HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Uji Hipotesis
diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih besar dari 0,3 (kategori minimal sedang).
c. Hasil Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui apakah pembelajaran bahasa Indonesia efektif melalui penerapan model pembelajaran model kooperatif tipe NHT pada materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita pada kelas VII2 MTs Negeri Biringkanaya Makassar.
maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:
:μ ≤75 lawan :μ > 75
Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata posttes siswa setelah diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita lebih dari 75 (KKM) dan berdasarkan analisis inferensial menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti rata- rata hasil belajar posttest pada kelas yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih dari KKM. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis inferensial maka dapat simpulkan bahwa skor rata-rata posttes siswa setelah diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita lebih dari 75 (KKM).
2. Terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu skor rata-rata posttest lebih tinggi daripada skor rata-rata pretest (rata-rata gain ternormalisasi minimal sedang). Untuk keperluan statistik maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:
Keterangan :
µg : parameter skor rata-rata gain ternormalisasi
Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata gain ternormalisasi siswa setelah diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita minimal sedang dan berdasarkan analisis inferensial menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti rata-rata gain ternormalisasi siswa setelah diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita minimal sedang.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis inferensial maka dapat simpulkan bahwa rata-rata gain ternormalisasi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita minimal sedang.
3. Ketuntasan belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa
kegiatan mendengarkan berita secara klasikal minimal 75%.
Untuk keperluan statistik maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:
: ≤75 % lawan : > 75 %
Secara analisis deskriptif ketuntasan klasikal siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih dari 75%, namun secara analisis inferensial ketuntasan klasikal siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kurang dari 75%. Walaupun demikian, masih dapat simpulkan bahwa ketuntasan klasikal siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih dari 75%. Hal ini disebabkan karena pada uji proporsi yang dilakukan di atas memiliki jumlah sampel yang kecil jadi kemungkinan untuk menolak Ho sangat kecil.
b. Hasil Analisis Aktivitas Siswa
“Aktivitas siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita lebih dari 2,66 (kategori minimal aktif)”
kelas VII2 yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT telah sesuai dengan yang dikategorikan yaitu 2,66 “aktif”.
c. Hasil Analisis Respons Siswa
“Respons siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita lebih dari 2,7 (kategori positif)”
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh rata-rata skor respons siswa kelas VII2 yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT telah sesuai dengan yang dikategorikan yaitu 2,7 “positif”.
Berdasarkan hasil analisis deskiptif dan hasil analisis inferensial yang telah diuraikan sebelumnya, tampak bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT telah memenuhi kriteria keefektifan, baik dari hasil belajar siswa, aktivitas siswa maupun respons siswa. Oleh karena itu, hipotesis 2 teruji kebenarannya sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT efektif pada pembelajaran bahasa Indonesia materi di kelas VII MTs Negeri Biringkanaya Makassar.
Kooperatif tipe STAD dengan Tipe NHT a. Perbandingan Hasil Analisis Deskriptif
Hasil analisis tingkat keefektifan untuk masing-masing pembelajaran disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.17 Ketercapaian Kriteria Keefektifan Pembelajaran Model
pembelaj aran
Indikator Kriteria Pencapaia n
Keputusan
STAD
1. Hasil belajar a. Rata-rata nilai
post-test melebihi KKM b. Nilai gain
ternormalisasi minimal sedang c. Ketuntasan
klasikal minimal 75%
2. Aktivitas siswa (AS) minimal aktif
3. Respons siswa (RS) minimal positif
̅ > 75
0,3≤ ̅ < 0,7
≥75%
2,5≤ < 3,5
2,5≤ < 3,5
̅ = 80,9
̅ = 0,65
= 88%
= 2,87
= 3,5
Terpenuhi
Terpenuhi
Terpenuhi
Terpenuhi
Terpenuhi
1. Hasil belajar
NHT
post-test melebihi KKM b. Nilai gain
ternormalisasi minimal sedang c. Ketuntasan
klasikal minimal 75%
2. Aktivitas siswa (AS) minimal aktif
3. Respons siswa (RS) minimal positif
0,3≤ ̅ < 0,7
≥75%
2,5≤ < 3,5
2,5≤ < 3,5
̅ = 0,55
= 77%
= 2,66
= 2,7
Terpenuhi
Terpenuhi
Terpenuhi
Terpenuhi
Dari tabel 4.16 untuk kelas eksperimen 1 memperlihatkan bahwa hasil belajar berada pada kategori sedang (efektif), aktivitas siswa berada pada kategori sedang (efektif) dan respons siswa terhadap pembelajaran berada pada kategori sangat positif (efektif). Sehingga berdasarkan kriteria keefektifan setiap indikatornya berada pada kategori efektif. Demikian pula untuk kelas eksperimen 2, hasil belajar berada pada kategori sedang (efektif), aktivitas siswa berada pada kategori sedang (efektif), sedangkan respons
sedang (efektif). Sehingga berdasarkan kriteria keefektifan setiap indikatornya berada pada kategori efektif. Meskipun kedua model pembelajaran berada pada kategori efektif, tetapi terlihat ada perbedaan dari ketiga aspek yang diukur dari masing-maing model pembelajaran, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi memahamai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita pada kelas VII MTs Negeri Biringkanaya Makassar.
b. Perbandingan Hasil Analisis Inferensial
Indikator keefektifan yang dibandingkan pada analisis inferensial adalah hasil belajar siswa berdasarkan hasil analisis inferensial. Analisis inferensial yang dilakukan diawali dengan beberapa uji prasyarat untuk data post-test dan gain ternormalisasi diantaranya uji homogenitas varians dilakukan untuk mengatahui kehomogenan varians dari populasi dan Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak.