• Tidak ada hasil yang ditemukan

ILMU PEMERINTAHAN DI LTNGKU.NGAN INSTITUT' IIMU

Dalam dokumen ISI.pdf (Halaman 135-156)

ILMU PEMERINTAHAN

Pasang Surut Studi Pemerintaharn

Studi tentang Pemerintaharr di Indonesia ternyata mengalarrri pasang surut.

Sebuah "flashback" menguak m.asa silam tatkala di lingkungan Bagian Sosial dan Politik Fakultas

Hukum

Sosial dan Politik (FHSP); Univr:rsitas Gadjah Mada (berdasarkan PP

No.

37

/

1950 tentang Statuta universitas tersebut), dibentukJurusan Pemerintaharr. Berbagai pengamatan memberi kesan bahwa perkembangan jurusan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh aliran kontinental dalam

hal

ajaran (tentang) pr:merintahan yang

diberi

nama Bestuurskunde (cetakan pertama buku

Prol

G.. A. van Poelje berjudul Algemene Inbiding tot de Bestuursjunde, diterbitkan pada

tahun

1942 dan cetakan kedua

tahun

1953).

Ilmu

ini

berkembang di Eropa pada awal abad 20. Menurut van Poelje, apa yang di negerinya disebut Bestuurekunde (Ilmu Pemerintahan) setrenarnya sama saja dengan apayang di negerlAnglo Saxon diberi rran;'a Publ;ic Administration (Ilmu Administrasi Negara).

Namun demikian, di Indonesia perkembangnya lain. Tanggal

I

September 1952 pada FHSP Universitas ,Gadjah Mada ditambahkan Bagian Ekonomi sehingga namanyamenjadi Faliultas Hukum, Ekonomi, dan Sosial dan Politik (FHESP). Bagian Sosial dan

lalitik

FHESP pada

tahun

1955

di

tingkatkan menjadi Fakultas. Sosial dan Politik (FSP) dan pada tahun 1957 disusun menjadi limajurusan ) antaralainJurusaLn Ilmu Usaha Negara yang kemudian menjadi Jurusan Ilmu Administrasi Negara,Jurusan (Ilmu) Pemerintahan rlitiadakan.

Hal

ini memberi kesan seakan-akarr ilmu administrasi negara identik dengan ilmu pemerintahar- atau studi menp;enai ilmu pemerintahan terabaikan. Rupanya tidaklah demikian, pada tahun kuliah 1964-l965,Jurusan Ilmu Pemerintahan dihidupkan kembali dengan tujuan membentuk sarjana-sarjana dalam bidang pemerintahan yang kelak diharapkan marnpu menyurnbangk:rn keahliannya di lingkungan negara sebagai pejabat-pejabat pemerintah di pusat dan daerah yang tenrtama menentukan"polic2" maupun di lingkungan masYarakat sebagai wakil-wakil rakyat atau tokoh

politik

yang terutama mempengaruhi "policy"

(Buku Petunjuk 1973).

Jika di lingkungan

Unir,'ersitas

Gadjah Mada

perkembangan

ilmu

pemerintahan menggembirakzLn, nyaris tidak demikian halnya di lingkungan Departemen

Dalam Negeri

sebagai konsumen

utama produk

lembaga pendidikan ilmu pemerintahar:1. Untuk kepentingan penyempurnaan susunan

dan

kesanggupan

kantor pemerintah di lingkungan kementerian (kini

Departemen Dalam Negeri), pzLda tahun 1956 di kota Malang didirikan sebuah akademi yang diberi nama Aliademi Pemerintahan Dalam Negeri

(APDI\.

Dialektika Ilmu Pemerintahan

Kendatipun di

akademi

ini

diajarkan berbagai bahan yang menyangkut bidang pemerintahan seperti Pengantar

Ilmu

Pemerintahan dan

Politik

Indonesia,

Ilmu

Perbandingan Pemerintahan dan Administrasi, dan Hukum Perbandingan Pemerintahan, pada mulanya

APDN

bertitik berat

di

bidang Administrasi Negara. Beberapa aht International Cooperation Adrninistration (ICA) dan mungkin badan internasionai lain, seperti Garth N.Jones, M.E Walker, C.

Henry Bush, William D. Garvey, danJames'D. Keys, memegang andil dalam fase awal pertumbuhan APDN tersebut. Ketika

APDN

dipandang telah tiba pada tahap peningkatan fungsinya untuk memenuhi tuntutan perkembangan keadaan (seperti yang terjadi di lingkungan Universitas Gadjah Mada tersebut di atas). Wawasan untuk menjadikan APDN sebagai perguruan tinggi penuh

di

bawah nama

Institut Ilmu

Pemerintahan rupanya

tidak

sesuai dengan kebijakan Menteri Dalam Negeri di waktu

itu

Dr. Soemarno Sosroatmodjo, sebagaimana tercantum di dalam apaya\g disebut kebijaksanaan 9 Desember 1964, sebagai berikut.

Timbullah

sekarang pertanyaan, apakah kita harus mengadakan pendidikan yang bersifat umum ataukah yang bersifat khusus untuk pemerintahan dalam negeri? Selanjutnya timbul pertanyaan kedua, apakah benar bahwa orang yang telah mempunyai pendidikan tinggi (sarjana) benar cakap untuk memimpin pemerintahan dalam negeri?

Praktik

menyatakan bahwa seorang kader pemerintahan yang telah mempunyai

pendidikan

dasar

tertentu, ditambah

dengan pengalaman- pengalaman dalam praktik serta mempunyai bakat kepemimpinan, ia mampu untuk memimpin suatu pemerintahan dan menyesuaikan diri dengan dinamika revolusi

kita

dan

di

antara mereka ada yang mampu

untuk

mengetahui bagaimana jalannya revolusi kita di waktu yang akan datang. Maka nyatalah bahwa suatu perguruan tinggi bukanlah menjamin bahwa para tamatannya mempunyai kemampuan seperti tersebut di atas.

Dalam menyelenggarakan pendidikan pemerintahan yang akan datang, yang paling penting ialah bahwa sifatnya adalah dinamis dan segera dapat disesuaikan dengan kebutuhan revolusi. Karenanya, pendidikan yang akan datang haruslah senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan dan sikap ral<yat, untuk dapat memenuhi tuntutan (dnnand) pada waktu itu.

Sebagai kesimpulan dapatlah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan dasar pemerintahan ialah untuk mematangkan calon petugas pimpinan ,hanyasampai dengan tingkat sarjana muda dan sesudah

itu

memberikan pendidikan dan latihan lanjutan untuk mereka ini secara bertahap-tahap, selama mereka bertugas.

Tegasnya, satu-satunyajalan kami usulkan untuk taraf sekarang ialah mengadakan Ilmu Pemerintahan di Lingkungan Institut llmu Pemerintahan ...

.'.'.- -.Ll-- -:,.- -.'-.-"-"-:--- --. -'.-: -- ""-r . r lsl.:- -.---*-":--.^a:.^.

L23

dan memperbanyak kampus akademi pemerintahan untuk kemudian dilanjutkan dengan kursus-kursus/sekolah-s,:kolah pimpinan pemerintahan secara berturut- turut dari bawah: tingkat dua, tingkat satu, dan tingkat

titgg.

Kursus/sekolah pimpinan pemerintahan tingkat dua dimaksudkan untuk mendidik pej abat-pejabat yarLg akan dimatangkan untuk j abatan-jabatan kepala daerah tingkat

III

atau pegawai staf kepala daerah tingkat

II.

Para siswa adalah pegawai-pegawai pilihzLn yang telah bertugas tamatan

dari

akademi pemerintahan dan yang mempunyai kedudukan yang sama dengan tamatan APDN. Tindak lanjut kebijakszLnaan tersebut, antara lain seperti berikut.

l.

APDN di daerah diperbanl'ak, dan eks Kursus Dinas C langsung diterima di tingkat

II

akademi.

2.

Beberapa Sekolah Lanjutan Pemerintahan lJmum (SEI-APU) Tingkat

II, I

dan Tinggi

(SEI-APUTD\,

SEI-A.PUTTU, dan SEI-APLITTI), dibuka.

3.

APDN Malang (yang bersi{bt nasional itu) ditutup pada tahun 1967.

Sejak dikeluarkannya kebijzLksaan 9 Desember 1964 itu, pemikiran tentang ilmu pemerintahan di kalangan APDN untuk sementara keliha&rnnya padam.

Masalah

Setelah melalui perjuangan yang menegangkan (ref, Taliziduhu Ndraha dalam Sasana karya I 956- I 966 APDN Malang I 966 dan Metodo logi Pemninnhan Indones'in, l 9B3 : l 8 l

-

1 85) Institur: Ilmu Pemerintahan (IIP) didirikrn berdasarkan keputusan bersama

Menteri

lDalam Negeri dan

Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan No. B Thhun 1967 dan disahkan dengan Keputusan Presiden R[ No.

119 Tahun 1967 sebagai peningkatan APDN Malang. Pemikiran tentang ilmu pemerintahan di kalangan Departemen Dalam Negeri pun hidup kembali.

Pada tanggal 9

Maret

1972, dalam lJpacara Peresmian Kampus dan Wisuda Sarjana

IIf;

Presiden Sc'eharto menegaskan tanggungjawab IIP, antara lain seperti berikut.

"Dalam tugas-tugas pembarngunan

ini,

terutama pejabat-pejabat yang langsung berhubungan den;4an masyarakat, dituntut untuk menguasai

teknik dan

seni

pemerintahan.

Mengembangkan

teknik dan

seni pemerintahan ini merupakan salah satu tugas institut

ini

....

Untuk menguasai teknik dan seni pemerintahan, perlu dimiliki asas-asas

administrasi negara modern yang mungkin bersifat universal. Tetapi ada syarat lain yang lebih perlu, ial.ah menerapkan asas-asas tadi dengan falsafah pemerintahan kita yang bersumber pada Pancasila dan

UUD

1945.

Saya minta kepada institut

ini

untuk mengadakan penelitian mengenai teknik dan seni pemerintahan yang esdemikian tadi ..."

t24 Diatektika Ilmu Pemerintahan

Pada tahun 1975, pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) Departemen Dalam Negeri menyelenggarakan Penataran (Seminar) Pimpinan Lembaga-

Lembaga Pendidikan

Kedinassan

di lingkungan Departemen Dalam

Negeri. Dalam kesempatan

itu,

Institut

Ilmu

Pemerintahan menyajikan dua makalah:

-

Pola Sistematik Keilmuan Politik, oleh Drs. Zamhir Islamie (23Juni),

-

Pola Sbtunatik Keilrnuan Pmwintahan di Indonzsin, oleh Drs. Soejekti Djajadiatma, MSPA dan Drs. Taliziduhu Ndraha (2aJuni).

Diskusi-diskusi mengenai topik kedua menghasilkan Pola Kurikulum Institut

Ilmu

Pemerintahan yang antara

lain

berisi komponen

Ilmu

Pemerintahan berikut.

l.

Metodologi Ilmu Pemerintahan.

2.

Etika Pemerintahan.

3.

Pemerintahan Daerah.

4.

Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah.

5.

Perbandingan Pemerintahan.

6.

Sejarah Pemerintahan Daerah.

7.

Ekologi Pemerintahan.

B.

Sistem Dekonsentrasi dan Desentraliaasi Pemerintahan.

9.

Hukum Tata Pemerintahan.

10. Politik dan Pemerintahan Indonesia.

I

l.

Adminitrasi Pemerintahan Daerah.

12. Kapita Selekta Pemerintahan.

Jadi, kendatipun namanya Institut Ilmu Pemerintahan, baru sembilan tahun sesudah pembentuk anrry a padanya diaj arkan mata kuliah yang menggunakan nama Ilmu Pemerintahan, yaitu Metodologi Ilmu Pemerintahan.

Berbagai kesulitan

timbul di

seputar pemberian mata kuliah tersebut, antara lain langkanya sumber-sumber yang berlabelkan ilmu pemerintahan.

Hal

ini

menunjukkan bahwa penelitian dan penulisan ilmiah mengenai ilmu pemerintahan ketinggalan jauh dibanding dengan upaya yang sama di bidang ilmu poiitik dan ilmu administrasi negara. Di samping itu, berbagai pertanyaan yang menantang masih belum terjawab secara tuntas.

.

Mengapakah ilmu pemerintahan yang

di

negeri asalnya dianggap sama dengan ilmu administrasi negara, di Indonesia dianggap berbeda?

.

Apakah (suatu yang dapat disebut) ilmu pemerintahan?

llmu Pemerintahan di Lingkungan Institut Ilmu Pemerintahan ... t25

.

Bukankah ilmu politik dan ilrnu administrasi negara, dua disiplin ilmu yang dipandang relatif mapan, mampu menjawab tantangan masa pembangunan dewasa ini?

.

Jika ada, apakah ilmu pemerintahan itu?

.

Apakah hubungan dan perbr:daan anrara ilmu pemerintahan dengan ilmu politik dan ilmu administrasi negara?

. Mengapa ilmu

pemerintzLhan

di lingkungan berbagai universitas

dilembagakan menjadi suatu jurusan, sementara di kalangan Departemen Dalam Negeri setingkat universitas?

Beberapa pendekatan menurut berbagai sumber dijadikan pangkal tolal<

bagi percobaan untuk menemul,<an jawabannya.

Berbagai Pendekatan

Pengertian "llclts" menunjukkan

"di

l::;rarra" r "bidangr" sedzrngkan

"fot^"

menunjukkan "apa" atau segi 1,ang menjadi pusat perhatian

di

bidang yang sama (ref, Nicholas Hennry dalam Publir Adrninisnation and Publil

lffatrq

1975: 5).

Pada umumnya, orang berpendapat bahwa "lnclrs" ilmu pemerintahan adalah pemerintahan, sebuah konsep dengan bermacam-macam definisi. Herman Finer dalam Tluory and Prailire of Modnn &unnment (1960: 7) menyatakan bahwa

"Gounnmmt is politbs pfus adrninishafittn" , dalarn aribahwa pemerintahzrr meliputi dua proses berkesinambungan: proses politik dan proses administrasi. Robert M. Maclver dalam Tlrc Web of Gouanmml (1961: 22) berpendapat bahwa "politital gouermrwf' adalah "tlu cmhalized organi4tion tl,wt maintains a gtstem of *do oua a ctrmmtatigt lnrge or smnll." Susunan organisasi yang dimalsud dijelasken oleh C.E Strory3 dalam Modsn PohtbalCorutihfiinn-(1964:6)demikian: "Gouanmmt'is, thofut, thatmganiaatinninwhichis uwtcd tlu right to exncise souaeignpowas... it mwt" in sln4 hate lrgislatiae powq exerutbe poute6 annydmnlpoweq whbhruemqt call ttu thra fupmtrnntt o1f gouermrwfi".

Pemerintahan, baik sebagaiproses maupun sebagai organisasi, seperti di atas, mempunyai atau dapat dipandang dari berbagai segi. Setiap segi dapat dijadikan objek

formal

atau b,:rfungsi sebagai "lfocus" bagi telaah tertentu.

Dilihat dart"lncus" dan"focus", anggapan mengenai apakah ilmu pemerintahan pun berbeda-beda.

Berbagai Pendekstan

Putama, orang berpendapat bahwa ilmu pemerintahan adalah bagian ilmu politik. Anggapan ini dapat dikatakan dianut secara luas. Dalam buku Harold J. Laski, Puryantar llrnu Politika (l!)50: 84;judul ashAn Introduction to

Politiu,l93l)

Dialektika Ilmu Pemerintahan

pemerintahan dibicarakan sebagai bagian bahasan ilmu politik. Dalam Buku Petunjuk 1967 Universitas Gadjah Mada dinyatakan bahwa asas-asas ilmu pemerintahan, antara lain meliputi ilmu pemerintahan sebagai bagian/cabang ilmu politik.

Kedua, ada

juga

orang yang berpendapat bahwa

ilmu

pemerintahan

(beetuurekunde)

identik derigan ilmu administrasi negara.

"Focus"

iknu

pemerintahan menurut Van Poelje di atas, misalnya, sama saja dengan "1focus"

ilmu administrasi negara di masanya. Kesan Djenal Hoesen Koesoemahatmadja dalam Peranan llrnu Psnterintahan Dalam Negara Hukum Modern (1 98 I : 7) atas Van Poelje tersebut demikian juga.

Namun demikian, tatkala kedua disiplin

itu

masuk dan berkembang di Indonesia, "focus" masing-masing berbeda. Masa kedatangannya juga relatif berlainan, ilmu pemerintahan datang lebih dahulu daripada ilmu administrasi negara.

Sepanjang abad ke-lB, boleh dikatakan"clmmon denominatol' disiplin ilmu pengetahuan sosial

di

Eropa adalah

ilmu

hukum. Studi hukum dipandang sudah cukup sebagai persiapan guna menyelenggarakan pemerintahan. Asal saja seluruh segi kehidupan ini dilindungi oleh suatu jaringan jaminan hukum yang tegas, semuanya akan beres. Peletak dasar-dasar

ilmu

pemerintahan seperti Lorentz von Stein ( I B I 5- I 890) yurg memelopori Venualnngnissenschffi dan L.E van de Spiegel yang menulis tentang Sketsa Ilrnu Pmrcrintahan, adalah ahli-ahli hukum, demikian juga para pengajar ilmu pemerintahan pada masa awal pendidikan tinggi di Indonesiapada umumnya. Oleh karenaitu,"lfocus"

ilmu pemerintahan pun pada awalnya dipengaruhi oleh ilmu hukum, barulah kemudian bergeser ke arah "pll'ic)" yang titikberatnya diletakkan pada sasaran- sasaran ideal seperti terkandung

di

dalam konsep "Wefarestate", "demokrasi ekonomi", dan seperti

itu.Jika

Bagian C buku Prof. Dr. A. Hoogerwerf (ed.) berjudul Ouerheid Beleid (1978) diperhatikan, kecenderungan aliran kontinental mengarah pada"lfocus" bagaimana caranya mencapai gagasan uefarestate

ilrt

efisiensi!

Terdapat kesan, ilmu administrasi negara yang memasuki Indonesia pada tahun lima puluhan adalah ilmu berparadigma kedua yang intinya efisiensi dan kemudian bergeser ke paradigma ketiga yang "locus"-nya pemerintahan dan "lfocus"-nya birokrasi, sekedar mengikuti Nicholas

Henry

(1975, B-14).

Kemajuan ilmu administrasi negara dewasa ini di negeri asalnya, pesat. Entah apa yang terjadi kelak, bilamana ilmu administrasi negara di Indonesia tiba pada paradigma kelima: "publh adminisnati.on i^r public-poliry-makag\V.

M.

Lambright,

Ilmu Pemerintahan di Lingkungan Institut Ilmu Pemerintahan ... t27

dalam Frank

Marini,

T6ward a.New Public Adminidtration, 1971: 103). Apakah jurusan ilmu pemerintahan di.c;abungkan dengan jurusan ilmr"r administrasi negara, karena "foats" keduanya sama?

Ketiga,jika diikuti jalan pikiran Herman Finer (1960, 7) di atas, bisa

jadi

Ilmu pemerintahan meliputi ilnru politik dan ilmu administrasi negara. Inilah konsep ilmu pemerintahan dalam arti luas.

Ketmpat, ada juga yang berpendapat bahwa

ilmu

pemerirrtahan adalah ilmu yang mempelajari

kebijalan

pemerintah (public

policj.

Buku Prof. Dr.

A.

Hoogerwerf (ed.) berjudul Ouerheid Beleid (1978) memberi kesan demikian sehingga R.L.L. Tobing menyallinnya menjadi Ilrnu Pmerintahan (1983).

Kelima, ilmu pemerintahan sebagai sc'imce of gouernmml. Robert

M.

Maclver (1961, 7-12) membicarakan iLnu pemerintahan sebagai sebuah disiplin di samping ilmu politik (politbal scinzce).Iaberpendapat bahwa ilmu pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia dapat diperintah (how mm can

be gouunetl, bukan bagaimana m.anusia diperintah atau bagaimana seharusnya rakyat diperintah. Maclver menjadikan pemerintahan sebagai "lacus" dan cara tertentu agar manusia dapat diperintah sebagai

"for^"

ilmu pemerintahan.

Kemnm, di negeri Belanda konsep pemerintahan dibedakan menjarfi berikut ini.

L

Regering/regeren, digtnakan untuk menyebut pemerintahan apabila yang dimaksud adalah pengguninn kekuasaan negara oleh yarrg berwenang

untuk

membuat kebijaksanaan atau mengambil keputusan

di

tingkat nasional atau pusat dalam rangka mewujudkan tujuan negara.

2.

Bestuur/ besturen atau disebut juga openbare dimst adalah pemerintahan

jika

yang dimaksud adalah kegiatan yang langsung

terkait

clengan usaha meningkatkan kesejahteraarr rakyat, yang biasanya dilakukan baik di ting- kat pusat maupun daerah.

Ilmu

pemerintahan dalarrL

arti

luas dalam hubungan

itu

adalah

ilmu

pemerintahan dalam

arti

sempit yang memusatkan perhatian pada regning/

regeren) dan ilmu administrasi (negara) yang memusatkan perhatiannya pada

bestuur/ beshtren.Dari sudut pand;lngan ini, ilmu pemerintahan dipandang sama atau memiliki banyak persamaarn dengan ilmu administrasi negara.

Pendekatan yang bagaimanakah yang memungkinkan adanya

ilmu

pemerintahan yang dapat dipelzjari secara sendiri? Pendekatan yang manakah yang memungkinkan ilmu pemerintahan berdiri sebagai ilmu'pemerintahan sebagaimana

halnya ilmu adminiutrasi

negara

dianggap

sebagai

ilmu

administrasi negara sejak 1970 (Nicholae

Henry

1975. lB)?Jika pendekatan

128

Dialektika Dialektika llmu Ilmu PemerintahanPemerintahan

pertama digunakan, proses dan gejala pemerintahan dipandang sebagai bagian proses politik, yaitu salah satu fungsi struktur supra sistem pohtlk (rule imp lnnmntion). Ada j uga yang mendudukkan pemerintahan sebagai pen ggunaan kekuasaan yang terbentuk dalam proses

politik

dan bisa saling berhimpit (di lain pihak) dengan proses politik dan administratif. Akhir-akhir ini, misalnya, ilmu administrasi menurut "public policl" sebagai ";focus"-nya sementara ilmu pemerintahan

mulai

memperhatikan segi efisiensi, salah satu "lfocus" Tlrntt administrasi negara. Jadi, tidaklah mengherankan

jika

ada Pendapat bahwa ilmu pemerintahan

itu

identik dengan ilmu administrasi negara (pendekatan keenam). Siklus itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Proses Administrasi

Negara

Administrator

Proses Pemerintahan

si kr u s por iti k,

p"r"rlnff#fl5J"

oor,

"

i strasi Nesara

Untuk mengenal, memahami, dan mengkaji pemerintahan sebagai suatu titik pandang (fokus perhatian), digunakan lima macam pendekatan atau teori.

l.

Teori kekepalaan (headship theory).

2.

Teori sistem (sltstem theory).

3.

Teori tanggungjawab (ruponsibility theory).

+.

Teori FrEies Ermessen.

5.

Teori prakarsa.

Setiap organisme mempunyai suatu bagian yang mengendalikan seluruh tubuh organisme itu. Bagian ini disebut Kepala. Child (dalam Lundberg 1956:

169, 197, dan l98)mendefinisikan organisme sebagai berikut.

A more or less definite and discrete order and unit1, in other words a pattern, which not onlt determines its structure and the relat'iorrc of its parts to each other, but enables

it to act as a whole with resbect to the world about it.

Rakyat (Publik)

Ilmu Pemerintahan di Lingkungan Institut llmu Pemerintahan ...

The organism is a dltnamic ardE !,,attern, or integration amlng liuing sltsl'ans or unite.

A social argani4tion is exactly the same thing

Kekepalaan merupakan geiala sosial. Kekepalaan perlu dibedakan dari kepemimpinan. Yang disebut pcrtama merupakan suatu lembaga yang pasti dan ada pada setiap organisme, sedangkan kepemimpinan merupakan suatu kualitas. Kepemimpinan bisa berubah atau hilang, tetapi unsur kepala suatu organisasi tetap.

Untuk

memahami gejala t,ersebut diperlukan sebuah ilustrasi. Ilustrasi yang digunakan ialah perguruiln tinggi yang secara sadar di<lirikan untuk mempersiapkan calon sarjana di bidang tertentu. Upaya pokok untuk mencapai hal itu ialah pendidikan. Diperlukan para pendidik yang disebut dosen sebagai pelalsana upaya pendidikan. PelzLksanaan merupakan unsur pertama organisasi.

Keberhasilan pelaksanaan ini bergantung pada keahlian dan keterampilan teknis pelaksana yang bersangkutan. iSetiap pelaksana berusaha agar pelaksanaan tugasnya efektif (mencapai saseLran). Namun,

ini

belum tentu sama dengan efektivititas organisasi. Seorang tukang sapu, menyapu sebuah mangan sehingga bersih pada pukul 07.00 pagi, lalu keluar. Ia berhasil, jadi pelaksanlaan tugasnya efektif Tetapi keberhasilannya

itu

bisa dihapuskan oleh keberhasilan petugas lain, yaitu tukang lampu yang bekerjapada pukul 08.00, yang

juga

berhasil memperbaiki lampu yang terletak di langit-langit kamar. Namun, kamar kembali kotor. Untuk mencegah terjadinya hal

itu

dan untuk memperbaiki kekeliruan yang terjadi, diperlukan unsur lzLin yaitu unsur kepala. IJnsur inilah yang oleh

The International Encltclopedia

of

the Social Science (1972)

di

atas disebut sebagai pemegang fungsi koordinasi atarj semua kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Hal inilah yang digunakan oleh van Poe[e dan penulis lainnya da]am mernbentuk teori tentang dinas umurn atau yang oleh Plato disebut sebagai fungsi politikos. Dalam hal perguruan tinggi, yaitu unsur kepala adalah rektor.

Selain bergantung pada keahlian dan keterampilan teknis, keberhasilan rektor mela}sanakan tugasnya juga bergantung pada kemampuan dan kemauannya untuk mempengaruhi orang lain,

jika

perlu dengan paksaan. Kemampuan tersebut dinamakan

juga

kekuasaan. Kekuasaan

tidak

langsung bekerja mencapai tujuan

-hal

itu dilakukan oleh unsur pelaksana: mengefektitkan dan mengefisiensikannya. Kekuasaan (cracy) dtlancarkan dari belakang meja (bureau), maka oleh karena itu disebut juga bureaucrac) atav birokrasi. Pemegang birokrasi tertinggi di dalam suatu organisasi adalah kepala organisasi itu. Ilersama-sama dengan pemegang birokrsai

di

bawahnya, terbentuklah

jaringan

birokrasi,

sekaligus sebagai jaringan kekep alaan.

Dialektika Ilmu Pemerintahan

T[gas dan tanggung jawab seorang kepala, luas, dalam, dan kompleks.

Luas berarti berekstensitas, dalam berarti berintensitas, dan kompleks, berarti setiap tugas berkaitan satu dengan orang lain. Seirama dengan perkembangan keadaan tugas dan tanggung jawab kepala semakin besar dan berat. Selaku manusia, kepala memiliki keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan, sekalipun ia berkelebihan dibanding dengan orang lain.

oleh

karena itu, setiap kepala memerlukan orang lain.

Di

samping melalui dirinya sendiri, kepala dapat memperluas, mempertinggi, memperdalam, dan mempertaj am kemampuannya melalui orang

lain.

Kepala dapat memultiplikasi dan mengamplifikasikan dirinya denganjalan mendelegasikan sebagian intensitas tugasnya kepada orang lain. Seluruh ekstensitas tugas kepala dapat didelegasikan, tetapi intensitasnya, tidak. Sebagian intensitas tugas kepala bersifat delegabel, tetapi sebagian lain tetap sebagai tugas kepala secara pribadi (personarfu,bukan priuatefu;yaifitugas kepala yang tidak dapat dan tidak boleh dideregasikan kepada siapa pun). Usaha kepala memenuhi tanggung jawab melalui orang lain (bukan unsur pelaksana) disebut delegasi.Jika orang lain itu bawahannya, delegasi yang bersangkutan disebut delegasi organisasional, dan

jika

orang lain

itu

masyarakat, disebut delegasi sosial. Orang lain dalam delegasi organisasional disebut staf, sedang orang lain dalam delegasi sasial disebut partisipan.

Beberapa Tugas Kepala Pribadi (TKP) adalah sebagai berikut.

l.

Pertanggungjawaban tertinggi/terakhir.

2.

Pengambilan keputusan dan pemberian perintah.

3'

Pemberian teladan (bukan patronase, simulasi, atau peragaan).

4.

Pembinaan terhadap bawahan atau partisipan sehingga yang bersangkutan

mampu

berkembang sedapat-dapatnya

melebihi

kualitas kepala

itu

sendiri.

5.

Pelopor pembaharuan/perubahan sosial.

6.

Pengendalian organisasi di saat kritis.

7.

Pemberian petuah, fatwa, atau nasihat.

B.

Kehadiran seremonial,/protokoler.

9.

Lambang persatuan/kesatuan.

10. Sumber kearifan (ruisdom\.

Jadi, terdapat tiga unsur organisasi, yaitu unsur pelaksana, unsur kepala, dan unsur staf. Hubungan antara ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut.

Ilmu Pemerintahan di Lingkungan Institut Ilmu pemerintahan ...

13r

(EE)

r-*

I

Multiplikasi Amplitikasi

(EE) Pengepalaan

-->

S 'P -->

^

I '

59

YF(D t,lJ

Unsur

Kedua

IU

Kepala

(r) Pelaksanaan Usaha

-->

ft

Langsung MencaPai +

I uluan

I

I

Unsur Pertama Pelaksana

EE : Efektivitas Efisiensi

T

: Tuiuan

TKP : Tugas KePala Pribadi lntensitils --->

Unsur Ketiga St€I

H ub unsan o

"rfi,llti1lut^s u r o rsan isasi

Menurut EE. Kast

dan

J.li.

Rosenzweig dalam

bttku

Or,ganiZation and Managurwnt(l974:6),manajemen meliputi koordinasi sumber-sumber manusiawi dan fisik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui orang lain. oleh karena itu, usaha kepala untuk memenuhi tanggungjawabnya melalui orang lain dapat disebut manajemen, sedangkan yang melalui dirinya sendiri disebut tugas-Lepala-pribadi (pribadi di sini berarti "personall1,t," bukan "pritatzlt") dan tanggungjawab yang bersangkutan disebut Tanggungjawab Kepala Pribadi

(TKP).

S.orung kepala harus memiliki kedua-duanya, kepala yang hanya memiliki kemampuan managerizrl ibarat benang tanpajarum, sedangkan kepala yang hanya memiliki kemampuzLn

TKP

ibarat jarum tanpa benang'

Perihal sesuatu sebagai kepala suatu badan disebut kekepalaan' Istilah

ini tidak terdapat dalam

Kamus [Jmum Bahasa Indonesia

karangan

WJS Poerwadarminta tahun 1976. Iiahasa Inggrisnya headship. Tidak terdapatnya istilah tersebut dalam kamus Batrasa Indonesia merupakan sebuah tanda bahwa istilah

itu

tidak atau

jarang

se.kali digunakan orang, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun

di

kalangan

ilmu

pengetahuan.

Istilah yang

sering terdengar adalah kepemimpina.n atau pimpinan'

Sesungguhnya konsep kekepalaan merupakan salah satu konsep dasar bagi ilmu-ilmu yang menyangktrt negara atau pemerintahan' Da'lam

UUD

ada istiiah kepala negara, dalam br:rbagai

UU

ada istilah kepala <laerah, kepala biro, dan sebagainya.

Pendekatan dari segi "publir ibolir)" ada kalanya dikaitkan dengan pendekatan sistem. Mark

V

Nadel, "Tfu Hiddm Dmmsi.oru of fublb poliry: Priuatu Gouernmmts

't-

o(d

o

o)

Jo

IJJ

v

r32 Dialektika Ilmu Pemerintahan

Dalam dokumen ISI.pdf (Halaman 135-156)