5.1. Metode Interpretasi
5.1.4. Metode Interpretasi Hukum dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam metode. 109
5.1.4.4. Interpretasi Sosiologis atau Interpretasi Teleologis
keuangan resmi seperti perbankan kemudian diinvestasikan pada suatu kegiatan bisnis legal sehingga seolah-olah dana itu adalah dana yang didapatkan dari usaha bisnis legal dan halal. Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia dapat dipahami dengan baik apabila memahami sejarah penindasan yang dilakukan oleh pemerintah untuk meredakan gerakan-gerakan pro demokrasi di Indonesia dan isu-isu tentang kesetaraan gender.128
Apabila interpretasi perundang-undangan tertentu didasarkan pada maksud atau tujuan pembentuk perundang-undangan tersebut, maka dengan cara meneliti hasil pembicaraan dan dokumen akademik di Dewan Perwakilan Rakyat yang mendahului terciptanya perundang-undangan tertentu tersebut, maka disebut interpretasi historis menurut undang-undang. Maksud pembenuk perundang-undangan itu tampak dari hasil pembicaraan di Dewan Perwakilan Rakyat. Di sini yang dicari adalah maksud suatu peraturan seperti yang dikehendaki oleh pembentuk undang-undang. Kehendak pembentuk undang- undanglah yang bersifat menentukan. Interpretasi ini juga disebut interpretasi subyektif, karena dipengaruhi oleh pandangan subyektif dari pembentuk undang- undang. Semakin tua undang-undang, maka semakin berkuranglah kegunaan interpretasi historis dan semakin beralasan untuk menggunakan interpretasi sosiologis.129
tidak demikian, maka tidak terjamin dibuatnya suatu keputusan hakim yang sungguh-sungguh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya ada di masyarakat, menurut Ter Haar yaitu hakim harus mencari maatschappelijke werkelijkheid atau realitas masyarakat. Tujuan sosial suatu perundang-undangan tidak senantiasa dapat diketahui dari bunyi kata-kata atau kalimat peraturan perundang-undangan, namun interpretasi hakim terhadap undang-undang lebih dititiktekankan pada tujuan pembuat undang-undanng daripada bunyi kata-kata atau kalimat di dalam undang-undang. Dalam hal demikian hakim mencari tujuan peraturan perundang-undangan. Agar dapat mengetahui tujuan sosial itu maka hakim melakukan interpretasi. Usaha interpretasi dimulai dengan interpretasi menurut bahasa, selanjutnya interpretasi historis. Hakim terlebih dahulu mencari tujuan pembuat undang-undang. Namun Paul Scholten mengatakan bahwa sering terjadi pengetahuan tentang tujuan pembuat undang-undang itulah belum cukup bagi hakim untuk mengetahui arti undang-undang yang bersangkutan dalam hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat pada waktu sekarang.
Walaupun telah ditetapkan dalam suatu undang-undang pada suatu waktu tertentu pada masa silam, masih juga di kemudian hari, arti petunjuk hidup yang bersangkutan dapat berubah, karena pengaruh perubahan keadaan sosial.
Boleh dikatakan bahwa tujuan pembuat undang-undang merupakan suatu unsur yang statis, yaitu suatu momentopname, sedangkan tujuan sosial undang- undang yang pernah dibuatnya menjadi unsur yang dinamis. Dalam hal demikian sistem formal dari hukum itu tidak lagi identik dengan asas-asas semula. Seperti
yang telah dikemukakan bahwa positivitas tidak lagi meliputi realitas atau de positiviteit dekt niet meer de realitet.130
Hakim wajib mencari tujuan sosial baru dari peraturan yang bersangkutan.
Apabila hakim mencarinya, maka masuklah ia ke dalam lapangan pelajaran sosiologi atau studieveld van de sociologie. Sebenarnya interpretasi sosiologis itu adalah suatu alat untuk menyelesaikan sebanyak mungkin “perbedaan”
antara positivitas hukum dan realitas hukum. Sudah barang tentu interpretasi sosiologis menjadi “sangat penting”, apabila hakim wajib menjalankan undang- undang yang ditetapkan pada waktu dulu (yang mengenal aliran-aliran) yang sama sekali berbeda dengan paham-paham yang sekarang ada dalam masyarakat. Tujuan interpretasi sosiologis -berbeda dengan interpretasi historis menurut undang-undang yang subyektif- ditentukan secara obyektif. Misalnya ada sejumlah peraturan perundang-undangan yang dibuat pada jaman kolonial Belanda dan sampai sekarang belum dicabut atau diganti, sebagian peraturan perundang-undangan itu tidak dapat lagi disesuaikan dengan keadaan masyarakat sekarang. Hakim tidak dapat menginterpretasi peraturan perundang- undangan itu sesuai dengan maksud pembuatnya pada jaman kolonial Belanda.
Apabila peraturan-peraturan itu masih ada, maka hakim melalui interpretasi sosiologis terpaksa memberi tujuan sosial baru yang disesuaikan dengan realitas sosial sekarang. Maka jelaslah peran interpretasi hakim di sini, berdasarkan interpretasi sosiologis, putusannya dapat mewujudkan hukum dalam suasana realitas.131
130Utrecht,Op.cit,hlm. 217.
131Utrecht,Ibid.
Interpretasi secara teleologis terjadi apabila makna undang-undang itu ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatan. Peraturan perundang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang baru. Ketentuan undang- undang yang sudah usang digunakan sebagai sarana untuk memecahkan atau menyelesaikan sengketa yang terjadi masa sekarang.
Metode ini baru digunakan apabila kata-kata atau kalimat dalam undang- undang dapat diinterpretasi dengan pelbagai cara. Dapatlah dikatakan bahwa setiap interpretasi pada hakekatnya merupakan interpretasi teleologis. Semakin tua/usang suatu undang-undang maka semakin banyak untuk dicari tujuan pembentuk undang-undang yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Interpretasi teleologis juga disebut interpretasi sosiologis.132
Salah satu contoh dari penerapan interpretasi teleologis atau interpretasi sosiologis adalah KUH Pidana Pasal 362: Barang siapa mengambil susuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimilikinya secara melanggar hukum, diancam karena pencurian dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun. Pada waktu pembuatan peraturan ini, para pembuat peraturan belum berpikir akan munculnya penggunaan listrik pada kehidupan sehari-hari. Dengan demikian ketika terjadi penyadapan atas penggunaan tenaga listrik, maka timbul pertanyaan, apakah listrik termasuk “barang” yang dimaksud oleh KUH Pidana Pasal 362. Apabila termasuk, berarti penyadapan termasuk dalam kualifikasi sebagai mencuri, yaitu mencuri aliran listrik. Ternyata arres Hoge Raad dalam putusannya 23 Mei 1921 menyatakan bahwa listrik termasuk barang menurut KUH Pidana Pasal 362. Pertimbangan dari Hoge
132Sudikno Mertokusumo 1,Op.cit.hlm. 61.
Raad adalah, bahwa tenaga listrik bersifat mandiri dan bernilai ekonomis dan bahwa KUH Pidana Pasal 362 bertujuan untuk melindungi harta kekayaan orang lain.
Di samping metode-metode interpretasi tersebut di atas, masih dikenal metode interpretasi komparatif dan metode interpretasi antisipatif.