BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Teori
1. Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan. Sarana pendidikan antara lain gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat media pembelajaran. Dalam ketentuan umum Permendiknas No. 24 Tahun 2007, alat yang harus ada di laboratorium biologi diklasifikasikan menjadi lima, yakni perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, bahan habis pakai dan perlengkapan lain. Untuk peralatan pendidikan terdiri dari alat peraga serta alat bahan percobaan.
a. Alat Peraga
Alat peraga terdiri dari Model kerangka manusia, model tubuh manusia, preparat mitosis, preparat meiosis, preparat anatomi tumbuhan, preparat anatomi hewan, gambar kromosom, gambar DNA, gambar RNA, gambar pewarisan mendel, gambar contoh contoh tumbuhan dari berbagai divisi, gambar contoh contoh hewan dari berbagai filum, gambar sistem pencernaan manusia, gambar sistem pernapasan manusia, gambar sistem peredaran darah manusia, gambar sistem pengeluaran manusia, gambar sistem reproduksi manusia gambar system syaraf manusia, Gambar sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, reproduksi dan syaraf burung, reptil, amfibi, ikan, dan cacing tanah, gambar pohon evolusi.
b. Alat Percobaan
Alat percobaan terdiri dari mikroskop monokuler, mikroskop stereo binokuler, perangkat pemeliharaan mikroskop, gelas benda, gelas penutup, gelas arloji, cawan petri, gelas beaker borosilikat, rendah, berbibir dengan volume: 50 ml, 100 ml, 250 ml, 600 ml dan 1000 ml, corong borosilikat, datar dengan diameter 75mm dan 100 mm, pipet ukur berbahan kaca, skala permanen dengan volume 10 ml, Tabung reaksi, Penjepit tabung reaksi berbahan kayu dengan pegas untuk tabung reaksi serta diameter 10-25 mm, Erlenmeyer dengan volume 50 ml, 100ml, 250ml, 600 ml, 1000 ml, kotak preparat dengan bahan kayu/plastic, gelas ukur berbahan kaca borosilikat dengan
21
volume 100 ml, dan 10 ml, Stop watch, pembakar spiritus berbahan kaca, sumbat karet, Termometer, photometer, respirometer, perangkat bedah hewan terdiri dari scalpel, gunting lurus 115 mm, jarum pentul, gunting bengkok 115 mm, pinset 125 mm, loupe bertangkai dengan diameter 58 mm, thermometer suhu tanah, hygrometer putar dan dilengkapi table konversi dengan skala 0-50˚C
2. Laboratorium Biologi
a. Definisi Laboratorium Biologi
Laboratorium secara bahasa diserap dari kata laboratorium yang merupakan bahasa Latin dengan arti yaitu ruangan kerja guna menjalankan suatu eksperimen ilmiah dan dalam berdasarkan istilahnya maka laboratorium didefinisikan menjadi sebuah ruang untuk dijadikan tempat mengadakan praktik maupun percobaan tertentu (Malik, 2019:6).
Berdasarkan pendapat dari Emda (2014), yang menjelaskan bahwasanya laboratorium adalah suatu fasilitas pembelajaran guna memberikan pelatihan kepada para murid untuk mengoptimalkan kompetensi yang dimiliki serta memberikan pemahaman terkait konsep-konsep materi melalui adanya praktikum tersebut.
Laboratorium tidak hanya sebatas gedung maupun peralatan pada ruangan tersebut akan tetapi juga diantaranya meliputi para ahli teknisi, fasilitas pendukung lain dan seluruh program maupun aktivitas pembelajaran di dalamnya. (Malik &Desti, 2019:40).
Mengacu pada Pengertian tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwasanya laboratorium biologi merupakan ruangan maupun tempat yang di dalamnya tersedia alat dan bahan guna mengaplikasikan suatu teori tertentu dan dapat dijadikan tempat untuk melakukan penelitian dan bereksperimen serta aktivitas praktikum lainnya guna mendapatkan suatu pemahaman yang komprehensif terutama yang menyangkut materi biologi.
Berdasarkan pendapat dari Emda (2014:220-221) yang menjelaskan bahwasanya laboratorium memiliki fungsi terkait proses pembelajaran yaitu:
1) Sebagai penyeimbang antara teori dan aplikasi suatu keilmuan.
2) Menyediakan pengalaman keterampilan kinerja ilmiah untuk peneliti dan akademisi di mana laboratorium tidak sekedar memberikan tuntutan agar mereka Paham terkait objek penelitian namun juga mengharuskan para peneliti untuk bereksperimen terhadap objek penelitian tersebut.
3) Sebagai wadah untuk menumbuhkan keberanian para peneliti untuk terus berusaha menemukan hakikat kebenaran ilmiah suatu objek penelitian.
4) Sebagai wadah untuk dapat memaksimalkan kompetensi dan kemahiran yang dimiliki oleh peneliti terutama terkait bagaimana menggunakan media dan alat yang terdapat dalam laboratorium
23
tersebut guna dapat menemukan hakikat dari kebenaran ilmiah dengan melakukan percobaan atau eksperimen tersebut.
5) Dapat menumbuhkan keingintahuan dari peneliti terkait beragam jenis keilmuan sehingga memberikan stimulus kepada mereka agar tetap mengembangkan melakukan kajian dan menemukan hakikat kebenaran ilmiah melalui eksperimen dan percobaan yang dilakukan.
6) Menumbuhkan kepercayaan dirian para peneliti khususnya terkait keterampilan yang didapat ataupun hasil temuan yang mereka peroleh dari percobaan yang dilakukan di laboratorium.
7) Dapat dijadikan sumber pembelajaran guna menjawab suatu permasalahan dengan melakukan aktivitas praktik terutama yang menyangkut permasalahan terkait pembelajaran akademik maupun fenomena atau kejadian dalam lingkungan masyarakat.
8) Sebagai wadah pembelajaran untuk para akademisi dan para peneliti dalam proses mengerti dan mengetahui suatu keilmuan yang sifatnya masih abstrak agar dapat dirubah atau ditransformasikan ke dalam suatu hal yang lebih nyata.
Berdasarkan pendapat dari Sukarso (2007), laboratorium memiliki beberapa fungsi yaitu:
1) Sumber belajar
Fungsi ini berguna untuk melakukan pemecahan terhadap suatu permasalahan maupun dapat digunakan untuk menjalankan
suatu eksperimen terutama yang memiliki keterkaitan dalam aspek kognitif afektif dan psikomotorik.
2) Metode pembelajaran
Melalui laboratorium maka peneliti dapat melakukan metode percobaan dan juga observasi terhadap suatu objek penelitian.
3) Prasarana pendidikan
Laboratorium akan mengenalkan para peneliti terkait variasi keadaan di mana dilengkapi dengan segala alat dan fasilitas yang bisa dikendalikan terutama untuk kegiatan eksperimentasi.
Berdasarkan fungsi tersebut maka bisa disimpulkan bahwasanya laboratorium biologi berfungsi menjadi tempat bagi peneliti dalam melakukan suatu percobaan, tempat untuk menjawab suatu permasalahan mengadakan suatu penelitian dan membuktikan teori keilmuan terutama terkait materi biologi yang dapat mendukung karakter ilmiah untuk para siswa.
Laboratorium harus dikelola dengan seoptimal mungkin yang didasarkan pada beberapa hal pokok yang diantaranya yaitu:
(Partanto, 2003).
1) Pengelolaan laboratorium dimaksudkan guna memaksimalkan dan mengoptimalkan keterampilan para penggunanya terkait aktivitas praktik suatu keilmuan seperti halnya laboratorium yang berada di sekolah akan dikelola guna mengoptimalkan kompetensi para peserta didik untuk mendapatkan pemahaman terkait materi
25
pembelajaran dengan komprehensif melalui aktivitas praktik di laboratorium tersebut.
2) Pengelolaan laboratorium dimaksudkan untuk memberikan pelatihan dan pengembangan terkait kapasitas penggunanya dalam melakukan penyusunan dan analisa terkait hasil suatu observasi yang nantinya dapat berguna dalam menginterpretasikan hasil observasi ataupun penelitian tersebut sekaligus sebagai dasar untuk mengembangkan aspek psikomotorik para penggunanya.
3) Pengelolaan laboratorium dimaksudkan untuk melatih kemampuan dalam melakukan perancangan aktivitas praktik atau kemampuan untuk merumuskan aktivitas penelitian dengan baik dan dapat mencapai sasaran yang telah ditentukan oleh para peneliti.
4) Pengelolaan laboratorium harus fleksibel dan tidak menekan para pihak yang terkait dengan penggunaannya.
Tujuan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium terkait proses pembelajaran yaitu:
1) Tujuan kognitif yang berkolasi erat dengan pembelajaran konsep ilmiah mengembangkan kompetensi dan memaksimalkan pemahaman suatu metode saintifik.
2) Tujuan praktis yang berkorelasi erat terkait pengoptimalan keterampilan untuk mengadakan suatu pelatihan biologi menganalisa data, melakukan komunikasi dan ke mampuan untuk bekerja sama dalam suatu kelompok.
3) Tujuan afektif yang berkorelasi erat terkait dengan motivasi dan keingintahuan terhadap sains memberikan pendapat dan kapasitas untuk memahami kondisi sekitarnya. (Mustika et al., 2014).
b. Definisi Laboratorium Biologi
Keberadaan laboratorium biologi sangat berperan penting dalam kegiatan pembelajaran biologi disekolah. Untuk dapat mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut maka fasilitas-fasilitas yang terdapat disekolah, khususnya laboraotium biologi harus memadai dan perlu dioptimalkan dengan sebaik mungkin agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan Permendiknas no.24 Tahun 2007 terkait halnya standar standar pelayanan minimal alat laboratorium biologi SMA Ma yaitu diantaranya:
1) Fungsi dari laboratorium yaitu untuk menjadi tempat diselenggarakannya aktivitas praktik pembelajaran biologi yang membutuhkan alat-alat tersendiri.
2) Laboratorium tersebut haruslah paling tidak dapat menampung satu rombongan belajar.
3) Untuk tiap murid maka rasio minimum ruang laboratorium biologi yaitu 2,4 m2. Laboratorium harus paling tidak memiliki luas 48 m2 untuk minimal 20 peserta didik yang mencakup luas ruang untuk menyimpan peralatan dan persiapan dengan luas 18 m² dengan lebar minimal yaitu 5m².
27
4) Pencahayaan laboratorium haruslah memadai sehingga dapat digunakan untuk membaca buku dan mengobservasi objek penelitian dengan jelas.
5) Sarana laboratorium biologi harus sesuai dengan aturan dari Permendiknas nomor 24 Tahun 2007.
3. Pembelajaran Biologi
a. Konsep Pembelajaran Biologi
Pembelajaran merupakan serangkaian prosedur interaksi antara pengajar dengan peserta didik guna mendapatkan suatu pengetahuan kompetensi maupun perilaku untuk dapat memahami apa yang telah dipelajari. Pada konteks pembelajaran biologi Maka terdapat ciri khas tertentu yaitu untuDk mengetahui dan memahami Bagaimana proses kehidupan nyata terjadi. Pembelajaran biologi juga berusaha agar para peserta didik Mampu lebih kenal dirinya sendiri dan dapat beradaptasi dengan perannya sebagai individu ataupun makhluk sosial.
(Nurhidayati, 2016, p. 48).
Biologi adalah keilmuan yang memiliki urgensi dalam aktivitas pendidikan karena mengajarkan peserta didik untuk mencari tahu terkait hal-hal yang berada di alam dengan sistematis sehingga di dalamnya juga terdapat proses untuk menemukan dan tidak sebatas terkait mempelajari keilmuan yang hanya berupa fakta ataupun konsep dan kaidah tertentu saja. (Malik &Desti, 2019:39).
Kemendikbud 2013 menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan alam atau IPA sejatinya mencakup empat komponen pokok yaitu:
1) Sikap: yaitu keingintahuan akan suatu benda, kejadian di alam makhluk hidup dan hubungan kausalitas yang terjadi pada suatu permasalahan dan Bagaimana memecahkan sesuai dengan mekanisme yang benar
2) Proses: yaitu mekanisme untuk menjawab dan memecahkan suatu problem dengan metode saintifik seperti halnya menyusun hipotesis, merancang eksperimen melakukan pengevaluasian, mengukur dan menarik suatu kesimpulan.
3) Produk: Yaitu mencakup hukum, teori prinsip dan juga fakta tertentu.
4) Aplikasi: yaitu mengimplementasikan metode saintifik dan konsep IPA pada Aktivitas keseharian.
Mengacu pada pemaparan informasi tersebut maka disimpulkan bahwasanya pembelajaran Biologi merupakan suatu mata pelajaran yang di dalamnya terdapat beberapa cakupan yang meliputi sikap, proses produk dan pengaplikasian dari keseluruhannya untuk mendapatkan sebuah pelajaran dan juga pengalaman bagi para peserta didik terutama Melalui aktivitas praktikum.
b. Pembelajaran Biologi di Laboratorium
Pembelajaran biologi berkorelasi erat terhadap aktivitas di laboratorium, melakukan observasi meneliti dan melakukan
29
eksperimentasi serta praktikum. Pembelajaran biologi yang didasari dengan aktivitas praktikum di laboratorium akan menciptakan dan membentuk hakikat biologi yang berorientasi terhadap memberikan pengalaman langsung kepada mereka yang mempelajarinya serta akan meningkatkan keterampilan dalam aspek sains untuk para peserta didik (Litasari et al., 2014, p. 173).
IPA merupakan suatu keilmuan untuk melatih para peserta didik agar dapat menemukan suatu hal baru dan tidak hanya sebatas mengetahui beragam fakta maupun konsep dan prinsip tertentu saja.
Pendidikan IPA untuk jenjang Sekolah Menengah bertujuan guna membentuk para murid sehingga lebih kenal dengan pribadinya, alam sekitar serta dapat mengembangkan dan mengimplementasikan keilmuannya dalam aktivitas kesehariannya. Pendidikan IPA juga berorientasi bagi para peserta didik agar dapat mencari tahu dan melakukan tindakan untuk mendapatkan suatu pengertian dan pemahaman yang radikal dan spesifik terkait dari pribadinya dan alam sekitarnya. (Tanjung, 2016:77–78).
IPA memiliki beberapa bidang pelajaran Salah satunya yaitu biologi yang memberikan pengalaman belajar bagi para peserta didik agar dapat mengerti dan mendapatkan pemahaman terkait konsep dan proses saintifik. Biologi juga memberikan dan mengajarkan terkait keterampilan proses yang mencakup pembuatan hipotesis observasi, penggunaan alat bahan yang memperhitungkan keselamatan dan
keamanan, mengklasifikasikan dan menginterpretasikan informasi membuat pertanyaan dan membicarakan hasil yang telah ditemukan baik melalui tulisan maupun lisan (Tanjung, 2016:77–78).
Kegiatan para peserta didik di laboratorium biologi berfungsi untuk memberikan pelatihan kepada mereka agar mampu mengembangkan kemampuan melakukan penelitian dengan langsung yang nantinya bertujuan untuk membentuk atau bahkan mengoptimalkan kemampuan para peserta didik dalam melakukan identifikasi permasalahan, mendesain prosedur dan membuat suatu kesimpulan. (Syamsu et al., 2018:19).
31