• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

C. Pembahasan Temuan

Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa faktor pendukung pemenuhan standar sarana prasarana laboratorium biologi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember ini salah satunya ialah pihak sekolah yang sangat terbuka terkait kritik dan saran sehingga dapat terus berbenah contohnya dalam pengadaan fasilitas ruang laboratorium yang memang dikhususkan untuk kegiatan pembelajaran berupa pratikum.

Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Ade selaku kepala laboratorium di SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa:

“Sejauh ini yang saya rasakan tidak ada hambatan ya mbak untuk pemenuhan standar sarana prasarana disini, karena dari pihak sekolah juga mendukung penuh terkait pengadaan alat dan bahan jika ada yang kurang. Selain itu juga pihak sekolah melakukan inventarisasi tiap semesternya jadi ini menjadi faktor pendukung pemenuhannya karena dari situ pihak sekolah bisa tau langsung apa yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa.”

Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa tidak ada faktor penghambat dalam pemenuhan standar sarana prasana di SMAK Santo Paulus ini. Sedangkan faktor pendukungnya ialah prosedur pengadaan alat yang mudah serta pihak sekolah yang responsif terhadap kebutuhan pembelajaran siswa-siswanya.

59

menjabarkan temuan berikut:

1. Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Pendidikan.

Berdasarkan temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa laboratorium biologi SMA/MA di Kabupaten Jember memiliki konidisi yang berbeda-beda. Standarisasi laboratorium biologi menurut Permendiknas. Standarisasi laboratorium biologi menurut Permendiknas No. 24 tahun 2007 harus memenuhi kriteria sarana dan prasarana minimum yang meliputi ruang, perabot, alat peraga, alat dan bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai, dan peralatan lain. Kategori laboratorium biologi didasarkan pada Permendikbud 004/H/AK/2017 tentang kriteria dan akreditasi SMA meliputi dapat menampung minimal 1 rombel, luas minimum, sarana lengkap, didayagunakan secara maksimal, kondisi terawat baik serta bersih dan nyaman.

a. Ruangan Laboratorium Biologi

Menurut Permendikbud no. 22 Tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah yaitu jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar adalah 27-34 siswa. Didapatkan hasil bahwa sekolah setingkat SMA di Jember sudah memenuhi standar minimum dalam menampung minimal 1 rombel yang didasarkan pada Permendikbud 004/H/AK/2017 tentang kriteria dan akreditasi SMA.

SMA Kabupaten Jember mempunyai luas ruangan yang bervariasi

dengan kapasitas siswa berkisar antara 25-36 siswa.

Menurut permendiknas no. 24 tahun 2007 ruang laboratorium harus dipisahkan antara biologi, fisika dan kimia, Madrasah Aliyah Negeri 1 dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember belum mempunyai laboratorium biologi sendiri dan masih bergabung dengan laboratorium fisika dan kimia karena keterbatasan ruang disekolah tersebut.

Sedangkan SMAK Santo Paulus sudah dipisahkan antara laboratorium biologi, fisika dan kimia. Ketiga seklah rata-rata memiliki ruang utama untuk praktikum, ruang penyimpanan alat dan bahan serta ruang persiapan.

Menurut Rosilawati (2012:124) ruang laboratorium yang digabung menyebabkan dalam penyimpanan alat dan bahan untuk masing-masing mata pelajaran menemui kesulitan. Kesulitan untuk pengaturan jadwal penggunaan laboratorium dikarenakan ruang laboratorium digunakan secara bersama-sama. Selain itu, pembagian alat dan mengadakan persiapan di dalam laboratorium yang belum terpisah antar mata pelajaran juga merupakan kendala dalam pengelolaan laboratorium.

Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan bahwa ketiga sekolah memiliki 27-34 siswa per rombel, untuk luas ruang laboratorium biologi ketiganya sudah memenuhi standar minimum bahkan ada yang melebihi standar. Hasil lebar ruang, luas ruang persiapan dan penyimpanan ketiga sekolah telah memenuhi standar

61

yang ditettapkan pemerintah dalam Permendiknas no 24 tahun 2007.

Menurut Munarti (2018:4) ruang laboratorium tidak sama dengan ruang kelas, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.

Umumnya laboratorium sains terdiri dari ruang utama dan ruang penunjang. Ruang utama merupakan tempat siswa melakukan praktikum sedangkan ruang penunjang terdiri dari ruang persiapan dan penyimpanan. Ruang persiapan digunakan untuk menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan saat praktikum, ruang penyimpanan digunakan untuk menyimpan alat dan bahan laboratorium.

b. Sarana Laboratorium Biologi

Berdasarkan hasil observasi dari ketiga sekolah di Kabupaten Jember didapatkan dihitung skor dan dikategorikan menggunakan interval Mastika (2014), hasil yang diperoleh dari segi perabot, laboratorium biologi di dua sekolah dari 3 sekolah yang diteliti memenuhi standar 90-95%. Sedangkan satu lainnya 78-85%. Jika dirata-ratakan perabot di 3 SMA/MA tersebut mencapai 89,3%

kategori baik. Ketersediaan perabot yang masih kurang adalah bak cuci yang tidak berfungsi dan meja demonstrasi yang masih menggunakan meja yang sama seperti meja kerja.

Dari segi peralatan pendidikan laboratorium yaitu alat peraga alat dan bahan percobaan didapatkan hasil yang beragam dari tiga SMA kabupaten Jember, dari tiga SMA hanya SMAK Santo Paulus Jember tertinggi sedangkan Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember sekitar

55% sampai 70%, untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember hanya memenuhi 15 sampai 41%. Rata-rata alat peraga dan bahan percoban di tiga SMA adalah 47,6% dan 58,5%. Jika dirata-ratakan dari segi peralatan pendidikan di tiga SMA kabupaten Jember 53,05% dengan kategori cukup. Dapat diketahui bahwa dari segi peralatan pendidikan, laboratorium di tiga SMA kabupaten Jember sudah memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan permendiknas.

Dari segi media pendidikan laboratorium biologi di tiga SMA Kabupaten Jember memenuhi 100% dengan kategori sangat baik, hasil tersebut menunjukkan bahwa dari segi media pendidikan laboratorium biologi telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan permendiknas no. 24 tahun 2007.

Dari segi bahan habis pakai laboratorium biologi di dua dari ketiga SMA kabupaten Jember SMAK Santo Paulus dan Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember telah memenuhi standar, untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember mendapat kategori terendah, berdasarkan hasil wawancara bahan habis pakai sekolah di sekolah tersebut memang belum tersedia karena memang di sekolah tersebut kegiatan pembelajaran praktikum belum aktif dilaksanakan, hal ini menyebabkan persentase terendah diantara tiga SMA lainnya. Menurut permendiknas no. 24 tahun 2007 Bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat. Jadi jika bahan atau zat tersebut habis, sekolah harus membeli atau memesan kembali

63

untuk kebutuhan praktikum.

Peralatan lain dua dari tigasekolah setingkat SMA kabupaten Jember 60-90% sedangkan satu sekolah lainnya Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember masih hanya dengan kategori cukup. Peralatan lain yang masih kurang di beberapa SMA di kota kabupaten Jember diantaranya soket listrik, peralatan P3K dan alat pemadam kebakaran.

Hamid (2011) berpendapat bahwa fasilitas instalasi listrik sangat diperlukan untuk memberikan pencahayaan yang cukup di dalam ruang laboratorium dan tentunya digunakan untuk sumber tegangan dalam melaksanakan praktikum yang memerlukan listrik, sedangkan instalasi air digunakan untuk mencuci tangan apabila kotor atau terkena zat kimia yg berbahaya dan untuk mencuci alat praktikum yang kotor setelah digunakan. Air bersih juga bisa digunakan untuk dijadikan bahan praktikum. Peralatan P3K dan alat pemadam kebakaran itu penting untuk disediakan di laboratorium biologi sebagai alat bantu dalam upaya menangani kecelakaan di laboratorium karena kecelakaan pada saat praktikum bisa terjadi kapan saja.

c. Kondisi Laboratorium Biologi

Kebenrsihan adalah keadaan bebas kotoran termasuk diantaranya debu, sampah, dan bau. Kondisi ruangan laboratorium mengacu pada Keputusan Menteri No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang syarat kesehatan lingkungan kerja yang meliputi tersedianya air bersih, ruangan tidak berdebu, jika ruangan tidak ber AC harus

memiliki ventilasi, memiliki tempat sampah dan tidak ada sampah di ruangan. Kondisi laboratorium di tiga sekolah menunjukkan 2 diantaranya kondisi terawat, bersih dan nyaman. Kedua SMA itu memiliki air bersih, ventilasi, ruang tidak berdebu, juga tidak ada sampah di ruangan laboratorium dan juga memiliki tempat sampah yang tersedia di laboratorium biologi. Sedangkan satu SMA yaitu Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember belum terawat, bersih dan nyaman karena belum memenuhi kriteria.

Menurut (Khasanah, 2015) lingkungan belajar yang bersih sangat mendukung timbulnya ketertiban dan kenyamanan pada proses pembelajaran berlangsung. Ruangan yang terdapat banyak sampah dan menjadi sarang nyamuk bisa mengganggu proses belajar siswa, karena tempat belajar yang kotor mengakibatkan bau dan berdebu. Menjaga kebersihan ruang dibutuhkan kerja sama antara siswa, guru dan petuga kebersihan sekolah. Hal paling penting adalah kesadaran diri masing- masing untuk menjaga kebersihan lingkungan belajar agar tetap dalam keadaan bersih dan nyaman.

Berdasarkan hasil observsi yang dilakukan oleh peneliti terhadap 3 sekolah SMA di Kabupaten Jember yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember serta SMAK Santo Paulus Jember bahwa kondisi laboratorium biologi di masing- masing sekolah tersebut didapatkan bahwa 2 SMA memenuhi kriteria terawat, bersih dan nyaman yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember

65

dan SMAK Santo Paulus Jember. Sedangkan 1 SMA masih belum memenuhi kriteria bersih dan nyaman yakni Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pemenuhan Standar Laboratorium

Keberadaan laboratorium yang menunjang dan mendukung keberhasilan pembelajaran tentunya harus memenuhi standar sarana dan prasarana, keadaan sarana dan prasarana serta sistem pengelolaan yang baik tentu akan berakibat positif pada proses pembelajaran biologi di sekolah. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya (Sukarso, 2011). Namun Kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana laboratorium yang baik dan lengkap. Tentunya setiap sekolahan mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya masing-masing dalam pemenuhan standarisasi laboratorium sekolah.

Berdasarkan temuan di lapangan seperti yang disampaikan oleh beberapa narasumber pada penyajian data bahwasanya terdapat sekolah yang masih mempunyai faktor penghambatnya sehingga bisa dikatakan laboratorium sekolahan tersebut masih belum bisa dikatakan standar sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti halnya Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yang mempunyai faktor penghambat seperti ; kurangnya ruangan khusus yang

dapat dijadikan sebagai laboratorium biologi, laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember masih jadi satu dan tidak spesifik untuk 1 ruangan laboratorium bilogi saja tetapi digunakan juga untuk laboratorium kimia, fisika dan lain sebagainya.

Akibatnya jadwal praktikum para siswa-siswi seringkali bertabrakan dengan mata pelajaran lainnya yang juga akan melakukan praktikum di laboratorium. Tidak hanya itu, untuk sekolah Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember justru ruangan laboratorium juga digunakan sebagai kelas para siswa dan siswi sehingga hal ini akan menghambat sekali kegiatan praktikum di sekolahan tersebut.

Berbeda dengan SMAK Santo Paulus Jember yang ketika peneliti wawancara serta hasil observasi yang peneliti lakukan sudah sesuai dengan standarisasi peraturan perundang-undangan, SMAK Santo Paulus Jember juga tidak memiliki faktor penghambat bagi laboratoriumnya karena seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan laboratorium sudah tersedia semua, bahkan SMAK Santo Paulus Jember rutin melakukan inventarisasi setiap bulannya sehingga tidak sarana dan prasarana yang tidak tersedia.

SMAK Santo Paulus Jember juga mempunyai ketersediaan ruangan untuk laboratorium sehingga membuat kegiatan praktikum para siswa dan siswi dapat berjalan dengan lancar.

Dapat disimpulkan dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di 3 sekolah tersebut yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember serta SMAK Santo Paulus

67

Jember setidaknya dapat dijadikan menjadi 2 faktor yakni faktor penghambat dan faktor pendukung dalam Pemenuhan Standar Laboratorium untuk 3 sekolah tersebut yakni sebagai berikut.

Faktor Penghambat dalam pemenuhan standar laboratorium yakni;

Pertama, kurangnya ketersediaan ruangan untuk pengadaan laboratorium.

Kedua, kurangnya ketersediaan dalam pengaadaan sarana dan prasarana

yang telah diatur oleh perundangan-undangan. Sedangkan untuk faktor pendukung dalam pemenuhan standar laboratorium yakni; Pertama, pihak sekolah rutin melakukan inventarisasi sarana dan prasarana laboratorium sehingga hal ini dapat membuat kegiatan praktikum selalu berjalan dengan lancar. Kedua, antusiasme peserta didik dalam melakukan kegiatan praktikum sehingga kegiatan praktium dapat berjalan dengan baik.

68 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. Dasar acuan standararisasi laboratorium biologi menggunakan Permendiknas no. 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana laboratorium biologi di tingkat SMA/MA. Hasil penelitian menunjukkan laboratorium biologi di tiga SMA/MA yang ada di Kabupaten Jember sudah termasuk dalam kategori memenuhi standar laboratorium dengan persentase hasil rata-rata dari ketiga sekolah yaitu 76,6 atau dengan kategori baik.

2. Setidaknya terdapat masing-masing 2 faktor penghambat dan pendukung dalam pemenuhan standar laboratorium yakni untuk faktor penghambatnya;

Pertama, kurangnya ketersediaan ruangan untuk pengadaan laboratorium.

Kedua, kurangnya ketersediaan dalam pengaadaan sarana dan prasarana

yang telah diatur oleh perundangan-undangan. Sedangkan untuk faktor pendukung yakni; Pertama, pihak sekolah rutin melakukan inventarisasi sarana dan prasarana laboratorium sehingga hal ini dapat membuat kegiatan praktikum selalu berjalan dengan lancar. Kedua, antusiasme peserta didik dalam melakukan kegiatan praktikum sehingga pembelajaran praktikum di laboratorium dapat berjalan dengan lancar.

69

B. Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan di atas, yang menjadi saran peneliti adalah sebagai berikut:

1. Laboratorium biologi SMA di Kabupaten Jember diharapkan lebih memperhatikan standarisasi laboratorium yang meliputi, ruangan, sarana prasarana laboratorium, pendayagunaan dan pengelolaan serta kondisi laboratorium biologi, agar pembelajaran praktikum biologi yang dilaksanakan di laboratorium biologi dapat berjalan dengan lancar.

2. Laboratorium biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember diharapkan rutin melakukan inventarisasi setiap bulan atau setiap semesternya sehingga dapat membuat kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

A.M., Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2008.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan ke Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta, 2014.

Badan Standardisasi Nasional. Pengantar Standardisasi, Edisi Kedua.Jakarta:

Badan Standardisasi Nasional, 2014.

Campbell, N. A. & J. B. Reece. Biologi: Edisi Kedelapan Jilid 3 Terjemahan:

Damaring Tyas Wulandari. Jakarta: Erlangga. 2010.

Djamal, M. Paradigma Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Emda, Amna. “Laboratorium Sebagai Sarana Pembelajaran Kimia dalamMeningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Kerja Ilmiah”.

Lantanida Journal,Vol 2. 2014.

Hamidah, Afreni, Dkk. “Manajemen Laboratorium Biologi Beberapa SMA Swasta di Kota Jambi.” Jurnal Sainmatika: Universitas Jambi, Vol 7, 2013.

Hamid, A.A. Sistem Manajemen Laboratorium MIPA, Makalah diseminarkan dalam Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Pengelolaan Laboratorium IPA SMP/MTS Bagi Pengelola Laboratorium, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY, 2011.

Indrawan, Irjus. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah.Yogyakarta: Deepublish, 2015.

Khazanah, Nur. “Analisis Lingkungan SMA 02 Batang Terhadap Proses Pembelajaran Kimia”, Jurnal Pendidikan Sains, Vol. 03 (1), 2015.

Litasari D., Dkk. “Kepatuhan Minum Tablet Zat Besi DenganPeningkatan Kadar Hb Ibu Hamil di Puskesmas Purwoyoso Semarang.”Jurnal Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang, November 2014, Volume 3,2014.

Mastika, N. “Analisis Standarisasi Laboratorium Biologi Dalam ProsesPembelajaran Di Sma Negeri Kota Denpasar”.Journal Program Pascasarjana, Universitas Pendidikan Ganesha Vol. 4. 2014.

Moleong, Lexy J.Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2017.

71

Moleong, Lexy J.Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

Munarti & Sutjihati, S. “Standar Sarana Prasarana Laboratorium IPA Sekolah Menengah Atas di Wilayah Bogor.” Jurnal Pedagonal, Vol 2 (1) 2018.

Mastika, Nyoman. “Analisis Standarisasi Laboratorium Biologi Dalam Proses Pembelajaran Di SMA Negeri Kota Denpasar,” Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. Vol. 4, 2017.

Morissan. Metode Penelitian Survei. Jakarta:Kencana, 2017.

Mu’tasim, Radjasa dan Abdullah Amin. Metodologi Penelitian AgamaPendekatan Multidisipliner. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2006.

Nurhidayati. “Analisis Pelaksanaan Praktikum pada Pembelajaran Biologi PesertaDidik Kelas XI di SMAN 7 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2015/2016.” Skripsi: IAIN Raden Intan Lampung, 2016.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22

Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah.

Poedjiadi, A. Dasar-dasar Biokimia. Edisi Revisi. Jakarta: UI Press, 2007.

Rusman. Metode-Metode Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013.

Rosilawati, Rini. “Evaluasi Pengelolaan Laboratorium IPA di SMA Negeri Sekecamatan Tambun Utara Kabupaten Bekasi,” Jurnal Evaluasi Pendidikan. Vol 3 (2) 2012.

Satori, Djama’an & Aan Komariah. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Alfabeta, 2014.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2008.

Tim Penyusun. Pedoman Penulis Karya Ilmiah. Jember: IAIN Jember Press, 2020.

Usman, Moh. Uzer.Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya,

67

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan dibawah ini :

Nama : Viki Indah Munsifa NIM : T20188090

Prodi : Tadris Biologi

Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Intitusi : Universitas Islam NegerI Kiai Haji Achmad Siddiq

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang berjudul “Analisis Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi Sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember Berdasarkan Standart Laboratorium Biologi” merupakan hasil karya saya sendiri dan tidak terdapat unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang dilakukan atau dibuat orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur penjiplakan dan ada klaim dari pihak lain, maka saya bersedia untuk diproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapa pun.

Jember, 5 Desember 2022 Yang menyatakan

Viki Indah Munsifa NIM. T20188090

JUDUL PENELITIAN VARIABEL INDIKATOR SUMBER DATA METODE

PENELITIAN RUMUSAN MASALAH Analisis Kesesuaian

Laboratorium Biologi sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi di MAN se-Kabupaten Jember dengan Standart Laboratorium Biologi

Kesesuaian Laboratorium Biologi dengan Standar Laboratorium Biologi

1. Kesesuaian sarana dan prasarana laboratorium biologi berdasarkan Permendiknas No. 24 Tahun 2007

2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam kesesuian pemenuhan standar laboratorium

1. Informan :

a. Siswa kelas XI IPA di MAN se- Kabupaten Jember b. Guru Mata

Pelajaran Biologi c. Kepala

Laboratorium Biologi d. Wakasarpras 2. Data hasil wawancara,

observasi, dan dokumentasi

1. Pendekatan penelitian : Kualitatif Deskriptif 2. Jenis penelitian :

Field Research 3. Penentuan Sampel:

Purposive Sampling 4. Metode Pengumpulan

Data:

a. Wawancara b. Observasi c. Dokumentasi 5. Teknik Analisis Data

:

a. Reduksi data b. Penyajian Data c. Penarikan

Kesimpulan 6. Validasi Data:

a. Triangulasi Sumber b. Triangulasi Teknik

1. Bagaimana kesesuaian laboratorium biologi di MAN se-Kabupaten Jember berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 tentangStandar Sarana dan Prasarana Pendidikan?

2. Apa saja faktor yang mendukung dan menghambat dalam kesesuaian

pemenuhan standar laboratorium?

Nomor : B-4214/In.20/3.a/PP.009/07/2022 Sifat :Biasa

Perihal : Permohonan Ijin Penelitian

Yth. Kepala MAN 1 Jember

Jl. Imam bonjol No. 50, Kaliwates, Jember

Dalam rangka menyelesaikan tugas Skripsi pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, maka mohon diijinkan mahasiswa berikut :

NIM : T20188090

Nama : VIKI INDAH MUNSIFA

Semester : Semester sembilan Program Studi : TADRIS BIOLOGI

untuk mengadakan Penelitian/Riset mengenai Analisis Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi Sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi di MAN Se-Kabupaten Jember berdasarkan Standar Laboratorium Biologi selama 14 (empat belas) hari di lingkungan lembaga wewenang Bapak/Ibu Anwarudin, M.Pd.

Demikian atas perkenan dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Jember, 28 Juli 2022 an. Dekan,

Wakil Dekan Bidang Akademik,

MASHUDI

Nomor : B-4214/In.20/3.a/PP.009/07/2022 Sifat :Biasa

Perihal : Permohonan Ijin Penelitian

Yth. Kepala MAN 3 Jember

Jl. Ahmad Yani No. 76, Jombang, Jember

Dalam rangka menyelesaikan tugas Skripsi pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, maka mohon diijinkan mahasiswa berikut :

NIM : T20188090

Nama : VIKI INDAH MUNSIFA

Semester : Semester sembilan Program Studi : TADRIS BIOLOGI

untuk mengadakan Penelitian/Riset mengenai Analisis Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi Sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi di MAN Se-Kabupaten Jember berdasarkan Standar Laboratorium Biologi selama 14 (empat belas) hari di lingkungan lembaga wewenang Bapak/Ibu Mohamad Iskak

Demikian atas perkenan dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Jember, 10 Agustus 2022 an. Dekan,

Wakil Dekan Bidang Akademik,

MASHUDI

Nomor : B-4214/In.20/3.a/PP.009/07/2022 Sifat :Biasa

Perihal : Permohonan Ijin Penelitian

Yth. Kepala SMA Santo Paulus Jember Jl. Trunojoyo No. 22, Kaliwates, Jember

Dalam rangka menyelesaikan tugas Skripsi pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, maka mohon diijinkan mahasiswa berikut :

NIM : T20188090

Nama : VIKI INDAH MUNSIFA

Semester : Semester sembilan Program Studi : TADRIS BIOLOGI

untuk mengadakan Penelitian/Riset mengenai Analisis Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi Sebagai Penunjang Pembelajaran Biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember berdasarkan Standar Laboratorium Biologi selama 14 (empat belas) hari di lingkungan lembaga wewenang Bapak/Ibu Yohanes Suparno, S.Pd.

Demikian atas perkenan dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Jember, 29 Oktober 2022 an. Dekan,

Wakil Dekan Bidang Akademik,

MASHUDI

Guru biologi, kepala laboratorium biologi dan Wakasarpras

1. Sepengetahuan Bapak atau Ibu sudah berapa lama keberadaan laboratorium biologi di sekolah?

2. Siapakah yang mengelola lab ini? jika guru apakah guru tersebut berasal dari bidang ilmu yang sama?

3. Apakah terdapat tata tertib penggunaan laboratorium jika ada siapa yang diberi kewenangan untuk mengelolanya?

4. Selama satu semester berapa kali siswa menggunakan laboratorium untuk kegiatan praktikum?

5. Berapa lama praktikum dilaksanakan dalam setiap pertemuan?

6. Apakah dengan waktu yang tersedia semua rencana kegiatan pembelajaran dapat terselesaikan dengan baik?

7. Apakah laboratorium biologi di sekolah ini sudah memenuhi standarisasi laboratorium sesuai dengan Permendiknas Nomor 24 tahun 2007?

8. Bagaimana upaya sekolah dalam memenuhi standar laboratorium biologi untuk menunjang pembelajaran biologi?

9. Menurut anda apakah peralatan yang tersedia di laboratorium sudah mencukupi kebutuhan siswanya dalam kegiatan praktikum?

10. Jika siswa ingin melaksanakan praktikum apakah semua alat dan bahan tersedia di laboratorium biologi?

11. Apa saja yang menjadi hambatan dalam pemanfaatan laboratorium ini sendiri?

12. Apakah dengan adanya kegiatan praktikum biologi yang dilakukan di laboratorium IPA membawa dampak pada hasil belajar siswa?

Dokumen terkait