30
| Zaenudin Mansyurdapat juga dikatakan sebagai perikatan Islam jika dilogikakan dengan permasalahan yang dalil- dalilnya sudah pasti meskipun tidak dipertegas secara formal oleh kedua sumber tersebut. Hal itu, bisa saja terjadi jiks illat hukumnya terdapat kesmaan dengan illat yang sudah ditetapkan dengan dalil-dalil qath`i. Dari pengertian yang telah digambarkan di atas terdapat kata kunci untuk memberikan makna termenologis bagi hukum perikatan Islam, yaitu seluruh kegiatan manusia yang terkait dengan perikatan, perjanjian yang telah diatur dengan tegas oleh ayat-ayat al-Qur`an maupun Sunnah baik syarat sebelum dan sesudah terjadi perikatan, subyek, obyek, dan hal-hal yang terkait dengannya. Dengan ilustrasi tersebut, konsep perikatan dapat di sederhanakan sebagai berikut, yaitu apabila salah seorang dengan orang lain atau dua pihak saling berjanji untuk melakukan atau memberikan sesuatu berarti masing-masing orang atau pihak itu mengikatkan diri kepada pihak yang lain untuk melakukan atau memberikan sesuatu yang mereka perjanjikan.
menjadikan teori serta kajian yang dibahas menjadi berbda pula. Adapun teori serta bahan kajian dari kontrak bisnis syariah adalah sebagaimana yang akan dijelaskan dalam bahasan ini secara rinci.
Bahasan awal akan mengkaji potret kontrak bisnis syaraiah, misalnya dasar yang kuat lahirnya kontrak bisnis syariah, dilanjutkan dengan gamabaran umumnya yang dikaji dalam dimensti definnisinya secara etimologis maupun termenologis sehingga memberikan kontribusi pemahaman kepada para pembaca tentang arti pentingnya kontrak bisnis syariah dalam kehdupan bermasyarakat terutama masyarakat Indonesia yang memeluk Islam sebagai agama mayoritas. Sedangkan untuk memperkuat karakter dan ciri khas yang terkandung dalam kontrak bisnis syariah itu akan dibahas panjang lebar tentang hal-hal yang memiiki kemiripan bahasan di dalamnya, misalnya perjanjian, perikatan, dan utang.
Dalam bahasan berikutnya penulis mencoba mengetengahkan kajian tentang perkara yang melatarbelakangi kontrak bisnis bisa tertjadi di tengah- tengah masyarakat. Misalnya kehendak para pihak sebagai dasar yang paling substansial dan dominan dalam munculnya sebuah kontrak syariah. Selanjutnya diperkuat dengan aktivitas manusia yang melahirkan kemaslahatan-kemaslahatan baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun orang lain adaloah menjadi bagian yang tidak luput dari bahasan atau kajian dalam buku ini, karena maksud dan tujuan kontrak bisnis syariah itu adalah kemaslahatan manusia. Sedangkan perbuatan yang sifatnya berbeda dengan perbuatan di atas misalnya perbuatan yang terlarang dan memudaratakan
32
| Zaenudin Mansyuruntuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain juga konsep kuat yang akan mendukung lahirnya kontrak bisnis syariah. Selanjutnya kajian yang menitikberatkan pada konsep praktek pembayaran tanpa sebab merupakan aktivitas yang tidak lengah dalam memunculkan kontrak antara satu pihak dengan pihak lainnya dalam laulitas dunia bisnis. Apalagi perbuatan yang didasarkan syariat juga sangat mendukung lahirnya perbuatan-perbuatan kontrak yang berbasis pada hukum syari`at Islam.
Setelah munculnya kontrak bisnis dalam kehidupan manusia maka aktivitas yang sangat dominan untuk diaktualisasikan adalah mendasarkannya pada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Tuhan sebagai pencipta segala-galanya.
Artinya kontrak bisnis tersebut akan Nampak nilai syariatnnya jika didasarkan pada bahasan konsep azas ketuhanan. Azaz ini sangat mendasar sehingga kajian buku ini mengawalinnya dengan azas ketuhanan. Azas kerelaan sebagai azas untuk memperkuat kajian ini lebih bernilai syariah. Sedangkan kajian azas keadilan menjadi urgen agar kedua belah pihak merasakan keadilan dalam berbegai transaksi yang dilakukan.
Kemudian azas persamaan menjadi azas tambahan untuk membuat transaksi menjadi lebih berkembang.
Begitu juga dengan adanya kajian azas kebabasan dalam buku ini setidaknya mengharuskan para pelaku transaksi bebas memililih obyek, patner, dan bentuk transaksi yang dilakukan. Selanjutnya kajian tentang azas kejujuran menjadi penting sebenarnya untuk mendukung azas sebelumnya dalam merekatkan para pihak pelaku transaksi sehingga nilai keseimbangan
dapat diperolehnya dengan adanya kajian azas keseimbangan dalam bahasan berikutnya. Sedangkan azas tertulis mendukung keamanan dan kenyamanan para pihak dalam bertransaksi meskipun kajian azas tertulis ini hanya biasa diberlakukan pad atransaksi- transaksi yang bersifat berat.
Kajian selanjutnya dalam buku ini adalah kaitannya dengan macam-macam kontrak bisnis syariah. Hal ini penting sebagai pilihan bagi para pelaku kontrak bisnis dalam memfilter diri agar tidak terjerus dalam kontrak-kontrak yang tidak benar menurut syariat Islam. Karena itu, kajian dalam buku ini tidak luput mengkaji macam-macam kontrak bisnis tersebut.
Misalnya kontrak yang diperbolehkan, kontrak yang terlarang, dan kontrak dalam perdebatan ulama. Semua bahasannya akan dikaji secara rinci dalam buku ini sehingga menjadi jelasa bagi pembaca untuk menentukan sikap dalam memilihi bentuk transaksi yang dilaksanakannya.
Bahasan yang tidak kalah menariknya untuk menguatkan statemen legal formal dari transaksi yang dilakukan oleh para pihak, maka penulis akan menguraikan secara terinci tentang format kontrak binsis yang berbasis syariah. Misalnya kajian tentang landasab hokum kontrak bisnis syraiah baik dari al- Qur`an, Sunnah, ijma`, dan qiyas. Sedangkan kajian tentang Struktur akta kontrak bisnis syariah adalah kajian tentang procedural pelaksanaan kontrak sehingga dapat diklaim sebagai kontrak yang dapat diterima oleh semua pihak meskipun pelakunya adalah nonmuslim sekalipun. Sedangak unsur-unsur yang menyebabkan kontrak dapat berjalan secara lancer serta dapat
34
| Zaenudin Mansyurmelahirkan hak dan kewajiban masing-masing maka dilanjutkan dengan kajian klausul kontrak bisnis syariah.
Kajian yang turut memperlihatkan realitas pelaku serta syarat-syarat wajib sehingga tidak boleh tidak untuk dilaksanakan maka akan diketengahkan bahasan mengenai para pelaku yang diperbolehkan dalam melaksanakan kegiatan transaksi kontrak bisnis syariah. Misalnya kajian tentang manusia dalam kebolehannnya melakukan transaksi mulai semenjak dalam kandungan samapai pada menjelang kematiannya. Sedangkan pelaku yang diboleh dalam transaksi kontrak bisnis syariah itu adalah lembaga yang berbadan hukum sehingga kajian-kajian yang mendasar seperti kriteria serta ketentuannya menjadi kajian yang tidak bisa ditinggalkan dalam buku ini.
Sealnjutnya untuk mengetahui sejauhmana perkembangan pelaku dalam pelaksanaan transaksi bisnis syariah mengenai siapa yang dominan maka dikaji dominasi manusia sebagai pelaku kontrak bisnis syariah.
Objek kontrak binsis merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam membentuk kontrak bisnis menajdi sah dan batal/ Oleh karena itu, kajian mengenai objek menjadi sesuatu yang wajib dalam kajian buku ini. Misalnya saja kajian tentang barang yang halal, barang yang terlarang untuk dijadikan sebagai alat transaksi, barang syubhat, dan barang yang nakjis.
Semua kajian ini akan dibahas dengan rinci dalam buku ini agar betul-betul jelas sehingga para pembaca setidaknya dapat insfirasi tentang berbagai bentuk dan jenis barang yang dijadikan sebagai objek kontrak
bisnis. Dengan demikian, para pelaku binsis dapat menentujkan sikap objek mana yang seharusnya dapat dijaikan sebagai objel kontrak bisnis.
Aspek kajian tentang penawaran dan penerimaan juga menjadi kajian penting dalam buku ini.
Karena kontrak bisa terjadi harus apabila kedua belah pihak yang akan melakukan transaksi dapat mempresntasikan kehendaknya melalui ijab di satu sisi dan qabul disisi lainnya. Dengan demikian, kajian dalam buku ini akan dibahas tentang bentuk dan jenis ijab dan kabul yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Semua ketentuan dan syarat yang menyebabkan kontrak dapat dilaksanakan dari berbagai jenis ijab kabul ini adalah perkara yang tidak bisa ditinggal untuk dijadikan sebagai bahan kajian. Misalnya ijab dan kabul melalui lisan, tulisan, isyarat, dan perbuatan serta syarat-syarat yang terlibat didalamnnya akan dikaji penulis secara rinci dalam buku ini.
Bahasan yang tidak kalah pentingnya sebagai pembentuk terjadinya transaksi adalah realitas pelaksanaannya. Ketentuan serta syarat-syarat yang mendukung demi kesempurnaan kontrak bisnis tersebut sesuai dengan ketentuan syari dan dapat diklaim sebagai pelaksanaan kontrak yang sempurna maka kajian yang diketengahkan adalah pra pelaksasanaan kontrak itu sendiri. Selanjutnya proses pelaksanaan dengan berbagai varian di dalamnya sehingga kesempurnaannya dalam tahap ini akan mendukung kesempurnaan yang ada pada kajian pasca prosesnya.
Untuk mengetahu lebih jauh tentang ini maka penulis akan menyajikannya dengan mudah dan lugas sehingga
36
| Zaenudin Mansyurdapat dijadikan referensi bagi pembaca dalam pelaksanaan transaksi atau kontrak bisnis syariah.
Setelah pelaksanaan kontrak dijalankan dengan melewati bebagai proses seperti yang dijelaskan di muka, maka kajian selanjutnya adalah akibat hukum yang terjadi kepada para pihak yang melakukannya.
Kajian ini sangat penting sebagai bagian yang tak terpisahkan dari status kontrak bisnis yang sempurna.
Karena akibat ini menjadi rangkain dari proses pasca pelaksanaan kontrak sehingga para pelaku dapat menumbuhkembangkan rasa kerelaan dan merenggangkan sikap-sikap yang memecah belah hubungan keduannya. Misalnya konsep tentang akibat bagi pengoper hak, akibat untuk kreditur kontrak, akibat dari pihak ketiga.
Keuntungan dan kerugian dalam kontrak bisnis syariah juga menjadi perkara penting untuk dijadikan sebagai kajian meskipun prinsip dan tujuan dari kontrak itu bukan perkara yang paling penting. Namun patut dijadikan sebagau kajian dalam rangka memberikan pemahaman kepada para pembaca bahwa aspek dari kajian ini akan mendukung kesempurnaan dan hubungan sosial yang terpuji di antara para pihak yang melakukannya. Dengan demikian keuntungan serta kerugian bagi pihak penawar, permintaan, dan kolaborasi antara keduanya akan dibahas secara terperinci dalam sub bab tersendiri. Begitu juga keuntungan yang berbasis pada nilai keberkahan adalah kajian yang tidak pernah lufut dari kajian buku ini agar bisa menjadi pilihan bagi para pembaca dalam menetapkan status kontrak yang akan dilaksanakan terutama dalam menentukan kuntungan dan kerugian.
Tujuan kesempurnaan pelaksanaan kontrak binsis syariah adalah tujuan mulia yang tidak bisa ditawar-tawar di dalamnya. Namun karena pelakunya manusia yang penuh khilaf maka sudah barang tentu hal-hal yang tidak diinginkan kadang tidak bisa terhindarkan. Sengketa, perkelahian, perseteruan, tipu menipu adalah rentetan perkara yang harus diantisifasi.
Karena itu kajian tentang proses penyelsainnya harus dikaji secara utuh sehingga setiap para pihak yang bersengketa dapat diselesaikan dengan baik sehingga hubungan kontrak tetap berjalan kalau masih dalam proses pelaksanaan. Apabila kontrak sudah berakhir setidaknya kedua belah pihak dapat membangun semangat ta`awun serta kerjasama yang berkesimbanungan. Karena itu, kajian mengenai proses penyelsaian sengketa melalui kekeluargaan, arbitrase, dan peradilan menjadi bagian yang tidak bisa ditinggal dalam bahasan buku ini.
Bagian terakhir dalam sajian buku ini adalah membahas tentang impelemntasi kontrak syariah dalam bisnis. Hal ini menjadi kajian yang tdiak ada bandingnya dalam perspketif kepentingan untuk dikaji.
Karena kajian di dalamnya setidaknya dapat meyakinkan para pembaca setelah melewati berbagai proses panjang melalui kajian-kajian yang telah disebutkan di muka. Dengan demikian, bentuk serta perwujudan dari kontrak bisnis syariah itu akan tampak dengan adanya konsep implementasi kontrak bisnis syariah apakah kaitannya dengan kontrak pertukaran, produk jasa, dan kontrak percampuran antara keduanya.
Untuk lebih jelasnya akan di bahas pada bab terakhir dengan bahasan yang ringan dan rinci.
Bab 2
DASAR MUNCUL KONTRAK BISNIS SYARIAH
A. Sumber Hukum Kontrak Bisnis Syraiah 1. Al-Qur`an
Secara etimologi, al-Qur’an berarti bacaan, sedangkan menurut terminologi, ada beberapa definisi al-Qur’an yang dikemukakan ulama.
Definisi al-Qur’an (yang paling lengkap, panjang) adalah kalam Allah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada Muhammad saw.54 dalam
54Secara empiris, al-Qur`an diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang mengakar. Artinya, secara historis al-Qur`an tidak turun dalam ruang yang hampa tanpa konteks.
Dengan demikian, melepaskan teks wahyu dari konteks sosial budaya merupakan pengabaian terhadap realitas historis. Munculnya konsep makkiyah dan madaniyyah, nâsikh mansûkh, semua konsep tersebut sangat relevan dengan kondisi, zaman yang mengitarinya. Konsep makkiyah dan madaniyah tidak hanya mengkatagorikan ayat berdasarkan geografis tempat turunnya, tetapi pesannya juga terkait dengan problem kemasyarakatan di wilayah tersebut. Sementara asbâb an-nuzûl mengindikasikan adanya proses resiprokasi antara wahyu
40
| Zaenudin Mansyurbahasa Arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir yang tertulis dalam mushaf, membacanya merupakan ibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat al- Nas.55 Definisi ini setidaknya memperkuat stetmen Nasrun Harun tentang al-Qur’an bahwa ia diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Muhammad saw. yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya, kemudian dinukilkan dari generasi ke generasi berikutnya secara mutawatir.
Hal itu menunjukkan bahwa al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah. Selain itu, mu’jizat al-Qur’an merupakan bukti yang jelas dan pasti akan kebenaran al-Qur’an yang datang dari Allah swt.56
Dua definisi yang telah dikemukakan pakar al-Qur`an di atas dapat memperjelas bahwa segala sesuatu yang terkait dengan aturan kehidupan baik spritual (ibadah) dan sosial (mu`amalat) telah diatur sedemikian rupa dalam al-Qur`an. Bahkan menurut penjelasannya terdapat ayat yang menjelaskan
dengan realitas. Dalam kondisi ini wahyu seakan-akan memandu dan memberikan solusi terhadap problem-problem sosial yang muncul saat itu. Sedangkan nasikh mansukh merupakan proses penahapan pengiriman pesan ilahi dengan penyesuaian terhadap realitas yang berkembang. Lihat Nashir Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur`an, Kritik terhadap Ulumul Qur`an, terj. Kahiron Nahdhiyyin (Yogyakarta:
LKiS), 120.
55Lihat Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukaniy, Irsyad al-Fukhul ila Tahqiq al-Haq min Ilm al-Ushul (Beirut: Dar al- Fikr,t.t.), 29-30; Al-Allamah al-Bannaniy, Hasyiyah al-Allamah al- Bannaniy ala Syarh al-Mahalliy ala Matn Jam’i al-Jawami’ , Juz I (Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, t.t.), 223-224.
56Nasrun Harun, Ushul Fiqh 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 28.
tentang tidak ada satupun segala sesuatu yang teralfakan di dunia ini melainkan al-Qur`an telah mengaturnya dengan sempurna. Apalagi aspek aktivitas tersebut erat kaitannya dengan ibadah spritual tentu sekali nampak dengan jelas baik secara eksplisit maupun inplisit. Bahkan di antara banyak ulama mengklaim bahwa amal doktrin- doktrin al-Qur`an yang membahas tentang spritual telah final seperti perintah shalat, zakat, puasa, dan haji. Berbeda halnya dengan aspek mu`amalat (sosial) meskipun dilandasi dengan doktrin yang sama tetapi jangkauan untuk mencapainya dapat dilalui dengan banyak cara meskipun dari sisi redaksional doktrinnya telah final. Karena itu, tidak ironis para ulama fiqh telah membagi aspek kehidupan yang terkait dengan dunia sosial tetap bersumber dari ajaran al-Qur`an itu menjadi beberapa pembagian. Secara garis besar Abdul Wahab Khallaf membaginya menjadi tujuah bagian.
Di antaranya kontrak bisnis syariah atau perdata Islam yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti jual beli, sewa menyewa, dan gadai yang tujuannya adalah untuk mengatur hak dan kewajiban ; ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan ini sekitar 70 ayat.
Di antara sekian banyak ayat Al-Quran yang membicarakan tentang pengaturan kontrak bisnis syariah , ayat-ayat tersebut menurut garis besarnya terbagi menjadi dua, yaitu landasan prakontrak bisnis syariah dan proses pelaksanaannya.
Landasan prakontrak bisnis syariah , yaitu redaksi ayat al-Qur`an yang menjelaskan tentang perintah
42
| Zaenudin Mansyuruntuk melaksanakannya seperti yang dijelaskan dalam al-Qur`an surah al-Maidah: 1.