BAB III
IKSS 1: Indeks persepsi TPPU dan pendanaan terorisme 1. Persepektif Pemangku Kepentingan
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 27
keefektifan kinerja pencegahan dan pemberantasan TPPU yang dinilai dari perspektif publik, sedangkan IPP TPPT merupakan indeks komposit tertimbang dari 67 indikator yang secara substansi dan bersama-sama menggambarkan tingkat keefektifan kinerja pencegahan dan pemberantasan TPPU yang dinilai dari perspektif publik.
Indonesia telah menyusun Indeks Persepsi Publik APUPPT sejak tahun 2015 sebagai bentuk public outreach yang dilakukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat atas risiko pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan senjata pemusnah massal. Indeks Persepsi Publik APUPPT merupakan salah satu program strategis PPATK yang bertujuan untuk mengukur perkembangan tingkat efektivitas kinerja rezim APUPPT dan perspektif publik secara periodik.
Pelaksanaan Indeks Persepsi Publik Anti Pencucian Uang dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme (IPP APUPPT) tahun 2018 adalah tahun ketiga sejak dilaksanakan kali pertama secara masif pada tingkat nasional pada tahun 2016. IPP APUPPT tahun 2018 disusun bersama-sama dengan enam belas kementerian/lembaga rezim APU PPT dan melibatkan para akademisi dari tujuh universitas yang telah memiliki MoU dengan PPATK.
Penyusunan IPP APUPPT tahun 2018 bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal, sebagai berikut:
1. Risiko pencucian uang.
2. Risiko pendanaan terorisme.
3. Risiko radikalisme.
4. Risiko pendanaan proliferasi.
5. Risiko politik uang dan pelanggaran dana kampanye.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 28
Gambar 3.1
Rezim APU PPT di Indonesia
Penyusunan indeks dilakukan berdasarkan data hasil survei dengan responden rumah tangga di Indonesia. Pemilihan sampel survei menggunakan probabilistic sampling dengan pendekatan complex random sampling. Sampel terdiri dari 11.040 rumah tangga yang tersebar di 1.104 desa/kelurahan di 172 kabupaten/kota pada 34 provinsi di Indonesia. Pada setiap desa/kelurahan dipilih 10 rumah tangga secara random. Pada setiap rumah tangga yang terpilih sebagai sampel akan dipilih seorang anggota rumah tangga berusia 17 tahun ke atas sebagai responden. Pada satu desa/kelurahan lokus survei dipilih secara acak dan proporsional sebanyak sepuluh responden dengan profil/profesinya bersifat unik (tidak terduplikasi).
Berdasarkan konstruk variabelnya, Indeks Persepsi Publik terhadap TPPU dan TPPT dibangun berdasarkan dua dimensi utama, yaitu dimensi tingkat pemahaman publik terhadap TPPU/TPPT dan dimensi keefektifan kinerja rezim APUPPT. Dimensi tingkat pemahaman publik diukur oleh lima aspek, yakni karakteristik TPPU/TPPT, pelaku utama TPPU/TPPT, pelaku terkait TPPU/TPPT, sumber dana TPPU/TPPT, dan faktor pendorong terjadinya TPPU/TPPT. Sementara itu, dimensi keefektifan kinerja rezim APUPPT diukur oleh dua aspek, yaitu keefektifan kinerja rezim pencegahan dan keefektifan kinerja rezim pemberantasan.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 29
Gambar 3.2
Variabel IPP APU PPT
Indeks Persepsi Publik terhadap TPPU dan TPPT diukur dalam skala 0-10. Nilai 0 menunjukkan bahwa tingkat efektivitas kinerja rezim APUPPT (dari sisi pencegahan maupun pemberantasan) di Indonesia dinilai oleh publik adalah sangat rendah (terendah) dan nilai 10 menunjukkan bahwa tingkat efektivitas kinerja rezim APUPPT (dari sisi pencegahan maupun pemberantasan) di Indonesia dinilai oleh publik adalah sangat baik (tertinggi). Indeks Persepsi Publik (IPP) dihitung secara terpisah untuk TPPU dan TPPT.
Dengan demikian, terdapat dua indeks utama, yakni Indeks Persepsi Publik Terhadap TPPU (IPP TPPU) dan Indeks Persepsi Publik terhadap TPPT (IPP TPPT).
Gambar 3.3
Hasil Indeks Persepsi Publik Tahun 2018
IPP APU-PPT 5,46
IPP TPPU 5,68
PEMAHAMAN 5,79
KARAKTERISTIK 5,96
PELAKU AKTIF 4,97
PELAKU PASIF 5,39
SUMBER DANA 5,95
FAKTOR PENDORONG
6,32
KEEFEKTIFAN KINERJA
5,52
KEEFEKTIFAN PENCEGAHAN
5,33
KEEFEKTIFAN PEMBERANTASAN
5,75
IPP TPPT 5,24
PEMAHAMAN 5,06
KARAKTERISTIK 5,68
PELAKU UTAMA 3,73
PELAKU TERKAIT 5,11
SUMBER DANA 5,76
FAKTOR PENDORONG
6,34
KEEFEKTIFAN KINERJA
5,33
KEEFEKTIFAN PENCEGAHAN
5,46
KEEFEKTIFAN PEMBERANTASAN
5,59
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 30
Hasil perhitungan IPP TPPU tahun 2018 sebesar 5,68 menunjukkan bahwa tingkat efektivitas rezim dalam penanganan TPPU masih belum memuaskan. Kondisi ini terlihat pada dimensi tingkat pemahaman publik terhadap TPPU sebesar 5,79 dan dimensi tingkat keefektifan kinerja rezim anti pencucian uang sebesar 5,52.
Hasil perhitungan IPP TPPT tahun 2018 sebesar 5,24 menunjukkan bahwa tingkat efektivitas rezim dalam penanganan TPPT masih belum memuaskan, bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat keefektifan penanganan TPPU sebesar 5,68.
Bila dibandingkan menurut dimensi pembentuk IPP-TPPT, penilaian publik terhadap keefektifan kinerja rezim Anti PPT sebesar 5,33 lebih baik daripada tingkat pemahaman publik terhadap TPPT sebesar 5,06.
Gambar 3.4
Perbandingan Hasil IPP APU PPT Tahun 2016-2018
Berdasarkan evidence based hasil pengukuran tahun 2018, diketahui bahwa tingkat efektivitas kinerja rezim APUPPT Indonesia dinilai publik sudah cukup baik. Namun demikian, masih diperlukan upaya yang lebih taktis dari seluruh stakeholders untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap karakteristik regulasi, risiko TPPU dan TPPT, serta kinerja rezim APUPPT di Indonesia. Kondisi ini tercermin dari pencapaian nilai IPP APUPPT tahun 2018 sebesar 5,46 indeks. Publik menilai tingkat efektivitas kinerja pencegahan dan pemberantasan lebih baik pada penanganan TPPU daripada TPPT. Nilai IPP TPPU sebesar 5,68 indeks lebih tinggi dibandingkan nilai IPP TPPT sebesar 5,24 indeks.
Pencapaian kinerja pencegahan dan pemberantasan TPPU dan TPPT di Indonesia secara umum masih belum memuaskan. Hasil survei tahun 2018 memperlihatkan adanya
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 31
peningkatan efektivitas kinerja dibandingkan tahun 2016 dan tahun 2017. Selama periode 2016-2018, Indeks IPP APU PPT meningkat dari 5,21 indeks menjadi 5,46 indeks. Indeks IPP TPPU meningkat dari 5,52 indeks menjadi 5,68 indeks, sedangkan IPP TPPT meningkat cukup tinggi dari 4,89 indeks menjadi 5,24 indeks.
Tabel 3.2
Perbandingan Realisasi Kinerja IKSS ke-1 Tahun 2017-2018 Indikator Kinerja
Sasaran Strategis
Tahun 2017 Tahun 2018
Target Realisasi Capaian Target Realisasi Capaian Indeks Persepsi TPPU dan
Pendanaan Terorisme
5,05 indeks
5,31 indeks
105,15% 5,15 indeks
5,46 indeks
106,02%
Pada tahun 2018, PPATK menargetkan kinerja indikator kinerja Indeks Persepsi TPPU dan Pendanaan Terorisme dengan nilai sebesar 5,15 indeks. Realisasi kinerja indikator kinerja adalah 5,46 indeks dari skala 10, sehingga capaian kinerja indikator kinerja tersebut adalah 106,02%. Realisasi kinerja tahun 2018 meningkat 0,15 indeks atau 2,82% apabila dibandingkan dengan realisasi kinerja tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat efektivitas kinerja rezim APUPPT dari sisi pencegahan maupun pemberantasan di Indonesia dinilai cukup baik oleh publik.
Tabel 3.3
Perbandingan Realisasi IKSS ke-1 Tahun 2018 dengan Target Tahun 2015-2019
IKSS Target Tahun Realisasi
Tahun 2018
Persentase Realisasi Dibanding
Target Tahun 2019 2015 2016 2017 2018 2019
Indeks Persepsi TPPU dan pendanaan terorisme
Indepth study
5 indeks
5,05 indeks
5,15 indeks
5,3 indeks
5,46 indeks
103,02%
Perbandingan realisasi kinerja tahun 2018 terhadap target tahun 2019 adalah 103,02% Realisasi kinerja tahun 2018 berhasil mencapai target kinerja. Keberhasilan pelaksanaan indeks persepsi TPPU dan pendanaan terorisme didukung oleh hal-hal, sebagai berikut:
1. Penginputan dan pengolahan data survei indeks persepsi TPPU menggunakan aplikasi online, sehingga data dapat terpantau secara real time.
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 32
2. Berkoordinasi dengan para akademisi dan tim ahli dari BPS dan Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi, serta stakeholders rezim APUPPT untuk pembahasan metode dan penyusunan kuesioner.
3. Penggunaan jasa pihak ketiga dalam pelaksanaan penyebaran kuesioner dan wawancara dengan responden.
Sasaran Strategis 2 bertujuan untuk memantau tindak lanjut rekomendasi- rekomendasi PPATK dan FATF yang disampaikan kepada pemerintah di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Pencapaian sasaran strategis 2 diukur melalui tiga IKSS, yaitu:
1. Persentase rekomendasi PPATK dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme yang ditindaklanjuti.
2. Persentase rekomendasi FATF yang diadopsi dalam kebijakan domestik.
3. Persentase rekomendasi National Risk Assessment (NRA).
Pada tahun 2018, rata-rata pencapaian kinerja SS 2 adalah 112,13%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa capaian kinerja SS 2 sudah sangat baik.
Tabel 3.4
Capaian Kinerja Sasaran Strategis ke-2 PPATK Tahun 2018
NO. INDIKATOR KINERJA SASARAN STRATEGIS (IKSS)
TARGET TAHUN 2018
REALISASI TAHUN 2018
CAPAIAN TAHUN 2018 1 Persentase rekomendasi PPATK dalam
pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme yang ditindaklanjuti.
95% 100% 105,26%
2 Persentase rekomendasi FATF yang diadopsi dalam kebijakan domestik.
60% 87,50% 120%
3 Persentase rekomendasi NRA yang ditindaklanjuti.
80% 88,89% 111,11%
Rata-rata capaian kinerja 112,13%
Sasaran Strategis 2:
Meningkatnya tindak lanjut atas rekomendasi pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme
PPATK |LAPORAN KINERJA TAHUN 2O18 33
PPATK merencanakan target kinerja indikator kinerja persentase rekomendasi PPATK dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme yang ditindaklanjuti sebesar 95% dengan realisasi kinerja sebesar 100%. PPATK telah menyampaikan seluruh rekomendasi dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme kepada para pemangku kepentingan, dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia dan seluruh rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti. Dengan demikian, capaian kinerja indikator kinerja tersebut sebesar 105,26%.
Untuk dapat mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme, maka unsur pendanaan merupakan salah satu faktor utama dalam setiap aksi terorisme, sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme harus diikuti dengan upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap pendanaan terorisme. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013, transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme adalah:
1. Transaksi keuangan dengan maksud untuk digunakan dan/atau yang diketahui akan digunakan untuk melakukan tindak pidana terorisme; atau
2. Transaksi yang melibatkan setiap orang berdasarkan Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT).
Selain undang-undang tersebut, terdapat Peraturan Bersama Nomor 01/PB/MA/II/2015; Nomor 03 Tahun 2015; Nomor 1 Tahun 2015; Nomor B.66/K.BNPT/2/2015; Nomor 01/1.02/PPATK/2/15 tentang Pencantuman Identitas Orang dan Korporasi Dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris, dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang Tercantum Dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris.
Sembilan rekomendasi yang telah disampaikan kepada Kepolisian Republik Indonesia selama tahun 2018, yaitu:
IKSS 2: Persentase rekomendasi PPATK dalam pencegahan dan