• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019"

Copied!
199
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2089-3531

(2)
(3)
(4)

PEMBANGUNAN MANUSIA

BERBASIS GENDER 2019

Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

ISSN : 2089-3531

Ukuran Buku : 17,6 x 25 cm Jumlah Halaman : xviii + halaman

Naskah : Subdirektorat Analisis Statistik Gambar Kulit : Subdirektorat Analisis Statistik

Diterbitkan oleh : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dicetak oleh : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

178

(5)

Tim Laporan

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2019

Pengarah

Sri Soelistyowati Pribudiarta Nur Sitepu Penanggung Jawab Ali Said

Fakih Usman Editor

Wisnu Winardi Yoyo Karyono Sylvianti Angraini

Anugrah Pambudi Raharjo Penulis

Dina Nur Rahmawati Alvina Clarissa Siska Ayu Tiara Dewi Pengolah Data Dina Nur Rahmawati Desain Kulit

Alvina Clarissa Desain Tata Letak Alvina Clarissa Taufan Tirtayasa

(6)
(7)
(8)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

vi

Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Badan Pusat Statistik beserta jajarannya dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini.

Semoga kerja sama yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat dalam pembangunan serta mewujudkan pembangunan kesetaraan gender yang lebih berkualitas.

Jakarta, Desember 2019

I Gusti Ayu Bintang Darmawati

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia,

(9)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

vii

Sebagai wujud dari fungsi pembinaan dan fasilitasi terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) telah bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP & PA) untuk menyusun publikasi “Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun 2019”. Publikasi ini berisi indikator statistik dan ulasan tentang perkembangan pencapaian dua indeks komposit yaitu Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG).

IPG menggambarkan kesenjangan pencapaian pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Sementara itu Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengukur partisipasi aktif laki-laki dan perempuan pada kegiatan ekonomi, politik, dan pengambilan keputusan. Kedua indikator gender tersebut dapat digunakan sebagai alat monitoring hasil pembangunan gender. Hal ini sejalan dengan visi Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.

Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia atas kepercayaannya kepada BPS untuk mengembangkan data dan indikator statistik terpilah gender. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang membantu tersusunnya publikasi ini. Semoga publikasi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Kata Pengantar

Jakarta, Desember2019 Kepala Badan Pusat Statistik

Dr. Suhariyanto

(10)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

viii

(11)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

ix

Daftar Isi

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... vii

Daftar Gambar ... viii

Daftar Lampiran ... xi

Ringkasan Eksekutif ... 1

Bab 1 Kesetaraan Gender Sebagai Sebuah Tujuan... 1

Kesetaraan Gender, Pentingkah? ... 3

Kesetaraan Gender ... 4

Kesetaraan Gender Sebagai Sebuah Tujuan... 5

Bab 2 Pembangunan Gender di Tataran Global ... 19

Pembangunan Manusia di Indonesia Masih Berada di Level Sedang ... 17

Pembangunan Gender di Indonesia: Meningkat Tapi Lambat ... 21

Ketimpangan Gender Masih Terjadi di Sebagian Besar Negara-negara ASEAN ... 24

Bab 3 Kondisi Pembangunan Gender di Indonesia ... 33

Pembangunan Perempuan Lebih Cepat Dibanding Laki-laki ... 35

Perempuan Lebih Berumur Panjang ... 36

Tiada Lagi Perbedaan Peluang Sekolah Antara Perempuan dan Laki-laki ... 38

Lama Sekolah Perempuan Masih Perlu Ditingkatkan ... 40

Perekonomian Masih Didominasi Laki-laki ... 41

Ketimpangan Pembangunan Gender Masih Terjadi Antarwilayah ... 43

Wilayah di Ujung Timur Indonesia Memiliki Capaian Pembangunan Gender yang Masih Rendah ... 50

Bab 4 Kondisi Pemberdayaan Gender di Indonesia ... 53

Sinyal Positif Pemberdayaan Gender ... 55

Pemberdayaan Gender Semakin Terlihat ... 56

Peran Perempuan dalam Dunia Politik Masih Perlu Diperjuangkan ... 57

Daftar Isi

(12)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

x

Profesionalisme Pekerja Perempuan Semakin Diperhitungkan 59 Perempuan Semakin Berkontribusi dalam Penciptaan

Pendapatan ... 61

Terjadi Disparitas Pemberdayaan Gender Antarwilayah ... 64

Tingginya Ketimpangan Pemberdayaan Gender Antakabupaten /kota ... 66

Bab 5 Keterkaitan Kesetaraan Gender dan Pembangunan Manusia .... 69

Pembangunan Manusia dan Pembangunan Gender Berjalan Searah ... 71

Posisi Pembangunan Gender dan Pembangunan Manusia Relatif Stabil ... 75

Peningkatan Kualitas Perempuan Berdampak pada Pemberdayaan ... 76

Pemberdayaan Gender Membaik di Beberapa Provinsi ... 78

Bab 6 Kesimpulan ... 83

Daftar Pustaka ... 87

Lampiran ... 89

Daftar Isi

(13)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xi

Daftar Tabel

Tabel 3.1 Rata-rata Upah Pekerja dalam Sebulan Menurut Jenis

Kelamin (dalam ribu rupiah), 2014-2018 ... 43 Tabel 3.2 Jumlah Provinsi di KBI dan KTI Menurut Jenis Kelamin dan

Status Pembangunan Manusia, 2017 dan 2018 ... 44 Tabel 3.3 IPG, IPM Laki-laki dan IPM Perempuan dan Ranking IPG di

Lima Provinsi dengan IPG Tertinggi dan Terendah,

2017-2018 ... 45 Tabel 3.4 Pertumbuhan IPM Laki-laki dan IPM Perempuan serta

Selisih IPG di Lima Provinsi dengan Pertumbuhan IPG

Tertinggi dan Terendah, 2017-2018 ... 47 Tabel 3.5 Matriks Distribusi Jumlah Kabupaten/Kota Menurut

Kategori IPG dan IPM, 2018 ... 50 Tabel 3.6 Jumlah Provinsi di KBI dan KTI menurut Jenis Kelamin dan

Status Pembangunan Manusia, 2017 dan 2018 ... 51 Tabel 4.1 Indikator-indikator Ketenagakerjaan Menurut Jenis

Kelamin, 2008-2018 ... 55 Tabel 4.2 Jumlah Anggota DPR RI Menurut Jenis Kelamin, 1955-2014

... 58 Tabel 4.3 Capaian IDG Tertinggi dan Terendah beserta Komponen

Pembentuknya Menurut Provinsi, 2017-2018 ... 65 Tabel 4.4 Capaian Angka IDG Tertinggi dan Terendah beserta

Komponen Pembentuknya Menurut Kabupaten/kota, 2018 67 Tabel 5.1 Pergeseran Kondisi Pembangunan Gender dan

Pembangunan Manusia ... 75 Tabel 5.2 Pergeseran Kondisi Pembangunan Gender dan

Pemberdayaan Gender ... 80

(14)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xii

Daftar Gambar

Gambar 2.1 IPM Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017... 20 Gambar 2.2 IPG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017... 21 Gambar 2.3 IPM Laki-laki, IPM Perempuan, IPG Negara-negara ASEAN

dan Beberapa Negara Lain, 2017 ... 22 Gambar 2.4 PNB Perkapita Menurut Jenis Kelamin Negara-negara

ASEAN dan Beberapa Negara Lain (PPP $), 2017 ... 23 Gambar 2.5 Rasio PNB Perkapita Perempuan Terhadap Laki-laki

Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017 ... 23 Gambar 2.6 IKG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017... 25 Gambar 2.7 AKI per 100.000 Kelahiran Hidup di Negara-negara ASEAN

dan negara lainnya, 2015 ... 27 Gambar 2.8 ABR per 1.000 Perempuan Umur 15-19 Tahun di Negara-

negara ASEAN dan Negara Lainnya, 2015-2020 ... 28 Gambar 2.9 Persentase Anggota Parlemen Menurut Jenis Kelamin

di Negara-negara ASEAN, 2017 ... 29 Gambar 2.10 Persentase Penduduk dengan Pendidikan SMP ke atas

di Negara-negara ASEAN, 2017 ... 30 Gambar 2.11 TPAK Menurut Jenis Kelamin di Negara-negara ASEAN, 2017... 31 Gambar 3.1 Perkembangan IPM Perempuan, IPM Laki-laki, IPM, dan

IPG, 2010-2018 ... 36 Gambar 3.2 Perkembangan Umur Harapan Hidup (UHH) Menurut

Jenis Kelamin, 2010-2018 ... 37 Gambar 3.3 Perbandingan Indikator Kesehatan Menurut Jenis

Kelamin, 2018 ... 37 Gambar 3.4 Perkembangan Harapan Lama Sekolah (HLS) Menurut

Jenis Kelamin, 2010-2018 ... 38 Gambar 3.5 Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan, 2018 39 Gambar 3.6 Persentase Pekerja Anak, 2016-2018 ... 39 Gambar 3.7 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Menurut

Jenis Kelamin, 2010-2018 ... 40 Gambar 3.8 Rasio Angka Partisipasi Sekolah (APS) Perempuan

Terhadap Laki-laki Menurut Kelompok Umur, 2010- 2018 41 Gambar 3.9 Perkembangan Pengeluaran Perkapita yang Disesuaikan

Menurut Jenis Kelamin (Ribuan Rupiah), 2010-2018 .... 42 Gambar 3.10 Rasio Pengeluaran Perkapita Perempuan Terhadap

Laki-laki, 2010-2018 ... 42 Gambar 3.11 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Provinsi

(15)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xiii

2018... 45 Gambar 3.12 Rata-rata Upah Pekerja Menurut Jenis Kelamin di Lima

Provinsi dengan IPG Terendah, 2018 ... 46 Gambar 3.13 Jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia Menurut Status

Capaian IPM dan Jenis Kelamin, 2018... 49 Gambar 3.14 Variasi IPG Kabupaten/kota Menurut Provinsi, 2018 ... 49 Gambar 4.1 Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), 2010 -2018 ... 56 Gambar 4.2 Komponen Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), 2017 dan 2018... 57 Gambar 4.3 Perkembangan Persentase Perempuan Sebagai Tenaga

Profesional, 2010-2018 ... 59 Gambar 4.4 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) Menurut Jenis

Kelamin, 2010-2018 ... 60 Gambar 4.5 Persentase Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang Menduduki

Jabatan Struktural Menurut Jenis Kelamin, 2010-2018 . 60 Gambar 4.6 Perkembangan Sumbangan Pendapatan Perempuan

(persen), 2010-2018 ... 62 Gambar 4.7 Persentase Pekerja Menurut Jenis Kelamin dan

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2010 dan

2018... 62 Gambar 4.8 Persentase Pekerja Formal dan Informal Menurut

Jenis Kelamin, 2018 ... 63 Gambar 4.9 Capaian IDG Menurut Provinsi, 2018 ... 64 Gambar 4.10 Peta IDG Menurut Provinsi, 2018 ... 64 Gambar 4.11 Variasi IDG Antarkabupaten/kota Menurut Provinsi,

2018... 66 Gambar 5.1 Sebaran IPM dan IPG Menurut Provinsi, 2018 ... 72 Gambar 5.2 Sebaran Kabupaten/kota Menurut IPM dan IPG, 2018 .. 72 Gambar 5.3 Hubungan Antara IPM dan IPG, 2014, 2016, dan 2018 .. 74 Gambar 5.4 Sebaran Provinsi Menurut IPG dan IDG, 2018 ... 76 Gambar 5.5 Sebaran Kabupaten/Kota Menurut IPG dan IDG, 2018 . 77 Gambar 5.6 Hubungan Antara IPG dan IDG, 2014-2018 ... 79

(16)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xiv

Daftar Lampiran

Lampiran 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Komponen Menurut Provinsi dan Kab/Kota, 2017 dan 2018 ... 89 Lampiran 2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Komponennya

Menurut Provinsi danKabupaten/Kota, 2018 ... 110 Lampiran 3 IPG Menurut Provinsi 2010-2018 ... 129 Lampiran 4 IPG Menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota, 2010-2018 130 Lampiran 5 IDG dan Komponennya Menurut Provinsi dan

Kabupaten/Kota, 2018 ... 146 Lampiran 6 IIDG Menurut Provinsi, 2010-2018 ... 163

(17)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xv

Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif

Diskriminasi gender dalam berbagai hal di kehidupan bermasyarakat menimbulkan perbedaan capaian antara laki-laki dan perempuan. Di wilayah yang masih kental akan budaya patriarki, perempuan umumnya lebih tertinggal dari laki-laki baik di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Hal ini terjadi karena norma yang ada pada budaya patriarki seringkali merugikan perempuan dengan menempatkannya sebagai “warga kelas dua”.

Kesepakatan secara internasional seperti Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan/Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) dan Beijing Declaration and Platform for Action (BDPA). Kini, isu gender menjadi salah satu hal penting yang dicantumkan dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan, baik pada tingkat nasional maupun global.

Isu gender menjadi salah satu poin dalam tujuan pembangunan berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs merupakan kelanjutan dari tujuan pembangunan millenium/Millenium Development Goals (MDGs) yang telah berakhir pada tahun 2015. Kesetaraan gender tercantum dalam tujuan ke-5 SDGs yakni “Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan”. Gender merupakan isu yang bersifat multidimensi. Isu ini meliputi sisi kesehatan, pendidikan dan ekonomi yang juga menjadi fokus SDGs. Selain secara khusus dicantumkan dalam tujuan kelima, isu gender juga tercakup pada hampir seluruh tujuan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penghitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pembangunan laki-laki dan perempuan di Indonesia mengalami peningkatan dalam 9 tahun terakhir. Pada tahun 2018 perkembangan nilai IPM wanita mengalami peningkatan lebih cepat dari laki-laki, dimana pada tahun 2018 nilai kecapatan pertumbuhan IPM wanita adalah sebesar 0,87 persen, sedangkan laki-laki sebesar 0,77 persen. Sebagai akibatnya, IPG Indonesia terus mengalami peningkatan dan pada tahun 2018 nilainya mencapai 90,99, meningkat sebesar 0,03 poin dibanding tahun 2017.

IPM dibentuk oleh beberapa komponen, yaitu Umur Harapan Hidup (UHH), Harapan Lama Sekolah (HLS), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), dan Pengeluaran perkapita yang disesuaikan. Di bidang kesehatan, UHH perempuan selalu lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada tahun 2018 UHH perempuan sebesar 73,19 tahun, lebih besar dibanding UHH laki-laki yang berada di level 69,3

(18)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xvi

Ringkasan Eksekutif

tahun. Dari aspek pendidikan, peluang bersekolah antara laki-laki dan perempuan sudah hampir sama. Pada tahun 2018 HLS perempuan adalah 12,99 tahun dan laki-laki sebesar 12,84 persen. Dengan nilai pencapaian yang relatif hampir sama, mengindikasikan bahwa kesetaraan pembangunan dalam aspek pendidikan dapat diwujudkan secara merata dalam waktu yang tidak lama. Dari sisi rata-rata lama sekolah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 rata-rata pendidikan laki–laki sekitar 1 tahun lebih lama dibandingkan perempuan. Pada tahun 2018, rata-rata pendidikan yang dijalani oleh laki-laki adalah sekitar 8,62 tahun, sedangkan perempuan 7,72 tahun.

Ketimpangan antara laki-laki dan perempuan sangat terlihat dalam hal ekonomi. Di bidang ini, perempuan sangat tertinggal dibanding laki- laki. Selama periode 2010 hingga 2018, nilai pengeluaran perkapita yang disesuaikan perempuan selalu jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.Pada tahun 2018 pengeluaran perkapita yang disesuaikan perempuan adalah sebesar 9,04 juta rupiah, sedangkan pengeluaran perkapita yang disesuaikan laki-laki adalah sebesar 15,55 juta rupiah.

Disparitas pembangunan gender terjadi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini dapat dilihat dari peringkat IPG tertinggi yang mayoritas ditempati oleh provinsi-provinsi di KBI. Provinsi- provinsi dengan IPG tertinggi adalah Sulawesi Utara (94,79), DI Yogyakarta (94,73), dan DKI Jakarta (94,7). Sedangkan tiga provinsi dengan capaian IPG terendah adalah Kalimantan Timur (85,63), Papua Barat (82,47) dan Papua (80,11).

Lebih dari separuh dari jumlah kabupaen/kota di Indonesia telah mencapai IPG di atas 90. Namun, hal ini tidak serta merta dapat diartikan bahwa pembangunan manusia baik laki-laki maupun perempuan di daerah tersebut sudah tinggi. IPG diformulasikan sebagai rasio IPM perempuan terhadap IPM laki-laki. Nilai IPG yang tinggi bisa didapatkan dari daerah dengan IPM laki- laki dan IPM perempuan yang “sama-sama tinggi” dan “sama-sama rendah”.

Terbukti, masih terdapat 2 kabupaten/ kota di Indonesia yang memiliki level IPG di atas 90, namun pembangunan manusia baik laki-laki maupun perempuan di wilayah tersebut masih berstatus rendah atau kurang dari 60. Kedua daerah tersebut adalah Kabupaten Sabu Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Lanny Jaya di Papua.

Untuk melihat hubungan antara IPM dan IPG diperlukan pemetaan provinsi berdasarkan level IPG dan IPM. Oleh sebab itu digunakan analisis kuadran yang membagi provinsi dalam empat kelompok (kuadran). Kuadran I merupakan provinsi dengan IPM dan IPG di atas angka nasional. Kuadran II merupakan provinsi dengan kondisi IPM di atas angka nasional tetapi IPG di bawah angka nasional. Kuadran III adalah provinsi dengan IPM dan IPG di bawah angka nasional, sedangkan kuadran IV adalah provinsi dengan kondisi IPM di bawah angka nasional tetapi IPG di atas angka nasional. Dari hasil pengolahan data,

(19)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xvii

Ringkasan Eksekutif

50 persen provinsi di Indonesia berada pada Kuadran III dimana capaian IPM maupun IPG provinsi berada dibawah nasional. Sedangkan provinsi yang berada pada Kuadran I dengan capaian IPM dan IPG pada level di atas nasional hanya sebanyak 7 provinsi.

Dalam menilai sejauh mana pemberdayaan gender di Indonesia, digunakan sebuah indeks komposit, yaitu Indeks Pemberdayaan Gender (IDG).

Pemberdayaan gender di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2018, IDG Indonesia berada pada level 72,10, meningkat 0,36 poin atau tumbuh 0,50 persen dibanding tahun 2017.

Peningkatan IDG tahun 2018 terutama terjadi karena kenaikan dua komponen yakni persentase perempuan sebagai tenaga profesional dan sumbangan pendapatan perempuan. Persentase perempuan sebagai tenaga professional menigkat dari 46,31 pada tahun 2017, menjadi 47,02 pada tahun 2018, sedangkan sumbangan pendapatan perempuan meningkat dari 36,62 menjadi 36,70.

Pertumbuhan IDG pada periode tahun 2017-2018 cenderung lambat dibandingkan dengan tren pertumbuhan selama 8 tahun terakhir. Meski demikian, capaian ini tetap menjadi sinyal positif adanya perbaikan keadaan pemberdayaan gender di Indonesia.

Capaian IDG provinsi di Indonesia relatif bervariasi. Tidak terlihat perbedaan yang berarti pada capaian IDG antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tiga provinsi dengan IDG tertinggi ditempati oleh provinsi di KTI, yaitu Sulawesi Utara, Maluku dan Kalimantan Tengah.

Sementara itu, 5 dari 10 IDG terendah ditempati oleh provinsi di KBI. Sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki nilai IDG 60-80. Hanya ada satu provinsi dengan IDG di atas 80 yaitu Sulawesi Utara. Sementara itu, masih terdapat 3 provinsi dengan IDG di bawah 60 yaitu Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur dan Papua Barat.

Kesenjangan capaian pemberdayaan gender juga terjadi antarkabupaten/

kota dalam suatu provinsi. Pada tahun 2018 tingkat kesenjangan IDG antarkabupaten/kota tertinggi terjadi di Provinsi Papua. Selisih IDG kabupaten/kota tertinggi dan terendah di Provinsi Papua mencapai 54,19.

Sementara itu, variasi IDG kabupaten/kota terendah ditempati oleh Provinsi Bali.

Pembangunan gender selayaknya memiliki asosiasi dengan pemberdayaan gender di suatu wilayah. Pemetaan wilayah berdasarkan capaian IPG dan IDG diperlukan sebagai dasar kebijakan yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik wilayah tersebut. Ada empat kelompok dalam memetakan provinsi berdasarkan kondisinya. Kelompok kuadran I merupakan provinsi dengan IPG dan IDG di atas angka nasional, kuadran II merupakan provinsi dengan kondisi IPG di atas angka nasional tetapi IDG di bawah angka nasional,

(20)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

xviii

Ringkasan Eksekutif

kuadran III adalah provinsi dengan IPG dan IDG di bawah angka nasional, sedangkan kuadran IV adalah provinsi dengan kondisi IPG di bawah angka nasional tetapi IDG di atas angka nasional.

Pada tahun 2018, separuh dari total provinsi di Indonesia berada pada kondisi provinsi dengan capaian IPM dan IPG berada di bawah angka nasional (Kuadran III) dan hanya ada 7 provinsi yang berada pada kondisi sebaliknya (Kuadran I: capaian IPM dan IPG berada di atas angka nasional).

KESETARAAN GENDER

SEBAGAI SEBUAH TUJUAN

(21)

AYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK STATISTIK

KESETARAAN GENDER SEBAGAI SEBUAH TUJUAN

1

(22)

KESETARAAN GENDER

SEBAGAI SEBUAH TUJUAN (SDGs)

• Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi perempuan dan laki- laki untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam

menikmati hasil pembangunan

• Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengukur partisipasi aktif perempuan pada kegiatan ekonomi

• Untuk melaksanakan SDGs, Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) SDGs Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan

Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

• Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, (SDG’s) menyebutkan tujuan ke-5 adalah “mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan”

GENDER EQUALITY

Kesetaraan gender juga sejalan dengan tujuan SDGs lainnya (tujuan 1,2,3,4,6 dan 7)

5

(23)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

3

Kesetaraan Gender, Pentingkah?

Gender bukan dimaknai sebagai perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan dalam arti biologis. Pemaknaan gender mengacu pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, perilaku, kegiatan serta atribut yang dikonstruksikan secara sosial. Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi perempuan dan laki-laki untuk memperoleh kesempatan dan hak- haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan

Kesetaraan gender dapat dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara penduduk perempuan dan laki-laki dalam mengakses dan mengontrol sumber daya, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan proses pembangunan, serta mendapatkan manfaat dari kebijakan dan program pembangunan.

Dalam mengukur kesetaraan gender tersebut, ada beberapa indeks yang digunakan yaitu IPM, IPG, dan IDG. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran kualitas hidup manusia dalam bidang kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi. Ukuran tersebut kemudian digunakan untuk mengukur Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang difokuskan pada faktor ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di berbagai level. Sedangkan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengukur partisipasi aktif perempuan pada kegiatan ekonomi yaitu dengan indikator persentase sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja, kegiatan politik dengan indikator keterlibatan perempuan di parlemen, serta dalam pengambilan keputusan melalui indikator perempuan sebagai tenaga manajer, professional, administrasi, teknisi. Kesimpulannya, IDG digunakan untuk melihat sejauh mana pencapaian kapabilitas perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam bidang kesehatan misalnya, WHO (2010) menyatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang berhak sakit atau meninggal karena ketimpangan gender”. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh ada perbedaan dalam pemberian akses bagi laki-laki maupun perempuan dalam pemberian

KESETARAAN

GENDER SEBAGAI SEBUAH TUJUAN

1

(24)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

4

layanan kesehatan. Salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan untuk melihat bagaimana perempuan mendapatkan pelayanan kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih berada pada angka 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup (www.bps.go.id). Selain itu juga jumlah perempuan yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan dan melahirkan di fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam melihat ketimpangan akses perempuan dan laki-laki dalam bidang kesehatan.

Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang)-perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. Sebagaimana dinyatakan McKinsey and Company (2015), jika perempuan dan laki-laki memainkan peran yang sama dalam pasar tenaga kerja, maka pada tahun 2025 GDP global tahunan akan bertambah sebesar $28triliun atau meningkat 26 persen.

Kesetaraan Gender

Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Kata gender dapat diartikan sebagai peran dan perilaku yang dibentuk oleh masyarakat melalui proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki- laki. Perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki seringkali ditafsirkan juga sebagai sebuah tuntutan sosial mengenai pantas atau tidaknya seseorang dalam berperilaku. Tutuntan yang diberikan berbeda sesuai dengan lingkungannya, namun sebagian besar masih memiliki pandangan yang sama dalam penyerahan tanggung jawab pengasuha dan perawatan anak kepada perempuan, sedangkan tugas kemiliteran diberikan kepada laki-laki.

Adanya ketimpangan kesempatan antara laki-laki dan perempuan menimbulkan ketidakadilan yang dapat berpengaruh terhadap kebijakan dan kehidupan sosial. Pengertian kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Atau dapat pula diartikan bahwa “kesetaraan gender mengacu pada persamaan hak, tanggung jawab dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki” (UN Women).

Memberikan akses yang setara terhadap perempuan dan anak perempuan baik di bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak, keterwakilan dalam politik dan ekonomi dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat yang lebih luas. Kesetaraan gender dapat juga diartikan sebagai upaya memberikan kerangka hukum bagi perempuan di lingkungan pekerjaan serta memberantas praktek diskriminasi terhadap perempuan.

(25)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

5

Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka panjang. Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki makna yang penting karena setelah diadopsi maka akan dijadikan acuan secara global dan nasional sehingga agenda pembangunan menjadi lebih fokus. Setiap butir tujuan tersebut menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua maupun muda.

Kesetaraan Gender sebagai Sebuah Tujuan

SDGs:

Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, (SDG’s) menyebutkan tujuan ke-5 adalah “mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan”. Dalam mencapai tujuan tersebut teradapat beberapa target dan indikator yang tertuang sebagaimana pada table berikut:

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.1 Mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan di mana pun.

5.1.1* Jumlah kebijakan yang responsif gender

mendukung pemberdayaan perempuan.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.2 Menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan di ruang publik dan pribadi, termasuk perdagangan orang dan eksploitasi seksual, serta berbagai jenis eksploitasi lainnya.

5.2.1*

Proporsi perempuan dewasa dan anak perempuan (umur 15-64 tahun)mengalami kekerasan

(fisik, seksual, atauemosional) oleh pasangan atau mantan pasangan dalam 12 bulan terakhir.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (tidak ada di dalam lampiran Perpres).

(26)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

6

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.2.1 (a)

Prevalensi kekerasan terhadap anak perempuan.

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.2.2*

Proporsi perempuan dewasa dan anak perempuan(umur 15-64 tahun) mengalami kekerasan seksual oleh orang lain selain pasangan dalam 12 bulan terakhir.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (tidak ada di dalam lampiran Perpres).

5.2.2(a)

Persentase korban kekerasan terhadap

perempuan yang mendapat layanan komprehensif.

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.3 Menghapuskan semua praktik berbahaya, seperti perkawinan usia anak, perkawinan dini dan paksa, serta sunat perempuan.

5.3.1*

Proporsi

perempuan umur 20-24 tahun yang berstatus kawin atau berstatus hidup bersama sebelum umur 15 tahun dan sebelum umur 18 tahun.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (tidak ada di dalam lampiran Perpres).

5.3.1(a)

Median usia kawin pertama perempuan pernah kawin umur 25-49 tahun.

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

(27)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

7

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.3.1(b)

Angka kelahiran pada perempuan umur 15-19 tahun (Age Specific Fertility Rate/

ASFR).

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.3.1(c)

Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/

sederajat.

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.3.2 Persentase anak perempuan dan perempuan berusia 15-49 tahun yang telah menjalani FGM/C, menurut kelompok umur

Indikator Global yang akan dikembangkan

5.4 Mengenali dan menghargai pekerjaan mengasuh dan pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar melalui penyediaan pelayanan public, infrastuktur dan kebijakan perlindungan sosial, dan peningkatan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga dan keluarga yang tepat secara nasional

5.4.1 Proporsi waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga dan perawatan berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, dan lokasi

Indikator global yang akan dikembangkan

(28)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

8

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.5 Menjamin partisipasi penuh dan efektif, dan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memimpin di semua tingkat pengambilan keputusan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan masyarakat

5.5.1* Proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen tingkat pusat, parlemen daerah dan pemerintah daerah

Indikator nasional yang sesuai dengan indikator global

5.5.2* Proporsi

perempuan yang berada di posisi managerial

Indikator nasional yang sesuai dengan indikator global

5.6 Menjamin akses universal terhadap kesehatan seksual dan reproduksi, dan hak reproduksi seperti yang telah disepakati sesuai dengan Programme of Action of the International Conference on Population andDevelopment and the Beijing Platform serta dokumen-dokumen hasil reviu dari konferensi-

konferensi tersebut.

5.6.1* Proporsi

perempuan umur 15-49 tahun yang membuat keputusan sendiri terkaithubungan seksual,

penggunaan kontrasepsi, dan layanan kesehatan reproduksi.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (tidak ada di dalam lampiran Perpres).

5.6.1(a) Unmetneed KB (Kebutuhan Keluarga Berencana/

KB yang tidak terpenuhi).

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.6.1(b) Pengetahuan dan pemahaman Pasangan Usia Subur (PUS) tentang metode kontrasepsi modern.

Indikator nasional sebagai tambahan indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

(29)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

9

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.6.2* Undang-undang atau Peraturan Pemerintah (PP) yang menjamin perempuan umur 15-49 tahun untuk mendapatkan pelayanan, informasi dan pendidikan terkait kesehatan seksual dan reproduksi.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (ada di dalam lampiran Perpres).

5.a. Melakukan reformasi untuk memberi hak yang sama kepada perempuan terhadap sumber daya ekonomi, serta akses terhadap kepemilikan dan kontrol atas tanah dan bentuk kepemilikan lain, jasa keuangan, warisan dan sumber daya alam, sesuai dengan hukum nasional.

5.a.1 Propo rsi penduduk yang memiliki hak tanah pertanian;

(2) Proporsi perempuan pemilik atau yang memiliki hak lahan pertanian, menurut jenis kepemilikan

Indikator Global yang akan dikembangkan

5.a.2 Proporsi negara dengan kerangka hukum (termasuk hukum adat) yang menjamin persamaan hak perempuan untuk kepemilikan tanah dan/atau hak kontrol

Indikator Global yang akan dikembangkan

5.b. Meningkatkan penggunaan teknologi yang memampukan khususnya teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan.

5.b.1* Proporsi individu yang menguasai/

memiliki telepon genggam.

Indikator nasional yang sesuai dengan Indikator global (tidak ada di dalam lampiran Perpres).

(30)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

10

Target INDIKATOR KETERANGAN

5.c. Mengadopsi dan memperkuat kebijakan yang baik dan perundang- undangan yang berlaku untuk peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan kaum perempuan di semua tingkatan.

5.c.1 Ketersediaan sistem untuk melacak dan membuat alokasi umum untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan

Indikator Global yang akan dikembangkan

RPJMN 2015-2019:

Visi pembangunan nasional untuk tahun 2015-2019 adalah: Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong. Salah satu upaya untuk mewujudkan visi tersebut adalah dengan mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera (pada misi ke-4). Kualitas manusia yang dimaksud adalah kualitas hidup bagi laki-laki maupun perempuan.

Untuk menunjukkan prioritas dalam jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, dirumuskan sembilan agenda prioritas yang disebut NAWA CITA. Dari Sembilan agenda tersebut, upaya pembangunan manusia berbasis gender ada pada agenda kedua dan keempat yaitu:

• Agenda kedua – membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya;

• Agenda keempat – memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.

Dalam rangka membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya, pada sub agenda prioritas kedua adalah Meningkatkan Peranan dan Keterwakilan Perempuan dalam Politik dan Pembangunan. Sasaran yang akan dicapai adalah meningkatnya kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan dan meningkatnya keterwakilan perempuan dalam politik termasuk dalam proses pengambil keputusan di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Adapun arah kebijakan yang strategi yang disusun untuk dapat mencapai sasaran yang dimaksud, antara lain:

(31)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

11

1. Meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan melalui:

• Peningkatan pemahaman dan komitmen para pelaku pembangunan tentang pentingnya pengintegrasian perspektif gender dalam berbagai tahapan, proses, dan bidang pembangunan, di tingkat nasional maupun di daerah;

• Penerapan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) di berbagai bidang pembangunan, di tingkat nasional dan daerah;

• Peningkatan pemahaman masyarakat dan dunia usaha tentang pentingnya kesetaraan gender.

2. Meningkatkan peran perempuan di bidang politik melalui:

• Penguatan UU Partai Politik bagi pelaksanaan kebijakan afirmatif tentang pemenuhan minimal 30 persen keterwakilan perempuan dalam parlemen dan kepengurusan partai politik;

• Peningkatan fasilitasi bagi partai politik untuk pemenuhan minimal 30 persen keterwakilan perempuan sebagai calon anggota legislatif sebagai prasyarat keikutsertaan dalam pemilihan umum;

• Peningkatan kapasitas perempuan, termasuk perempuan dari kelompok marginal dan rentan, dalam rangka pemenuhan hak politik termasuk sebagai kader atau calon anggota legislatif, serta sebagai pengambil keputusan di eksekutif dan yudikatif;

• Peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya keterwakilan perempuan dalam partai politik dan sebagai anggota legislatif;

• Peningkatan pemahaman dan komitmen para pengambil keputusan tentang pentingnya peran perempuan dalam berbagai tahapan dan proses pembangunan di semua bidang;

• Pembangunan jaringan antar kelompok perempuan Indonesia.

3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) melalui:

• Penyempurnaan proses pembentukan peraturan perundang- undangan dan kebijakan agar selalu mendapatkan masukan dari perspektif gender;

(32)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

12

• Pelaksanaan review, koordinasi, dan harmonisasi seluruh peraturan perundang-undangan dari UU sampai dengan peraturan daerah agar berperspektif gender;

• Peningkatan kapasitas SDM lembaga koordinator dalam mengkoordinasikan dan memfasilitasi kementerian/ lembaga/

pemerintah daerah tentang penerapan PUG, termasuk data terpilah;

• Penguatan mekanisme koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penerapan PUG;

• Penguataan lembaga/jejaring PUG di pusat dan daerah, termasuk dengan perguruan tinggi, pusat studi wanita/ gender, dan organisasi masyarakat;

• Penguatan sistem penyediaan, pemutakhiran, dan pemanfaatan data terpilah untuk penyusunan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan/

program/kegiatan pembangunan seperti publikasi indeks kesetaraan dan keadilan gender per kabupaten sebagai basis insentif dan disinsentif alokasi dana desa; serta

• Pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil PUG, termasuk PPRG.

Pada agenda ke-4 yaitu memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, terdapat sub agenda keenam yang berkaitan erat dengan upaya pembangunan manusia berbasis gender, yaitu perlindungan anak, perempuan, dan kelompok marginal. Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam perlindungan anak, perempuan, dan masyarakat marginal pada periode 2015 – 2019 adalah tersedianya sistem perlindungan dari berbagai tindak kekerasan dan perlakuan salah lainnya dengan mengoptimalkan upaya pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi terhadap anak, perempuan, dan kelompok marjinal.

Arah kebijakan dan strategi dalam mewujudkan sasaran sub agenda keenam tersebut, antara lain:

1. Memperkuat sistem perlindungan anak dan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, termasuk tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan penindakan, melalui:

• Pelaksanaan Gerakan Nasional Perlindungan Anak;

• Peningkatan pemahaman pemerintah, masyarakat dan dunia usaha

(33)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

13

tentang tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan perlakuan salah lainnya terhadap anak dan perempuan serta nilai-nilai sosial dan budaya yang melindungi anak dan perempuan dari berbagai tindak kekerasan;

• Perlindungan hukum dan pengawasan pelaksanaan penegakan hukum terkait kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta keadilan restorasi (restorative justice) bagi anak;

• Pemberian bantuan hukum bagi anak sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak kekerasan; dan

• Peningkatan efektivitas layanan bagi anak dan perempuan korban kekerasan, yang mencakup layanan pengaduan, rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial.

2. Meningkatkan kapasitas kelembagaan perlindungan anak dan perempuan dari berbagai tindak kekerasan dan perlakuan salah lainnya, melalui:

• Penguatan sistem perundang-undangan;

• Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memberikan layanan termasuk dalam perencanaan dan penganggaran;

• Penguatan mekanisme kerjasama antar pemerintah, lembaga layanan, masyarakat, lembaga pendidikan, media, dan dunia usaha dalam upaya pencegahan dan penanganan.

• Penguatan sistem data dan informasi terkait dengan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

3. Peningkatan ketersediaan layanan bantuan hukum bagi kelompok marjinal, melalui:

• Peningkatan pemahaman masyarakat marjinal terhadap hak dan mekanisme dalam mendapatkan layanan bantuan hukum;

• Pelaksanaan sosialisasi dan penguatan institusi penyelenggara bantuan hukum;

• Pelibatan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan bantuan hukum;

• Optimalisasi pelaksanaan sidang keliling dan pemanfaatan dana prodeo bagi kelompok marginal termasuk masyarakat miskin; dan

(34)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

14

• Penguatan sistem data dan informasi untuk kelompok marjinal, untuk memastikannya mendapat identitas hukum.

Renstra Kemen PPPA:

Pencapaian kesetaraan gender di Indonesia memiliki peluang sangat besar yang didukung dengan berbagai kebijakan mulai dari SDG’s dengan fokus pembangunan manusia seperti kemiskinan, kelaparan kekurangan gizi, pembangunan kesehatan, pendidikan dan kesetaraan gender yang sangat mewarnai MDGs akan tetap dilanjutkan. Selain itu juga menjadi salah satu tujuan dalam RPJMN tahun 2015 – 2019. Selain itu, pencapaian kesetaraan gender di Indonesia juga didukung dengan adanya peluang kerja sama internasional baik antar negara maupun dengan lembaga internasioanl melalui PBB (dengan negara-negara ASEAN, UNICEF, UNHCR, UNDP, penanganan traffiking) dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan dan perlndungan anak. Peluang lain dalam pencapaian kesetaraan gender adalah adanya Komitmen Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan kesepakatan internasional dalam peningkatan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan meratifikasi Konvensi CEDAW, Rencana Aksi Beijing, Konvensi Hak Anak (KHA), Konvensi ILO tentang Ketenagakerjaan, dan Konvensi Hyogo tentang Pengurangan Resiko Bencana.

Selain peluang tersebut, ada pula tantangan yang dihadapi dalam pencapaian kesetaraan gender di Indonesia, antara lain:

1. Pemahaman dan komitmen para pengambil kebijakan di pusat dan daerah dalam pengintegrasian perspektif gender di semua bidang dan tahapan pembangunan

2. Kelembagaan pengarusutamaan gender di pusat dan di daerah belum berjalan secara efektif dalam mewujudkan peningkatan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan.

Tujuan Kemen PPPA untuk mendukung upaya pencapaian Visi dan Misi Kemen PPPA salah satunya adalah meningkatkan kesetaraan gender dalam pembangunan dengan sasaran sebagai berikut:

1. Meningkatnya capaian pembangunan gender. Capaian sasaran ini diukur dengan indikator kinerja utama (IKU): Indeks Pembangunan Gender (IPG);

2. Meningkatnya capaian pemberdayaan gender. Capaian sasaran ini diukur dengan indikator kinerja utama: Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Arah kebijakan dan strategi yang dilakukan oleh Kemen PPPA dalam

(35)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

15

meningkatkan pengarustamaan gender dan pemberdayaan perempuan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup perempuan, serta kesetaraan dan keadilan gender di berbagai bidang pembangunan, antara lain:

1. Meningkatkan pemahaman pemerintah, masyarakat dan dunia usaha tentang kesetaraan dan keadilan gender di tingkat nasional dan daerah;

2. Meningkatkankomitmen pemerintah di tingkat nasional maupun di daerah tentang pentingnya pengintegrasian perspektif gender dalam pembangunan di berbagai bidang;

3. Menyusun, mereview, mengharmonisasikan, dan mengkoordinasikan, berbagai regulasi dan kebijakan pelaksanaan pengarusutamaan gender sebagai acuan bagi K/L dan Pemda dalam pelaksanaan PUG;

4. Meningkatkan kapasitas SDM lembaga koordinator dalam memfasilitasi penerapan PUG dan penyediaaan data terpilah gender di K/L dan Pemda;

5. Melakukan pendampingan teknis dalam penyusunan program, kegiatan dan anggaran yang responsif gender pada K/L dan Pemdamelalui pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG);

6. Memperkuat lembaga/jejaring PUGdan nara sumber di pusat dan daerah untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan PUG;

7. Memperkuat sistem penyediaan, pemutakhiran, dan pemanfaatan data pilah gender untuk penyusunan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan/

program/kegiatan pembangunan di tingkat nasional dan daerah;

8. Mengoptimalkan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan pelaksanaan dan hasil PUG di tingkat nasional dan daerah;

9. Meningkatkan kualitas keluarga dalam mewujudkan Kesetaraan Gender;

10. Meningkatkan penguatan dan pengembangan lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas keluarga dalam mewujudkan Kesetaraan Gender;

11. Meningkatkan kualitas layanan bagi keluarga dalam mewujudkan Kesetaraan Gender.

Dalam kurun waktu 2015 – 2019, Kemen PPPA memiliki target kinerja program kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang diukur dengan indikator sebagai berikut:

(36)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

16

1. Persentase Provinsi dan Kabupaten/Kota melaksanakan PUG dengan Baik 2. Persentase Provinsi dan Kabupaten/Kota melaksanakan PPRG

3. Persentase lembaga penyedia layanan pemberdayaan perempuan yg aktif

4. Persentase lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas keluarga yang aktif dalam mewujudkan KG

5. Persentase korban kekerasan terhadap perempuan (termasuk TPPO) yang mendapat pelayanan sesuai kebutuhan korban

6. Persentase perempuan yang mendapatkan perlindungan pada situasi bencana IV-2 Renstra Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

7. Persentase perempuan yang mendapatkan perlindungan pada situasi konflik

8. Persentase lansia perempuan yang mendapatkan layanan program pemberdayaan perempuan

9. Persentase perempuan penyandang disabilitas yang mendapatkan layanan pemberdayaan perempuan

10. Persentase buruh migran perempuan bermasalah yang memperoleh pelayanan

11. Persentase tenaga kerja perempuan yang mendapatkan program pemberdayaan

PEMBANGUNAN GENDER

DI TATARAN GLOBAL

(37)

AYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK STATISTIK

PEMBANGUNAN GENDER 2

DI TATARAN GLOBAL

(38)

IPG NEGARA ASEAN NEGARA LAIN 2017

▪ IKG Indonesia pada level ASEAN berada di peringkat ke empat tertinggi

▪ Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender Indonesia masih rendah diantara negara–negara ASEAN

▪ Di ASEAN, IPG di Indonesia berada di peringkat ke 9 dari kesepuluh negara dan merupakan satu dari tiga negara ASEAN yang berada dibawah nilai rata–rata dunia

IPG Negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

IKG Negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

102,97 100,53 100,03 99,61 99,05 98,20 97,55 97,51 95,94 95,50 93,35 93,22 91,44 84,10 42,54

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

94,12

(39)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

19

Pembangunan Manusia di Indonesia Masih Berada pada Level Sedang Pembangunan di suatu wilayah sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia yang tersedia di wilayah tersebut, sehingga pembangunan itu sendiri tidak bisa lepas dari pembangunan manusia. Pembangunan manusia yang dimaksudkan tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi saja, namun juga mencakup aspek kualitas hidup dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki. Selain itu, pembangunan manusia juga mencakup perluasan akses untuk memperoleh berbagai peluang dan pilihan untuk seluruh penduduk.

Berdasarkan UNDP (1990), pembangunan manusia adalah suatu proses perluasan pilihan bagi penduduk untuk membangun hidupnya. Beberapa hal yang esensial dalam pembangunan manusia diantaranya ditujukan agar manusia dapat merasakan kehidupan yang panjang dan sehat, berpengetahuan, dan mempunyai akses terhadap sumber-sumber yang diperlukan untuk hidup layak. Menurut Alkire (2010), tujuan dari pembangunan manusia adalah untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi masyarakat untuk hidup panjang, sehat dan kreatif.

Pembangunan Manusia di suatu wilayah atau negara dapat dihitung melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Nilai IPM sendiri diperkenalkan pertama kali oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990.

Menurut UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup.

Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun berdasarkan pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat;

pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian yang luas dan terkait banyak faktor.

Selain berfungsi sebagai ukuran pencapaian pembangunan manusia di suatu negara, IPM juga dapat digunakan sebagai alat perbandingan pencapaian pembangunan manusia dengan negara-negara lain.

PEMBANGUNAN

GENDER DI TATARAN GLOBAL

2

(40)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

20

Berdasarkan laporan Human Development Report (HDR) tahun 2017, secara global IPM berada pada level 72,8. IPM tertinggi dicapai oleh Norwegia dengan IPM sebesar 95,3 dan yang terendah dicapai oleh Nigeria dengan IPM sebesar 35,4. Dalam laporan tersebut, Indonesia termasuk dalam negara dengan pembangunan manusia pada level sedang dengan IPM sebesar 69,4.

IPM Indonesia berada di peringkat 116 dari 189 negara. Meskipun berada di level sedang, nilai IPM Indonesia ini masih berada di bawah capaian IPM secara global dengan selisih sebesar 3,4 poin.

Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar di Asia seperti Jepang, China, dan India, posisi Indonesia masih berada di bawah China dan Jepang, tetapi berada di atas India. Jepang merupakan negara maju dan China merupakan salah satu negara industri terbesar di dunia. Dengan potensi tersebut, keduanya dapat meningkatkan layanan dan akses pendidikan dan kesehehatan bagi warga negaraya dengan lebih baik.

Berbeda halnya dengan India, dengan kondisi ekonomi yang kurang baik, keadaan pendidikan dan kesehatan di India menjadi tidak lebih baik dari Indonesia dan jauh tertinggal dibandingkan dengan China dan Jepang.

Di tingkat ASEAN, Indonesia berada di peringkat keenam dari sepuluh negara ASEAN. Negara–negara ASEAN yang berada diatas Indonesia adalah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filiphina. Nilai IPM Filipina yang pada periode sebelumnya berada di bawah Indonesia, pada tahun 2017 berhasil menyusul Indonesia dengan capaian IPM 0,59 poin lebih tinggi (69,89). Nilai IPM tertinggi di ASEAN dicapai oleh Singapura dengan

95,25 93,20 90,92

85,33 80,18

75,47 75,17 69,89 69,40 69,40 63,98

60,13 58,20 57,83 35,39 Dunia : 72,80

Norwegia Singapura Jepang Brunei Darussalam Malaysia Thailand China Filipina Indonesia Vietnam India Laos Kamboja Myanmar Niger

Gambar 2.1 IPM Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

Sumber : Human Development Report

(41)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

21

nilai IPM sebesar 93,25 poin, sedangkan nilai IPM terendah dicapai oleh Myanmar dengan nilai IPM sebesar 57,83 poin. Negara dengan capain nilai IPM tertinggi dan terendah di ASEAN tidak berubah sejak tahun 2014.

Pembangunan Gender di Indonesia : Meningkat Tapi Lambat

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia di suatu wilayah secara umum, tidak merinci menurut jenis kelamin.

Oleh sebab itu, IPM masih belum menjelaskan disparitas pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Untuk dapat melihat pembangunan manusia yang dirinci menurut gender, UNDP merumuskan sebuah metode penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG). Seiring dengan penggunaan metode baru di penghitungan IPM pada tahun 2010, terjadi perubahan penghitungan IPG. Saat ini, IPG diformulasikan sebagai rasio antara IPM Perempuan dan IPM Laki-laki. Semakin dekat angka IPG ke 100, maka semakin kecil kesenjangan pembangunan antara perempuan dan laki- laki.

Berdasarkan data Human Development Report (HDR), pada tahun 2017 nilai IPG dunia berada di tingkat 94,12 poin. Dengan nilai IPG yang berada di bawah 100, dapat disimpulkan bahwa secara global pembangunan laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan pembangunan perempuan. Nilai IPG tertinggi dicapai oleh Latvia dengan nilai sebesar 102,97, sedangkan terendah dicapai oleh Yaman dengan nilai sebesar 42,54. Latvia adalah negara adalah satu dari enam negara di dunia yang sepenuhnya menjamin kesetaraan hukum antara perempuan dan laki–laki dalam pekerjaan dan bisnis. Sedangkan hal ini berkebalikan dengan keadaan perempuan di Yaman. Budaya di negara ini membatasi peran wanita dalam berbagai hal, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan.

102,97

100,53100,03

99,6199,05

98,20 97,55

97,5195,94

95,5093,35

93,2291,44 84,10

42,54 Dunia : 94,12

Latvia Vietnam Filipina Thailand Brunei Darussalam Singapura Malaysia Jepang Myanmar China Laos Indonesia Kamboja India Yaman

Gambar 2.2 IPG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

Sumber : Human Development Report

(42)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

22

Indonesia memiliki nilai IPG sebesar 93,22 poin, masih berada di bawah rata- rata nilai dunia (94,12). Dengan nilai IPG sebesar 93,22 poin juga menunjukkan bahwa capaian pembangunan perempuan masih di bawah laki-laki, meskipun perbedaannya tidak terlalu besar.

Pada level ASEAN angka IPG di Indonesia sendiri berada di peringkat ke-9 dari sepuluh negara dan termasuk satu dari tiga negara ASEAN dengan nilai IPG di bawah rata-rata dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraaan pembangunan perempuan dan laki-laki di Indonesia masih sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara ASEAN lainnya, bahkan masih jauh di bawah Malaysia (97,55) dan Singapura (98,20) yang posisinya sangat berdekatan dengan Indonesia. Negara dengan IPG tertinggi di ASEAN adalah Vietnam dengan nilai sebesar 100,53 dan terendah adalah Kamboja dengan nilai sebesar 91,44, sedangkan yang nilanya mendekati atau mencapi 100 adalah Thailand (99,61) dan Filipina (100,03).

Salah satu hal yang mempengaruhi kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal ekonomi yang salah satunya adalah dalam hal perbedaan pendapatan yang diterima. Komponen penyusun IPM yang merefleksikan keadaan perekonomian diwakili oleh PNB perkapita.

Pada level ASEAN, nilai PNB perkapita tertinggi dicapai oleh Singapura baik untuk PNB perkapita laki-laki maupun PNB perkapita perempuan, sedangkan PNB perkapita terendah dicapai oleh Kamboja, baik PNB perkapita laki-laki maupun PNB perkapita perempun. Indonesia menduduki peringkat ke lima untuk PNB perkapita laki-laki dan peringkat ke enam untuk PNB perkapita perempuan, dengan masing-masing bernilai 14.385 (2011 PPP $) dan 7.259 (2011 PPP $).

Nilai PNB Indonesia berada di bawah rata-rata global baik untuk laki-laki maupun perempuan, dimana PNB rata-rata dunia adalah 19.525 (2011 PPP $) untuk laki-laki dan 10.986 (2011 PPP $) untuk perempuan.

Gambar 2.3 IPM Laki-laki, IPM Perempuan, IPG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

Sumber : Human Development Report 0,00

20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Latvia Vietnam Filipina Thailand Brunei Darussalam Singapura Malaysia Jepang Myanmar China Laos Indonesia Kamboja India Yaman

IPG IPM Perempuan IPM laki-laki

(43)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

23

Kesenjangan pencapaian dalam bidang ekonomi ekonomi dapat dilihat dari perbedaan pendapatan laki-laki dan perempuan. Kesenjangan tersebut dapat dilihat melalui rasio PNB perkapita antara perempuan dan laki-laki. Jika rasio PNB mendekati angka 1, maka kesenjangan antara perempuan dan laki- laki dari sisi ekonomi semakin kecil begitu pula sebaliknya. Berdasarkan data dari HDR, rata-rata rasio PNB perempuan dan PNB laki-laki berada di angka 0,56 yang menunjukkan bahwa kesenjangan antara pendapatan perempuan dan laki-laki di tingkat global masih cukup besar.

Rasio PNB antara perempuan dengan laki-laki di Indonesia adalah sebesar 0,51, terpaut 0,06 di bawah rata-rata dunia. Nilai rasio PNB yang masih jauh di bawah satu juga menunjukan bahwa kesenjangan antara pendapatan perempuan dan laki-laki di Indonesia masih cukup besar, dimana pendapatan laki-laki jauh di atas perempuan. Pada level ASEAN rasio PNB Indonesia bahkan menduduki urutan ke sepuluh (terakhir), terpaut 0,33 poin dibandingkan Gambar 2.4 PNB Perkapita Menurut Jenis Kelamin Negara-negara

ASEAN dan Beberapa Negara Lain (PPP $), 2017

Sumber : Badan Pusat Statistik

0 20000 40000 60000 80000 100000

Yaman KambojaVietnamLaos MyanmarFilipinaIndia IndonesiaMalaysiaThailandJepangLatviaDuniaChina Brunei DarussalamSingapura

Laki-laki Perempuan

Gambar 2.5 Rasio PNB Perkapita Perempuan Terhadap Laki-laki Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

Sumber : Human Development Report 0,84 0,80 0,79 0,77

0,73 0,72 0,71 0,70 0,66 0,63

0,53 0,52 0,50

0,28 0,06 Dunia : 0,56

Vietnam Thailand Laos Kamboja Singapura Brunei Darussalam Filipina Latvia China Malaysia Jepang Myanmar Indonesia India Yaman

(44)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

24

Vietnam yang berada di urutan pertama dengan rasio PNB sebesar 0,84.

Ketimpangan Gender Masih Terjadi di Sebagian Besar Negara-negara ASEAN

Berdasarkan Organisasi Perburuhan Nasional (ILO, 2005) Kesetaraan gender, atau kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, merujuk pada kesamaan hak, tanggung jawab, kesempatan, perlakuan, dan penilaian bagi kaum perempuan dan laki-laki baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan antara kerja dan kehidupan. Kesetaraan gender berarti bahwa semua orang dari segala umur dan jenis kelamin harus memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dalam hidup. Ini berarti bahwa setiap orang harus memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya dan manfaat yang setara dan adil, sehingga dapat mengambil manfaat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Sementara itu, United Nations (2015) mengartikan kesetaraan gender sebagai persamaan hak, tanggung jawab, dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki.

Kesetaraan gender juga mengandung pengertian bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam merealisasikan apa yang menjadi hak–hak asasinya dan mampu berkontribusi dalam pembangunan baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya serta politik.

Kesetaraan Gender juga menjadi salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) tepatnya pada tujuan kelima, yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Berdasarkan laporan United Nations Population Fund (UNFPA), pada tahun 2018, enam dari sepuluh orang termiskin di dunia adalah wanita.

Kesenjangan gender dalam bidang ekonomi secara berulang terjadi karena sebagian besar pekerja yang tidak dibayar dalam keluarga adalah perempuan dan sekitar dua pertiga dari orang dewasa yang buta huruf di dunia adalah wanita. Sementara kesenjangan gender dalam bidang politik terjadi karena rendahnya peran serta perempuan dalam menduduki posisi otoritas politik.

Secara global jumlah anggota parlemen perempuan hanya mencapai 24 persen.

Salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur ketimpangan gender adalah Indeks Ketimpangan Gender (IKG). Indeks ini merupakan penyempurnaan dari Indeks Pemberdayaan Gender dan menggambarkan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam pembangunan manusia karena adanya diskriminasi gender. IKG dihitung dari tiga aspek, yaitu kesehatan, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja. Aspek kesehatan diwakili oleh kematian ibu dan angka kelahiran pada remaja. Aspek pemberdayaan diwakili oleh proporsi keterwakilan perempuan dalam parlemen dan proporsi penduduk 25 tahun keatas dengan pendidikan SMP ke atas untuk laki-laki dan perempuan. Aspek pasar tenaga kerja diwakili oleh tingkat partipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan. Nilai IKG berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin besar nilai IKG maka semakin besar ketimpangan gender karena adanya diskriminasi.

(45)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

25

Pada tahun 2017, secara global nilai IKG berada pada angka 0,44. Angka mengalami perubahan yang sangat sedikit dibandingan tahun 2015. Negara dengan tingkat ketimpangan terendah adalah Swiss dengan nilai IKG sebesar 0,004 yang megindikasikan bahwa kesetaraan gender di Swiss hampir tercapai secara maksimal. Sementara negara dengan nilai IKG tertinggi adalah Yaman (0,83). Kondisi ini meningkat hampir 0,1 poin dibanding tahun 2015 (0,77) yang mengidikasikan bahwa capaian kesetaraan gender di Yaman semakin menjauh dari kondisi yang ideal.

Nilai IKG Indonesia pada tahun 2017 mencapai 0,45. Dengan nilai ini capaian Indonesia masih berada di atas rata-rata dunia, namun jika dibandingkan dua tahun 2015 IKG Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,01. Hal ini dapat mengartikan bahwa di Indonesia ketimpangan gender telah mengalami perbaikan meskipun masih dibawah rata-rata dunia.

Pada level ASEAN, IKG terkecil dicapai oleh Singapura dengan nilai sebesar 0,067, sedangkan IKG tertinggi dicapai oleh Kamboja dengan nilai sebesar 0,473. Secara umum IKG negara-negara ASEAN berada pada kisaran antara 0,3 dan 0,4. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan gender di negara- negara ASEAN masih terjadi, meskipun tidak terlalu besar. Capaian IKG Indonesia berada di posisi ke empat terbesar di tingkat ASEAN, sedikit lebih baik dibandingkan Myanmar, Laos, dan Kaboja.

Salah satu komponen penyusun IKG adalah dari aspek kesehatan. Pada aspek ini indikator yang digunakan adalah angka kematian ibu (AKI) dan angka kelahiran pada remaja (AKR). Menurut World Healt Organitation (WHO), kematian ibu adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan

Gambar 2.6 IKG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017

Sumber : Human Development Report 0,04 0,07 0,10 0,15

0,24 0,29 0,30 0,39 0,43 0,45 0,46 0,46 0,47 0,52 0,83

Dunia : 0,44

Swiss Singapura Jepang China Brunei Darussalam Malaysia Vietnam Thailand Filipina Indonesia Myanmar Laos Kamboja India Yaman

(46)

Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018

26

oleh kecelakaan atau cidera. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan yang digunbakan oleh BPS yang mengartikan kematian ibu sebagai banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.

Informasi tentang AKI sangat bermanfaat dalam pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, dan penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran.

Berdasarkan pada data HDR, secara global, AKI pada tahun 2015 adalah sebesar 216 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini telah turun dari tahun 2014 yang sebesar 221 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut data WHO, angka kematian ibu yang tinggi paling banyak berada di negara-negara Afrika, sedangkan kematian ibu yang rendah berada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa.

Berdasarkan data World Bank, negara dengan capaian AKI terendah di tahun 2015 diantaranya adalah Yunani, Finlandia, dan Polandia, dengan nilai AKI sebesar 3 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan nilai AKI tertinggi adalah Sierra Leone dengan AKI sebesar 1.360 per 100.000 kelahiran hidup, diikuti Republik Afrika di urutan berikutnya dengan AKI 882 per 100.000 kelahiran hidup.

Di tingkat ASEAN nilai AKI tertinggi dicapai Laos (197 per 100.000 kelahiran hidup), sedangkan AKI terendah dicapai oleh Singapura (10 per 100.000 kelahiran hidup). Semua negara di ASEAN memiliki nilai AKI di bawah rata- rata dunia (Gambar 2.6). Sejak Deklarasi Milinium pada tahun 2000 dan pembentukan dari MDG’s, focus pada meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir semakin meningkat (Bhandari,2012). Hal ini juga berlaku bagi negara-negara ASEAN, dimana tujuan pembangunan millenium ke-4 dan ke-5 merupakan agenda prioritas bagi semua anggota negara-negara ini.

Kematian ibu di Indonesia mencapai 126 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun sudah di bawah rata-rata dunia, tetapi Indonesia masih harus terus berjuang untuk meminimalisir angka kematian ibu hingga setidaknya dapat mencapai target yang tertuang dalam SDGs, yaitu 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Masih tingginya angka kematian Ibu dapat dikarenakan kondisi tidak terduga selama kehamilan, namun fasilitas pelayanan kebidanan yang masih terbatas di daerah pedesaan membuat pertolongan pada ibu hamil tidak dapat ditangani secepatnya.

(47)

Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan

27

Gambar 2.7 AKI per 100.000 Kelahiran Hidup di Negara-negara ASEAN dan negara lainnya, 2015

Sumber : Human Development Report

5 5 10 20 23 27 40 54

Gambar

Gambar 2.1  IPM Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain,  2017
Gambar 2.3  IPM Laki-laki, IPM Perempuan, IPG Negara-negara ASEAN  dan Beberapa Negara Lain, 2017
Gambar 2.5  Rasio PNB Perkapita Perempuan Terhadap Laki-laki  Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Gambar 2.6  IKG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain,  2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk meningkatkan kesetaraan gender di setiap kabupaten/kota di Jawa Timur dari aspek kesehatan, pendidikan, serta ekonomi, maka dalam penelitian ini dilakukan

FREEPORT INDONESIA DALAM MENDUKUNG KESETARAAN GENDER TERHADAP PEREMPUAN BERDASARKAN GOALS KE-5 SDGS TAHUN 2017-2019 Bergitha Yesika Marsel 1 Roberto Octavianus Cornelis 2 Putri

Maka, perempuan mentransformasikan peran gender yang domestik yang tidak memiliki nilai ekonomi ke pekerjaan publik yang memiliki nilai ekonomi melalui pembangunan pariwisata berbasis