• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Inklusi

A. Penelitian Terdahulu

2. Pendidikan Inklusi

kolaborasi.

Menurut Kampwirth & Powers dalam Marilyn & Bursuck agar suatu konsultasi dapat menjadi efektif, baik konsultan maupun consultee guru berpartisipasi dengan penuh tanggungjawab.32 Peran guru selaku consultee meliputi bersiap untuk rapat, menggunakan data untuk menyampaikan kekhawatiran guru mengenai siswa, bersikap terbuka terhadap saran konsultasi, menerapkan strategi yang telah disepakati secara tersistematis, dan mendokumentasikan keefektifan gagasan yang telah dicoba. Sementara itu, peran konsultasi meliputi mendengarkan keluhan guru dengan sungguh-sungguh, mendampingi untuk menganalisis data yang mungkin mengandung informasi penting untuk pengambilan keputusan, dan bekerja dengan guru untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi strategi-strategi yang memungkinkan untuk dilakukan.33

komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh.

Inklusi dapat berarti bahwa jutaan pendidikan bagi siswa yang memiliki hambatan adalah keterlibatan yang sebenarnya dari tiap anak dalam kehidupan sekolah yang menyeluruh. Inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah.34

Berbicara pendidikan inkulusi adalah berbicara semua peserta didik. Dari semua peserta didik tersebut terdapat anak yang berkebutuhan khusus, untuk itulah penting sekali mengenalnya. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang karena suatu hal khusus (baik yang berkebutuhan khusus permanen dan yang berkebutuhan khusus temporer) yang membutuuhkan pelayanan pendidikan khusus, agar potensinya dapat berkembang secara optimal.

Anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umunya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan. Maka dari itu, anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak. Anak berkebutuhan khusus terdiri dari anak berkebutuhan permanen yang memerlukan pendidikan khusus dan

34 David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 46.

pendidikan khusus.

Menurut Staub dan Peck dalam Mudjito sekolah inklusi atau pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkebutuhan khusus tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler.36 Banyak orang menganggap bahwa pendidikan inklusi sebagai versi lain dari pendidikan khusus/PLB (special education). Bila dicermati, konsep yang mendasari pendidikan inklusi sangat berbeda dengan konsep yang mendasari pendidikan khusus. Inklusi atau pendidikan inklusi bukanlah istilah lain dari pendidikan khusus. Konsep pendidikan inklusi mempunyai banyak kesamaan dengan konsep yang mendasari pendidikan untuk semua dan konsep tentang perbaikan sekolah.

Konsep pendidikan inklusi merupakan konsep pendidikan yang merepresentasikan keseluruhan aspek yang berkaitan dengan keterbukaan dalam menerima anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh hak dasar mereka sebagai warga negara. Pendidikan inklusi didefinisikan sebagai sebuah konsep yang menampung semua anak yang berkebutuhan khusus ataupun anak yang memiliki kesulitan membaca dan menulis. Maka dari itu, tidak heran bila konsep

35 Dedy Kustawan, Managemen Pendidikan Iklusif, (Jakarta: luxima, 2013), 77-78.

36 Mudjito, Memahami Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014), 68.

biasa yang diselenggarakan pemerintah dalam dekade terakhir ini.

Namun, penerimaan peserta didik khusus juga harus melihat kesiapan dari sekolah, terutama guru. Jika memang guru tidak memiliki kompetensi untuk menerima anak berkebutuhan khusus dengan kasus berat, maka bisa saja hanya menerima anak berkebutuhan khusus dengan kasus yang ringan.38

Menurut Kustawan, penerimaan peserta didik baru bagi anak berkebutuhan khusus pada setiap satuan pendidikan perlu mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki seperti sumber daya pendidik dan tenaga pendidikan, sumber daya sarana dan prasarana, dan sumber daya biaya.39

Dari pendapat di atas dapat dikaji bahwa sekolah inklusi adalah pelayanan pendidikan untuk semua anak, yang artinya bahwa didalam sekolah inklusi bukan hanya anak reguler (normal) saja, melainkan juga terdapat anak yang berkebutuhan khusus. Dan mereka miliki hak yang sama yaitu sama-sama mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik. Sekolah yang menetapkan pendidikan inklusi perlu mempersiapkan layanan penunjang bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus yang diterima di sekolah. Bentuk layanan penunjang tersebut yaitu seperti tenaga pendidikan khusus, sumber

37 Mohammad Takdir Ilahi, Pendidikan Inklusif: Konsep dan Aplikasi, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 23-24.

38 Wahyu Tiarni & Dwi Rakhmawati, Konsep Sekolah yang Humanis, (Yogyakarta: Familia, 2013), 4.

39 Dedy Kustawan, Pendidikan Inklusif dan Upaya Implementasinya, (Jakarta: luxima, 2012), 72.

yang tidak memberatkan bagi peserta didik terutama peserta didik yang dari keluarga kurang mampu ataupun biaya dalam melengkapi fasilitas yang disediakan.

Apabila sarana dan prasarana serta sumber daya manusia tidak mendukung, maka dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus akan mengalami hambatan. Selain itu, seperti kelas khusus dan program khusus yang tidak dijalankan dengan baik dapat menghambat anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh layanan pendukung dimana program tersebut dapat membantu dalam penyesuain diri terhadap lingkungan di sekitar.

Lingkungan yang inklusif dalam sekolah reguler memungkinkan setiap warga sekolah dapat saling membantu dan menerima keberadaan peserta didik dengan kebutuhan khusus. Warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, para peserta didik, serta masyarakat sekitar memiliki peran dalam mendukung pemenuhan kebutuhan atau fasilitas pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Dengan demikian peserta didik dengan kebutuhan khusus memperoleh kenyamanan dan kepercayaan diri dalam belajar.

Bagian utama dalam pelaksanaan sekolah yang inklusif yaitu berawal dari layanan pembelajaran anak berkebutuhan di kelas inklusi.

Kelas yang inklusif berarti kelas yang dimana guru kelas dan peserta didik reguler di dalamnya dapat menerima peserta didik berkebutuhan

menjamin peserta didik berkebutuhan khusus untuk dapat nyaman dalam kegiatan pembelajaran dan memperoleh hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.

b. Tujuan pendidikan inklusi

Pendidikan inklusif ditujukan kepada semua kelompok yang termarginalisasi, tetapi kebijakan dan praktik inklusi anak penyandang cacat telah menjadi katalisator utama untuk mengembangkan pendidikan inklusi yang efektif, fleksibel, dan tanggap keanekaragaman gaya dan kecepatan belajar.

Beberapa hal yang perlu dicermati lebih lanjut tentang tujuan pendidikan inklusi yaitu sebagai berikut:

1) Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

2) Mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.40

Sesuai dengan tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah untuk memanusiakan manusia, sehingga semua anak memiliki hak yang sama yaitu memperoleh pendidikan yang selayaknya. Tidak terjadi

40 Muhammad Takdir Ilahi, Pendidikan Inklusif: Konsep dan Aplikasi,. 39-40.

berkebutuhan khusus. Hal ini, sesuai dengan cita-cita bangsa ini yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan Indonesia harus membela anak berkebutuhan khusus atau penyandang cacat yang kurang mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan formal, akibatnya mereka merasa terpinggirkan dari lingkungan sekolah atau masyarakat.

c. Karakteristik pendidikan inklusi

Karakter utama dalam penerapan pendidikan inklusi tidak bisa lepas dari keterbukaan tanpa batas dan lintas latar belakang yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi setiap anak Indonesia yang membutuhkan layanan pendidikan antidiskriminasi. Pelayanan pendidikan tanpa batas dan lintas latar belakang adalah landasan fundamental dari pendidikan inklusi yang berkosentrasi dalam memproyeksikan pendidikan untuk semua.

Pendidikan inklusi memiliki empat karakteristik makna, antara lain yaitu sebagai berikut:

1) Proses yang berjalan terus dalam usahanya menemukan cara-cara merespons keragaman individu.

2) Mempedulikan cara-cara untuk meruntuhkan hambatan-hambatan anak dalam belajar.

3) Anak kecil yang hadir (di sekolah), berpartisipasi dan mendapatkan hasil belajar yang bermakna dalam hidupnya.

eksklusif dan membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajar.41

Dari karakteristik di atas, paling tidak terdapat beberapa poin yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri dan fleksibilitas diberbagai bidang dalam mencermati berbagai kebutuhan yang mendesak bagi anak yang berkebutuhan khusus atau anak penyandang cacat. Fleksibilitas sangat terkait dengan bagaimana penerapan pendidikan inklusi mampu memberikan kemudahan kepada mereka yang dianggap different ability dan setiap kurikulum yang diberikan setidaknya dapat menyesuaikan diri dengan tingkat kecerdasan dan intelektual mereka.

d. Manfaat pendidikan inklusi

Pendidikan inklusi didirikan karena bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi semua anak, agar mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari tujuan tersebut, pendidikan inklusi juga bermanfaat khususnya bagi anak-anak dan masyarakat pada umunya. Adapun manfaat dari pendidikan inklusi yaitu sebagai berikut:

1) Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, peserta didik memiliki rasa percaya diri, memiliki kesempatan menyesuaikan diri serta memiliki kesiapan dalam menghadapi kehidupan yang nyata pada

41 Muhammad Takdir Ilhahi, Pendidikan Inklusif: Konsep dan Aplikasi,. 44.

berkebutuhan khusus ketika berada di sekolah akan bersosialisasi dengan peserta didik yang pada umumnya. Sehingga mereka akan terbiasa dengan situasi yang demikian.

2) Bagi peserta didik pada umunya, peserta didik dapat belajar mengenai keterbatasan dan kelebihan tertentu pada teman- temannya, mengetahui keterbatasan dan kelebihan serta keunikan temannya. Selain itu, mereka juga dapat mengembangkan keterampilan sosial dan potensi-potensi lainnya.

3) Bagi guru, akan lebih tertantang untuk mengajar lebih baik dan dapat mengakomodasi semua peserta didik sehingga akan berupaya untuk meningkatkan wawasannya mengenal keberagaman karakteristik semua peserta didik.

4) Bagi orang tua, mereka akan merasa dihargai atau dapat meningkatkan penghargaan terhadap peserta didik. Orang tua juga akan merasa senang ketika melihat anaknya dapat bersosialisasi dengan baik tanpa ada diskriminasi dan akan lebih memahami cara memotivasi peningkatan belajar anaknya yang sesuai dengan kebutuhan khususnya.

5) Bagi pemerintah dan masyarakat, kebijakan pendidikan terlaksana pada azas demokrasi, berkeadilan dan tanpa diskriminasi karena dapat melaksanakan amanat Undang-undang dan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, serta kebijakan-kebijakan sebagai

Sedangkan bagi masyarakat, dapat memaksimalkan potensi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan. Masyarakat akan lebih sadar bahwa anak berkebutuhan khusus juga berhak memperoleh pendidikan seperti anak-anak pada umunya.

6) Bagi sekolah, pencitraan sekolah meningkat, sekolah lebih terbuka, ramah dan tidak diskriminasi. Sekolah juga dapat meningkatkan mutu pendidikan secara komprehensif bagi semua peserta didik dan meningkatkan akses bagi semua peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik.42

Jadi, pendidikan inklusi sangat bermanfaat bagi semua khususnya bagi peserta didik yang menyandang berkebutuhan khusus dan bagi masyarakat pada umumya. Sekolah inklusi bukan hanya untuk anak yang berkebutuhan khusus, anak normal yang tidak berkebutuhan khusus pun juga bisa. Karena sekolah inklusi merupakan pendidikan untuk semua, artinya di dalam sekolah inklusi bukan hanya anak yang berkebutuhan khusus melainkan juga anak reguler.

e. Menyiapkan dan Mendorong Guru Inklusi 1) Kesiapan untuk inklusi

Kesiapan seluruh sekolah untuk kelas lebih inklusif mungkin kuncinya adalah penyatuan yang lebih besar siswa-siswa penyandang hambatan supaya berhasil bagi semua pihak yang

42 Dedy Kustawan, Managemen Pendidikan Iklusif., 18-21.

menemukan 10 kategori utama kesiapan yang merupakan prasyarat bagi sekolah yang lebih ramah dan inklusif. berikut beberapa sifat yang harus jelas jika sekolah ingin benar-benar menjadi lingkungan pembelajaran yang inklusi yaitu:

a) Sikap (attitides)

Guru dan administrator harus percaya bahwa inklusi yang lebih besar akan menghasilkan proses pengajaran dan pembelajaran yang meningkat bagi semua orang.

b) Persahabatan (relationship)

Persahabatan dan kerjasama antara siswa dengan atau tanpa hambatan harus dipandang sebagai suatu norma yang berlaku.

c) Dukungan bagi siswa (support for students)

Harus ada personil dan sumber daya lain yang diperlukan untuk memberikan layanan kebutuhan bagi siswa yang berbeda di kelas inklusif supaya berhasil.

d) Dukungan untuk guru (support for teacher)

Guru harus mempunyai kesempatan latihan yang akan digunakan dalam menangani jumlah keraguan dalam menangani jumlah keragaman siswa yang lebih berada.

e) Kepemimpinan admistrasi (administrasi leadership)

Kepala sekolah dan staf lain harus antusias dalam memberikan dukungan dan kepemimpinan di sekolah yang lebih inklusif.

Kurikulum harus cukup fleksibel sehingga tiap siswa dapat tertantang meraih yang terbaik.

g) Penilaian (assessment)

Pencapaian prestasi dan tujuan belajar harus diberi penilaian yang memberi gambaran akhir setiap siswa.

h) Program dan evaluasi staf (program and staff evaluation) Suatu sistem harus diletakkan dalam mengevaluasi keberhasilan sekolah yang menyeluruh supaya dapat memberikan suatu lingkungan inklusif dan ramah bagi siswa.

i) Keterlibatan orangtua (parental involvement)

Orangtua siswa dengan ataupun tanpa hambatan harus memahami rencana untuk membentuk suatu lingkungan inklusif dan ramah bagi setiap siswa.

j) Keterlibatan masyarakat (community involvement)

Melalui publikasi media dan sekolah, masyarakat harus diberi tahu dan dilibatkan dalam usaha-usaha meningkatkan keterlibatan dan diterimanya siswa penyandang hambatan di dalam kehidupan sekolah. Penerimaan didorong untuk memperluas penerimaan di dalam masyarakat itu sendiri.43 Ada beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan pada diri sendiri oleh para guru bila mereka menghadapi tantangan pengajaran

43 David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 403-404.

misalnya mengenai persiapan menangani siswa dengan berbagai jenis kelainan dan tingkat kesukaran yang dirasakan guru yang tidak siap menanganinya.

Guru dapat diberikan informasi yang tepat dan pelatihan agar lebih terbuka dan percaya diri. Komunikasi merupakan sifat-sifat utama dalam membentuk kelas yang lebih inklusif, guru dapat didorong dari permulaan untuk menyuarakan keraguan-keraguan dan keprihatinannya.44

2) Perubahan Metode dan Materi

Guru bisa jadi tidak yakin tentang cara membuat perubahan materi, metode, harapannya, sehingga mereka dapat memberikan pengajaran yang layak kepada siswa dengan kebutuhan yang berbeda.

Lombardi telah menjelaskan beberapa model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan kelas inklusif. Model-model tersebut meliputi:

a) Pengajaran langsung (direct instruction)

Dibuat suatu penekanan pada penggunaan struktur yang ringan dan jadwal waktu kelas, menggunakan seluruh sumber daya guru secara efisien (baik pendidikan umum maupun khusus) di kelas umum dan pemantauan kemajuan secara seksama.

44 David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 404.

Dibuat suatu penekanan pada kemampuan pengajaran seperti: mendengarkan/listening, membuat catatan/note talking, pertanyaan mandiri/self quationing, tes lisan/test talking, dan pemantauan kesalahan/eror monitor.

c) Tim asistensi-guru (teacher-assistence team)

Guru umum dan guru pendidikan khusus bekerja sebagai tim, mereka bertemu secara teratur untuk mengatasi masalah dan memberikan bantuan kepada anggota mereka dalam mengatur sikap siswa dan pertanyaan mengenai kesulitan akademis.

d) Model guru sebagai konsultan (consulting teacher model)

Guru-guru khusus dilatih sebagai konsultan untuk memberikan bimbingan dan bantuan kepada guru kelas umum.

Mereka juga melatih para profesional yang ditugaskan di kelas umum untuk membantu siswa penyandang hambatan. Mereka melakukan tim pengajaran bersama guru kelas umum terhadap siswa yang mempunyai kebutuhan khusus tanpa memandang apakah mereka telah diketahui memiliki hambatan atau tidak.45

Lombardi dikutip oleh Smith juga mengungkapkan metode pengajaran yang diketahui oleh guru kelas umum yang paling efektif bagi siswa-siswa tanpa hambatan dapat juga efektif bagi

45 Lombardi, Responsible Inclution of Students with Disabilities, (Bloomington, IN: Phi Delta Kappa Educational Foundation, 1994) dalam David Smith, Sekolah untuk Semua: Teori dan Implementasi Edisi Revisi, Terj. Mohammad Sugiarmin dan Baihaqi, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), 404-405.

hal adalah pengajaran yang tanpa memandang ciri-ciri tertentu pembelajar. Dia juga tahu, bahwa sebagaian modifikasi pengejaran telah dibuktikan terutama efektif bagi siswa-siswa penyandang hambatan di kelas umum.