• Tidak ada hasil yang ditemukan

Guru Efektif Bagi Siswa Keterbelakangan Mental

A. Penelitian Terdahulu

6. Guru Efektif Bagi Siswa Keterbelakangan Mental

Sudah lama dikenal bahwa good teaching tidak mementingkan mata pelajaran atau tingkat kelas. Prinsip pembelajaran yang baik (good

70 Jati Rinakri Atmaja, Pendidikan dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus., 238-239.

71 Ibid., 242.

diajarkan atau siswa yang sedang diberi pengajaran. Guru yang baik berkecenderungan sebagai seseorang yang berpikir dirinya sebagai guru siswa, bukan sebagai profesional yang mengkhususkan diri pada satu pelajaran atau tingkat tertentu.

Banyak orang yang telah mempelajari masalah sekolah-sekolah inklusif merasakan bahwa yang paling dibutuhkan anak-anak penyandang hambatan untuk mendapatkan keberhasilan di sekolah reguler, hanyalah pembelajaran yang baik (good teaching). Guru-guru yang baik yang telah mempunyai kesempatan mempelajari beberapa informasi dasar mengenai hambatan/kelainan dan mereka yang telah menyadari fakta bahwa banyak hal yang bisa diberikan pada anak-anak berkebutuhan khusus adalah dasar yang penting bagi keberhasilan penyatuan (inklusi) siswa-siswa terbelakang mental.72

Menurut, Kauffman dan Lloyd memberi ciri-ciri/sifat mengenai guru yang efektif bagi siswa penyandang hambatan di kelas reguler. Ciri- ciri tersebut meliputi:

a. Punya harapan bahwa siswa akan berhasil.

b. Memberi pengawasan yang sering pada tugas-tugas sekolah siswa serta memberi umpan balik.

c. Memberikan penjelasan standar-standar, arah-arah, dan harapan- harapan pembelajaran.

72 David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 123-124.

e. Mempunyai komitmen dalam memperlakukan tiap siswa secara terbuka.

f. Bersikap responsif terhadap pertanyaan dan komentar siswa.

g. Melakukan perndekatan tersusun dengan baik dalam pengajaran.

h. Bersikap hangat, sabar, dan humoris kepada siswa.

i. Bersifat teguh dan konsisten dalam pengharapan-pengharapan.

j. Mempunyai pendekatan-pendekatan pengaturan berbagai sikap.

k. Bersikap terbuka dan positif terhadap perbedaan dan kelainan anak- anak dan orang dewasa.

l. Mempunyai kemampuan kerjasama dengan guru pendidikan khusus dan bersikap responsif dalam membantu orang lain.

m. Mempunyai rasa percaya diri dan kompetensi sebagai seorang guru.

n. Punya rasa keterlibatan profesional yang tinggi serta pemuasan profesional.73

Lerrivee telah mengidentifikasi sifat-sifat guru dan kondisi-kondisi kelas yang dapat membawa kearah penyatuan efektif siswa-siswa penyandang hambatan. Inilah pertimbangan penting bagi penempatan siswa-siswa terbelakang mental di kelas-kelas reguler. Petunjuk di bawah ini berdasarkan penelitian Lerrivee:

73 Wong, K. L., H. Kauffman, dan J. W. Lloyd, Choices for Integration: Selecting Teacher for Mainstreamend Student with Emotional or Behavioral Disorder, (Intervention in School and Clinic, 1991), 108-115 dalam David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 124.

1) Guru dan siswa menggunakan waktu secara efisien.

2) Siswa-siswa tidak menunggu untuk meminta bantuan.

3) Siswa-siswa hanya menggunakan sedikit waktu dalam melakukan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

Sehingga:

4) Tidak banyak yang diperlukan dalam menegakkan disiplin.

5) Guru jarang melakukan hukuman.

6) Penanganan-penanganan khusus lainnya tidak diperlukan dalam mengatur sikap.

b. Umpan balik selama pengajaran

1) Guru memberikan umpan balik positif bagi siswa untuk mendapatkan sikap dan prestasi yang layak.

2) Guru membantu siswa menemukan jawaban yang benar bila jawabannya salah.

Sehingga:

3) Guru menghindari umpan balik yang negatif kepada siswa, serta menghindari kritik kepada siswa dan tugas mereka.

c. Pengembangan pengajaran yang tepat

1) Guru memberikan tugas-tugas pada tingkat kesulitan yang layak bagi setiap siswa.

2) Siswa dapat melakukan setiap tugas dengan sedikit kesalahan.

Sehingga:

dari tugas dan pertanyaan guru.

4) Guru dan murid berinteraksi sangat positif yang berhubungan dengan tugas pengajaran.

d. Suasana pengajaran yang kondusif

1) Guru melakukan penanganan yang mendukung ketimbang menuduh.

2) Guru merespon dengan perhatian dan pemahaman kepada siswa yang mempunyai tingkat kemampuan lebih rendah.

3) Guru lebih mendukung bila siswa mempunyai suatu masalah pembelajaran.

Sehingga:

4) Siswa percaya pada guru dan mau meminta bantuan.

5) Rasa percaya diri siswa terhadap kemampuan dalam belajar meningkat.

6) Tingkat dan kualitas proses pembelajaran siswa menjadi kokoh.74 7. Kolaborasi Guru di Kelas Inklusi

Lingkungan sekolah menjadikan khususnya lingkup sekolah inklusi, guru mata pelajaran dan guru pendamping khusus menjadi dua bagian yang paling dekat dengan siswa. Dengan satu tujuan dan peran yang hampir sama, sehingga menjadikan keduanya bekerjasama atau saling bersinergi (team teaching). Saling bersinergi dipahami sebagai

74 Larrivee, Effective Teaching for Successful Mainstreaming, (New York: Longman, 1985) dalam David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 124-125.

yang lebih baik dan lebih besar.

Menurut Cohen dan Putnam beberapa keuntungan team teaching yang berlangsung baik untuk peserta didik berkelainan maupun tanpa kelainan diantaranya: pengembangan kemampuan perencanaan yang lebih baik, peningkatan kemampuan komunikasi, kemampuan sosial yang efektif dan lebih memuaskan, serta menambah pembelajaran akademis.76

Hal ini juga sejalan dengan pendapat Janney bahwa teaching partnership harus dibangun di atas kerjasama, kepercayaan, dan komunikasi. Teaching partner memerlukan perubahan dan kompromi di antara rekanan kerja yang menyeluruh. Guru dalam satu program team teaching menitikberatkan kebutuhan bagi pertumbuhan nilai-nilai kolaborasi dan memperhatikan partner-partnernya untuk memberikan kesempatan saling mengenal satu sama lain serta saling bertanya. 77

Friend dan Bursuck juga berpendapat bahwa guru reguler dengan guru pendamping khusus merupakan tim yang harus selalu berkerjasama.

Karena kesuksesan peserta didik tergantung pada komitmen keduanya.

Dalan tim-tim sekolah yang efektif, para anggotanya harus mengingat alasan mereka menjadi sebuah tim dan mengesampingkan perbedaan

75 Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Nasional, 2008). 1459.

76 E. Cohen, Designing Groupwork, (New York: Teacher College Press, 1989) dan J. Putman, Cooperative Learning and Strategies for Inklusion: Celebrating Diversity in the Classroom, (Baltimore, MD: Paul H. Brookes, 1993) dalam David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 190-191.

77 R. Janney, Integrating Student with Moderate and Severe Disabilities into General Education Classes dalam David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj.

Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 191.

untuk merancang strategi pendidikan terbaik bagi peserta didik penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus lainnya.78

Dari beberapa teori dan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bekerjasama (team teaching) antar kedua pihak secara maksimal selain mempermudah pekerjaan juga akan mempermudah dalam mengatasi berbagai permasalah yang dihadapi. Kerjasama akan mudah terjadi bila komponen-komponen yang ada mampu berpikir sinergi, terjadi kesamaan pandang, dan saling menghargai. Sehingga akan menyebabkan kerjasama yang baik dan akan memperkuat hubungan antar keduanya. Dalam pengambilan keputusan memperhatikan tujuan utama yang ingin dicapai, dalam hal ini yaitu memberikan layanan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi.

78 Marilyn Friend dan William D. Bursuck, Menuju Pendidikan Inklusi: Panduan Praktis untuk Mengajar, Terj. Annisa Nuriowandari., 169.

METODE PENELITIAN