• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Validasi Ahli terhadap Konstruksi Buku Ajar yang Dikembangkan

PEMANFAATAN KONTEKS KERAMIK DALAM PEMBELAJARAN IKATAN KIMIA UNTUK MENCAPAI LITERASI SAINS SISWA SMA

2. Hasil Validasi Ahli terhadap Konstruksi Buku Ajar yang Dikembangkan

Pada proses rekonstruksi dilakukan validasi pada rumusan indikator dan tujuan pembelajaran aspek kognitif dan sikap serta teks materi pembelajaran pada buku ajar yang telah direkonstruksi. Masing-masing validasi dilakukan oleh lima orang dosen ahli di bidang materi subjek, pedagogi materi subjek dan ahli yang berpengalaman di bidang pengembangan literasi sains..

a. Validasi Tujuan Pembelajaran Aspek Kognitif

Aspek kognitif merupakan aspek utama dalam sebuah buku ajar. Dengan demikian tujuan pembelajaran aspek kognitif menjadi dasar utama dalam konstruksi materi pada buku ajar. Validasi terhadap tujuan pembelajaran aspek kognitif dilihat dari dua kriteria, yaitu kesesuaian dengan KD dan kesesuaian dengan kompetensi ilmiah PISA (2009).

Hasil validasi tujuan pembelajaran kognitif dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 2. Hasil Validasi Tujuan Pembelajaran Aspek Kognitif

Kriteria Rata-rata nilai CVR (CVI)

Kesesuaian dengan Kompetensi Dasar (KD) 0,85

Kesesuaian dengan Kompetensi Ilmiah PISA 1

Hasil validasi menunjukkan bahwa secara umum tujuan pembelajaran kognitif sudah valid. Kriteria kesesuaian dengan KD mendapatkan nilai CVI sebesar 0,85 dari nilai maksimal sebesar 1. Tujuan pembelajaran yang dianggap kurang sesuai dengan KD adalah tujuan pembelajaran pada tahap kontak yang berisi pengenalan konteks. Saran dari validator adalah menambahkan kata “sifat fisis” dan/atau “komponen penyusun” pada tujuan pembelajaran tersebut sehingga sesuai dengan KD.

Untuk kriteria kesesuaian dengan kompetensi ilmiah PISA, tujuan pembelajaran yang disusun mendapatkan nilai CVI sebesar 1. Artinya semua tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan kompetensi ilmiah PISA.

b. Validasi Tujuan Pembelajaran Aspek Sikap

Aspek sikap secara eksplisit dikembangkan dalam Kurikulum 2013 melalui KI 2. Aspek sikap juga merupakan dimensi literasi sains. Sehingga tujuan pembelajaran aspek sikap pun disusun untuk diintegrasikan dengan buku ajar yang dikonstruksi. Hasil validasi dari tujuan pembelajaran aspek sikap adalah sebagai berikut

Tabel 3. Hasil Validasi Tujuan Pembelajaran Aspek Afektif

Kriteria Rata-rata nilai CVR (CVI)

Kesesuaian dengan Kompetensi Dasar (KD) 0,67

Kesesuaian dengan Kompetensi Ilmiah PISA 0,73

Hasil validasi menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran aspek sikap yang disusun masih terdapat ketidaksesuaian, walaupun apabila dibandingkan dengan nilai kritis yang diambil (0,573) susunan tujuan pembelajaran tersebut masih dapat diterima. Salah satu validator menyatakan bahwa kata kerja operasional sikap yang digunakan kurang jelas dan tidak umum digunakan. Perbaikan kemudian dilakukan sesuai dengan saran validator.

c. Validasi Teks Buku Ajar yang Dikonstruksi

Teks buku ajar yang dimaksud adalah teks yang berisi struktur materi untuk pembelajaran yang telah melalui proses elementarisasi dan konstruksi sesuai dengan langkah-langkah klarifikasi dan analisis wacana. Kriteria yang divalidasi adalah ketepatan materi (baik untuk konten maupun konteks), kesesuaian konten dengan konteks, kesesuaian

Hernani, dkk.

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 55

materi dengan kurikulum, ketepatan ilustrasi, gambar, simbol, sketsa dan percobaan serta kesesuaian materi dengan kemampuan siswa SMA. Hasil validasi dapat dilihat pada tabel 3. berikut.

Tabel 4. Hasil Validasi Teks Hasil Konstruksi

Kriteria Rata-rata nilai CVR (CVI)

Ketepatan Materi (Konten dan Konteks) 0,91

Kesesuaian Konten dengan Konteks 0,86

Kesesuaian Materi dengan Kurikulum 0,98

Ketepatan Ilustrasi, Gambar, Simbol, Sketsa & Percoban 0,93

Kesesuaian Materi dengan Kemampuan Siswa SMA 0,91

Nilai CVI yang didapatkan untuk kriteria ketepatan materi adalah 0,91 dari nilai maksimal 1, yang menunjukkan bahwa teks hasil konstruksi memiliki ketepatan materi yang baik. Saran dari validator untuk perbaikan adalah mempertajam perbedaan antara konten dengan konteks, karena pada bagian tertentu hal tersebut kurang terlihat.

Konten adalah teori-teori fundamental sedangkan konteks adalah kondisi situasional yang ditemui sehari-hari (PISA, 2009). Hal ini dapat berakibat diterimanya teks sebagai hapalan semata.Dalam penggunaan konteks dalam pembelajaran, elaborasi harus jelas sehingga tidak membingungkan siswa.

Kriteria kedua adalah kesesuaian konten dengan konteks yang merujuk pada koherensi konten dan konteks pada teks. Nilai CVI yang didapatkan adalah 0,86. Saran dari validator untuk meningkatkan kesesuaian konten dan konteks adalah ketika mengambil contoh senyawa pada konteks untuk menjelaskan konten, keberadaannya di kehidupan sehari-hari perlu ditekankan. Dengan demikian siswa dapat memahami posisi konten yang sedang dibahas pada konteks, begitu pula sebaliknya.

Kriteria ketiga adalah kesesuaian dengan kurikulum. Sebuah buku ajar dikatakan baik jika mampu menjabarkan materi pokok yang terkandung di dalam kurikulum yang diwujudkan dalam indikator dan tujuan pembelajaran. Nilai CVI yang diperoleh adalah sebesar 0,98. Hal ini dapat diartikan bahwa teks sudah dapat mengelaborasi tujuan pembelajaran yang disusun.

Komponen-komponen pelengkap teks pada suatu buku seperti ilustrasi, gambar sketsa dan percobaan juga merupakan hal yang penting untuk menunjang pemahaman siswa. Nilai CVI yang didapatkan untuk kriteria ini adalah 0,93 dari nilai maksimal 1 yang artinya sudah baik. Saran dari validator adalah ilustrasi, gambar dan sketsa tidak hanya digunakan untuk mengurangi tingkat kesukaran dari materi, tetapi juga diberikan untuk memperkuat konteks agar lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Teks diperbaiki sesuai saran dari validator.

Kriteria terakhir pada validasi adalah kesesuaian dengan kemampuan siswa SMA. Hal ini merujuk pada tingkat kesukaran materi untuk dipahami siswa. Nilai CVI yang didapatkan adalah 0,91 dari nilai maksimal 1 yang artinya tergolong baik. Saran dari validator untuk perbaikan adalah seputar penggunaan istilah-istilah yang baru.

Istilah-istilah ini dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Penghilangan istilah-istilah sains untuk mengurangi tingkat kesulitan materi hanya dilakukan apabila memang tidak sesuai dengan kurikulum. Karena menurut [10] salah satu ciri orang yang memiliki literasi kimia adalah menghargai penggunaan istilah-istilah ilmiah.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut.

1. Karakteristik dari buku ajar ikatan kimia menggunakan konteks keramik yang direkonstruksi untuk mencapai literasi sains siswa SMA adalah sebagai berikut.

a. Buku ajar memiliki sudut pandang literasi sains seperti yang didefinisikan oleh PISA 2009. Buku ajar juga mengandung domain literasi kimia, dengan penekanan ada pada domain kimia dalam konteks.

b. Buku ajar dikonstruksi dari sumber-sumber yang terpercaya sehingga memiliki kejelasan dan kebenaran konsep yang baik.

c. Buku ajar telah sesuai dengan Standar Isi Kurikulum 2013. Buku ajar juga diperkaya dengan informasi mengenai aplikasi kimia dalam kehidupan sebagai materi pengayaan berkaitan dengan pencapaian literasi sains yang membuat pembelajaran lebih bermakna.

d. Buku ajar telah merekonstruksi konsep-konsep dan fakta ilmiah menjadi materi pembelajaran dengan menggunakan prinsip reduksi didaktik, sehingga siswa mudah memahami melalui tampilan yang ilustratif.

e. Buku ajar mengikuti tahapan pembelajaran STL yang terdiri dari tahap kontak, tahap kuriositi, tahap elaborasi, tahap pengambilan keputusan, tahap nexus dan tahap evaluasi. Penyajian materi berpusat pada pertanyaan pada tahap kuriositi yang didesain untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk pembelajaran yang lebih bermakna.

f. Buku ajar berusaha memantapkan nilai kesadaran, penghargaan dan apresiasi terhadap kontribusi ilmu kimia dalam pesatnya perkembangan teknologi saat ini.

Hernani, dkk.

56 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014

2. Konstruksi buku ajar dinyatakan valid dilihat dari ketepatan materi (CVI=0,91), kesesuaian konten dan konteks (CVI=0,86), kesesuaian dengan kurikulum (CVI=0,98), ketepatan ilustrasi dan komponen pendukung teks (CVI=0,93) dan kesesuaian dengan kemampuan kognitif siswa SMA (CVI=0,91).

DAFTAR PUSTAKA

1. Barke, H.D., Al-Hazari, Yitbarek, S. (2009). Misconceptions in Chemistry. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg

2. Baehr, G., Day, J., Dieskow, L., Faulsie, D., Overocker, E., Shwan, J.J. (1995). Ceramics Windows to the Future.

Urbana-Champaign: University of Illinois.

3. Heimann, R,B. (2010). Classic and Advanced Ceramics. Weinheim: 2010 WILEY-VCH Verlag GmbH & Co.

4. Nentwig, P., Parchmann, I., Demuth, R., Grasel, C., Ralle B. (2002). “Chemie im Context-From situated learning in relevant contexts to a systematic development of basic chemical concepts”. Makalah Simposium Internasional IPN-UYSEG Oktober 2002, Kiel Jerman.

5. Vaino, K, Holbrook, J, dan Rannikmae, M. (2012). “Stimulating Students’ Intrinsic Motivation for Learning Chemistry Through The Use of Context-Based Learning Modules”. Chemistry Education Research and Practice.

13, 410-419.

6. Duit, R, Gropengieβer, H, Kattmann, U, Komorek, M, Parchmann, I. (2012). “The Model of Educational Rescontruction- A Framework for Improving Teaching and Learning Science”. Dalam Jorde and Dillon (Ed.).

Science Educational Reseerch and Practice in Europe.

7. Firman, H. (2007). Laporan Hasil Analisis Literasi Sains berdasarkan hasil PISA Nasional tahun 2006.

Puspendik.

8. Lawshe, C. H. (1975). A Quantitative Approach To Content Validity. Personnel Psychology. vol. 28. 563- 575Holbrook, J. (2005). ”Making Chemistry Teaching Relevant”. Chemical Education International.6(1), 1- 12.Holbrook, J. (2005). ”Making Chemistry Teaching Relevant”. Chemical Education International.6(1), 1-12.

9. Wilson, F.R., Pan, W., & Schumsky, D.A. (2012). “Recalculation of the Critical Values for Lawshe’s Content Validity Ratio”. Measurement and Evaluation in Counceling and Development. 45, (3), 197-210.

10. Shwartz, Y., Benzvi, R., & Hofstein, A. (2006). "The Use of Scientific Literacy Taxonomy for assesing the development of Chemical Literacy among high-school Student". Chemical Education Research and Practice,7(4),203-225.

Wiwi Siswaningsih, dkk.

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 57

IMPLEMENTASI TES DIAGNOSTIK TWO-TIER TERVALIDASI UNTUK

Dokumen terkait