antarwilayah (KPPPA, 2018).
Gambar 4.11 Variasi IDG Antarkabupaten/kota Menurut Provinsi, 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik 0
10 20 30 40 50 60 70 80 90
Bali Banten DKI Jakarta Kep. Riau Sulawesi Tengah Jambi DI Yogyakarta Riau Maluku Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Lampung Sumatera Selatan Kalimantan Utara Bengkulu Papua Barat Sulawesi Barat Gorontalo Kalimantan Timur NTB Sumatera Barat Jawa Barat Kalimantan Tengah Kep. Bangka Belitung Aceh Sulawesi Utara Jawa Tengah NTT Sumatera Utara Maluku Utara Jawa Timur Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua
Maksimum Minimum Provinsi Sumber: Badan Pusat Statistik
Kondisi Pemberdayaan Gender Di Indonesia
67
Secara keseluruhan, rentang nilai IDG kabupaten/kota pada tahun 2018 adalah dari 29,22 hingga 84,52. Meski mengalami penurunan nilai, Kabupaten Barito Utara dan Kota Kendari masih menjadi dua wilayah dengan IDG tertinggi. Wilayah dengan IDG tertinggi ketiga ditempati oleh Kota Jayapura yang mampu melompat 20 tingkat dari tahun 2017. Lonjakan peringkat IDG yang dialami oleh Kota Jayapura sebagai dampak dari peningkatan semua komponen IDG, terutama persentase perempuan sebagai tenaga profesional.
Sebagian besar (8 dari 10) kabupaten/kota dengan IDG tertinggi berada di wilayah KTI dan hanya ada 2 kota yang berada di KBI, yaitu Kota Surabaya di peringkat ke empat dan Kota Kediri di peringkat ke sepuluh.
Beberapa wilayah di Indonesia Timur mampu menunjukkan keberhasilan dalam pemberdayaan gender. Namun di sisi lain, masih banyak daerah yang mengalami ketertinggalan capaian pemberdayaan gender. Sebanyak 9 dari 10 wilayah dengan IDG terendah berada di Indonesia Timur, bahkan 6 diantaranya berada di Provinsi Papua. Hal ini membuktikan kesenjangan pemberdayaan gender yang ada di Papua, dimana Kota Jayapura mampu menjadi peringkat 3 dengan IDG tertinggi, sedangkan 6 kabupaten lainnya masih tertinggal di peringkat terbawah.
Tabel 4.4 Capaian IDG Tertinggi dan Terendah beserta Komponen Pembentuknya Menurut Provinsi, 2017-2018
Kabupaten/
Kota IDG Ranking Keterwakilan
Perempuan di Parlemen
Perempuan Sebagai Tenaga Profesional
Sumbangan Pendapatan Perempuan
(%) (%) (%)
2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 IDG Tertinggi
Barito Utara 86.20 84.52 1 1 36.00 32.00 45.39 43.48 43.73 43.71 Kota Kendari 85.30 83.48 2 2 40.00 34.29 47.34 46.05 37.76 37.83 Kota Jayapura 78.89 83.41 23 3 25.00 30.00 38.83 46.49 34.99 34.97 Kota Surabaya 82.89 83.29 3 4 34.00 34.00 47.29 49.53 35.45 35.46 Kota Tomohon 82.32 83.23 7 5 40.00 40.00 56.98 53.32 33.89 34.09 Barito Selatan 81.67 83.19 10 6 36.00 36.00 34.70 38.65 38.11 38.15 Manado 81.00 83.18 13 7 32.50 37.14 44.28 45.21 34.82 34.98 Minahasa 82.42 82.96 5 8 31.43 31.43 54.19 50.61 38.80 38.95 Gunung Mas 78.74 82.73 24 9 28.00 28.00 31.56 44.42 51.04 50.11 Kota Kediri 82.36 82.36 6 10 33.33 33.33 51.19 55.02 35.56 35.64
IDG Terendah
Kota Tual 51.84 45.26 440 505 5.00 0.00 51.07 57.48 26.43 26.45 Muna Barat 45.07 45.09 499 506 10.00 10.00 44.52 43.93 17.92 18.05 Labuhan Batu
Utara 47.18 44.83 489 507 2.86 2.86 49.60 63.41 24.75 24.79
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
68
Kabupaten/
Kota IDG Ranking Keterwakilan
Perempuan di Parlemen
Perempuan Sebagai Tenaga Profesional
Sumbangan Pendapatan Perempuan
(%) (%) (%)
2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 2017 2018 Puncak 42.95 43.57 503 508 0.00 0.00 31.46 32.24 32.34 32.35 Deiyai 38.42 41.12 511 509 0.00 0.00 21.15 22.96 61.89 59.56 Mamberamo
Tengah 53.42 41.04 423 510 10.00 10.00 19.98 7.68 44.60 45.64 Paniai 50.92 40.79 454 511 4.00 0.00 27.04 19.89 47.96 47.91 Sumbawa Barat 38.03 38.69 512 512 0.00 0.00 51.32 50.05 20.00 20.42 Halmahera
Selatan 38.52 38.54 510 513 0.00 0.00 48.92 46.26 21.10 21.26 Asmat 28.71 29.22 514 514 4.00 4.00 4.57 4.44 38.21 39.68
Meski isu kesetaraan gender telah digaungkan dan dilaksanakan hingga di tingkat daerah, namun masih terlihat perbedaan capaian pemberdayaan gender antarprovinsi di Indonesia. Kualitas sumber daya manusia, karakteristik sosial, budaya, keadaan geografi, potensi ekonomi, dan faktor- fator lain sangat berpengaruh terhadap pencapaian pemberdayaan gender di setiap wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan lembaga terkait baik di level pusat maupun daerah. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah diantaranya dengan penetapan berbagai peraturan seperti Surat Edaran Bersama (SEB) antara empat menteri yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No.270/M.PPN /II/2012, Menteri Keuangan dengan No SE.33/MK.02/2012, Menteri Dalam Negeri No.
050/4370A/SJ dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 46/MPP-PA/II/2012 tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender, serta beberapa peraturan lain yang mengatur penerapan kebijakan dalam rangka percepatan capaian kesetaraan gender. Selain itu, berbagai kebijakan dan program telah dilaksanakan oleh KPPPA dan lembaga terkait dalam rangka mendorong keseteraan gender di berbagai bidang.
Sumber: Badan Pusat Statistik