• Tidak ada hasil yang ditemukan

Izin Usaha Industri (lUI) (1) FotokopiKTP

Dalam dokumen Studi Kelayakan Teori dan Aplikasi (Halaman 184-197)

DAN LEGALITAS

8. Izin Usaha Industri (lUI) (1) FotokopiKTP

(2) Surat Pemeriksaan Kuda (Surat Kir Kuda).

(3) Surat Pemeriksaan Dokar (Surat Kir Dokar).

( 4) Pasfoto pemilik dokar 3

x

4

=

2 lembar.

(5) Surat izin operasional dokar yang lama hila akan dilakukan perpanjangan.

( 6) W aktu proses selama 1 hari.

6. Izin Pengambilan dan Pengelolaan Galian

C

(1) FotokopiKTP.

(2) Pengisian formulir permohonan.

(3) Peta lokasi penambangan.

( 4) Pemyataan kesanggupan reklamasi

dan

membayar pajak.

(5) Persetujuan tetangga yang diketahui kades/lurah dan camat.

(6) Waktu proses 7 hari.

7.

Izin Makam Keluarga (1) Fotokopi KTP.

(2) Pengisian formulir permohonan.

(3) Surat kepemilikan/penggunaan tanah berupa sertifikat tanah/per­

janjian sewa/surat keterangan dari lurahlkades dengan diketahui cam at.

( 4) W aktu proses 5 hari.

8.

Izin Usaha Industri (lUI) (1) FotokopiKTP.

(2) Pengisian formulir permohonan.

(3) Fotokopi akta hila herhadan hukum.

(

4)

F otokopi NPWP hila berhadan hukum.

( 5) Surat keterangan tidak keheratan dari tetangga.

(6) Surat pernyataan pengelolaan lingkungan.

(7)

Fotokopi HO hila diwajihkan.

(8)

Materai Rp6000,- sehanyak 2lemhar.

(9) Waktu proses selama 6 hari kerja.

9. Tanda Daftar Industri (TDI ) (1) FotokopiKTP.

(2) Pengisian formulir permohonan.

(3)

F otokopi akta hila berhadan hukum.

(

4)

F otokopi NPWP hila berhadan hukum.

( 5) Surat keterangan tidak keheratan dari tetangga.

( 6) Surat pernyataan pengelolaan lingkungan.

(7)

Fotokopi HO hila diwajihkan.

(8)

Surat keterangan dari kades/lurah.

(9) Materai Rp6000,- sehanyak 2lemhar.

(10) Waktu proses selama 6 hari kerja.

10. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP ) (1) FotokopiKTP.

(2) Pengisian formulir permohonan.

(3)

Fotokopi NPWP hila berhadan hukum.

(

4)

Pasfoto ukuran

4

x 6 sehanyak 2lemhar.

(5) Fotokopi izin gangguan hila wajih.

(6) Fotokopi akta pendirian hila herhadan hukum.

(7) Materai Rp6000,- sebanyak: 2lembar.

(8)

Map

3

buah.

(9) Waktu proses selama 5 hari.

11. Izin U saha Angkutan (IUA ) (1) FotokopiKTP.

(2) Fotokopi NPWP hila herbadan hukum.

(3)

Fotokopi izin prinsip.

(4)

Fotokopi STNK.

(5) Fotokopi KTA Organda.

( 6) F otokopi akte pendirian hadan hukum .

(7)

F otokopi keterangan domisili perusahaan.

(8)

Fotokopi izin HO garasi.

(9)

Fotokopi uji kendaraan.

(10) Waktu proses

14

hari.

12. Tanda DaftarPerusahaan

(1)

Fotokopi KTP.

(2)

Pengisian formulir permohonan.

(3) Fotokopi NPWP hila herhadan hukum.

(4)

Fotokopi izin gangguan(HO) hila wajih.

(5) Fotokopi akta pendirian hila herhadan hukum.

(6) Materai Rp6000,-l lemhar.

(7)

Waktu proses 5 hari kerja.

Masing-masing daerah memiliki ketentuan sendiri, namun ketentuan umum kurang lehih sehagaimana tersehut di atas.

Skala Usaha

Usaha dapat diklasifikasikan menurut jumlah aset yang dimilikinya, yang disehut skala usaha. Pengklasifikasian ini herguna dalam herhagai aktivitas hisnis, terutama hagi pemerintah dalam kaitannya dengan ke­

giatan pemhinaan dan pengemhangan usaha melalui dinas/departemen terkait. Dengan mengelompokkan usaha menjadi beberapa skala, peme­

rintah dapat melakukan pemetaan, pemantauan, dan pembinaan melalui pengembangan SDM herupa pendidikan dan pelatihan, pemberian ban­

tuan permodalan, pendukungan akses pemasaran, dan sehagainya.

Skala usaha di Indonesia dikelompokkan menjadi

4

jenis, yaitu:

(

1)

U saha Mikro

Usaha mikro merupakan usaha yang tidak berbadan hukum, biasanya tidak memiliki perizinan yang dikeluarkan instansi berwenang dan sering disebut usaha informal. Aset usaha yang dimiliki skala mikro ini maksimal sebesar Rp25 juta ( di luar tanah dan bangunan).

(2) Usaha Kecil

Skala usaha kecil memiliki kekayaan/aset usaha maksimal sebesar

Rp200 juta (di luar tanah dan bangunan). Omzet (perputaran usaha) dalam waktu 1 tahun maksimal sebesar Rp l miliar. Usaha kecil ini rata-rata sudah memiliki izin usaha dengan bentuk badan hukum usaha dagang (UD), perusahaan dagang (PD), dan sebagian telah mempunyai organisasi yang lebih baik, seperti koperasi, persekutuan komanditer

(CV),

dan sebagian kecil dalam bentuk perseroan terbatas (PT).

(3)

U saha Menengah

Skala usaha menengah belum mempunyai ketentuan baku tentang batasan aset, namun dari penelitian berbagai perguruan tinggi yang bekerja sama dengan instansi pemerintah telah didefinisikan bahwa yang dimaksud dengan usaha menengah adalah usaha yang memiliki kekayaan/aset antara Rp200 juta dan maksimal Rp500 juta ( di luar tanah dan bangunan). Bentuk badan hukum usaha menengah ini sebagian besar sudah dalam bentuk

CV,

koperasi, dan perseroan terbatas (PT).

(

4)

U saha Besar

Skala usaha digolongkan termasuk besar bagi yang memiliki aset di atas Rp500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan). Usaha besar sebagian besar bentuk badan hukumnya adalah peseroan terbatas (PT).

Analis studi kelayakan perlu memerhatikan skala usaha yang layak dibuatkan studi kelayakan, biasanya minimal usaha skala kecil.

Bentuk Hukum Perusahaan di Indonesia

Setelah analis mempertimbangkan skala usaha yang akan didirikan atau dikembangkan, langkah selanjutnya adalah menentukan bentuk hukum badan usaha yang akan dipilih. Ada beberapa bentuk perusahaan dari segi yuridis di Indonesia, yaitu:

a. Perusahaan Perseorangan

Perusahaan jenis ini biasanya diawasi dan dikelola seseorang. Di satu pihak ia memperoleh semua keuntungan perusahaan, selain menanggung semua risiko yang timbul dalam kegiatan. Biasanya, bentuk izin usahanya adalah usaha dagang (UD) dan perusahaan

dagang (PD) dengan izin operasional berupa SIUP Kecil yang dapat diperoleh di Dinas Perdagangan atau Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan). Perusahaan perseorangan ini belurn membutuhkan akta pendirian walaupun terkadang ada yang memilikinya, namun jurnlahnya sedikit. Dalam tata peraturan perdagangan di Indonesia, untuk mendapatkan perizinan, usaha mikro tidak memerlukan akta notaris pendirian usaha.

b. Firma

Firma adalah bentuk perkurnpulan usaha yang didirikan oleh beberapa orang dengan menggunakan nama bersama. Dalam firma semua anggota mempunyai tanggung jawab sepenuhnya baik sendiri­

sendiri maupun bersama-sama terhadap utang-utang perusahaan pada pihak lain. Bila terjadi kerugian, kerugian itu akan ditanggung bersama, hila perlu dengan seluruh kekayaan pribadi. Jika salah satu anggota keluar dari firma, firma otomatis bubar. Bentuk firma ini sudah jarang dijurnpai di Indonesia, mungkin kurang diminati, karena pertimbangan faktor risiko yang dianggap terlalu besar bagi sebagian investor.

c. Perseroan Komanditer

(CV)

Perseroan komanditer

(CV)

merupakan persekutuan yang didirikan oleh beberapa orang dengan masing-masing menyerahkan sejurnlah uang yang tidak perlu sama. Sekutu dalam perseroan komanditer ini ada

2

macam, yaitu

( 1)

sekutu komplementer, yaitu orang-orang yang bersedia mengatur perusahaan;

(2)

sekutu komanditer, yaitu orang­

orang yang memercaya.k:an modal usahanya dan bertanggung jawab sebatas modal yang diikutsertakan dalam perusahaan.

d. Perseroan Terbatas (PT)

Badan usaha jenis ini adalah badan usaha yang mempunyai kekayaan, ha.k: milik, dan tanda keikutsertaan seseorang memiliki perusahaan melalui saham perusahaan. Makin banya.k: saham yang dimiliki, ma.k:in besar pula andil dan kedudukannya dalam perusahaan terse but.

Jika terjadi utang, harta milik pribadi tidak dapat dipertanggungkan atas utang perusahaan terse but, tetapi terbatas pada sahamnya saja.

e. Perusahaan Negara (PN)

Perusahaan negara atau sering disebut BUMN (Badan Usaha Milik Negara) adalah perusahaan yang bergera.k: dalam bidang usaha yang

modalnya secara keseluruhan dimiliki negara, kecuali jika ada hal-hal khusus berdasarkan undang-undang. Tujuan pendirian perusahaan ini adalah membangun ekonomi nasional menuju masyarakat adil dan makmur.

f. Perusahaan Pemerintah

Badan usaha pemerintah lain di Indonesia ada1ah persero, perusahaan umum (perum), dan perusahaan daerah (PD). Persero dan perusahaan daerah (PD) ada1ah perusahaan yang mencari keuntungan bagi negara, sedangkan perum tidak semata-mata mencari keuntungan.

g. Koperasi

Koperasi merupakan bentuk badan usaha yang bergerak di bidang ekonomi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggotanya;

sifatnya murni pribadi dan tidak dapat dialihkan. Jadi, badan usaha ini merupakan wadah penting untuk kesejahteraan anggota berdasarkan persamaan. Menurut hi dang usaha, koperasi dike1ompokkan menjadi koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi simpan pinjam, dan koperasi serbausaha.

Menurut luas usahanya, koperasi terdiri atas primer koperasi (Primkop), pusat koperasi (Puskop), gabungan koperasi (Gakop), dan induk koperasi (lnkop) sebagai satuan terkecil yang melibatkan secara 1angsung anggotanya. Pusat koperasi merupakan gabungan paling sedikit lima primer koperasi. Gabungan koperasi merupakan gabungan paling sedikit tiga Puskop. Dan, induk koperasi merupakan gabungan paling sedikit tiga Gakop.

h. Yayasan

Berdasarkan Undang-Undang No. 16 tahun 2001 tentang yayasan yang menjelaskan pemisahan kekayaan pribadi dan lembaga, susunan kepengurusan yayasan, serta pertanggungjawaban yayasan baik kepada pemerintah maupun pub1ik te1ah diindikasikan bahwa yayasan di masa datang akan menjadi sa1ah satu 1embaga usaha milik masyarakat yang penge1o1aan dan ska1a usahanya tidak jauh berbeda dengan badan usaha dan badan hukum 1ainnya. Saat ini terbukti te1ah banyak badan usaha yang dike1o1a yayasan, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, dan sosiallk:etenagakerjaan.

Berkaitan dengan aspek yuridis da1am studi ke1ayakan bisnis, bentuk perusahaan yang akan bertanggung jawab da1am pengelo1aan

proyek perlu diketahui sebelumnya karena masing-masing memiliki karakteristik sendiri.

Metode Pemilihan Badan Hukum

Penentuan dan pemilihan bentuk badan hukum yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan didirikannya perusahaan dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu:

1. Faktor Tujuan

(Goal)

Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apakah tujuan utama didirikannya perusahaan. Apakah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan atau berorientasi pada kemanfaatan semata atau kedua-duanya, yaitu untuk mendapatkan keuntungan

(profit)

dan kemanfaatan

(benefit).

2. Faktor Kepemilikan

(Ownership)

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa orangkah pemilik perusahaan yang akan didirikan: seorang, dua orang, atau lebih dari 20 orang.

Jawaban pertanyaan itu dapat membawa konsekuensi terhadap bentuk hukum badan usaha yang akan dibangun.

3. Faktor Permodalan

(Capital)

Estimasi modal dasar yang diperlukan untuk mendirikan usaha akan menentukan bentuk hukum badan usaha karena untuk badan hukum tertentu mensyaratkan modal minimal.

4. Faktor Pembagian Risiko

(Risk sharing)

Setiap usaha (bisnis) pasti mengandung nilai risiko karena hukum ekonomi mengatakan bahwa antara risiko dan

return

ada hubungan positif dan signifikan. Pembagian porsi risiko dalam bisnis akan menentukan bentuk badan hukum yang digunakan. Ada badan hukum yang memiliki risiko tak terbatas sampai harta pribadi pemilik dan ada juga yang risikonya dibatasi hanya pada bagian kepemilikan modal usaha.

5. Faktor Jangka Waktu

(Timely)

Batas waktu usia organisasi berpengaruh dalam menentukan jenis badan hukum organisasi yang akan dipilih. Untuk badan hukum tertentu, pemerintah melalui undang-undang dan peraturannya

tidak membatasi (seperti, yayasan); namun, ada badan hukum yang batas waktunya harus dibatasi (perseroan terbatas, persekutuan komanditer), walaupun dapat diperpanjang lagi.

Tabel8.1 Evaluasi Bentuk Badan Hukum

BadaaHulmm Goal

1 Perseorangan Profit

(UD)

2 Firma Profit

3 Persekutuan Profit Komanditer

(CV)

4 Perseroan Profit Terbatas (PT)

5 Perusda/BUMN Profit/

Benefit 6 Koperasi Benefit

7 Yayasan Benefit

Keterangan:

FR = Full Risk Ltd. = Limited

ldentitas Investor

Owaenhip Capital RiskSiwiDg

Single Mikro-Kecil Full Risk

> 2 orang Mikro-Kecil Full Risk

> 2 orang Kecil- Aktif=FR

Menengah

Pasif= Ltd.

> 2 orang Kecil- Limited

Menengah- Besar

Pemerintah Menengah- Limited Besar

> 20 orang Kecil- Limited

Menengah- Besar

>2 orang Kecil- Limited

Mene1:1gah-

Timely

Unlimited

Unlimited Limited

Limited

Limited

Unlimited

Unlimited

Studi kelayakan disusun untuk memenuhi beberapa persyaratan dalam kaitanya dengan sebuah investasi. Analis perlu mempertimbangkan anali­

sisnya, terutama yang menyangkut aspek hukum dan legalitas usaha yang akan didirikan/dikembangkan. Aspek tersebut berkaitan dengan keber­

lanjutan objek studi ini. Investor yang bermasalah akan menyebabkan tersendatnya kelancaran usaha proyek dan bisnis yang dinilai layak. Oleh karena itu, penting sekali untuk meneliti identitas investor.

Beberapa sisi identitas investor yang perlu diteliti, adalah seperti berikut:

a. Kewarganegaraan

Kewarganegaraan investor perlu diketahui. Hal ini berhubungan dengan peraturan pribumi dalam pendirian suatu perusahaan.

b. Informasi Bank

Perlu diteliti apakah calon investor terlibat kredit bermasalah dalam suatu bank. Kenyataannya, sekarang banyak pelaksanaan proyek yang terhenti karena pelaksana proyek/investor tersangkut dalam kredit macet. Dewasa ini Bank Indonesia mengembangkan Sistem Informasi Debitur (SID) yang menjadi sumber informasi bagi perbankan untuk mengetahui apakah seseorang yang menjadi nasabah di suatu bank termasuk nasabah yang masuk dalam kredit macet atau tidak. Informasi ini sangat penting karena, jika investor masuk dalam daftar hitam, tentunya dapat menimbulkan kesulitan akses keuangan di perbankan pada masa yang akan datang.

c. Keterlibatan Pi dana atau Perdata

Perlu juga diketahui apakah calon investor tengah terlibat dalam suatu tindakan yang dapat menimbulkan gugatan atau tuntutan.

Sikap kehati-hatian diperlukan dalam memilih cal on investor karena jika temyata investor bermasalah dengan aset yang dimilikinya dan tersangkut masalah perdata, realisasi proyek akan mejadi sulit bahkan dapat mengakibatkan kegagalan.

d. Hubungan Keluarga

Jika di dalam proyek ada hubungan suami-istri atau orang tua-anak sebagai individu-individu yang terlibat, perlu diselidiki cara mereka mengatur kebijakan harta. Untuk suami-istri, perlu diteliti apakah nikah dengan harta campuran atau terpisah; untuk orang tua-anak, bagaimana kebijakan harta warisan yang dibuat. Bisnis yang gagal di tengah jalan sudah sering terjadi antara lain karena pemiliknya berebut bagian masing-masing atau "bisnis" mereka akhimya malah menjadi harta warisan yang diperebutkan anggota keluarga lainnya.

Oleh karena itu, pemisahan harta (aset) yang diinvestasikan dengan harta pribadi perlu dipertegas dan dinotariskan sehingga manajemen dan pihak-pihak pengelola tidak menjadi korban kegagalan bisnis akibat pertengkaran/perselisihan keluarga.

Proses Perizinan dan Legalitas Usaha

Sebelum kegiatan investasi dilakukan, perlu diperhatikan lokasi usaha yang akan dibangun karena itu tidak akan terlepas dari pengaruh-pengaruh yang dapat merugikan perusahaan jika tidak dipersiapkan dengan baik.

Perhatikan juga masalah perencanaan wilayah dan status tanah.

1. Perencanaan Wilayah

Lokasi proyek harus disesuaikan dengan rencana wilayah yang telah ditetapkan pemerintah agar mudah mendapatkan izin-izin yang diperlukan. Di samping itu, perlu juga diperhatikan perkiraan situasi dan kondisi lokasi pada waktu yang akan datang.

2. Status Tanah

Status kepemilikan tanah proyek harus jelas, jangan sampai menjadi masalah di kemudian hari.

Dalam pelaksanaannya, apa pun bentuk suatu usaha, diperlukan perizinan. Kompleksitas perizinan ini bergantung pada badan usaha yang akan dibentuk, keterkaitan dengan pihak-pihak lain, produk yang akan dihasilkan, sumber material yang akan digunakan, dan sumber permodalannya. Untuk mendapatkan legalitas usaha, ada beberapa jenis perizinan yang perlu dipersiapkan sebelum suatu usaha dijalankan, antara lain:

a. Aleta Pendirian

Akta pendirian ini biasanya dalam bentuk akta notaris yang berisi keputusan/rapat pendirian oleh pendiri tentang anggaran dasar dan anggaran rumah tangga badan hukum usaha. Perusahaanlusaha mikro pada prinsipnya dapat memperoleh perizinan melalui Surat Keterangan Usaha dari kelurahan (kepala desa) setempat atau dari kepala pasar tempat pengusaha mikro tersebut menjalankan usahanya.

b. Surat Keterangan Domisili Usaha

Surat ini dikeluarkan kepala desa sebagai bukti adanya persetujuan dari penguasa daerah setempat. Sebelumnya, untuk mendapatkan persetujuan dari kepala desa, pihak analis (pengurus) perizinan mem­

butuhkan tanda tangan persetujuan dari warga yang bertempat ting­

gal di sekitar lokasi usaha a tau persetujuan dari RT fR W setempat.

c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Untuk mendapatkan surat izin dari instansi/dinas/departemen peme­

rintah berupa SIUP, dalam ketentuannya si pemohon harus sudah mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). NPWP ini dike­

luarkan oleh Kantor Dinas Pajak Daerah tempat lokasi usaha akan didirikan. Untuk mendapatkan NPWP, badan hukum harus menyiap­

kan akta notaris pendirian yang berisi AD/ART, fotokopi KTP pe­

nanggung jawab/pemilik, dan Surat Keterangan Domisili U saha.

d. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

Undang-Undang No. 3 tahun 1983 mewajibkan setiap perusahaan di Indonesia didaftarkan dalam Daftar Perusahaan di Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Perusahaan terse but kemudian diberi Nomor Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

e. Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 408/MPPIKEP/10/1997, setiap perusahaan di Indonesia wajib memperoleh perizinan di bidang perdagangan, yaitu:

(1) Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) yang dikeluarkan Kepala Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan, untuk perusahaan dengan nilai investasi sampai Rp200 juta.

(2) Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), yang dikeluarkan Kepala Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan, untuk investasi dengan nilai di atas Rp200 juta.

Selain perizinan yang bersifat umum, ada pula perizinan yang bersifat khusus, yaitu bersifat sektoral, sesuai dengan jenis usaha yang akan didirikan, antara lain:

a. Jasa Perbankan

(1) Mendapatkan izin prinsip dari Menteri Keuangan Republik Indonesia.

(2) Mendapatkan pengesahan usaha dari Menteri Kehakiman dan HAM RI.

(3) Mencatatkan dalam Lembaran Negara.

( 4) Mendapat izin operasional dari Gubemur Bank Indonesia.

b. Jasa Pendidikan

1.

Pendidikan Dasar

(

1)

Rekomendasi dari kelurahan setempat.

(2)

Rekomendasi dari camat setempat.

(3)

Rekomendasi dari bupati/walikota setempat.

( 4)

Rekomendasi pendirian dari Kepala Kantor Dinas Pendidikan setempat.

(5)

Izin operasional dari Kepala Dinas Diknas setempat.

(

6)

Izin prinsip dari Mendiknas RI.

(7)

Izin operasional dari Dirjen Diksar dan Menengah Depar­

temen Pendidikan Nasional.

2.

Pendidikan Tinggi

(

1)

Rekomendasi dari kelurahan setempat.

(2)

Rekomendasi dari camat setempat.

(3)

Rekomendasi dari bupati/walikota setempat.

(

4)

Rekomendasi pendirian dari Kepala Kantor Kopertis Wilayah setempat.

(5)

Izin prinsip dari Menteri Pendidikan Nasional RI.

(6)

Izin operasional dari Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional RI.

3.

U saha Industri dan Perdagangan

(1)

Izin gangguan (HO) dari kepala daerah.

(2)

Izin lokasi berupa surat izin tempat usaha (SITU) dari kepala daerah setempat.

(3)

Tanda daftar rekanan (TDR), terutama untuk perusahaan kontraktor yang dikeluarkan instansi terkait.

(4)

Izin mendirikan bangunan

(1MB)

dan izin penggunaan gedung.

4.

Usaha Perkebunan, Pertambangan, dan Kehutanan

( 1)

Surat Izin Penggalian

C.

(2)

Surat izin di bidang perkebunan.

(3)

Surat izin hak pemanfaatan hutan (HPH).

Legalitas Produk

Produk atau barang yang diperdagangk:an akan turut menentukan perjalan­

an usaha yang akan dijalankan. Analisis produk dalam aspek ini berkaitan dengan hukum negara dan legalitas menurut syariat agama. Komoditas usaha yang akan dipasarkan di dalam negeri harus memerhatikan per­

aturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjual suatu produk:

JeDisU•ha JeDis

Prodak Leplitas

lastaasi

Barang 1. Makanandan 1. BPOM 1. Departemen

Berwujud Minuman

2. Sertiflkasi Kesehatan

2. Produk Kimia Hal a! 2. Majelis

3. Produk 3. Standar Ulama

Tambang dan Kualitas Indonesia

Mineral (MUI)

4. Standardisasi

3. Badan 4. Manufacturing Nasional

Meteorologi Indonesia

(SNI) 4. Departemen

Perdagangan BarangTak 5. Software!Produk 6. Hak 7. Departemen

Berwujud seni lainnya Paten!HAKI HAM dan

Perundang- undangan

Produk yang akan dihasilkan dari bisnis yang akan didirikan harus memerhatikan legalitas sebagaimana disebutkan di atas. Mengabaikan legalitas akan menimbulk:an risiko hukum berupa tuntutan hukum dari dinas dan instansi berwenang. Jika hal ini terjadi, perkembangan dan kemajuan usaha yang sudah dirintis dengan susah payah oleh para pendirinya tentu akan terhambat.

Keterkaitan dengan analisis aspek sebelumnya, yaitu aspek teknis dan teknologis, sangat signifikan. Kesalahan dalam analisis tersebut, terutama pada seleksi produk, akan menimbulkan biaya yang sangat besar. Kesalahan dalam pengambilan keputusan memilih produk utama

(main product)

akan berdampak pada aspek-aspek lain dan ujung­

ujungnya tentu akan mengakibatkan kerugian dan yang paling fatal adalah kegagalan bisnis.

Legalitas Merek

Berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 2001

Dalam dokumen Studi Kelayakan Teori dan Aplikasi (Halaman 184-197)

Dokumen terkait