• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.7 Analisis Molekular Pada Tanaman Yang Diubah

4.7.2 Isolasi DNA genom

Daun bibit kelapa sawit dengan daun yang cukup untuk diekstraksi diberi label. Cara pemberian label yaitu daun yang dihasilkan diberi kode tertentu seperti pada Tabel 4.3 pada masing-masing tanaman. Daun diisolasi menggunakan metode CTAB. DNA genom yang telah diisolasi dari jaringan kelapa sawit dianalisis secara spektrofotometri yang berguna dalam penentuan kemurnian DNA. Untuk menentukan kualitas DNA digunakan rasio A 260/A 280. DNA antara 1,7 - 2,0 yang

bla

Puc 3

Nos

Gambar 4.5 Vektor pADST 35 ditransformasikan ke dalam sistem kelapa sawit. Vektor ini memiliki gen desaturase dalam pengaturan antisense, promotor ubiquitin (Christiensen et al. 1992), terminator nos dan gen bar untuk seleksi transformasi.

merupakan rasio yang mewakili DNA murni (Sambrook et al. 1989). DNA genom yang telah ditentukan kualitasnya dari hasil isolasi dengan metode CTAB diambil seberat 1 µg DNA yang belum tercerna dan selanjutnya dielektroforesis pada gel agarose 1% kemudian diamati di bawah sinar UV (Gambar 4.7).

Gambar 4.6 Hasil elektroforesis gel agarosa konstruk pADST 35 dengan enzim HindIII. M adalah λ-HindIII. Jalur 1-2 sampel pADST 35. Dua fragmen 3,5 kb dan 5,5 kb diproduksi pada digesti dengan enzim HindIII.

HindIII

Ubi promoter exon

Intron

Ubi

3‛ promoter

Intron exon

Nos 3‛

HindIII AB

desatur

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

114

Penyerapan melalui UV menunjukkan fragmen dengan berat molekul tinggi di semua sampel yang diuji. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa DNA genom dalam keadaan baik dan dapat digunakan untuk analisis biologi molekuler lebih lanjut.

Kehadiran pewarnaan DNA genom terlihat pada sampel di semua fragmen. Smear ini tidak terdegradasi oleh enzim DNA, tetapi mungkin karena kerusakan DNA selama proses isolasi.

4.4.3 Analisis Reaksi berantai polimerase (PCR)

Reaksi berantai polimerase dilakukan dengan memperkuat DNA genom yang diisolasi dari E. guineensis Jacq. dura dikultur dari eksplan yang tidak dicangkok dan langsung dihasilkan menjadi planlet tanpa melalui fase kalus. Primer yang digunakan terdiri dari primer depan dan trigger mundur.

Primer digunakan untuk duplikasi gen endogen desaturase dura kelapa sawit. Primer depan DSATF6 dan primer mundur;

DSATR3, DSATR1 yang terletak di dalam urutan pTD7 telah dirancang (Shahabuddin 2000). Letak primer pada urutan gen desaturase ditunjukkan pada Gambar 4.1. Ukuran yang diharapkan untuk primer DSATF6-DSATR3 adalah 289 bp dan ukuran yang diharapkan untuk primer DSATF6-DSATR1 adalah 687 bp seperti pada Tabel 4.1.

Untuk analisis PCR untuk melihat gen ∆9-stearoyl ACP- desaturase endogen digunakan sampel DNA genom tanaman yang tidak diproses (kontrol). Proses amplifikasi menggunakan kombinasi trigger DSATF6-DSATR3 pada sampel kontrol positif (pADST35) pada jalur 1 menghasilkan fragmen dengan ukuran 289 bp dan sebagai kontrol negatif (genomik DNA tanpa

Tabel 4.3 Analisis PCR bagian sampel kontrol dan Tertransformasi.

Gambar 4.7 Hasil elektroforesis gel agarosa DNA genom tanpa pencernaan. Jalur 1-9 adalah DNA genom yang tidak tercerna yang diisolasi dari planlet diduga berubah. M adalah λ-HindIII.

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

116

amplifikasi) pada jalur 2 - 5 menghasilkan fragmen dengan berukuran sekitar 799 bp (Gambar 4.8). Hasil ini menunjukkan bahwa gen desaturase endogen telah berhasil digandakan dan juga menunjukkan bahwa adanya fragmen yang lebih besar dalam DNA genomik kontrol negatif (tidak ditembakkan) karena adanya sekuens intron di dalam wilayah yang digandakan.

Gambar 4.9 menunjukkan bahwa amplifikasi pohon transformasi diduga TRD1 dan TRDL1 menggunakan primer di atas pada jalur 3 dan 4 menghasilkan fragmen 799 bp.

Kehadiran fragmen tambahan berukuran sekitar 289 bp ditemukan pada sampel TRD1 dan TRDL1 yang diamplifikasi dengan kombinasi primer DSATF6-DSATR3. Fragmen tersebut memiliki fragmen yang sesuai dengan ukuran yang diharapkan yaitu 289 bp untuk urutan cDNA desaturase di jalur 1.

Jalur 2 adalah DNA genom yang tidak disambung yang diamplifikasi dengan kombinasi primer yang sama hanya menghasilkan ukuran sekitar 799 bp dan tidak ada fragmen tambahan seperti di jalur TRD1 dan TRD1. Meskipun amplifikasi PCR gen desaturase endogen tidak diurutkan, ukurannya menyerupai sekuensing nukleotida produk duplikasi gen desaturase endogen F6-799 (Shahabuddin 2000). Hasil produk sekuens nukleotida berukuran 799 bp, dimana sekuen gen

Gambar 4.8 Elektroforesis gel agarosa hasil amplifikasi konstruk pADST35 dan amplifikasi DNA genom tanaman non- transformasi. Jalur 1 amplifikasi konstruk pADST35 dengan primer DSATF6-DSATR3 dan fragmen 2–5 mewakili DNA genom yang tidak disambung yang diamplifikasi dengan kombinasi primer yang sama. Penanda M = 100 bp.

Gambar 4.9 Hasil elektroforesis gel agarosa DNA genomik dari TRD1 dan TRDL1 tanaman yang ditransformasi putatif. Jalur 1 mewakili amplifikasi konstruksi pADST 35. Jalur 2 amplifikasi DNA genom yang tidak tercerna. Jalur 3–4 diduga duplikasi dura-transformed dari TRD1 dan TRDL1.

Primer yang digunakan adalah kombinasi primer DSATF6- DSATR3. Penanda M = 100 bp.

desaturase memiliki daerah intron. Urutan nukleotida desaturase hulu berukuran 117 pb, urutan intron tengah berukuran 510 pb dan urutan nukleotida gen desaturase hilir berukuran 172 bp (Gambar 4.10).

Gambar 4.11 menunjukkan hasil penggandaan konstruk pADST35 menggunakan kombinasi trigger DSATF6–DSATR1.

Jalur 1 – 3 adalah konstruksi amplifikasi yang berukuran sekitar 687 bp danjalur ini sesuaidengan ukuran yang diharapkan untuk urutan cDNA pTD7. Ini membuktikan bahwa primernya telah berhasil menggandakan gen ∆9-stearoyl ACP-desaturase. Untuk memastikan keberadaan desaturase eksogen, penggandaan

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

118

dilakukan menggunakan kombinasi primer di atas dengan

Gambar 4.10 Peta duplikasi gen desaturase endogen menggunakan primer DSATF6-DSATR3 (hasil sekuens nukleotida dimodifikasi dari Shahabuddin 2000). Gen desaturase mengapit daerah intron, dimana gen desaturase hulu berukuran 117 pb, daerah intron berukuran 510 pb dan gen desaturase hilir berukuran 172 pb.

sumber DNA genom yang berbeda seperti sampel TRD6.

Gambar 4.12 menunjukkan amplifikasi DNA genomik dari sampel TRD6 yang ditransformasikan dengan kombinasi primer kombinasi trigger DSATF6-DSATR1. Penanda M = 100 bp. DSATF6-DSATR1 yang menghasilkan dua fragmen, fragmen pertama berukuran lebih dari 1500 bp. Yang lebih menarik adalah adanya fragmen kedua dengan ukuran sekitar 687 bb di jalur 1 dan jalur 2 dalam DNA genom dari sampel TRD6 yang diduga telah ditransformasi. Diduga fragmen dengan ukuran lebih dari 1500 bp merupakan desaturase endogen dimana pada daerah hasil duplikasi terdapat daerah intron, sedangkan fragmen yang lebih kecil dengan ukuran kurang lebih 687 bp merupakan ukuran gen desaturase eksogen. Hasil ini juga menunjukkan bahwa sisipan pTD7 berhasil diintegrasikan ke dalam DNA genom TRD6 yang ditransformasikan.

Sedangkan untuk duplikasi DNA genomik yang tidak bercabang (kontrol) pada jalur 3 dan 4 menghasilkan fragmen denganukuranyangsamadenganukuranfragmenpertamaTRD6 yaitu lebih dari 1500 bp, namun tidak menghasilkan ukuran 687 pb sebagaimana di jalur TRD6. Hasil ini menunjukkan bahwa DNA genom dari kontrol negatif hanya mengandung desaturase

endogen. Kombinasi primer yang telah digunakan telah berhasil menggandakan desaturase endogen serta desaturase transgenik

Gambar 4.11 Hasil elektroforesis gel agarosa pADST35 membangun digesti dengan kombinasi primer DSATF6-DSATR1. Jalur 1-3 adalah amplifikasi DNA pADST35. Penanda M = 100 bp.

diduga. Ukuran sekuens intron yang besar dan letak daerah desaturase endogen pada sampel kontrol negatif tidak diketahui secara pasti, karena tidak dilakukan analisis sekuens nukleotida produk amplifikasi desaturase endogen pasangan primer DSATF6-DSATR1.

Dari sampel bibit sawit yang telah ditanam di rumah kaca dan tumbuh dengan baik, dilakukan analisis PCR baik dari sampel pohon kontrol maupun sampel hasil transformasi.

Sampel kontrol yang dianalisis sebanyak 3 pohon dari 15 pohon yang ditanam. Sedangkan pohon yang diduga mengalami transformasi

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

120

Gambar 4.12 Hasil elektroforesis gel agarosa DNA genomik dari tanaman yang ditransformasi diduga TRD6. Jalur 1-2 mewakili duplikasi DNA genomik TRD6. Jalur 3-4 adalah amplifikasi DNA genomik yang tidak disambung. Trigger yang digunakan adalah

telah dianalisis sebanyak 62 pohonpada Tabel 4.3 di atas. Hasil analisis PCR menunjukkan bahwa semua sampel kontrol tidak dapat menghasilkan ukuran yang diharapkan seperti pada Tabel 4.1. Di sisi lain, mengalikan sampel tumbuhan hasil transformasi putatif dengan 62 tumbuhan, yang berhasil menghasilkan ukuran yang diharapkan hanya 3 tumbuhan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses pemuliaan tanaman dengan metode transformasi genetika menggunakan pADST35 berhasil menghasilkan tanaman dura yang tertransformasi dengan efisiensi laju transformasi chimera sebesar 4,83%. Laju transformasi dan pola ekspresi gen pada genom dura sebesar 4,83% dapat dikatakan efisien yang dihitung dari persentase total tanaman sampel yang dianalisis.

DAFTAR PUSTAKA

Birnboim, H.C. & Doly, J. 1979. A rapid alkaline extraction procedure for screening recombinant plasmid DNA.

Nucleic Acid Report. 7 : 1513-1523.

Christiensen, A. H., Sharrock R.A. & Quail, P.H. 1992. Maize polyubiquitine gene: thermal perturbation of expression and transcript splicing, and promoter activity following transfer to protoplast by electroporation. Plant Mol. Biol.

18: 675-689.

Doyle JJ, Doyle JL. Isolation of plant DNA from fresh tissue.

Focus. 1990;12:13–15.

Rashid, O. 1997. Pemencilan dan penjujukan Klon-klon cDNA yang mengekodkan ∆9-stearoil-ACP desaturase dan β- ketoasil-ACP sintase I kelapa sawit. Tesis Sarjana Sains.

Universiti Kebangsaan Malaysia. Bangi.

Ruslan, A., Alizah, Z., Siti, Z.S. & Wee, Y.H. 1996. Transformation assessment for oil palm development. Proc. 2nd National Congress on Genetics, hlm. 13 – 15. Kuala Lumpur: Research Signpost

Sambrook, J. Fritsch, E.F. & Maniatis, T. 1989. Moleculer cloning : lab manual, Edisi Ke-2 USA: Cold Spring Harbor Laboratory Press.

Sanford, J.C., Smith, F.D. & Russell, J.A. 1993. Optimizing the biolistic process for different biological applications.

Methode in Enzymology. 217 : 483-509.

Shahabuddin, H. 2000. Transformasi genetik kelapa sawit dan pemencilan dan pencirian gen yang mengekodkan 3- ketoasil-ACP sintase III (KASIII). Tesis Sarjana Sains.

Universiti Kebangsaan Malaysia. Bangi.

122

BAB V

PERUBAHAN KANDUNGAN ASAM LEMAK BIBIT SAWIT MELALUI REKAYASA TRANSFORMASI GENETIK

5.1 Profil asam lemak

Profil asam lemak dilakukan untuk mengetahui persentase komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh pada sampel daun dura menggunakan sistem kromatografi gas (GC). Prinsip kerja sistem kromatografi gas didasarkan pada Cramers dan McNair (1983). Modelnya alur kerja pada Gambar 5.1 dan komponen perlengkapan set kromatografi gas seperti pada Gambar 5.2.

Gambar 5.1 Alur proses kromatografi gas dalam mentukan persentase asam lemak (Sumber : https://farmasiindustri.com/industri/

cara- kerja-kromatografi-gas)

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

124

Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing instrument pada rangkaian GCMS.

5.2 Instrumentasi Gas Kromatografi a. Carrier Gas Supply

Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas sangatlah penting. Gas yang dapat digunakan pada dasarnya haruslah inert, kering, dan bebas oksigen. Kondisi seperti ini dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat saja bereaksi dan dapat mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau diidentifikasi.

Gambar 5.2 Komponen kromatografi gas komponen pelengkapnya (Sumber : https://farmasiindustri.com/industri/cara-kerja- kromatografi-gas)

b. Control System

Berfungsi mengontrol tekanan dan laju fase gerak yang masuk ke kolom dan mengontrol suhu oven.

c. Injeksi Sampel (Injection Port)

Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis diinjeksikan pada mesin menggunakan semprit kecil. Jarum semprit

menembus lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut septum) yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit ditarik keluar dari lempengan karet tersebut. Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan padatan. Oleh karena itu, senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama harus diuapkan.

Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom.

Panas itu terdapat pada tempat injeksi. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa yang akan dianalisa. Kita juga tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena GC sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2

- 20 ml untuk cairan seperti pada gambar di bawah.

d. Oven

Oven digunakan untuk memanaskan column pada temperature tertentu sehingga mempermudah proses pemisahan komponen sample. Biasanya oven memiliki jangkauan suhu 30oC – 320oC.

e. Kolom

Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Ada beberapa bentuk kolom, diantaranya lurus, bengkok, misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral. Kolom selalu merupakan bentuk tabung. Berisi fasa diam, sedangkan fasa bergerak akan lewat didalamnya sambil membawa sample.

Secara umum terdapat 2 jenis kolom, yaitu:

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

126

1) Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil dengan panjang 1 – 5 m dan diameter kira-kira 5 mm.

2) Capillary column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang 10-100 m dan diameter kira-kira 250 mm. Beberapa jenis stationary phase yang sering digunakan:

- Polysiloxanes untuk nonpolar analytes/sampel.

- Polyethylene glycol untuk polar analytes/sampel.

- Inorganic atau polymer packing untuk sample bersifat small gaseous species.

Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi gas-cair.

Tipe pertama, tube panjang dan tipis berisi material padatan.

Tipe kedua, lebih tipis dan memiliki fase diam yang berikatan dengan pada bagian terdalam permukaannya. Ada tiga hal yang dapat berlangsung pada molekul tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom:

- Molekul dapat berkondensasi pada fase diam.

- Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase diam

- Molekul dapat tetap pada fase gas

5.3 Instrumentasi Spekstroskopi massa a. Sumber Ion

Setelah analit melalui kolom kapiler, ia akan diionisasi.

Ionisasi pada spektroskopi massa yang terintegrasi dengan GC ada dua, yakni Electron Impact ionization (EI) atau Chemical Ionization (CI), yang lebih jauh lagi terbagi menjadi negatif (NCI) dan positif (PCI). Berikutnya akan dijelaskan ionisasi EI. Ketika analit keluar dari kolom kapiler, ia akan diionisasi

oleh elektron dari filamen tungsten yang diberi tegangan listrik.

Ionisasi terjadi bukan karena tumbukan elektron dan molekul, tapi karena interaksi medan elektron dan molekul, ketika berdekatan. Hal tersebut menyebabkan satu elektron lepas, sehingga terbetuk ion molekular M+, yang memiliki massa sama dengan molekul netral, tetapi bermuatan lebih positif.

Adapun perbandingan massa fragmen tersebut dengan muatannya disebut mass to charge ratio yang disimbolkan M/

Z. Ion yang terbentuk akan didorong ke quadrupoles atau mass filter. Quadrupoles berupa empat elektromagnet.

Setelah melewati rangkaian gas kromatografi, sampel gas yang akan diuji dilanjutkan melalui rangkaian spekstroskopi massa. Molekul-molekul yang melewati sumber ion ini diserang oleh elektron, dan dipecah menjadi ionion positifnya. Tahap ini sangatlah penting karena untuk melewati filter, partikel- partikel sampel haruslah bermuatan.

b. Filter

Selama ion melui rangkaian spekstroskopi massa, ion- ion ini melalui rangkaian elektromagnetik yang menyaring ion berdasarkan perbedaan masa. Para ilmuwan memisahkan komponen-komponen massa untuk kemudian dipilih yang mana yang boleh melanjutkan yang mana yang tidak (prinsip penyaringan). Filter ini terus menyaring ion-ion yang berasal dari sumber ion untuk kemudian diteruskan ke detektor.

Pada quadrupoles, ion-ion dikelompokkan menurut M/

Z dengan kombinasi frekuensi radio yang bergantian dan tegangan DC. Hanya ion dengan M/Z tertentu yang dilewatkan oleh quadrupoles menuju ke detektor.

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

128

c. Detektor

Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor ionisasi nyala dijelaskan pada bagian bawah penjelasan ini, merupakan detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada detektor alternatif lainnya.

Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektron-elektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan kondensasi dalam detektor.

Detektor terdiri atas High Energy Dynodes (HED) dan Electron Multiplier (EM) detector. Ion positif menuju HED, menyebabkan elektron terlepas. Elektron kemudian menuju kutub yang lebih positif, yakni ujung tanduk EM. Ketika elektron menyinggung sisi EM, maka akan lebih banyak lagi elektron yang terlepas, menyebabkan sebuah arus/aliran. Kemudian sinyal arus dibuat oleh detektor proporsional terhadap jumlah ion yang menuju detektor.

d. Recorder

Berfungsi merekam hasil dan mencetaknya pada sebuah grafik. Hasil detektor akan direkam sebagai urutan puncak- puncak; setiap puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati- hati kondisi dalam kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama.

e. Komputer

Data dari spekrometri masa dikirim ke computer dan diplot dalam sebuah grafik yang disebut spectrum masa.

5.4 Pengaruh Integrasi Gen Desaturase Terhadap Profil Asam Lemak

Analisis profil asam lemak ini bertujuan untuk mengetahui persentase kuantitatif (%) asam lemak jenuh (C:12 – C:18) dan asam lemak tak jenuh (C:18.1 – C:18.3) yang terdapat pada sampel daun. Sampel diambil dari pohon kontrol dan pohon hasil transformasi untuk menguji asam lemaknya. Meskipun sampel transgenik diduga jumlahnya sedikit, yaitu hanya tiga (3) pohon, namun menunjukkan efek yang berbeda. Pemilihan pohon transformasi didasarkan pada analisis PCR. Untuk analisis kromatografi gas (GC), tanaman yang ditransformasikan secara positif dalam analisis PCR digunakan. Sampel daun diambil dengan cara dipotong dengan gunting seluruhnya pada setiap pohon, dan diambil sedikit dengan perkiraan diperoleh sampel daun sebanyak 1 g per pohon, karena untuk menganalisis kandungan asam lemak dengan sistem GC dibutuhkan setiap sampel daun. minimal 1 g Analisis GC untuk setiap sampel diulang tiga kali untuk meningkatkan akurasi analisis.

Sampel daun yang dianalisis dengan kromatografi gas memiliki umur yang sama. Perhitungan umur didasarkan pada embrio belum matang (EBM) yang diekstraksi dan dikulturkan secara in vitro menjadi eksplan dan planlet hingga ditanam dalam polibag di rumah kaca. Dalam analisis kromatografi gas dari setiap sampel, analisis diulang tiga kali yang berguna dalam peningkatan nilai.

Hasil analisis yang lebih detail terkait dengan rata-rata kandungan asam lemak jenuh berdasarkan panjang rantai

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

130

karbon ditemukan adanya perbedaan yang signifikan dimana kandungan C:16 pada sampel TRD6 lebih tinggi 23,95%

dibandingkan sampel kontrol C:16 yang mana adalah 17,09%.

Sedangkan untuk rantai karbon lainnya seperti C:12, C:14 dan C:18 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan, meskipun secara numerik sampel TRD6 menghasilkan persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampel KN1. Persentase kandungan asam lemak jenuh C:16 paling tinggi dibandingkan dengan rantai karbon lainnya baik pada sampel kontrol maupun sampel transformasi.

Hasil analisis persentase total kandungan asam lemak tak jenuh antara sampel kontrol (KN1) dan sampel transformasi (TRD6) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Namun sampel hasil transformasi mampu menghasilkan persentase yang lebih rendah yaitu 58,08% dibandingkan dengan sampel KN1 yang menghasilkan 62,10%. Untuk mengetahui lebih jelas perubahan kadar asam lemak tak jenuh pada sampel kontrol maupun sampel yang ditransformasi, perlu dijelaskan lebih detail kandungan rata-rata asam lemak tak jenuh berdasarkan panjang rantai karbonnya. Terdapat perbedaan yang mencolok pada penurunan kandungan asam lemak tak jenuh. Rantai karbon pada C:18,3 pada sampel KN1 45,51% menurun menjadi 37,97% pada sampel TRD6. Namun kandungan C:18.1 pada sampel TRD6 berbeda nyata dengan kandungan C:18.1 pada KN1 yaitumeningkat sebesar 4,66%. Untuk kandungan C:18.2 pada sampel KN1 dan TRD6 tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Hasil analisis persentase kandungan total asam lemak tak jenuh antara sampel kontrol KN1 dan TRDL1 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Namun secara numerik, sampel TRDL1 menghasilkan total asam lemak tak jenuh yang lebih rendah yaitu 56,28% dibandingkan 61,9%

pada sampel KN2. Terjadi penurunan jumlah total kandungan asam lemak tak jenuh sebesar 5,62%. Selanjutnya, hasil analisis kandungan asam lemak tak jenuh pada sampel C:18.1 dan C:18.2 KN2 dan TRDL1 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Namun terdapat perbedaan yang jelas pada hasil analisis pada C:18.3. Pada sampel KN2 menghasilkan kadar 46,50% menurun menjadi 39,51% pada sampel TRDL1.

Penurunan asam lemak tak jenuh sebesar 6,99%.

Hasil analisis total rata-rata kandungan asam lemak jenuh antara sampel KN3 dan TRD1 menunjukkan perbedaan yang signifikan, dimanasampel TRD1 menghasilkansebanyak 28,99%

meningkat menjadi 55,04% pada sampel TRD1. Peningkatan kandungan asam lemak jenuh ini sebesar 26,05%. Hasil analisis yang lebih detail terkait dengan rata-rata kandungan asam lemak jenuh berdasarkan panjang rantai karbon ditemukan adanya perbedaan yang signifikan kandungan asam lemak jenuh antara sampel KN3 dan TRD1. Meski tidak semua rantai karbon menunjukkan perbedaan. Sayangnya, hasil analisis kromatografi gas (GC) pada sampel KN3 tidak mendapatkan data persentase asam lemak C:12 dan C:14. Kandungan C:16 pada sampel TRD1 merupakan yang tertinggi yaitu 30,97%

dibandingkan dengan C:12, C:14 dan C:18 pada sampel yang sama. Sedangkan peningkatan kandungan C:16 pada TRD1 lebih tinggi sebesar 9,29% dibandingkan KN3.

Analisis selanjutnya adalah rata-rata total kandungan asam lemak tak jenuh (C:18.1 - C:18.3) dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara sampel KN3 dan TRD1. Total kandungan asam lemak tak jenuh sampel KN3 sebesar 62,9%

menurun menjadi 35,38% pada sampel TRD1 dan penurunan kandungan asam lemak tak jenuh sebesar 27,25%. Yang lebih menarik adalah kandungan C:18.1 lagi di KN3 sebesar 19.94%

meningkat menjadi 26.49% di TRD1. Ini secara

Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc

132

teoritis kandungan sampel TRD1 yang lebih rendah pada C:18.1 jika dikaitkan dengan penggunaan konstruk yang mengandung gen desaturase 9-stearoyl-ACP dalam susunan antisense, tetapi yang terjadi sebaliknya. Namun kandungan asam lemak sampel KN3 pada rantai C:18.2 dan C:18.3 masing- masing sebesar 10,42% dan 32,72% dapat diturunkan menjadi 1,4% dan 7,48%. Penurunan kandungan asam lemak tak jenuh pada sampel transformasi TRD1 lebih tinggi dibandingkan sampel transformasi TRD6 dan TRD1. Perbedaan hasil analisis kromatografi gas terutama pada sampel yang ditransformasikan dari setiap tingkatan perlakuan, kemungkinan karena teknik atau pelaksanaan perlakuan yang dilakukan secara langsung dan tidak sama karena pengaruh ruang dan waktu, sehingga menghasilkan hasil yang berbeda. kadar asam lemak pada 3 (tiga) tahap perlakuan.

Perbedaan yang signifikan kandungan asam lemak antara sampel kontrol (KN) dan sampel transformasi (TR). Tercatat jumlah total asam lemak jenuh pada sampel kontrol sebesar 26,87% dan sampel hasil transformasi sebesar 39,69%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kandungan asam lemak jenuh sebesar 12,82% pada sampel hasil transformasi (TR). Untuk lebih jelasnya perbandingan hasil asam lemak jenuh sampel kontrol dan hasil transformasi pada rantai C:12 – C18 perlu dijelaskan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata kandungan C:12 pada sampel kontrol dan sampel transformasi, dimana sampel KN menghasilkan 1,18%

dan peningkatan pada sampel TR yaitu 5,03% (peningkatan 3,85%), serta kandungan C:14 meningkat, namun persentasenya rendah yaitu 2,34%. Peningkatan tertinggi terdapat pada rantai C:16, dimana KN menghasilkan 19,26% sedangkan TR menghasilkan 25,55% (peningkatan 6,29%) dan merupakan peningkatan tertinggi dibandingkan dengan rantai asam lemak

Dokumen terkait