2
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
20
Berdasarkan laporan Human Development Report (HDR) tahun 2017, secara global IPM berada pada level 72,8. IPM tertinggi dicapai oleh Norwegia dengan IPM sebesar 95,3 dan yang terendah dicapai oleh Nigeria dengan IPM sebesar 35,4. Dalam laporan tersebut, Indonesia termasuk dalam negara dengan pembangunan manusia pada level sedang dengan IPM sebesar 69,4.
IPM Indonesia berada di peringkat 116 dari 189 negara. Meskipun berada di level sedang, nilai IPM Indonesia ini masih berada di bawah capaian IPM secara global dengan selisih sebesar 3,4 poin.
Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar di Asia seperti Jepang, China, dan India, posisi Indonesia masih berada di bawah China dan Jepang, tetapi berada di atas India. Jepang merupakan negara maju dan China merupakan salah satu negara industri terbesar di dunia. Dengan potensi tersebut, keduanya dapat meningkatkan layanan dan akses pendidikan dan kesehehatan bagi warga negaraya dengan lebih baik.
Berbeda halnya dengan India, dengan kondisi ekonomi yang kurang baik, keadaan pendidikan dan kesehatan di India menjadi tidak lebih baik dari Indonesia dan jauh tertinggal dibandingkan dengan China dan Jepang.
Di tingkat ASEAN, Indonesia berada di peringkat keenam dari sepuluh negara ASEAN. Negara–negara ASEAN yang berada diatas Indonesia adalah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filiphina. Nilai IPM Filipina yang pada periode sebelumnya berada di bawah Indonesia, pada tahun 2017 berhasil menyusul Indonesia dengan capaian IPM 0,59 poin lebih tinggi (69,89). Nilai IPM tertinggi di ASEAN dicapai oleh Singapura dengan
95,25 93,20 90,92
85,33 80,18
75,47 75,17 69,89 69,40 69,40 63,98
60,13 58,20 57,83 35,39 Dunia : 72,80
Norwegia Singapura Jepang Brunei Darussalam Malaysia Thailand China Filipina Indonesia Vietnam India Laos Kamboja Myanmar Niger
Gambar 2.1 IPM Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Sumber : Human Development Report
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
21
nilai IPM sebesar 93,25 poin, sedangkan nilai IPM terendah dicapai oleh Myanmar dengan nilai IPM sebesar 57,83 poin. Negara dengan capain nilai IPM tertinggi dan terendah di ASEAN tidak berubah sejak tahun 2014.
Pembangunan Gender di Indonesia : Meningkat Tapi Lambat
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia di suatu wilayah secara umum, tidak merinci menurut jenis kelamin.
Oleh sebab itu, IPM masih belum menjelaskan disparitas pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Untuk dapat melihat pembangunan manusia yang dirinci menurut gender, UNDP merumuskan sebuah metode penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG). Seiring dengan penggunaan metode baru di penghitungan IPM pada tahun 2010, terjadi perubahan penghitungan IPG. Saat ini, IPG diformulasikan sebagai rasio antara IPM Perempuan dan IPM Laki-laki. Semakin dekat angka IPG ke 100, maka semakin kecil kesenjangan pembangunan antara perempuan dan laki- laki.
Berdasarkan data Human Development Report (HDR), pada tahun 2017 nilai IPG dunia berada di tingkat 94,12 poin. Dengan nilai IPG yang berada di bawah 100, dapat disimpulkan bahwa secara global pembangunan laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan pembangunan perempuan. Nilai IPG tertinggi dicapai oleh Latvia dengan nilai sebesar 102,97, sedangkan terendah dicapai oleh Yaman dengan nilai sebesar 42,54. Latvia adalah negara adalah satu dari enam negara di dunia yang sepenuhnya menjamin kesetaraan hukum antara perempuan dan laki–laki dalam pekerjaan dan bisnis. Sedangkan hal ini berkebalikan dengan keadaan perempuan di Yaman. Budaya di negara ini membatasi peran wanita dalam berbagai hal, termasuk dalam pendidikan dan pekerjaan.
102,97
100,53100,03
99,6199,05
98,20 97,55
97,5195,94
95,5093,35
93,2291,44 84,10
42,54 Dunia : 94,12
Latvia Vietnam Filipina Thailand Brunei Darussalam Singapura Malaysia Jepang Myanmar China Laos Indonesia Kamboja India Yaman
Gambar 2.2 IPG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Sumber : Human Development Report
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
22
Indonesia memiliki nilai IPG sebesar 93,22 poin, masih berada di bawah rata- rata nilai dunia (94,12). Dengan nilai IPG sebesar 93,22 poin juga menunjukkan bahwa capaian pembangunan perempuan masih di bawah laki-laki, meskipun perbedaannya tidak terlalu besar.
Pada level ASEAN angka IPG di Indonesia sendiri berada di peringkat ke-9 dari sepuluh negara dan termasuk satu dari tiga negara ASEAN dengan nilai IPG di bawah rata-rata dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraaan pembangunan perempuan dan laki-laki di Indonesia masih sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara ASEAN lainnya, bahkan masih jauh di bawah Malaysia (97,55) dan Singapura (98,20) yang posisinya sangat berdekatan dengan Indonesia. Negara dengan IPG tertinggi di ASEAN adalah Vietnam dengan nilai sebesar 100,53 dan terendah adalah Kamboja dengan nilai sebesar 91,44, sedangkan yang nilanya mendekati atau mencapi 100 adalah Thailand (99,61) dan Filipina (100,03).
Salah satu hal yang mempengaruhi kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan adalah dalam hal ekonomi yang salah satunya adalah dalam hal perbedaan pendapatan yang diterima. Komponen penyusun IPM yang merefleksikan keadaan perekonomian diwakili oleh PNB perkapita.
Pada level ASEAN, nilai PNB perkapita tertinggi dicapai oleh Singapura baik untuk PNB perkapita laki-laki maupun PNB perkapita perempuan, sedangkan PNB perkapita terendah dicapai oleh Kamboja, baik PNB perkapita laki-laki maupun PNB perkapita perempun. Indonesia menduduki peringkat ke lima untuk PNB perkapita laki-laki dan peringkat ke enam untuk PNB perkapita perempuan, dengan masing-masing bernilai 14.385 (2011 PPP $) dan 7.259 (2011 PPP $).
Nilai PNB Indonesia berada di bawah rata-rata global baik untuk laki-laki maupun perempuan, dimana PNB rata-rata dunia adalah 19.525 (2011 PPP $) untuk laki-laki dan 10.986 (2011 PPP $) untuk perempuan.
Gambar 2.3 IPM Laki-laki, IPM Perempuan, IPG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Sumber : Human Development Report 0,00
20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00
Latvia Vietnam Filipina Thailand Brunei Darussalam Singapura Malaysia Jepang Myanmar China Laos Indonesia Kamboja India Yaman
IPG IPM Perempuan IPM laki-laki
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
23
Kesenjangan pencapaian dalam bidang ekonomi ekonomi dapat dilihat dari perbedaan pendapatan laki-laki dan perempuan. Kesenjangan tersebut dapat dilihat melalui rasio PNB perkapita antara perempuan dan laki-laki. Jika rasio PNB mendekati angka 1, maka kesenjangan antara perempuan dan laki- laki dari sisi ekonomi semakin kecil begitu pula sebaliknya. Berdasarkan data dari HDR, rata-rata rasio PNB perempuan dan PNB laki-laki berada di angka 0,56 yang menunjukkan bahwa kesenjangan antara pendapatan perempuan dan laki-laki di tingkat global masih cukup besar.
Rasio PNB antara perempuan dengan laki-laki di Indonesia adalah sebesar 0,51, terpaut 0,06 di bawah rata-rata dunia. Nilai rasio PNB yang masih jauh di bawah satu juga menunjukan bahwa kesenjangan antara pendapatan perempuan dan laki-laki di Indonesia masih cukup besar, dimana pendapatan laki-laki jauh di atas perempuan. Pada level ASEAN rasio PNB Indonesia bahkan menduduki urutan ke sepuluh (terakhir), terpaut 0,33 poin dibandingkan Gambar 2.4 PNB Perkapita Menurut Jenis Kelamin Negara-negara
ASEAN dan Beberapa Negara Lain (PPP $), 2017
Sumber : Badan Pusat Statistik
0 20000 40000 60000 80000 100000
Yaman KambojaVietnamLaos MyanmarFilipinaIndia IndonesiaMalaysiaThailandJepangLatviaDuniaChina Brunei DarussalamSingapura
Laki-laki Perempuan
Gambar 2.5 Rasio PNB Perkapita Perempuan Terhadap Laki-laki Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Sumber : Human Development Report 0,84 0,80 0,79 0,77
0,73 0,72 0,71 0,70 0,66 0,63
0,53 0,52 0,50
0,28 0,06 Dunia : 0,56
Vietnam Thailand Laos Kamboja Singapura Brunei Darussalam Filipina Latvia China Malaysia Jepang Myanmar Indonesia India Yaman
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
24
Vietnam yang berada di urutan pertama dengan rasio PNB sebesar 0,84.
Ketimpangan Gender Masih Terjadi di Sebagian Besar Negara-negara ASEAN
Berdasarkan Organisasi Perburuhan Nasional (ILO, 2005) Kesetaraan gender, atau kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, merujuk pada kesamaan hak, tanggung jawab, kesempatan, perlakuan, dan penilaian bagi kaum perempuan dan laki-laki baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan antara kerja dan kehidupan. Kesetaraan gender berarti bahwa semua orang dari segala umur dan jenis kelamin harus memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dalam hidup. Ini berarti bahwa setiap orang harus memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya dan manfaat yang setara dan adil, sehingga dapat mengambil manfaat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Sementara itu, United Nations (2015) mengartikan kesetaraan gender sebagai persamaan hak, tanggung jawab, dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki.
Kesetaraan gender juga mengandung pengertian bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama dalam merealisasikan apa yang menjadi hak–hak asasinya dan mampu berkontribusi dalam pembangunan baik dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya serta politik.
Kesetaraan Gender juga menjadi salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) tepatnya pada tujuan kelima, yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Berdasarkan laporan United Nations Population Fund (UNFPA), pada tahun 2018, enam dari sepuluh orang termiskin di dunia adalah wanita.
Kesenjangan gender dalam bidang ekonomi secara berulang terjadi karena sebagian besar pekerja yang tidak dibayar dalam keluarga adalah perempuan dan sekitar dua pertiga dari orang dewasa yang buta huruf di dunia adalah wanita. Sementara kesenjangan gender dalam bidang politik terjadi karena rendahnya peran serta perempuan dalam menduduki posisi otoritas politik.
Secara global jumlah anggota parlemen perempuan hanya mencapai 24 persen.
Salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur ketimpangan gender adalah Indeks Ketimpangan Gender (IKG). Indeks ini merupakan penyempurnaan dari Indeks Pemberdayaan Gender dan menggambarkan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam pembangunan manusia karena adanya diskriminasi gender. IKG dihitung dari tiga aspek, yaitu kesehatan, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja. Aspek kesehatan diwakili oleh kematian ibu dan angka kelahiran pada remaja. Aspek pemberdayaan diwakili oleh proporsi keterwakilan perempuan dalam parlemen dan proporsi penduduk 25 tahun keatas dengan pendidikan SMP ke atas untuk laki-laki dan perempuan. Aspek pasar tenaga kerja diwakili oleh tingkat partipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan. Nilai IKG berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin besar nilai IKG maka semakin besar ketimpangan gender karena adanya diskriminasi.
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
25
Pada tahun 2017, secara global nilai IKG berada pada angka 0,44. Angka mengalami perubahan yang sangat sedikit dibandingan tahun 2015. Negara dengan tingkat ketimpangan terendah adalah Swiss dengan nilai IKG sebesar 0,004 yang megindikasikan bahwa kesetaraan gender di Swiss hampir tercapai secara maksimal. Sementara negara dengan nilai IKG tertinggi adalah Yaman (0,83). Kondisi ini meningkat hampir 0,1 poin dibanding tahun 2015 (0,77) yang mengidikasikan bahwa capaian kesetaraan gender di Yaman semakin menjauh dari kondisi yang ideal.
Nilai IKG Indonesia pada tahun 2017 mencapai 0,45. Dengan nilai ini capaian Indonesia masih berada di atas rata-rata dunia, namun jika dibandingkan dua tahun 2015 IKG Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,01. Hal ini dapat mengartikan bahwa di Indonesia ketimpangan gender telah mengalami perbaikan meskipun masih dibawah rata-rata dunia.
Pada level ASEAN, IKG terkecil dicapai oleh Singapura dengan nilai sebesar 0,067, sedangkan IKG tertinggi dicapai oleh Kamboja dengan nilai sebesar 0,473. Secara umum IKG negara-negara ASEAN berada pada kisaran antara 0,3 dan 0,4. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan gender di negara- negara ASEAN masih terjadi, meskipun tidak terlalu besar. Capaian IKG Indonesia berada di posisi ke empat terbesar di tingkat ASEAN, sedikit lebih baik dibandingkan Myanmar, Laos, dan Kaboja.
Salah satu komponen penyusun IKG adalah dari aspek kesehatan. Pada aspek ini indikator yang digunakan adalah angka kematian ibu (AKI) dan angka kelahiran pada remaja (AKR). Menurut World Healt Organitation (WHO), kematian ibu adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan
Gambar 2.6 IKG Negara-negara ASEAN dan Beberapa Negara Lain, 2017
Sumber : Human Development Report 0,04 0,07 0,10 0,15
0,24 0,29 0,30 0,39 0,43 0,45 0,46 0,46 0,47 0,52 0,83
Dunia : 0,44
Swiss Singapura Jepang China Brunei Darussalam Malaysia Vietnam Thailand Filipina Indonesia Myanmar Laos Kamboja India Yaman
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
26
oleh kecelakaan atau cidera. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan yang digunbakan oleh BPS yang mengartikan kematian ibu sebagai banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Informasi tentang AKI sangat bermanfaat dalam pengembangan program peningkatan kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistem rujukan dalam penanganan komplikasi kehamilan, dan penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran.
Berdasarkan pada data HDR, secara global, AKI pada tahun 2015 adalah sebesar 216 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini telah turun dari tahun 2014 yang sebesar 221 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut data WHO, angka kematian ibu yang tinggi paling banyak berada di negara-negara Afrika, sedangkan kematian ibu yang rendah berada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa.
Berdasarkan data World Bank, negara dengan capaian AKI terendah di tahun 2015 diantaranya adalah Yunani, Finlandia, dan Polandia, dengan nilai AKI sebesar 3 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan nilai AKI tertinggi adalah Sierra Leone dengan AKI sebesar 1.360 per 100.000 kelahiran hidup, diikuti Republik Afrika di urutan berikutnya dengan AKI 882 per 100.000 kelahiran hidup.
Di tingkat ASEAN nilai AKI tertinggi dicapai Laos (197 per 100.000 kelahiran hidup), sedangkan AKI terendah dicapai oleh Singapura (10 per 100.000 kelahiran hidup). Semua negara di ASEAN memiliki nilai AKI di bawah rata- rata dunia (Gambar 2.6). Sejak Deklarasi Milinium pada tahun 2000 dan pembentukan dari MDG’s, focus pada meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir semakin meningkat (Bhandari,2012). Hal ini juga berlaku bagi negara-negara ASEAN, dimana tujuan pembangunan millenium ke-4 dan ke-5 merupakan agenda prioritas bagi semua anggota negara-negara ini.
Kematian ibu di Indonesia mencapai 126 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun sudah di bawah rata-rata dunia, tetapi Indonesia masih harus terus berjuang untuk meminimalisir angka kematian ibu hingga setidaknya dapat mencapai target yang tertuang dalam SDGs, yaitu 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Masih tingginya angka kematian Ibu dapat dikarenakan kondisi tidak terduga selama kehamilan, namun fasilitas pelayanan kebidanan yang masih terbatas di daerah pedesaan membuat pertolongan pada ibu hamil tidak dapat ditangani secepatnya.
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
27
Gambar 2.7 AKI per 100.000 Kelahiran Hidup di Negara-negara ASEAN dan negara lainnya, 2015
Sumber : Human Development Report
5 5 10 20 23 27 40 54 114 126 161 174 178 197 385 Dunia: 216
Swiss Jepang Singapura Thailand Brunei Darussalam China Malaysia Vietnam Filipina Indonesia Kamboja India Myanmar Laos Yemen
Indikator lain yang digunakan pada aspek kesehatan adalah angka kelahiran pada remaja (Adolescent Birth Rate/ABR). Menurut WHO, angka kelahiran remaja adalah jumlah perempuan berusia 15-19 tahun yang melahirkan per 1000 wanita di kelompok usia tersebut. UNFPA (2009) menyebutkan bahwa indikator ini hanya memperhitungkan kelahiran hidup dan tidak mencakup kelahiran mati atau aborsi spontan.
Angka kelahiran remaja menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan diatasi oleh pemerintah karena resiko yang ditimbulkannya dan sangat penting sebagai bagian dalam upaya meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan sosial dan ekonomi remaja, terutama remaja perempuan. Perempuan yang hamil dan melahirkan di usia muda memiliki resiko komplikasi yang lebih besar selama masa kehamilan dan kelahiran, selain itu juga berisiko terhadap kondisi anak yang dilahirkan.
Berdasarkan UNFPA (2019), anak perempuan dengan kondisi finansial yang lebih rendah lebih memiliki risiko besar untuk hamil di usia muda. Di setiap negara, termasuk negara dengan pendapatan tinggi, anak perempuan yang miskin, baik miskin dalam hal pendidikan maupun ekonomi, terutama di daerah perdesaan, memiliki risiko besar untuk mengalami hamil usia muda dibandingkan perempuan yang lebih kaya. Pada level global, 95 persen dari perempuan hamil usia muda (15-19), berada di negara-negara berpendapatan menengah kebawah. Setiap tahun, sebanyak 3 juta perempuan usia 15-19 tahun melakukan aborsi yang membahayakan nyawa dan kesehatan mereka.
Pada selang waktu 2015 hingga 2020, secara global, terdapat 43 sampai 44 kelahiran per 1000 penduduk usia 15-19 tahun. Sedangkan pada level ASEAN, secara umum terdapat 40 hingga 50 kelahiran per 1000 penduduk usia 15-19 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa angka kelahiran pada remaja di negara-negara ASEAN masih cukup tinggi. ABR terendah di ASEAN dicapai
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
28
oleh Singapura dengan tingkat kelahiran sebesar 3 sampai 4 kelahiran per 1000 penduduk usia 15-19 tahun, sedangkan tertinggi dicapai oleh Laos yang memiliki ABR sebesar 62 sampai 63 kelahiran per 1000 penduduk usia 15-19 tahun.
Indonesia memiliki angka ABR sebesar 47 sampai 48 kelahiran per 1000 penduduk usia 15-19 tahun, menempati urutan ke lima tertinggi di ASEAN.
Angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata secara global. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu melakukan usaha lebih untuk menurunkan angka kelahiran pada remaja. Padahal Indoensia telah melakukan penetapan umur minimal untuk melakukan perkawinan, yakni tertuang dalam UU no 1 Tahun 2974. Namun angka kelahiran remaja masih tinggi hal ini dapat dikarenakan masih kentalnya budaya menikah dini dan rendahnya ekonomi perempuan di daerah perdesaan.
Gambar 2.8 ABR per 1.000 Perempuan Umur 15-19 Tahun di Negara- negara ASEAN dan Negara Lainnya, 2015-2020
Sumber : Human Development Report 2,99 3,68 4,08 6,41 10,27 13,41
23,0727,28 28,68
47,37 50,1851,85
60,35 60,50 62,63 Dunia : 43,95
Swiss Singapura Jepang China Brunei Darussalam Malaysia India Vietnam Myanmar Indonesia Kamboja Thailand Yemen Filipina Laos
Aspek kedua yang digunakan dalam penghitungan IKG adalah aspek pemberdayaan. Aspek pemberdayaan ini mengukur sejauh mana peran aktif perempuan khususnya dalam pendidikan dan dunia politik. Aspek pemberdayaan terdiri dari dua indikator yaitu persentase perempuan sebagai anggota parlemen dan persentase penduduk usia 25 tahun ke atas yang memiliki pendidikan di atas SMP, baik laki-laki maupun perempuan.
Berdasarkan pada Inter-Parliantmentary Union (IPU) keseimbangan partisipasi antara laki-laki dan perempuan dalam parlemen merupakan salah satu langkah untuk mencapai kesetaraan gender dan memenuhi mandat demokrasi. Suara wanita dalam sebuah parlemen akan mempengaruhi arah kebijakan terkait wanita, tidak hanya itu, kehadiran wanita di parlemen dapat memungkinkan mampu mengubah hukum dan kebudayaan di wilayah tertentu.
Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan
29
Berdasarkan data HDR 2018, nilai persentase anggota perempuan pada parlemen masih terbilang rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai persentase yang masih berada dibawah 30 persen untuk semua negara. Rendahnya partisipasi wanita dalam parlemen mengindikasikan bahwa keseimbangan gender masih sangat perlu untuk diperjuangkan dan ditingkatkan perkembangannya.
Partisipasi wanita di tingkat ASEAN juga masih terbilang rendah, 7 dari 10 negara masih memiliki tingkat partisipasi di bawah 25 persen. Tingkat partisipasi wanita dalam parlemen yang tertinggi terjadi di Filipina dengan persentase sebesar 29,1 persen, sedangkan terendah terjadi di Thailand dengan nilai sebesar 4,8 persen.
Partisipasi wanita di Indonesia berada di urutan ke lima dari sepuluh negara dengan nilai partisipasi sebesar 19,8 persen. Nilai ini terbilang masih cukup rendah jika dibandingkan negara ASEAN lainnya, terpaut 9,3 poin dibandingkan Filipina yang berada di urutan pertama. Anggota parlemen di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki yang mana hal ini sangat terkait dengan faktor budaya, struktural, dan institusional yang menghambat peran wanita. Di Indoensia kuota anggota parlemen berjenis kelamin diatur dalam perundang-undangan.
Partai politik berpeluang untuk menentukan partisipasi dan keterwakilan perempuan, ketentuan kuota 30 persen bagi perempuan untuk menduduki jabatan politik diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD, demikian juga dengan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
Gambar 2.9 Persentase Anggota Parlemen Menurut Jenis Kelamin di Negara-negara ASEAN, 2017
Sumber : Human Development Report
70,7 70,9 72,5 73,3 75,8 77,0 80,2 81,5 86,3 86,9 88,4 89,8 90,9 95,2 99,5 29,3 29,1 27,5 26,7 24,2 23,0 19,8 18,5 13,7 13,1 11,6 10,2 9,1 4,8 0,5
Swiss Filipina Laos Vietnam China Singapura Indonesia Kamboja Jepang Malaysia India Myanmar Brunei… Thailand Yemen
Laki-laki Perempuan
Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2018
30
Indikator kedua dalam dimensi pemberdayaan terkait dengan pendidikan.
Menurut UNESCO, ketidaksetaraan gender dalam pendidikan terjadi pada perempuan dan laki-laki, namun perempuan masih lebih sering dirugikan.
Kemiskinan, isolasi geografis, status minoritas, kecacatan, pernikahan dini dan kehamilan, kekerasan berbasis gender dan kepercayaan tradisional tentang status dan peran perempuan merupakan beberapa hambatan yang menghalangi hak perempuan dan anak perempuan untuk menjalankan hak mereka untuk berpartisipasi dan mendapatkan haknya dalam pendidikan Dalam penghitungan IKG yang mengacu pada rekomendasi UNDP, indikator pendidikan yang digunakan adalah presentase penduduk dengan pendidikan SMP ke atas baik laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan dalam pendidikan dapat tercapai ketika terjadi keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses pendidikan.
Rata-rata tingkat partisipasi perempuan dengan pendidikan SMP ke atas di tingkat ASEAN adalah sebesar 53,13 persen. Dengan capaian ini dapat dikatakan bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan sudah cukup baik. Negara dengan tingkat partisipasi perempuan dalam pendidikan tertinggi adalah Malaysia dengan persentase sebesar 69,06 (bukan 78,90?) persen, diikuti oleh Filipina di posisi kedua dengan persentase sebesar 76,61 persen. Sedangkan negara dengan tingkat partisipasi terendah adalah Kamboja dengan nilai sebesar 15,08 persen. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada negara dengan tingkat partisipasi laki-laki terhadap pendidikan yang tinggi juga diikuti oleh tingkat partisipasi perempuan yang tinggi pula (Gambar 2.10).
Indonesia berada di urutan kelima dari sepuluh negara ASEAN dengan nilai partisipasi perempuan pada pendidikan sebesar 44,47 persen, yang berarti bahwa jumlah perempuan di Indonesia yang mengeyam pendidikan lebih dari SMP ke atas belum mencapai setengah penduduk. Nilai ini tergolong Gambar 2.10 Persentase Penduduk dengan Pendidikan SMP ke Atas di
Negara-negara ASEAN, 2017
Sumber : Human Development Report
70,30 81,26 72,39 82,88 47,47
77,70
53,21 45,16
22,34 28,1 69,06 78,90 76,61 76,14
42,42 66,24 44,47 33,64
28,74 15,08
Brunei Darussalam Malaysia Filipina Singapura Thailand Vietnam Indonesia Laos Myanmar Kamboja
Laki-laki Perempuan