BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
B. Penyajian Data dan Analisis
aman, nyaman, dan berteknologi tinggi bagi warga sekolah;
Keduabelas, Sekolah mewujudkan lulusan yang memiliki secara unggul
kemampuan literasi, numerasi, keterampilan abad 21, penalaran serta karakter religiositas, nasionalisme, gotong-royong, kemandirian dan integritas.
47
tersedia di sekolah belum memenuhi standar, maka kegiatan praktikum tidak akan berjalan lancar, sehingga tidak akan tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Mutiara Adilah, 2021).
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dan observasi, standarisasi laboratorium biologi didasarkan pada ketentuan yang meliputi ruangan, sarana, pendayagunaan dan kondisi laboratorium.
a. Ruangan Laboratorium
Ketentuan mengenai ruangan laboratorium biologi yang tertera dalam Permendiknas No 24 Tahun 2007 adalah 2,4 m2/ siswa dan menampung minimal 1 rombongan belajar. Luas ruang laboratorium untuk 20 siswa luas minimumnya adalah 48m2. Dari 3 sekolah didapatkan hasil ketiga sekolah tersebut dapat menampung 1 rombel siswa juga memiliki luas ruangan yang telah cukup bahkan melebihi standar minimum ruang laboratorium biologi.
Tabel 4.1
Tabel Ruang Laboratorium No. Nama
Sekolah
Jumlah per- rombel
Luas Ruangan Keterangan
Lab.
Sekolah
Standar Minimum
Kapasitas menampung 1 rombel
Memenuhi luas minimum 1. MAN 1
Jember 34 80 m2 81.6m2
2. MAN 3
Jember 33 80 m2 79.2 m2
3. SMAK Santo Paulus
30 85m2 75m2
Hasil observasi diatas diperkuat dengan hasil wawancara kepala laboratorium dan guru mata pelajaran biologi di ketiga sekolah tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember yakni;
”Kalau ukurannya saya masuk kesini tahun 1999 gedungnya sudah ada jadi saya kurang tau juga pasti ukurannya berapa, nanti tinggal hitung internitnya saja mbak inshaAllah memadai ya kalau untuk standar laboratorium. Di laboratorium ini ada 4 ruangan, 1 ruang laboran 1 ruang praktikum dan 2 digunakan sebagai gudang untuk penyimpanan barang-barang. Untuk ukuran ruang laboratoriumnya kurang lebih 80m2, jika ditanya daya tampung laboratorium setiap praktikumnya biasanya disini 1 kelas itu rata-rata 32-34 siswa.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa narasumber belum mengetahui pasti ukuran spesifik laboratorium tersebut, tetapi ukuran ruang laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dalam satu sesi praktikum, ruang laboratorium dapat menampung siswa satu kelas yang berjumlah 32-34 orang.
Peneliti juga mewawancarai Ibu Eny selaku guru mata pelajaran Biologi kelas XI MIPA, beliau menjelaskan;
“Biasanya 1 kelas, 1 kelas itu disini berisi 32-34 siswa mbak, kemudian biasanya waktu praktikum dibentuk kelompok 4-5 siswa dalam 1 meja. Mejanya disini ada 11 meja cukuplah untuk satu rombongan belajar setiap praktikum”.
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa daya tampung untuk setiap praktikum ruangan
49
laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember bisa menampung satu kelas yang berisikan 32-34 siswa. Hal itu dibuktikan saat pelaksanaan praktikum siswa tetap bisa leluasa dan tidak kekurangan bangku atau meja.
Peneliti mewawancarai Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa;
“Luas ruang laboratorium di MAN 3 ini sudah pasti memnuhi standart mbak, disini lebarnya 7,5x11 m, sedangkan siswa disini 1 kelasnya antara 29-33 ya anggaplah setiap rombongan belajar jumlahnya 33 siswa. Berarti kan sebenarnya butuh ruangan 79,2 ya kalau disini lebih lah.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa luas ruang laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 3 telah memenuhi standar ketentuan mengenai ruangan laboratorium biologi yang tertera dalam Permendiknas No 24 Tahun 2007 adalah 2,4 m2/ siswa dan menampung minimal 1 rombongan belajar.
Hasil wawancara dengan Ibu Bibit selaku guru mata pelajaran Biologi kelas 11 MIPA Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember;
“Kalau ukuran luas ruangan itu pastinya yang tau kepala laboratorium ya mbak atau Wakasarpras, tapi yang pasti ya yang saya tau disini ruangannya cukup untuk satu kelas atau satu rombongan belajar. Tapi ya begitu kita lebih sering melakukan praktikum diluar ruangan karena ruang laboratorium yang tersedia digunakan untuk kelas juga.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa ruangan praktikum yang dimilki oleh Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni hanya 1 ruangan saja, ruangan tersebut
lebih sering digunakan untuk kelas bukan untuk praktikum, akibatnya para siswa sering melakukan praktikum diluar kelas/diluar ruangan.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Ade selaku kepala laboratorium SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa;
“Luas ruangan disini kira-kira 85m2 ya, untuk tiap rombongan belajar itu perkelas disini tiap kelas beda-beda mbak antara 27-30 siswa.”
Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Monicha selaku guru mata pelajaran Biologi di SMAK Santo Paulus yakni;
“Ruang laboratorium di SMAK ini ya sangat cukup mbak kalau untuk kegiatan praktikum tiap kelas ya bahkan lebih lah ya karena disini tiap rombongan belajar atau perkelas itu hanya kisaran 26-30 siswa ya kurang lebih.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa ruangan laboratorium yang dimiliki oleh SMAK Santo Paulus Jember sudah mencukupi untuk digunakan sebagai kegiatan praktikum. Ruangan Laboratorium di SMAK Santo Paulus berukuran kurang lebih 85 m2. Kegiatan praktikum siswa yang berjumlah per rombongan 26-30 bisa berjalan dengan lancar karena luas ruangan yang sudah memadahi.
b. Sarana Laboratorium Biologi
Sarana laboratorium biologi ditetapkan pemerntah dalam permendiknas no 24 tahun 2007 yaitu laboratorium biologi jarus memiliki perabot, alat peraga, alat dan bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai dan peralatan lain.
51
Tabel 4.2 Sarana Prasarana Laboratorium No. Nama
Sekolah
Persentase (%) Kategori 1 2 3 4 5 6 rata2
1. MAN 1 Jember
93 64 71 100 69 70 77 Baik 2. MAN 3
Jember
64 48 51 100 77 30 61,6 Cukup 3. SMAK
Santo Paulus
100 68 89 100 92 100 91,5 Sangat baik Keterangan :
1. Perabot, sarana pengisi ruang laboratorium.
2. Alat peraga, alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pengajaran.
3. Alat dan bahan percobaan, alat adalah segala peralatan yang
digunakan saat praktikum, sedangkan bahan adalah komponen yang diuji saat praktikum.
4. Media pendidikan, peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.
5. Bahan habis pakai, barang yang digunkan dan habis dalam waktu relatif singkat.
6. Peralatan lain, pelengkap untuk laboratorium biologi.
Hasil observasi diatas diperkuat dengan hasil wawancara kepala laboratorium dan guru mata pelajaran biologi di ketiga sekolah tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember yakni;
“Laboratorium disini kan masih belum spesifik ya mbak karena ruangannya masih jadi satu antara kimia, fisika dan biologi.
Walaupun secara formal sudah dipisah tapi alat-alatnya masi numpuk disini. Terkait kondisi dan kelengkapan alatnya itu ada beberapa yang memang perlu diganti, sebagian alat-alat itu kondisinya sudah tidak bagus atau rusak seperti mikroskop kita memiliki banyak tapi ya kondisinya tidak semua bisa terpakai ya kurang lebih hanya 50%, dan contoh lain seperti torso manusia itu juga sudah tidak utuh karena sering dipindah-pindahkan sana- sini. Untuk kelengkapan saya kira sudah cukup lengkap tapi ya memang ada beberapa alat yang belum tersedia seperti fotometer
dan perlu ada penambahan mikroskop lagi agar lebih efisien waktu praktikumnya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa pada saat proses pelaksanaan praktikum kelengkapan alat di laboratorium dapat diketahui masih ada beberapa alat praktikum yang keadaannya kurang bagus yaitu mikroskop yang sudah tidak bisa digunakan dengan baik, torso manusia yang sudah tidak utuh, dll.
Selain itu hasil wawancara dengan Ibu Eny selaku guru mata pelajaran biologi kelas XI MIPA beliau menjelaskan bahwa;
“Kondisinya ada beberapa alat-alat yang masih bagus dan ada yang sudah rusak. beberapa kalau memang sudah lama tidak dipakai dan ada yang sudah rusak ya tidak bisa digunakan lagi mbak, contohnya alat yang sudah rusak torso manusia dan ada beberapa mikroskop yang sudah rusak. Kelengkapan alatnya ya sebagian besar sudah lengkap, 85% sudah lengkap dari semua alat-alat yang dibutuhkan laboratorium khususnya biologi, tapi ada alat yang untuk materi kultur jaringan di sekolah masih belum punya karena mahal juga. Jadi ketika ada alat yang tidak ada di laboratorium cara untuk menyiasati ketika ada alat yang belum ada di laboratorium ya dengan menggunakan teknologi contohnyasaja kita bisa menggunakan power point atau menampilkan video praktikum.”
Selain itu hasil wawancara dengan salah satu siswi MIPA MAN 1 Jember, siswi tersebut menjelaskan bahwa;
“Alat dan bahan praktikum di laboratorium MAN 1 menurut saya untuk alatnya masih kurang ya kak, kayak ada beberapa barang yang sudah kurang berfungsi seperti mikroskopnya fokusnya itu sudah kendur. Kalau untuk bahan sudah cukup ya kak kan kalau bahan kadang ada bahan yang sekiranya kita bisa bawa dari rumah biasanya ditugaskan sama gurunya seperti praktikum penyusun tulang di sistem gerak manusia itu kita diminta membawa tulang ayam”
53
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa kelengkapan alat masih ada yang perlu ditambah seperti mikroskop dan fotometer hal ini disebabkan karena harga barang yang cukup mahal sehingga pihak sekolah belum bisa menyediakan akan tetapi hal ini bisa disiasati dengan digunakannya media pendidikan berupa video praktikum.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa;
“Kalau alat dan bahan disini ada, misal ada bahan yang tidak tersedia disini bisa mengajukan ke saya kemudian ditindak lanjuti ke Wakasarpras, tapi sejauh ini apalagi setelah pandemi ini ya kita masih perlu banyak berbenah untuk kondisi laboratoriumnya. Banyak alat yang kondisinya sudah kurang layak pakai ya bisa dikatakan rusak sperti mikroskop dan lainnya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa kondisi alat dan bahan praktikum di laboratorium biologi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember ini masih banyak yang perlu dibenahi karena kondisinya yang kurang sebagai pendukung pembelajaran biologi.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Bibit selaku guru mata pelajaran Biologi kelas 11 MIPA Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni:
“Ya memenuhi standar minimal ya mbak untuk kelengkapan alat dan bahannya, mikroskop disini ada tapi sudah kebanyakan tidak bisa dipakai. Untuk bahan praktikum karena disini didaerah ya bukan di kota seperti sekolah lainnya jadi kebanyakan ya kami ambil dari alam sekitar seperti praktikum jaringan tumbuhan kita minta anak-anak untuk membawa contoh tumbuhan dari rumah
untuk digunakan sebagai bahan praktikum.”
Selanjutnya hasil wawancara dengan salah satu siswa kelas XI MIPA MAN 3 Jember, siswa tersebut menjelaskan bahwa;
“Disini setau saya masih kurang kak, karena saya sendiri belum pernah melakukan praktikum di ruangan karena ruangannya dipakai untuk kelas. Tapi kalau butuh praktikum biasanya alatnya yang dibawa keluar atau kita praktikumnya pengamatan di lapang seperti praktikum fotosintesis”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember dalam melakukan praktikum biologi lebih mengandalkan bahan-bahan dari alam, semisal contoh dengan membawa tumbuhan dari rumah masing- masing. Hal ini karena faktor lokasi sekolahan berada di daerah pinggiran tidak berada di pusat kota seperti Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, oleh karena itu kelengkapan alat di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember bisa dibilang seadanya tidak selengkap seperti sekolah-sekolah yang lain.
Selanjutnya peneliti mewawancarai Bapak Ade selaku kepala laboratorium SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa;
“Saya kira untuk kelengkapan alat dan bahan disini sudah cukup lengkap memenuhi standar Permendiknas yang telah ditetapkan pemerintah itu ya, karena disini pihak sekolah juga melakukan pengecekan rutin tiap awal semester. Misal ada alat yang sudah rusak kita lihat dulu apakah alat ini dibutuhkan di kemudian hari atau tidak, jika dibutuhkan kita bisa mengajukan untuk pengadaannya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa. Kondisi alat dan bahan yang terdapat di
55
laboratorium biologi SMAK Santo Paulus sudah cukup memadai sebagai penunjang pembelajaran biologi.
Hasil wawancara dengan Ibu Monicha selaku guru mata pelajaran Biologi di SMAK Santo Paulus yakni;
“Alat dan bahan praktikum yang dibutuhkan siswa untuk pembelajaran biologi di laboratorium ini sudah lengkap ya, karena setiap sebelum praktikum kami (guru) mengajukan jadwal sekaligus alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk praktikum tersebut dan sejauh ini pihak sekolah selalu berusaha memenuhi kebutuhan siswa”.
Hasil wawancara dengan Clay salahsatu siswa kelas XI MIPA SMAK Santo Paulus, siswa tersebut menjelaskan bahwa;
“Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa untuk peralatan alat atau bahan praktikum di SMAK Santo Paulus sudah terbilang lengkap karena setiap guru di SMAK Santo Paulus setiap praktikum dimulai selalu melakukan pengadaan alat dan bahan. Ditambah juga pihak sekolah yang selalu mensupport semua kebutuhan para siswanya untuk kelancaran praktikum.
c. Kondisi Laboratorium
Tabel 4.3.
Kondisi Laboratorium
No. Nama Sekolah Kondisi Laboratorium Terawat Bersih dan
Nyaman
1. MAN 1 Jember
2. MAN 3 Jember -
3. SMAK Santo Paulus Jember
Keterangan: : Ya -: Tidak
Hasil observsi kondisi laboratorium biologi di masing-masing sekolah didapatkan bahwa 2 SMA/MA memenuhi kriteria terawat, bersih dan nyaman. Sedangkan 1 SMA/MA masih belum memenuhi
kriteria terawat, bersih dan nyaman.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Kesesuaian Pemenuhan Standar Laboratorium
Keberadaan laboratorium yang menunjang dan mendukung keberhasilan pembelajaran tentunya harus memenuhi standar sarana dan prasarana, keadaan sarana dan prasarana serta sistem pengelolaan yang baik tentu akan berakibat positif pada proses pembelajaran biologi di sekolah. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya (Sukarso, 2011). Namun Kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana laboratorium yang baik dan lengkap.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember menjelaskan bahwa:
“Faktor penghambatnya ya mungkin karena disini laboratoriumnya masih jadi satu itu ya mbak tidak spesifik biologi memiliki ruangan sendiri, kimia sendiri, fisika sendiri. Jadi untuk jadwal praktikumnya sering tabrakan begitu antar ketiga mata pelajaran ini. Kemudian faktor pendukungnya karena proses pengadaan bahan yang mudah, jadi ketika guru mata pelajaran mengajukan jam praktikum sekaligus menyertakan alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan, jika tidak tersedia disini nanti kita ajukan ke bendahara.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa yang menjadi penghambat pemenuhan saranan prasarana di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember adalah keterbatasan gedung yang
57
tersedia sehingga laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember masih ada dalam satu ruangan dengan laboratorium fisika dan kimia. Sedangkan faktor pendukungnya ialah pihak sekolah.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa:
“Kendalanya disini ya itu mbak ruang laboratoriumnya dipakai kelas jadi kita mau lengkapi alat dan bahan juga ruangnya terbatas selain itu juga faktor pendanaan ya. Untuk faktor pendukung disini karena sekolahnya di desa jadi masih mudah mendapatkan bahan- bahan alami untuk keprluan praktikum.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa faktor penghambat dalam pemenuhan sarana prasarana di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember adalah ruang laboratorium juga digunakan sebagai ruang kelas. Hal ini terjadi karena di sekolah tersebut masih kekurangan ruang kelas. Sedangkan faktor pendukung dalam pemenuhan standar sarana prasarana laboratorium biologi ialah letak sekolah yang masih berada dalam lingkungan pedesaan sehingga memungkinakan mendapat bahan praktikum dari sekitar sekolah.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Mukhrizin selaku Wakasarpras di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni:
“Faktor penghambat pemenuhan santar laboratorium disini ya ruangannya itu, karena antusiasme masyarakat disini terhadap Madrasah Aliyah Negeri sehingga semakin tahun semakin banyak yang menyekolahkan anaknya disini sehingga kami kekurangan ruang kelas dan akhirnya salah satu yang dikorbankan ya ruang laboratorium ini. Tapi rencana kedepannya lahan parkir di belakang Madrasah Aliyah Negeri 3 ini yang nantinya kami akan buat gedung laboratorium terpadu jadi didalamnya ada laboratorium fisika, kimia, biologi.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa faktor pendukung pemenuhan standar sarana prasarana laboratorium biologi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember ini salah satunya ialah pihak sekolah yang sangat terbuka terkait kritik dan saran sehingga dapat terus berbenah contohnya dalam pengadaan fasilitas ruang laboratorium yang memang dikhususkan untuk kegiatan pembelajaran berupa pratikum.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Ade selaku kepala laboratorium di SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa:
“Sejauh ini yang saya rasakan tidak ada hambatan ya mbak untuk pemenuhan standar sarana prasarana disini, karena dari pihak sekolah juga mendukung penuh terkait pengadaan alat dan bahan jika ada yang kurang. Selain itu juga pihak sekolah melakukan inventarisasi tiap semesternya jadi ini menjadi faktor pendukung pemenuhannya karena dari situ pihak sekolah bisa tau langsung apa yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa tidak ada faktor penghambat dalam pemenuhan standar sarana prasana di SMAK Santo Paulus ini. Sedangkan faktor pendukungnya ialah prosedur pengadaan alat yang mudah serta pihak sekolah yang responsif terhadap kebutuhan pembelajaran siswa-siswanya.