Kedudukan ijtihad dalam hukum Islam menempati posisi penting ketika mencermati ayat al-Qur`an yang menegaskan tentang kewajiban seorang hamba untuk mempergunakan akal pikiran dalam menyelesaikan perkara-perkara hukum yang terus mengalami perkembangan. Terma uli al- abshar dalam al-Qur`an berikut seluruh derivasinya mengindikasikan adanya kewajiban manusia untuk menggunakan akal pikirannya semaksimal mungkin dalam menciptakan serta memproduk hukum- hukum baru seiring dengan kondisi zaman yang mengitarinya. Apalagi mencermati makna hakiki dari terma ijtihad itu sebagai cara pencurahan kemampuan seorang ahli fiqh dalam menggali
48
| Zaenudin Mansyurpengetahuan yang berkaitan dengan hukum-hukum syari`at,64 maka tidak ada celah mengungkap alasan untuk tidak melakukannya. Karena itu, sangat wajar ketika para tokoh-tokoh Islam kontenporer mengecam keras tentang kelompok-kelompok tertentu yang memandang ijtihad telah tertutup.65
Sikap menolak pemahaman ijtihad telah tertutup adalah sikap mulia yang dapat ditonjolkan kaum muslimin yang telah memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad. Karena banyak persoalan- persoalan di zaman Rasulullah terkait bidang mu`amalat membutuhkan sarana ijtihad untuk memutuskannya. Apalagi kondisi saat ini dihadapkan dengan era globalisasi yang dapat memproduk kehidupan modern yang serba teknologi canggih terutama berkaitan dengan
64Muhammad Khudairi Biek, Ushul Fiqh (Jakarta; Pustaka Amani, 2007), 809.
65Fenomena ini setidaknya memaksa ulama rasional melontarkan kritikan-kritikan terhadap ulama yang lebih memilih status quo (suatu pemahaman mutlak pintu ijtihad tertutup) seperti kemandekan ijtihad pada abad keempat Hijriyah, dimana Fuqaha dari berbagai mazhab Sunni memandang bahwa seluruh persoalan yang paling esensial sekalipun telah dibahasa, dan tidak seorangpun dianggap memiliki kualifikasi yang disyaratkan dalam berijtihad.
Joseph Schacht, An Inttroductian…. 70-71. Bandingkan! Nj. Colson, A History of Islamic Law (Elinburgh: University Press, 1964), 81. Di antara ulama yang memberikan kritikan tajam kepada mereka yang mengabadikan taqlid adalah Jalaluddin As-Suyuthi (W. 911 H/1505 M) lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Radd `ala Man Akhlada ila al-Ard wa Jahila `An Ijtihad fi Kull `Asr Fard (Bairut: Dar al-Fikr, 1983), 117- 119. Selain itu Ibnu Taimiyah (661 H/1263 M-728 H/1328 M) Beliau tidak membenarkan adanya pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
Lihat Al-Asimi al-Rahman ibn Muhamad ibn Qasim, Majmu` al- Fatawa Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, juz XX (ttp), 2.
transaksi-transaksi, maka persoalan ijtihad jadi mutlak dipergunakan. Contoh yang paling dekat adalah jual beli via internet, via telpon, Multi Level Marceting, dan lain-lain. Contoh ini merupakan bagian dari sederet contoh yang sangat berbeda dengan teknis jual beli yang dilakukan pada zaman Rasulullah. Karenanya, tidak ironis ketika ulama- ulama klasik dalam memproduk hukum tetap berpegang teguh terhadap model dan teknis jual beli yang dilakukan oleh Rasul tadi.66
Imam Syafi`i misalnya dalam menentukan syarat sah jual beli tentang kesatuan majlis kontrak bisnis syariah. Dimana beliau lebih mengartikan kesatuan majlis itu adalah keberadaan pihak penjual dan pembeli itu saling bertemu, bertatap muka, dan saling tawar menawar. Pendapat ini secara tidak langsung melahirkan klaim tidak sah ketika dihadapkan dengan teknis jual beli barang dengan sistem yang serba canggih yang masing-masing pihak tidak saling bertemu. Lalu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana teknis yang jitu untuk menyelesaiakan persoalan tersebut kalau dikaitkan
66Dalam melakukan ijtihad tidak sedikit para mujtahid cenderung mencermati teks sebagai acuan untuk memecahkan masalah yang mirip terjadi pada zaman Rasulullah, seperti yang telah tertuang dalam hadis. Jika dalam teks mengklaim haram maka persoalan yang dihadapi oleh mujtahid tersebut juga menjadi haram. Stetmen ini tidak seratus persen salah, karena dapat dipastikan memiliki argumen- argumen yang kuat untuk mendukung kebenaran hasil ijtihadnya.
Namun di sisi lain patut di sayangkan seorang yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid yang hanya menerima barang jadi tanpa ada semacam jerih payah atau usaha untuk memeras pemikirian dalam memutuskan hukum dari persoalan yang dihadapi.
50
| Zaenudin Mansyurdengan ranah hukum Islam? Dalam kondisi ini jawaban yang dapat diajukan adalah kewajiban untuk berijtihad.67
Untuk mengemban amanah Rasulullah tentang kewajiban melakukan ijtihad ini, tidak sedikit lembaga-lembaga keuangan di Indonesia di samping bersimbol syari`ah juga memiliki Dewan Pengawas Syari`ah yang keanggotaannya direkrut dari Majlis Ulama Indonesia dan berfungsi sebagai wadah yang dapat memutuskan fatwa-fatwa hukum yang terkait dengan transaksi-transaksi kontrak bisnis syariah yang sesuai kondisi zaman. Begitu juga berperan sebagai pengawas dan pengarah serta meluruskan transaksi-transaksi yang dipraktikkan di wilayah lembaga keuangan yang dimaksud jika dianggap telah keluar dari nuansa kesyari`ahan.
Karena itu, ijtihad yang dilakukan benar-benar mengerahkan segala kemampuan akal pikiran untuk memproduk hukum-hukum kontemporer dengan menggunakan metodologi konsensus atau ijma`,
67Persoalan ijtihad adalah bagian integral dari ranah amal pemikiran yang dapat dipastikan sebagai amal sunnah yang jauh lebih berharga dibanding dengan amal fisik lainnya. Buktinya jika seseorang salah dalam melakukan ijtihad hukum, maka masih diberi ganjaran satu pahala apalagi kalau ijtihadnya relatif benar, tentu dijganjar dua pahala.
Belum lagi dengan hasil ijtihadnya berguna secara berkesinambungan bagi generasi seterusnya. Tentu persoalan ini tidak bisa dibayangkan lipatan pahala yang dapat diperolehnya. Ganjaran pahala bagi pelaku ijtihad di atas dapat dilihat dalam kitab-kitab ushul fiqh termasuk Syaikh Muhammad Khudairi Beak, Ushul al-Fiqh, terj., (Jakarta:
Pustaka Amani, 2007), 809. Lihat juga Muchtar Yahya dan Fathurrahman, Dasar Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam (Bandung:
al-Ma`arif, 1986) 384-385. Lihat Juga Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), 290.
qiyas, msalahah mursalah, dan lain-lain yang relevan. Ijtihad dalam memproduk hukum sutau kontrak yang dapat dilakukan oleh pihak yang terlibat merupakan bagian penting yang tidak bisa ditinggalkan oleh para ulama sebagai kajian inti dalam buku ini. Dengan demikian, para ulama sebagai garda terdepan dalam memproduk hasil ijtihad wajib mendasarinya dengan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur`an sehingga hasilnya dapat diklaim sebagai hukum yang berbasis pada hukum syraiah.