BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1-21
D. Kajian.Pustaka/ Penelitian.Terdahulu
12
13
Penelitian Ridwan dengan judul “Pembentukan Karakter Religius Siswa Berbasis Pendidikan Agama di SMK Negeri 2 Malang”. Karakter religius yang dimiliki oleh siswa di SMKKNegeri 2 Malang sangat bervariasi. Karakter religius siswa disekolah tersebut ada yang dikategori sangattreligius dan kuranggreligius.
Penanaman nilai-nilai karakter religius kepada siswa berbasis pendidikan agama di SMK Negeri 2 Malang diantaranya, mengucapkan salam ketika bertemu, berjabat tangan, membaca asmaul husna setiap pagi, sholat dhuha, sama-sama berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, sholat dhuhur berjamaah, istighosah, sholat jum‟at, setap hari sabtu diadakannya pendalaman al-Qur‟an.19 Perbedaaan penelitian tersebut dengan peneliti, penelitian tersebut membahas tentang pembentukan karakter religius siswa berbasis pendidikan agama, sedangkan peneliti fokus penelitiannya membahas pembentukann karakterr. religius.. pesertaa.didikmmelaluik kegiatann ekstrakurikuler pramuka.
Moh Ahsanulhaq, dalam penelitiannya yang mengupas tentang “Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan”. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa upaya guru PAI dalam membentuk karakter religius peserta didik di SMPN 2 Bae Kudus Tahun Pelajaran 2019/2020 melalui metode pembiasaan yaitu dengan pembiasaan (3S) senyum, salam dan salim, pembiasaan membaca doa hari-hari dan asmaul husna, pembiasaan jujur, pembiasaan tanggungjawab, pembiasaan disiplin, pembiasaan ibadah, pembiasaan liretasi al- Qur‟an dan pembiasaan hidup bersih dan sehat. Adanya dukungan orangtua, komitmen bersama antar warga sekolah dan adanya fasilitas yang memadai program
19Ridwan, “Pembentukan Karakter Religius Siswa Berbasis Pendidikan Agama Di SMK Negeri 2 Malang”, Tesis (Malang: Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, 2018), h.iii.
14
tersebut menjadi faktor pendukung dalam membentuk karakter religius peserta didik.
Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, kurangnya kesadaran peserta didik dan lingkungan atau pergaulan peserta didik menjadi penghambat dalam proses pembentukan karakter religius.20 Penelitian ini membahas membentuk karakter religius peserta didik lewat metode pembiasaan, sedangkan peneliti fokus masalahnya pembentukann karakterr. religius.. pesertaa.didik melaluik kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Penelitian M. Nurhadi yang berjudul “Pembentukann Karakterr. Religius.
Melalui Tahfidzul Qur‟an (StudiKKasus di MIYYusuf Abdussatuar Kediri Lombok Barat)”, mengungkapkan bahwa dalam proses pembentukan karakter religius dilaksanakan melalui rutinitas menghapal al-Qur‟an. Siswa akan mempunyai kebiasaan yang baik termasuk memiliki karakter religius ketika siswa menghapal.
Tolok ukur karakter religius yang terbentuk yaitu dengan seleksi wisuda Tahfidzul Qur‟an, semakin banyak hafalan dari siswa berarti ia memiliki kebiasaan yang baik yaitu sifat rajin.21 Penelitian tersebut berfokus pada pembentukan karakter religius melalui tahfidzul qur‟an sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berfokus kepada pembentukann karakterr. religius.. pesertaa.didik melaluik kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Faisal Efendi dengan judul penelitiannya “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pendidikan Humanis (Study Multi Kasus di SDN Jabong Pungging
20Moh Ahsanulhaq, “Membentuk Karakter Religius Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan”, Jurnal Prakarsa Paedagogia, Vol. 2, No. 1 (Juni 2019), h. 2.
http://jurnal.umk.ac.id/index.php/pendas/index. (Diakses 17 Juli 2020).
21M.Nurhadi, “Pembentukan Karakter ReligiusMelaluiTahfidzul Qur‟an (Studi Kasus di MI Yusuf Abdussatuar Kediri Lombok Barat)”, Tesis (Malang: Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2015), h.7.
15
Mojokerto dan SDN Kemuning Tarik Sidoarjo)”. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pembentukan karakter religius siswa melalui pendidikan humanis di SDN Jabong dan Kemuning adalah bisa dikatakan hampir sama. Kedua sekolah mempunyai prinsip humanis yaitu guru yang humanis, pembelajaran yang bersifat humanis dan hukuman bersifat humanis. Di SDN Jabong, penerapan pendidikan humanis adalah tiap pagi hari guru bersalaman dengan siswa, berdoa secara bersama ketika akan menghadapi ujian sekolah, memperingati maulid Nabi Muhammad saw.
Tupengan di kalangan guru saat hari guru dan peduli sosial sebagai bentuk sedekah bagi mereka. Sementara di SDN Kemuning penerapan pendidikan humanisnya yaitu adanya pembiasaan sholat dhuha dan sholat dhuhur yang dilakukan secara berjamaah disekolah, kebebasan dalam mengemukan pendapat, merayakan maulid Nabi Muhammad saw. dan mengadakan tumpengan saat memperingati hari guru serta adanya larangan menyontek.22 Penelitian tersebut fokus pembentukan karakter religius siswa melalui pendidikan humanis dan penelitian yang peneliti lakukan fokus kepada pembentukann karakterr. religius.. peserta adidik melaluik kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Amar Ma‟ruf dalam penelitiannya yang berjudul “Penanaman Karakter Religius di MA Tahfizul Qur‟an Istiqomah Sambas Purbalingga”, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menumbuhkan nilai-nilai karakter religius dilingkungan sekolah, membentuk jiwa yang islami, melakukan interaksi dengan warga sekolah lainnya, menciptakan kedamaian dan rasa nyaman di lingkungan madrasah. Dalam menanamkan karakter religius, dilaksanakan melalui tiga kegiatan: Pertama,
22Faisal Efendi “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pendidikan Humanis (Study Multi Kasus di SDN Jabong Pungging Mojokerto dan SDN Kemuning Tarik Sidoarjo)”, Tesis (Surabaya: Pascasarjana Universitas Islam negeri Islam Sunan Ample Surabaya, 2019), h.vii.
16
intrakurikuler yaitu pembelajaran agama Islam dengan menerapkan kebiasaan membaca asmaul husna, lalu membaca al-Qur‟an, bimbingan kongseling, sholat dhuhur berjamaah dan membaca dzikir. Kedua, ekstrakurikuler yaitu Pramuka, PMR, Jurnalistik, Departement of Language Improvement dan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Ketiga, kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan yaitu khitobah dan daurah Qur‟an.23 Penelitian tersebut membahas tentang penanaman karakter religius, sedangkan peneliti fokus masalahnya membahas pembentukann karakterr. religius.. peserta adidik melaluik kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Ikhwanul Bekti Trian Putri, dalam penelitiannya yang membahas tentang
“Penanaman Nilai-Nilai Karakter Melalui Ekstrakurikuler Pramuka di MAN 1 Yokyakarta”, hasil penelitian menjelaskan bahwa proses penanaman nilai karakter memperhatikan tahapan perencanaannya, tahapan persiapan, hingga pada tahapan evaluasi. Proses penanaman nilai-nilai karakter di MAN 1 Yokyakarta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didiknya dengan menggunakan metode seperti pengamalan kode kohormatan, pemberian pengharagaan, pendampingan dan kegiatan diluar ruangan. Mereka banyak mendapat dukungan baik itu dari budaya sekolah yang memang sudah ada, program sekolah dan fasilitas sekolah atau madrasah. Sementara hambatan yang dialami yaitu minat dari peserta didik yang masih terbilang kurang, perbedaan karakter dari peserta didik yang ikut pramuka dan ketegasan dari pembina
23Amar Ma‟ruf “Penanaman Karakter Religius di MA Tahfizul Qur‟an Istiqomah Sambas Purbalingga”, Tesis (Purwokerto: Program Pascasarjana InstitutAgama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, 2019), h.v.
17
masih kurang.24 Penelitian ini membahas penanaman nilai-nilai karakter melalui ekstrakurikuler pramuka, sedangkan peneliti fokus masalahnya yaitu pembentukan karakterr.religius..peserta didik melaluikkegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Jusman dengan penelitiannya “Pembentukan Karakter Siswa Melalui Kegiatan Pramuka pada Gugus Depan 157-158 MIN Sampit dan Gugus Depan 47-48 MTsN Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah”. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dalam kegiatan pramuka, pembentukan karakter yang terbentuk terdiri dari beberapa karakter yaitu: displin, religius, jujur, tanggung jawab, patriotisme, cinta damai, mandiri, kreatif, komunikatif, kerja keras, toleransi, semangat kebangsaan, berprestasi, demokratis serta munculnya sikap peduli sosial.
Aktivitas pembentukan karakter tampak di kegiatan pioneering, keterampilan tali temali, keterampilan morse dan semaphore, penjelajahan dan pengembaraan, membaca sandi pramuka, Latihan Ketangkasan Baris-Berbaris (LKBB) dan keterampilan pertolongan pertama. Siswa yang mengikuti kegiatan pramuka terlihat lebih unggul di kelas, memiliki karakter dan terhindar dari indikasi kenekalan remaja.25 Penelitian tersebut berfokus pada pembentukan karakter siswa melalui kegiatan pramuka sementara peneliti berfokus pada pembentukannkarakterrreligius peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Asep Irama dalam judul penelitiannya “Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka dalam Mambentuk Karakter Siswa (Studi di SMPN Se- Kecamatan Tugu
24Ikhwanul Bekti Trian Putri, “Penanaman Nilai-nilai Karakter Melalui Ektrakurikuler Pramuka di Man 1 Yogyakarta”, Jurnal Pendidikan Kewarganeraan dan Hukum (2017), h. 431.
http://eprints.walisongo.ac.id/6198/1/123911057.pdf. (Diakses 17 Juli 2020).
25Jusman “Pembentukan Karakter Siswa Melalui Kegiatan Pramuka pada Gugus Depan 157- 158 MIN Sampit dan Gugus Depan 47-48 MTsN Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah”, Tesis (Banjarmasin: Program Pascasarjana Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, 2017), h.xi.
18
Mulyo)”. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pada kegiatan kepramukaan karakter religius, gotong royong, disiplin dan nasionalis dapat terbentuk melalui pembiasaan. Selain itu, hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa para pembina belum mengikuti kursus mahir sehingga para pembina ada yang belum mahir dalam mengelola dan kurangnya pengawasan dan evaluasi.26 Penelitian tersebut fokus melihat manajemen kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam membentuk karakter siswa dan penelitian yang peneliti lakukan fokus kepada pembentukannkarakter religiusspesertaddidik melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Tsaniyatul Karimah dalam penelitiannya yang berjudul “Internalisasi Nilai- Nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka (Studi Multikasus di SD Yimi Fullday School Gresik dan SD NU 1 Trate Gresik )”. Dalam penelitian tersebut megungkapkan bahwa kedua sekolah tersebut menggunakan tiga proses dalam menginternalisasikan nilai yaitu tranformasi nilai, transaksi nilai, transinternalisi nilai. Namun, metode yang digunakan oleh kedua sekolah tersebut untuk menginternalisasikan nilai memiliki sedikit perbedaan implikasi. Selain itu, faktor pendukung dalam menginternalisasikan nilai pada kedua sekolah tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Kalau dari segi persamaan adalah sama-sama mendapatkan dukungan dari pihak sekolah dan orangtua siswa. Sementara perbedaannya terletak pada antusias siswa dan latar belakang kedua sekolah tersebut berbeda.27 Penelitian tersebut membahas tentang internalisasi nilai-nilai pendidikan
26Asep Irama “Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka dalam Mambentuk Karakter Siswa (Studi di SMPN Se-Kecamatan Tugu Mulyo)”, Tesis (Curup: Program Pascasarjana Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup , 2018), h.1.
27Tsaniyatul Karimah “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka (Studi Multikasus di SD Yimi Fullday School Gresik dan SD NU 1 Trate Gresik )”, Tesis (Surbaya: Program Pascasarjana Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2018), h.170.
19
Islam melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka, sedangkan peneliti hanya fokus pada pembentukan karakter religius peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Hartotok Dwi Wahyono dalam penelitiannya yang berjudul “Penanaman Karakter Disiplin dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMK IT Ma‟i Al- Ma‟ruf” hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa dalam ekstrakurikuler pramuka karakter disiplin itu diterapkan dan disajikan dalam kegiatan outdoor yang sifatnya menyenangkan. Tidak ada unsur paksaan yang sifatnya mengekan peserta didik.
Sehingga siswa menjadi lebih disiplin dan tanggung jawab. Jadi ketika berada di luar kegiatan pramuka, siswa sudah terbiasa untuk melakukan kegiatan apaun yang disertai dengan sikap disiplin. Bentuk penilaian dari kedisiplinan ditunjukkan oleh siswa melalui perubahan karakter. Perubahan karakter dapat diamati dari absensi siswa pada setiap kegiatan pramuka. Hal lainnya, ssat kegiatan berlangsung dapat diamati apakah siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik dan benar atau bahkan tidak dapat menyelesaikan.28 Penelitian tersebut membahas tentang penanaman karakter disiplin dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka, sedangkan peneliti fokus penelitiannya pada pembentukan karakter religius peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tidak ada penelitian yang memiliki kesamaan secara total dengan penelitian ini.
28Hartotok Dwi Wahyono “Penanaman Karakter Disiplin dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMK IT Ma‟i Al-Ma‟ruf”, Tesis (Surakarta: Program Pascasarjana Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2017), h.8.
20
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian