BAB III METODE PENELITIAN
D. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa teknik dalam proses pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan dokumentasi yang masing-masing proses tersebut mempunyai peranan penting dalam upaya mendapatkan informasi yang akurat. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Dalam teknik ini peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur, yang dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden.
2. Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi langsung dan jenis observasi partisipasi pasif. Maksud dari pasrtisipasi pasif adalah peneliti datang ke tempat kegiatan orang atau subjek yang diamati, akan tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Observasi ini dilakukan pada saat praktikum dilaksanakan. Data yang diperoleh peneliti dari teknik observasi ini adalah:
a. Kondisi fasilitas yang ada di laboratorium biologi.
b. Pengelolaan yang ada di laboratorium biologi.
c. Pemanfaatan laboratorium biologi saat pembelajaran biologi.
d. Suasana praktikum biologi di laboratorium.
Hasil observasi dibuat prosentase ketercapaiannya dan selanjutnya dikategorisasikan berdasarkan pedoman kategori standarisasi laboratorium (Mastika, 2014).
Tabel 3.1
Data Interval Klasifikasi
Rentangan Persentase Klasifikasi
85% < X ≤ 100% Sangat Baik
65% < X ≤ 85% Baik
45% < X ≤ 65% Cukup
25% < X ≤ 65% Kurang
0% < X ≤ 25% Sangat Kurang
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik untuk memperoleh data melalui variabel seperti jenis catatan, buku surat kabar dan literasi lain terkait dengan penelitian. (Arikunto, 2014:274). Dokumentasi pada penelitian kualitatif adalah penyempurna dari teknik pengamatan dan juga
35
wawancara yang mana Hal tersebut dikarenakan dalam prosesnya dokumentasi berusaha untuk melakukan pengumpulan dokumen dan informasi yang dibutuhkan pada problem penelitian kemudian dianalisis secara mendalam dan detail agar bisa memperkaya dan mendukung nilai kepercayaan dan keakuratan sebuah peristiwa. (Komariah, 2014:146).
Data yang diperoleh dari dokumentasi adalah:
a. Profil lembaga SMA dan MA di Kabupaten Jember
b. Struktur organisasi sekolah dan struktur organisasi laboratorium
c. Data praktikum mata pelajaran biologi meliputi: absensi, tata tertib, dan jadwal praktikum
d. Foto kegiatan meliputi: foto kegiatan praktikum, foto kegiatan wawancara, foto alat dan bahan, foto kondisi laboratorium.
E. Analisis Data
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto dan sebagainya.
Bogdan dan Biklen mengemukakan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat
diceritakan kepada orang lain. Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit.
Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.
Mereduksi informasi berarti menyimpulkan, memilih hal-hal pokok, memusatkan perhatian pada hal-hal penting, mencari subjek dan model.
Selanjutnya informasi yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan berbagai informasi selanjutnya.
2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang baik merupakan cara utama bagi analisis kualitatif yang valid.
Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel sesuai dengan aspek yang diamati sehingga lebih mudah dipahami. Observasi yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah lembar observasi sarana dan prasarana laboratorium biologi.
Langkah-langkah analisis observasi yaitu:
a. Memberikan skor pada masing-masing lembar observsi.
37
b. Lembar observasi sarana dan prasarana laboratorium dibuat dalam bentuk sign system (sistem tanda) dengan menggunakan skala bertingkat (rating scale) yaitu :
c. Merekapitulasi skor yang diperoleh dari laboratorium biologi.
d. Menghitung skor persentase skor lembar observasi dengan rumus (Sugiyono, 2008)
3. Kesimpulan
Kesimpulan pada penelitian kualitatif dapat menjawab fokus penelitian yang sudah direncanakan sejak awal pada fokus penelitian, namun tidak menutup kemungkinan juga tidak semua seperti fokus penelitian yang direncakan di awal, seperti yang telah dijelaskan bahwa masalah dan fokus penelitian penelitian penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan terus berkembang setelah dilakukan penelitian di lapangan.
F. Keabsahan Data
Keabsahan data pada penelitian ini memakai triangulasi, karena yang dicari ialah kata-kata, maka tidak mustahil apabila ada sebagian kata-kata yang keliru yang tidak sesuai antara apa yang dibicarakan dan kenyataan sesungguhnya di lapangan. Hal ini dapat dipengaruhi dari kredibilitas informannya, waktu pengungkapan, kondisi yang dialami serta faktor lainnya.
Maka dari itu peneliti perlu melakukan triangulasi yakni proses pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu.
Dalam penelitian ini, untuk mengecek keabsahan data menggunakan
triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari berbagai sumber perolehan data.
G. Tahap-tahap Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian yang dimaksudkan pada penelitian ini diidentifikasikan dengan langkah-langkah melaksanakan penelitian. Tahapan penelitian yang dilakukan yakni terdiri dari pra lapangan, tahap pelaksanaan penelitian, dan tahap penyelesaian hasil penelitian serta penjelasannya.
1. Tahap Pra Lapangan
Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti yaitu mencari masalah dan mencari referensi terkait. Adapun tahap pra lapangannya sebagai berikut:
a. Menentukan lokasi penelitian;
b. Menyusun rancangan penelitian;
c. Pengurusan perizinan;
d. Mempersiapkan pelengkapan penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Setelah mendapatkan izin untuk melakukan penelitian, peneliti akan mengunjungi objek yang akan diteliti dan mengumpulkan data informasi dengan wawancara, observasi dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang akan diidentifikasi dengan fenomena yang terjadi di lapangan.
3. Tahap Penyusun Laporan
Setelah peneliti mendapatkan informasi dan data telah dianalisis, tahap selanjutnya peneliti membuat laporan dari hasil penelitian. Laporan
39
tersebut selanjutnya diserahkan pada dosen pembimbing untuk direvisi dan dikoreksi jika ada kekurangan dan kesalahan sehingga perlu direvisi untuk perbaikan hasil penelitian.
40 BAB IV
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember a. Profil MAN 1 Jember
Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember adalah salah satu lembaga pendidikan sekolah menengah umum yang bercirikan Islam yang dipimpin oleh Drs. Anwarudin, M.Si dan berada di wilayah Jember tepatnya di Jl. Imam Bonjol No. 50, Kaliwates Kidul, Kecamatan Kaliwates. Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember merupakan salah satu lembaga pendidikan formal favorit di kabupaten Jember. Selain unggul berprestasi di bidang akademik, para siswanya juga mampu berprestasi di bidang non akademik. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai macam prestasi yang diraih oleh siswa di bidang olahraga seperti bola voly dan silat serta bidang keagamaan seperti Musabaqah Fahmil Qur’an dan Musabaqah Qiroatil Kutub. Seluruh prestasi yang dimiliki oleh siswa tersebut tak luput dari upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah dengan mengelola, mewadahi dan mengembangkan bakat minat serta keterampilan siswa melalui program ekstrakurikuler dan program keterampilan.
Secara keseluruhan keadaan siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, pada tahun pelajaran 2021/2022 berjumlah 1180 siswa yang tersebar pada 4 peminatan yang terdiri dari peminatan Bahasa, MIPA,
41
IPS dan Agama, baik kelas X, XI, dan XII yang enam program keunggulan diantaranya: program MANPK (program unggulan Agama), Program Bina Insan Cendekia (BIC) sebagai program unggulan MIPA, program unggulan Reguler, Program Tahfidz, dan program Riset.
Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dalam menunjang proses pembelajaran, kegiatan, dan prestasi para siswanya. Adapun sarana prasarana yang terdapat di sekolah tersebut diantaranya ialah ruang multimedia, ruang laboratorium IPA, ruang workshop otomotif, ruang workshop elektronika, ruang workshop pertanian, ruang workshop tata busana, ruang produksi tata usaha, ruang laboratorium komputer, ruang perpustakaan, ruang pembelajaran, ruang klinik kesahatan, ruang kantin siswa, ruang guru putra, ruang guru putri, ruang kepala sekolah, ruang bendahara, ruang waka, ruang rapat, ruang BK, ruang MGMP, lapangan olah raga, halaman terbuka, ruang osis, ruang tatib, kamar mandi, dan Musholla/Masjid Nurul Anwar. Selain itu, terdapat pula berbagai macam kegiatan dalam pengembangan diri yang dapat dipiih sesuai dengan bakat dan minat siswa yaitu kegiatan ekstrakurikuler dan keterampilan. Kegiatan tersebut nantinya akan dinilai secara berkala dan dilampirkan pada dokumen hasil belajar siswa (rapor).
b. Visi dan Misi Madrasah
Visi : Unggul dalam prestasi, terampil, berakhlaqul karimah berlandaskan iman dan taqwa.
Misi : Pertama, Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak; Kedua, Mengembangkan potensi akademik dan nonakademik peserta didik secara optimal sesuai dengan bakat dan minat melalui proses pembelajaran bermutu; Ketiga, Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif kepada peserta didik di bidang keterampilan sebagai modal untuk terjun ke dunia kerja.
2. Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember a. Profil MAN 3 Jember
Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember lahir dari perjalanan panjang sebuah sejarah lembaga pendidikan formal di Jember. Bermula dari kecermatan analisa dari the funding father dan sesepuh yang ada di desa Jombang akan urgensitas makna pendidikan bagimasyarakat, mereka itu antara lain: Bpk. Iskandar Tasrif, Bpk. M. Thohir Djazuli, Bc. Hk (alm), Bpk. M.Fadhil (alm), Bpk. Mahali (alm), Bpk. H.Alwi Usman (alm) dll. Sehingga sampai berkesimpulan untuk membentuk sebuah lembaga pendidikan Islam yang mengakomodasi kepentingan masayarakat dalam mencerdaskan generasi mudanya, sehingga pada tahun 1977 berdirilah lembaga pendidikan Madrasah Aliyah Islam setingkat SMA di Desa Jombang Kecamatan Kencong Kabupaten
43
Jember yang diberi nama Ma Ittihadiyah. Pada tahun pelajaran 1982- 1983 MA Ittihadiyah menggabungkan diri dengan Madrasah Aliyah Negeri Jember (sekarang MAN 1) dengan sebutan MAN Fillial Jember, kemudian berdasarkan terbitnya SK Menteri Agama No.515 A Tahun 1995 MAN Filial Jember menjadi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember hingga sekarang.
b. Visi dan Misi Madrasah
Visi : Terwuujudnya lulusan madrasah yang berakhlak mulia, disiplin, inovatif, cerdas, terampil, kreatif, dan berwawasan kebangsaan (ADICTIF WANGSA).
Misi : Pertama, Membiasakan civitas akademika berperilaku sesuai ajaran Islam dan norma yang berlaku di masyarakat; Kedua, Meningkatkan kesdaran berwawasan lingkungan; Ketiga, Mentaati peraturan yang berlaku dilingkungan madrasah dan lingkungan masyarakat; Keempat, Melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan; Kelima, Menumbuhkan semangat berprestasi bagi seluruh civitas akademika; Keenam, Melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai bakat dan minat; Ketujuh, Mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi seluruh civitas akademika; Kedelapan, Menumbuhkembangkan kesadaran dan tanggungjawab bermasyarakat.
3. SMAK Santo Paulus
a. Profil SMAK Santo Paulus
SMA Katolik Santo Paulus Jember adalah sekolah menengah atas Katolik yang dikelola oleh Yayasan Sancta Maria Malang. Yayasan ini merupakan unit pelayanan Ordo Karmel Provinsi Indonesia dalam bidang pendidikan. Ordo Karmel atau O.Carm adalah kelompok biarawan Katolik yang didirikan di Gunung Karmel, Israel, dan berkantor pusat di Roma, sebagai sebuah sekolah yang dikelola oleh para Karmelit (sebutan untuk biarawan Ordo Karmel), SMA Katolik Santo Paulus memiliki jaringan kerjasama dengan sekolah-sekolah yang dikelola oleh para Karmelit yang tersebar di seluruh dunia.
Dengan kata lain, SMA Katolik Santo Paulus memiliki ikatan persaudaraan dan kerjasama dengan Crespi Carmelite High School di California, Salpointe Catholic High School di Tucson-Arizona, Whitefriar di Melbourne-Australia, dan lain-lain.
b. Visi dan Misi Sekolah
Visi : Murid SMA Katolik Santo Paulus adalah pribadi religius yang menghayati spiritualis Karmel : doa, persaudaraan dan pelayanan;
hidup sebagai saudara dalam kesetaraan derajat dan saling menghargai keberagaman, meraih keseimbangan keunggulan akademik- nonakademik, dan berjiwa pemimpin pelayan dalam mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune).
45
Misi : Pertama, SMA Katolik Santo Paulus merupakan lembaga pendidikan ko-edukasional, yang menghayati tradisi Karmelit dan memberikan layanan pendidikan terbaik setingkat SMA bagi murid yang diasuhnya; Kedua, Sekolah meneraapkan Kurikulum 2013 dengan memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik sesuai bakat, minat dan kecepatan belajar pserta didik yang beragam;
Ketiga, Sekolah mendidik murid dalam disiplin pendidikan Katolik;
Keempat, Sekolah mendidik murid untuk menghargai setiap proses
pendidikan; Kelima, Sekolah menanamkan nilai kebenaran, kejujuran dan cara berkomunikasi yang bermartabat; Keenam, Sekolah bekerjasama dengan orang tua/ wali murid dan alumni untuk memfasilitasi kreativitas dan inovasi murid dalam berbagai kegiatan positif; Ketujuh, Sekolah bekerjasama dengan orang tua/ wali murid, alumni, dan Pemerintah dalam mendidik murid untuk memiliki keunggulan di bidang akademik-nonakademik, sikap disiplin, tanggung jawab, dan menjadi pemimpin yang melayani; Kedelapan, Sekolah membentuk sikap hormat akan kebhinekaan dalam kesetaraan dan mewujudkannya melalui dialog interkultural; Kesembilan, Sekolah mengembangkan profesionalisme tenaga pendidik dan tenaga kependidikan melalui supervisi, monitoring dan pengembangan kompetensi berkelanjutan; Kesepuluh, Sekolah mewujudkan pengelolaan sekolah yang efektif, efisien dan akuntabel; Kesebelas, Sekolah mewujudkan fasilitas dan lingkungan sekolah yang sehat,
aman, nyaman, dan berteknologi tinggi bagi warga sekolah;
Keduabelas, Sekolah mewujudkan lulusan yang memiliki secara unggul
kemampuan literasi, numerasi, keterampilan abad 21, penalaran serta karakter religiositas, nasionalisme, gotong-royong, kemandirian dan integritas.
B. Penyajian Data dan Analisis
Penyajian data berikut ini berdasarkan hasil penelitian peneliti yang dilaksanakan di beberapa SMA dan MA yang berada di Kabupaten Jember, penelitian ini ditujukan untuk memperoleh data tentang kesesuaian sarana prasarana laboratorium yang ada disekolah berdasarkan Permendiknas No. 24 tahun 2007. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan sesuai dengan apa yang telah peneliti uraikan sebelumnya pada bab metode penelitian yaitu dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara.
1. Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Pendidikan.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana SMA/MA Pendidikan Umum, diantaranya mempersyaratkan sebuah SMA/MA sekurang kurangnya harus memiliki ruang laboratorium Biologi. Laboratorium di sekolah sangat penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar biologi, karena ada beberapa materi yang dalam memahaminya perlu melakukan pengamatan atau percobaan di laboratorium. Jika laboratorium yang
47
tersedia di sekolah belum memenuhi standar, maka kegiatan praktikum tidak akan berjalan lancar, sehingga tidak akan tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Mutiara Adilah, 2021).
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dan observasi, standarisasi laboratorium biologi didasarkan pada ketentuan yang meliputi ruangan, sarana, pendayagunaan dan kondisi laboratorium.
a. Ruangan Laboratorium
Ketentuan mengenai ruangan laboratorium biologi yang tertera dalam Permendiknas No 24 Tahun 2007 adalah 2,4 m2/ siswa dan menampung minimal 1 rombongan belajar. Luas ruang laboratorium untuk 20 siswa luas minimumnya adalah 48m2. Dari 3 sekolah didapatkan hasil ketiga sekolah tersebut dapat menampung 1 rombel siswa juga memiliki luas ruangan yang telah cukup bahkan melebihi standar minimum ruang laboratorium biologi.
Tabel 4.1
Tabel Ruang Laboratorium No. Nama
Sekolah
Jumlah per- rombel
Luas Ruangan Keterangan
Lab.
Sekolah
Standar Minimum
Kapasitas menampung 1 rombel
Memenuhi luas minimum 1. MAN 1
Jember 34 80 m2 81.6m2
2. MAN 3
Jember 33 80 m2 79.2 m2
3. SMAK Santo Paulus
30 85m2 75m2
Hasil observasi diatas diperkuat dengan hasil wawancara kepala laboratorium dan guru mata pelajaran biologi di ketiga sekolah tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember yakni;
”Kalau ukurannya saya masuk kesini tahun 1999 gedungnya sudah ada jadi saya kurang tau juga pasti ukurannya berapa, nanti tinggal hitung internitnya saja mbak inshaAllah memadai ya kalau untuk standar laboratorium. Di laboratorium ini ada 4 ruangan, 1 ruang laboran 1 ruang praktikum dan 2 digunakan sebagai gudang untuk penyimpanan barang-barang. Untuk ukuran ruang laboratoriumnya kurang lebih 80m2, jika ditanya daya tampung laboratorium setiap praktikumnya biasanya disini 1 kelas itu rata-rata 32-34 siswa.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa narasumber belum mengetahui pasti ukuran spesifik laboratorium tersebut, tetapi ukuran ruang laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dalam satu sesi praktikum, ruang laboratorium dapat menampung siswa satu kelas yang berjumlah 32-34 orang.
Peneliti juga mewawancarai Ibu Eny selaku guru mata pelajaran Biologi kelas XI MIPA, beliau menjelaskan;
“Biasanya 1 kelas, 1 kelas itu disini berisi 32-34 siswa mbak, kemudian biasanya waktu praktikum dibentuk kelompok 4-5 siswa dalam 1 meja. Mejanya disini ada 11 meja cukuplah untuk satu rombongan belajar setiap praktikum”.
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa daya tampung untuk setiap praktikum ruangan
49
laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember bisa menampung satu kelas yang berisikan 32-34 siswa. Hal itu dibuktikan saat pelaksanaan praktikum siswa tetap bisa leluasa dan tidak kekurangan bangku atau meja.
Peneliti mewawancarai Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa;
“Luas ruang laboratorium di MAN 3 ini sudah pasti memnuhi standart mbak, disini lebarnya 7,5x11 m, sedangkan siswa disini 1 kelasnya antara 29-33 ya anggaplah setiap rombongan belajar jumlahnya 33 siswa. Berarti kan sebenarnya butuh ruangan 79,2 ya kalau disini lebih lah.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa luas ruang laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 3 telah memenuhi standar ketentuan mengenai ruangan laboratorium biologi yang tertera dalam Permendiknas No 24 Tahun 2007 adalah 2,4 m2/ siswa dan menampung minimal 1 rombongan belajar.
Hasil wawancara dengan Ibu Bibit selaku guru mata pelajaran Biologi kelas 11 MIPA Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember;
“Kalau ukuran luas ruangan itu pastinya yang tau kepala laboratorium ya mbak atau Wakasarpras, tapi yang pasti ya yang saya tau disini ruangannya cukup untuk satu kelas atau satu rombongan belajar. Tapi ya begitu kita lebih sering melakukan praktikum diluar ruangan karena ruang laboratorium yang tersedia digunakan untuk kelas juga.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa ruangan praktikum yang dimilki oleh Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni hanya 1 ruangan saja, ruangan tersebut
lebih sering digunakan untuk kelas bukan untuk praktikum, akibatnya para siswa sering melakukan praktikum diluar kelas/diluar ruangan.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Ade selaku kepala laboratorium SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa;
“Luas ruangan disini kira-kira 85m2 ya, untuk tiap rombongan belajar itu perkelas disini tiap kelas beda-beda mbak antara 27-30 siswa.”
Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Monicha selaku guru mata pelajaran Biologi di SMAK Santo Paulus yakni;
“Ruang laboratorium di SMAK ini ya sangat cukup mbak kalau untuk kegiatan praktikum tiap kelas ya bahkan lebih lah ya karena disini tiap rombongan belajar atau perkelas itu hanya kisaran 26-30 siswa ya kurang lebih.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa ruangan laboratorium yang dimiliki oleh SMAK Santo Paulus Jember sudah mencukupi untuk digunakan sebagai kegiatan praktikum. Ruangan Laboratorium di SMAK Santo Paulus berukuran kurang lebih 85 m2. Kegiatan praktikum siswa yang berjumlah per rombongan 26-30 bisa berjalan dengan lancar karena luas ruangan yang sudah memadahi.
b. Sarana Laboratorium Biologi
Sarana laboratorium biologi ditetapkan pemerntah dalam permendiknas no 24 tahun 2007 yaitu laboratorium biologi jarus memiliki perabot, alat peraga, alat dan bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai dan peralatan lain.
51
Tabel 4.2 Sarana Prasarana Laboratorium No. Nama
Sekolah
Persentase (%) Kategori 1 2 3 4 5 6 rata2
1. MAN 1 Jember
93 64 71 100 69 70 77 Baik 2. MAN 3
Jember
64 48 51 100 77 30 61,6 Cukup 3. SMAK
Santo Paulus
100 68 89 100 92 100 91,5 Sangat baik Keterangan :
1. Perabot, sarana pengisi ruang laboratorium.
2. Alat peraga, alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pengajaran.
3. Alat dan bahan percobaan, alat adalah segala peralatan yang
digunakan saat praktikum, sedangkan bahan adalah komponen yang diuji saat praktikum.
4. Media pendidikan, peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.
5. Bahan habis pakai, barang yang digunkan dan habis dalam waktu relatif singkat.
6. Peralatan lain, pelengkap untuk laboratorium biologi.
Hasil observasi diatas diperkuat dengan hasil wawancara kepala laboratorium dan guru mata pelajaran biologi di ketiga sekolah tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember yakni;
“Laboratorium disini kan masih belum spesifik ya mbak karena ruangannya masih jadi satu antara kimia, fisika dan biologi.
Walaupun secara formal sudah dipisah tapi alat-alatnya masi numpuk disini. Terkait kondisi dan kelengkapan alatnya itu ada beberapa yang memang perlu diganti, sebagian alat-alat itu kondisinya sudah tidak bagus atau rusak seperti mikroskop kita memiliki banyak tapi ya kondisinya tidak semua bisa terpakai ya kurang lebih hanya 50%, dan contoh lain seperti torso manusia itu juga sudah tidak utuh karena sering dipindah-pindahkan sana- sini. Untuk kelengkapan saya kira sudah cukup lengkap tapi ya memang ada beberapa alat yang belum tersedia seperti fotometer