اهميرحت
2. Kontrak yang Terlarang
Hukum Islam lahir di muka bumi sebagai salah satu pedoman bagi manusia dalam menapaki berbagai bidang kehidupannya. Adanya hukum haram sebetulnya memberikan kemaslahatan bagi manusia agar terhindar dari segala kemudaharatan yang lahir dari pekerjaan yang diharamkan tersebut.
Begitu juga dengan adanya hokum wajib dalam sebuah pekerjaan memberikan tanda bahwa pekerjaan tersebut dipastikan akan mendatangkan kemanfaatan serta kemaslahatan bagi pelakunya.
Begitu juga dengan adanya hukuman anjuran terhadap suatu pekerjaan dapat memberikan keyakinan kemanfatan yang akan diperoleh pelakunya menjadi berlipat ganda bahkan tidak saja untuk diri sendiri namun juga kelaurga, masyarakat, dan negara. Meski demikian, segala jenis hukum serta kemanfaatan yang terkandung di dalamnya telah ditetapkan sebagai sebuah pedoman namun manusia dalm menyikapinya lazim terjadi perbedaan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang secara fisik dan melengkapi persyaratan untuk tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terlarang. Akan tetapi justeru tidak sedikit dapat mengindahkannya. Misalnya kontrak-kontrak bisnis yang terlarang . namun karena alasan suatu
kebiasaan maka dianggapnya sebagai perkara yang sepele dan ringan sehingga terkadang mereka tidak sadar bahwa yang dikerjakannya itu adalah perkara yang haram. Misalnya praktek kontrak bisnis yang di dalamnya pelaku yang tidak memeiliki persyaratan yang syar`i, obyeknya tidak halal dan na`jis, dan jenis kontrak yang ada unsur ribawi, maysir, dan garar.
a. Kontrak terlarang Karena Pelakunya kurang Sempurna Syaratnya.
Berjalnnya sebuah praktek muamalat tak terkecuali kontrak bisnis syariah tidak luput dari persayaratan-persyaratan yang telah ditetapkan oleh hukum. Misalnya para pelakunya adalah orang yang secara fisik maupun rohani dapat dikatakan orang yang sehat dan segar bugar.
Sehat jasmani maksudnya tidak dalam kondisi sakit maupun pingsan. Sedangkan secara akal tidak dalam kondisi gila, efilepsi, dan tidak dalam tekanan. Kesehatan seseorang sangat menentukan segala aktivitas yang dilakukannya menjadi sempurna atau tidak. Apabila kondisi tubuhnya sehat dan tidak ada keluhan sedikitpun maka bisa jadi semua pekerjaannya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum sehingga dapat diklaim sah demi hukum. Termasuh misalnya dalam hal pelaksanaan kontrak binsis sangat dibutuhkan kesehatan para pihak karena transaksi yang menggunakan lisan maka dibutuhkan sighat yang jelas atau ungkapan yang dimengerti oleh patner transaksinya agar
138
| Zaenudin Mansyurdapat terjadi dan berjalan dengan lancar. Begitu juga kalau transaksi yang dilakukan dengan teknis penandatangan berkas untuk kedua belah pihak maka dibutuhkanlah kesehatan masing—
masing meskipun hukum Islam telah memberikan disfensasi apabila kehendaknya melakukan kontrak transaksi dimandatkan kepada orang lain yang dipercayannya. Akan tetapi setiap pekerjaan kontrak menjadi sangat sempurna keabsahannya jika kedua belah pihak hadir dalam lokasi transaksi.
Sakit yang akut dan berkepanjangan akan sangat mengganggu semangat sesorang untuk melakuan transaksi dengan fatnernya.
Bukan karena tidak percaya diri tetapi karena memang kondisi tubuh tidak menhendakinnya untuk melanjutkannya. Misalnya seorang yang sehari-harinya tetap dihinggapi penyakit pingsan. Dalam beberapa jam ia dalam kondisi segar bugar tetapi beberapa jam kemudian kambuh lagi sehingga sangat mengganggunya untuk melakukan aktivitas. Artinya kebutuhan kontrak bisnis untuk pelakunya adalah orang yang tetap sigap dan jaga di saat melakukan transaksi. Dalam hal ini dibutuhkan konsentrasi yang maksimal sehingga mereka dalam melaksanakannya dalam kondisi sehat dan sadar sehingga yang mereka lakukan dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dibebani hukum dalam melaksanannya. Misalnya dalam hal mengungkapkan pernyataan kehendak masing-masing atau menandatangai berkas-
berkas penting untuk berjalannya sebuah kontrak bisnisnya. Maka dalam hal ini pihak yang dinyatakan sehat wajib membatalkan sementara sampai dia kembali sehat kembali.
Jika kontrak bisnis itu nekat untuk diteruskan sementara salah satu pihak tidak dalam kondisi sehat maka kontrak transaksi tersebut menjadi batal dan gugur demi hukum. Berbeda halnya jika pihak yang sehat tadi telah melakukan kontrak bisnisnya sebelum lawannya mengalami pingsan. Dalam kondisi ini kontrak bisnis tetap berjalan sesuai dengan harapan.
Bahkan kalau kontrak bisnis tidak dilanjutkan maka resiko ditanggung bagi salah satu pihak yang membatalkannya, dan harus membayar apa yang menjadi kerugian pihak yang dirugikan. Akan tetapi kalau kedua-keduannya dalam kondisi sakit maka kontrak bisnis yang dilakukannya harus dilanjutkan sampai kedua belah pihak sehat kembali. Denagn demikian, keseahatan sangat dibutuhkan oleh kedua belah pihak dalam rangka menghindari transaksi menjadi terlarang gara-gara kedua belah pihak sakit. Artinya kalau transaksi tetap saja dilanjutkan sementara kedua belah pihak dalam keadaan koma maka tentu sekali transaksi yang dilakukan itu menjadi terlarang demi hukum.
Selain itu, para pihak yang melakukan kontrak bisnis merupakan orang yang telah dapat dibebani hukum atau mukallaf. Karena dengan syarat mukallaf para pihak secara hukum dapat mempertanggungjawabkan apa
140
| Zaenudin Mansyuryang dikerjakannya baik dunia lebih-lebih di akhirat. Semua ulama telah sepakat bahwa pelaksana kontrak harus seorang yang kondisinya minimal tamyiz dan paling sumpurna adalah sudah balig. Dalam perspektif hukum Islam, pelaku kontrak atau transaksi itu lazim disebut maḥkȗm ‘alaih yang berarti orang yang telah dianggap cakap untuk melakukan perbuatan hukum. Tetapi dalam banyak literatur fiqh, pelaku hukum atau maḥkȗm ‘alaih itu adalah semua manusia terlepas kondisinya menempati posisi anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Dalam bahasa fiqh orang yang dipertimbangkan untuk melakukan hukum disebut sebagai mukallaf.138
Mukallaf atau subjek hukum atau pelaku hukum ialah orang yang dituntut oleh Allah untuk berbuat dan segala tingkah lakunya diperhitungkan berdasarkan tuntutan Allah.
Jelasnya mukallaf adalah orang-orang yang dibebani hukum.139 Para ulama ilmu ushul mengatakan bahwa maḥkȗm ‘alaih adalah mukallaf yang dituntut oleh hukum untuk suatu
138Dalam paradigma hukum, mereka juga disebut subyek hukum. Adapun Mukallaf secara bahasa adalah berbentuk ism al- maf’ûl dari fi’il al-mâdli “kallafa” ( َفَّلَك), yang bermakna membebankan. Maka, kata mukallaf berarti orang yang dibebani hukum. Muhammad Abu zahrah mendefinisikan mahkum alaih dengan
“orang mukallaf, karena dialah yang perbuatannya dihukumi untuk diterima atau ditolak, dantermasuk atau tidak dalam cakupan perintah dan larangan. Lihat Amir Syarifuddin, Uṣȗl Fiqh (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 2000), Jilid, 1, 356.
139Ibid., 256.
perbuatan. Jadi mukallaf itu merupakan definisi lain dari maḥkȗm ‘alaih. Meski terdapat di dalamnya perbedaan bahwa mukallaf itu merupakan nama dari batas minimal usia seseorang dapat dikatagorikan sebagai maḥkȗm
‘alaih. Sedangkan maḥkȗm ‘alaih sendiri berarti subjek hukum yang harus memiliki sharat mukallaf. Dalam ilmu uṣȗl fiqh, mukallaf adalah orang yang telah dianggap mampu bertindak hukum, baik yang berhubungan dengan perintah Allah maupun larangan-Nya.
Semua yang berkaitan dengan seluruh aktivitas mukallaf memiliki implikasi hukum, dan karenanya harus dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun di akhirat. Secara istilah, mukallaf adalah seorang manusia yang mana perlakuannya itu bergantungan dengan ketentuan shāri’ atau hukumnya.140
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa segala kontrak bisnis yang dilakukan oleh pelaku sangat berpengaruh terhadap iedntitas keabsahan dari kontrak yang dilakukannya. Apabila syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum telah sempurna maka tentu sekali kontrak yang dilakukan menjadi sah dan sempurna. Adanya persayarat-persyaratan yang telah ditentukan oleh ulama pada hakekatnya untuk memberikan informasi bahwa pekerjaan kontrak bisnis juga telah memenuhi persyaratan dari para pelakunya. Sebaliknya jika
140Muhammad Hasbi Ash Siddiqy, Filsafat Hukum Islam (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001), 203.
142
| Zaenudin Mansyurkontrak bisnis yang dilakukannya tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan maka secara otomatis pekerjaan kontrak itu menjadi tidak sah bahkan batak demi hukum.
Msialnya pelaku kontrak bisnis itu dilakukan oleh orang gila maka status kontrak itu tidak saja menjadi terlarang namun sebelumnya tidak akan pernah terjadi. Akan tetapi kallu dipaksakan untuk terlaksana maka transaksi atau kontrak bisnis tersebut terlarang demi hukum. Begitu juga kontrak itu kalau dilakukan oleh orang yang di bawah usia balig tentu sekali kontrak tersebut terlarang karena alasan dasarnya adalah tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh masing- masing pelakunya. Berbeda halnya jika kontrak bisnis itu dilakukan oleh orang dewasa di satu pihak dan pihak yang menjadi patnernya adalah anak kecil maka segala kontrak bisnis itu tetap berjalan. Akan tetapi anak kecul itu masih diratifikasi oleh orang tuannya. Artinya segala konsekuensi yang lahir dari akibat terlaksanannya kontrak bisnis itu dibebankan sutuhnya kepada orang tuan dari anak kecil sebagai pelaku kontrak. Jika tidak demikian, maka semua kontra bisnisnya menjadi terlarang demi hukum.
b. Kontrak Terlarang Karena Tidak Dibenarkan Hukum Syariah