BAB II KAJIAN TEORI
II.1 Pencak Silat
II.2.1 Sistem Energi
Menurut Husein Argasmita (2007) daya tahan adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau aktifitas olahraga dalam jangka waktu lama tanpa adanya rasa kelelahan yag berati. Daya tahan akan relatif lebih baik untuk mereka yang memiliki kebugaran jasmani yang baik, yang menyebabkan memiliki tubuh yang mampu melakukan aktifitas terus menerus dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berati dan tubuh memiliki tenaga cadangan untuk melakukan aktifitas yang bersifat cepat (Tohir Cholik dan Ali Maksum, 2007:54)
Berbicara mengenai daya tahan, tentunya tidak akan lepas dari sistem energi tubuh yang dipakai pada saat seseorang mempertahankan kinerjanya dalam waktu yang lama. Pada hakikatnya menurut Harsono (2018: 12-14) sistem energi tubuh manusia itu terbagi menjadi 3 bagian yaitu sistem aerobik, anaerobik alaktik dan anaerobik laktik.
A. Sistem Energi Aerobik
Sistem energi aerob adalah sistem energi tubuh di mana mekanisme penyediaan energi untuk mewujudkan gerak yang bergantung pada kebutuhan O2. Setiap orang membutuhkan daya tahan kardiovaskuler untuk melakukan
aktivitas, terutama berolahraga. Tanpa daya tahan kardiovaskuler yang baik, sulit bagi seseorang untuk melakukan olahraga dengan baik. Namun, lamanya berlangsung tergantung pada kemampuan fungsional sistem kerja sekunder dalam memasok oksigen sehingga tanpa peran serta cardiopilmona-respitory yang baik pengolahan aerob tidak mungkin terlaksana dan aktivitas kerja otot, tulang, dan persendian akan terhenti (Sidik. 2019: 153).
Sistem energi tubuh yang utama adalah metabolisme aerobik. Sistem ini memberi energi bagi pembaharuan ATP dengan oksidasi karbohidrat, lemak dan protein yang disimpan dalam sel. Tidak seperti sistem anaerobik, metabolisme aerobik sangat efisien dan pada akhirnya tidak mengahsilkan kelelahan. Jadi, tubuh kebanyakan menggunakan sistem energi ini untuk jangkauan terbesar yang dimungkin. Metabolisme aerobik mencakup banyak reaksi kimiawi yang membutuhkan bantuan oksigen, karena aerobik mengacu pada menggunakan bantuan oksigen. Setelah 120 detik, asam laktat tidak dapat diresintesis untuk menghasilkan energi.
Metabolisme aerobik benar-benar menyediakan seluruh energi ATP yang dibutuhkan otot selama latihan dengan intensitas sedang dan rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh fakta bahwa sistem metabolisme aerobik sangat bergantung pada latihan dengan intensitas sedang dan rendah, yang memungkinkan sistem pernapasan jantung untuk mengangkut oksigen ke otot secara teratur (Pate, 1993: 239).
Glikolisis adalah pemecahan glikogen secara kimiawi, sedangkan glikolisis aerobik adalah pemecahan glikogen dengan bantuan oksigen. Ada perbedaan antara glikolisis aerobik dan glikolisis anaerobik, yaitu dengan adanya bantuan oksigen maka asam laktat tidak tertimbun di dalam otot. Dengan kata lain berkat bantuan oksigen akan menghambat terjadinya timbunan asam laktat di dalam otot, tetapi oksigen tersebut tidak meresintesis ATP. Peran oksigen dalam metabolisme aerobik tidak boleh diabaikan. Mudahnya, tanpa oksigen metabolisme aerobik tidak mungkin terjadi karena selama latihan metabolisme aerobik terjadi di dalam mitikondria pada serabut otot
Selanjutnya aktivitas fisik yang menggunakan sistem energi aerobik cenderung menggunakan power rendah dan berhubungan erat dengan daya tahan
kardiorespirasi. Sedangkan aktivitas fisik yang berasal dari sistem energi anaerobik memiliki kecenderungan menggunakan power yang tinggi dan berkaitan erat dengan power otot serta ketahanan otot. Berikut adalah ciri-ciri sistem aerob : (1) intensitas kerja sedang; (2) durasi kerja lebih dari tiga menit;
(3) irama gerak (kerja) lancar dan konsisten (kontinyu); dan (4) pembentukan karbondioksida+air (CO2+H2O) selama aktivitas.
Dalam pertandingan pencak silat kategori tanding, sistem energi aerobik tetap diperlukan untuk pembentukan ATP. Tingkat penggunaan bantuan oksigen membedakan sistem energi anaerobik dari aerobik. Ketiga sistem energi bekerja sama dan memenuhi satu sama lain selama otot bekerja. Oleh karena itu, sistem energi terdiri dari serangkaian proses yang berfungsi secara bersamaan untuk pemenuhan tenaga (Soekarman, 1991: 17).
B. Sistem Energi Anaerobik
Dua jenis sistem energi anaerobik adalah sistem energi anaerobik alaktik dan sistem energi anaerobik laktik. Sistem AT-PPC menyediakan sistem energi anaerobik alaktik, sedangkan sistem asam laktat menyediakan sistem energi anaerobik laktik (Bompa, 1994: 22). Kedua jenis sistem energi tersebut tidak membutuhkan bantuan oksigen (O2) yang banyak. ATP menyediakan semua energi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh dalam situasi di mana tidak ada sistem energi tambahan, ia hanya melakukan pekerjaan selama kira- kira 6 (enam) detik.
Sistem energi anaerobik alaktik biasanya habis dalam 10 detik Shepard (1978: 9-15). Jika sistem energi ATP dapat dibantu oleh sistem energi Phospho Creatin (PC) yang tersimpan di sel otot, kerja otot dapat berlangsung lebih lama (Nossek, 1982 dalam Awan Hariono, 2006: 28). Namun, sistem glikolisis anaerobik atau asam laktat dapat memperpanjang kerja otot selama sekitar 120 detik (McArdle et al., 1986: 348).
Jumlah ATP dalam otot sangat terbatas, sehingga perlu dibuat ATP baru agar sumber energi tidak segera habis. Namun, sejumlah sistem di dalam otot berfungsi sebagai perantara dan secara teratur menghasilkan ATP dari ADP.
Akibatnya, ada cukup ATP untuk melakukan aktivitas selama intensitas rendah hingga sedang (Shadiqin, 2013: 29). Aktivitas anaerobik adalah aktivitas yang
sangat intens yang membutuhkan banyak energi dalam waktu yang singkat tetapi tidak dapat dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang lama.
Biasanya, aktivitas anaerobik juga membutuhkan waktu istirahat untuk meregenerasi ATP, yang memungkinkan aktivitas tersebut dapat dilanjutkan (Anwari, 2007: 2).
Pada proses pemenuhan energi, fosfat kreatin adalah sumber energi yang paling cepat membentuk ATP. Lebih sering disebut sebagai sistem fosfagen, ATP dan PC adalah sumber energi yang dapat digunakan secara cepat yang tidak memerlukan oksigen (O2), dan jumlah sistem ATP-PC dapat ditingkatkan melalui latihan yang melibatkan gerakan yang cepat dan pembebanan yang tinggi (Soekarman, 1991 dalam Awan Hariono, 2006: 29).
Menurut Awan Hariono (2006:29) Pemecahan creatin dan fosfat menghasilkan pembentukan ATP. Ini menghasilkan energi yang digunakan untuk meresintesis ADP+P menjadi ATP dan kemudian dirubah lagi menjadi ADP+P, yang menghasilkan pelepasan energi yang diperlukan untuk kontraksi otot. Perubahan CP ke C+P, sebaliknya, menghasilkan energi yang digunakan untuk meresintesis ADP+P menjadi ATP.