• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Evaluasi Pembelajaran

Dalam dokumen penerapan pembelajaran web based learning (Halaman 77-115)

A. Hasil Penelitian

2. Hasil Evaluasi Pembelajaran

dikembalikan kepada yang punya. Siswa merevisi karya tulis berdasarkan masukan teman (bentuk koreksi). Siswa melaporkan karya tulis kepada guru.

Tabel 4.6 Aktivitas Siswa pada Pertemuan ke-3 No Kegiatan belajar Keterangan

Aktif Kurang aktif Tidak aktif 1.

2.

3.

4

Siswa menukarkan hasil karya tulis

sederhananya Setiap kelompok mendiskusikan hal-hal yang akan diamati dalam karya tulis sederhana yang dibaca.

Siswa menyunting karya tulis sederhana yang dibaca

Siswa melaporkan kelebihan, kekurangan karya tulis yang disunting

penyusunan karya tulis sederhana ini. Pada dasarnya, penilaian ini mengacu pada penilaian yang dilakukan secara objektif dari karya tulis sederhana /aspek kognitif.

Setiap indikator yang tercantum dalam karya tulis sederhana dianalisis oleh peneliti.

Pada pembelajaran ini, materi difokuskan pada bagian merumuskan masalah dan menyusun latar belakangnya, serta kajian pustaka yang relevan dengan tema masing-masing kelompok. Penilaian yang dilakukan disesuaikan dengan indikator penilaian karya tulis sederhana yang telah ditetapkan seperti perumusan tema, penyusunan kerangka, pengembangan kerangka menjadi karya tulis sederhana, penggunaan ejaan dan tenda baca, struktur kalimat, serta koherensi antarkalimat.

Guru memberikan penilaian terhadap karya tulis sederhana yang dibuat siswa bagian latar belakang dan kajian pustaka. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam pembelajaran menulis karya tulis pada bagian latar belakang dan kajian pustaka. Selain itu, juga untuk mengetahui keberhasilan setiap indikator yang tercantum dalam catatan harian, dan dilakukan refleksi sesuai dengan keinginan siswa. Hasilnya akan diperoleh perubahan yang signifikan yang dapat berupa peningkatan aspek afe karya tulis sederhana pada diri siswa yaitu siswa termotivasi dalam pembelajaran menulis karya tulis sederhana.

Keberhasilan pembelajaran diamati selama dan sesudah tindakan dilaksanakan. Peneliti mengamati perilaku guru dan siswa selama proses

pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar pengamatan. Aspek yang dinilai ialah siswa dan guru pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Pada kegiatan akhir, guru memberi kesempatan kepada masing-masing anggota kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini cukup. Dengan demikian, banyak siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing. Bagian latar belakang dan kajian pustaka yang dibuat oleh masing-masing kelompok telah dikerjakannya belum terlihat optimal karena keterbatasan waktu.

Secara statistik, nilai pembelajaran menulis karya tulis sederhana setiap aspek disajikan satu per satu berikut ini.

1) Aspek Pemilihan dan Perumusan Tema

Tema yang dimaksud adalah fokus persoalan yang dibahas oleh siswa.

Penilaian difokuskan pada ketepatan dalam memilih dan merumuskan tema karya tulis sederhana. Nilai siswa dalam merumuskan tema tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.7 Statistik Nilai Siswa Pemilihan dan Perumusan Tema

N Valid 30

Missing 0

Mean 49.33

Median 60.00

Mode 60

Std. Deviation 17.991

Variance 323.678

Minimum 20

Maximum 80

Sum 1480

Berdasarkan Tabel 4.7, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek pemilihan dan perumusan tema adalah 80 dan terendah 20. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 49,33 dengan standar deviasi 17,99. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan memilih dan merumuskan tema seperti berikut ini.

Tabel 4.8. Klasifikasi Kemampuan Memilih dan Merumuskan Tema No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase (%) Tingkat

Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 3 0 13 14

0 10

0 43,3 46,66

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006) Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi (0%).

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 3 orang (10%); tidak ada sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang (0%); sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah sebanyak 13 orang (43,33%); dan 14 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (46,66%). Hal ini menunjukkan

bahwa kemampuan memilih dan merumuskan tema pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan sangat rendah.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9 Klasifikasi Ketuntasan Kemampuan Kemampuan Memilih dan Merumuskan Tema Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

3 27

10 90

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa dikelahui, bahwa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 3 siswa (10%) dan sebanyak 27 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (90%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan memilih dan merumuskan tema kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

2) Aspek Penyusunan Kerangka

Kerangka yang dimaksud adalah rancangan dan struktur karya tulis sederhana yang disusun oleh siswa. Nilai siswa dalam menyusun kerangka tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.10 Statistik Nilai Siswa Penyusunan Kerangka

N Valid 30

Missing 0

Mean 67.77

Median 66.66

Mode 67

Std. Deviation 12.021

Variance 144.497

Maximum 87

Minimum 47

Sum 2033

Berdasarkan Tabel 4.10, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek penyusunan kerangka adalah 87 dan terendah 47. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 67,77 dengan standar deviasi 12,02. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan menyusun kerangka seperti berikut ini.

Tabel 4.11. Klasifikasi Kemampuan Menyusun Kerangka No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase (%) Tingkat

Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

2 8 11

1 8

6,66 26,66 36,66 3,33 26,66

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006) Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa sebanyak 2 siswa (6,66%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi. Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 8 orang (26,66%); sebanyak 11 sampel (36,66%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 1 sampel (3,33%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 8 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (26,66%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menyusun kerangka pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan sedang.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.12 berikut ini.

Tabel 4.12 Klasifikasi Ketuntasan Kemampuan Menyusun Kerangka Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

12 18

40 60

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 12 siswa (40%) dan sebanyak 18 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (60%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan menyusun kerangka kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

3) Aspek Pengembangan Kerangka Menjadi Karya Tulis Sederhana

Pengembangan kerangka adalah kemampuan siswa mengembangkan gagasan berdasarkan rancangan yang telah disusun. Pengembangan dalam hal ini adalah dalam bentuk karya tulis sederhana yang utuh dan lengkap sesuai dengan komponen karya tulis sederhana. Nilai siswa dalam mengembangkan kerangka tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.13. Statistik Nilai Siswa dalam Mengembangkan Kerangka

N Valid 30

Missing 0

Mean 58.00

Median 60.00

Mode 60

Std. Deviation 14.239

Variance 202.759

Minimum 40

Maximum 80

Sum 1740

Berdasarkan Tabel 4.13, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek pengembangan kerangka adalah 80 dan terendah 40. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 58 dengan standar deviasi 14,23. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan mengembangkan kerangka seperti berikut ini.

Tabel 4.14. Klasifikasi Kemampuan Mengembangkan Kerangka No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase (%) Tingkat

Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 6 0 15

9

0 20

0 50 30

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006)

Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi.

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 6 orang (20%); tidak ada sampel (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 15 sampel (50%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 9 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (30%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengembangkan kerangka pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan rendah.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.15 berikut ini.

Tabel 4.15 Klasifikasi Ketuntasan Kemampuan Mengembangkan Kerangka pada Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

6 24

20 80

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 6

siswa (20%) dan sebanyak 24 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (80%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengembangkan kerangka pada kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

4) Aspek Ejaan, Tanda Baca, dan Bentuk Kata

Ejaan dan tanda baca serta bentuk kata yang dimaksud adalah semua kesalahan penulisan kata dan penerapan ejaan dan tanda baca pada karya tulis siswa. Nilai penggunaan ejaan dan tanda baca serta bentuk kata tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.16 Statistik Nilai Siswa pada Penggunaan Ejaan, Tanda Baca, dan Bentuk Kata

N Valid 30

Missing 0

Mean 70.67

Median 80.00

Mode 80

Std. Deviation 11.427

Variance 130.575

Minimum 40

Maximum 80

Sum 2120

Berdasarkan Tabel 4.16, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek penggunaan ejaan dan tanda baca adalah 80 dan terendah 40. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah

70,67 dengan standar deviasi 11,427. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan menggunakan ejaan dan tanda baca seperti berikut ini.

Tabel 4.17 Klasifikasi Kemampuan Menggunakan Ejaan, Tanda Baca, dan Bentuk Kata

No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase (%) Tingkat Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 17

0 12

1

0 56,66

0 40 3,33

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006) Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi.

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 17 orang (56,66%); tidak ada sampel (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 12 sampel (40%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 1 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (3,33%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, bentuk kata pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan tinggi. Namun, masih terdapat

40% yang perlu pemahaman menggunakan ejaan dan tanda serta bentuk kata dalam menulis, termasuk menulis karya tulis sederhana.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.18 berikut ini.

Tabel 4.18 Klasifikasi Ketuntasan Kemampuan Menggunakan Ejaan, Tanda Baca, dan bentuk Kata pada Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

17 13

56,66 43,33

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 17 siswa (56,66%) dan sebanyak 13 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (43,33%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan menggunakan ejaan dna tanda baca serta bentuk kata pada kelas kontrol memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

5) Aspek Struktur Kalimat

Struktur kalimat yang dimaksud adalah keefektifan kalimat karena ketepatan dalam menyusun kalimat sesuai dengan pola dan kaidah tata bahasa baku bahasa Indonesia. Nilai struktur kalimat tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.19 Statistik Nilai Siswa pada Struktur Kalimat

N Valid 30

Missing 0

Mean 64.00

Median 60.00

Mode 60

Std. Deviation 9.685

Variance 93.793

Minimum 40

Maximum 80

Sum 1920

Berdasarkan Tabel 4.19, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek struktur kalimat adalah 80 dan terendah 40. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 64 dengan standar deviasi 9.685. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan menggunakan struktur kalimat yang tepat seperti berikut ini.

Tabel 4.20 Klasifikasi Nilai Struktur Kalimat No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase

(%)

Tingkat Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 7 0 22

1

0 23,33

0 73,33

3,33

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006)

Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi.

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 7 orang (23,33%); tidak ada sampel (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 22 sampel (73,33%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 1 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (3,33%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan kalimat yang efektif dan sesuai dengan pola kalimat yang benar pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan rendah. Namun, sudah ada yang mampu memperoleh nilai pada kategori tinggi.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.21 berikut ini.

Tabel 4.21 Klasifikasi Ketuntasan Penggunaan Struktur Kalimat pada Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

7 23

23,33 76,66

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 7 siswa (23,33%) dan sebanyak 23 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (76,66%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan menggunakan struktur kalimat yang tepat pada kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

6) Aspek Koherensi Antarkalimat

Koherensi antarkalimat yang dimaksud adalah kepaduan dan keterkaitan gagasan pada setiap kalimat sehingga membentuk keruntutan paragraf yang logis.

Nilai koherensi antarkalimat tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.22 Statistik Nilai Siswa pada Koherensi Antarkalimat

N Valid 30

Missing 0

Mean 58.67

Median 60.00

Mode 60

Std. Deviation 7.303

Variance 53.333

Minimum 40

Maximum 80

Sum 1760

Berdasarkan Tabel 4.22, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek koherensi antarkalimat adalah 80 dan terendah 40. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 58,67

dengan standar deviasi 7,303. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi nilai koherensi antarkalimat seperti berikut ini.

Tabel 4.23 Klasifikasi Nilai Koherensi Antarkalimat No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase

(%)

Tingkat Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 1 0 26

3

0 3,33

0 86,7

10

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006) Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi.

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 1 orang (3,33%); tidak ada sampel (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 26 sampel (86,7%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 3 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (10%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan kalimat yang kohesif dan koheren pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan rendah.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.24 berikut ini.

Tabel 4.24 Klasifikasi Ketuntasan Penggunaan Kalimat Kohesif dan Koheren pada Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

1 29

3,33 96,67

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 1siswa (3,33%) dan sebanyak 29 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (96,7 %). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan menggunakan kalimat yang kohesif dan koheren pada kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

7) Analisis Nilai pada Keseluruhan Aspek Menyusun Karya Tulis Sederhana Aspek yang dinilai dalam menyusun karya tulis sederhana terdiri atas pemilihan dan perumusan tema, penyusunan kerangka karangan, pengembangan kerangka menjadi karya tulis, ejaan dan tanda baca, bentuk kata, struktur kalimat, koherensi antarkalimat. Nilai pemilihan dan perumusan tema, penyusunan kerangka karangan, pengembangan kerangka menjadi karya tulis, ejaan dan tanda baca, bentuk kata, struktur kalimat, koherensi antarkalimat tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.25 Statistik Nilai Siswa pada Pemilihan dan Perumusan Tema, Penyusunan Kerangka Karangan, Pengembangan Kerangka Menjadi Karya Tulis, Ejaan dan Tanda Baca, Bentuk Kata, Struktur Kalimat, dan

Koherensi Antarkalimat

N Valid 30

Missing 0

Mean 63.00

Median 63.75

Mode 65(a)

Std. Deviation 9.317

Variance 86.810

Minimum 48

Maximum 83

Sum 1890

Berdasarkan Tabel 4.25, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek secara umum dalam menyusun karya tulis sederhana adalah 83 dan terendah 48.

Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 63 dengan standar deviasi 9.317. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi nilai secara umum dalam menyusun karya tulis sederhana seperti berikut ini.

Tabel 4.26 Klasifikasi Nilai Siswa pada Pemilihan dan Perumusan Tema, Penyusunan Kerangka Karangan, Pengembangan Kerangka Menjadi Karya Tulis, Ejaan dan Tanda Baca, Bentuk Kata, Struktur Kalimat, dan

Koherensi Antarkalimat No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase

(%)

Tingkat Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 3 8 10

9

0 10 26,66 33,33 30

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006)

Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa (0%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi.

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 3 orang (10%); sebanyak 8 sampel (26,66%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang; sebanyak 10 sampel (33,33%) yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah; dan 9 sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (30%). Hal ini menunjukkan bahwa nilai siswa pada pemilihan dan perumusan tema, penyusunan kerangka karangan, pengembangan kerangka menjadi karya tulis, ejaan dan tanda baca, bentuk kata, struktur kalimat, dan koherensi antarkalimat pada penulisan karya tulis sederhana kelas kontrol rata-rata dikategorikan rendah.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.27 berikut ini.

Tabel 4.27 Klasifikasi Ketuntasan Siswa pada Pemilihan dan Perumusan Tema, Penyusunan Kerangka Karangan, Pengembangan Kerangka Menjadi Karya Tulis, Ejaan dan Tanda Baca, Bentuk Kata, Struktur Kalimat, dan Koherensi Antarkalimat pada Kelas Kontrol

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

8 22

26,67 73,33

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas berjumlah 8 siswa (26,67%) dan sebanyak 22 siswa sampel yang memperoleh nilai di bawah 70 (73,33%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan menggunakan memilih dan perumusan tema, penyusunan kerangka karangan, pengembangan kerangka menjadi karya tulis, ejaan dan tanda baca, bentuk kata, struktur kalimat, dan koherensi antarkalimat pada kelas kontrol belum memadai. Hal ini dibuktikan dari nilai yang diperoleh siswa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas rata-rata belum mencapai kriteria tingkat ketuntasan.

b. Hasil Pembelajaran Menulis karya tulis sederhana dengan Pembelajaran TIK (Web Based Learning) pada Kelas Eksperimen

Pembelajaran menulis karya tulis sederhana kelas eksperimen juga memfokuskan penilaian pada pemilihan dan perumusan tema, penyusunan kerangka karangan, pengembangan kerangka menjadi karya tulis, ejaan dan tanda baca, bentuk kata, struktur kalimat, dan koherensi antarkalimat. Analisis setiap aspek tersebut diuraikan berikut ini.

1) Aspek Pemilihan dan Perumusan Tema

Tema yang dimaksud adalah fokus dan titik persoalan yang dibahas oleh siswa. Penilaian difokuskan pada ketepatan dalam memilih dan merumuskan tema

karya tulis sederhana. Nilai siswa dalam merumuskan tema tampak pada tabel berikut ini.

Tabel 4.28 Statistik Nilai Siswa Pemilihan dan Perumusan Tema

N Valid 30

Missing 0

Mean 73.33

Median 80.00

Mode 80

Std. Deviation 9.589

Variance 91.954

Minimum 60

Maximum 80

Berdasarkan Tabel 4.28, diketahui bahwa nilai tertinggi aspek pemilihan dan perumusan tema adalah 80 dan terendah 60. Selanjutnya, nilai rata-rata adalah 73,33 dengan standar deviasi 9,589. Berdasarkan nilai tersebut, dapat diklasifikasi kemampuan memilih dan merumuskan tema seperti berikut ini.

Tabel 4.29 Klasifikasi Kemampuan Memilih dan Merumuskan Tema No. Kemampuan (P) Frekuensi (f) Persentase (%) Tingkat

Penguasaan 1.

2.

3.

4.

5.

86-100 76-85 66-75 56-65 55 ke bawah

0 20

0 10

0

0 66,7

0 33,3

0

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Jumlah 30 100

(Adaptasi dari Depdiknas, 2006)

Berdasarkan kategori kemampuan tersebut, dapat dinyatakan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat tinggi (0%).

Selanjutnya, sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan tinggi sebanyak 20 orang (66,7%); tidak ada sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sedang (0%); sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan rendah sebanyak 10 orang (33,33%); dan tidak ada sampel yang memperoleh nilai pada kategori kemampuan sangat rendah (0%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan memilih dan merumuskan tema pada penulisan karya tulis sederhana kelas eksperimen rata-rata dikategorikan tinggi.

Nilai siswa tersebut dapat dikonversikan ke dalam tabel klasifikasi ketuntasan hasil belajar bahasa Indonesia. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat tabel 4.30 berikut ini.

Tabel 4.30 Klasifikasi Ketuntasan Kemampuan Kemampuan Memilih dan Merumuskan Tema Kelas Eksperimen

Nilai Frekuensi Persentase (%)

70 ke atas di bawah 70

20 10

66,7 33,33

Jumlah 30 100

Mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal, khususnya pada kompetensi dasar menulis karya tulis sederhana, yaitu 70, maka dapat diketahui ketuntasan atau pencapaian KKM siswa dikelahui, bahwa sampel yang memperoleh nilai 70 ke atas

Dalam dokumen penerapan pembelajaran web based learning (Halaman 77-115)

Dokumen terkait