BAB III METODE PENELITIAN
C. Subyek Penelitian
kelompok B
a. Penelitian terdahulu membahas tentang kegiatan permainan melipat kertas origami b. Sedangkan
perbedaan peneliti menggunakan media kolase 2. Rara Anggia,
2018.
Mengembangkan kreativitas Anak Melalui
Permainan Warna Dengan Media Benang pada Anak Usia 5-6 Tahun di
Raudhatul Athfal Perwanita I Bandar Lampung
a. Penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama membahas tentang
kreativitas anak b. Sama-sama
menggunakan pendekatan penelitian kualitatf
deskriptif
a. penelitian terdahulu membahas tantang kegiatan permainan warna dengan media benang b. Sedangkan
perbedaan peneliti menggunakan media kolase
3. Rusma Dewi, 2018. Peran Guru Dalam
Mengembangkan Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Alat Permainan Edukatif (APE) Barang Bekas di TK Sriwiijaya Sukarame Bandar Lampung.
a. Penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sama- sama membahas tentang kreativitas
b. Sama-sama menggunakan
pendekatan penelitian kualitatif deskriptif
a. Subyek penelitian
terdahulu adalah guru sedangkan subyek
penelitian yang akan dilakukan adalah anak kelomok B b. Penelitian
terdahulu membahas tentang kegiatan alat permainan
edukatif (APE) sedangkan penelitian yang dilakukan
menggunakan media kolase ampas kelapa c. Penelitian
terdahu tempatnya berbeda 4. Dian Trimasari,
2017. Peran Guru Dalam Mengembagkan Kreativitas Hasta Karya Anak Usia
Dini Melalui Cerita di Kelas A4 Ra AR Raihan
Kwaden Trirego Bantul
a. Penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sama- sama membahas kreativitas anak usia dini
Sama-sama menggunakan
pendekatan penelitian kualitaif deskriptif
a. Subyek penelitian terdahulu adalah anak kelompok A Sedangkan subyek
penelitian yang akan dilakukan adalah anak kelompok B.
b. Penelitian terdahulu membahas tentang kegiatan Kreativitas Hasta Karya Anak Usia Dini Melalui Cerita Sedangkan penelitian yang dilakukan menggunakan media kolase ampas kelpa 5 Afifah Nur
Masyukriyatun, 2017.
Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini (Study Kasus di
Satitpathomvia School Pratuchai Thailand, TKIU
a. Penelitian terdahu dengan penelitian yang akan dilakukan sama- sama membahas tentang kreativitas
b. Sama- sama menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif
a. Penelitian terdahulu membahas tentang kegiatan studi kasus di satitpathomvia school pratuchai Thailand, TKIU Al Khoir.
Sedangkan
1. Kreativitas anak
a. Pengertian Kreativitas
Kreativitas berasal dari kata kreatif, dalam kamus besar bahasa Indonesia kreatif berarti mempunyai daya cipta memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu hal yang baru. Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru, menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang, ide-ide baru dalam melihat adanya berbagi kemungkinan.20
Menurut Selo Soemardjan mengatakan bahwa kreativitas merupakan sifat pribadi seseorang individu yang tercermin dari kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas sebagai person adalah kecerdasan yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap, kebiasaan, dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk memecahkan masalah.21
20 Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke Tiga (Jakarta: Balai Pustaka.2008),760
21 Ayu Sri Menda,Pengemabangan Kreativitas Siswa (Jakarta: Guepedia,2019),40.
Santrock berpendapat bahwa, kreativitas ialah kemampuan untuk memikirkan sesuai dengan cara-cara yang baru dan tidak biasa serta melahirkan suatu solusi yang unik terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Meyesty, kreativitas adalah cara berfikir dan bertindak atau menciptakan sesuatu dengan original dan bernilai/ berguna bagi orang tersebut dengan orang lain.22
Kreativitas ialah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan serta menciptakan hal-hal yang baru, cara-cara baru, atau model baru yang memiliki guna untuk dirinya sendiri maupun masyarakat luas. Hal ini tentunya bukan berarti harus sesuatu baru atau sama sekali belum ada sebelumnya, melainkan unsur-unsur tersebut mungkin ada sebelumnya.23
b. Tujuan Pengembangan Kreativitas
Tujuan kreativitas penting untuk dimunculkan, dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak sebagai berikut:
1) Dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya, perwujudan diri adalah salah satu kebutuhan pokok manusia.
2) Kemampuan berfikir kreatif dapat melihat berbagai macam penyelesaian suatu masalah. Mengekspresikan pikiran-pikiran yang berbeda dari orang lain tanpa dibatasi pada hakikatnya akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan.
22 Masgantik Dkk, Pengembangan Kreatiitas Anak Usia Dini ( Medan: Perdana publishing Mulyana Sarana,2016) 1.
23 Salma Rozanal, Startegi Taktis Pendidikan Karakter Anak Usia Dini ( Tasikmalaya: Edu Publisher,2021),39.
3) Bersibuk secara kreatif akan memberikan kepuasan kepada individu tersebut.24
c. Mengembangkan Kreativitas dalam Pembelajaran
Pengembangan kreativitas anak usia dini dalam pembelajaran harus dilakukan secara efektif, efisien, produktif dan akuntable. Maka dari itu sangat penting direncanakan, dilaksanakan, serta dilakukan monitoring dan evaluasi serta berkesinambungan, proposional dan professional. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kreativitas anak usia dini dalam pembelajaran, atara lain:25
1) Pengembangan yang Menyenangkan
Dalam standar proses dikemukakan bahwa proses pembelajaran harus menyenangkan agar anak mudah mencapai tujuan dan membentuk Standar Kopetensi dan Kopetensi Dasar (SKKD) 26
2) Belajar Sambil Bermain
Dunia bermain adalah dunia anak. Melalui bermain anak dapat mempelajari banyak hal, tanpa disadari dan tanpa merasa terbebani. Melalui bermain anak dapat mengetahui banyak hal dan
24 Utami Munandar. Anak Unggu Berotak Prima ( Jakarta: PT. Gramedia, 2022),60
25 Muthia Nur Fadilah dkk, Pengembangan Kreativitas Anak Usia Dini ( Yogyakarta : Grafika Indah, 2018),4.
26 Mulyasa, Manajemen PAUD,97-98
secara tidak sadar bermain juga membantu stimulus pertumbuhan dan perkembangan anak. 27
3) Interaktif
Dalam proses pengembangan kreativitas anak usia dini, perlu dipikirkan pendekatan pembelajaran yang paling tepat bagi anak. Dalam hal ini perlu perubahan pola pikir, baik pola pikir guru maupun peserta didik sehingga tercipta pembelajaran yang interaktif, yang dapat melibatkan anak seoptimal mungkin dalam pembelajaran. 28
4) Menemukan Pembelajaran dengan Pengembangan
Aspek-aspek perkembangan (aspek kognitif, fisik motorik, bahasa, spiritual, sosial emosional, seni) merupakan satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh sehingga pembelajaran yang dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini merupakan satu kesatuan, memadukan semua komponen pembelajaran dan perkembangan anak.29
5) Belajar dalam Konteks Nyata
Belajar dalam konteks nyata menjadi sangat penting bagi anak usia dini, karena anak masih berada dalam tahap perkembangan kognitif pra- oprasional dan oprasional kongkret.
Selain itu, eksplorasi terhadap objek secara langsung dapat
27 Mulyasa, Manajemen PAUD,98- 99
28 Mulyasa, Manajemen PAUD,99-100
29 Mulyasa, Manajemen PAUD,100
membantu proses belajar, selain menyenangkan juga dapat lebih mengaktifkan multisensoris anak. 30
d. Ciri-ciri Kreativitas
Ciri-ciri kreativitas yang dikemukan oleh Munandar, melalui penelitiannya di Indonesia menyebutkan bahwa ciri-ciri sikap kreatif atau noaptitude yaitu;
1) Mempunyai daya imajinasi kuat.
2) Mempunyai inisiatif.
3) Mempunyai minat luas.
4) Mempunyai kebebasan dalam berfikir.
5) Bersifat ingin tahu, selalu ingin mendapatkan pengalam-pengalam baru.
6) Mempunyai kepercayaan diri yang kuat.
7) Penuh semangat, berani mengambil resiko.
8) Berani berpendapat dan memiliki keyakinan.31 e. Manfaat Kreativitas bagi Anak
Kreativitas memiliki manfaat besar bagi kehidupan anak kelak dikemudian hari. Sebab di dalam jiwa seseorang anak yang kreatif memiliki nilai-nilai kreativitas yaitu:
1) Kreativitas memberi anak-anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar penghargaan yang mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya.
30 Mulyasa, Manajemen PAUD,101
31 Mulyasa, Manajemen PAUD,118-119
2) Menjadi kreatif penting bagi anak kecil untuk menambah bumbu dalam permainan pusat kegiatan hidup mereka, jika kreativitas dapat membuat permainan menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas.
3) Prestasi merupakan kepentingan utama dalam penyesuain hidup mereka, maka kreativitas membantu mereka untuk mencapai keberhasilan di bidang yang berarti bagi mereka dan dipandang baik oleh orang yang berarti baginya akan menjadi sumber ego yang besar.32
f. Faktor Pendukung atau Penghambat Kreativitas 1) Faktor pendukung kreativitas
Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam mengembangkan kreativitas anak terdapat beberapa faktor pendukung, sebagai berikut:
a) Faktor internal
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhui kreativitas, sebagai berikut:
(1) Kebutuhan terhadap pengalam dan rangsangan dari luar atau dalam Individu adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya.
32 Masgentik dkk, Perkembangan Kreativitas, 25-26
(2) Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain.
(3) Kemampuan untuk bermain dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.33
b) Faktor Eksternal (Lingkungan)
Faktor eksternal adalah faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas individu yang berasal dari luar individu, sebagai berikut:
1) Lingkungan masyarakat kebudayaan.
Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayan itu memberikan kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat.
2) Lingkungan keluarga.
Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas, sehingga peranannya sangat menentukan pembentukan kreativitas anak.
33Masgentik dkk, Perkembangan Kreativitas, 12-13
3) Lingkungan pendidikan
Lingkungan pendidik cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak didik untuk menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.34
c) Faktor penghambat kreativitas
Musbini mengemukakan beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan kreativitas anak yaitu:
(1) Tidak ada dorongan bereksplorasi (2) Jadwal yang terlalu ketat
(3) Terlalu menekankan kebersamaan keluarga (4) Tidak boleh berkhayal
(5) Orang tua konservatif (6) Ofer proktektif (7) Disiplin otoriter.
(8) `Penyedian alat permainan yang terstruktur.35 2. Kolase Ampas Kelapa
a. Pengertian Kolase Ampas Kelapa
Kata kolase, yang dalam bahasa inggris disebut “collage”
berasal dari kata “colla” dalam bahasa prancis yang berarti “merekat”.
Selanjutnya kolase dipahami sebagai sebuah teknik seni menempel berbagai macam materi selain cat, seperti kertas, kain, kaca, logam dan sebagainya atau dikombinasikan dengan penggunaan cat atau teknik
34 Masgentik dkk, Perkembangan Kreativitas, 14-15
35 Menda,Pengembangan Kreativitas Siswa,63-64.
lain. Kolase adalah sebuah teknik menempel berbagai mancam unsur kedalam suatu freme sehingga menghasilkan karya seni baru, dengan demikian kolase adalah karya seni rupa yang dibuat dengan cara menempelkan bahan apa saja kedalam satu. Komposisi yang serasi sehingga menjadi satu kesatuan karya.36
Ampas kelapa merupakan hasil olahan dari pembuatan minyak kelapa menghasilkan residu yaitu ampas kelapa. Selama ini pemanfaatan ampas kelapa hanya digunakan sebagai bahan baku pakan ternak dan masih dianggap sebagai produk samping yang tidak bernilai. Untuk mendapatkan nilai mutu yang lebih bermanfaat ampas kelapa dapat diolah menjadi media atau kolase ampas kelapa.37
b. Materi Pembuatan Kolase 1) Peralatan dan teknik
Peralatan dan teknik yang digunakan untuk membuat kolase perlu disesuaikan dengan bahan bakunya, dikarenakan karakter setiap jenis bahan berbeda. Jenis peralatan dan teknik yang digunakan untuk membuat kolase bahan alam berbeda dengan yang digunakan untuk membuat kolase berbahan sintetis.
2) Teknik pembuatan kolase
Dalam hal teknik, pada umumnya, karya kolase dapat dibuat dengan teknik yang bervariasi, seperti teknik sobek, teknik
36 Evi Desmariani, Buku Ajaran Metode Perkembangan Fisik Anak Usia Dini ( Padang:
Pustaka Galeri Mandiri,2020),92
37 Mery Yulvianti, Widya Ernawati, dkk, Pemanfaatan Ampas Kelapa Sebagai Bahan Baku Tepung Kelapa Tinggi Serat Dengan Metode Freeze Drying, Jurnal Intregrasi Proses Vol.5, No.2 (juni 2015) 101-107, http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jip.
gunting, teknik potong, teknik rakit, teknik rekat, teknik jahit, teknik ikal, dan sebagainya. Dan dua atau lebih teknik pun dapat dikombinasikan untuk membuat sebuah karya kolase.38
3) Kolase dengan menggunakan ampas kelapa
Kegiatan menempel dengan menggunakan ampas kelapa untuk anak usia dini termasuk dalam kegiatan kolase, yang dilakukan dengan cara menempelkan ampas kelapa tersebut pada pola gambar yang telah disesuaikan
a) Alat dan bahan
Ampas kelapa, kertas yang telah ada pola gambarnya, lem fox, cat air, stik es krim
b) Cara pembuatan
Siapkan alat ampas kelapa yang telah diperas airnya, kemudian teteskan cat air kedalam ampas kelapa, aduk menggunakan tangan hingga warna merata, keringkan ampas kelapa yang telah diberi warna, jauhkan dari tempat yang berangin kencang, buatlah pola gambar sesuai keinginan.
Berilah lem pada bagian dalam pola, Selanjutnya susun ampas kelapa aneka warna di atas pola sambil di tekan-tekan.39
38 Muharrar,Kreasi Kolase,Montase,Mozaik Sederhana,19-21.
39 Endah rasjidah, portofolio seni (jakarta : eirlangga for kids, 2006)hlm,18
4) Langkah-langkah dalam Bermain Kolase
a) Guru memberikan penjelasan terlebih dahulu bagaimana cara membuat kolase alam dari daun dan bahan-bahan yang telah disediakan.
b) Anak menempel kepingan daun dengan lem membentuk pola gambar lingkungan sekolah yang telah disediakan oleh guru.
c) Anak yang mengerjakan kolase dengan rapi dan tepat waktu akan diberikan apresiasi oleh guru.40
Langkah- langkah dalam bermain kolase menurut Syakir sebagai berikut:
a) Merencanakan gambar yang akan dibuat.
Menyediakan alat-alat atau bahan dan mengenalkan nama alat- alat yang digunakan dalam keterampilan kolase dan bagaimana cara menggunakannya.
b) Membimbing anak untuk menempelkan pola gambar
Pada gambar dengan cara memberi perekat dengan lem, lalu menempelkannya dengan pada gambar.
c) Menjelaskan posisi untuk menempel benda yang benar sesuai dengan bentuk gambar, sehingga hasil tempelannya tidak keluar garis.
d) Latihan hendaknya di ulang-ulang agar motorik anak ini mencangkup gerakan-gerakan kecil seperti menjepit,
40 Nida’ul Munafiah, Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini Berbasis Multiple Intellegences (Wonosobo: Mangku Bumi,2018),252.
mengelem, dan menempel, sehingga koordinasi jari-jari tanggannya terlatih.41
c. Manfaat dari Kegiatan Kolase
Manfaat dari bermain kolase sebagai berikut:
1) Melatih motorik halus.
Bermain kolase melatih keterampilan jari-jemari anak sehingga saat menulis jari anak sudah lentur.
2) Meningkatkan kreativitas.
Bermain kolase melatih anak untuk berkreasi memilih bahan, menyusun warna, kontur, dan memadukannya sesuai selera, sehingga kita akan mendapatkan hasil yang indah.
3) Melatih konsentrasi.
Bermain kolase itu asyik, sehingga anak akan fokus ketika menyelesaikan tugas. Lama-lama anak akan terbiasa konsentrasi.
4) Mengenal warna.
Bermain kolase memadukan berbagai macam warna. Jadi anak akan terbiasa memadukan warna yang serasi sesuai keinginan anak.
5) Megenal bentuk.
Dalam bermain kolase, anak diajak untuk mengenal banyak bentuk dan menyatukannya supaya serasi.
41 Novi mulyani, pengembangan seni anak usia dini,72.
6) Mengenal aneka jenis bahan.
Setiap bahan mempunnyai kehalusan dan kekasaran yang berbeda. Dengan menggunakan aneka bahan, kita akan banyak mengenal dan bisa membentuknya.
7) Pengenalan sifat bahan.
Penggunaan bahan yang beragam, membuat anak menjadi tahu sifat masing-masing bahan dan bagaimana cara penggunaannya.
8) Melatih ketekunan.
Menyelesaikan karya kolase butuh waktu yang cukup, tidak bisa terburu-buru. Jadi anak bisa berlatih untuk tekun agar menghasilkan karya yang indah dan terlatih untuk bersabar.
9) Melatih kemampuan ruang.
Bermain kolase membutuhkan kemampuan analisis yang tepat untuk meletakkan sebuah bahan atau materi dalam gambar atau tempat yanga ada.
10) Melatih memecahkan masalah.
Menyelesaikan kolase, sebenarnya membiasakan anak untuk menyelesaikan sebuah masalah, maslah yang mengasyikkan pasti akan membuat anak senang menyelesaikannya, tak ada kata putus asa, selalu ada cara baru untuk menempelkan dan merangkai kolase ini akan membantu anak kelak menjadi terampil menghadapi banyak hal.
11) Melatih percaya diri.
Ketika karya anak sudah selesai, tentu anak akan merasa sangat bangga. Anak akan terpacu untuk membuat karya lain yang lebih baik lagi. Kreativitas semakin terasah rasa percaya diri juga bertambah. Tidak rasa takut atau malu sekalipun karena anak merasa yakin bisa.42
42 Ammy rahmdhania& triyuni, Assik Bermain Sambil Berkreasi ( Yogyakarta: pustaka gratama,2012),hlm. 4-5.
35
Islamiyah Curahjati Banyuwangi Tahun Pelajaran 2021/2022. Subjek dan objek di penelitian ialah guru kelompok B1 serta peserta didik kelompok B1 Taman Kanak-Kanak Islamiyah Curahjati Banyuwangi.
B. Lokasai Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini bertempat di Taman Kanak-Kanak Islamiyah Curahjati Banyuwangi, yang berada JL. Raya No.23 Curahjati, Desa Grajakan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Penentuan lokasi ini didasarkan karena di sekolah tersebut peneliti melihat telah dijalankannya beberapa upaya dalam pembelajaran mengembangkan kreativitas oleh guru kelompok B1, salah satunya dengan media kolase ampas kelapa.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian merupakan sampel yang diambil dari populasi pada lokasi penelitian. Jadi bisa dikatakan subyek penelitian merupakan pihak atau orang yang bersinggungan langsung dengan ciri pada lokasi yang dirasa memiliki informasi terkait di lapangan.45
Penetapan subyek pada penelitian ini memakai purposive sampling, yaitu cara pengutipan sumber data menurut pemeriksaan tertentu. Misalnya seseorang lebih paham mengenai sesuatu yang kita butuhkan.46
Berikut pada penelitian disini subyek penelitian/ informasi yang terkait:
1. Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak Islamiyah Curahjati Banyuwangi 2. Guru Taman Kanak-Kanak Islamiyah Curahjati Banyuwangi
45 Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif dan R& D ( Bandung: Alfabeta,2017),219
46 Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif dan R& D ( Bandung: Alfabeta,2017),219
3. Wali murid kelompok B1 Taman Kanak- Kanak Islamiyah Curahjati Banyuwangi