BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
Bagian ini juga berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian.20
1. Peran Guru
a. Pengertian Guru
Guru atau disebut juga sebagai pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang tangguh berdiri sendiri.21 Menurut
20 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, (Jember, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, 2021), 40.
21 Buan, Y.A. Guru dan Pendidikan Karakter Sinergitas Peran Guru dalam Menanamkan Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Era Milenial, (Indramayu: CV. Adanu Abimata, 2020), 1.
Mubtadiin guru adalah orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan serta kecakapan untuk mendidik anak-anak. Dialah yang memberikan motivasi jiwa dengan ilmu pengetahuan, dan memberikan pendidikan kepada anak didiknya.
Guru dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 diartikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.22 Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memiliki kemampuan dalam memberikan bimbingan, bantuan, dan fasilitas kepada siswa baik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya untuk mencapai tingkat kedewasaan siswa baik dalam pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
b. Peran guru
Guru yang berkarakter adalah guru yang memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan yang digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Tugas dan peran seorang guru bukan hanya mengajar sekedar mentransfer ilmu pengetahuan secara kognitif tetapi juga mengajar dengan mentransfer nilai-nilai dan moral yang baik kepada siswa.
22 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, No. 14 Tahun 2005 Pasal 1, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2011), 2.
Peran guru secara umum adalah sebagai tugas pendidik meliputi, mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti menanamkan, meneruskan, dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada siswa (nilai-nilai agama dan budaya). Mengajar berarti membekali siswa agar memiliki keterampilan sebagi bekal dalam kehidupannya. Melatih berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 23
Guru sangat berperan dalam merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan kelas, guru membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya, membantu peserta didik belajar dan bekerja sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya, dan mengatasi hambatan-hambatan yang menghalangi terwujudnya interaksi dalam kegiatan belajar mengajar.24
Peranan guru sangat penting dalam pendidikan. Baik buruknya suatu pendidikan dipengaruhi oleh bagaimana seorang guru dapat menyampaikan atau mengajarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai kehidupan yang mampu membawa peserta didik mewujudkan cita- citanya, baik untuk dirinya, keluarga, masyakarat dan bangsanya.
Terkait dengan pentingnya peran seorang guru, maka seorang guru
23 Rince D.M, Nuwa G, Kpalet P, Peran Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Peserta Didik, Jurnal Bhineka Tunggal Ika, Vol 8, No. 1, 2021, 49-56
24 Mursalin, Sulaiman, Nurmasyitah, Peran Guru Dalam Pelaksanaan Manajemen Kelas di Gugus Bungong Seulanga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh, Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Unsyiah Volume 2, No. 1, 2017, 105.
harus memiliki berbagai kemampuan, tidak hanya kemampuan akademik yang harus dimiliki oleh seorang guru, akan tetapi bagaimana seorang guru mempunyai kemampuan untuk memotivasi peserta didik, agar mau belajar yang nantinya akan meningkatkan prestasi serta cita-cita peserta didik. Lebih spesifiknya lagi peran yang dimaksud disini berkaitan dengan peran guru dalam proses pembelajaran. Guru merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya, karena guru memegang peranan dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran merupakan inti dari proses Pendidikan secara keseluruhan.25
Guru memiliki beberapa peran dalam melakukan proses pembelajaran dengan siswa diantaranya: 26
a. Sebagai pendidik dan pengajar
Sebagai pendidik, guru harus membimbing dan menumbuhkan sikap dewasa dari siswa formal, ia juga sebagai tokoh panutan bagi para siswanya dan juga bagi orang-orang atau masyarakat sekitarnya. Menjadi seorang pendidik dan pengajar yang baik maka seorang guru harus memiliki standar kepribadian yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
1. Tanggung jawab
Tanggung jawab artinya seorang guru harus bisa bertanggung jawab tentang apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan,
25 Mursalin, Sulaiman, Nurmasyitah, 106.
26 Maimunawati S, Alif M, Peran Guru, Orang Tua, Metode dan Media Pembelajaran Strategi KBM di Masa Pandemi Covid-19. 9-23
baik itu melanggar tatanan sosial maupun melanggar norma hukum yang berlaku.
2. Wibawa
Wibawa artinya seorang guru dimana saja, baik di dalam kelas- kelas pembelajaran maupun diluar kelas harus disegani. Oleh karena memiliki integritas yang tinggi, kapabel dan kredibel.
3. Disiplin
Disiplin artinya dalam keseharian, guru harus selalu menepati janjinya kepada siswa dan orang lain. Guru juga harus tertib dan patuh kepada peraturan dan norma yang ada. Karena guru adalah sosok yang ditiru baik disekolah maupun dimasyarakat.
4. Mandiri
Mandiri artinya guru secara mandiri mampu mengatasi masalah yang dialami siswanya dan mampu mengambil kepustusan yang baik.
b. Sebagai model dan teladan
Peran guru sebagi model atau contoh bagi siswa, guru harus bisa mengimbangi tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus bisa memberikan contoh yang positif kepada semua orang, baik siswa atau masyarakat.
c. Sebagai motivator
Peran guru sebagai motivator harus bisa mendorong dan membangun semangat siswa untuk belajar dengan giat.
d. Sebagai pembimbing dan evaluator
Peran guru sebagai pembimbing dan evaluator yaitu guru mendampingi dan memberikan arahan kepada siswa berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan pada diri siswa meliputi aspek kognitif, maupun psikomotor serta pemberian kecakapan hidup, baik akademik, vokasional, sosial, dan spiritual. Selain itu guru juga memiliki peran dalam proses evaluasi yaitu guru sebagai evaluator yaitu dimana guru yang menjalankan proses evaluasi dengan menelaah capaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan sudah efektif dan mendapatkan hasil yang diinginkan.
Menurut Rahmad, Sepriadi dan Daliana, ada beberapa peranan yang seharusnya dilakukan oleh guru dalam menjalankan tugasnya, yaitu:27
1) Sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting, peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar- benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi siswanya.
27 Rahmad N, Sepriadi, Daliana R, Pembentukan Karakter Disiplin Siswa Melalui Guru Kelas di SD Negeri 3 Rejosari Kabupaten Oku Timur, Jurnal Manajemen Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, Vol 2, No. 2, 2017, 229-243.
2) Sebagai fasilitator
Peran guru sebagai fasilitator yaitu guru berperan dalam pemberian pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
3) Guru sebagai pengelola
Peran guru sebagai pengelola pembelajaran, guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.
4) Sebagai demonstrator
Peran guru sebagai demonstrator adalan peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator: pertama guru harus menunjukkan sikap-sikap yang terpuji, yang kedua guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa.
Menurut Mulyasa dalam Widodo, Heni dan Arif, terdapat beberapa peran guru yaitu, guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pembawa cerita, aktor, emansipator,
evaluator, dan sebagai kulminator.28 Sejalan dengan pendapat Sadiman, dkk dalam (Rince, Nuwa dan Kpalet) peran guru dalam kegiatan belajar mengajar antara lain:
a. Sebagi fasilitator
Peran guru sebagai fasilitator yaitu yang menyediakan kemudahan-kemudahan bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia, menyebabkan siswa malas belajar.
b. Sebagai pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing yaitu, yang membantu siswa mengatasi kesulitan dalam proses belajar. Membimbing siswa menjadi manusia dewasa yang cakap. Tanpa bimbingan, siswa mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.
c. Sebagai penyedia lingkungan
Peran guru sebagai penyedia lingkungan yaitu yang berupaya menciptakan lingkungan yang menantang siswa agar melakukan kegiatan belajar.
28 Widodo H, Heni N, Arif M.T, Peranan Guru Agama Dalam Membina Kedisiplinan Siswa di Sekolah Melalui Keteladanan Guru Pada Siswa Kelas X Sma Negeri 1 Padang Tualang Pelajaran 2019/2020. Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol 10, N0. 2, 2020, 135-148.
d. Sebagai komunikator
Peran guru sebagai komunikator yaitu yang melakukan komunikasi dengan siswa dan masyarakat.
e. Sebagai model
Peran guru sebagai model yaitu yang mampu memberikan contoh yang baik kepada siswa agar berperilaku baik.
f. Sebagai evaluator
Peran guru sebagai evaluator yaitu yang melakukan penilaian terhadap kemajuan belajar siswa. Guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik.
g. Sebagai innovator
Peran guru sebagai innovator yaitu yang turut menyebarluaskan usaha-usaha pembaharuan kepada masyarakat.
h. Sebagai agen moral
Peran guru sebagai agen moral yaitu yang turut membina moral masyarakat, siswa, serta menunjang pola-pola pembangunan.
i. Sebagai agen kognitif
Peran guru sebagai agen kognitif yaitu yang menyebarkan ilmu pengetahuan kepada siswa dan masyarakat.29
29 Rince D.M, Nuwa G, Kpalet P, Peran Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Peserta Didik, Jurnal Bhineka Tunggal Ika, Vol 8, No. 1, 2021. 49-56.
2. Kedisiplinan Belajar
a. Pengertian Kedisiplinan Belajar
Disiplin mempunyai makna yang luas dan berbeda-beda, oleh karena itu disiplin mempunyai berbagai macam pengertian. Pengertian disiplin telah banyak di definisikan dalam berbagai versi oleh para ahli. Ahli yang satu mempunyai batasan lain apabila dibandingkan dengan ahli lainnya. Definisi pertama yang berhubungan dengan disiplin diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Dimyanti &
Mudjiono yaitu kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah kepatuhan mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan.30
Sedangkan Sudirman mengemukakan pendapatnya juga tentang disiplin tersebut, disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak berperilaku moral yang disetujui kelompok.31
Dari berbagai macam pendapat tentang definisi disiplin di atas, dapat diketahui bahwa disiplin merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan, dan ketertiban berdasarkan acuan nilai moral. Siswa yang memiliki disiplin akan menunjukkan ketaatan, dan keteraturan terhadap perannya sebagai seorang pelajar yaitu belajar secara terarah dan teratur. Dengan
30 Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 28.
31 Sudirman, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), 82.
demikian siswa yang berdisiplin akan lebih mampu mengarahkan dan mengendalikan perilakunya. Disiplin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama siswa dalam hal belajar.
Disiplin akan memudahkan siswa dalam belajar secara terarah dan teratur.
Disiplin merupakan suatu cara yang digunakan oleh guru untuk mendidik dan membentuk perilaku siswa menjadi orang yang berguna dan berprestasi tinggi dalam bidang pelajaran. Ini dapat dilihat dari pengertian disiplin menurut Sudirman yaitu suatu cara masyarakat untuk mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok. Tujuan seluruh disiplin adalah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat individu, dan identifikasinya.32
Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban, Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah sifat individu yang terbentuk dari serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan dan keteraturan berdasarkan acuan nilai moral.
Prijodarminto menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha atau interaksi yang dilakukan individu untuk memperoleh kebiasaan,
32 Asali Lase, Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Disiplin Belajar, Jurnal Warta, Vol 4, no. 2 (2016), 1.
pengetahuan, sikap, dan sesuatu yang baru sebagai hasil pengalaman yang dilaluinya.33
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin belajar adalah sikap siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, dan keteraturan berdasarkan acuan nilai moral individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang mencakup perubahan berfikir, sikap, dan tindakan yang sesuai dengan standar sosial.
Disiplin diperlukan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun, begitupun seorang siswa harus disiplin dalam mentaati peraturan- peraturan sekolah, disiplin dalam belajar, disiplin dalam mengerjakan tugas, dan disiplin juga dalam belajar di rumah, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang optimal.
Banyaknya perilaku negatif dan menyimpang di sekolah menunjukkan pentingnya disiplin. Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh, sabar, dan penuh pengertian. Guru harus mampu mendisiplinkan siswa dengan kasih sayang, terutama disiplin diri (self discipline). Untuk kepentingan tersebut, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :
1) Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya.
2) Membantu siswa meningkatkan standar perilakunya.
33 Asali Lase, Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Disiplin Belajar, 7.
3) Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.34
Menurut Tu‟u di dalam bukunya, menjelaskan bahwa disiplin itu sangat berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulan, berikut ini alasan bahwa disiplin sangat berperan penting yaitu karena :
1) Disiplin muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil dalam belajarnya. Sebaliknya siswa yang berulang kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya.
2) Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan juga kelas menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif disiplin memberi dukungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran.
3) Orang tua senantiasa berharap di sekolah anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai kehidupan, dan disiplin, dengan demikian anak-anak dapat menjadi individu yang tertib, teratur, dan disiplin.
4) Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak Ketika bekerja.35
34 Fatkhur Rohman, Peran Pendidik Dalam Pembinaan Disiplin Siswa Di Sekolah / Madrasah, Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab 4, no. 1 (2018): 72–94.
35 Tulus Tu‟u, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), hal.34.
Fungsi disiplin dalam belajar sangat penting untuk ditanamkan pada siswa, disiplin menjadi prasyarat untuk pembentukan sikap, perilaku, dan tata kehidupan berdisiplin, fungsi disiplin menurut Tulus Tu‟u dalam bukunya yaitu sebagai berikut :
1) Menata kehidupan Bersama
Manusia merupakan makhluk sosial, manusia tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi pertikaian antara sesama manusia yang disebabkan karena berbenturan kepentingan, karena manusia selain makhluk sosial ia juga sebagai makhluk individu yang tidak lepas dari sifat egonya, sehingga terkadang di masyarakat terjadi benturan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Oleh karena itu disini pentingnya fungsi disiplin untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Sehingga dengan begitu, hubungan antara individu satu dengan individu yang lain menjadi baik dan teratur.
2) Membangun kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sifat tingkah laku dan pola hidup seseorang yang tercermin dalam penampilan, perkataan, dan perbuatan. Antara orang yang satu dengan orang yang lain memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, apabila seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib,
teratur, tenang, dan tentram sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
3) Melatih kepribadian yang baik
Kepribadian yang baik selain perlu dibangun sejak dini, juga perlu dilatih karena kepribadian yang baik tidak muncul dengan sendirinya. Kepribadian yang baik perlu dilatih dan dibiasakan, sebab perilaku dan pola kehidupan dan disiplin tidak terbentuk dalam waktu yang singkat, namun melalui suatu proses yang membutuhkan waktu yang lama.
4) Pemaksaan
Fungsi disiplin dengan paksaan maksudnya adalah sebagai pemaksaan kepada seseorang untuk mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan itu. Memang disiplin seperti ini masih dangkal, akan tetapi, dengan pendampingan guru-guru, pemaksaan, pembinaan, dan latihan disiplin seperti itu dapat menyadarkan siswa bahwa disiplin itu penting baginya. Dari mula-mula karena paksaan, kini dilakukan karena kesadaran diri sendiri, menyentuh kalbunya, merasakan sebagai kebutuhan dan kebiasaan. Diharapkan juga disiplin ini meningkat menjadi kebiasaan berpikir baik, positif, bermakna, dan memandang jauh ke depan.
5) Hukuman
Dalam suatu sekolah tentunya ada aturan atau tata tertib.
Tata tertib ini berisi hal-hal yang positif dan harus dilakukan oleh
siswa secara konsisten dan konsekuen. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Hukuman berperan sangat penting karena dapat memberi motivasi dan kekuatan bagi siswa untuk mematuhi tata tertib dan peraturan- peraturan yang ada, karena tanpa adanya hukuman sangat diragukan siswa akan mematuhi peraturan yang sudah ditentukan.
6) Menciptakan lingkungan yang kondusif
Disiplin sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan dengan lancar. Hal itu dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru dan bagi para siswa, serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu. Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen. Dengan demikian, sekolah menjadi lingkungan Pendidikan yang aman, tenang, tertib, dan teratur.36
Singgih D. Gunarsa dalam Fathur Rohman menyatakan tujuan penegakan disiplin diri sebagai usaha yang perlu dalam mendidik anak supaya anak dengan mudah:
1) Meresap pengetahuan dan pengertian sosial antara lain mengenai hak milik orang lain.
2) Mengerti dan segera menurut, untuk menjalankan kewajiban, dan secara langsung mengerti larangan-larangan.
3) Mengerti tingkah laku yang baik dan buruk.
36 Tulus Tu‟u, hal. 38-44.
4) Belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa terancam oleh hukuman.
5) Mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain.
Tujuan penegakan disiplin siswa menurut Piet A. Sahertian dalam Fathur Rohman adalah sebagai berikut :
1) Menolong anak menjadi matang pribadinya, dan berubah dari sifat ketergantungan kearah tidak ketergantungan.
2) Mencegah timbulnya persoalan-persoalan disiplin dan menciptakan situasi dan kondisi dalam belajar mengajar agar mengikuti segala peraturan yang ada dengan penuh perhatian.
3) Disiplin dalam sekolah modern adalah merupakan pertolongan kepada murid-murid supaya dapat berdiri (help for self help).37 3. Siswa
Pengertian siswa atau peserta didik menurut ketentuan umum undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian siswa adalah orang yang mempunyai pilihan untuk menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa depan.38
37 Fathur Rohman, Peran Pendidik Dalam Pembinaan Disiplin Siswa Di Sekolah/
Madrasah, (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab, Vol 4, No. 1, 2018), 89.
38 Ramli.M, Pengertian Peserta Didik, (Journal of Japan Society for Bronchology 1, no.
20, 2015), 65.
Siswa yaitu sebagai suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional. Siswa adalah sosok manusia sebagai individu/ pribadi (seutuhnya). Individu diartikan orang seorang tidak tergantung dari orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri.
Siswa sebagai peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Sebabnya yaitu karena peserta didiklah yang membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, bisa dikatakan bahwa peserta didik adalah orang/ individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya.
Sementara itu mengenai peserta didik berdasarkan peraturan Menteri Agama RI Bab IV pasal 16 menyatakan bahwa :
1. Peserta didik kelas 7 MTs wajib :
a. Lulus dan memiliki ijazah MI/ sekolah dasar (SD)/ Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)/ program paket A atau bentuk lain yang sederajat.
b. Memiliki surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) MI/ SD/
SDLB/ program paket A atau bentuk lain yang sederajat.
c. Berusia paling tinggi 18 (delapan belas) tahun pada awal tahun pelajaran baru.
2. MTs wajib menerima warga Negara berusia 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun sebagai peserta didik sesuai dengan jumlah daya tampungnya.
3. MTs wajib menyediakan akses bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus.
Kemudian ditambahkan dalam pasal 17 yang menyatakan bahwa :
1. Penerimaan peserta didik pada MTs dilakukan secara adil, objektif, transparan, dan akuntabel.
2. MTs dapat menerima peserta didik pindahan dari sekolah menengah pertama (SMP)/ program paket B atau bentuk lain yang sederajat.39 4. Pembentukan Disiplin
Dalam rumusan dan sistematika bagan tentang disiplin, ada empat hal yang dapat mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu, mengikuti dan menaati aturan, kesadaran diri, alat pendidikan, hukuman. Keempat faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin. Alasannya sebagai berikut.
39 Ramli.M, Pengertian Peserta Didik, (Journal of Japan Society for Bronchology 1, no.
20, 2015), 99.