Bahasan mengenai kata perikatan, dimana kata ini pada dasarnya terjemahan dari istilah
”verbintenis” yang merupakan pengambilan dari kata-kata ” obligation” dalam Code Civil Prancis.
Dengan demikian, perikatan berarti kewajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum kontrak terebut tersebut.44 Menurut Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata bahwa perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi di antara dua orang atau lebih, yang terletak di dalam lapangan harta kekayaan, di mana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi presatsi tersebut.
Pengertian yang sama dirumuskan oleh Mr. Dr. H.F.
44Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan Pada Umumnya (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2004), 16-17.
Vollmar sebagaimana dikutip oleh Mariam Daruz Badruzzaman dalam buku Inleiding tot de Studie van het Nederlands Burgerlijk Recht yang menyatakan ” ditinjau dari isinya ternyata bahwa perikatan itu ada selama seseorang itu (debitur) harus melakukan sesuatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap kreditur kalau perlu dengan bantuan hukum.45
Rumusan mengenai terma perikatan belum permanen. Hal ini dapat dibuktikan dari ketentuan yang ditetapkan oleh Kitab Undang-Undang Perdata. Dalam Pasal 1233 hanya dipaparkan semacam prasyarat yang menyebabkan lahirnya perikatan. Adapun bunyi Pasal 1233 tersebut dapat dicermati dari kutipan Kartini Muljadi dan Gunawan bahwa ”tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena Undang-Undang.
Ditegaskan bahwa setiap kewajiban perdata dapat terjadi karena dikehendaki oleh pihak-pihak terkait dalam perikatan yang secara sengaja dibuat oleh mereka, ataupun karena ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.46 Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa perikatan adalah hubungan hukum antara dua orang atau lebih dalam bidang harta kekayaan yang melahirkan kewajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum tersebut.
45Mariam Darus Badrulzaman, Kompelasi Hukum Perikatan (Bandung: PT. Citra Aditya Bhakti, 2001), 1.
46Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan...,Iibid., 17.
26
| Zaenudin MansyurKetiga adalah terma Islam yang dari sudut kebahasaan berasal dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dari kata salima diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.47 Senada dengan pendapat di atas, sumber lain mengatakan bahwa terma Islam berasal dari akar kata bahasa Arab, terambil dari akar kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata tersebut terbentuklah kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti pula menyelamatkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Kata aslama itulah yang menjadi kata Islam yang mengandung arti segala arti pokoknya. Oleh sebab itu, orang yang lazim berserah diri, patuh dan taat disebut sebagai seorang Muslim. Orang yang demikian telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah swt.
orang tersebut akan dijamin keselamatannya baik dunia dan akhirat.48
Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Tuhan dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun
47Maulana Muhammad Ali, Islamologi (Dinul Islam) (Jakarta:
Ikhtiar Baru-Van Hoeve, 1980), 2.
48Nasruddin Razzak, Dienul Islam (Bandung: Al-Ma`arif, 1977), cet. II, 56. Penegrtian secara bahasa dapat dilihat juga dalam bukunya Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I (Jakarta: UI Press, 1979), 9. Begitu juga dalam bukunya Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan (Jakarta: Paramadina, 1992), cet. II, 426.
diakhirat. Hal demikian dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dan fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan patuh dan tunduk kepada Tuhan. Adapun pengertian Islam dari segi istilah49 dapat dijelaskan dari masing-masing tokoh.
Harun nasution misalnya menyatakan bahwa Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya yang diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul.50 Tokoh lain juga tidak ketinggalan memberikan pengertian terhadap terma Islam secara istilah.
Maulana Muhammad Ali umpanya, ia menggabarkan bahwa Islam adalah agama perdamaian dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.51
49Penegrtian istilah sebagaimana yang di kutip Abudin Nata dalam bukunya Khair Suryaman yang berjudul Pengantar Ilmu Hadits bahwa istilah berarti kesepakatan para ahli mengenai pengertian dari sesuatu setelah meninggalkan pengertian keabsahannya sama atau sepakat. Sedangkan ketika mengartikan sesuatu itu dari segi istilah akan berbeda-beda, karena mereka merumuskan pengertian Islam berdasarkan pada pendekatan atas paradigma yang terdapat dalam pemikirannya. Lihat A. Khaer Suryaman, Pengantar Ilmu Hadits (Jakarta: IAIN Jakarta, 1980), 23. Bandingkan dengan Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2002), 63- 64.
50Harun Nasution, Islam Ditinjau …, Ibid., 24
51Lebih jauh Maulana Muhammad Ali menegaskan bahwa Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam beberapa ayat al-Qur`an, melainkan pula pada segala
28
| Zaenudin MansyurBerdasarkan uraian tentang terma Islam dari masing-masing tokoh di atas lewat berbagai rumusan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah swt. melalui Nabi Muhammad saw. yang syarat dengan berbagai doktrin dan ajaran yang diturunkan kepada seluruh umat manusia untuk ditaati dengan sikap ikhlas dan rasa tunduk yang mendalam, sebagai wadah mendapatkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan di dunia dan akhirat.
Bertitik tolak dari pengertian masing-masing terma dari Hukum, Perikatan, dan Islam maka Hukum Perikatan Islam adalah seperangkat kaedah hukum atau aturan-atauran yang bersumber dari wahyu berupa al-Qur`an dan Sunnah, dan al-Ra`yu (ijtihad) yang mengatur tentang hubungan antara dua orang atau lebih mengenai suatu benda yang dihalalkan menjadi obyek suatu transaksi. Dalam kondisi ini bahwa kaedah-kaedah hukum yang berhubungan langsung dengan konsep Hukum Perikatan Islam adalah bersumber dari al-Qur`an dan hadits Nabi Muhammad saw. 52 Dalam hukum Islam, perikatan disebut iltizam. Menurut istilah fiqh, perikatan (iltizam) ini didefinisikan sebagai:
“Suatu tindakan yang meliputi: pemunculan,
sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhynya kepada undang- undang Allah, yang diapat disaksikan manusia di alam semesta. Lihat Maulana Muhammad Ali, Islamologi..., 2.
52Definisi Hukum Perikatan Islam tersebut dikutip oleh Gemala Dewi dkk. dalam M. Tahir Azhary, Bahan Kuliah Hukum Perikatan Islam di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tanggal 16 Februrari 1998.
pemindahan, dan pelaksanaan hak.” Definisi perikatan ini sejalan dengan pengertian akad (perjanjian) dalam arti umumnya selain juga tercakup ke dalamnya pengerian tasaruf dan kehendak pribadi. Perikatan dapat muncul dari perseorangan (seperti wakaf, wasiat, dll.), maupun dari dua belah pihak (sepert jual-beli, ijarah, dll).
Menurut Mustafa Ahmad al-Zarqa, perikatan dalam perspektif UU Islam (qanun) didefinisikan sebagai:
“Keadaan tertentu seseorang yang ditetapkan syari’ah untuk dilakukan atau tidak dilakukan demi mewujudkan kemaslahatan pihak lain.”53 Dengan demikian, Hukum Perikatan Islam adalah bagian dari hukum Islam bidang mumalah yang mengatur perilaku manusia di dalam menjalankan hubungan ekonominya. Pengertian tersebut mengandung maksud bahwa segala aktivitas manusia ysng terikat dengan kegiatan mu`amalat dapat dipandang sebagai perbuatan yang trepuji bilamana tetap berkiblat pada kaedah-kaedah maupun aturan yang telah tertuang dalam al-Qur`an dan Sunnah.
Salah satu contoh kongkrit yang dapat dicermati dari rekomendasi al-Qur`an tentang kehalalan jual beli yang dilandasi dengan syarat serta unsur pokok yang diklarifikasi oleh Sunnah.
Karena itu, nuansa dan kesan Islami dalam aspek perikatan dapat berdiri kokoh jika tetap bersumber pada wahyu yang tertuang dalam al-Qur`an maupun Sunnah. Sementara perikatan-perikatan terkini
53Definisi perikatan oleh al-Zarqa` tersebut dapat dilihat dari syarat dan rukun perikatan yang dikemukakannya. Lihat Az-Zarqa`, al- Fiqh al-Islam fi Tsaubihi al-Jadid (Beirut: Dar al-Fikr, 1967), I, 313.
30
| Zaenudin Mansyurdapat juga dikatakan sebagai perikatan Islam jika dilogikakan dengan permasalahan yang dalil- dalilnya sudah pasti meskipun tidak dipertegas secara formal oleh kedua sumber tersebut. Hal itu, bisa saja terjadi jiks illat hukumnya terdapat kesmaan dengan illat yang sudah ditetapkan dengan dalil-dalil qath`i. Dari pengertian yang telah digambarkan di atas terdapat kata kunci untuk memberikan makna termenologis bagi hukum perikatan Islam, yaitu seluruh kegiatan manusia yang terkait dengan perikatan, perjanjian yang telah diatur dengan tegas oleh ayat-ayat al-Qur`an maupun Sunnah baik syarat sebelum dan sesudah terjadi perikatan, subyek, obyek, dan hal-hal yang terkait dengannya. Dengan ilustrasi tersebut, konsep perikatan dapat di sederhanakan sebagai berikut, yaitu apabila salah seorang dengan orang lain atau dua pihak saling berjanji untuk melakukan atau memberikan sesuatu berarti masing-masing orang atau pihak itu mengikatkan diri kepada pihak yang lain untuk melakukan atau memberikan sesuatu yang mereka perjanjikan.