• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Strategis

Dalam dokumen QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG (Halaman 160-166)

BAB I PENDAHULUAN

C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

VI. Pariwisata

4.2 Isu Strategis

Isu strategis merupakan kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) di masa datang. Isu strategis juga diartikan sebagai suatu kondisi/kejadian penting/keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya akan menghilangkan peluang apabila tidak dimanfaatkan. Adapun isu-isu strategis yang akan menjadi perhatian Kabupaten Aceh Tamiang pada priode 2013 – 2017 adalah sebagai berikut :

IV - 8 ⏐ Analisis Isu-Isu Strategis

4.2.1 Millenium Development Goals (MDGs)

Millenium Development Goals (MDGs) adalah komitmen yang disepakati secara internasional yang mulai dijalankan pada September 2000. Komitmen internasional tersebut memuat delapan tujuan yang diupayakan dapat dicapai setiap negara anggota PBB pada tahun 2015.

Beberapa hal yang menjadi isu strategis pembangunan daerah di Kabupaten Aceh Tamiang terkait pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) adalah seperti pada tabel berikut:

Tabel 4.1

Isu Strategis Pembangunan Daerah Terkait Pencapaian MDG’s

NO TUJUAN MDG’s

ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN DAERAH

KONDISI AWAL RPJM (2012)

TARGET RPJM ACEH DI 2015 1 Menanggulangi kemiskinan

dan kelaparan

1. Tingginya Tingkat Kemiskinan

16.70% 13,5%

2 Mencapai pendidikan dasar untuk semua kalangan

2. Masih terdapat penduduk yang buta aksara (Angka Melek Huruf)

98,33% 97,70%

3. Belum tuntasnya wajib belajar 9 tahun (Angka Rata-rata lama sekolah)

8.9 tahun 10,5 tahun

4 Menurunkan angka kematian anak

4. Tingginya Angka Kematian Bayi (AKB)

16/1.000 KH 15/1.000 KH 5 Meningkatkan kesehatan

Ibu

5. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI)

208/100.000 KH 102/100.000 KH 6 Memerangi HIV/AIDS,

malaria dan penyakit menular lainnya

6. Adanya kecendrungan peningkatan prevalensi HIV/AIDS per-tahunnya pada periode 2008 – 2012

6,01/100.000 penduduk

-

7. Usia Harapan Hidup masih dibawah rata-rata Nasional

68,70 tahun 69,40 tahun Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh Tahun 2013 dan RPJM Aceh Tahun 2012 – 2017.

4.2.2 Sustainable Development Goals (SDGs)

Tujuan pembangunan dalam Millennium Development Goals (MDGs) sebagai nomenklatur tidak akan berhenti pada tahun 2015. Agenda ke depan untuk melanjutkan MDGs, dikembangkan suatu konsepsi dalam konteks kerangka/agenda pembangunan pasca 2015, yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Konsep SDGs ini diperlukan sebagai kerangka pembangunan baru yang mengakomodasi semua perubahan yang terjadi pasca 2015-MDGs. Terutama berkaitan dengan perubahan situasi dunia sejak tahun 2000 mengenai isu deplation sumber daya alam, kerusakan lingkungan, perubahan iklim semakin krusial, perlindungan sosial, food and energy security, dan pembangunan yang lebih berpihak pada kaum miskin.

Proses penyusunan Rencana Agenda Pembangunan Global Paska 2015 sudah dimulai sejak tahun 2012. Indonesia terlibat melalui berbagai forum yang menjadi bagian

Analisis Isu-Isu Strategis⏐ IV - 9

penting dalam proses penyusunan Agenda Paska 2015, yaitu menjadi salah satu Co-Chair dalam Penyusunan Konsep Kerjasama Global (Global Partnership) sebagai kerangka pelaksanaan Agenda Paska 2015. Indonesia juga menjadi salah satu dari tiga puluh negara yang menjadi anggota Open Working Group (OWG) on Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia juga terlibat Forum Tenaga Ahli (Expert Forum) penyusunan Konsep Pembiayaan Pembangunan Berkelanjutan, yang menyusun langkah-langkah pembiayaan untuk pelaksanaan Agenda Pembangunan Paska 2015.

Di dalam OWG untuk Penyusunan Agenda Paska 2015, sebagai kelanjutan dari KTT Bumi di Rio +20 tahun 2012, disepakati prinsip penjabaran konkrit pelaksanaan SDGs untuk masukan Agenda Paska 2015, yaitu: (1) SDGs tidak melemahkan komitmen internasional terhadap pencapaian MDGs sampai tahun 2015, namun bahkan akan memperbarui komitmen dan melanjutkan komitmen MDGs yang masih belum selesai, dengan penyesuaian selaras dengan dinamika yang terjadi; (2) SDGs akan dilaksanakan berdasarkan Agenda 21, Johannesburg Plan of Implementation dan Rio Principles, serta mempertimbangkan perbedaan kondisi, kapasitas dan prioritas nasional; (3) SDGs akan difokuskan pada pencapaian tiga dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu dimensi pembangunan manusia (human development), dimensi ekonomi (economic development) dan dimensi lingkungan (environtment development) secara berimbang dan terpadu; dan (4) SDGs akan menjadi bagian koheren dan terintegrasi dalam Agenda Pembangunan Paska- 2015.

Dalam kaitan dengan penyusunan Revisi RPJMD Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013-2017, maka perkembangan substansi dalam berbagai forum global tersebut akan diselaraskan dengan kepentingan pembangunan Kabupaten Aceh Tamiang dan akan menjadi dasar usulan Agenda Pembangunan Paska 2015. Beberapa fokus dalam SDGs yang akan memberi warna penting dalam Agenda Pembangunan Paska 2015 adalah bahwa: (i) pembangunan manusia seperti kemiskinan, kelaparan kekurangan gizi, pembangunan kesehatan, pendidikan dan kesetaraan gender yang sangat mewarnai MDGs akan tetap dilanjutkan. Selain itu, masalah gender dan anak-anak; (ii) pemenuhan akses masyarakat terhadap air dan sanitasi tetap menjadi isu penting, dan akses terhadap energi merupakan fokus baru yang ditambahkan; (iii) untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan merupakan isu baru yang akan difokuskan pada pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan inklusif, serta industrialisasi yang berkelanjutan dan pembangunan hunian dan kota berkelanjutan yang secara keseluruhannya disertai dengan penerapan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan; (iv) pembangunan lingkungan yang tercermin pada fokus mitigasi kepada perubahan iklim, konservasi sumberdaya alam dan perlindungan ekosistem serta

IV - 10 ⏐ Analisis Isu-Isu Strategis

keanekaragaman hayati; dan terakhir adalah adanya rumusan cara pencapaian (means of implementation).

Hasil evaluasi pencapaian MDGs tahun 2013-2015 Kabupaten Aceh Tamiang diketahui bahwa ada beberapa target yang dapat dicapai, ada target-target yang belum dicapai namun telah berada dalam jalur yang semestinya (on track), namun masih banyak pula target yang tidak mungkin dicapai hingga akhir tahun 2015 sehingga memerlukan kerja keras kita bersama untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada.

Beberapa target yang dapat dicapai diantaranya prevalensi balita dengan berat badan rendah/kekurangan gizi target MDGs sebesar 15,50 %, sedangkan kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2014 sebesar 5,33 %, prevalensi balita gizi buruk target MDGs sebesar 3,60 % sedangkan Kondisi Aceh Tamiang tahun 2014 sebesar 0,1 %, prevalensi balita gizi kurang target MDGs sebesar 11,90 %, sedangkan kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2014 sebesar 2,1 %. Demikian pula halnya dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Kabupaten Aceh Tamiang telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal itu dapat dilihat dari proporsi perempuan yang duduk di legislatif sudah meningkat dari 13 % menjadi 33,3 %.

Beberapa target yang telah berada dalam jalur yang semestinya (on track) seperti Angka Partisipasi Murni (APM) pada tingkat dasar, Rasio Perempuan terhadap laki-laki ditingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi, Angka Kematian Ibu, Proporsi penduduk terinveksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan antiretrovial.

Sementara itu untuk persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan target MDGs adalah 7,55 %, kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang sampai dengan tahun 2014 masih 14,58 %. Prevelensi HIV dan AIDS dari total populasi target MDGs menurun sedangkan kondisi di Aceh Tamiang meningkat, Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak, perkotaan dan perdesaan target MDGs sebesar 68.87 %, kondisi Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2014, sebesar 34 %, Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak, perkotaan dan perdesaan target MDGs sebesar 62.41 %, kondisi Kabupaten Aceh Tamiang masih 41 %.

Menyadari berbagai persoalan besar yang dihadapi Pemerintah Aceh Tamiang, maka diperlukan adanya intervensi-intervensi yang sifatnya strategis dan presisi yang menyasar pada akar permasalahan dengan mengoptimalkan berbagai sumber daya yang kita miliki secara bersama-sama, saling bersinergi dan berkoordinasi yang pada akhirnya akan memperbaiki kinerja pembangunan Aceh Tamiang secara menyeluruh.

4.2.3 Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Analisis Isu-Isu Strategis⏐ IV - 11

Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Sesuai dengan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM), diamanatkan bahwa SPM yang telah ditetapkan Pemerintah menjadi salah satu acuan bagi Pemerintahan Daerah untuk menyusun perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Sampai dengan pertengahan Tahun 2013, telah diterbitkan 15 (lima belas) SPM oleh kementerian/lembaga, yaitu SPM:

1. Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

2. Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota;

3. Bidang Pemerintahan Dalam Negeri Di Kabupaten/Kota;

4. Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota;

5. \Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota;

6. Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan;

7. Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera di Kab/Kota;

8. Bidang Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota;

9. Bidang Pekerjaan Umum;

10.Bidang Ketenagakerjaan;

11.Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kab/Kota;

12.Bidang Komunikasi dan Informasi;

13.Bidang Kesenian;

14. Bidang Penanaman Modal;

15. Bidang Perhubungan Daerah.

4.2.4 Agenda Prioritas Nasional dalam Nawa Cita.

Sebagaimana Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019, Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran pokok pembangunan nasional, penguatan kerangka kelembagaan pemerintah akan difokuskan untuk mendukung pencapaian agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam NAWA CITA. Pencapaian agenda prioritas nasional tersebut menjadi target bersama yang harus dicapai oleh seluruh daerah, sesuai kewenangan masing-masing baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Kebijakan nasional yang perlu disahuti oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang adalah kebijakan pengembangan perwilayahan industri yaitu pengembangan kawasan industri Halal Food (Makanan Halal), dimana kriteria yang harus dipenuhi adalah:

a. Memiliki potensi sumber daya alam;

IV - 12 ⏐ Analisis Isu-Isu Strategis

b. Sudah ada perusahaan perintis (investor champion);

c. Dukungan dan komitemen pemerintah daerah;

d. Adanya indikasi peran sektor/kementerian lain (masuk dalam program nasional);

e. Memiliki kesesuaian lahan (status hukum, topografi, jenis tanah, dan kemiringan lahan);

f. Mempunyai aksesibilitas terhadap pelabuhan dan transportasi darat utama;

g. Memiliki sumber daya pendukung (penyedia sumber energi listrik, gas, batubara, dan air);

h. Dukungan sumber daya manusia (jumlah dan kualitas).

4.2.5 Pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan

Sasaran nasional untuk pembangunan desa dan kawasan perdesaan adalah jumlah desa tertinggal sampai 5.000 desa dan meningkatkan jumlah desa mandiri sedikitnya 2.000 desa. Arah kebijakan nasional pembangunan desa dan kawasan perdesaan, termasuk di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, kawasan transmigrasi, dan pulau-pulau kecil terluar, tahun 2015-2019 diantaranya adalah :

1. Pengawalan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan melalui koordinasi, fasilitasi, supervisi, dan pendampingan;

2. Pengembangan kapasitas dan pendampingan aparatur pemerintah desa dan kelembagaan pemerintahan desa secara berkelanjutan;

3. Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan termasuk kawasan transmigrasi untuk mendorong keterkaitan desa-kota.

4.2.6 Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area yang memanjang berbentuk jalur dan atau area mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa 30% wilayah kota harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat. RTH publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum.

Ruang terbuka hijau yang terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2012-2032 direncanakan seluas 752,14 Ha atau sebesar 30,70% dari luasan kawasan permukiman perkotaan yaitu 2.450,04 Ha.

Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran⏐ V - 1

BAB V

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Dalam dokumen QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG (Halaman 160-166)