BAB II KAJIAN TEORI
III.4 Instrumen Penelitian .1 Bleep Test
Penelitian, secara umum, mengukur proses alam dan sosial. Membuat laporan dari pada melakukan penelitian lebih dapat diterima jika menggunakan data yang
sudah tersedia. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Emory dalam Sugiono (2009:148) ia berpendapat bahwa ‘Skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian.
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan sebuah pengukuran, maka perlu ada alat ukur yang baik. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:198) “untuk mengukur ada atau tidak, serta besarnya kemampuan objek yang diteliti digunakan tes. Instrumen yang berupa tes ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar, pencapaian atau prestasi”. Sedangkan menurut Sugiyono (2015:92) instrument penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur nilai variable yang diteliti.
Berdasarkan uraian diatas dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengukur kapasitas aerobic maksimal (VO2Max) dilakukan dengan cara Bleep Test.
Menurut Nurhasan & Hasanudin Cholil (2007: 76) perlengkapan yang digunakan yaitu:
1. Rekaman suara irama tes bleep.
2. Sound speaker.
3. Lintasan lari dengan jarak yang bermarka 20 meter pada permukaan yang datar, rata, dan tidak licin.
4. Kerucut pembatas atau cone.
5. Formular penilaian.
Prosedur pelaksanaan Bleep Test adalah sebagai berikut:
A. Tes bleep dilakukan dengan lari menempuh jarak 20 meter bolak-balik, yang dimulai dengan lari pelan-pelan secara bertahap yang semakin lama semakin cepat hingga atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari, berarti kemampuan maksimalnya pada level bolak-balik tersebut.
B. Waktu setiap level 1 menit.
C. Pada level 1 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 8,6 detik dalam 7 kali bolakbalik.
D. Pada level 2 dan 3 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 7,5 detik dalam 8 kali bolak-balik.
20 meter
E.Pada level 4 dan 5 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 6,7 detik dalam 9 kali bolak-balik, dan seterusnya.
F.Setiap jarak 20 meter telah ditempuh, dan pada setiap akhir level, akan terdengar tanda bunyi 1 kali.
G. Start dilakukan dengan berdiri, dan kedua kaki di belakang garis start. Dengan aba-aba “siap ya”, atlet lari sesuai dengan irama menuju garis batas hingga satu kaki melewati garis batas.
H. Bila tanda bunyi belum terdengar, atlet telah melampuai garis batas, tetapi untuk lari balik harus menunggu tanda bunyi. Sebaliknya, bila telah ada tanda bunyi atlet belum sampai pada garis batas, atlet harus mempercepat lari sampai melewati garis batas dan segera kembali lari ke arah sebaliknya.
I. Bila dua kali berurutan atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari berarti kemampuan maksimalnya hanya pada level dan balikan tersebut.
J. Setelah atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari, atlet tidak boleh terus berhenti, tetapi tetap meneruskan lari pelan-pelan selama 3-5 menit untuk cooling down.
Gambar 2. Lintasan Bleep Test
Tabel 3.2 Norma Bleep Test (Kapasitas Aerobik Maksimal)
Tingkat (Level)
Bolak- Balik
Prediksi VO2
Max
Tingkat
(Level) Bolak- Balik Prediksi VO2
Max
1 17,2 1 20
2 17.6 2 20,4
3 18 3 20,8
1 4 18,4
2 4 21,2
5 18,8 5 21,6
6 19,2 6 22
7 19,6 7 22,4
8 22,8
Tingkat (Level)
Bolak- Balik
Prediksi VO2 Max
Tingkat (Level)
Bolak- Balik Prediksi VO2
Max
5
1 29,86
1 33,22 30,2 2 33,6
3 30,6 3 33,9
4 31 4 34,3
5 31,4 5 34,7
6 31,8 6 35
7 32,4 7 35,4
8 32,6 8 35,7
9 32,9 9 36
Tingkat (Level)
Bolak- Balik
Prediksi VO2 Max
Tingkat (Level)
Bolak- Balik
Prediksi VO2
Max
3
1 23,2
4
1 26,4
2 23,6 2 26,8
3 24 3 27,2
4 24,4 4 27,2
5 24,8 5 27,6
6 25,2 6 28
7 25,6 7 28,7
8 26 8 29,1
9 29,5
10 36,4
Tingkat (Level)
Bolak - Balik
Prediksi VO2 Max
Tingkat (Level)
Bolak- Balik
Prediksi VO2
Max
7 8
1 36,8 1 40,2
2 37,1 2 40,5
3 37,5 3 40,8
4 37,5 4 41,1
5 38,2 5 41,5
6 38,5 6 41,8
7 38,9 7 42
8 39,2 8 42,2
9 39,6 9 42,6
10 39,9 10 42,9
11 43,3
(Sumber: Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta, 2003) III.4.2 Skill Tenik Pencak Silat
Pemilihan instrumen test dan pengukuran koordinasi serangan tendangan dan pukulan pencak silat selama 30 detik berdasarkan kaidah fisiologi dan disesuaikan dengan karakteristik pertandingan pencak silat, sehingga dianggap valid dan reliabel untuk digunakan mengukur kemampuan performa atlet pencak silat kategori tanding (Lubis & Wardoyo, 2014: 196).
Gambar 3.1
Jenis Tes : Pengukuran koordinasi serangan tendangan dan pukulan Tujuan : Untuk mengukur koordinasi dan performa
Alat/fasilitas : 1) Samsak
2) Pluit 3) Stopwatch
Pelaksanaan : Subyek berdiri di belakang samsak kemudian melakukan serangan dengan tendangan dan pukulan ke arah handbox pada sasaran dengan ketinggian 100 cm.
Petugas :
1) Pengukur ketinggian samsak
2) Pencatat jumlah tendangan dan pukulan 3) Stopwatch
Penilaian :
Tabel 3.3 Penilaian Tes Koordinasi Tendangan dan Pukulan
Kategori Putra
Baik Sekali >50
Baik 40-49
Cukup 36-39
Kurang 30-35
Kurang Sekali <29
Sumber : (Lubis.,2014: 203)
Penilaian skor berdasarkan hasil pukulan dan tendangan selama 30 detik III.5 Prosedur Penelitian
III.5.1 Metode Interval Training
Latihan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu metode interval, menurut syafruddin (2004:34) pertukaran yang sistematis dari pembebanan dan pemulihan akan ditemui dalam metode ini, yang dapat meningkatkan daya tahan kecepatan, yang merupakan kemampuan penting untuk beberapa cabang olahraga, dan Syafruddin (1999:91) menyatakan “prinsip interval merupakan prinsip latihan berdasarkan suatu pergantian periode (Sistimatis, siklus, rithmis, phase) dari pembebanan dan pemulihan atau bekerja dan istirahat atau dari tinggi rendahnya pembebanan”. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa metode interval adalah suatu metode latihan yang dilakukan dengan adanya selang waktu antara latihan dan istirahat. Berikut adalah pelaksanan latihan interval :
1. Distance
Lamanya latihan, diartikan dengan jarak lari yang harus di tempuh umumnya kita akan menemukan angka-angka seperti 100 meter, 200 meter, 400 meter, 800 meter, 1600 meter, dan lain-lain.
2. Intensitas
Menentukan beban atau intensitas latihan, dengan waktu (tempo) untuk jarak tersebut dengan cara tentukan waktu 60%-70% dari kecepatan maksimal.
Berikut cara menentukan intensitas latihan menurut Andri (2015:16):
- Uji terlebih dahulu kecepatan maximal lari dari setiap anggota, missal 400 meter.
- Setelah diketahui kecepatan maksimalnya 70 detik dan 80 detik, kalikan dengan rumus di bawah ini:
- M ak a
diketahui intensitas lari 70% kelvin adalah 1.3x70= 91 detik.
3. Repetisi
Perulangan, merupakan jumlah high intensity session yang harus dilakukan oleh seorang atlet. Dalam latihan yang panjang, repetisi bisa dibagi menjadi set dengan periode recovery antar set yang lebih Panjang
4. Interval
Masa istirahat (recovery) interval setiap repetisinya, dengan menghitung denyut nadi 120-130/menit (Harsono 2018:23)
III.5.2 Metode Continous Run
Latihan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu metode continuous run, menurut Sukadiyanto (2011:69) memberikan penjelasan bahwa teknik latihan continuous run dengan pemberian beban biasanya berlangsung lama, dengan jangka waktu yang lebih pendek tergantung pada lamanya cabang olahraga yang dilakukan.
Secara sederhana dapat continuous run adalah jenis latihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan daya tahan dengan berlari dengan intensitas konstan tanpa istirahat sebelum waktu pelaksanaan selesai.
Tujuan Meningkatkan kemampuan aerobic
Metode Lari secara terus-menerus (Continous Run)
Intensitas 70-80%
Irama Sedang (Kecepatannya)
Denyut Jantung 140-160x/menit
Durasi >30 menit
Frekuensi 3x/minggu
Tabel 1 Norma Metode Continous Run
Bagan berikut menunjukkan bagaimana peneliti melakukan penelitian ini:
Nama Intensitas
100% 90% 80% 70% 60%
Agung 70 Detik 1,1 x 70 1,2 x 70 1,3 x 70 1,4 x 70 Ihsan 80 Detik 1,1 x 80 1,2 x 80 1,3 x 80 1,4 x 80