BAB V PENUTUP
B. Saran
Sarana laboratorium biologi ditetapkan pemerntah dalam permendiknas no 24 tahun 2007 yaitu laboratorium biologi jarus memiliki perabot, alat peraga, alat dan bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai dan peralatan lain.
51
Tabel 4.2 Sarana Prasarana Laboratorium No. Nama
Sekolah
Persentase (%) Kategori 1 2 3 4 5 6 rata2
1. MAN 1 Jember
93 64 71 100 69 70 77 Baik 2. MAN 3
Jember
64 48 51 100 77 30 61,6 Cukup 3. SMAK
Santo Paulus
100 68 89 100 92 100 91,5 Sangat baik Keterangan :
1. Perabot, sarana pengisi ruang laboratorium.
2. Alat peraga, alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pengajaran.
3. Alat dan bahan percobaan, alat adalah segala peralatan yang
digunakan saat praktikum, sedangkan bahan adalah komponen yang diuji saat praktikum.
4. Media pendidikan, peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.
5. Bahan habis pakai, barang yang digunkan dan habis dalam waktu relatif singkat.
6. Peralatan lain, pelengkap untuk laboratorium biologi.
Hasil observasi diatas diperkuat dengan hasil wawancara kepala laboratorium dan guru mata pelajaran biologi di ketiga sekolah tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember yakni;
“Laboratorium disini kan masih belum spesifik ya mbak karena ruangannya masih jadi satu antara kimia, fisika dan biologi.
Walaupun secara formal sudah dipisah tapi alat-alatnya masi numpuk disini. Terkait kondisi dan kelengkapan alatnya itu ada beberapa yang memang perlu diganti, sebagian alat-alat itu kondisinya sudah tidak bagus atau rusak seperti mikroskop kita memiliki banyak tapi ya kondisinya tidak semua bisa terpakai ya kurang lebih hanya 50%, dan contoh lain seperti torso manusia itu juga sudah tidak utuh karena sering dipindah-pindahkan sana- sini. Untuk kelengkapan saya kira sudah cukup lengkap tapi ya memang ada beberapa alat yang belum tersedia seperti fotometer
dan perlu ada penambahan mikroskop lagi agar lebih efisien waktu praktikumnya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa pada saat proses pelaksanaan praktikum kelengkapan alat di laboratorium dapat diketahui masih ada beberapa alat praktikum yang keadaannya kurang bagus yaitu mikroskop yang sudah tidak bisa digunakan dengan baik, torso manusia yang sudah tidak utuh, dll.
Selain itu hasil wawancara dengan Ibu Eny selaku guru mata pelajaran biologi kelas XI MIPA beliau menjelaskan bahwa;
“Kondisinya ada beberapa alat-alat yang masih bagus dan ada yang sudah rusak. beberapa kalau memang sudah lama tidak dipakai dan ada yang sudah rusak ya tidak bisa digunakan lagi mbak, contohnya alat yang sudah rusak torso manusia dan ada beberapa mikroskop yang sudah rusak. Kelengkapan alatnya ya sebagian besar sudah lengkap, 85% sudah lengkap dari semua alat-alat yang dibutuhkan laboratorium khususnya biologi, tapi ada alat yang untuk materi kultur jaringan di sekolah masih belum punya karena mahal juga. Jadi ketika ada alat yang tidak ada di laboratorium cara untuk menyiasati ketika ada alat yang belum ada di laboratorium ya dengan menggunakan teknologi contohnyasaja kita bisa menggunakan power point atau menampilkan video praktikum.”
Selain itu hasil wawancara dengan salah satu siswi MIPA MAN 1 Jember, siswi tersebut menjelaskan bahwa;
“Alat dan bahan praktikum di laboratorium MAN 1 menurut saya untuk alatnya masih kurang ya kak, kayak ada beberapa barang yang sudah kurang berfungsi seperti mikroskopnya fokusnya itu sudah kendur. Kalau untuk bahan sudah cukup ya kak kan kalau bahan kadang ada bahan yang sekiranya kita bisa bawa dari rumah biasanya ditugaskan sama gurunya seperti praktikum penyusun tulang di sistem gerak manusia itu kita diminta membawa tulang ayam”
53
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa kelengkapan alat masih ada yang perlu ditambah seperti mikroskop dan fotometer hal ini disebabkan karena harga barang yang cukup mahal sehingga pihak sekolah belum bisa menyediakan akan tetapi hal ini bisa disiasati dengan digunakannya media pendidikan berupa video praktikum.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa;
“Kalau alat dan bahan disini ada, misal ada bahan yang tidak tersedia disini bisa mengajukan ke saya kemudian ditindak lanjuti ke Wakasarpras, tapi sejauh ini apalagi setelah pandemi ini ya kita masih perlu banyak berbenah untuk kondisi laboratoriumnya. Banyak alat yang kondisinya sudah kurang layak pakai ya bisa dikatakan rusak sperti mikroskop dan lainnya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa kondisi alat dan bahan praktikum di laboratorium biologi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember ini masih banyak yang perlu dibenahi karena kondisinya yang kurang sebagai pendukung pembelajaran biologi.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Ibu Bibit selaku guru mata pelajaran Biologi kelas 11 MIPA Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni:
“Ya memenuhi standar minimal ya mbak untuk kelengkapan alat dan bahannya, mikroskop disini ada tapi sudah kebanyakan tidak bisa dipakai. Untuk bahan praktikum karena disini didaerah ya bukan di kota seperti sekolah lainnya jadi kebanyakan ya kami ambil dari alam sekitar seperti praktikum jaringan tumbuhan kita minta anak-anak untuk membawa contoh tumbuhan dari rumah
untuk digunakan sebagai bahan praktikum.”
Selanjutnya hasil wawancara dengan salah satu siswa kelas XI MIPA MAN 3 Jember, siswa tersebut menjelaskan bahwa;
“Disini setau saya masih kurang kak, karena saya sendiri belum pernah melakukan praktikum di ruangan karena ruangannya dipakai untuk kelas. Tapi kalau butuh praktikum biasanya alatnya yang dibawa keluar atau kita praktikumnya pengamatan di lapang seperti praktikum fotosintesis”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember dalam melakukan praktikum biologi lebih mengandalkan bahan-bahan dari alam, semisal contoh dengan membawa tumbuhan dari rumah masing- masing. Hal ini karena faktor lokasi sekolahan berada di daerah pinggiran tidak berada di pusat kota seperti Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, oleh karena itu kelengkapan alat di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember bisa dibilang seadanya tidak selengkap seperti sekolah-sekolah yang lain.
Selanjutnya peneliti mewawancarai Bapak Ade selaku kepala laboratorium SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa;
“Saya kira untuk kelengkapan alat dan bahan disini sudah cukup lengkap memenuhi standar Permendiknas yang telah ditetapkan pemerintah itu ya, karena disini pihak sekolah juga melakukan pengecekan rutin tiap awal semester. Misal ada alat yang sudah rusak kita lihat dulu apakah alat ini dibutuhkan di kemudian hari atau tidak, jika dibutuhkan kita bisa mengajukan untuk pengadaannya.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa. Kondisi alat dan bahan yang terdapat di
55
laboratorium biologi SMAK Santo Paulus sudah cukup memadai sebagai penunjang pembelajaran biologi.
Hasil wawancara dengan Ibu Monicha selaku guru mata pelajaran Biologi di SMAK Santo Paulus yakni;
“Alat dan bahan praktikum yang dibutuhkan siswa untuk pembelajaran biologi di laboratorium ini sudah lengkap ya, karena setiap sebelum praktikum kami (guru) mengajukan jadwal sekaligus alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk praktikum tersebut dan sejauh ini pihak sekolah selalu berusaha memenuhi kebutuhan siswa”.
Hasil wawancara dengan Clay salahsatu siswa kelas XI MIPA SMAK Santo Paulus, siswa tersebut menjelaskan bahwa;
“Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa untuk peralatan alat atau bahan praktikum di SMAK Santo Paulus sudah terbilang lengkap karena setiap guru di SMAK Santo Paulus setiap praktikum dimulai selalu melakukan pengadaan alat dan bahan. Ditambah juga pihak sekolah yang selalu mensupport semua kebutuhan para siswanya untuk kelancaran praktikum.
c. Kondisi Laboratorium
Tabel 4.3.
Kondisi Laboratorium
No. Nama Sekolah Kondisi Laboratorium Terawat Bersih dan
Nyaman
1. MAN 1 Jember
2. MAN 3 Jember -
3. SMAK Santo Paulus Jember
Keterangan: : Ya -: Tidak
Hasil observsi kondisi laboratorium biologi di masing-masing sekolah didapatkan bahwa 2 SMA/MA memenuhi kriteria terawat, bersih dan nyaman. Sedangkan 1 SMA/MA masih belum memenuhi
kriteria terawat, bersih dan nyaman.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Kesesuaian Pemenuhan Standar Laboratorium
Keberadaan laboratorium yang menunjang dan mendukung keberhasilan pembelajaran tentunya harus memenuhi standar sarana dan prasarana, keadaan sarana dan prasarana serta sistem pengelolaan yang baik tentu akan berakibat positif pada proses pembelajaran biologi di sekolah. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya (Sukarso, 2011). Namun Kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana laboratorium yang baik dan lengkap.
Berdasarkan penelitian yang dikumpulkan dalam bentuk sebuah hasil wawancara dengan Bapak Rico selaku kepala laboratorium Biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember menjelaskan bahwa:
“Faktor penghambatnya ya mungkin karena disini laboratoriumnya masih jadi satu itu ya mbak tidak spesifik biologi memiliki ruangan sendiri, kimia sendiri, fisika sendiri. Jadi untuk jadwal praktikumnya sering tabrakan begitu antar ketiga mata pelajaran ini. Kemudian faktor pendukungnya karena proses pengadaan bahan yang mudah, jadi ketika guru mata pelajaran mengajukan jam praktikum sekaligus menyertakan alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan, jika tidak tersedia disini nanti kita ajukan ke bendahara.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa yang menjadi penghambat pemenuhan saranan prasarana di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember adalah keterbatasan gedung yang
57
tersedia sehingga laboratorium biologi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember masih ada dalam satu ruangan dengan laboratorium fisika dan kimia. Sedangkan faktor pendukungnya ialah pihak sekolah.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Hariyanto selaku kepala laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember menjelaskan bahwa:
“Kendalanya disini ya itu mbak ruang laboratoriumnya dipakai kelas jadi kita mau lengkapi alat dan bahan juga ruangnya terbatas selain itu juga faktor pendanaan ya. Untuk faktor pendukung disini karena sekolahnya di desa jadi masih mudah mendapatkan bahan- bahan alami untuk keprluan praktikum.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa faktor penghambat dalam pemenuhan sarana prasarana di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember adalah ruang laboratorium juga digunakan sebagai ruang kelas. Hal ini terjadi karena di sekolah tersebut masih kekurangan ruang kelas. Sedangkan faktor pendukung dalam pemenuhan standar sarana prasarana laboratorium biologi ialah letak sekolah yang masih berada dalam lingkungan pedesaan sehingga memungkinakan mendapat bahan praktikum dari sekitar sekolah.
Peneliti juga mewawancarai Bapak Mukhrizin selaku Wakasarpras di Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yakni:
“Faktor penghambat pemenuhan santar laboratorium disini ya ruangannya itu, karena antusiasme masyarakat disini terhadap Madrasah Aliyah Negeri sehingga semakin tahun semakin banyak yang menyekolahkan anaknya disini sehingga kami kekurangan ruang kelas dan akhirnya salah satu yang dikorbankan ya ruang laboratorium ini. Tapi rencana kedepannya lahan parkir di belakang Madrasah Aliyah Negeri 3 ini yang nantinya kami akan buat gedung laboratorium terpadu jadi didalamnya ada laboratorium fisika, kimia, biologi.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa faktor pendukung pemenuhan standar sarana prasarana laboratorium biologi Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember ini salah satunya ialah pihak sekolah yang sangat terbuka terkait kritik dan saran sehingga dapat terus berbenah contohnya dalam pengadaan fasilitas ruang laboratorium yang memang dikhususkan untuk kegiatan pembelajaran berupa pratikum.
Selanjutnya hasil wawancara dengan Bapak Ade selaku kepala laboratorium di SMAK Santo Paulus Jember menjelaskan bahwa:
“Sejauh ini yang saya rasakan tidak ada hambatan ya mbak untuk pemenuhan standar sarana prasarana disini, karena dari pihak sekolah juga mendukung penuh terkait pengadaan alat dan bahan jika ada yang kurang. Selain itu juga pihak sekolah melakukan inventarisasi tiap semesternya jadi ini menjadi faktor pendukung pemenuhannya karena dari situ pihak sekolah bisa tau langsung apa yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa.”
Dari penjelasan narasumber di atas peneliti memberikan keterangan bahwa tidak ada faktor penghambat dalam pemenuhan standar sarana prasana di SMAK Santo Paulus ini. Sedangkan faktor pendukungnya ialah prosedur pengadaan alat yang mudah serta pihak sekolah yang responsif terhadap kebutuhan pembelajaran siswa-siswanya.
59
menjabarkan temuan berikut:
1. Kesesuaian Sarana dan Prasarana Laboratorium Biologi SMA dan MA di Kabupaten Jember Berdasarkan Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Pendidikan.
Berdasarkan temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa laboratorium biologi SMA/MA di Kabupaten Jember memiliki konidisi yang berbeda-beda. Standarisasi laboratorium biologi menurut Permendiknas. Standarisasi laboratorium biologi menurut Permendiknas No. 24 tahun 2007 harus memenuhi kriteria sarana dan prasarana minimum yang meliputi ruang, perabot, alat peraga, alat dan bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai, dan peralatan lain. Kategori laboratorium biologi didasarkan pada Permendikbud 004/H/AK/2017 tentang kriteria dan akreditasi SMA meliputi dapat menampung minimal 1 rombel, luas minimum, sarana lengkap, didayagunakan secara maksimal, kondisi terawat baik serta bersih dan nyaman.
a. Ruangan Laboratorium Biologi
Menurut Permendikbud no. 22 Tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah yaitu jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar adalah 27-34 siswa. Didapatkan hasil bahwa sekolah setingkat SMA di Jember sudah memenuhi standar minimum dalam menampung minimal 1 rombel yang didasarkan pada Permendikbud 004/H/AK/2017 tentang kriteria dan akreditasi SMA.
SMA Kabupaten Jember mempunyai luas ruangan yang bervariasi
dengan kapasitas siswa berkisar antara 25-36 siswa.
Menurut permendiknas no. 24 tahun 2007 ruang laboratorium harus dipisahkan antara biologi, fisika dan kimia, Madrasah Aliyah Negeri 1 dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember belum mempunyai laboratorium biologi sendiri dan masih bergabung dengan laboratorium fisika dan kimia karena keterbatasan ruang disekolah tersebut.
Sedangkan SMAK Santo Paulus sudah dipisahkan antara laboratorium biologi, fisika dan kimia. Ketiga seklah rata-rata memiliki ruang utama untuk praktikum, ruang penyimpanan alat dan bahan serta ruang persiapan.
Menurut Rosilawati (2012:124) ruang laboratorium yang digabung menyebabkan dalam penyimpanan alat dan bahan untuk masing-masing mata pelajaran menemui kesulitan. Kesulitan untuk pengaturan jadwal penggunaan laboratorium dikarenakan ruang laboratorium digunakan secara bersama-sama. Selain itu, pembagian alat dan mengadakan persiapan di dalam laboratorium yang belum terpisah antar mata pelajaran juga merupakan kendala dalam pengelolaan laboratorium.
Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan bahwa ketiga sekolah memiliki 27-34 siswa per rombel, untuk luas ruang laboratorium biologi ketiganya sudah memenuhi standar minimum bahkan ada yang melebihi standar. Hasil lebar ruang, luas ruang persiapan dan penyimpanan ketiga sekolah telah memenuhi standar
61
yang ditettapkan pemerintah dalam Permendiknas no 24 tahun 2007.
Menurut Munarti (2018:4) ruang laboratorium tidak sama dengan ruang kelas, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Umumnya laboratorium sains terdiri dari ruang utama dan ruang penunjang. Ruang utama merupakan tempat siswa melakukan praktikum sedangkan ruang penunjang terdiri dari ruang persiapan dan penyimpanan. Ruang persiapan digunakan untuk menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan saat praktikum, ruang penyimpanan digunakan untuk menyimpan alat dan bahan laboratorium.
b. Sarana Laboratorium Biologi
Berdasarkan hasil observasi dari ketiga sekolah di Kabupaten Jember didapatkan dihitung skor dan dikategorikan menggunakan interval Mastika (2014), hasil yang diperoleh dari segi perabot, laboratorium biologi di dua sekolah dari 3 sekolah yang diteliti memenuhi standar 90-95%. Sedangkan satu lainnya 78-85%. Jika dirata-ratakan perabot di 3 SMA/MA tersebut mencapai 89,3%
kategori baik. Ketersediaan perabot yang masih kurang adalah bak cuci yang tidak berfungsi dan meja demonstrasi yang masih menggunakan meja yang sama seperti meja kerja.
Dari segi peralatan pendidikan laboratorium yaitu alat peraga alat dan bahan percobaan didapatkan hasil yang beragam dari tiga SMA kabupaten Jember, dari tiga SMA hanya SMAK Santo Paulus Jember tertinggi sedangkan Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember sekitar
55% sampai 70%, untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember hanya memenuhi 15 sampai 41%. Rata-rata alat peraga dan bahan percoban di tiga SMA adalah 47,6% dan 58,5%. Jika dirata-ratakan dari segi peralatan pendidikan di tiga SMA kabupaten Jember 53,05% dengan kategori cukup. Dapat diketahui bahwa dari segi peralatan pendidikan, laboratorium di tiga SMA kabupaten Jember sudah memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan permendiknas.
Dari segi media pendidikan laboratorium biologi di tiga SMA Kabupaten Jember memenuhi 100% dengan kategori sangat baik, hasil tersebut menunjukkan bahwa dari segi media pendidikan laboratorium biologi telah memenuhi standar minimum yang ditetapkan permendiknas no. 24 tahun 2007.
Dari segi bahan habis pakai laboratorium biologi di dua dari ketiga SMA kabupaten Jember SMAK Santo Paulus dan Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember telah memenuhi standar, untuk Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember mendapat kategori terendah, berdasarkan hasil wawancara bahan habis pakai sekolah di sekolah tersebut memang belum tersedia karena memang di sekolah tersebut kegiatan pembelajaran praktikum belum aktif dilaksanakan, hal ini menyebabkan persentase terendah diantara tiga SMA lainnya. Menurut permendiknas no. 24 tahun 2007 Bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat. Jadi jika bahan atau zat tersebut habis, sekolah harus membeli atau memesan kembali
63
untuk kebutuhan praktikum.
Peralatan lain dua dari tigasekolah setingkat SMA kabupaten Jember 60-90% sedangkan satu sekolah lainnya Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember masih hanya dengan kategori cukup. Peralatan lain yang masih kurang di beberapa SMA di kota kabupaten Jember diantaranya soket listrik, peralatan P3K dan alat pemadam kebakaran.
Hamid (2011) berpendapat bahwa fasilitas instalasi listrik sangat diperlukan untuk memberikan pencahayaan yang cukup di dalam ruang laboratorium dan tentunya digunakan untuk sumber tegangan dalam melaksanakan praktikum yang memerlukan listrik, sedangkan instalasi air digunakan untuk mencuci tangan apabila kotor atau terkena zat kimia yg berbahaya dan untuk mencuci alat praktikum yang kotor setelah digunakan. Air bersih juga bisa digunakan untuk dijadikan bahan praktikum. Peralatan P3K dan alat pemadam kebakaran itu penting untuk disediakan di laboratorium biologi sebagai alat bantu dalam upaya menangani kecelakaan di laboratorium karena kecelakaan pada saat praktikum bisa terjadi kapan saja.
c. Kondisi Laboratorium Biologi
Kebenrsihan adalah keadaan bebas kotoran termasuk diantaranya debu, sampah, dan bau. Kondisi ruangan laboratorium mengacu pada Keputusan Menteri No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang syarat kesehatan lingkungan kerja yang meliputi tersedianya air bersih, ruangan tidak berdebu, jika ruangan tidak ber AC harus
memiliki ventilasi, memiliki tempat sampah dan tidak ada sampah di ruangan. Kondisi laboratorium di tiga sekolah menunjukkan 2 diantaranya kondisi terawat, bersih dan nyaman. Kedua SMA itu memiliki air bersih, ventilasi, ruang tidak berdebu, juga tidak ada sampah di ruangan laboratorium dan juga memiliki tempat sampah yang tersedia di laboratorium biologi. Sedangkan satu SMA yaitu Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember belum terawat, bersih dan nyaman karena belum memenuhi kriteria.
Menurut (Khasanah, 2015) lingkungan belajar yang bersih sangat mendukung timbulnya ketertiban dan kenyamanan pada proses pembelajaran berlangsung. Ruangan yang terdapat banyak sampah dan menjadi sarang nyamuk bisa mengganggu proses belajar siswa, karena tempat belajar yang kotor mengakibatkan bau dan berdebu. Menjaga kebersihan ruang dibutuhkan kerja sama antara siswa, guru dan petuga kebersihan sekolah. Hal paling penting adalah kesadaran diri masing- masing untuk menjaga kebersihan lingkungan belajar agar tetap dalam keadaan bersih dan nyaman.
Berdasarkan hasil observsi yang dilakukan oleh peneliti terhadap 3 sekolah SMA di Kabupaten Jember yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember serta SMAK Santo Paulus Jember bahwa kondisi laboratorium biologi di masing- masing sekolah tersebut didapatkan bahwa 2 SMA memenuhi kriteria terawat, bersih dan nyaman yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember
65
dan SMAK Santo Paulus Jember. Sedangkan 1 SMA masih belum memenuhi kriteria bersih dan nyaman yakni Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pemenuhan Standar Laboratorium
Keberadaan laboratorium yang menunjang dan mendukung keberhasilan pembelajaran tentunya harus memenuhi standar sarana dan prasarana, keadaan sarana dan prasarana serta sistem pengelolaan yang baik tentu akan berakibat positif pada proses pembelajaran biologi di sekolah. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya (Sukarso, 2011). Namun Kenyataannya masih banyak sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana laboratorium yang baik dan lengkap. Tentunya setiap sekolahan mempunyai faktor pendukung dan penghambatnya masing-masing dalam pemenuhan standarisasi laboratorium sekolah.
Berdasarkan temuan di lapangan seperti yang disampaikan oleh beberapa narasumber pada penyajian data bahwasanya terdapat sekolah yang masih mempunyai faktor penghambatnya sehingga bisa dikatakan laboratorium sekolahan tersebut masih belum bisa dikatakan standar sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti halnya Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember yang mempunyai faktor penghambat seperti ; kurangnya ruangan khusus yang
dapat dijadikan sebagai laboratorium biologi, laboratorium di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember dan Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember masih jadi satu dan tidak spesifik untuk 1 ruangan laboratorium bilogi saja tetapi digunakan juga untuk laboratorium kimia, fisika dan lain sebagainya.
Akibatnya jadwal praktikum para siswa-siswi seringkali bertabrakan dengan mata pelajaran lainnya yang juga akan melakukan praktikum di laboratorium. Tidak hanya itu, untuk sekolah Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember justru ruangan laboratorium juga digunakan sebagai kelas para siswa dan siswi sehingga hal ini akan menghambat sekali kegiatan praktikum di sekolahan tersebut.
Berbeda dengan SMAK Santo Paulus Jember yang ketika peneliti wawancara serta hasil observasi yang peneliti lakukan sudah sesuai dengan standarisasi peraturan perundang-undangan, SMAK Santo Paulus Jember juga tidak memiliki faktor penghambat bagi laboratoriumnya karena seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan laboratorium sudah tersedia semua, bahkan SMAK Santo Paulus Jember rutin melakukan inventarisasi setiap bulannya sehingga tidak sarana dan prasarana yang tidak tersedia.
SMAK Santo Paulus Jember juga mempunyai ketersediaan ruangan untuk laboratorium sehingga membuat kegiatan praktikum para siswa dan siswi dapat berjalan dengan lancar.
Dapat disimpulkan dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di 3 sekolah tersebut yakni Madrasah Aliyah Negeri 1 Jember, Madrasah Aliyah Negeri 3 Jember serta SMAK Santo Paulus