• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis - Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Dalam dokumen PROGRAM PASCASARJANA (Halaman 44-55)

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis

5. Jenis - Jenis Model Pembelajaran Kooperatif

Terdapat beberapa macam model pembelajaran kooperatif, di antaranya yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe NHT.

a. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

STAD merupakan salah satu model atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan sebuah

pendekatan yang baik untuk guru yang baru memulai penerapan pembelajaran kooperatif dalam kelas.

Seperti halnya pembelajaran lainnya, pembelajaran koopertif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan (Trianto, 2009:70). Persiapan-persiapan tersebut antara lain:

1. Perangkat Pembelajaran

Sebelum melaksanakan pembelajaran ini perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya, yaitu meliputi Rencana Pembelajaran (RP), Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), beserta Lembar Jawabannya.

2. Membentuk Kelompok Kooperatif

Membentuk anggota kelompok diuasahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antarsatu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogen. Apabila memungkinkan kelompok kooperatif perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang sosial, sebagaimana yang dinyatakan Slavin (dalam Trianto, 2009:

68) bahwa STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Apabila dalam kelas terdiri atas ras dan latar belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada prestasi akademik, yaitu:

a. Siswa dalam kelas terlebih dahulu dirangking sesuai kepandaian dalam mata pelajaran sains fisika.

b. Menemtukan tiga kelompok dalam kelas yaitu kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok bawah. Kelompok atas 25%

dari seluruh siswa yang diambil dari siswa rangking satu, kelompok tengah 50% dari seluruh siswa yang diambil dari urutan setelah diambil kelompok atas, dan kelompok bawah sebanyak 25% dari seluruh siswa yaitu teridiri yaitu terdiri atas siswa setelah diambil kelompok atas dan kelompok menengah.

c. Menentukan Skor Awal

Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis.

d. Pengaturan Tempat Duduk

Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan baik, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pemebelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menibulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif.

e. Kerja Kelompok

Untuk mencegah adanya hambatan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD, terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama kelompok. Hal ini

bertujuan untuk lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri atas lima komponen penting yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor perkembangan individual dan penghargaan kelompok Slavin (dalam Khasanah 2011: 35).

1. Penyajian Kelas

Setiap awal pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Materi terlebih dulu diperkenalkan melalui penyajian kelas yang difokuskan pada unit STAD. Penyajian kelas ini akan sangat membantu siswa dalam mengerjakan kuis-kuis yang juga akan menentukan skor kelompok mereka. Dengan cara ini, siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama penyajian kelas.

2. Belajar Kelompok

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas empat sampai lima siswa yang heterogen. Selama belajar kelompok, tugas siswa adalah mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru untuk menguasi materi dan membantu teman satu kelompoknya untuk menguasai materi tersebut.

3. Kuis

Setelah satu atau dua periode pengajaran dan satu sampai dua periode latihan tim, siswa mengikuti kuis secara individu. Kuis dikerjakan oleh siswa secara mandiri. Hal ini menunjukkan apa saja yang telah diperoleh

siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai skor perkembangan individu dan disumbangkan dalam skor perkembangan kelompok.

4. Skor Perkembangan Individual

Setelah diberi kuis, hasil kuis itu diskor dan tiap individu diberi skor perkembangan. Ide yang melatarbelakangi skor perkembangan ini adalah memberi prestasi yang harus dicapai siswa jika ia bekerja keras dan mencapai hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya. Siapa pun dapat memberi kontribusi skor maksimal dalam sistem skor ini, tetapi tidak siapa pun bisa kecuali mereka yang bekerja dengan baik. Setiap siswa diberi skor dasar yang berasal dari rata-rata skor yang lalu pada kuis yang serupa.

Siswa lalu mendapat poin untuk timnya berdasar pada kenaikan skor kuis mereka dari skor dasarnya. Cara menentukan skor perkembangan setiap individu Slavin (dalam Khasanah 2011: 37) menyatakan:

Tabel 2.2 Kriteria Skor Perkembangan

Kriteria Poin

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

10-1 poin di bawah skor awal 10

skor awal sampai 10 poin di atas skor

awal 20

lebih dari 10 point di atas skor awal 30 nilai sempurna (terlepas dari skor awal) 30

5. Penghargaan Kelompok

Tim mungkin mendapat sertifikat atau penghargaan lain jika rata-rata skor melebihi kriteria tertentu. Adapun kriteria penghargaan menurut Slavin (dalam Khasanah 2011: 37) penghargaan yang diberikan kepada kelompok adalah dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 2.3 Kriteria Penghargaan Kelompok Skor rata-rata tim Penghargaan

15 Good team

20 Good team

25 Supergreat team

Langkah-Langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase.

Fase-fase dalam pembelajaran ini seperti disajikan dalam table 2.4 Table 2.4

Fase-Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Fase Kegiatan Guru

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase 2

Menyajikan/menyampaikan informasi

Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan

Fase 3

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok bekerja dan belajar

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase 5 Evaluasi Fase 6

Memberikan penghargaan

atau lewat jalan bahasa bacaan Menjelaskan kepada siswa

bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka

mengerjakan tugas mereka

Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok

menpersentasekan hasil kerjanya Mencari cara-cara untuk

menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

b. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Numbered Heads Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama merupakan model pembelajaran kooperatif yang terdiri atas empat tahap yang digunakan untuk melihat kembali fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi mengatur interaksi siswa. NHT digunakan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ciri khas

dari NHT adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut.

Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagan tahun 1992 (dalam Anita Lie 2002: 58). Model pembelajaran ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat. Selain itu, model ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Dalam model pembelajaran kooperatif tipe ini siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan kemampuan yang bervariasi: satu kemampuan tinggi, dua kemampuan sedang dan satu kemampuan rendah. Di sini ketergantungan positif dikembangkan, yang kemampuan kurang terbantu kemampuan yang lebih.

Interaksi sosial terjadi dalam kelompok ini, ada saling komunikasi, tatap muka, diskusi, dan tanggung jawab.

Menurut Anita Lie (2002: 59) ada 4 langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT:

a. Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.

b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

c. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.

d. Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.

Menurut David Jonson (dalam Anita Lie 2002: 29-34), pembelajaran kooperatif meliputi lima prinsip yang harus diterapkan, yaitu:

1) Saling ketergantungan yang positif;

2) Tanggung jawab individu;

3) Tatap muka;

4) Komunikasi antaranggota;

5) Evaluasi proses kelompok.

Suprijono (2009: 92) menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Numbered Heads Together diawali dengan Numbering.

Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah pesertra didik dalam satu kelas terdiri atas 40 orang dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari, maka tiap kelompok terdiri atas 8 orang. Tiap-tiap orang diberi nomor 1-8.

Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Berikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru.

Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan member jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru.

Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh. Guru merancang model pembelajaran ini disesuaikan dengan kemampuan siswa dan kebutuhan siswa agar berkembang secara optimal. Dengan demikian, proses pembelajaran berlangsung efektif. Sehingga setelah selesai pembelajaran diharapkan ada perubahan tingkah laku.

Dari uraian di atas, langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.

2. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi tugas yang berbeda untuk dikerjakan.

3. Siswa mendiskusikan hasil pekerjaannya dengan teman satu kelompok.

4. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.

5. Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.

6. Siswa dari kelompok lain yang berbeda pendapat menyampaikan pendapatnya.

7. Guru dan siswa mengadakan evaluasi kelompok.

8. Mengadakan kuis dan memberikan tugas.

9. Menutup pelajaran.

Dari uraian di atas pada prinsipnya kedua model pembelajaran kooperatif tipe STAD sama dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, perbedaannya pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD setiap siswa mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengerjakan semua soal/tugas. Setiap siswa mengerjakan semua soal dan berdiskusi dalam

kelompok. Mereka berorientasi bahwa mereka harus mendapat nilai kuis yang maksimal. Dan akhirnya tim mereka akan menjadi tim super.

Penggunaan model pembelajaran tipe NHT mempunyai ciri khas yaitu guru hanya menunjuk seorang siswa dengan nomor tertentu untuk mewakili kelompoknya. Walaupun dalam menunjuk, guru tidak memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan menjadi wakil kelompok, namun siswa cenderung mengutamakan/mengerjakan satu soal saja yang menjadi tanggung jawab atau menjadi tugasnya di dalam kelompok. Kelemahan dari kedua model pembelajaran ini adalah keduanya membutuhkan waktu yang relatif lebih lama jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Sehingga materi yang dibebankan pada semester tertentu akan tidak selesai. Kelemahan yang lain, apabila ada siswa yang tidak mau terlibat secara aktif dalam kelompok, maka akan menghambat perkembangan dan kemajuan teman- teman yang lain.

Dalam dokumen PROGRAM PASCASARJANA (Halaman 44-55)

Dokumen terkait