Ayunda Naila Farihah, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 127
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIBELAJARKAN MENGGUNAKAN
Ayunda Naila Farihah, dkk.
128 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
yang mengikuti model konvensional. Mardaweni (2012) juga membuktikan bahwa hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model Think Pair Square lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Pembelajaran Think Pair Square masih memungkinkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep, karena siswa harus belajar dengan membangun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian diperlukan model pembelajaran yang dapat membantu siswa mengorganisasikan konsep yang dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat peta konsep. Peta konsep adalah diagram yang disusun untuk menunjukkan pemahaman seseorang tentang suatu konsep atau gagasan (Iskandar, 2011:77). Peta konsep dibuat sendiri oleh siswa, sehingga siswa dapat berperan aktif dan kreatif dalam kegiatan belajar. Dengan membuat peta konsep dalam model pembelajaran Think Pair Square, maka siswa dapat mengaitkan hubungan antara konsep satu dengan lainnya sehingga dapat meminimalkan terjadinya kesulitan dalam pemahaman konsep.
Materi yang diajarkan pada penelitian ini adalah sistem koloid. Sistem koloid adalah salah satu materi kimia di tingkat SMA atau MA, bersifat teoritis dan lebih menekankan pada pemahaman konsep yang saling berkaitan. Konsep yang ada pada materi ini cukup luas, meliputi sub bab pengelompokan sistem koloid, sifat-sifat koloid, pembuatan sistem koloid, dan penerapan sistem koloid dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini cocok diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square berbantuan peta konsep karena siswa dapat ikut serta aktif dalam pembelajaran, sehingga pemahaman siswa akan tertata dengan baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan mengguna-kan model pembelajaran Think Pair Square dan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep pada materi sistem koloid kelas XI IPA MAN Malang 1.
METODE
Rancangan penelitian yang digunakan yakni rancangan eksperimen semu (quasy experiment) dengan desain posttest only. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA MAN Malang 1 yang terdiri dari lima kelas.
Dari populasi diambil dua kelas secara acak untuk dijadikan sampel penelitian. Kedua kelas ini bertindak sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dengan model pembelajaran yang berbeda. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Penentuan kelas yang digunakan sebagai sampel dilakukan dengan undian. Berdasarkan hasil undian diperoleh 3 kelas XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen 1 yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran Think Pair Square dan XI IPA 5 sebagai kelas eksperimen 2 yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran Think Pair Square–peta konsep. Kedua kelas ini diberikan materi pelajaran yang sama yaitu sistem koloid.
Penelitian ini menggunakan dua macam instrumen yaitu instrumen per-lakuan dan instrumen pengukuran.
Instrumen perlakuan terdiri dari silabus, Ren-cana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat berdasarkan Kurikulum Ting-kat Satuan Pendidikan (KTSP), handout, dan LKS untuk materi sistem koloid. Instrumen pengukuran berupa tes dan lembar observasi proses pembelajar-an yang berisi rubrik-rubrik penilaian proses pembelajaran untuk mengukur aspek afektif yang meliputi karakter dan keterampilan sosial, aspek psikomotor, aktivitas belajar siswa, dan data hasil pembuatan peta konsep.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu analisis statistik dan analisis deskriptif. Analisis statistik untuk hasil belajar kognitif siswa meliputi uji prasyarat analisis (uji normalitas dan homogenitas) dan uji hipotesis yang menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak dan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian kedua sampel sama atau tidak. Uji hipotesis digunakan untuk menguji ada tidaknya perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square dan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep pada materi sistem koloid. Uji ini dilakukan pada data kemampuan awal siswa dan data hasil belajar aspek kognitif siswa yaitu ulangan harian materi sistem koloid.
Data yang diperoleh dari lembar observasi dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan memaparkan data yang diperoleh. Data yang diperoleh berupa keter-laksanaan proses pembelajaran, nilai kuis, penilaian afektif, penilaian psikomotor siswa, aktivitas belajar siswa dan pembuatan peta konsep. Data deskriptif diguna-kan untuk mengetahui data penilaian afektif siswa yang meliputi penilaian karak-ter dan keterampilan sosial siswa, data penilaian psikomotor, aktivitas belajar sis-wa dan pembuatan peta konsep. Penilaian afektif dilakukan setiap pertemuan se-lama proses pembelajaran berlangsung sedangkan penilaian psikomotor dilakukan satu kali selama proses pembelajaran pada saat praktikum. Penilaian afektif siswa meliputi penilaian karakter dan penilaian keterampilan sosial. Penilaian karakter meliputi kehadiran, kejujuran, tanggung jawab, dan menghargai orang lain. Sedangkan penilaian ketrampilan sosial meliputi keterampilan bertanya, keteram-pilan berpendapat, menjadi pendengar yang baik, dan keterampilan kerjasama.
Penilaian aktivitas siswa dilakukan setiap pertemuan pada kedua kelas. Penilaian ini diambil dari tiap tahap yang ada dalam pembelajaran Think Pair Square, yaitu pada tahap Think, Pair, dan Square. Penilaian aktivitas siswa dibantu oleh observer yaitu guru kimia MAN Malang 1.
Evaluasi untuk kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir dengan memberikan kuis sebanyak empat kali, sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kuis dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahamanan siswa terhadap materi sistem koloid. Data hasil pembuatan
Ayunda Naila Farihah, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 129
peta konsep diperoleh hanya dari kelas eksperimen 2 yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square-peta konsep. Penilaian dalam membuat peta konsep meliputi kelengkapan konsep yg ditulis, hubungan antar konsep, proporsi atau kata hubung, dan pemberian contoh. Peta konsep dibuat secara individu pada setiap pertemuan.
HASIL PENELITIAN
Data kemampuan awal siswa diperoleh dari hasil ulangan harian materi sebelumnya yaitu materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Untuk mengetahui kedua kelas memiliki kemampuan awal yang sama atau tidak, maka dilakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan uji-t dua sampel tidak berhubungan (Independent Sampel T Test).
Sebelum dilakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
Deskripsi data kemampuan awal siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Deskripsi Data Kemampuan Awal Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data kemampuan awal siswa kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 terdistribusi normal. Uji normalitas ini dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov dengan tingkat toleransi 0,05 dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil uji normalitasdan homogenitas kemampuan awal siswa kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan 4.3.
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Awal Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Kemampuan Awal Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Uji kesamaan rata-rata bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan awal siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Uji statistik yang digunakan adalah uji-t dua sampel tidak berhubungan (Independent Sampel T Test). Hasil uji kesamaan rata-rata kemampuan awal siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Uji Kesamaan Rata-rata Kemampuan Awal Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Hasil belajar siswa dalam penelitian ini meliputi hasil belajar aspek kognitif, aspek afektif, aspek psikomotor, aktivitas siswa dan pembuatan peta konsep. Data hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari nilai kuis yang diberikan pada setiap akhir pertemuan dan nilai ulangan harian siswa materi sistem koloid yang diberikan setelah semua materi telah dibelajarkan. Dalam penelitian ini kuis dilaksanakan sebanyak empat kali. Pelaksanaan kuis ini pada setiap akhir pertemuan. Data nilai rata-rata kuis siswa kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Ayunda Naila Farihah, dkk.
130 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Tabel 4.5 Data Nilai Kuis Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Rata-rata Nilai Kuis Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 Nilai Rata-rata Nilai Rata-rata
Pertemuan ke-1 76,76 80,31
Pertemuan ke-2 81,62 84,06
Pertemuan ke-3 84,26 82,66
Pertemuan ke-4 82,35 85,47
Rata-rata 81,25 83,13
Hasil belajar aspek kognitif siswa diperoleh dari ulangan harian materi sistem koloid. Deskripsi data hasil belajar aspek kognitif siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 disajikan dalam Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Deskripsi Data Hasil Belajar Aspek Kognitif Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Hasil uji normalitas, homogenitas, dan uji-t dua pihak data hasil belajar aspek kognitif siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.7, Tabel 4.8, dan Tabel 4.9.
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Aspek Kognitif Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Tabel 4.8 Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Belajar Aspek Kognitif Siswa Kelas Ekperimen 1 dan KelasEksperimen 2
Tabel 4.9 Hasil Uji-t Dua Pihak Data Hasil Belajar Aspek Kognitif Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Kelas Nilai Rata-rata Nilai Signifikansi Kesimpulan
Eksperimen 1 81,53 0,041 Terdapat perbedaan
Eksperimen 2 85,25 kemampuan awal siswa
Penilaian afektif meliputi penilaian karakter dan ketrampilan sosial. Rata-rata nilai pengamatan karakter dan keterampilan sosial siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan Tabel 4.11.
Tabel 4.10 Rata-rata Nilai Pengamatan Karakter Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Tabel 4.11 Rata-rata Nilai Pengamatan Keterampilan Sosial Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2
Kelas Jumlah Siswa Nilai Rata-rata
Eksperimen 1 34 80,24
Ayunda Naila Farihah, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 131
Eksperimen 2 32 84,67
Penilaian aspek psikomotor siswa dilakukan satu kali selama proses pembelajaran yaitu pada saat siswa melaksanakan kegiatan praktikum. Nilai pengamatan aspek psikomotor siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Nilai Pengamatan Aspek Psikomotor Siswa Kelas Eksperimen 1 dan Kelas Eksperimen 2 Kelas Jumlah Siswa Nilai Rata-rata
Eksperimen 1 34 84,59
Eksperimen 2 32 90,48
Data aktivitas siswa diambil dari observasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observasi aktivitas siswa dilaksanakan setiap pertemuan. Aktivitas siswa yang dinilai selama proses pembelajaran adalah tiga tahapan penting yaitu tahap think, tahap pair, dan tahap square. Aktivitas siswa selama proses pembe-lajaran kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.13 dan Tabel 4.14.
Tabel 4.13 Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran Kelas Eksperimen 1
Tahap Persentase
I II III IV
Think 75,74% 78,68% 80,88% 82,35%
Pair 77,21% 81,62% 82,35% 84,56%
Square 79,41% 82,35% 84,56% 86,76%
Tabel 4.14 Aktivitas Siswa selama Proses Pembelajaran Kelas Eksperimen 2
Tahap Persentase
I II III IV
Think 78,13% 81,25% 82,03% 83,59%
Pair 79,69% 82,81% 84,38% 84,38%
Square 80,47% 83,59% 86,72% 89,06%
Pembuatan peta konsep hanya dilaksanakan pada kelas eksperimen 2 yaitu kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square-peta konsep. Pelaksanaan pembuatan peta konsep diterapkan pada tahap think pada kelas eksperimen 2. Selain mengerjakan soal yang diberikan oleh guru siswa juga diminta untuk membuat peta konsep secara individu. Peta konsep yang dihasilkan ada tiga yaitu pada pertemuan pertama, pertemuan kedua dan ketiga, dan per-temuan keempat. Pada pertemuan kedua dan ketiga peta konsep dijadikan satu karena masih dalam satu lingkup, sehingga sebagian peta konsep dibuat pada pertemuan kedua dan sebagian lagi dilanjutkan pada pertemuan ketiga.
Persentase hasil pembuatan peta konsep kelas eksperimen 2 dapat dilihat pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15 Persentase Hasil Pembuatan Peta Konsep Kelas Eksperimen 2
PEMBAHASAN
Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square dan model pembelajaran Think Pair Square-peta konsep dilakukan uji hipotesis menggunakan uji-t dua sampel tidak berhubungan (Independent Sampel T Test) dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,041 lebih kecil dari taraf signifikansi yaitu 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–
peta konsep pada materi sistem koloid. Rata-rata hasil belajar ulangan harian siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih tinggi, yaitu sebesar 81,53, sedangkan rata-rata hasil belajar ulangan harian siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square sebesar 85,25.
Ayunda Naila Farihah, dkk.
132 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Nilai rata-rata kuis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep adalah sebesar 83,13 lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square yaitu sebesar 81,25. Sehingga dapat diketahui bahwa hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square.
Proses pembelajaran siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep, tahap pertama adalah tahap think, pada tahap ini selain mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, siswa juga diminta untuk membuat peta konsep. Dengan demikian siswa akan menghubungkan konsep-konsep yang dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif (Budiningsih, 2005:43). Peta konsep dapat membantu siswa mengaitkan pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari. Siswa dapat mengembangkan kreativitasnya dan dapat memperoleh pemahaman yang baik tentang materi yang dipelajari dari peta konsep yang dibuat sendiri (Fajaroh, 2001:61). Pada tahap pair, selain mendiskusikan jawaban soal yang diberikan oleh guru, siswa juga mendiskusikan peta konsep yang telah dibuat sehingga diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi dengan bertukar pendapat.
Pada tahap square siswa diminta bergabung dengan pasangan lain untuk mendiskusikan kembali soal yang diberikan guru dan peta konsep yang telah dibuat serta menuliskan hasil diskusi mereka pada kertas yang disediakan oleh guru.
Selanjutnya guru membantu siswa untuk menyampaikan hasil diskusi dan pendapat dalam diskusi kelas. Pembelajaran menggunakan Think Pair Square– peta konsep ini lebih baik karena selain terjadi proses pemikiran secara individu, berpasangan, dan berkelompok, siswa juga dapat mengorganisasikan konsep yang diketahui dengan baik dengan membuat peta konsep. Selain itu siswa dapat mendiskusikan peta konsep yang telah dibuat dengan temannya sehingga pengetahuan yang didapatkan dapat lebih melekat pada pemahaman siswa.
Berdasarkan data-data pada Tabel 4.10, Tabel 4.12, dan Tabel 4.13 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar aspek afektif dan psikomotor siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square. Siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan diminta untuk membuat peta konsep secara individu, siswa dituntut untuk lebih memahami materi dan mengurutkannya menjadi sebuah peta konsep yang mudah dipahami. Pada saat diskusi, siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih aktif daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square karena siswa tidak hanya membahas soal yang diberikan oleh guru, tetapi juga mendiskusikan peta konsep yang telah dibuat serta menghubungkan konsep-konsep yang dimiliki dengan konsep- konsep yang dipelajari. Sedangkan diskusi yang dilakukan oleh siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square hanya membahas soal yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan uraian tersebut, model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat menjadi model pembelajaran inovatif untuk menyampaikan materi kimia khususnya materi sistem koloid. Dengan demikian model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian sebelumnya banyak menunjukkan hasil yang positif terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif dan peta konsep, antara lain:
Sofiana (2012) membuktikan bahwa pengembangan evaluasi peta konsep inkuiri dapat membantu siswa memahami materi pokok bahasan kalor dengan baik, Budiawan (2013) juga membuktikan bahwa hasil belajar IPS siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw II berbasis peta konsep berada pada tingkat kategori sangat tinggi.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Think Pair Square dan siswa yang dibelajar-kan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep pada materi sistem koloid kelas XI IPA MAN Malang 1 dengan nilai signifikansi <0,05 yaitu sebesar 0,041. Rata-rata nilai ulangan harian materi sistem koloid pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep ( ̅= 85,25) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square ( ̅= 81,53). Rata-rata hasil penilaian aspek afektif dan psiko-motor siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pem-belajaran Think Pair Square.
Saran
Saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan adalah:
1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Think Pair Square– peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga model pem-belajaran ini dapat diterapkan oleh guru dalam proses belajar mengajar di kelas.2.
Dalam melaksanakan model pembelajaran Think Pair Square–peta konsep hendaknya dapat mengatur waktu pembelajaran yang baik karena model pem-belajaran ini memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga alokasiAyunda Naila Farihah, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 133
waktu yang direncanakan dapat berjalan dengan baik dan materi yang disampaikan dapat diterima dan diselesaikan dengan baik.
3.
DAFTAR RUJUKAN
1. Budiawan, N., Rasana, R., & Setuti. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Ii Berbasis Peta Konsep terhadap Hasil Belajar IPS pada Siswa Kelas. (Online), (http://download. portalgaruda.org/article.php?
article=105670&val=1342&t itle=) diakses 26 Februari 2013.
2. Budiningsih, C.A. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
3. Fajaroh, F., Mardiyanto, D., & Kartini. 2001. Penggunaan Peta Konsep untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mol Kelas 1 SMU Laboratorium Malang. Jurnal Media Komunikasi Kimia. Malang: Jurusan Kimia FMIPA UM.
4. Iskandar, S.M. 2011. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis. Malang: Bayumedia Publising.
5. Kean, E. & Middlecamp, C.1985. Panduan Belajar Kimia Dasar. Jakarta: Gramedia.
6. Mardaweni, Nilawasti, & Zulfanetti. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Square (Berpikir-Berpasangan-Berempat) dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VII SMPN 1 Bayang Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Mahasiswa Prodi Pend Matematika 2012, (Online), (http://jurnal.stkip-pgri- sumbar.ac.id/MHSMAT/index.php/ mat20121/ article/view/26), diakses tanggal 5 Juni 2014
7. Sofiana, N., Made, D.P.,& Nugroho, S.E. 2012. Pengembangan Evaluasi Peta Konsep Inkuiri pada Pokok Bahasan Kalor. Jurnal Pendidikan Fisika Unnes, 1 (1): 38-43, (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej) diakses tanggal 26 Februari 2013
8. Tresnayanti, D., Lasmawan, & Marhaeni. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Square terhadap Motivasi Berprestasi dan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Singaraja. Jurnal Pendidikan Dasar, (Online), (http://pasca.undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnalpendas/article/view/519), diakses pada 5 Juni 2014.
Ayunda Naila Farihah, dkk.
134 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Angga Puspitaningrum, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 135