3.4 Uji resistensi Pospinotrichinaacetyl trans ferase (PPT)… 81
3.5.1 Regenerasi Langsung ke Planlet
Perbandingan tiga jenis media yaitu N6, MS dan Y3 modifikasi pada embrio kelapa sawit bertujuan untuk mendeteksi media terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serta efisiensi dalam regenerasi dura embrio kelapa sawit secara in vitro. Di antara bagian jaringan yang terdeteksi adalah panjang daun, jumlah eksplan berakar dan berat akar. Jumlah akar tidak dilakukan dalam analisis ini karena masalah dalam menghitung jumlah akar sekunder.
Selain itu, jaringan yang terdeteksi mudah dan sederhana saat dianalisis.
Pemilihan ukuran buah yang digunakan untuk kultur jaringan merupakan hal yang penting. Dalam satu tandan, ukuran buah bervariasi antara ujung, tengah dan pangkal tandan. Buah yang terdapat pada 1/4 ujungnya memiliki embrio belum matang (EBM) yang lebih kecil dan lembek. Untuk buah
Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc
82
terdapat 2/4 bagian tengah EBM berukuran sedang dan cukup keras. Sedangkan buah yang terdapat pada 1/4 bagian pangkal EBM lebih besar dan keras. Untuk mendapatkan ukuran EBM yang seragam, buah diambil dari tangkai buah yang berada di bagian tengah 2/4 untuk mendapatkan pertumbuhan eksplan yang seragam. Gambar 3.3 menunjukkan tangkai buah sawit dura yang telah dipisahkan dari tandannya dan digunakan dalam penelitian ini berumur 10 minggu. Gambar 3.4 menunjukkan eksplan yang berasal dari buah di tengah tandan yang dikultur secara in vitro berumur dua minggu menunjukkan bentuk yang seragam dan terlihat daun mulai tumbuh dan warna jaringan berubah menjadi hijau.
Gambar 3.3 Tangkai buah sawit dura yang telah dipisahkan dari tandannya. Buah pada 1/4 ujung tangkai dan 1/4 tangkai tidak digunakan. Buah pada 2/4 batang digunakan. Buah yang digunakan berumur 10 minggu.
Gambar 3.4 Eksplan yang berasal dari embrio kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. dura) yang belum matang dikultur secara in vitro selama 2 minggu pada media Y3.
Gambar 3.3 memperlihatkan eksplan berumur 5 bulan dengan menggunakan tiga media kultur jaringan yang berbeda.
Setelah diamati terdapat perbedaan panjang daun dan jumlah akar. Warna daun pada media MS dan Y3 lebih hijau dan segar dibanding N6 yang berwarna hijau kekuningan. Eksplan yang dikulturkan pada media N6 menghasilkan akar primer antara satu dan dua dan berukuran lebih besar tetapi sedikit menghasilkan akar sekunder (Gambar 3.5A). Sedangkan media MS menghasilkan akar yang tidak seragam dan beberapa akar utama berukuran lebih pendek (Gambar 3.5B). Pertumbuhan akar sekunder pada media MS relatif lambat dibandingkan media Y3 pada beberapa kultur eksplan. Sebanyak dua sampai empat akar utama pada media Y3, akar sekunder dapat terlihat lebih jelas (Gambar 3.5C). Gambaran yang terlihat berbeda antara media N6, MS dan Y3 dikarenakan waktu pengambilan gambar tiap sampel berbeda, dimana media N6 lebih cepat 2 bulan dibandingkan dengan media MS. Begitu juga untuk media MS waktu pembiakannya 1,5 bulan lebih awal dari media MS.
Tabel 3.2 menunjukkan panjang daun terpanjang menggunakan tiga media tanpa hormon. Setelah dilakukan analisis dengan uji Duncan pada taraf 5%, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara ketiga jenis media tersebut untuk parameter panjang daun terpanjang. Namun media Y3 menghasilkan daun yang lebih panjang yaitu 9,1 cm dibandingkan dengan media N6 dan MS yang menghasilkan daun masing-masing 8,6 cm dan 8,8 cm.
Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc
84
Tabel 3.2 Pengaruh media N6, MS dan Y3 tanpa hormon terhadap regenerasi panjang daun terpanjang (cm)
Angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (p < 0,05).
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara media N6 tanpa hormon dan dengan hormon dalam persentase produksi akar (Tabel 3.3). Eksplan yang dikulturkan pada media N6 tanpa hormon menghasilkan persentase akar sebanyak 7 eksplan (14%), sedangkan kultur pada media yang sama dengan penambahan hormon IBA 2 mg l-1 menghasilkan akar sebanyak 10 eksplan (20%). Dengan
.
Gambar 3.5 Respon embrio kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. dura) yang belum matang setelah 5 bulan dikulturkan pada media yang diberi hormon IBA 2 mg l-1. Eksplan dikultur pada media N6 (A). Eksplan dikultur pada media MS (B). Eksplan dikultur pada media Y3 (C).
demikian pemberian hormon ini telah meningkatkan produksi akar sebesar 6%. Namun bobot akar pada media yang diberi hormon lebih rendah yaitu 112,8 mg dibandingkan dengan
155,7 mg pada media tanpa hormon dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini menunjukkan bahwa persentase akar lebih rendah. Untuk media MS tanpa hormon, jumlah akar 9 (18%) lebih sedikit dibandingkan dengan menggunakan hormon yang menghasilkan 18 eksplan (36%). Namun, media MS tanpa hormon menghasilkan bobot akar lebih tinggi yaitu 162,9 mg dibandingkan 155,6 mg pada media dengan hormon.
Media Y3 yang disuplementasi dengan hormon IBA
2 mg l-1 dapat meningkatkan persentase perakaran (96 %) dan menghasilkan bobot akar per eksplan tertinggi (43,9 %) dibandingkan media lainnya. Terbukti bahwa penambahan hormon IBA 2 mg l-1 dapat meningkatkan jumlah akar pada ketiga jenis media tersebut. Kecuali pada media N6 dan MS, pemberian hormon tidak mempengaruhi bobot segar akar.
Penelitian sebelumnya
Tabel 3.3 Pengaruh media N6, MS dan Y3 tanpa hormon dan menggunakan hormon terhadap persentase pembentukan akar dan berat akar per eksplan (mg)
Angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05).
menunjukkan bahwa metode kultur jaringan tanaman terus dikembangkan untuk mempelajari berbagai aspek
Dr. Fathurrahman, SP., M.Sc
pembentukan akar dan menambah pengetahuan tentang metabolisme IBA (Damodaran and Strader, 2019) dan waktu pembentukan akar (Srikanth et al. 2016). Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa hormon IBA telah digunakan dan berhasil membangkitkan akar dari eksplan bambu secara in vitro sebesar 85 sampai 90% (Ravikumar et al. 1998) dan media MS yang disuplementasi dengan hormon IBA 3 mg l-
1 merupakan konsentrasi terbaik untuk generasi Gymnema sylvestre root (Devi et al. 2021). Hormon ini berdasarkan penelitian sebelumnya pada dasarnya dapat digunakan untuk pembangkitan akar semua jenis tanaman, termasuk untuk pembangkitan akar kelapa sawit. Namun, konsentrasi hormon ini perlu diuji pada kelapa sawit untuk memastikan konsentrasi yang optimal untuk pembentukan akar.
Media Y3 yang mengandung nutrisi KCl dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dengan media N6 dan MS memberikan kontribusi ion Cl- lebih banyak. Ion Cl- dikenal sebagai auksin alami untuk pertumbuhan akar (Tarigan et al.
2022). Kekurangan unsur hara tersebut pada tanaman akan menyebabkan produksi akar pendek, tebal dan pada ujung akar utama membengkak membentuk tambalan yang dapat menyebabkan sulitnya pembentukan akar sekunder. Adanya unsur asam amino dengan konsentrasi yang relatif tinggi pada media Y3 akan mempengaruhi pembentukan protein yang dibutuhkan untuk tingkat perkembangan eksplan. Konsentrasi sukrosa yang lebih tinggi juga akan menambah lebih banyak energi yang dibutuhkan eksplan untuk tahap pengembangan.
Umumnya eksplan tumbuh dengan baik bila dikulturkan pada media dengan konsentrasi hara yang lebih tinggi serta komposisi hara makro dan mikro, vitamin, asam amino dan unsur lain yang lebih dibutuhkan untuk perkembangan eksplan termasuk pertumbuhan akar (Chimdessa 2020). Namun kemampuan jaringan untuk menghasilkan akar dipengaruhi oleh beberapa
86
faktor, antara lain perbedaan genotipe (Li et al. 2020), tingkat kematangan jaringan (Siregar et al. 2021) dan perubahan sifat fisiologis akibat perubahan musim (Bednarek et al. 2021).