• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ialah alat ukur yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dalam rangka memecahkan masalah penelitian dan untuk mencapai tujuan penelitian.45 Sehingga, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut.

44Sugiyono, “Metode...”, hal. 240.

45Jakni, “Metodelogi Penelitian Eksperimen Bidang Pendidikan”, (Jakarta: Alfabeta, 2016), hal 151.

1. Instrumen penelitian a. Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen utama ialah peneliti itu sendiri.46 Peneliti ialah subyek atau pelaku yang melakukan penelitian, sehingga memiliki peranan yang sangat penting dalam identifikasi masalah, memilih subyek sebagai sumber data, pengumpulan data, pembuatan instrumen, analisis data dan sebagai pelopor hasil akhir penelitian.

b. Angket kemandirian belajar matematika

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket atau kuisioner. Instrumen penelitian ialah suatu alat pengumpul data yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.47 Dengan demikian, penggunaan instrumen penelitian yaitu untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah, fenomena alam maupun sosial.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data yang akurat. Pengukuran variabel menggunakan 3 aspek, yaitu: (a) tanggung jawab dan belajar, hal ini terlihat dari adanya rasa percaya pada diri sendiri atas kemampuannya, tidak tergantung secara terus-menerus kepada

46Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D”, (Bandung:Alfabeta, 2016), hal 221.

47Sugiyono, “Metode ...”, hal. 92.

orang lain dan menemukan sendiri arah belajarnya. (b) tegas dalam mengambil keputusan, dalam hal ini terlihat adanya kebebasan dan keberanian dalam mengambil keputusan, selalu mengandalkan diri sendiri dan mampu mengatasi atau memecahkan masalah. (c) memburu minat baru, dalam hal ini bertindak kreatif, keberanian mencoba hal baru, dan mampu menyatakan buah pikiran.

Berikut yaitu penjabaran variabel kemandirian belajar matematika ke dalam indikator serta indikator empiris.

Tabel 3.1

Blue Print Kemandirian Belajar Matematika

Konsep Aspek Indikator Indikator Empiris Jumlah

item

1 2 3 4 5

Kemandirian belajar matematika ialah suatu aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika yang didorong oleh kemauan sendiri tanpa bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah matematika

Tanggung jawab

Bersikap percaya diri

Saya mempersiapkan

perlengkapan belajar sebelum belajar matematika

7

Saya bingung memilih materi matematika yang akan dipelajari Saya apatis terhadap nilai matematika yang diperoleh Saya senang dengan nilai matematika yang baik selama ini sebagai hasil kerja keras dalam belajar

Saya bangga dengan hasil belajar matematika yang saya capai

Saya yakin akan behasil dalam belajar matematika

Saya merasa siap belajar matematika apapun

Mampu untuk tidak selalu bergantung pada orang lain

Saya mengandalkan buku dari sekolah saja untuk mendukung belajar matematika

5

1 2 3 4 5 Kerja sama dengan teman yang

pintar matematika membuat saya merasa bodoh dan rendah diri

Saya lebih suka menunggu bahan ajar pelajaran matematika dari teman/guru daripada mencari sendiri

Saya memanfaatkan

perpustakaan atau internet untuk belajar matematika

Tegas dalam mengambil keputusan

Bersikap berani dalam mengambil keputusan

Saya belajar matematika secara teratur karena banyak manfaatnya bagi kehidupan

5

Adanya tujuan dalam belajar matematika membuat saya semakin bersemangat dan rajin belajar

Saya mengevaluasi lagi pekerjaan ulangan agar hasil belajar matematika semakin lebih baik

Saya merasa nyaman belajar matematika tanpa target atau tujuan yang pasti

Saya mengabaikan strategi belajar matematika yang penting belajar sungguh-sungguh

Mampu mengatasi atau memecahkan masalah sendiri

Saya terpacu belajar lebih giat saat memperoleh nilai ulangan matematika yang kecil

4

Contoh-contoh soal matematika memudahkan saya mengerjakan soal latihan matematika

Saya memilih strategi belajar matematika yang seusia agar belajar lebih efektif dan kondusif

Saya kurang konsentrasi ketika guru memberikan pertanyaan matematika secara tiba-tiba

1 2 3 4 5 Memburu

minat baru

Bertindak kreatif

Saya berdian diri ketika mengalami kesulitan belajar matematika

4

Saya membuat catatan setelah mempelajari suatu materi matematika

Saya berusaha menetapkan tujuan belajar matematika yang ingin saya capai

Saya berusaha menetapkan tujuan belajar matematika yang ingin saya capai

Berani untuk mencoba hal baru

Saya tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugas matematika sampai akhir

3

Saya mengelak mengerjakan tugas-tugas matematika yang sulit, karena saya kurang memahaminya

Saya mengerjakan tugas matematika sesulit apapun untuk meningkatkan kemampuan matematika

Mampu dan berani dalam menyampaikan pendapat

Saya berusaha mengemukakan pendapat saat diskusi matematika walaupun pendapat saya belum tentu benar

2

Saya gugup mengemukakan pendapat tentang matematika yang berbeda dengan orang lain Sumber: Haerudin

Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar kuesioner. Lembar kuesioner yang digunakan dan dibagikan kepada responden berisi sejumlah pernyataan atau pertanyaan mengenai kemandirian belajar matematika. Kuesioner kemandirian belajar matematika itu sendiri terdiri dari beberapa aspek,

diantaranya ialah tanggung jawab, tegas dalam mengambil keputusan, serta memburu minat baru yang dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini.

Tabel 3.2

Jumlah Item Pertanyaan Positif dan Negatif Aspek Indikator Pertanyaan/Pern

yataan

Jumla h Item Positif

(+)

Negatif (-) Tanggung

jawab

Bersikap percaya diri

6, 25, 27, 29.

30

7, 23 7 Mampu untuk

tidak selalu bergantung pada orang lain

8, 19, 4, 16, 17

5

Tegas dalam mengamb il

keputusan

Bersikap berani dalam

mengambil keputusan

1, 12, 24

11, 21 5

Mampu

mengatasi atau memecahkan masalah

5, 18, 20

26 4

Memburu minat baru

Bertindak kreatif

9, 22 2, 10 4 Berani untuk

mencoba hal baru

13, 15 14 3

Mampu dan

berani dalam menyampaikan pendapat

3 28 2

Adapun pemberian skor untuk kemandirian belajar peserta didik dapat ditunjukkan denganskala likert. Peserta didik diminta memberikan pilihan jawaban atau respons dalam skala ukur yang

telah disediakan, misalnya sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.48

Tabel 3.3

Pedoman penskoran angket kemandirian belajar Pilihan Jawaban Pertanyaan

Positif

Pertanyaan Negatif

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

Sumber: Hamid Darmadi

Untuk mengetahui kategori tingkat kemandirian belajar setelah diberikannya angket, maka dibutuhkan rumus pengkategorian yaitu berupa Stok Maksimal ideal (SMax ideal), Stok Minimal ideal (SMin ideal), Mean ideal (Mi), Standar Deviasi ideal (SDi) dan Standar Deviasi (SD).

1) Menentukan stok maksimal ideal dan stok minimal ideal.

SMax ideal = SMin ideal =

2) Menentukan Mean ideal dan Standar deviasi ideal

 Mean ideal (Mi)

48Hamid Darmadi,“Metode Penelitian Pendidikan Dan Sosial”, (Bandung: Alfabeta, 2014), Halaman 145.

 Standar deviasi

3) Memasukkan ke rumus kategori a) Tinggi

Mi + SDi s/d Mi+3SDi

75 + 15 s/d 75 + (3x15)

90 s/d 120

b) Sedang

Mi – 1 SDi s/d Mi + 1 SDi

75 – 15 s/d 75 + 15

60 s/d 90

c) Rendah

Mi – 3 SDi s/d Mi – 1 SDi

75 – (3x15) s/d 75 – 15

30 s/d 60

Tabel 3.4

Kategori Kemandirian Belajar

Kategori Kemandirian Belajar Keterangan

Tinggi

Sedang

Rendah

Sumber: Karunia Eka Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara

c. Tes

Tes yaitu alat ukur untuk pengumpulan data pemahaman konsep dimana dalam memberikan respon atas pertanyaaan dalam instrumen. Subyek diminta untuk mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya dalam memberikan respon pertanyaan dalam tes. Tes disusun sesuai dengan kisi-kisi. Untuk mengetahui tingkat pencapaian tiap indikator kesulitan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan soal tes yang akan diberikan kepada subyek yang berupa 2 butir soal materi bangun datar.

Teknik tes ini dilakukan dalam bentuk tes tertulis yang terdiri dari soal-soal uraian.

d. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara yaitu instrumen non tes yang berupa serangkaian pertanyaan yang dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan data atau informasi tertentu mengenai keadaan responden melalui tanya jawab.49 Pedoman wawancara pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai kesulitan belajar matematika ditinjau dari kemandirian belajar siswa, mulai dari tingat tinggi, sedang dan rendah. Pedoman ini membantu peneliti dalam mempersiapkan proses wawancara yang terencana dan sistematis guna memperoleh informasi yang dibutuhkan. Pedoman wawancara peneliti sajikan pada lampiran 4.

49Karunia Eka Lestari, dan Mokhamad Ridwan Yudhanegara, “Penelitian Pendidikan Matematika”, (Bandung: Pt. Refika Aditama, 2017), 172.

e. Lembar validasi

Lembar validasi digunakan dalam penelitian ini untuk menguji kevalidan instrumen yaitu soal tes bangun datar dan pedoman wawancara. Lembar validasi dari instrumen penelitian tersebut peneliti sajikan pada lampiran 5.

2. Validitas instrumen penelitian

Validitas dalam penelitian ini meliputi validitas instrumen tes dan instrumen non tes. Instrumen tes berupa tes bangun datar, dan instrumen non tes berupa pedoman wawancara. Siyoto mengemukakan bahwa suatu alat ukur yang tidak valid akan menghasilkan kesimpulan yang bias, kurang sesuai dengan yang seharusnya dan akan memberikan informasi yang keliru mengenai keadaan subyek yang dikenai tes.50 Oleh sebab itu, perlu adanya uji validitas instrumen.

Validitas yaitusuatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.

a. Validitas isi (Content Validity)

Validasi isi dari suatu instrumen penelitian ialah ketepatan instrumen tersebut ditinjau dari segi materi yang akan diteliti. Dalam penelitian bidang pendidikan matematika, validasi isi suatu instrumen tes berkenaan dengan kesesuaian butir soal dengan indikator kemampuan yang hendak diukur, kesesuaian dengan standar kompetensi dan kompentensi dasar

50Sindu Siyoto dan M. Ali Sodik, “Dasar Metodelogi Penelitian”, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), 83-84.

serta materi yang diteskan representatif dalam mewakili keseluruhan materi yang diteliti. Dalam penelitian ini, butir soal tes harus memiliki kesesuaian dengan indikator kesulitan belajar matematika pada materi bangun datar. Sedangkan validitas isi instrumen non tes berkenaan dengan kesesuaian item pernyataan atau pertanyaan dengan indikator variabel yang diteliti.51

b. Validitas Konstruk (Construct Validity)

Validitas konstruksi suatu instrumen penelitian berkenaan dengan aspek sikap, kepribadian, motivasi, minat dan bakat. Suatu instrumen dikatakan memiliki validitas konstruksi yang baik apabila kalimat yang digunakan tidak menyinggung pihak-pihak tertentu.52 Dengan kata lain, Validitas konstruk ialah validitas yang ditinjau dari segi susunan, kerangka atau rekaannya, sehingga dapat diperoleh dengan cara melihat tes dari segi susunan dan kerangkanya.

Sebelum digunakan untuk penelitian, instrumen tes dan non tes divalidasi oleh validator yang terdiri dari dua dosen tadris matematika UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan satu Guru mata pelajaran matematika untuk mengetahui instrumen tersebut layak atau tidak digunakan. Apabila

51Lestari, Karunia Eka, dkk, ”Penelitian Pendidikan Matematika”, (Bandung: Pt. Refika Aditama, 2017), 190.

52Lestari, Karunia Eka, dkk, ”Penelitian...”, hal. 192.

instrumen tes dan non tes yang divalidasi belum mencapai kategori valid, maka peneliti akan melakukan revisi, kemudian instrumen akan divalidasi kembali hingga dinyatakan valid oleh validator. Berikut nama-nama validator dalam penelitian ini.

Tabel 3.5

Daftar Validator Instrumen Penelitian

No Nama Validator Jabatan

1 Afifah Nur Aini, M.Pd. Dosen Tadris Matematika UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2 Masrurotullaily, M. Sc. Dosen Tadris Matematika UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

3 Cholilah S.Pd Guru mata pelajaran

matematika di SMP negeri 1 Nguling Pasuruan

Dokumen terkait