• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrak Menjamin (az-zimmat bi at tautsiq) Kontrak menjamin merupakan suatu bentuk

Dalam dokumen KONTRAK BISNIS SYARIAH (Halaman 137-141)

ىتح هنيدب ةقلعم نمؤلما سفن :ملسو هيلع الله .هنع ى ضقي

4) Kontrak Menjamin (az-zimmat bi at tautsiq) Kontrak menjamin merupakan suatu bentuk

124

| Zaenudin Mansyur

ﮑ ﮐ ﮏ ﮎ ﮍ ﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒ

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya".125

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar tidak saling menganiaya atau merugikan antar satu dengan yang lainnya.

Allah SWT juga memerintahkan manusia agar bersikap adil dan berbuat kebajikan/kebaikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan melarang perbuatan keji. Dalam hal ini adil adalah menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan. Nilai-nilai keadilan menuntut antara lain agar orang memberikan kepada orang lain sesuatu yang menjadi haknya. Oleh karena itu, dalam prinsip keadilan tidak terlepas dari dari keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4) Kontrak Menjamin (az-zimmat bi at tautsiq)

mengikatkan diri untuk menanggung kontrak pihak kedua terhadap pihak pertama. kontrak menjamin ini dalam transaksi kontrak lazim disebut dengan kafalah. Di antara sekian banyak kontrak yang muncul dari barang jaminan ini, gadai sebagai bentuk kontrak yang paling ramai diparkatekkan di internal masyarakat karena salah satu syarat untuk terjadinya kontrak harus didasari adanya barang jaminan agar pihak penerima gadai tidak ragu menyerahkan sejumlah uangnya kepada yang menggadaikan barang. Artinnya jika pihak yang menggadaikan tidak bisa melunasi uang pinjamnnya itu maka sebagai gantinya adalah barang yang dijaminkan tadi. Contohnya dari kontrak menjamin ini adalah A berhutang kepada B sejumlah satu juta rupiah. Tetapi di tengah jalan bahkan sampai jatuh tempo A tidak bisa melunasi hutangnya kepada B. Oleh karena adanya C yang sangat prihatin kepada A maka ia segera menanggung hutangnya sekaligus membayarnya.

Melihat kondisi ini, maka A tidak berhutang lagi kepada B tetapi sudah dijamin oleh C dalam melunasinya. Oleh karena itu, praktek tersebut akan diperjelas oleh teori gadai atau adanya jaminan sebagai berikut.

Pengertian jaminan secara umum menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah aset atau suatu barang milik peminjam yang dijaminkan kepada pemberi pinjaman untuk menjamin pelunasan hutang piutang antara peminjam dan pemberi

126

| Zaenudin Mansyur

pinjaman (terjemahan dari wikipedia).126Jaminan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-rahn.

Al-rahn dalam bahasa Arab memiliki pengertian tetap dan kontinyu, yang didasari dari bahasa Arab ءاملا نهر (rahinulma’u) yang artinya apabila tidak mengalir dan kata ةمعنلا ةنىهر (rahinatul ni’mah) yang bermakna nikmat yang tidak putus.127 Al- rahnjuga dapat bermakna tertahan, yang didasari dengan firman Allah QS. Al-Muddassir ayat 38 yaitu:

ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas apa yang telah diperbuatnya.

Kata rahinah yang tersebut dalam ayat di atas bermakna tertahan. Ibnu Faaris menyatakan huruf raa, haa’ dan nunadalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak. Huruf inilah kata ’al-rahn’ itu berasal yang dapat dimaknai dengan sesuatu yang digadaikan. Selain itu secara harfiah, al-rahn berarti al-tsubut dan al-dawam yaitu tetap dan lestari, juga bisa diartikan sebagai al-habsudan al-luzam yang

126Afdawaisa, Terbentuknya Akad Dalam Hukum Perjanjian Islam, Jurnal Al-Mawarid, Edisi XVIII, 2008,

127Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar, Al Fiqh Al Muyassarah Qismul Mu’amalah Cet.I, (Beirut: Madara, 2005), 115.

artinya penahanan dan pasti.128 Penahanan dimaksudkan sebagai penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut.129 Menurut Sayyid As-Sabiq, al-rahnmenurut syara’ memiliki arti menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara’ sebagai jaminan hutang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh/sebagian hutang dari barang tersebut.130

Kontrak bisnis syariah yang terjadi dari akibat adanya transaksi gadai atau menjamin antara satu pihak dengan pihak lainnya adalah suatau persyaratan agar kontrak yang dipraktekkan para pihak dapat berjalan dengan lancar serta aman dari buruk sangka, nyaman dari niatan melakukan kejahatan, mengikat para pihak, menciptakan rasa kesepakatan dan kebersamaan, dan ending akhirnya rida sama rida. Dalam kontrak bisnis menjaminkan barang terhadap utang yang dikhawatirkan untuk dibayarkan itu adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggal bagi orang yang akan melakukan kontrak tersebut. Apalagi situasi dan kondisi masyarakat kekinian yang tidak lepas dari transaksi atau kontrak secara digital. Keberhasilan kontrak, hutang,

128Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu (Jakarta:

Tim Counterpart Bank Muamalat Indonesia, Bank Muamalat Indonesia, 1999).1.

129Rahmat Syafei, Konsep Gadai Dalam Problematika Hukum Islam Kontemporer III (Al-rahn dalam Fiqh Islam. Antara Nilai Sosial dan Nilai Komersial) (Jakarta: Lembaga Studi Islam &

Kemasyarakatan, 1995),159.

130Sayyid As-Sabiq, Al-Fiqh As-Sunnah (Beirut: Daar Al-Fikr, 1995),136.

128

| Zaenudin Mansyur

peikatan, perjanjian, dan tanggungan selalu diukur oleh sejauhmana kelihaian para pihak dalam menggunakan media online. Situasi dan keadaan yang semakin canggih setidaknya memberikan kemudahan kepada semua orang untuk melakukan transkasi atau kontrak apa saja yang mereka inginkan. Akan tetapi di tengah kemudhan yang telah ditorehkan oleh semua media online ini dapat dipastikan terjadi persoalan-persoalan yang tidak diinginkan oleh para pihak. Untuk mengantisipasi problem internal yang tidak bisa dipastikan bentuk dan jenisnyanya itu setidaknya mengehndaki adanya syarat-syarat yang mengikat kedua belah pihak untuk saling mengikatkan diri sehingga tidak bisa lari dari iktan tersebut melainkan mereka harus menyelsaikannya sesuai kesepakatan. Oleh karena itu, penetapan barang jaminan sebagai syarat adanya kontrak bisnis syariah adalah perkara yang paling utama harus ditetapkan bahkan menjadi tema yang harus disepakati terlebih dahulu baik secara lisan maupun tertulis.

B. Kontrak Bisnis Berdasarkan Persepktif Hukum

Dalam dokumen KONTRAK BISNIS SYARIAH (Halaman 137-141)