• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Ketergantungan

Dalam dokumen QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG (Halaman 130-135)

BAB I PENDAHULUAN

II. Tingkat Ketergantungan

Rasio ketergantungan digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif, karena secara ekonomis masih tergantung kepada orang

II - 102 ⏐ Gambaran Umum Kondisi Daerah

tua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu , penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. Penduduk usia 15-64 tahun, adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif.

Atas dasar konsep tersebut dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk yang tergantung pada penduduk usia kerja. Meskipun tidak terlalu akurat, rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi. Rasio ketergantungan (dependency ratio) merupakan salah satu indikator demografi yangpenting.

Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Rasio ketergantungan di Kabupaten Aceh Tamiang pada rentang tahun 2012 – 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.138 Rasio Ketergantungan

NO Kelompok Rasio Ketergantungan (%)

2012 2013 2014

1 Penduduk usia 0 – 14 tahun 33,23 33,05 32,91

2 Penduduk 15 – 64 tahun 63,33 63,48 63,59

3 Penduduk Usia ≥ 64 tahun 3,44 3,47 3,50

4 Jumlah 100 100 100

5 Rasio Ketergantungan (%) 57,90 57,53 57,27

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Tamiang, 2015.

Rasio ketergantungan (Depedency Ratio) pada tahun 2014 secara keseluruhan mencapai 57,27 %, berarti bahwa setiap 100 orang produktif (usia 15 – 64 tahun) menanggung 57 orang belum/tidak produktif (usia <15 tahun + Usia >64 tahun). Rasio ketergantungan anak (Young Depedency Ratio) mencapai 32,91 %, dan rasio ketergantungan lansia (Old Depedency Ratio) cenderung meningkat tiap tahunnya, mencapai 3,50 %.

Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah⏐ III - 1

BAB III

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Dalam upaya reformasi pengelolaan keuangan daerah. Pemerintah telah menerbitkan paket peraturan perundang – undangan bidang pengelolaan keuangan daerah sebagai landasan utama kebijakan pengelolaan keuangan daerah yaitu :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Nasional;

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. sebagaimana telah diubah beberapa kali. terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Hal ini juga ditandai dengan dikeluarkannya paket peraturan perundangan di bidang keuangan daerah. beserta peraturan-peraturan penjabarannya yang mengalami revisi dan penyempurnaan. Beberapa peraturan terkait implementasi keuangan Kabupaten Aceh Tamiang yang telah dikeluarkan adalah Qanun Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah serta Qanun Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam pengelolaan keuangan daerah.

menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keuangan Daerah (SIMDA) Online sejak tahun 2010 sampai sekarang. Dan terhitung mulai tahun 2012 telah memperluas jaringan sampai di 12 (dua belas) Kecamatan. Hal ini sesuai dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas anggaran. sejak perencanaan hingga pelaksanaan anggaran dan kegiatan.

III - 2 ⏐ Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah

3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu

3.1.1 Kinerja Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK)

Pendapatan Kabupaten Aceh Tamiang selama tahun 2012-2014 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 26.07 persen. Peningkatan pendapatan Kabupaten Aceh Tamiang periode 2012-2014 seiring dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Sedangkan dilihat dari struktur pendapatan APBK selama 3 tahun. kontribusi terbesar dalam pembentukan pendapatan APBK. bersumber dari dana perimbangan. Kontribusi dana perimbangan dalam pendapatan pada APBK Aceh Tamiang selama 3 tahun rata-rata sebesar 6,92 %. Proporsi dana perimbangan paling tinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 8,39 %..

Kondisi pendapatan berdasarkan data APBK dilihat dari realisasi selama 3 tahun terakhir kecenderungannya berfluktuasi. pada tahun 2012 dan 2013 mengalami peningkatan. tahun 2014 mengalami peningkatan yang signifikan sebagaimana tertera dalam tabel berikut ini :

Tabel 3.1

Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2012-2014

Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran (LRA) 2012 – 2014.

No Uraian Tahun 2012

(Rp) Tahun 2013

(Rp) Tahun 2014 (Rp) Rata-rata Pertumbuhan

(%) 1 PENDAPATAN 587.559.189.767 669.865.698.728 925.342.445.748 26.07 1.1. Pendapatan Asli Daerah 29.935.026.054 42.592.561.279 97.374.583.496 85.45 1.1.1. Pajak daerah 4.391.062.413 9.921.003.473 8.358.791.910 55.09 1.1.2. Retribusi daerah 5.974.920.527 20.085.268.750 71.737.834.711 246.66 1.1.3.

Hasil pengelolaan keuangan daerah yang

dipisahkan 1.917.930.568 2.568.557.375 2.806.500.356 21.59

1.1.4. Lain-lain PAD yang sah 16.362.549.071 7.849.065.528 14.471.456.518 16.17

1.1.5 Penerimaan Zakat 1.288.563.475 2.168.666.151 - 84.15

1.2. Dana Perimbangan 538.149.844.541 563.364.653.240 615.025.605.548 6.92 1.2.1. Dana bagi hasil pajak

/bagi hasil bukan pajak 92.516.236.541.00 98.680.125.240 101.809.271.548 4.91 1.2.2. Dana alokasi umum 403.238.538.000 423.677.588.000 467.034.124.000 7.65 1.2.3. Dana alokasi khusus 42.395.070.000 41.006.940.000 46.182.210.000 4.67 1.3. Lain-Lain Pendapatan

Daerah yang Sah 19.474.319.171 63.908.484.209 212.942.256.703 230.68

1.3.1 Hibah - 31.200.000 360.000.000 526.92

1.3.2 Dana darurat

1.3.3

Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya **)

11.970.319.171 12.540.694.209 14.242.189.627 9.16

1.3.4 Dana penyesuaian dan

otonomi khusus***) 5.004.000.000 51.336.590.000 198.340.067.076 606.13 1.3.5 Bantuan keuangan dari

provinsi atau Pemerintah

Daerah lainnya 2.500.000.000 100

1.3.6 Dana Pendidikan dari Provinsi

1.3.7 Lain-lain

Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah⏐ III - 3

Pembangunan Kabupaten Aceh Tamiang tergantung dari APBK yang akan dilaksanakan selama 2 tahun ke depan. Dari struktur anggaran. dimana pada bagian pendapatan memiliki korelasi dengan pengelolaan pendapatan asli daerah serta kekayaan daerah yang dimiliki. maka pendapatan asli daerah menjadi tolok ukur kemandirian suatu daerah. Berdasarkan analisis data kontribusi PAD Kabupaten Aceh Tamiang selama 3 tahun terakhir. hanya memberikan kontribusi rata-rata 85.45 persen sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan daerah Kabupaten Aceh Tamiang masih sangat bergantung dari transfer Pemerintah Pusat.

Penggalian sumber-sumber pendanaan dari daerah. pemanfaatan sumber-sumber pendapatan daerah perlu ditingkatkan. agar ketergantungan terhadap pemerintahan pusat lambat laun dapat dikurangi. Untuk itu perlu adanya terobosan-terobosan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah. Melalui peningkatan sektor yang bisa menjadi penyumbang peningkatan PAD antara lain berasal dari Pajak daerah. retribusi. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Khusus PAD yang bersumber dari lain-lain pendapatan asli daerah yang sah karena berasal dari jasa giro dan sumbangan pihak ketiga maka tidak dapat dijadikan sebagai potensi PAD yang dapat digali.

Pertumbuhan pajak daerah pada Tahun 2012 relatif kecil dan Tahun 2013 mengalami peningkatan. sedangkan pada Tahun 2014 mengalami penurunan. Rata-rata pertumbuhan pajak daerah selama 3 tahun sebesar 55.09 persen. Secara umum peningkatan pendapatan pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 terjadi peningkatan rata-rata sebesar 26.07 persen per tahun.

3.1.2 Neraca Daerah

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas (Perusahaan. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) yang meliputi aset. kewajiban dan ekuitas dana pada suatu saat tertentu. Laporan Neraca Daerah akan memberikan informasi penting kepada manajemen pemerintah daerah. pihak legislatif daerah maupun para kreditur/pemberi pinjaman kepada daerah serta masyarakat luas lainnya tentang posisi atau keadaan kekayaan atau aset daerah dan kewajibannya serta ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Elemen utama Neraca Pemerintah Daerah meliputi aset. kewajiban dan ekuitas dana.

Pengertian dari masing-masing elemen utama neraca sebagai berikut:

III - 4 ⏐ Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah

Dalam dokumen QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG (Halaman 130-135)